Pengusaha Telur Ayam Arab Wanita Juga Bisa

Profil Pengusaha Melati Fajarwati 



Tekun pantang menyerah. Itulah Melati Fajarwati. Bermula dari inspirasi bisnis tetangga terdekat. Wanita asal Pontianak ini. Mulai asik menggeluti bisnis ayam petelur. Warga Pontianak, Kalimantan Barat, masih umur 20 tahun memulai peternakan sendiri.

Dia melihat peluang mengembangkan ayam organik. Mela melihat peluang ayam Balqis. Itu loh ayam Arab yang mana cocok dengan keadaan lingkungan Kalimantan Barat.

Bahkan dia menang perlombaan kewirausahaan Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan.

"Saya melihat peluang cukup bagus, tetapi belum dikelola dengan baik," imbuhnya.

Ia merasa beternak masih sekedar hobi. Untuk menjalankan rencana dia membuat bisnis plan. Jika para wirausaha percaya diri dengan bisnisnya. Mela memilih mengikuti perlombaan tersebut. Mela memilih merecanakan kedepan bisnisnya. Perencanaan matang dibuat agar tidak sekedar beternak.

Mengikuti perlombaan Bank Mandiri juga. Kemudian dari kemenangan tersebut, uang hasil lomba Mela pakai buat modal usaha tambahan. Dari perlombaan pula namanya menggema. Bisnisnya mulai maju dan menghasilkan 4 ribu butir per- hari.

Harga telur dia jual Rp.2.500 -an. Kalau dilihat omzet perharinya mencapai miliaran. Untung bersih dia membuka sampai Rp.10 juta. Omzetnya mencapai Rp.4,3 miliar. Peternakan Melati, di daerah Parit Wak Wiji, Kabupaten Kubu Raya, membawa dia menjadi jutawan muda.

Telur ayam Melati tidak membuat alergi. Apalagi menimbulkan bisul atau jerawat. Protein dihasilkan juga lebih tinggi. Dimana omega 3 nya lebih nendang dibanding ayam jawa. Ayamnya diberi nama ayam arab. Tetapi sebenarnya merupakan perpaduan antara ayam belgia dan jawa.

Melati spesifik memberika makanan. Bahkan dibilang joran. Jika ayam biasa cukup makan pelet. Maka ia membuatkan dedak khusus, campuran kepala udang, sayuran, dan jamu khusus. Dimana resepnya ya di jamu itu agar ayam mampu memiliki stamina bertelur lebih banyak.

Dia sejak mula sadar tidak bisa sendiri. Mangkanya untuk mengembangkan bisnisnya dia bermitra. Dia lalu mengajak peternak lain bersama. Mereka menghasilkan telur lebih banyak. Pertumbuhan jumlah ayam juga mudah karena saling menolong.

Untuk distribusi Mela sudah merambah Jawa. Puluhan juta sudah dihasilkan Mela sendiri. Kreativitas ia tidak berhenti. Pengembangan bisnis lainnya adalah membuat kerajinan cangkang telur. Dia mengajak para pemilik warung mie instan dan jamu. Khusus limbah cangkang akan dijadikan kerajinan termasuk tas juga.

Pembuat Keramik Muda Menginspirasi Usaha

Profil Pengusaha Bregas Harrimardoyo 



Keberadaan mereka dianggap kurang. Banyaknya mesim mampu mencetak ratusan. Pengrajin keramik bisa dibilang dihitung jari. Kerajinan keramik dianggap terlalu sukar. Detailnya yang beda dari sekedar caranya membuat keramik. Perajin keramik mengalami kesulitan dalam regenerasi.

Banyak pemula merasa bosan. Prosesnya dianggap memakan waktu. Butuh tidak cuma kreatifitas tetapi juga kemampuan bersabar membakar. Dari tanah liat, caranya membuat, teknik glasir, serta pemahaman akan tungku, pokoknya rumit buat diturunkan.

Sementara itu kuliah jurusan perkramikan ada. Tetapi mahasiswanya seolah bisa dihitung jari. Mulai dari ITB, IKJ, ISI, dan UNJ, apakah ada contoh suksesnya. Tidak jarang mahasiswa malah pindah jurusan. Nah, orang tua sendiri terlihat skeptis dibanding jurusan kesenian lainnya, apa keuntungan finansial ahli kramik.

Mangkanya banyak anak muda dilarang- larang. Namun ternyata kalau ditekuni menghasilkan juga. Apalagi jumlah pesainnya dapat dihitung jari.

Bisnis seni


Ambil contoh Bregas Harrimardoyo. Sejak kecil dia sudah melihat ayahnya berkutat dengan kramik. Dia lambat laun mencintai kesenian tersebut. Ayah Bregas adalah pendiri Pakunden Pottery tahun 1987. Lalu ia mewarisi bakat membuat keramik. Dia mencontoh ayah iseng membuat keramik sendiri.

Tertarik karena biasa melihat ayah kerja di studio. "Saya sudah belajar sekitar umur 5- 7 tahun," jelasnya. Ia mulai serius ketika lulus SMA. Dia tertantang untuk lebih. Tertantang menyamai kepiawaian sang ayah mengolah keramik. Usia 16 tahun sudah mewarisi keahlian sang ayah membuat aneka keramik.

Dia melanjutkan Pakunden Pottery. Kelebihan studio ini adalah kesederhanaan keramik. Namun coraknya khas Indonesia mendetail. Inilah yang coba ditonjolkan Bregas. Keramik layaknya kanvas. Disana dia akan menorehkan lukisan. Kanvas jangan rumit- rumit. Yang terpenting apa polanya terurai cantik diatasnya.

Bregas fokus mencari corak Indonesia. Dituangkan dalam kanvas keramik sederhana cukup. Harganya jadi variatif dari Rp.40 ribu sampai Rp.5 jutaan. Dan sudah dapat ditebak 95 persen pembelinya adalah orang asing. Bahkan karyanya dibawa di galeri internasional, menuju Portland, Oregon, Amerika Serikat. 

Menjadi eksportir omzet Bregas dibilang tergantung. Tidak pasti tergantung ada pameran tidak. Jumlah yang dikirim juga tidak banyak. Meskipun begitu pendapatan Bregas bisa dibilang dollar. Justru pasaran lokal dianggapnya lebih susah. Untuk orang Indonesia butuh pendekatan bukan cuma nilai estetik saja.

Kalau orang asing kan begitu liat seni langsung tertarik. Orang Indonesia mikir dulu baru memutuskan mau beli atau tidak. Kalaupun ada pasti dari kalangan tingkat pendidikan dan ekonomi atas. Lima persen ia anggap memang kurang. Bregas tetap menggali pasar 5% ini melalui aneka upaya inovatif.

Turun temurun


Sang ayah terlahir di daerah bernama Pakunden, Semarang. Ibunya Ating, kelahiran sana asli dan ketika berjalan waktu Pakunden menjadi bagian Kota Semarang. Nama Pakunden ternyata berarti kendi atau juga disebut pot.

Sementara ayah Bregas aslinya dekat situ. Kemudian menikah dan ide bisnis tentang membuat kerajinan berbahan tanah liat muncul. Hasilnya sebuah aneka benda kecil- kecil berbekal tanah liat belakang rumah. Kemudian ayah yakin memperdalam ilmu otodidak, menghasilkan studio kecil bernama Pakunden.

Nama Pakunden juga merupakan persembahan buat sang istri. Lambat laun keahlian ayah Bregas makinlah terasah. Kemudian anak kecil bernama Bregas Harrimardoyo mulai membuat pernik kecil berbahan tanah liat.

Ketika mereka pindah ke Jakarta, ibu Bregas masuk kuliah IKJ jurusan batik. Kemudian dia ditawari oleh kampus mempelajari tentang pembuatan keramik. Namun dia menyerah karena terlalu teknikal. Disitulah ayah Bregas masuk mengambil alih kuliah tersebut. Padahal jurusan ayahnya adalah teknik mesin waktu itu.

Kemudian keterarikan akan membuat keramik makin kuat. Dipadukan akan kemampuan teknikal mesin. Ia membuat studio dengan mesin sendiri. Berjalan waktu dia dikenal menjadi pengrajin, maestro, dalam hal pembuatan keramik. Dia mulai mengikuti aneka pameran kesenian keramik.

Umur 14 tahun Bregas banyak ketemu sesama perajin keramik (teman ayah). Ketika lulus SMA dia dapat kesempatan masuk Arkeologi. Melalui arkeologi dia memasuki pemahaman akan keramik. Aneka bentuk karya orang dulu sesuai passion -nya akan membuat kesenian keramik.

Ibu Bregas sangat tertarik akan batik. Dia pembuat kroset. Dan idenya selaras dengan keahlian membuat macam pola etnik. Sementara itu sang ayah juga masih aktif. Dia akan setiap hari terlihat menggambar, lalu membentuk desain pola, membentuk keramik, dan memberika saran jika diperlukan oleh Bregas.

Dia punya saudara laki- laki, seorang arsitek. Sang anak, Yuka, suka ikutan Bregas mengerjakan keramik. Tanah liat datang dari Jawa Barat. Yang mana sumbernya sangat diteliti benar. Dia memilih membeli buat distok untuk enam tahun. Bahan bumbunya datang dari lokal sekitar. Sumber: www.ajourneybespoke.com

Ikut Waralaba Waka Waka Gaji Diatas UMR

Profil Pengusaha Chaprina Kurniati Utami Dewi


 
Manisnya sukses membawa gadis muda ini berbisnis. Mencari kemandirian, gadis cantik bernama Chacha atau lengkapnya Chaprina Kurniati Utami Dewi, mencoba peruntungan lewat martabak mini Afrika Waka- Waka. Waralaba asal Jakarta tersebut dibawanya ke Solo, Jawa Tengah.

Panganan dengan aneka toping yang nikmat. Cuma berjualan dengan booth kecilnya di depan TK Kristen Manahan Solo, gadis berhijab ini mengaku untung. Dia menghabiskan 3kg adonan dan menghasilkan uang Rp.3 juta per- bulan.

Dia berhenti jadi pegawai. Fokus mengerjakan waralaba yang dia ikuti. Modal awal dia keluarkan yakni Rp. 7.500.000. Untung menggelontor melalui marketing sederhana. Cukup BBM dan brosur sudahlah cukup menjadikan dia untung. Gajinya menjadi wirausaha bahkan lebih besar dibanding cuma pegawai.

Lebih puas pula dibanding kerja bareng orang. Kenapa memilih martabak mini? Alasanya karena dia liat belum ada pelopor bisnis martabak mini. Kemudian karena produk Waka- Waka tebal kulitnya tidak tipis. Topping juga bukan sembarang tetapi sudah direncanakan matang.

Orang tinggal pilih topping sesuai selera. Banyak pilihan rasa mulai toblereno, nutella, ovomaltine, kitkat, dan banyak lagi. Kemudian aneka taburan lebih dari 30 jenis, dari kacang, coklat tabur, blueberry chip, dan lainnya.

Harga Rp.15.000 per- boks isi 4 spesial, satunya Rp.4000 -an. Untuk biasa Rp.10.000 isinya 4 juga, kalau beli satuan Rp.3000. Daerah Solo minimal beli 3 boks bisa delivery order. Kemudian dia juga siap buat pemesanan 30 boks. Kalau mau order banyak maka dua hari sebelumnya sudah pesan.

Harga mahal tentu ada komplain. Pelanggan ada pernah komplain soal harga. Namun ketika sudah rasakan kelezatan Martabak Waka- Waka langsung nagih. Repeat order mau beli lagi meski harganya mahal. Tapi sesuai kok, meski ukuran kecil, tetapi tebal dan topping nya total.

Banyak yang ketagihan. "Banyak repeat order," Chacha senang. Sehari dia menghasilkan 30- 50 boks. Yang mana adonan 3kg dimana 1kg menghasilkan 100 martabak. Optimis dalam sebulan dia akan balik modal. Untuk daerah Solo mau ikutan waralaba, bisa hubungi dia, karena akan ada trainning nya loh.

Untuk kedepan mau buka booth lagi. Di depan Lippo yang ramai banyak orang lewat. Buat membuka booth baru dia cukup bayar retribus pemerintah. Ditambah mengajukan ijin buat pedangan sekitaran sana. Dia mau menyasar malam hari karena dirasa paling ramai.

Mau Jualan Martabak Mini Waka Waka Prospeknya

Profil Pengusaha Sukses Cintra


 
Ia berkisah semua berawal Piala Dunia 2010 silam. Cintra, 42 tahun, dan suami, Suhendra, 26 tahun mulai membuat aneka martabak mini. Bisnis berdasarkan racikan bumbu Cintra. Khas itulah membedakan hasil karyanya dibanding buatan sendiri.

Dia juga tidak segan memberi lebih. Topping nya banyak tidak tanggung. Mulai berbisnis dia langsung bisa menghasilkan. Lalu langsung, Cintra dan suami langsung membuka prospek waralaba. Walaupun terbilang baru bisnis mereka melesat.

Kurang lebih mereka memiliki 800 mitra. Produk dia tidak cuma makanan tapi minuman. Omzetnya capai Rp.100 juta per- bulan jika ramai. Standar hasilnya antara Rp.20- 50 juta. Tetapi tidak semua mitra aktif menjalankan. Tidak sedikit dua kali order tidak ada kabarnya.

Untuk bisnis ini 50% mitra waralaba aktif. Tenang mereka tidak menarik royalti kok. Untung didapatkan mereka dari pembelian brand dan kios. Kemudian dapat dari pembelian bumbu racik oleh kita. Bumbunya martabak Rp.20 ribu, minuman racik dan botol milkshake beserta cool station adalah Rp.3.500.

Spesial bisnis Cintra adalah racikan green tea bernama Green Canyon. Dimana disediakan Rp.5 ribu per- bungkusnya. Dia mempertimbangkan sistem royalti karena saking banyaknya mitra tidak komitmen. Dia berpikir pakai royalti ada untungnya. Bagi brandnya bisa tumbuh pesat dibanding cuma waralaba begitu.

"Kita liat bagaimana kalau pake royalti, berjalan baik atau tidak," tuturnya. Kemudian dia siapkan skema model restoran dan kafe bernilai Rp.160 juta- 200 juta. Cukup bayar segitu dan semuanya akan disediakan pihak mereka.

Website:  www.franchisewakawaka.com

Sate Rembiga Lombok Bu Sinnaseh

Profil Pengusaha Bu Sinnaseh 



Tidak ada berbeda dari usaha dijalankan Bu Sinnanseh. Rasanya berbeda menjadi andalan. Bukan sate biasa, Sinnanseh mengatakan bisnisnya bukan produk baru. Kuliner bernama sate rembiga tersebut enak jos. Ia malahan memilih sapi lokal. Benar- benar sapi lokal ketika orang lain memilih sapi impor.

Ia menjaga kualitas bahan. Ingat kualitas produk merupakan utama. Bumbunya lengkap. Segala bumbu dia pakai seperti cabai, terasi, bawang putih, gula merah dan garam. Sate rembiga miliknya merupakan resep turun- temurun.

Resep asli Hj. Nasipah yang merupakan guru Sinnanseh. Diturunkan langsung dari si empunya kepadanya. Setelah dia meninggal barulah Sinnanseh barulah jualan. Rasa hormat memberanikan diri membawakan resep 25 tahun ini.

Bahan semua dicampurkan baru dibakar. Dia awal bekerja menjadi pembuat bumbu. Dia bekerja di kedai milik Hj. Nasipah. Dia bersama suaminya menghasilkan jutaan. Nama sate rembiga memang dikenalnya khas Lombok, Nusa Tenggara. 

Warung miliknya dikunjungi tidak cuma wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing.

"Kalau per bulan saya tidak hitung," tutur dia. Kalau per- harinya menghasilkan Rp.12- 15 jutaan! Wow, ia juga mengatakan puncaknya ketika puasa, maka omzetnya lebih dari Rp.15 juta per- hari.

Angka tersebut nyata. Karena dia bisa mengolah 100kg daging sapi dijadikan 9.000 tusuk. Tidak ada yang berbeda dari sate buatannya. Tetapi kemampua Sinnanseh mengolah dan mempertahankan kualitas sangat sedap.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba