Pengusaha Tanpa Gelar Sarjana Punya Seribu Cara

Profil Pengusaha Sam Sianata 


 
Namanya Sam Sianata, di dalam profil Kompasiana -nya, menyebut dirinya sebagai wirausaha kuliner dan seorang aktivis. Dia juga suka berkesenian. Baginya membangun jaringan merupakan hal terpenting. Soal hobi mungkin jurnalistik sudah tidak asing lagi.

Berawal iseng bisnis Sam semerbak. Seperti harumnya bebek kremes buatannya. Sejak 2006 ia membuka satu restoran bermenu andalan bebek goreng. Agar beda maka dia menciptakan inovasi lewat sagu. Ya sagu dibalutkan ke tubuh bebek kemudian digoreng renyah.

Perpaduan tepung serta sagu membuatnya kremes ajib. Untuk tambahan dia memiliki aneka bumbu yang khas Indonesia. Dagingnya empuk tidak berbau amis. Bisnis Bebek Kremes Wong Jogja menyediakan 19 macam menu. Adapula tujuh macam minuman segar buat pendamping bebek kremes.

Minuman wedang wayang, merupakan campuran rempah dan krim, menjadi andalan bisnis miliknya. Pada April 2008 sudah membuka peluang usaha waralaba. Terjaring lah 18 mitra tersebar di Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, Yogyakarta, dan Medan.

Tidak cuma berhenti di bebek loh. Adapula nasi sama yakni nasi berbeda. Berbahan beras merah dicampur aneka rempah. Aromanya harum serta nasinya empuk. Nama utamanya Nasi Jombronk atau nasi sam jika pewarta menyebut. Bisnis tersebut mampu mengantungi omzet mencapai Rp.3 juta per-hari.

Bisnis tidak butuh title


Menurut Kontan, pengusaha satu ini tidak memiliki gelar sarjana, tetapi bukan lah halangan membangun kerajaan bisnisnya. Dia fokus mengerjakan bisnis aneka kuliner. Mulai dari restoran bebek dan aneka jenis nasi sedap.

Dia lah pemilik restoran Bebek Kremes Wong Jogja. Kemudian menyambar bisnis kuliner lain. Dilanjut bisnis batu gambar.

Tidak mau kuliah malah berwirausaha. Bukan berarti Sam tidak punya otak. Justru kreatifitasnya diuji di dunia nyata. Tekanan hidup membuatnya harus berpikir keras. Aneka bisnis kreatif dijalankan olehnya sejak muda. Seperti tahun 1985, ketika masih SMA sudah berbisnis sepatu, buku, kerupuk, sampai tiket.

Ia juga menyukai kesenian lukis. Maka dia juga senang membuat aneka lukisan. Memasuki tahun 2004 -an dirinya mantap buat fokus pada satu bisnis. Pilihan Sam adalah berbisnis kuliner. Dianggapnya lebih cepat naik daun. Pria penghobi menulis ini memulai usahanya dari nol besar loh kawan.

Butuh biaya dan pemikiran matang bisnis apa yang belum ada. Ia menginginkan bisnis yang belum dilirik oleh masyarakat. Sang pioner kemudian memilih bisnis bebek. Waktu dia memulai bisnis tersebut. Jarang orang melirik bebek karena memang proses memasaknya sulit.

Bebek waktu tersebut dikenal amis dan alot. Tidak canggung Sam turun tangan sendiri mengolah. Belajar sendiri bagaimana membuat bumbu bebek. Berjalan waktu akhirnya mampu membuat bebek tidak amis. Ia juga berhasil membuat bebek gurih. Sam lantas membagi sedikit rahasia bebek milik dapur miliknya.

Dia merebus bebek dua jam. Kemudian mencampur bumbu yaitu rempah, sereh, merica dan garam. Walau sukses namun dia mengalami masalah kembali. Faktanya menjadi pionir bisnis tidak selalu sukses. Ketika itu bisnis bebek Sam malah sepi peminat. Karena waktu itu olahan bebek masih belum diminati orang.

Satu tahun digunakan untuk memperkenalkan bisnis. Saat itu dia menjadi satu- satunya orang berbisnis bebek kremes. Masyarakat Yogyakarta nyatanya belum tertarik. Kesan alot dan amis masih terngian dalam benak mereka. Alhasil restoran yang dijalankan Sam selalu sepi pelanggan, benar- benar kosong.

Konsisten bisnis


Kelebihan Sam adalah konsisten akan berbisnis. Wirausahawan sejati yang rela menunggu dua tahun baru ramai. Masuk tahun 2006, Sam memutuskan mewaralabakan bisnisnya, keputusan waralaba membuka keran investasi. Hasilnya nama Bebek Kremes Wong Jogja makin berjaya dimana- mana.

Langsung banyak pelanggan tertarik bermitra. Sampai 2011, sudah ada 28 mitra, yang tersebar di Yogya, dan juga sampai Jakarta. Memang berbisnis bebek memiliki banyak tantangan. Apalagi menjamurnya usaha sejenis berbahan baku bebek. Sudah tidak ada tabu ketika pengusaha membuka usaha olahan bebek.

Agar usahanya tetap berjalan baik. Ia selalu menciptakan inovasi menu. Termasuk nama nasi jambronk itu dan nasi bumbung. Keunggulan aroma menjadi ciri khas pengolahan.

Sukses berbisnis kuliner, tidak memilih berlian ataupun batu bara, Sam memilih berbisnis batu gambar yang didasari hobi. Bisnis batu gambar miliknya lebih gila. Omzetnya mencapai Rp.145 juta per- bulan. Dan, Ia mengerjakan bisnis batu gambar jenis agate, batu gambar menurutnya memiliki nilai seni tinggi.

Untuk mencapai titik tersebut lebih dulu ia memastikan bisnisnya sudah stabil. Dia tidak mau bisnis baru membuat bisnis bebek kremesnya jatuh. Berbekal batu gambar imajinasi Sam timbul. Mengajak pecinta seni mengapresiasi seni lewat aneka jenis batu, beraneka gambar.

Ia mengandaikan satu batu orang bisa melihat banyak. Ada orang bisa melihat gambar lutung atau gambar ayam jago. Ini berbeda dengan berlian atau emas. Kalau batu gambar bisa muncul aneka gambar sesuai imajinasi. Sam sudah memiliki 33 koleksi gambar, dari gambar binatang, tanaman, sampai matahari ada.

Buat batu gambar kualitas A, maka tidak akan ada goresan tanpa cacat dan memiliki gambar jelas. Harga jualnya sampai hingga Rp.10 juta. Batu gambar bergambar kantong semar menurut Sam, memilik harga jual tembus Rp.5 miliar ketika dilelang di pasar internasional, Christie's dan Sotheby's.

Batu kualitas B gambarnya ada di permukaan bukan di dalam. Kalau jenis ini harganya bervariasi mulai Rp1 juta hingga Rp.25 juta. Batu gambar kualitas B murah karena gambar dilur; mudah rusak. Batu agate dianggapnya memiliki ekslusip. Gambar hanya akan muncul bisa pengasahan dan pengirisan yang teliti.

Satu batu bisa sampai empat minggu agar bentuknya sempurna. Transaksi jual- beli paling banyak terjadi diantara sesama pecinta batu gambar. Minat akan batu gambar terbilang sedikit. Kalah pamor, tetapi mulai banyak anak muda mulai tertarik.

Di Malaysia lain lagi, peminat batu gambar banyak, maka disanalah Sam mendapatkan banyak pembeli. Ia sendiri aktif mempromosikan bisnis batu gambarnya. Indonesia sendiri disebut paling cantik soal batu gambar. Belum ada bahkan sesama negara Asia Tenggara, belum ada sepandai orang Indonesia mengasah.

Bra Buatan Sendiri Elling Bra Sempat Dicemooh Orang

Profil Pengusaha Sukses Fenny 



Ia berkisah pola pikir membantu dia sekarang. Sejak dulu, dalam pemikirannya bahwa seseorang barulah mencapai titik kesuksesan karir, apalagi kalau bukan mencapai jenjang Direktur. Dorongan inilah yang membuat Fani rela melepaskan jabatan Purchasing Manager, malah memilih menjadi pengusaha saja.

Dia membuka usaha bra. Namu beda dia membuat sendiri. Costume size bra membantu wanita dalam hal merawat payudara. Semua berawal dari pengalaman pribadi. Dari mencari bra menyusui tetapi nyaman sesuai ukuran sebenarnya. Tidak ada satupun ada sesuai ukuran, kalaupun ada, harga tidak cocok dikantung.

Ketrampilan menjahitnya dulu lantas digunakan. Ia mulai menjahit bra menyusui sendiri. Singkat cerita dia menemukan ukuran pas. Bahkan berkat bra buatan sendiri, dia mampu mengembalikan bentuk payudaranya kembali seperti sebelum menyusui.

Bisnis ukuran


Ia bercerita dari sanalah dimulai. Mulai membuat bra menyusui sendiri. Fani kemudian mencoba mencari ukuran bra di luar negeri. Tetap saja ada ketidak puasan dibenak wanita asal Malang ini. Ia mulai membuka banyak literatur tentang anatomi payudara.

Kebetulan ibunya Fani adalah penjahit. Jadilah menjahit bukan hal baru bagi wanita 42 tahun ini. Agar bisa meyakinkan pembeli dia mencoba sendiri. Dari ditawarkan kepada rekan kerja. Ia mendapatkan pujian dari mereka. Yakin dia memberika penawaran pemesanan kepada teman- teman kantor pada 2000 silam.

Hasilnya ternyata gagal tidak susai. Kalau membuat buat diri sendiri sesuai. Namun ketika membuatkan buat teman malah salah. Jawaban singkat ditemukan: Feni tidak mengenal ukuran tubuh teman- temanya. Hingga dia meluncurkan bisnis Elling Bra. Adalah bisnis bra yang didesain khusus buat pemakainya.

"Beha buatan saya pas buat saya, tapi tidak buat perempuan lain," tutur Feni kepada pewarta.

Walau berbekal mesin jahit biasa. Feni tetap menjalankan bisnisnya. Meski, menurutnya, bisnis dijalankan olehnya akan sempurna dengan delapan mesin jahit. Dalam serba keterbatasan, Feni fokus melakukan aneka riset anatomi wanita daripada sibuk memikirkan mesih jahit seharga Rp.25 juta/buah.

Tiga tahun dibutuhkan Elling Bra hingga sempurna. Dalam kurun waktu tersebut dia juga belajar mengenai desain bra. Dia rajin mengikuti berbagai seminar tentang kesehatan payudara. Ia pun menjalin hubungan baik dengan dokter, tujuannya agar mendapatkan masukan tentang cara membuat bra yang sehat.

Masa trial and error dijalani. Hingga Elling Bra memiliki distributor hampir di seluruh penjuru Indonesia. Sebut saja di Medan, Palembang, Lampung, Makassar hingga Menado. Untuk Jawa ada di Cirebon, daerah Semarang, Blora, Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Ia menawarkan kesehatan. Semua dihasilkan tidak ada bahan tambahan. Contohnya macam ion atau magnet tidak ada. Prinsipnya nyaman dipakai serta sesuai. Bra buatan Fani biasa saja. Tahun 2000 -an ketika ia mulai, banyak orang mencibir karena desainnya terlalu konvensional, tapi sekarang lihat lah koleksinya.

Feni memiliki 60 ukuran bra dan memiliki banyak desain. Semua bisa disesuaikan bentuk tubuh, diukur dari tinggi badan, lebar tubuh, pokoknya hingga konsumen merasa nyaman di payudaranya. "Saya juga menerima servis loh," Feni mempromosikan. Tubuh wanita menurutnya memang cenderung tidak stabil.

Kan sayang kalau beli mahal- mahal tidak kepakai. Tubuh wanita kan tidak tetap. Bisa naik atau turun dalam tempo relatif cepat. Ia memberi harga satu paket bra seharga Rp.500 ribu. Memang cukup mahal, tetapi ia meyakinkan bahwa dia membuat sesuai kebutuhan si pemakai.

Jiwa wirausaha


Anak kedua dari tujuh bersaudara. Sudah terbayang beratnya hidup seorang Fani. Dia merupakan putri dari keluarga pengusaha garmen. Pengusaha kecil- kecilan, ayahnya memproduksi taplak, seprai, sarung bantal. Sang ibu juga pandai menjahit pakaian sendiri. Sejak kecil dia dan saudarnya sudah terbiasa akan kegiatan menjahit.

Tahun 1986, lulus SMA, Feni mengadu nasib ke Jakarta, tujuannya untuk mengikuti aneka kursus seperti menjahit, membuat motif, kursus bahasa asing, menari, ketrampilan sekertaris dan akuntansi. Memasuki 1989, dia bekerja menjadi sekertaris di sebuah restoran Jepang di Blok M, dan bertemu calon suaminya.

Dia lantas pindah ke sebuah perusahaan. Dia menjadi asisten manajer dan menjadi manajer pembelian. Ia kemudian menikah dengan suaminya, Saubiantoro, pada 1990. Kemudian memutuskan meninggalkan karir sebagai manajer. Feni memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.

Menjadi ibu rumah tangga, Feni mengisi waktu dengan menjahit kecil- kecilan. Sampai dia menemukan passion dibidang bra. Ia ketika itu, selepas melahiran putranya Marciano, merasakan betul bahwa payudara miliknya tidak seindah dulu. Dia lantas berpikir membeli barang impor karena lokal cup -nya tidak pas.

Perjalanan menjadi pengusaha penuh tantanga. Banyak masalah diawal bisnis dimulai. Ia ingat betul proses dia membangun brand. Pertama kali dia menawarkan produknya ke tempat- tempat senam. Pertama kali itu dia malah mendapatkan penghinaan. Brand Elling Bra dianggap tidak berkelas lah, apalah, mengejutkan.

"Elling Bra? Merk kok kayak gitu, buatan mana sih? Ga elit banget," ia menirukan mereka.

Hinaan tersebut langsung membuat Feni menangis. Apalah yang dia bisa lakukan selain sedih. Nama Elling sebenarnya dipilih agar memudahkan mengingat.

Selama setahun dia mencari data tentang payudara. Satu kekecewaan tidak membuat dia berhenti. Feni tak segan langsung menawarkan produknya. Menawarkan dari pintu ke pintu pernah dia lakukan. Hinaan dan ketidak percayaan akan Elling Bra sudah biasa. Apalagi produk buatannya merupakan produk lokal.

Meski begitu dia tidak merubah nama. Tidak memakai nama ke barat- baratan. Nama Elling ternyata juga memiliki ikatan emosional. Karena nama tersebut diberikan oleh sang suami, Awi. Yang mengandung satu makna bahwa mengingat pentingnya merawat payudara.

Elling berasal dari bahasa Jawa "Eling" atau ingat. Bahkan sekarang nama Elling sudah dipatenkan olehnya. Hinaan orang banyak dianggapnya tantangan. Secara konsisten dia memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan payudara lebih penting dibanding brand ataupun desain semata.

Bahkan Feni ngotot memberikan penawaran. Ia rela mendatangi pelanggan. Dengan tangannya sendiri mau mengukur payudara pelanggan langsung. Memang dia menganggap lebih baik begitu. Mengukur langsung payudara pelanggan menjadi andalan bisnis Elling Bra.

Memulai usaha banyak masalah


Tidak cuma kepercayaan akan brand. Kebanyakan orang ditemui Fani juga tidak percaya akan kegunaan. Orang lebih percaya manfaat jika produknya buatan luar negeri. Dia mengatakan jika bra kesehatan lain asal luar negeri harganya jutaan. Sementara buatannya cuma seharga Rp.500 ribu itupun sudah dua pasang.

Sempat dia berpikir memahalkan produknya. Tetapi semua dia jawab malah melalui riset terus- menerus. Tidak terhitung berapa banyak uang ia keluarkan. Asalkan ada masyarakat mau menggunakan, dia sudah cukup merasa senang.

Sang suami yang juga seorang pengusaha mendukung. Usaha mabel kayu jati suami memberikan dorongan juga. Ia semakin giat melakukan riset. Dari sekedar menjual dan menjahitkan, target bisnis Feni lantas berkembang menjadi mereparasi ukuran. Mengecilkan atau membesarkan dikenai biaya Rp.40 ribu saja.

Berbekal dukungan layanan reperasi. Lambat laun bisnisnya mulai tumbuh. Maka datanglah banyak wanita berbagai latar belakang. Mulai artis atau ibu pejabat datang ke tempatnya. Mulai umur 20 -an sampai 60 -an tidak masalah. Pegawai Feni juga dibekali cara mengukur payudara dengan benar dan tepat.

Feni tidak segan turun tangan langsung mengukur. Distributor tinggal mengirim gambar maka dia akan langsung kerjakan. Empat orang pegawai dalam sebulan mengerjakan ratusan pesanan. Pelanggan puas karena produk Feni bertahan sampai tahunan.

Meski repeat order lama tidak masalah karena pelanggan baru datang. Marketing mulut ke mulut berjalan otomatis tanpa repot. Walau banyak orang memintanya membuat gerai kusus. Dia ingin tetap seperti sekarang yakni melalui pengukuran dulu, bukan buat dan dipajang di gerai tanpa proses mengukur.

Bahan digunakan benar sesuai iklim tropis. Penyangga menggunakan 100% katun sebagai pengganti bahan kawat, tali nylon non- elastis mudah diatur dikencangkan, kemudian ada katup berbahan brokat disetiap sisi untuk ibu menyusui.

Untuk desain sendiri tidak terlalu macam- macam. Tetapi kesini, Feni mulai merancang tidak terbatas pada bra kesehatan, produknya juga termasuk pantysuit, longtorso, bustie yang kesemuanya itu costume made.

Walaupun sudah dikenal dia belum berkeinginan mengekspor produknya. Ia hanya ingin aktif mengedukasi lebih banyak lagi orang. Akan pentingnya memilih bra sesuai ukuran. Beberapa dokter juga sudah ikutan merekomendasikan produknya.

Penjualan pun meningkat dari rumah sakit kanker RS Kanker Darmaris. Sebagai bentuk bakti sosial maka Elling Bra, memberikan busa gratis buat penderita kanker, terutama buat mereka yang kanker payudaranya sudah diangkat. Dia bekerja sama dengan RS Darmaris melalui SADARI -atau periksa payudara sendiri.

Sejak kecila dia selalu ingat bagaimana orang tua mengajarkan. Kita haruslah menjadi sosok mandiri, menjahit sendiri, lalu menjualnya. Soal payudara dia berprinsip harus dirawat, jadi bukan cuma merawat kesehatan tubuh dan wajah.

Sebagai ibu rumah tangga, Fani, masih sempat bercengkrama dengan kedua anaknya. Dia senang hal yang rapih. Jalan- jalan bersama kedua anaknya, Morciana (19) dan Naomi (12), dan soal bisnis Elling Bra kedua anaknya juga dia libatkan loh. Dia ingin mengajarkan kemandirian serta kesadaran akan kesehatan.

Apalagi salah satu anaknya adalah perempuan. Untuk pesanan buat anak ABG juga sudah mulai ada. Dia mendapatkan pesanan dari mereka yang masih tumbuh payudaranya. Ia senang karena anak jaman sekarang sudah paham akan kesehatan payudara bahkan dimasa pertumbuhan.

Sopir Taksi Bermimpi Menjadi Pengusaha Delapan Tahun

Biografi Buchori Pengusaha Roti 


 
Mantan aktifis 98 ini, kini menjadi pengusaha sukses. Bukan perkara mudah mencapai titik tersebut. Dulu dia hanya seorang sopir taksi. Kemudian berkat aneka roti menghantarkannya. Namanya Buchori Al- Zahrowi, pengusha kelahiran Bantul, Yogyakarta, 26 Maret 1969 merangkai kisahnya disini.

Tiga tahun sudah dia berprofesi menjadi supir taksi. Sifat mandiri sudah tumbuh ketika bangku SMA. Dia mengenang bagaimana kala itu memulai usaha. Sejak kecil memang sudah terkenal berani. Dia diajari agar tidak tergantung dengan orang lain. "Menjadi sopir dilakoni agar hidup saya tak bergantung orang lain."

Kesempatan justru datang disela- sela aktifitas. Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini tengah asiknya menghayati perpolitikan. Disela krisisi moneter dilihat ada peluang. Justru ketika banyak teman yang ragu dan meninggalkan dirinya. Buchori komitmen memulai usaha sendiri daripada sibuk berpolitik.

Tahap pertama memulai cukup kecil- kecilan. Bisnis roti bernama Aflah, yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti lebih untung. Do'a Buchori agar usahanya makin untung. Dan ternyata do'a nya terkabul maka usahanya semakin membesar.

Pengusaha sejak muda


Dia mengenang ketika masih sekolah. Waktu SMA, Buchori nyambi bekerja, sejak sekolah sudah jualan pernak- pernik, stiker, dan lain- lain. Sambil sekolah Buchori membuat aneka tas berbahan rotan. Hingga sampai menjadi mahasiswa di Yogyakarta, usaha tetap jalan ditambah bekerja menjadi sopir taksi.

Tidak fokus usahanya membuat tas rotan tidak berkembang. Ketika itu Buchori memilih terkadang jualan koran. Sambil menyopir juga ikutan menjadi mahasiswa vokal. Dia dikenal mengikuti kegiatan aktivis di kampusnya. Dia juga menjadi anggota dan pengurus beberapa lembaga swadaya masyarakat.

Kebanyakan kegiatan mulai menyopir, menjadi aktivis, juga aktif di LSM, maka Buchori merasa malasa buat kuliah. Ujung- ujungnya memilih drop- out meski tinggal wisuda. Dia sendiri heran kenapa dirinya masuk fakultas Dakwah. Padahal sejak semula jiwa Buchori memang berada di kewirausahaan.

Dia menikahi Tin Khotimah, akhirnya tidak kuliah dan fokus mengerjakan usaha. Dari usaha tidak jelas arahnya. Ia dan sang istri memutuskan fokus berbisnis keripik saja. Usaha keripik dijalankan ketika dirinya pindah ke Pemalang, Jawa Tengah. Usaha dijalankan ternyata tidak berkembang maksimal secara omzet.

Namun Buchori tidak patah arah menjadi pengusaha sukses. Anehnya ketika dia gagal keputusan spontan dia lontarkan. Ketika sisa tabungan Rp.40 juta, langsung dipakai dia berangkat haji, tahun itu 2003 dia berangkat haji dan berjanji bahwa kelak sang istri akan menyusuk haji.

Uang tabungan tinggal Rp.4 juta. Banyak orang menyebut dia gila. Namun, namanya pengusaha ya kegilaan hingga kita membuktikan. Alasan Buchori adalah dia merasa mendapatkan panggilan kuat. Selepas dari haji hatinya tenang. Ia memutuskan untuk membuka usaha roti.

Bisnis berkah


Dia mengontrak rumah di Sorobayan. Strategi bisnis Buchori lewat jaringan pertemanan. Berbekal sisa uang Rp.4 juta dijadikan 10 kotak roti per- hari. Melalui bantuan pertemanan. Dia memasarkan melalui teman kuliah, sesama aktivis, juga ke anggota LSM. Penuh semangat dia menyebar selebaran promosi.

Buchori belum punya motor. Dia menyebarkan selebaran naik angkot. Kalau tidak jauh ya pakai sepeda ke sana- kemari. Aflah, bisnis terseriusnya, fokus mengerjakan kue mandarin, lapis legit, dan roll cake yang dikemas kotak kardus. Ada satu rahasia bisnis Buchori, dia jelaskan kepada Kompas.com yakni:

"Saya tidak menjual roti yang dikemas satu- satu," paparnya. Menurut dia untungnya kecil. Disisi lain lama lakunya. Jualan roti kardusan lebih menguntungkan terang Buchori.

Sehari dia mengaku memproduksi 1.000 kardus. Anehnya lagi, Buchori tidak pandai membuat roti, yang membuat roti istri kemudian diserahkan kepada karyawan. Dia tingga memantau kualitas produksi. Cukup dia memikirkan masyarakat suka roti apa. "Karyawan saya malah lebih lihai membuat roti, ha- ha- ha."

Marketing pertemanan nampaknya berjalan lancar. Semangat menggebu membuahkan gerai baru. Lalu ia membuka gerai sampai tujuh, di Yogya, Purwokerto, Kutorejo, dan juga Purworejo. Untuk meyakinkan pembeli, Buchori sudah mendaftarkan sertifikat halal dari MUI, dan juga mendaftarkan nama paten buat Aflah.

Dirunut kebelakang dia bukanlah anak orang kaya. Ayahnya hanya guru honorer SMP, dan ayahnya buka usaha kecil- kecilan membuat tas rotan dijual ke pengepul. Saat sekolah dia pernah bekerja paruh waktu jadi pegawai perusahaan sablon. "Padahal waktu saya kecil ingin punya banyak uang," kenang dia.

Alasan kuliah baginya bukan soal mencari kerja. Tujuan utamanya membuka wawasan. Serta bertemu lebih banyak orang menjari koneksi. Dari jualan koran dan sopir taksi, dia meyakinkan ayah dan ibu bahwa dia mampu sukses. Pengalaman sopir taksi membuat dia hafal betul jalanan di Yogyakarta.

Disiplin dia bekerja untuk berkuliah. Capek tetapi dia memetik pelajaran. Dan kini, dia sudah memiliki tiga cabang di Yogyakarta sendiri. Sempat dia berbisnis menjadi pengusaha ayam potong. Total delapan tahun dia terseok mencoba menjadi pengusaha. Masuk 2003 dia balik ke Yogyakarta membuka usaha lagi.

Tahun 2007 sampai 2008 menjadi titik tertinggi. Dia membuka cabang besar- besaran. Langsung ada cabang di beberapa daerah seperti Purwokerto, Purworejo, dan Kutoarjo. Tiga unit mobil disiapkan jadi modal operasional bisnisnya.

Pengusaha ambisius


Memiliki tujuh gerai tidak membuat Buchori puas. Dia telah menemukan tujuan hidupnya. Kini, dia asik membangun banyak peluang baru, setahun diwajibkan bagi Buchori membuka cabang baru. Dan tidak akan terbatas di bisnis roti. Untuk toko roti masih dikejarnya membuka cabang di Kebumen, Jawa Tengah.

Disisi lain, dia menarget bisnis restoran China di Kota Yogyakarta. Jadi sementara mengebut cabang baru gerai roti Aflah. Dimana dia merencanakan konsep waralaba pada 2012 silam. Sementara restoran China masih dalam perencanaan hingga matang.

Dia menyasar kalangan muslim. Konsep masakan China tetapi halal itupun dibangun. Target dia adalah semua kalangan, pokoknya muslim yang gemar masakan China. Usaha bernama Moslem Chinese Food itu kental memang akan nuansa Islami. Racikan bumbu disesuaikan lidah orang Indonesia paparnya.

Pelanggan restoran ini juga termasuk warga keturunan China loh. Tetapi tidak terbatas oleh etnis, bahkan non- muslim juga boleh mencicipi enaknya masakan China disana. Dia memang bukan orang China. Tapi ketika pindah ke Pemalang, pernah bermitra dengan seorang pengusaha keturunan.

Dari sang mitra mengajarinya membuat masakan China. Buchori lantas timbul ide tentang bisnis restoran China. Konsep tersebut lantas dipadu padankan dengan konsep makanan halal. Tujuannya agar memberikan rasa nyaman bagi penggemar masakan China.

Selain sibuk berbisnis? Ia sibuk menjadi motivator bagi pengusaha muda. Menurutnya, para mahasiswa pada khususnya, memiliki pemikiran terbukan tentang bisnis. Hanya mereka belum mau menerapkan kreasi mereka. Buchori menegaskan menjadi pengusaha juga tentang membuka lapangan pekerjaan.

Untungnya Jualan Ikan Hias Seharian

Profil Pengusaha Beni dan Mardiah 


 
Kisah pengusaha ikan hias kali ini datang dari dua generasi berbeda. Mereka lah, Beni (25) dan Mardiah (55), eksis berkat berbisnis ikan hias. Mereka bersaudara merupakan penjual ikan di kawasan kios penjual ikan hias daerah Jalan Muhammad Kafi I, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Mereka berada di komplek Balai Budidaya Perikanan, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Pemprov DKI Jakarta. Yang mana terdapat sebelas kios berjualan disana. Sebelum berbisnis ikan hias, Beni sang adik, pengusaha muda satu ini pernah berbisnis lobster air tawar.

Berbisnis hias


Beni lantas pindah ke ikan hias. Beda Mardiah, mulai ikutan usaha ikan hias lantaran tidak ada pemasukan kuat. Semenjak sang suami Didi memilih pensiun dini pada 2003. Sejak pertama kali berwirausaha ya langsung menjadi penjual ikan hias.

Ibu tiga anak ini mengenang pertama usaha mereka dibuka. Mereka sama- sama menggelontorkan uang tidak sedikit. Beni yang Sarjana Ilmu Teknologi Kelautan, lulusan 2009, mengeluarkan uang sampai Rp.23 juta modal tabungan. Sementara ibu Mardia mengeluarkan uang sekitar Rp.20 juta.

Dalam kurang dari satu tahun, uang yang dikeluarkan keduanya kembali. Melihat prospek ikan hias bagus keduanya jadi lebih bersemangat. Mereka menjual ikan mas koki, manvis, komet, neo tetra, cupang, juga aligator, yuppy, kura- kura, lalu ada jenis arwana. Mereka juga menjual aneka kebutuhan ikan lengkap.

Dari menjual makanan, aksesoris, dan obat- obata, seperti blitz- icht, itu loh obat buat penyakit jamuran pada ikan. Aneka pakan tambahan juga tersedia seperti cacing beku, pelet, kemudian juga menjual aneka ukuran akuarium, dan batu karang hias.

Untung bersih dicapai Beni setiap bulan Rp.5 juta. Lalu Mardiah mampu mengantungi uang Rp.9 juta dan Rp.10 juta kotor. Keuntungan segitu tidak serta- merta. Mereka mengatakan bahwa butuh waktu 3 tahunan sampai mencapai angka itu stabil.

"Dulu pertama kali dagang sehari saya cuma dapat Rp.30.000 dan itu kotor," kenang Beni. Kalau sebulan ya untung paling Rp.300 ribu, kadang cuma malah balik modal belanja.

Faktor utama ialah letak jualan mereka. Jumlah pengunjung ke tempat itu hari biasa mencapai 100 -an. Dan kalau begitu pendapatan kotor mereka ya Rp.500 ribua per- hari. Nah memasuki akhir minggu atau hari libur pengunjung mencapai 1.000. Dalam sehari Beni pernah mendapatkan untung seharinya Rp.20 jutaan.

Tidak dipungkiri keadaan ekonomi global mengganggu. Pendapatan mereka cenderung menyusut hingga ia dan Mardiah cuma mengantungi Rp.300 sampai Rp.400 juta. Sabtu- Minggu cuma dapat Rp.3 jutaan saja. Ia mengatakan sebelum krisis per- hari mencapai Rp.500 ribu, Sabtu- Minggu mendapat Rp.5- Rp10 juta.

Keduanya mantap menjalankan bisnis sekarang. Kesulitan berjualan ikan menurut mereka tidak besar. Dan yang paling menggiurkan adalah untungnya besar. Prospek jualan ikan hias masih cerah. "Terus jualan ikan hias dong," seloroh Beni. Keduanya mengaku memang jadi hobi memelihara ikan jadi tidak ada paksaan.

Usaha Membuat Pisau Komando TNI

Profil Pengusaha Nina Agustina 



Sebenarnya perintih usaha dijalankan Nina Agustina adalah sang ayah. Dijalankan mendinga ayah, Widarto, yang juga merupakan anggota TNI aktif kala itu. Sebagai anak tentara Nina sudah terbiasa melihat senjata tajam. Namanya pisau khas TNI sudah tidak asing dimata ibu dua orang anak ini. 

Dibantu sang suami, Nurdiansyah, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, mereka berusaha menjalankan bisnis keluarga lebih lagi. Cerita bisnis pisau brand Amphibious memang cukup panjang. Kalau singkatnya semua ada hubungan dengan keahlian sang ayah di melempar pisau.

Bisnis senjata tajam


Sebagai anggota pasukan khusus TNI Angkata Laut. Pak Widarto memiliki keahlian melempar pisau. Dia waktu itu ditugaskan menjadi pelatih buat siswa Pelatihan Tempur Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur. Ia menunjukan keahliannya melempar pisau ke sasaran.

Keahlian melempar pisau miliknya sangat disegani. Belum tertandingi waktu itu. Jika dilempar pisau maka akan langsung menancap tepat di sasaran. Keahlian satu- satunya dijajaran Widarto lah yang membuka satu peluang bisnis. Bukan rahasia bahwa keahlian memakai pisau merupakan salah satu bagian keahlian TNI.

Dia selalu mempraktikan keahlian di rumah. Akhirnya anak- anak Widarto diajari semua cara melempar pisau. Termasuk ya Nina sendiri, bahkan aksi tersebut terbilang ekstrim lanjutnya. Dimana mengagetkan jantung anak- anak karena seketika. Ketika tiba- tiba dia melempar pisau tepat di bawah kaki mereka.

Sambil bergurau ayah cukup menjengkelkan. Dan ketika memiliki bisnis kebiasaan tersebut juga kena ke para pegawai. Bayangkan pisau terbang seketika tepat disamping kaki pegawai. Atau paling ekstrim bisa melewati wajah orang yang tengah berjalan. Kayak di film- film itu loh benar persis sangat mengagetkan.

Ketiga ana Widarto diajari melempar pisaung. Hanya saja, semuanya tidak sehebat ayah, yah bisanya cuma melempar tetapi tidak setajam mata ayah.

Kemudian banyak teman melihat keahlian Widarto.  Mereka iseng berpikir kenapa dia tidak ahli membuat pisau juga. Pikiran tersebut lantas menjadi bentuk dukungan. Widarto mulai memikirkan bagaimana cara membuat pisau sendiri. Dipadu dengan kemampuan memahami pisau pastilah menjadi pisau khusus TNI.

Tantangan bisnis


Dia kemudian mendatangi pandai besi, Pak Hafid, asal Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. Sang bintara TNI tersebut mendikusikan kemungkinan kolaborasi. Hafid memang dikenal pandai besi pembuat anaka benda tajam. Disela pekerjaan, Widarto menunjukan sketsa pisau desainnya ke Hafid agar dicoba.

Widarto datang membawa desain lengkap dengan ukuran. Coretan- coretan itu dimintanya dijadikan pisau nyata. Ia meminta Pak Hafid membuatkan tetapi dengan bentuk kasar. Ditangan Widarto sendiri pisau lalu dipoles dijajal, agar seimbang dan proposional. Hasilnya ternyat sangat bagus sesudah dipoles Widarto.

Benar presisi ukuran mampu membuatnya akurat ketika dilempar. Lalu teman Widarto menjajal dan mulai memesan pisau buatannya. Karena selalu laku terjual, bisnis sampingan tersebut dilanjukan sambil tetap menjadi anggota TNI AL. Kemudian Pak Hafid dijadikan pegawai permanen oleh ayah Nina.

Bertahap hingga mereka membuka workshop. Mereka membuka tempat pandai besi dekat tempat tinggal mereka. Maka setiap hari, Pak Widarto akan membuat desain, kemudian Hafid menempa membentuk sesuai desain. Bagian finishing kemudian diserahkan kepada pegawai lainnya.

Bentuk pisau mereka bagus serta ideal bagi standar TNI. Hingga salah satu desainnya lantas dipatenkan. Ia memberi nama Amphibious.

Memang kualitas pisau mereka bagus. Alhasil masuk tahun 2000- 2009, mereka memenangkan tendar di mabes TNI AL untuk marinir. Seiring waktu usahanya tidak cuma membuat pisau standar TNI. Adapula pisau lain diproduksi workshop mereka. Mereka membuat pisau tradisional, pisau rumah tangga, samurai.

Sang ayah lantas meninggal dunia pada tahun 2009. Bisnis mereka kemudian dilanjutkan adik laki- laki Nina, yaitu Oscar Muara. Hanya adik Nina kemudian mengundurkan diri. Kemudian Nina menggantikan buat melanjutkan usaha. 

Sementara itu produk Amphibious tersebar ke pasar seluruh Indonesia. Selain digunakan TNI AL, produk
Amphibious juga pernah menjadi pegangan petugas keamanan (satpam), petugas SAR, tetapi tidak melulu untuk satu model saja. Perkembangan desain produk mereka juga masih dijalankan Nina.

Mereka juga memberikan kesempatan desain sendiri. Namun, Amphibious memang menjadi juara, selain karena desain menarik, kekuatan dan ketajaman presisinya terbukti. Bahkan menang jauh dibandingkan produk pisau buatan China.

Kalau buatan mereka, mau harga termurah, sampai termahal semuanya rata- rata terbuat dari bahan baja yang tentu beda dengan besi biasanya. Bahan tersebut biasanya didapat dari cakram motor, per mobil, juga dari gergaji. Untuk bahan baja memang menurut Nina menjadi masalah produksi workshop mereka.

Kesulitan juga tinggi hingga tidak semua ahli. Cuma Pak Hafid memiliki keandalan membentu pisau. Ini menjadi masalah ketika dia meninggal dunia. Alhasil pandai besi lainnya tidak seandal Pak Hafid dalam menempa baja menjadi pisau. Alhasil Nina terpaksa mengorderkan ke pandai besai lain yang tersebar di pelosok.

Memang sulit mencari pandai besi yang mau mengerjakan. Namun tidak langsung ketemu cocok. Karena nama mereka terkadang tidak sesuai digadangkan masyarakat sekitar. Meski begitu buat finishing, syukur, Nina memiliki pegawai siap membuat sarung, pegangan, dan penghalusan dari tempaan pandai besi.

Bisa saja tidak memakai pandai besi. Namun hasilnya tidak akan sekuat dan setajam diharapkan. Karena itu tidak langsung dipotong kemudian dibentuk. Tahap penempaan merupakan krusial dalam bisnis mereka. Ia menyebutkan proses pembakaran akan sukses jika dilakukan pandai besi asli.

Disisi pandi besi handal terbatas. Pesanan ke Nina memang cenderung banyak. Pesanan dari berbagai pihak kedinasan menanti. Jumlahnya besar terus, alhasil ya dia memutuskan tidak menerima beberapa pesanan. Total 330 model telah diproduksi workshop mereka mulai pisau dapur sampai samurai bisa.

Buat samurai ada jenis kenzi dan tanto. Yaitu samurai pendek buat harakiri. Juga samurai panjang layaknya di film. Soal logo serta ukiran diserahkan ke pemesan bisa. Walaupun tanpa sang ayah, Nina tetap yakin, percaya diri membangun bisnis keluarga bahkan memproduksi desain buatannya sendiri.

Ia sadar jika tidak akan ditinggalkan konsumen. Buat model baru dicari lewat internet. Inspirasi tidak bisa ditunggu saja. Tentu sejumlah modifikasi dilakukan agar lebih tajam. Nina sekarang melayani sejumlah toko aksesoris militer di penjuru Indonesia. Dia memiliki dua showroom di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dan usahanya rajin mengikuti pameran. Harga jual variatif mulai Rp.10 ribuan, sampai samurai yang bisa mencapai jutaan. Soal omzet sudah Rp.200 juta per- bulan. Kemudian pisau laku lainnya yakni pisau King Cobra. Sang suami akan membantu urusan eksternal, sedangkan didalam Nina mengurusi semuanya.

Pembeli banyak dari berbagai latar belakang. Ada tukang jagal hewan yang memerlukan ketajaman pisau. Atau ada sekedar pengkoleksi pisau atau samurai.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba