Jualan Kursi Malas Sande Online

Profil Pengusaha Muhamad Iqbal Rasyidi 


 
Usia 23 tahun sudah menjadi pengusaha. Kisahnya belum tercatat banyak di internet. Namun pemuda asli Bantul, Yogya ini, patut kamu beri kesempatan memperkenalkan kisahnya. Berawal dari usaha milik sang kakak. Usaha sederhana kursi malas berbahan dasar rotan.

Keras dan tidak nyaman dipakai keseharian. Korsi rotan buatan kakaknya memang masih sederhana. Pria bernama lengkap Muhamad Iqbal Rasyidi ini, kemudian merubahnya menjadi besi. Biar nanti tahan lama dan juga praktis dipakai. Iqbal juga mengembangkan konsep lipat biar mudah dibawa ke mana saja.

Kursi malasnya juga memiliki tiga sudut kemiringan. "...dapat diatur kemiringannya," paparnya kepa Viva. Ia membuat kemiringan senyaman mungkin buat kamu. Mahasiswa semester 7 ini serius banget buat cari referensi kursi malas idaman mahasiswa.

Pokoknya nyaman dong. Jadilah produk bikinannya menjadi idaman mahasiswa sekitar. Cocok buat ruang sempit seperti kamar kos. Khususnya nih, penggunanya, adalah para mahasiswa yang tengah asik memakai laptop baik buat tugas maupun maen game.

Pembeli kebanyakan asal Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sendiri. Harga disesuaikan harga mahasiswa yakni Rp.135 ribu dan kursi malas kecil siap kamu gunakan. Kurang besar bisa beli yang harganya Rp.205 ribu. Pesanan sebulan mencapai 50 sampai 60 kursi malas ke berbagai kota.

Bisnis offline online


Iqbal juga menjajakan kursi malasnya ke kawasan Condongcatur, Sleman dimana dia menjejerkan kursi malasnya. Biar irit biaya buat pelanggan asal Kota Yogyakarta buat beli. Prakitan kerangka diserahkan kepada perajin asal Tegal, sedangkan busanya ambil dari Tangerang, dan covernya dari Yogya saja.

Dia mengatakan cukup punya dua karyawan buat jahit. Dimana sistemnya tinggal borong saja. Per- cover mereka jahit dapat upah Rp.21 ribu. Walaupun sudah banyak permintaan belum ada showroom khusus. Ia yakin masih akan tetap fokus jualan pakai online tanpa galeri khusus.

Kursi buatannya memang fleksibel. Dan tidak mudah rusak, seperti kursi malas rotan, yang mana menjadi ide dibalik bisnisnya kelak. Ia ingat awalnya mencoba malas- malasan pakai kursi malas rotan. Eh, barulah beberapa kali sudah rusak saja. Pengalaman tersebut menjadikan ide bisnis kursi malas yang kuat awet.

Butuh banyak eksperimen sampai dia menemukan bahan cocok. Hingga dia menemukan kerangka kuat dari besi. Kemudian ada kain kuat ditambah bahan busa empuk nyaman. Kelebihan ditambahkan yakni konsep lipat. Besinya juga dilapisi cat agar kuat memakai metode powder coating.

Teknik powder coating katanya mampu membuat besi tahan goresan lantai. Untuk efek pegas tidak perlu pakai pegas. Cukup memakai busa jenis rebounded khusus didatangkan dari Tangerang. Kain warnanya nanti pakai bahan dari sebuah toko di Yogyakarta.

Untuk pemasaran diluar online, kini, dia juga menggunakan sistem sample ke toko- toko sekitara Yogya. Ia mampu meraup pundi rejeki lumayan loh. Katanya nih, omzet pemuda yang sukses menjual lebih dari 250 unit per- bulannya, adalah sampai Rp.50 jutaan.

Kisahnya Penjual Tape Ketan Pamela Kuningan

Profil Pengusaha Carsim Cahyadi 


 
Sukses tape ketan Carsim Cahyadi bukan perkara mudah. Sukses tapek ketan di kawasan Desa Tikolot dan Cibeureum. Tidak lain salah satunya karena dia. Mimpi besar Carsim adalah Kuningan menjadi pusatnya panganan tape ketan. Warga desa yang beranikan membuka usaha tape ketan sejak 1996.

Dia merupakan pelopor kedua orang berusaha tape ketan. Usaha bersifat turun- temurun -jadul kiranya- ia mencoba memberi nuansa berbeda. Empat tahun sudah dirinya mencoba usaha. Sepanjang jalan tersebut ia hampir tidak pernah mendapatkan untung.

Peluang besar, itulah pendapat Carsim lantaran trend kuliner lokal meningkat.

"Saya bertekad memperkenalkan racikan tapai khas Kuningan," tuturnya.

Nama bisnis tape ketanya Pamela. Merupakan akronim nama kedua anaknya, Fajar dan Mela, dan karena mereka orang Sunda nama Fajar terbaca Pajar. Mangkanya bukan Famela tetapi berubah menjadi Pamela jika keduanya digabungkan.

Bisnis rumahan


Ia menyulap rumah menjadi pabrik kecil. Carsim mengandalkan cukup resep temurun. Dan bisnis tersebut memakai beras ketan dan ragi asal Indramayu, Jawa Barat. Berjalan waktu melalui daya upaya. Akhirnya ia mampu menaikan nama ketan tapai.

Sekarang usahanya menghasilkan 3 kuintal. Dikemas dalam 5 kemasan berbeda ukuran. Yaitu kemasan ember isinya 80 bungkus, kemasan dus 50 bungkus, kemasan stoples 28 bungkus, dan paling kecil kemasan plastik mika isi 16 bungkus.

Bagaimana dia bisa menjadi pengusaha sukses. Dia terinspirasi padagang tape ketan satu- satunya aktif bernama Danasih -pemilik tapai ketan Sari Asih. Carsim awalnya hanyalah pedagang perkakas keliling. Ia pernah pula bekerja menjadi buruh kontraktor ke Jakarta.

Fenomena menarik ketika ia pulang kampung. Orang luar kota mengantri lama di depan rumah tetangganya itu. Mereka mengantri cuma buat dapat tape ketan sebagai buah tangan. Carsim sendiri sering diajak oleh tetangganya Danasih. Dia bekerja di tempat Danasih mengolah tapai ketan.

Namun dia bertanya apakah akan sukses kalau diluar Lebaran. Bagaimana tapai ketan menjadi ikonik dan selalu laku. Inilah tantangan pertama Carsim coba pecahkan. Dia berpikir sulit berkembang jika kita cuma bikin ketika lebaran. Insting bisnis tersentuh, beruntung dia sudah dipoles pengalaman jualan keliling.

Deretan mobil menjadi alasan kuat. Dia ingin aktif menjajakan tape ketan. Pikiran buat jemput bola pun muncul. Carsim tidak betah lagi kerja di Jakarta. Pulanglah Carsim ke Tarikolot, tekadnya menjadi salah satu pengusaha tape ketan sukses.

Ia ingin menjadi usaha tape ketan modern. Lebih maju dibanding cuma mengharapkan lebaran. Usaha itu dia buka bermodal uang Rp.600.000. Uang tersebut dibelikan peralatan dasar dan bahan dasar. Sebagai satu langkah awal, dia juga mulai mensurvei tempat di kawasan Kuningan sampai Cirebon.

Lokasinya Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan, tetapi kenyataan tidak seindah rencana. Orang kala itu masih belum berpikir tapai ketan adalah jajanan harian. Orang masih berpikir itu buah tangan yang biasa dimakan kala waktu tertentu. Orang Kuningan sendiri lebih milih pergi ke Tarikolot ataupun Ciberurum/

Kondisi seperti itu terjadi salam 4 tahun. Dapat dibilang bisnisnya gagal total. Putus asa sudah datang ke pikiran Carsim. Dia sendiri padahal sudah menerapkan sistem konsinyasi. Bisnis dijalankan Carsim diberi perandaian seperti mebabat hutan sendirian. Karena dia menjadi satu- satunya pengusaha tapai ketan di Kuningan.

"...banyak menangis daripada tertawa," kenang dia. Ketika barang gak laku, mau dibawa pulang malu. Lalu terpaksa dia bagi- bagikan ke tukang becak. "Inginnya lari meninggalkan usaha."

Dia sudah putus asa. Sudah mau keluar dari bisnis tapai ketan. Tetapi ujungnya dia kembali berpikir lebih positif. Harapan tahun kelima akan ada perubahaan. Dia lantas ketemu seorang kenalan. Sambil bersedih hati dia menceritakan kepiluan usahanya. Dibalik itu dia menceritakan pula mimpinya dan ambisinya.

Sang teman lantas menawari tempat di kawasan Bundaran Cijoho. Dimana tempatnya ditawarkan gratis ia pakai. Sebuah pinjaman hingga dia sukses sekarang. Kesempatan ini tidak disia- siakan lewat bekerja lebih keras.

Titik balik usaha


Tahun 2000 -an menjadi titik balik pengusaha tape ketan ini. Ternyata faktor tempat sangat mempengaruhi jualannya. Banyak pelanggan datang. Dari mulut ke mulut namanya tersebar ke penjuru Kuningan. Disana dia menggunakan sebagai sarana gratis promosi. Dia juga menata barang dagangan agar lebih menarik lagi.

Papan nama usaha Pamela menjadi perbincangan masyarakat. Carsim pajang di depan usahanya terlihat jelas sekali. Orang tertarik datang karena nama unik. Mangkanya volume penjualan tape ketan Pamela jadi makin naik. Setiap harinya memproduksi 20kg beras ketan buat usahanya.

Kemudian naik dalam hitungan bulan sampai 50kg. Jelang lebaran nih bahkan sampai empat sampai enam kuintal produksi. Harga jualnya Rp.15 ribu per- 100 bungkus. Kemudian dia tarus di dalam ember plastik diberi nama Pamela. Lalu buat per- ember diberinya harga Rp.45 ribu isinya 100 bungkus.

Suami dari guru SD, Rusti Cahyadi, kemudian menawarkan kerja sama kepada Danasih. Dia membantu buat Danasih yang masih tinggal di kampung. Pasalnya Danasih juga sama larinya cuma bedanya kurang di produksi, keteteran. Mangkanya permintaan saat lebaran Danasih terbantu dan akhirnya makin laris manis.

Hasilnya justru tetangga lain ikutan. Yang mulanya cuma Danasih berbisnis di Tarikolot, kini, banyak lagi warga ikutan menjadi pengusaha tapai ketan. Carsim sendiri senang karena membantu ekonomi warga di sekitar.

Sukses Carsim terendus pihak BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), dimana dia diberi pelatihan. Tidak cuma dikenal di Kuningan tetapi mulai ke penjuru kota sekitar. Mangkanya tidak lah afdol jika datang ke Kuningan tidak membeli tapai ketan Pamela.

Dia bukan cuma pengusaha. Dalam dirinya ada kegigihan membangun tradisi lokal. Pria yang hobinya suka menyindiri di alam bebas ini, menemukan kelemahan, usahanya ketika dia melamun yakni pada proses pembuatan. Utamanya soal cuci beras karena kan jumlahnya ratusan kilogram tidak mungkin pakai tangan.

Kemudian ada kawan menawarinya alat pengaduk snack. Dia jual karena mau ganti usaha. Nah, karena ada kesempatan, Carsim beli kemudian diutak- atik dijadikan alat pencuci beras. Untung mesin tersebut dapat jalan meski tidak diperuntukan semestinya. Dan mesin tersebut mudah buat dijalankan siapa saja nantinya.

Langkah tersebut diikuti oleh pengusaha kecil lain. Mangkanya pembuatan tapai ketan di Tarikolot dan juga Cibeurum menggunakan mesin. Untuk memasaknya masih manual, biar tidak merubah rasa, cukuplah buat mencucinya saja. Carsim menjadi model bagi pengusaha lain dalam inovasi bewirausaha.

Kini, banyak sekali keagenan tapai ketan tersebar di kawasan tersebut. Tidak mudah memang merubah jiwa mereka sebagai petani. Mereka butuh contoh sukses. Kalau sudah mereka akan mengikuti sendiri dan mau diajari. Tidak berhenti disana Carsim juga melakukan inovasi aneka rasa.

Sangat penting menurutnya loh. Apalagi target pasaran Carsim mulai menyasar warga perkotaan. Karena ia pernah tinggal di Jakarta tau betul selera orang Jakarta. Varian rasa dibuat sesuai dengan rasa tapai ketan memang terkenal asam manis. Sekarang orang makan kayak jajan, buat teman minum kopi, atau lainnya.

Rasa vanilas, stroberi, dan lainnya, ternyata efektif menggaet pelanggan. Dia sendiri tengah fokus perihal pengemasan mencari ganti daun jambu air apa. Kan susah mencari apalagi kalau musim kemarau telah tiba. Cara ditempuh tetapi bagaimana agar rasanya tetap. Kemudian ia mengajak banyak orang budidaya jambu air.

Dia mampu meningkatkan kualitas tapai daerahnya, lebih awet, lebih enak, dan lebih bersih. Dia sadar pula bahwa soal kemasan menjadi hal penting bisnis kuliner sekarang. Rahasia sukses lainnya adalah tidak mau pakai bahan kimia. Semuanya dibuat secara alami tanpa bahan pengawet atau pemanis buatan.

Bisnis banyak saingan


Meskipun sudah memiliki banyak saingan. Dirinya mengaku tidak minder. Carsim selalu mengutamakan iklim persiangan sehat. Sampai sekarang sih tidak ada konflik dengan pengusaha tapai ketan lainnya. Dia menjelaskan meskipun bersaing, kan mereka sekampung, saling tetanggaan sudah kayak keluarga sendiri.

Tidak manfaat membawa pulang persaingan ke kampung. Oleh karenanya dia tidak segan membagi ilmunya tentang bisnis tape ketan. Dia juga menajaga baik hubungan dengan pegawai. Prinsipnya memanusiawikan mereka. Apalagi kebanyakan mereka adalah tetangga sendiri. Mereka yang hidup dalam kesusahan jaman sekarang.

Dia sebagai orang Sunda juga, memperlakukan karyawan halus, dan sudah dia terapkan semenjak Pamela cuma memiliki dua karyawan. Sekarang mah dia sudah punya 35 orang karyawan. Tidak ada seleksi khusus buat calon karyawan. Syaratnya ya kerjanya bikin tape ketan saja. "Mau bekerja membuat tape."

Kalaupun ada karyawan keluar, itu karena masalah ingin mencari pekerjaan lebih baik. Salam bisnis ini dia jalankan tidak ada perselisihan. Dia sadar bahwa pengusaha tidak membangun usaha sendiri. Dia juga rasa gembira kalaupun ada bekas karyawan Pamela membuka usaha serupa.

Untuk masalah gaji Carsim dikenal pemberi upah baik. Karyawan Pamela dapat upah diatas UMR yakni ia memberi Rp.30 ribu per- hari, sudah ada uang makan, bonus bulanan, dan THR. Ia tidak sungkan mengajak mereka liburan bareng.

Sejak tahun 2004 usahanya terbilang stabil, dan akhirnya Carsim mengajukan pinjaman ke bank bjb. Lalu dia mendapatkan bantuan program Peduli Jabar. Modalnya dapat Rp.10 juta dan lunas semua dalam waktu satu bulan. Sudah termasuk membayar angsuran pokok serta bungannya setiap bulan.

Pinjaman Carsim meningkat kemudian yakni Rp.20 juta. Kemudian berkali lipat, mulai Rp.50 juta, hingga Rp.200 juta. Pinjaman tersebut dirasanya bagus membantu UKM seperti dirinya. Dia sudah mandiri dalam hal berbisnis. Omzetnya sudah mencapai Rp.240 juta atau Rp.2,88 miliar per- tahunnya.

Sejak 2011 terhitung dia sudah 15 tahun bergelut dengan tapai ketan. Untungnya terbilang besar buat suatu UKM di kawasannya. Target dicanangkan Carsim ialah membuat tapai ketan makin populer. Inginya bisa bersaing dengan jajanan modern. Bersyukur keluarga mendukung usaha juragan tapai ketan Kuningan ini.

Contohnya sang istri, sebagai guru, dia selalu mengingatkan karyawan Carsim untuk menjaga kebersihan dan kerapian. Termasuk soal administrasi harus tertib. Dia serius mengembangkan konsep administrasi yang baik. Namun dia masih ragu mengambil tenaga profesional dalam bisnis tapai ketan.

Belum kuat bayar, jadi ya dia dan keluarga akan tangani sendiri saja. Pemasaran Pamela pun masih pakai cara keagenan biasa yang dianggapnya cocok. Mereka justru datang sendiri menawarkan diri menjadi agen Pamela. Cara bisnisnya melalui retail sederhana, dimana memberikan harga lebih murah agar ada untung.

Usaha ini dijalankan lewat keagenan tersebut. Melalui mereka tapai ketan tersebar ke penjuru Pulau Jawa. Diakui mereka, para agen, menjadi ujung marketing bisnis Pamela sekarang. Masalah utama ialah jarak dan waktu. Kan tapai ketan memiliki ketahanan sebentar paling lama cuma bertahan semingguan.

Oleh karenannya dia menyasar wilayah besar terdekat dulu, yakni Jakarta dan Bandung. Barulah percaya diri masuk ke kawasan Jawa Tengah bahkan Timur. Walaupun tapai ketan tidak tahan lama bukan berarti ini menghalangi Carsim berusaha loh. Dia sedang berpikir caranya memodifikasi agar tapai ketan tahan lama.

Walau dimodifikasi harapannya tidak akan merubah kekhasan. Jika 15 tahun lelau warga Tarikolot sukses jadi sentral tapai ketan di Kuningan. Harapan Carsim selanjutnya menjadikan kuningan pusatnya distribusi tapai ketan seluruh Indonesia.

Kreasi Telur Asin Rasa Inovasi Adonan Jaya

Profil Pengusaha Sukses Sulaiman



Kisah Sulaiman layaknya drama televisi. Dia kini dikenal sebagai juragan telur asin. Awalnya dia memulai usaha beternak bebek saja. Usaha miliknya bernama Adonan Jaya. Menjual aneka telur asin aneka rasa, yang mana pembelinya tidak sekedar lokal, tetapi sudah diekspor sampai manca negara.

Alkisah Sulaiman terlahir dari keluarga miskin. Tahun 1987, ia berniat membantu pengeluaran keluarga, dan kebetulan ditawari bekerja menjadi penggembala bebek. "Angon bebek" dilakukan bocah Sulaiman tidak malu ataupun capek.

Ia tidak berkecil hati. Ia yang masih duduk di bangku SMP. Akan sibuk menggiring bebek ketika sekolah telah usai. Sampai dia harus berenang di empang buat mengejar bebek. Pria kelahiran Sidoarjo 58 tahun silam ini tidak berhenti, karena memang begitu lulus SMP, sudah tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.

Hidup susah berwirausaha


Walaupun masih kecil, Sulaiman terbiasa bekerja keras, dan hasilnya menjadi sosok tangguh. Tidak ayal ia menyisihkan uang buat berbisnis sampingan. Sambil menggembala bebek dia berusaha kecil- kecilan. Dia membeli telur bebek. Mengolahnya sendiri menjadi telur asin dan dijual ke kampung sebelah.

Lima tahun bisnis sampingan berjalan. Dia masih menggembala bebek. Mulai muncul niat memiliki bebek sendiri. Dari 20 ekor bebek terbeli, berkembang bahkan mencapai 2.200 ekor, sekarang Sulaiman tidak lagi perlu mengambil telur peternak lain.

Dalam sehari dia menghasilkan 1.000- 1.500 telur. Dia beralih menjadi juragan telur asin. Tiga jenis dia ciptakan telur asin biasa, sedang, dan istimewa. Kenapa  istimewa: Karena telur dibuat dari telur besar dan butuh waktu 20 hari pemeraman. Warnanya juga kuning kemerahan dengan lelehan minyak jikalau dibelah.

Untuk sedang maka ukurannya lebih kecil. Waktu peram juga cuma butuh 10 hari. Berkat ide membuka peternakan sendiri usahanya lebih lancar. Pembuatan telur asin bisa tidak tergantung pasokan. Berapa saja dibutuhkan dia bisa ambil. Sisanya mungkin dapat dijual dalam bentuk telur bebek biasa.

Selain itu juga bisa guna balik. Contohnya bebek diberi makan cangkang telur, dicampur kulit udang, lalu kupang putih, dan bekatul. Hasil makanan tersebut cangkang telur tebal, isinya kemerahan, dan ukurannya besar.

Keberhasilan Sulaiman tidak mudah. Butuh waktu untuk menciptakan cara tepat. Bagaimana menciptakan telur asin berasa. Sebagai pengusaha dia tidak segan menerima kritik saran. Contohnya ketika pelanggan ada yang protes karena telurnya cepat basi. Atau mungkin ketika berasa tidak masir atau asin sedap.

Dia butuh banyak percobaan. Ia harus menyesuaikan selera konsumen bukan kebalikan. Campuran batu bata, abu arang batok kelapa, dan garam. Batu bata baiknya dibakar dulu. Tujuannya ketika dibalurkan ke telur, agar tidak membuat telur tidak mudah berjamur.

Bisnis inovatif


Sulaiman sudah melakukan inovasi sejak 1992. Inovasi berupa telur asin rasa kepiting, udang, salmon. Dia mendapatkan ide dari temannya -yang seorang nelayan. Kenapa sih tidak membuat telur asin rasa seafood. Dia lantas memulai eksperimen tersebut.

Masa peram butuh sampai 12 hari. Selepas itu, telur bebek direbut pakai larutan berisi rasa selama 4 jam. Ia mengakhiri dengan pematangan telur asin. Tiga cara pematangan terakhir direbus, dioven, atau digoreng.
Cara mematangkan ini mempengaruhi kualitas keawetan, digoreng kuat 15 hari, dioven kuat sampai 20 hari.

Namanya kian populer ketika memperkenalkan inovasi. Bukti bahwa pasar jenuh akan pasaran telur asin yang biasa. Bahkan nih, Sulaiman tidak capai, pelanggan mendatangi tempatnya sendiri. Pesanan datang dari luar kota bahkan sampai luar negeri, khususnya ke pasaran Asia.

"Untuk Jakarta, saya rutin mengirim 2.500 telur asin," jelasnya. Omzet Sulaiman pernah jeblok loh. Utama ketika musim flu burung. Yah dibalik kesuksesan pastilah ada hambatan menghadang. Omzet turun kala itu sampai 30% -an.

Mimpi besar Suliaman adalah membawa ke pasar internasional. Meskipun begitu kesuksesa Adonan Jaya patut diacungi jempol. Pasaran Jawa Timur sudah dikuasi pria paruh baya tersebut. Inovasi juga terus dia gencarkan. Contohnya dia meluncurkan telur asin herbal, baru diluncurkan dan mendapat aprasiasi bagus.

Menurutnya ini telur asin sehat. Karena ada campuran ginseng, akar alang- alang, daun jambu batu, dan ada daun salam. Makan telur asin bisa sakit jantung? Cobalah telur asin herbal variasinya CV. Adonan Jaya tersebut. Harapan merambah luar negeri terus dia gencarkan lewat berbagai pengembangan.

Sukses keuntungan dibalik dengan menambah ternak dan memperlua kandang. Dia menjadi panutan para pengusaha sejenis -meski pesaing dia- dianggap menjadi pelopor dan meningkatkan harkat martabat Desa Kebonsari, Sidoarjo.

Dia menceritakan awal sering dikembalikan karena rusak. Dia kemudian berpikir caranya telur asin awet lebih dari seminggu. Ide datang ketika dia melirik bandeng asap. Kan kalau ikan bandeng diasapin malah lebih awet dibanding telur asin. Dia mulai mengasapi telur asinnya, hasilnya kuat 20 hari- 1 bulan.

Telur asin dibakar itu rasa udang. Telur diasapi rasa udang. Dan digoreng untuk telur asin rasa ikan salmon. Ya kamu tidak salah mendengar ikan salmon. Cara penanganan memasak rasa ikan salmon unik. Karena ia goreng langsung sama kulitnya bak ikan salmon goreng.

Jumlah telur dijual sudah ribuan per- minggu. Sukses tidak membuat Sulaiman pelit. Dilihat oleh Good News From Indonesia (www.goodnewsfromindonesi.id), dalam buku tamunya berderet nama- nama orang bahkan organisasi, sekolah, dari TK, Mahasiswa, media masa, bahkan orang asing datang ke rumahnya.

"Kalau punya ide, punya cita- cita jangan setengah- setengah harus semangat terus walaupun gagal, harus lah telaten, harus tekun dan berhati- hati," tutupnya.

Pengusaha Telur Ayam Arab Wanita Juga Bisa

Profil Pengusaha Melati Fajarwati 



Tekun pantang menyerah. Itulah Melati Fajarwati. Bermula dari inspirasi bisnis tetangga terdekat. Wanita asal Pontianak ini. Mulai asik menggeluti bisnis ayam petelur. Warga Pontianak, Kalimantan Barat, masih umur 20 tahun memulai peternakan sendiri.

Dia melihat peluang mengembangkan ayam organik. Mela melihat peluang ayam Balqis. Itu loh ayam Arab yang mana cocok dengan keadaan lingkungan Kalimantan Barat.

Bahkan dia menang perlombaan kewirausahaan Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan.

"Saya melihat peluang cukup bagus, tetapi belum dikelola dengan baik," imbuhnya.

Ia merasa beternak masih sekedar hobi. Untuk menjalankan rencana dia membuat bisnis plan. Jika para wirausaha percaya diri dengan bisnisnya. Mela memilih mengikuti perlombaan tersebut. Mela memilih merecanakan kedepan bisnisnya. Perencanaan matang dibuat agar tidak sekedar beternak.

Mengikuti perlombaan Bank Mandiri juga. Kemudian dari kemenangan tersebut, uang hasil lomba Mela pakai buat modal usaha tambahan. Dari perlombaan pula namanya menggema. Bisnisnya mulai maju dan menghasilkan 4 ribu butir per- hari.

Harga telur dia jual Rp.2.500 -an. Kalau dilihat omzet perharinya mencapai miliaran. Untung bersih dia membuka sampai Rp.10 juta. Omzetnya mencapai Rp.4,3 miliar. Peternakan Melati, di daerah Parit Wak Wiji, Kabupaten Kubu Raya, membawa dia menjadi jutawan muda.

Telur ayam Melati tidak membuat alergi. Apalagi menimbulkan bisul atau jerawat. Protein dihasilkan juga lebih tinggi. Dimana omega 3 nya lebih nendang dibanding ayam jawa. Ayamnya diberi nama ayam arab. Tetapi sebenarnya merupakan perpaduan antara ayam belgia dan jawa.

Melati spesifik memberika makanan. Bahkan dibilang joran. Jika ayam biasa cukup makan pelet. Maka ia membuatkan dedak khusus, campuran kepala udang, sayuran, dan jamu khusus. Dimana resepnya ya di jamu itu agar ayam mampu memiliki stamina bertelur lebih banyak.

Dia sejak mula sadar tidak bisa sendiri. Mangkanya untuk mengembangkan bisnisnya dia bermitra. Dia lalu mengajak peternak lain bersama. Mereka menghasilkan telur lebih banyak. Pertumbuhan jumlah ayam juga mudah karena saling menolong.

Untuk distribusi Mela sudah merambah Jawa. Puluhan juta sudah dihasilkan Mela sendiri. Kreativitas ia tidak berhenti. Pengembangan bisnis lainnya adalah membuat kerajinan cangkang telur. Dia mengajak para pemilik warung mie instan dan jamu. Khusus limbah cangkang akan dijadikan kerajinan termasuk tas juga.

Pembuat Keramik Muda Menginspirasi Usaha

Profil Pengusaha Bregas Harrimardoyo 



Keberadaan mereka dianggap kurang. Banyaknya mesim mampu mencetak ratusan. Pengrajin keramik bisa dibilang dihitung jari. Kerajinan keramik dianggap terlalu sukar. Detailnya yang beda dari sekedar caranya membuat keramik. Perajin keramik mengalami kesulitan dalam regenerasi.

Banyak pemula merasa bosan. Prosesnya dianggap memakan waktu. Butuh tidak cuma kreatifitas tetapi juga kemampuan bersabar membakar. Dari tanah liat, caranya membuat, teknik glasir, serta pemahaman akan tungku, pokoknya rumit buat diturunkan.

Sementara itu kuliah jurusan perkramikan ada. Tetapi mahasiswanya seolah bisa dihitung jari. Mulai dari ITB, IKJ, ISI, dan UNJ, apakah ada contoh suksesnya. Tidak jarang mahasiswa malah pindah jurusan. Nah, orang tua sendiri terlihat skeptis dibanding jurusan kesenian lainnya, apa keuntungan finansial ahli kramik.

Mangkanya banyak anak muda dilarang- larang. Namun ternyata kalau ditekuni menghasilkan juga. Apalagi jumlah pesainnya dapat dihitung jari.

Bisnis seni


Ambil contoh Bregas Harrimardoyo. Sejak kecil dia sudah melihat ayahnya berkutat dengan kramik. Dia lambat laun mencintai kesenian tersebut. Ayah Bregas adalah pendiri Pakunden Pottery tahun 1987. Lalu ia mewarisi bakat membuat keramik. Dia mencontoh ayah iseng membuat keramik sendiri.

Tertarik karena biasa melihat ayah kerja di studio. "Saya sudah belajar sekitar umur 5- 7 tahun," jelasnya. Ia mulai serius ketika lulus SMA. Dia tertantang untuk lebih. Tertantang menyamai kepiawaian sang ayah mengolah keramik. Usia 16 tahun sudah mewarisi keahlian sang ayah membuat aneka keramik.

Dia melanjutkan Pakunden Pottery. Kelebihan studio ini adalah kesederhanaan keramik. Namun coraknya khas Indonesia mendetail. Inilah yang coba ditonjolkan Bregas. Keramik layaknya kanvas. Disana dia akan menorehkan lukisan. Kanvas jangan rumit- rumit. Yang terpenting apa polanya terurai cantik diatasnya.

Bregas fokus mencari corak Indonesia. Dituangkan dalam kanvas keramik sederhana cukup. Harganya jadi variatif dari Rp.40 ribu sampai Rp.5 jutaan. Dan sudah dapat ditebak 95 persen pembelinya adalah orang asing. Bahkan karyanya dibawa di galeri internasional, menuju Portland, Oregon, Amerika Serikat. 

Menjadi eksportir omzet Bregas dibilang tergantung. Tidak pasti tergantung ada pameran tidak. Jumlah yang dikirim juga tidak banyak. Meskipun begitu pendapatan Bregas bisa dibilang dollar. Justru pasaran lokal dianggapnya lebih susah. Untuk orang Indonesia butuh pendekatan bukan cuma nilai estetik saja.

Kalau orang asing kan begitu liat seni langsung tertarik. Orang Indonesia mikir dulu baru memutuskan mau beli atau tidak. Kalaupun ada pasti dari kalangan tingkat pendidikan dan ekonomi atas. Lima persen ia anggap memang kurang. Bregas tetap menggali pasar 5% ini melalui aneka upaya inovatif.

Turun temurun


Sang ayah terlahir di daerah bernama Pakunden, Semarang. Ibunya Ating, kelahiran sana asli dan ketika berjalan waktu Pakunden menjadi bagian Kota Semarang. Nama Pakunden ternyata berarti kendi atau juga disebut pot.

Sementara ayah Bregas aslinya dekat situ. Kemudian menikah dan ide bisnis tentang membuat kerajinan berbahan tanah liat muncul. Hasilnya sebuah aneka benda kecil- kecil berbekal tanah liat belakang rumah. Kemudian ayah yakin memperdalam ilmu otodidak, menghasilkan studio kecil bernama Pakunden.

Nama Pakunden juga merupakan persembahan buat sang istri. Lambat laun keahlian ayah Bregas makinlah terasah. Kemudian anak kecil bernama Bregas Harrimardoyo mulai membuat pernik kecil berbahan tanah liat.

Ketika mereka pindah ke Jakarta, ibu Bregas masuk kuliah IKJ jurusan batik. Kemudian dia ditawari oleh kampus mempelajari tentang pembuatan keramik. Namun dia menyerah karena terlalu teknikal. Disitulah ayah Bregas masuk mengambil alih kuliah tersebut. Padahal jurusan ayahnya adalah teknik mesin waktu itu.

Kemudian keterarikan akan membuat keramik makin kuat. Dipadukan akan kemampuan teknikal mesin. Ia membuat studio dengan mesin sendiri. Berjalan waktu dia dikenal menjadi pengrajin, maestro, dalam hal pembuatan keramik. Dia mulai mengikuti aneka pameran kesenian keramik.

Umur 14 tahun Bregas banyak ketemu sesama perajin keramik (teman ayah). Ketika lulus SMA dia dapat kesempatan masuk Arkeologi. Melalui arkeologi dia memasuki pemahaman akan keramik. Aneka bentuk karya orang dulu sesuai passion -nya akan membuat kesenian keramik.

Ibu Bregas sangat tertarik akan batik. Dia pembuat kroset. Dan idenya selaras dengan keahlian membuat macam pola etnik. Sementara itu sang ayah juga masih aktif. Dia akan setiap hari terlihat menggambar, lalu membentuk desain pola, membentuk keramik, dan memberika saran jika diperlukan oleh Bregas.

Dia punya saudara laki- laki, seorang arsitek. Sang anak, Yuka, suka ikutan Bregas mengerjakan keramik. Tanah liat datang dari Jawa Barat. Yang mana sumbernya sangat diteliti benar. Dia memilih membeli buat distok untuk enam tahun. Bahan bumbunya datang dari lokal sekitar. Sumber: www.ajourneybespoke.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba