Menjadi Agent Tagihan Bersama Ruma Buat Rakyat

Profil Pengusaha Aldi Haryopratomo 


 
Namanya Aldi Haryopratomo pengusaha muda bidang sosial. Pemuda yang kini sudah berusia matang, 32 tahun, merupakan kelahiran Jakarta, Indonesia. Merupakan anak orang berada tetapi tidak membuat dia jadi sosok arogan. Pasalnya semenjak usia dini sudah berteman dengan anak- anak yang ekonominya susah.

Empati Aldi kecil tumbuh dengan kesadaran akan lingkungan. Dia tinggal di perumahan untuk pegawai pemerintah. Dimana sekitarnya merupakan kampung- kampung keci. Di sana, justru dia menemukan banyak teman, meskipun lahir dari keluarga berkecukupan bermain ke kampung itu menyenangkan.

"Pengalaman tinggal di dua dunia sangat membentuk saya tumbuh," ujarnya.

Tetapi tidak akan berhasil tanpa orang tua. Dia ingat betul bagaimana dia dan kakaknya dibentuk. Oleh kedua orang tuanya menjadi sosok pengajar kehidupan. Ayah Aldi merupakan pegawai kontraktor khusus membangun jalan negara. Menurut ajaran ayah pekerjaanya adalah untuk membantu hidup orang banyak.

Ayah Aldi percaya bahwa jalan dibangun akan mendorong ekonomi. Semangat membangun tidak cuma buat uang tetapi membangun kehidupan masyarkat Indonesia. Ayah Aldi pekerja keras dengan alasan mulia tak cuma sekedar mencari uang.

Bertahun- tahun Aldi terinspirasi sang ayah. Bagaimana dia juga bisa membangun masyarakat. Tentu saja dengan caranya sendiri. Selepas sekolah menengah di Jakarta, dia melanjutkan ke Amerika, yaitu kuliah jurusan ilmu komputer di Purdue University, Indiana.

Selepas kuliah dia bekerja menjadi teknisi keamanan untuk Ernst & Young. Kemudian dia mengerjakan bisnis untuk UKM bernama Kiva. Dimana Aldi berkeliling Indonesia dan Vietnam, ke pelosok, cuma buat mewujudkan idealismenya. Selepas itu Aldi memilih melanjutkan program MBA ke Harvard Business School.

Bisnis kembali


Tidak berhenti berbisnis sosial. Langkah selanjutnya Aldi ialah Ruma. Dimana dibiayai oleh perusahaan besar Silicon Valley. Dan didukung perusahaan besar asal Indonesia Gunung Sewu Kencana. Ruma lalu mempekerjakan 512 orang, dimana sepertiganya adalah agen lapangan, sisanya bekerja di kantor Jakarta.

Pengusaha muda satu ini bukan mencari uang. Tetapi justru membantu orang lain, sebaik mungkin, agar bisa mendapatkan uang. Pengalaman menjadi pegawai di perusahaan pembiayaan UKM. Maka pada 2009 dia siap meluncurkan bisnisnya sendiri sejenis.

Ruma menyediakan bagi 30.000 perusahaan kecil di seluruh Indonesia kesempatan berbisnis. Mereka akan membantu masyarakat untuk mengakses servis, membayar tagihan, mencari lowongan, dan semuanya dilakukan cukup di aplikasi mobile mereka.

Kemudian para agent merupakan toko- toko kecil yang menawarkan jasa. Ambil contoh sebuah warung dimana orang tidak cuma membeli rokok, tetapi bisa membayar listrik. Dimana dia mengambil inspirasi data Bank Dunia bahwa hanya 16% orang yang memiliki akses ke internet.

Dia selalu memberi semangat kepada agentnya. Mereka pantas mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Hal paling berarti adalah dikelilingi orang yang melakukan hal berarti. Dia beranggapan akan gampang kita sukses jika dikelilingi tim kerja hebat yang memiliki passion pada usaha mereka juga.

Kepercayaan Aldi begitu besar, bahkan tidak segan meninggalkan pengelolaan kepada mereka. Tidak cuma sebentar tetapi sampai dua minggu pergi. Aldi pergi ke pelosok berbekal sepeda motor dan tentu tidak lah mudah dihubungi untuk sekedar meeting.

Apa yang dilakukannya di luar kantor?

Ia akan mengunjungi agent Ruma. Dia akan aktif bertanya kesan dari agent dan juga pelanggan mereka. Dia beranggapan membangun kekuatan dalam mengambil keputusan adalah hal terpenting. Guna menciptakan itu pengusaha harus tau bagaimana perasaan pelanggan, bagaiamana mereka berpikir, rasakan, dan akhirnya butuhkan.

Dia berpikir jika kamu mau jadi anak muda ambisius. Baiknya jangan cuma berpikir bisnis mereka sendiri. Tetapi bagaimana menangani solusi di luaran sana. Entrepreneurship harusnya menginspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah, menjadi passion dengan masalah adalah inti dari apa yang kamu butuhkan.

Entrepreneurship adalah sedikit dari banyak cara menyelesaikan masalah. Sayangnya orang menaruh ini dibawah kaki mereka. Menyepelekan kewirausahaan. Akhirnya banyak orang yang bekerja keras akhirnya tidak mendapatkan penghargaan bahkan oleh atasan mereka sendiri.

Meskipun disibukan dengan kegiatan entrepreneurship. Dia tetap meluangkan waktu jalan pagi bersama istri dan anak kembarnya. "Saya berbicara kepada mereka (anak saya) mengenai pekerjaan seperti layaknya orang dewasa," ia menceritakan. Berjalan bersama mereka adalah terapi pikiran Aldi untuk semangat pagi.

Sawerbreeder Kisah Pengusaha Ular Hias

Profil Pengusaha Breeder Ular 


 
Ular memang binatang yang menggelikan. Tetapi siapa sangka dari ular, bermunculan jutawan berkat bisa menternakan mereka. Bukan sembarangan ular tetapi ular hias. Tentu butuh lebih dari sekedar berbisnis. Ada unsur hobi di dalamnya tetapi hobi yang menghasilkan pendapatan uang.

Seperti kisah Faizal Firmansah, warga Mojokampung, Kota Bojonegoro, yang mana baru tiga tahunan ini menggeluti budidaya ular hias. Dimana cuma memanfaatkan ruang di belakang rumah. Faizal bisa hasilkan omzet sampai Rp.25 juta.

Tidak terlalu sulit membudidaya ular. Yang dibutuhkan lingkungan cocok, kandang harus sesuai ukuran dan harus sesuai besar kecilnya ular. Taruh tempat air minum. Dikasih makannya cuma seminggu sekali. Ia mengatakan bahkan satu bulan sekali!

Untuk jenis ularnya ada piton bola Afrika, Korsnake Amerika Latin, lalu beberapa jeni piton Kalimantan. Dia mengatakan tantangan berbisnis ular bukan di prosesnya. Justru datang dari tanggapan akan hewan apa yang dia pelihara. Awalnya dia dimarahi keluarga ketika mulai membudidaya ular -meskipun tidak berbisa.

Karena tetangga banyak yang takut kelau mau bersilaturahmi ke rumahnya. Namun lama kelamaan, karena memang tidak berbisa, tidak berbahaya justru banyak tetangga mulai berdatangan melihat. Harga sendri dia tentukan variasi mulai Rp.500 ribu sampai Rp.5 juta tergantung dari keindahan kulit si ular tersebut.

Sebulan dia mampu menjual tiga sampai lima ekor perbulan. Dan untungnya sendiri jika maksimal sampai Rp.25 juta!

Bisnis bukan iseng


Salah sati penggemar ular, yang menekuni bisnis breeder, adalah Bapak Topan yang mana sejak kecil ular sudah menyatu dalam hatinya. Mungkin ular terlihat buas tetapi tidak bagi pengusaha ini. Bukan sebuah hobi tetapi menghasilkan uang. Pria 49 tahun ini memulai bisnis ular dengan membeli ular impor jenis corn snake.

Pilihan ular pertama buat dibisniskan meragukan. Pak Topan sempat ragu atas pilihannya sendiri. Apalagi dia merintis usaha breeder ular dari nol. Menurut level sebenernya, Corn Snake dianggap cocok buat dia yang masih pemula soal urusan membiyakan ular hias.

Tahun 2003 merupakan titik kunci, dimana dia sekuat tenaga, ada hasilnya Corn Snake Albino miliknya bisa dikembangkan menghasilkan anakan.

Sekali sukses membuat Pak Topan makin percaya diri. Dia yakin mampu menghasilkan hasil breeding berkualitas. Tahun 2006 dia memberanikan diri membawa indukan lebih besar. Yaitu ular Boa Constictor yang dipesannya impor, jenis piton, yang sudah dia pertimbangkan matang menjadi lahan bisnisnya.

Bukan sekedar hobi atau iseng melainkan bisnis. Seseorang selama mampu mengemasnya baik, Pak Topan yakin bisnis ular bisa menjadi kenyataan. Ritme alon- alon asal kelakon sudah berubah cepat. Dimana dia berpikir hobi hewan simple bisa menghasilkan uang.

Ketiadaan waktu membuat hobi ular diminati. Orang kan gampang memberi makan si ular, dimana masih bisa dijadikan sambilan sambil bekerja. Ada empat hal menjadi dasar bisnis ular dijalankan dia. Adalah pertama irit waktu memelihara ular. Lalu perawatan makan hingga tidak makan tempat dan berisik adalah kelebihan.

Inilah kelebihan buat berbisnis ular. Selain tersebut masih ada dua point lagi, yakni pesona eksotisme utamanya pada corak kulit ular itu sendiri. Pola warnanya bisa menjadi unik ketika dikawin silangkan. Inilah alasan lain kenapa Pak Topan nekat berbisnis sawerbreeder ular.

Soal investasi ular adalah investasi tinggi. Menurutnya sesuai dengan proses berkembang biaknya. Topan punya 8 pasang ular piton, 5 pasang boa, dan  2 pasang corn snake. Mereka semua adalah indukan siap buat dibudidaya. Ia memilik indukan berkualitas diatas rata- rata. Modal inilah menjadikan dia percaya diri.

Terutama dikalangan penghobi ular. Alhasil ular hasil budidayanya mampu laku hingga keluar kota. Lewat promosi internet bisa menggapai penjuru Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Menurut Topan kenapa dia sukses. Berhasil menghasilkan warna- warna berkualitas karena indukannya bagus, indukan impor punya keunggulan.

Indukan impor merupakan hasil silang. Lebih jinak, mampu menghasilkan persilangan yang lebih bagus, dan besar kemungkinan keturunannya jadi lebih bagus. Karena indukan jinak perawatan juga jadi lebih bisa telaten. Indukan jinak memudahkan persilangan terjadi. Satu jantan dan satu betina tetap setiap periode kawin.

Budidaya Kerang Tambak Kisah Suksesnya

Profil Pengusaha Tambak Misdi 



Namanya Misdi (39), warga Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan, Sumatra Utara, yang sukses berkat kerang hijau. Bukan main dengan tambak buatannya sendiri. Misdi mengaku bisa dalam 7 bulan mengantungi satu ton kerang. 

Niat budidaya datang karena terbiasa. Misdi dulu pernah bekerja menjadi petani kerang buat seseorang. Kerjaanya di tambak sedikit banyak memberikan pengetahuan. Berbekal pengalaman tersebut, maka dia berniat membuat tambak kerang sendiri.

Bisnis unik


Modalnya sedikit kata Misdi. Ayah tiga anak ini kemudian mulai membuat tambak. Lantas ditaburinya bibit kerang ke seluruh permukaan tambak. Bukan tanpa hambatan berbisnis. Misdi nyatanya tidak punya tanah sendiri. Alhasil dia bermodal menyewa tambak orang sepanjang 70 meter dan lebar 10 meter.

Tidak sampai setahun, kurang lebih cukup 9 bulan, kerang ditabur di tambak sudah membesar saja. Waktu itu, Misdi mempunyai cuma 30 kerang, yang  dia sendiri tidak pasti berapa kilogramnya. Dia nekat beli bibit ke Tanjung Balai, Asahan, dimana kalau pas belinya 400 kilogram seharga Rp.10.000 per- kg.

Prediksinya bila sedikit yang gagal di dalam tambak. Dia mungkin dapat 1 ton sampai 1,5 ton, dimana dia mengatakan harga jualnya jadi Rp.12.000 per- kg. Kenapa bisnis Misdi menggiurkan. Menurutnya ini lebih gampang dibanding memelihara ikan di tambak.

Kerang tidak perlu dikasih makan. Karena makanannya mineral dari air tambak sendiri. Cukup menjaga saja biar tambak tidak rubuh karena erosi. Termasuk memasang jaring halus disekeliling tambak. "...agar tak hanyut terbawa arus pasang surut," tuturnya.

Masa panen maksimal 9 bulan (6 bulan pun sudah bisa) maka ada baiknya punya usaha sambilan. Seperti suksesnya Misdi, suami dari Afrida ini, akan mencari udang pancing atau kepiting bakau di sungai Paluh Pompong, yang mana dia kemudian cukup dijual di pinggir jalan. 

Untuk optimal memang harus setelah umur 9 bulan, besarnya nanti sebesar jempol kaki. Walaupun belum sebesar itu, biasanya orang sudah datang mau beli seharga Rp.10.000 per- kg -dimana jika 9 bulan sampai Rp.15.000 per- kg-, biasanya Misdi lebih memilih untuk dibesarkan sampai 9 bulan.

Jualan Batik Motif Kartun Anak- Anak Doraemon

Profil Pengusaha Ratna Very Viana dkk.



Batik bukan lagi barang orang- orang tertentu. Semua orang memiliki kesempatan sama untuk mengolah motif- motifnya. Semakin familiar di mata masyarakat, banyak pengusaha muda mencoba memvariasikan batik ke dalam berbagai rupa. Batik dipakai di acara apapun baik formal maupun non- formal atau santai.

Kalau anak- anak sukanya batik apa ya? Inilah pasar yang coba direguk empat sekawan: Ratna Very Viana, Trialita Ika Rahmawati, Palupi Yuliani (progdi Pendidikan Fisika), dan Andika Setyo Wicaksono (progdi Teknik Elektronika), membuat batik cap bermotif toko kartun Doraemon.

Agar menanamkan budaya Indonesia yang kental. Maka Doreamon juga dimodifikasi memakai pakaian adat Jawa. Menurut Ratna, mereka memang menekankan kepada motifnya, bagaimana menumbuhkan rasa cinta akan budaya Indonesia.

Untuk mewujudkan produk sebenarnya. Ke empat mahasiswa UNY tersebut, tidak segan mengajak para pengrajin batik lokal membantu. Mereka menggaet kemitraan untuk membuat model cap buat batik milik mereka. Termasuk penjahitan juga sudah menjalin kemitraan jadi sudah sesuai dengan ukuran anak- anak.

Kenapa Doraemon? Karena tokoh kartun ini tidak lekang. Sudah populer di kalangan anak- anak sekarang dan membekas di hati generasi dewasa sekarang. Pembuatan baju nanti akan diselesaikan mitra. Sementara untuk finishing maka mereka berempat yang menyelesaikan motifnya.

Nanti mereka akan kemas dalam plastik dan diberi label Batmon. Label dipasang di kerah baju, dan harga dijual Rp.60 ribu. Lewat promosi dan pemasaran sosial media ditambah promosi mulut- ke mulut. Ada Facebook, Twitter, dan tidak pelit juga memasang iklan di media masa juga.

Pemuda Aceh Berhasil Menjadi Wirausaha Berkat Ban

Profil Pengusaha Muda Aceh Habibi 


  
Awal tahun 2011 silam, pemuda asal Bireuen- Aceh, bernama Habibi mencoba sesuatu yang baru. Tengah bergulat dengan hasratnya menjadi pengusaha muda. Mahasiswa Universitas Almuslim, berpikir kenapa ban bekas mobil dibuang begitu saja. Mereka cuma berakhir di tempat pembuangan akhir sampah saja.

Sambil menambal ban sepeda motor, pikiran tersebut berjalan dan mahasiswa matematikan tersebut mulai memprhitungkan. Bagaimana dia mengubah menjadi bentuk berguna. Menjadi ramah lingkungan adalah kunci sukses bisnis Habibi. "Alam semakin rusak. Karet ban bekas itu kan tidak bisa dihancurkan," ujarnya.

Mungkin ribuan tahun bisa, tetapi apakah sanggup ketika produksi ban bekas terus- menerus. Hingga di Desember 2015, bekal untung bisnis tambal ban motor miliknya di Keude Jeunib, pergi lah Habibi ke toko membeli pisau pemotong karet. Dibelinya pisau dan batus asah, kemudian bor listri, kuas, dan cat.

Semuanya dibeli berhutang di salah satu toko alat bangungan -atau di Aceh disebut Toko Buso- beruntung karena pemilik toko percaya kepada Habibi. Sekitar dua atau tiga ban bekas dijadikan media untuknya berkreasi. Semua pikiran dicurahkan oleh Habibi membentuk kreatifitas artistik berbahan ban bekas.

Semua karena keuletan dan daya tahan menghadapi ketidak pastian. Tidak mudah meyakininya, bagaimana sebuah ban bekas akan menjadi pot bunga berbagai variasi akan laku. Disebarkan produk tersebut ke sosial media, dimulai dari sosmed, dijadikan lapak pertama pengusaha muda ini.

Sambutan postifi bermunculan melihat produk Habibi. Kemudian usaha tersebut diberi nama Seni Pemuda Desa atau SPD, yang mana merujuk kepada statusnya sebagai mahasiswa pendidikan S.Pd. Menurutnya menjadi guru bukan sekedar di kelas. Jangan berpikir kaku sebagai mahasiswa juga harus melihat banyak kesempatan.

Jangan terperangkan di dalam ruang kelas tambahnya. Jangan terjebak mengajar kepada hanya siswa yang berseragam. Lewat entrepreneurship kita bisa memberikan pengetahuan kepada siapapun. Ini termasuk juga cara bagi guru untuk berdikari tidak fokus menggantungkan hidup untuk menjadi PNS.

Dia dibantu teman- teman putus sekolah mencoba berbisnis. Menghasilkan berbagai produk variasi bahan ban bekas, mulai dari vas bunga bermotif, ember, ayunan, dan meja. Cukup ban dikupas kemudian digulung bulat. Dipaku, selanjutnya diperhalus, dan dilukis, jadilah aneka produk termasuk tempat sampah lucu.

Kelebihan tempat sampah dari bahan ban bekas. Ya bebas hujan karena ban bekas tidak akan masalah jika kena air terus- menerus. Juga tidak akan karatan ataupun pecah. Bermodal seratus ribu, kini, Habibi sudah mampu mengantungi omzet jutaan rupiah.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba