Membuat Brownies Sayuran Bebas Mengasuh Anak

Profil Pengusaha Ana Risnawati


 
Terinspirasi kisah- kisah sukses pengusaha. Wanita asal Yogyakarta bernama Ana Risnawati, kini adalah seorang pengusaha. Meskipun masih sekala kecil usahanya lumayan loh. Inspirasi oleh acara televisi yang sempat ngehits Bosan Menjadi Pegawai, dalam satu acara televisi, hingga dia memutuskan resign kerja.

Karis reporter salah satu radio swasta ditinggalkan. Semua demi mengejar membuka usaha sendiri. Dia lantas menggeluti keahliannya. Ana memang jago membuat aneka brownies. Mangkanya dia memilih di bisnis brownies kukus, tetapi dia butuh sekedar brownies.

Kan udah banyak orang bisa membuat brownies. Ide datang. Wanita 25 tahun ini kemudian membuat aneka brownies kukus sayuran. Semua berawal karena pekerjaan dan tugasnya menjadi ibu rumah tangga. Susah buat mengatur waktu karena reporter sering pergi ke luar. Dunia reporter itu tidak mengenal waktu luang.

Membuat brownies kukus sayuran. Lebih sehat buat keluarga Ana. Tidak ada salahnya jika dia mencoba menjual ke umum. "Masa itu saya putuskan berhenti dari dunia jurnalis," Ana tegas. Usaha kemudian dia rencanakan bagaimana menjual brownies kukus sayuran.

Bisnis sehat


Warga Madelan, Desa Sumberagung, Bantul, mengatakan putra pertamanya tuh tidak suka sayuran. Inilah cara dia mengatasi hal tersebut. Anak- anak memang lebih suka kue, nuget, sosis, padahal sayuran sangat baik buat pertumbuhan mereka.

Bisnis Ana cepat mendapatkan tanggapan positif. Cara marketing Ana sederhana kok. Cukup lewat mereka orang terdekat, keluarga, teman, dan menyebar. Ia menjadikan mereka konsumen awal. Lantas ditambah aneka iklan internet mendukung bisnis Ana.

Ana jelaskan perbedaan brownies kukus coklat dan sayuran. Cara pembuatan berbeda: Lapisan adonan dia buat bukannya coklat tetapi sayuran. Banyak varian sayuran dia buat seperti jagung, wortel, selada, brokoli, dan tomat. Perloyang nanti dijual Rp.20 ribu, untung diperoleh perloyang sampai 20% atau Rp.4000.

Dalam satu bulan dia menyebutkan. Sekarang pesanan mencapai sampai 100 loyang. Namun, jika ramai- ramainya nih, bsa mencapai 250 loyang. Melalui internet pemesan juga datang dari luar kota juga. Pesanan terbanyak masih datang dari dalam Yogyakarta. Banyak teman juga mendukung Ana mengembangkan ini.

Pemesanan buat aneka acara diminta teman. Brownies kukus sayuran miliknya lantas diberi nama Kue Brownies Brosaku. Pembuatan mudah cuma butuh ekstra kreatifitas. Karena ya namanya brownies masih orang banyak kenal mengandung banyak coklat. 

Orang banyak tidak menyangka kalau kue mereka makan berbahan sayuran. Ini bukti nyata bahwa Ana telah sukses mengembangkan kemungkinan. Ketika bisnis kue brownies tengah naik daun, banyak pesaing tetapi dia mantap mengambil celah. Pembeli suka karena tidak cuma coklat melainkan adanya lapisan sayuran.

Rasa sayurnya tidak kentara. "Pokoknya enak," tutur dia kapada pewarta Vivanews.

Bisnis brownies sayur miliknya makin menggeliat. Usaha kecil- kecilan tersebut sudah mempekerjakan empat orang. Dia sekarang juga menjual perkotak berat 500gr. Segitu dijual Rp.25 ribu tergantung juga topingnya. Omzet kotor dua juta rupiah perbulan, kalau ramai ya mencapai Rp.6 jutaan.

Pengacara Nyambi Menanam Jagung di Kampung

Profil Pengusaha Roder Nababan 



Siapa sangka pengacara kondang asal Tapanuli Utara, kelahiran 31 Juli 1970, ini selain bekerja juga mau berbecek ria. Dia ternyata punya usaha bidang agro loh. Pengacara bernama Roder Nababan menceritakan kisah dia dan persawahan dia miliki kepada JPNN.com

Suatu waktu dia akan ke Jakarta menangani kasus. Di kampung, Desa Paniaran, Siborong- borong, punya kurang lebih 40 hektar. Tanah warisan sudah ratusan tahun dibiarkan begitu saja. Tidak dikelola menjadi lahan produktif. Kemudian 15 hektar bagiannya ia tanami jagung, sisanya ubi Jepang dan cabe.

Ia pun bercerita bagaimana bisnisnya untung. Lumayan satu hektar lahan dia hasilkan Rp.15 juta. Itu sudah termasuk potongan buat biaya pemeliharaan dan tenaga. Roder hitung kasar saja Rp.15 dikali 15 hektar sudah dapat Rp.225 juta.

Jika dihitung jagung saja, masa panen kan tiap 4 bulan, jika dihitunga perbulang untung bersih Rp.56, 25 juta. Dia juga membentuk komunitas petani jagung. Namanya Perhimpunan Tani Akal Sehat. Kok nama perhimpunannya lucu. Ternyata ada alasan kenapa pakai kata Akal Sehat.

"...karena selama ini para warga di sana tidak menggunakan akal sehat," selorohnya. Pasalnya tanah begitu luas dibiarkan tidak produktif. Lahan bagus dibiarkan begitu saja padahal bisa berguna.

Ia ngoto tidak ada lahan tidur. Kalau ada ya kalian pemilik tanah yang tidur. Kalian tidur karena tidak mau merubah tanah menjadi lahan produktif. Ide awal menjadi petani jagu dari mana sih? Ternyata tidak serta- merta Roder menjadi petani jagung.

Iseng dia tanya kepada temannya, Wakil Ketua DPRD, Dairin Dahlan Sianturi. Iseng sih, sekedar bentuk bercandaan, kan emang tuh gosip bahwa pejabat nyari- nyari proyek dari Bupati. Sang teman kemudian mengajak Roder berkeliling tempat tinggalnya.

Dahlan mantap berkata tidak meminta proyek. Ia sadar akan tugasnya sebagai wakil rakyat. Meminta satu proyek berarti merusak kerajanya sebagai anggota dewan. Sambil jalan menelusuri lahan, dia mengajak Roder datang ke lahan kebun miliknya. Ada 12 hektar lahan sudah ditanami jagung yang siap dipanen.

Inilah "proyek" pribadi milik Dahlan. Dengan bangga sang Wakil Ketua DPRD menunjukan hasil kerja kerasnya. Perbulan bisa menghasilkan Rp.45 juta. "Kemudian saya ingin menirunya," ujar Roder, yang adalah pengacara handal spesialis kasus sengketa Pilkada.

Untung uang bukanlah hal dibesarkan. Dia justru mengambil segi positif lain. Selain bentuk pemanfaatan biar tidak mubazir. Roder juga merasa nyaman ketika berkunjung ke kebun. Energi alam merasuk ke dalam membuat dia hilang penat. Bahkan menyusun gugatan di kebun, dia bisa menghemat waktu setengah hari.

Lebih cepat selesai pekerjaan ketika di luar. Kalau di Jakarta kerjaan bisa seharian baru selesai. Kadang dia malah molor sampai sepekan- dua pekan tinggal di Jakarta.

Juragan Beras Pasar Induk Paling Terkenal Nellys Jaya

Biografi Pengusaha Nellys Soekidi 


 
Terlahir sebagai anak pasangan petani. Hidup Nellys Soekidi tidak jauh dari beras. Namun kesuksesan dia sekarang bukan tanpa perjuangan. Pria yang dikenal sebagai juragan beras. Sekarang memang memiliki 5 kios dan satu gudang penyimpanan di PBIC, merupakan salah satu juragan beras besar asal Pasar Cipinang.

Lima kiosnya menduduki kawasan Pasar Induk Cipinang. Delapan toko lain juga tersebar di sekitaran Kota Jakarta alias Jabodetabek. Ada di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, dan Cengkareng. Omzetnya mencapai Rp.500 juta perhari atau Rp.15 miliaran perbulan.

Labar bersih sendiri dia tidak mau menyebut. Tetapi cukuplah kata Nellys, jualan beras itu punya untung sedikit tetapi awet.

Siapa sangka dia cuma menamatkan bangku SMA di Ngawi, Jawa Timur. Kondisi ekonomi keluarga Nellys memang sangat kekurangan. "Saya tamat SMA tahun 1990," tutur dia. Langsung pergi merantau ke Jakarta tanpa bekal. Mengadu nasib layaknya nasib perantau lainnya. Ia seolah terjebak hanya mampu bekerja asal- asalan.

Tanpa memiliki keahlian mau jadi apa di Jakarta. Nasib membawa Nellys kerja menjadi buruh proyek. Ya kalau ada proyek bangunan, jika tidak ada nasib Nellys digantungkan lewat mengamen. Lorong jalan, terminal becek, dan panasnya bus- bus dalam kota, membawa Nellys melihat masa depan samar.

Kalau ngamen dia mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Jika ngamen, dia tidak pernah melakukan hal melanggar aturan, kemudian suatu hari ketika mengamen dia bertemu seorang teman. Dia teman dari kampung Nellys.

Ternyata dia sudah bekerja di toko beras kawasan PIBC. Inilah awal perkenalan Nellys dengan bisnis juragan beras. Oleh temannya, ditawari kerja menjaga toko beras milik si boss. Waktu itu Nellys ingat tahun 1992 dia memulai semua perjalanan karir.

Bekerja di toko, Nellys diserahi bagian pembukuan lantaran otaknya encer. Dia ditugaskan mencatat nama dan jumlah barang keluar- masuk toko. Meskipun bekerja di tempat penting toh gajinya tetap ala kadarnya. Seorang sang boss mengejek Nellys lantaran cuma pengamen dan lulusan menengah atas.

Meskipun begitu dia tetap bersyukur. Segala upaya dilakukan agar tetap makan. Disisi lain tetap tidak lupa dia menabung. Uang pas- pasan apa yang bisa didapat Nellys. Ternyata banyak, yakni pengalaman bekerja berjualan beras, termasuk tentang pergudangan serta urusan pengeluaran atau pemasukan.

Dia mengembangkan kemampuan akuntansi atau pembukuan. Natural Nellys mengamati cara kerja di toko beras. Sifat supel membuat dia akrab dengan penyumplai beras, dari Cirebon dan Garut. Rasaya syukur dia coba terus panjatkan. Tidak punya uang banyak tetapi ketemu banyak kenalan. 

"Saya selalu berusaha jujur," ujarnya.

Sifat baik Nellys ternyata diamati rekan kerja atasannya. Para pemasok beras menilai sifat Nellys sangat menarik. Tahun 1993, dia memutuskan cabut dari pekerjaan, nekat dia mencoba peruntungan dari bisnis beras. Bekal dia cuma ilmu akuntansi seadaanya, sisanya adalah relasi dengan para pemasok beras.

Bisnis nekat


Bermodal Rp.3 juta dia mulai jualan di los Pasar Induk. Itu uang hasil nabung selama bekerja. Walaupun ia modal cekak tetapi dukungan relasi kuat. Kunci sukses juragan bera Nellys cukup selalu berlaku jujur, dan ditambah ketekunan mengerjakan usaha. Niscaya usaha kamu akan kayak usaha Nellys Jaya, toko miliknya.

Hubungan baik selalu dijaga dia, dengan pemasok asal Pula Jawa, dari Jawa Barat, Cibinong, dan Garut, dia rangkul. Siap membantu mereka buat menyalurkan beras mereka dengan harga baik. Uang modal Rp.3 juta cuma dapat 1 ton saja.

Beruntung karena memiliki relasi kuat. Dipercaya, mereka pemasok bahkan rela menggunakan sistem titip atau konsinyasi. Total berang dititip makin lama semakin besar. Bahkan sampai 15 ton hingga 20 ton perhari. Nellys akan membayar ketika beras sudah habis terjual. Ia dikasih waktu seminggu buat habiskan itu.

Kemampuan kesupelan Nellys terbawa dalam berbisnis. Mampu menjual barang mudah hingga tak jarang beras stok habis sehari, paling lama ya dua hari. Uang penjualan tidak mampir. Dia langsung bayarkan ke pemasok beras. Pembayaran cepat sampai pemasok semakin yakin bahwa dia orang yang tepat.

Tepat buat diajak kerja sama. Usaha jualan beras Nellys semakin berjaya. Penjualan semakin meningkat pesat saja. Uang untung diperolah ditabung. Tidak seperti juragan beras lain. Begitu sukses langsung lah berubah gaya hidup. Ia memilih bersabar fokus mengerjakan bisnis.

Ketika teman pedagang membeli mobil baru. Nellys memilih mengembangkan usaha. Pokoknya begitu ada untung sisanya buat ditabung. Uang tabungan apalagi kalau bukan buat nambah usaha. Cukup empat sampai lima tahun sudah dia menghasilkan kios khusus di Pasar Induk.

Harganya saja Rp.160 juta karena posisinya strategis. Dia juga mengajak orang bekerja buatnya. Dengan berbisnis menambah lapangan pekerjaan. Ia punya 34 orang karyawan. Nellys banyak menampung mereka yang masih saudara.

Usaha sukses Nellys sempatkan melanjutkan pendidikan. Dia beranggapan bahwa pendidikan merupakan juga hal penting. Mengembangkan hidup Nellys tidak selalu uang. Ia ambil jurusan manajemen. Disaat ia kuliah di perguruan tinggi, dia sudah punya istri dan dua anak.

Bisnis belajar


Bisnis tidak melulu uang. Ada pembelajaran kuat meningkatkan usaha kita. Uang banyak tanpa pengetahuan tidak cukup. Mangkanya dia memilih kuliah selaras dalam berbisnis. Semakin jeli melihat peluang bisnis kedepan. Dia menemukan itu ketika kembali ke Ngawi, Jawa Timur, menikmati hamparan persawahan.

Ide bisnis muncul. Dan dia laksanakan di Kota Ngawi. Nellys membangun satu pabrik penggilingan padi. Tahun 2008 dia mendirikan pabrik penggilingan bermuatan 25 ton perhari. Lantas bisnis selanjutnya dia membuka bisnis pusat kebugaran. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia lakukan bukan tanpa alasan.

Dia suka kebugaran atau fitness. Sela berbisnis dia juga aktif mengikuti aneka organisasi. Sudah 19 tahun bisnis berjalan semakin berkibar. Nilai aset Nellys setara Rp.9 miliaran. Uang Rp.3 miliar tidak ragu ia keluarkan buat membangun bisnis pabrik penggilingan padi. Pabrik itu berdiri di lahan seluas 4000 meter persegi.

Penggilingan beras dilengkapi juga penyimpanan beras. Sudah jadi pemasok besar, tetapi dia tidak mau buat membeli gabah dari petani. Pasalnya dia tidak mau membunuh penggilingan kecil. Lantas dia mulai mengajak mereka, penggilingan kecil, menjadi mitra bisnis.

Ia justru membeli dari penggilingan kecil juga. Dari penggilingan mereka dimasukan ke penyimpanan dia. Oleh Nellys diproses dengan mesin kembali. Agar meningkatkan kualitas beras buat dikirim ke Jakarta. Ia juga mengajak petani bekerja bersama. Kemudian dia akan mengembangkan kapasitas penggilang tersebut.

Bisnis pusat kebugaran di Pondok Kopi, Bekasi Barat, juga jalan. Dia menjaring 400- 500 orang anggota fitness. Ia merambah bisnis suplemen, berbagai macam makanan sehat, mulai dari jualan beras merah, susu kedelai, lain- lain.

Kesibukan lain, dia menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPD Perpadi DKI Jakarta). Sudah menjabat sejak 2009, juga menjabat Sekretaris Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Jakarta. Jabatan itu digunakan untuk memperbaiki keadaan Pasar Induk.

Ia mencontohkan cap negatif pedagang Pasar Induk. Sering dianggap apalah- apalah. Disini tuga Nellys membuktikan mereka tidak begitu. Salah satunya dengan kegiatan penggalangan bantuan. Membantu orang banyak termasuk ketika gempa Padang. Mereka menggalang empat kontainer berisis beras buat bantuan.

Kisah Haru Pengusaha Roti Bakar Pantang Menyerah

Kisah Pengusaha Menyentuh Hati 



Terkadang kita suka maksa ke mas penjual. Kadang minta cepat dilayani padahal si penjual sudah bekerja. Kita mungkin harus sedikit bersabar. Ini bukanlah kisah pengusaha sukses. Hanya sebuah kisah yang diliat dari sebuah foto viral sosial media.

Pengguna Facebook bernama Bobby Lamanepa. Mengabadikan sebuah kejadian super langka. Dimana dia bertemu seorang penjual roti bakar. Siapa sangka dibalik diam, sibuk sendirinya penjual itu, ternyata ada alasan karena segala kekurangan pelayanan terhadap pembeli.

Ternyata penjual tersebut memiliki keterbatasan. Penjual tersebut tunarungu dan tunawicara. Cara unik dia lakukan agar tetap melayani. Karena dia sadar bahwa pelanggan terkadang komplain. Menurut Bobby, dia memiliki keterbatasan, dan tetap semangat melayani pesanan yang lumayan banyak.

Agar Bobby bersabar ditulis sebuah tulisan di kaca. Bunyinya "mohon maaf, saya penyandang tunarungu dan tunawicara. Kalau anda memesan roti, silahkan tulis dibuku saja, ya. Terima kasih atas kunjungan anda dan saya mohon maaf kalau pelayanan saya kurang di hati pembeli sekalian. Terima kasih."

Samangat berjualan inilah menjadi kekaguman buat Bobby. Perasaan jengkel menunggu sirna karena sang penjual penuh kejujuran akan kekuranganya. Bahkan seharusnya tanpa harus meminta maaf. Penjual roti bakar tunarungu tersebut tetap meminta maaf.

Postingan Bobby sudah dishare lebih dari 900 kali dan dibagikan lebih dari 900 kali. 

Sumber: citizen6.liputan6.com

Cara Mengajari Wirausaha Anak Romantic Cotton

Profil Pengusaha Monic Subiakto 



Monica Subiakto berbisnis bermula keinginan sang anak. Dia, Amanda, ingin membuka usaha sendiri, dan ia mencoba memfasilitasi hal tersebut. Bisnis mereka berawal sederhana kok. Monica mulau jualan kaus- kaus asal Bangkok, Thailand. Dimana ia mendapatkan kaos tersebut dari seorang teman.

Respon ternyata cukup bagus, hingga Monica memutuskan membuat produk sendiri. Inilah cikal- bakal usaha yang lantas dia namai Romantic Cotton. Monic yang gencar mengikuti aneka pameran telah mampu meraup omzet sampai ratusan juta.

Uang Rp.3 juta digunakan membeli barang. Berdagang selama enam bulan uang berlipat. Lantas memasuki 2008 semakin besar, hingga Monica memutuskan membuka pabrik garmen sendiri, tepatnya mulai bulan Juli 2008. 

Bisnis tersebut didukung latar belakang karir. Ia pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store selama puluhan tahun. Karena masih bekerja menjadi karyawan. Ada koneksifitas ke pedagangan konveksi. Mangkanya dia kenal banyak pengusaha konveksi yang tersebar di Jakarta.

Monica memanfaatkan sistem maklun atau cut, make & trim (CMT). Dimana pengusaha konveksi tinggal mencontoh barang sample Monica buat. Selanjutnya pengusaha konveksi akan meniru dengan berbagai ukuran standar. Monic tidak juga mendesain sendiri produk bikinannya.

Terkadang merupakan contoh barang hasil buruan di luar negeri. Terkadang sih dia juga mendapatkan ide dadakan jika tidak puas akan barang buruan. Dia lantas merubah bahan. Mengaplikasikan beberapa hal yang berbeda. Modelnya juga tidak jarang dirubah pengusaha ini, yang juga fans desainer dunia Laura Ashley.

Kalau beda dari produk lainnya. Monic memilih cuma beberapa warna, ada dusty pink, mint green, dan juga mustard yellow. Warna lembut tersebut masih belum digunakan desainer asal Indonesia.

Mantan broker


Ternyata nih, Monic juga dikenal sebagai broker, ketika sang anak minta dibikinkan usaha. Monic sempat gugup. Lantaran Amanda masih duduk di bangku SMP. Melihat keinginan wirausaha sang anak yang begitu tinggi. Ia kemudian mengajak Amanda berkolaborasi. Anak Monic sejak remaja udah "ogah" kerja sama orang!

"Mungkin dia tidak nyaman melihat bapak- ibunya bekerja," jelas Monic. Karena ya namanya pegawai bisa berangkat pagi pulang larut malam.

Amanda sendiri sejak kelas 3 SD sudah jualan pernak- pernik. Dukungan Monic sebatas mengarahkan dan mengawasi. Permintaan lugu anaknya, ternyata didukung pengalaman dia sendiri, mulai dari jualan stiker, akesoris rambut, kemudian perlatan sekolah, yang Amanda beli secara grosir buat dijual lagi.

Monic mengakui Amanda lebih jago. Dia mampu merayu teman- temannya yang awalnya tidak mau. Dia mampu membuat konsep beli buat hadiah adik, atau teman yang ditaksir. 

Untuk awal berbisnis bersama mereka tidak mamakai uang besar. Pasalnya dia khawatir Amanda akan bosa ditengah jalan dengan bisnis itu. Uang sebesar Rp.3 juta itu didapat dari kakak dan pinjam asisten rumah tangga. Kenapa pinjam ke pembantu rumah tangga. Ternyata ada alasan khusus bukan semata butuh uang.

Ada tantangan bagaimana Monic harus kembalikan. Usaha mereka nih harus sukses. Uang harus sudah bisa mereka kembalikan kurang dari seminggu -sesuai dijanjikan Monic. "Saya ingin membuktikan, saya bisa berhasil," tegas Monic. Cara jualan Monic standar yakni beli dari kawan barang impor buat dijual kembali.

Waktu cuma seminggu uang tersebut menjadi Rp.6 juta. Monic lantas menepati janjinya mengembalikan uang ke asisten rumah tangga. Dipikir bisnis mereka ternyata menjanjikan juga. Monic merasa tertantang menambah modal sampai Rp.9,5 juta, dimana dia dapat pinjam kepada sebuah bank asing.

Tiga tahun hutang dicicil Rp.425 ribu perbulan. "Tanggung jawab membayar cicilan, saya serahkan kepada Amanda," ia menambahkan. Tujuannya agar Amanda sadar agar tidak bermain- main dengan bisnis. Bisnis mereka menyasar produk wanita berbahan dasar katun, katun lokal, impor Jepang, Korea, dan India.

Ada alasan tertentu kenapa Monic fokus di katun. Kain ini cocok buat Indonesia yang beriklim tropis. Ia menambahkan bahwa terjangkau kalangan menengah. Harga dikisaran Rp.175.000- 700.000. Eksperimen terhadap katun dilakukan Monic lewat tabrak warna, tidak monoton polkadot, bunga, atau garis- garis.

Di sehalai pakaian akan ada variasi warna. Dia terinspirasi pakaian bayi Amanda. Produk bernama Oliliy itu, warnanya lembut, dimana motif bunganya tabak lari. Empat warna bahkan dijadikan satu dalam satu helai pakaian. "Tapi, kok, tetap lucu," selorohnya.

Bisnis katun kuat


Warna tidak ngejreng justru menjadi kalem. Laura Ashley memberikan banyak inspirasi. Desainer yang dikenal memulai dari bisnis kain perca. Masalah utama Monic awal adalah warna itu sendiri. Tabrakan warna membuat satu pakaian butuh banyak kain. Tetap untung loh tak menghabiskan biaya produksi banyak kok.

Kemudian dia memakai uang Rp.12 juta. Uang tersebut dipakai buat memproduksi 50 helai pakaian. Ia serahkan pembuatan ditangan penjahit pilihan. Lahirlah bisnis bernama Romantic Cotton sejak Juli 2011 resmi. Branding kemudian menjadi fokus Monic dengan pengalaman belasan tahun di bisnis dagang.

Ia mencetak katalog. Meski uang terbatas, ia juga membuat paperbag. Koleksi pertama dipajang di sebuah bazar. Macam komentar diluncurkan masyarakat. Mulai yang menganggapnya baju tidur. Adapula yang kaget karena harga mahal buat bahan katun. Meski begitu, toh, jualan Monic habis dibeli masyarakat yang tertarik.

Penjualan berikutnya lewat bazar di sekitar rumah. Koleksi habis. Tinggal marketing mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat. Sukses meski sekala masih kecil menaikan percaya diri Monic dan Amanda.

Bisnis mereka makin serius. Uang untung dijadikan modal kembali. Mangkanya rumah mereka di kawasan Kemang Pratam tertumpuk banyak kain katun. Memang sengaja disebar Monic. Warna- warni kain katun akan diseleksi lewat insting dipadu padankan di ruang tamu rumah mereka.

Target berikutnya promosi adalah Inacraft 2009, di Jakarta Convention Center (JCC), tepat pada April 2009 silam. Hasil lebih mengejutkan didapatkan Monic. "Stannya hampir roboh," kenang dia. Kan waktu itu dibantu Amanda dan dua asisten, hasilnya mengejutkan karena omzet nonjok sampai 150 juta!

Meskipun mulai berjalan baik. Pernah nih suatu ketika ada kesalahan warna. Meskipun sepele Monic tetap tidak suka. Dimana penjahit salah memasang warna resleting. Backpack warna kalem kok resletingnya warna hitam. Langsung deh dia kirim semuanya ke panti asuhan -dimana dia biasa juga memberi donasi.

Pokoknya Monic bisa dibilang perfeksionis soal kualitas. Mangkanya kerja sama dengan penjahit benar- benar dia perhatikan. Tidak boleh ada kesalahan. Kerja sama Monic sudah tersebar di Jakarta, Solo, Yogya, sampai Bali. Ia tinggal kirim desain gambar dan ukuran. Kalau di Jakarta dia awasi langsung pekerjaannya.

Jika ada masalah juga bisa menjadi ide bisnis. Contohnya suatu ketika mendapati kiriman kain perca yang tidak sesuai. Ukurannya terlalu kecil yakni 10x20cm dan 3x2cm. Waranya bagus, lucu- lucu, bahannya juga katun berkualitas. Dibuang sayang, akhirnya Monic memutar otak bagaimana biar tidak dia buang.

Dia pergi keliling mencari orang. Siapa saja yang bisa bikin aneka aksesoris, mulai kalung, cincin, bando, jepit, bros, tas, sampai taplak pun jadi. Ketika ada pembeli batal beli pakaian karena tidak ada ukuran. Jadi memilih memberi aksesoris buatan Romantic Cotton.

Sukses mereka memang tidak mudah. Tetapi dilalui karena memiliki passion. Sukses Monic selanjutnya apa yah. Sekembali dari ibadah Haji, Monic kepikiran membuat koleksi pakaian hijab. Tetapi tidak mau gegabah. Perlahan tetapi pasti akan terwujud. Dari 4 potong per- desain, jadi selusin, dua lusin dan terus.

Monic selalu memilih buat berkutat langsung. Selera kain katun berkualitas, kemampuan membaca selera pasar, dan tidak malu menjadi pengsuaha. Tidak malu buat keluar masuk pasar mencari bahan bagus. Cara penjualan juga unik awalnya dimana pelanggan meminta Monic mengirim banyak ke rumah buat dipilih.

Semua layanan terbaik diberikan Monic. Tujuannya adalah membangun kepercayaan kepada brand baru mereka Romantic Cotton.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba