Donat Thailand Diwaralabakan Daddy Dough

Profil Pengusaha Peter Thaveepolcharoen 




"Saya suka bisnis donat ini jadi saya tidak pernah gentar untuk tidak menyerah," tulisnya. Sebuah kisah dari pengusaha muda asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen, seorang direktur perusahaan waralaba bernama Daddy Dough.

Ia menceritakan bahwa bisnis bukan hal lama. Ini merupakan bisnis keluarga. Namun, hanya dari sentuhan tangan dingin Peter, usahanya berkembang menjadi tiga gerai utama. Selanjutnya usaha pemuda 27 tahun tersebut adalah membuka waralaba atau franchise global.

Alkisah dia hanyalah pegawai IT. Pekerjaan dengan gaji 100.000 bath. Nyaman bekerja saja ternyata tidak cukup. Dalam ketidak mungkinan, apapun bisa terjadi Peter malah memilih keluar dan membuka bisnis. Ia bermodal resep keluarga. Kesulitan justru dianggapnya menjadi karena dia masih lah sangat muda.

Kini pria 33 tahun ini sudah memiliki perusahaan besar. Nama Daddy Dough, berbekal resep sang ayah, sudah sangat dikenal di telinga masyarakat Thailand. Kepada IndoTrading, kisahnya bermula ketika umur masih 23 tahun, dan ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi pegawai IT.

Bisnis tekat


Ia suka IT tetapi bukan passion. Berwirausaha merupakan panggilan hati. Inilah dirasakan Peter ketika ia mengeluhkan alur kerjanya. Bercerita ke ayah malah membuahkan ide berwirausaha. Sang ayah justru jadi orang pertama yang mendorong anaknya menentukan nasib.

Dorongan tersebut dibuktikan lewat pengunduran diri. Reaksi ayah ya tetap meyakini bahwa Peter akan jadi sukses. Lebih sukses lagi dibandingkan bekerja menjadi pegawai IT. Terbukti bisnisnya telah sukses mengantungi untung 15 sampai 30 kali lipat gaji ketika menjadi pegawai dulu.

Bayangkan dia mampu mengantungi omzet 80 juta baht global. Latar belakangan pendidikan pun tidak jadi masalah. Seorang lulusan sarjana komputer dan kemudian pindah ke jurusan manajemen. Tidak nyambung lagi dengan bisnis donat, Peter merupakan lulusan travel industry management.

Selepas sekolah menengah sebenarnya dia sudah disuruh. Ayah Peter mengajaknya membesarkan bisnis donat milik keluarga. Justru ketika dia tertekan dengan rutinitas pegawai. Perasaan bahwa bekerja bukan jadi passion -nya muncul -tetapi berwirausaha sendiri.

Meski ditangan Peter baru berjalan setahun setengah. Optimisme tinggi ditambah passion akan wirausaha tidak tertandingi. Kebetulan fakta bahwa bisnis donat belum begitu populer di Thailand. Sentuhan tangan anak muda membuat Daddy Dough memiliki cita rasa sehat mengikuti perkembangan jaman tidak jadul.

Ketika masuk ke bisnis keluarga bukan mudah. Ketika itu bisnis ayah sudah berbentuk restoran. Dan dia tidak mau tuh menjalankan restoran. Dianggapnya sistem yang sudah ada sudah terlalu mapan. Inilah pula alasan kenapa dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga.

Dimarahi jadi pegawai


Tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Ia malah bekerja menjadi akun eksekutif di perusahaan software. Ayahnya sempat marah tetapi pasrah. Ketika kebosanan rutinitas kerja datang ke Peter. Dia sendiri malah yang datang kepada ayahnya.

Inspirasi terbesar Peter adalah Roti Boy. Sebuah bisnis berkonsep seperti Krispy Kreme -nya Amerika. Sebuah fenomena waktu itu katika dia ke Bangkok. "Saya ingin membuat kembali fenomena," ia tambah. Demi menghormati ayah maka dia menggunakan resep ayah.

Bisnis dia imajinasikan ternyata lumayan. Uniknya dia membuka satu toko donat kecil diantara restoran sang ayah pada Agustus 2006. Penjualan ternyata bagus loh tetapi masalah ketika membuka cabang ke Siam Paragon di Desember 2007. Butuh waktu sepuluh bulan, akhirnya dia bisa membuka hingga brandnya dikenal.

Ia berkisah banyak orang gagal. Mereka gagal ketika membuka bahkan tempat kecil di mall. Inilah kenapa Peter mendapatkan tentangan dari ayah. Yah tetapi keduanya akhirnya sepakat bekerja sama untuk melaju ke depan. "Kamu tidak benar bisa memisahkan kehidupan pribadi dan bisnis," terang Peter.

Paling tidak dia dan ayah bisa saling jujur. Tidak diam ketika berbisnis hingga saling menyalahkan diakhir. Membuka usaha sendiri justru Peter tidak punya hari libur. Dia bahkan tidak memiliki malam minggu. Jika kamu pekerja kamu bisa lupakan pekerjaan ketika weekend.

"...tetapi saya tidak bisa," jelasnya. Bahkan ketika dia tengah mendorong keranjang belanjaan. Pikiran Peter akan ke perusahaan yang tengah dia rintis. Tetapi dia menganggap itu kenikmatan tersendiri.

Dia cuma keluar seadanya. Istilahnya kita mencari angin ke pantai ketika malam sabtu. "Saya sangat senang akan pekerjaan saya." Keinginan membuat donat kualitas internasional selalu terngiang. Dia bahkan sudah ingat dan fokus siapa pesaing utama mereka, Mr. Doughtnut.

Ia ingin membuat kita kenal produknya. Kunci sukses bisnis Daddy Dough sampai sekarang diantaranya ada di kualitas bahan baku. Peter menggunakan coklat Belgia yang lembut.

Bisnis waralaba


Dia menggunakan toping coklat Belgia. Ini merupakan pertama bagi negara Thailand. Donat miliknya juga tidak memakai lemak trans, yang mana merupakan andalan kebanyakan perusahaan makanan. Total ada 40 varian donat aneka rasa toping. Kualitas coklat merupakan andalan Daddy Dough tidak sekedar rasa.

Dengan resep rahasia, Peter yakin usaha dijalankannya akan semakin besar ke depan. Bahkan dia jaminkan bahwa tidak ada satupun tau resep miliknya. "Ibu dan ayah saya mengarahkan saya untuk menjadi pengusaha sejak kecil," imbuhnya.

Dia sama sekali tidak tau soal waralaba atau franchise. Dia cuma liat keluarganya sukses waralaba. Untuk mencapai tujuan ekspansi maka waralaba menjadi pilihan. Masalah lain, selain kesulitan ekspansi, ialah ia sulit mendapatkan pekerja berkualitas.

Menurut Peter semua orang bisa membuka toko. Tetapi mendapatkan tenaga berkualitas susah. Ini adalah tantangan lain ketika dia sudah menemukan waralaba. Dia bercerita bahwa beruntung sampai awal, mereka sudah mampu membuka lima cabang utama. Tetapi untuk mendapatkan pekerja berkualitas tidak secepat itu.

Butuh waktu bersama membangun bisnis. Tidak memiliki pengalaman menjadi masalah pengusaha muda. Termasuk pengalaman mencari dan menyeleksi pegawai.

Inovasi dari 15 menjadi 40 merupakan cara. Bagaimana Daddy Dough mencoba tetap berekspansi. Jika ia pertama kali menjual donat 15 baht sekarang 28 baht. Jumlah toko naik sampai 30 cabang tersebar. Dia ingat sepuluh tahun lalu: Mereka menjual 300 donat sekarang mencapai 1500 donat setiap harinya.

Berawal dari seorang pengusaha, ayahnya, yang bernama Somchai Thavepholcharoen membuka toko donat di Amerika kemudian di Thailand. Dimana di Thailand, Somchai malah beralih membuka sebuah restoran, daripada membuka toko donat. Dan ketika ayah Peter melihat bisnis donat lokal berkembang menggila.

Ia mengajak Peter melanjutkan bisnis keluarga. Resep donat andalannya kemudian diwariskan kepada sang anak, Peter. Tidak apa- apa kalau bangkrut Peker berpikir. Pengusaha muda tersebut bermodal 5 juta baht lantas memulai usaha donat.

Penjual Buku Online di Buka Lapak Untung Besar

Profil Pengusaha Arief Mai Rakhman 



Menjadi pengusaha sekarang memang gampang. Tinggal mental saja bagaimana tetap konsisten. Keinginan seorang Arief Mai Rakhman adalah menjadi pengusaha. Usaha penjualan buku yang dijalankan melalui media online. Ia bergegas mewujudkan mimpinya menjadi penjual buku pertama online.

Tidak mudah bagi Arief memang. Tetapi berkat dukungan lingkungan sekitar, sedikit- demi sedikit usaha dijalankan mulai terlihat hasilnya. Mahasiswa asal Yogyakarta ini lantas memilih niche bisnis beda. Fokus dirinya menjual aneka buku keperluan kuliah.

Hobi baca jadi bisnis


Dia memang hobi membaca. Lambat laun menjadi ketertarikan mencari aneka buku. Koleksi Arief mulai banyak dan disini ide bisnis muncul. Buku dikoleksi Arief mulai membahas tentang sosial, hukum, sejarah dan psikologi.

"Saya memang fokus untuk buku- buku anak kuliahan," imbuhnya. Memang pasaran mahasiswa masih bisa terbuka. Jika penjual buku online lain menyasar novel. Arief memilih menjual buku kuliah seperti metoda penelitian. Untuk jenis buku metode penelitian menjadi paling laris.

Arief tidak sendirian bekerja. Tahun 2011, dia bersama seorang teman kuliah membuka Delta Buku, bisnis online yang memanfaatkan Facebook. Hasil penjualan lumayan buat ukuran anak kuliahan. Didukung oleh kegemaran mereka mencari buku.

Jumlah koleksi mereka makin meningkat dan berimbang. Arief tau mana buku memiliki nilai kebutuhan tinggi. Tidak jarang dia berburu buku langka sendiri. Hingga akhir 2012, dia ditinggal oleh rekannya, sejak saat itu Arief dipasrahi mengelola bisnis jualan buku online. Sementara temannya kemudian pulang ke kampung.

Bisnis dijalankan tidak selamanya mulus. Beberapa kali Arief harus menelan pahitnya kegagalan. Berkat passion -nya kepada buku masalah dihadapi. Ia memang pekerja keras mencapai tujuan. Penjualan online dianggpnya cepat memutarkan uang.

Begitu untung, Arief langsung mencari buku baru untuk dijual. Dia bekerja sama dengan beberapa toko buku. Tujuannya agar mendapatkan buku lebih murah. Hasrat lainnya adalah menjual buku impor. Namun sementara dia memilih mengambil ke penerbit langsung, ditributor dan agen, seputaran Kota Gudeg.

Ia fokus mencari buku spesifik. Buat mahasiswa membutuhkan buku khusus. Nah kendala terbesar ialah mereka tidak punya waktu. Inilah pasar dikembangkan Arief mencari. Buku- buku edisi terbatas sudah bisa dia dapatkan. Buku yang tidak ada di toko buku konvensional, ada di tangan Arief sang juragan buku.

Bisnis cinta


Berawal dari usaha bernama Delta Buku. "Saya awalnya cuma nemenin muter- muter cari buku," ia cerita. Arief lantas ikut membantu sang teman jualan di Facebook. Sempat vakum lama usahanya kemudian dia ambil alih. Pria 29 tahun ini sudah paham betul seluk- beluk pasaran buku khusus mahasiswa.

Hingga, tahun 2013, dia menemukan bukalapak.com. Awalnya dia aktif berjualan lewat Facebook, Twitter, dan Instagram. Kemudian BukaLapak memberikan kemudahan berbeda. Arief merasa nyaman karena disini transaksi penjual dijamin.

Perkenalan dengan BukaLapak tidak tiba- tiba. Arief sendiri senang memanfaatkan iklan baris. Ketika dia mengetik jualan di Google. Dipilihan teratas langsung BukaLapak.com muncul. Ia kemudian berinisiatif menjual lewat BukaLapak saja. Dari BukaLapak usahanya berkembang sangat cepat dibanding dulu.

Dari Delta Buku, nama Beta Buku di BukaLapak begitu terkenal. Ia memang berjualan penuh amanah. Ya hasilnya dia mendapatkan feedback positif 1400 pengguna. Mereka adalah pembeli dari toko Delta Buku yang puas atas produk dan pelayanan Arief.

Inilah yang merubah Arief menjadi salah satu top seller. Dia sekarang dikenal menjadi Juragan Buku di BukaLapak. Akunya sudah melayani 10- 15 transaksi per- hari. Omzet dicapai Arief terbilang tinggi bisa sampai Rp.60 juta per- bulan. Dia sudah memiliki 4.000 judul buku di laman BukaLapak ini.

Meski di luaran sana, era buku digital atau e-book marak, dirinya tetap yakin bahwa buku fisik tidak akan hilang pasarnya. Ini semua karena masyarakat masih terbiasa membaca buku fisik. Fakta bahwa membaca buku fisik lebih nyaman dan enak.

Ia tidak sendiri lagi. Arief berkerja bersama seorang patner kerja. Yang sekaligus menjadi patner hidupnya kini. Wanita bernama Dewi Perwita Sari, bertugas menjadi penasihat sekaligus motivator. Dia juga jadi teman packing Arief. Keduanya, meski pengantin baru, menikmati proses menjadi wirausahawan.

Bisnis buku menunjukan tren positif. Walaupun tren masyarakat berubah terutama soal buku. Ia meyakini selama kita mampu bersikap kreatif. Mampu beradaptasi akan kebutuhan masyarakat. Niscaya, usaha kita akan memiliki peluangnya, pokoknya selalu kreatif, fokus, agar memberikan yang terbaik buat usaha kita.

Mimpi besar Arief ialah memilik toko buku besar seperti Amazon. Menjadi pengusaha buku onlin jadi pilihan seorang Arief. Kesuksesannya diakui oleh sang CEO BukaLapak sendiri. Achmad Zacky merasa kagum atas kegigihan pengusaha satu ini.

Cuma Lulusan SMA Tetap Semangat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses Herdian 



Bisnis kreatif memang soal bagaimana menciptakan. Kita adalah seniman dalam berbisnis. Tidak ada pula batasan pendidikan berbisnis kreatif. Inilah Herdian, pria 30 tahun yang merambah bisnis miniatur, yang mana omzetnya mencapai Rp.15 juta per- bulan.

Tidak murah Herdian mengawali. Modal Rp.50 juta digelontorkan buat bisnis. Dibantu 12 orang karyawan dirinya mantap berbisnis miniatur. Pengusaha satu ini memang sudah dikenal. Dia menghasilkan uang dari menjual figura, dan kini, berjualan miniatur gitar difigura.

Pengusaha asal Lembang, Bandung Barat, ini hanyalah lulusan SMA. Sejak lulus sudah banyak usaha telah ia jalankan. Tidak ada minat bekerja menjadi pegawai. Hasil usaha disisihkan buat menjalankan usaha lain. "Karena ingin menciptakan lapangan kerja," Herdian menuturkan.

Sajak 2005 dia sudah berbisnis sendiri. Ia kritis kenapa banyak orang menganggur di kampungnya. Kenapa mereka tidak membuka usaha jika tidak diterima kerja. Alhasil banyak pengangguran bahkan usia tua juga ada.

Usaha Herdian membuahkan hasil. Biaya produksi juga mengandalkan daur ulang. Tujuannya agar bisa memproses bahan tidak terpakai di kampungnya. Limbah kayu mahoni menjadi bahan pembuatan miniatur. Sebulan sudah bisa memproduksi ulang 1- 2 ton limbah kayu mahoni.

Ia memproduksi sampai 300- 500 pcs figura gitar dan 2.000 miniaturnya. "Banyak dikampung saya," ia menjelaskan. Limbah tidak terpakai banyak, dan masih memiliki nilai ekonomis jika dipasangkan dengan ide kreatif. Dibantu 12 orang memproduksi di sebuah galeri kawasan Taman Wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Jualannya diminati kebanyak dari orang luar negeri. Utama pesanan datang dari Malaysia dan Singapura. Ia tidak takut karena kompetitor lumayan. Harga jual dipatok Rp.50 ribu sampai Rp.1,5 juta buat figur gitar. Dan buat miniatur agak lebih mahal yakni Rp.100 ribu sampai Rp.1,5 juta.

Pengerjaan antara tiga hari sampai dua minggu. Herdian menetapkan minimum pemesanan Rp.5 juta. Ia dibantung pemerintahan Jawa Barat makin maju. Ia pun berpesan bahwa anak muda jangan cepat menyerah menjadi pengusaha. Dia sendiri merintis dari nol besar tanpa ijasah sarjana.

"Usaha apapun harus dijalani asal tekun," tutupnya.

Buka Usaha Tali Temali Untung Kalau Digali

Profil Pengusaha Bernama Joko 



Iseng main simpul Pramuka jadi usaha. Inilah kisah Joko, pengusaha sekaligus seniman tali makrame dan kur. Ini karejinan memang lebih dikenal kerajinan tali Pramuka. Tetapi sejarahnya ternyata jauh. Seni ini dikembangkan oleh sosok Alm. Bambang Sumitro. 

Joko sendiri hanyalah seorang pegawai SPBU. Sementara Bapak Sumitro merupakan seniman sejati. Dia yang belajar dari tempatnya bekerja dulu. Sumitro lantas mengajarkan ke semua orang, mulai dari ibu- ibu sampai anak putus sekolah. Sedangkan Joko mengambil ilmunya sebagai dasar membuka usaha.

Kerajinan anak SD ini memang sudah dikenal langka. Jarang sudah peminatnya jaman sekarang. Justru ide muncul dibenak mantan pegawai SPBU ini, yang juga pernah menjadi karyawan hotel. Joko memang orang biasa tetapi dibalik usahanya sekarang terselip harapan lain.

Bisnis lestari


Ia ingin melestarikan seni makrame. Memang simpul- menyimpul membutuhkan waktu lama. Mungkin juga inilah alasan banyak orang "malas" melanjutkan. Joko berusaha menjalankan misinya, membuat aneka kerajinan, dari meja gantung, akuarium gantung, gantungan pot, tirai, sampai tempat tidur gantung.

Jiwa seni Joko memang kuat meski bukan seniman. Dia tau akan cantik jadinya jika seni talinya dipadu padankan dengan desain interior. Contoh lampu gantung eksotis buatan Joko. Atau coba beli akuarium gantung miliknya. Yang mana dipadukan lampu, menjadi penerang manis dan unik dikala malam hari.

Atau tirai tali buatan Joko yang berukuran 1x2 meter. Yang mana menghabiskan waktu 8 hari pengerjaan. Disini letak keindahan dan nilai usaha dijalankan Joko. Jika Bapak Sumitro membuat tas tali buat satu perusahaan. Maka Joko memilih membangun mimpi perusahaan sendiri.

Ia sangat menyangkan tidak ada penerus. "Semenjak tokohnya meninggal, daripada seninya mati disini, saya mencoba hidupkan kembali," pungkasnya. Harga produk mulai termurah Rp.5000 sampai yang paling mahal Rp.2,5 juta untuk meja gantung. Semakin mahal maka pengerjaan dan detail semakin sulit.

Pelanggan tetap dari luar negeri, adalah negara- negara pecinta produk handmade, seperti Swiss, Jepang, Belanda, Jerman.

Membuat Album Foto Menjadi Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Freddy Sinatra  dan Lio Andrian


 
Usaha berawal dari iseng sudah banyak. Berawal keinginan menambah uang jajan. Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Freddy Sinatra menjajaki wirausaha. Usaha foto album kecil- kecilan berubah jadi satu perusahaan besar. Lumayan lama dari berjualan keliling hingga menembus pasar internasional.

Jiwa seninya memang menjadi andalan. Ditambah keuletan ingin mencari penghasilan sendiri. Usaha yang dirintis sejak 1964 kemudian berkembang. Freddy sempat loh berjualan keliling. Menenteng album foto ditangan, menjualnya dari pintu ke pintu. Tangan dinginnya lalu memasukan karya ke toko- toko sekitaran Semarang.

Tidak disangka usaha album foto ternyata menjanjikan. Usaha bernama Susan Photo Album mulai tampak untung didepan mata. Produk foto album miliknya bahkan masuk ke pasar Australia.

"Saya tidak menyangka bila bisnis ini bisa berkembang pesat," kenangnya. "Saya memulai usaha album foto ini hanya iseng."

Usaha yang awalnya cuma menghasilkan uang jajan. Kemudian merambah uang tabungan buat kuliah. Inilah hidup kini Freddy telah berbalik 180 derajat. Pria kelahiran Blitar 1946 ini memang sudah berniat untuk membuka usaha sendiri. Ide membuat usaha apa berbekal kreatifitas tangan sendiri.

Bisnis tidak disangka


Dia mencari bahan, membuat, dan memasarkan sendiri. Awalnya dia berjalan berkeliling menawarkan satu per- satu. Suami Lanny Riana Dewi ini, memang sudah menyukai dunia seni. Dibantu dua orang karyawan agar bisnis Renddy tetap berjalan. 

Tugas utama Freddy adalah memotong dan pengepakan. Dalam sebulan menghasilan 20 buah album foto. Ia menyebutkan kualitas utama merupakan kunci. Tidak cuma sekedar desain bagus saja. Pelayanan baik mampu membawa perusahaan, kini, memiliki 200 orang karyawan tersebar.

Soal menjalankan bisnis tidak perlu neko. Usaha kecil- kecilan dikerjakan mengikuti arus. Namun dia ingat bahwa bisnis berubah mengikuti jaman. Dia tidak bisa menjaga loyalitas pelanggan terus. Jika ada perubahan sedikit saja usahanya akan hangus. Inilah Freddy fokus mengembangkan inovasi produk lebih baik.

Ia rajin menungunjungi pameran. Aktif menjual tidak cuma offline, juga online melalui sosial media atau website perusahaan sendiri. Barapa pun permintaan pasar diusahakan dipenuhi. Dulu mungkin Freddy akan keteteran tetapi sekarang tidak.

Ayah dua anak, Lio Andrian dan Olivia Susanti, hanya ingin melayani saja. Kualitas produk sekali lagi, lalu inovasi, ditambah melayani pembeli. Tidak salah usahanya lambat laun berkembang makin pesat. Pesanan album foto meningkat cepat. Pria bermoto "maju terus" merasakan Susan Album Photo sudah terkenal.

Tahun 2016 saja, Susan Album Photo memiliki 200 orang karyawan, sudah termasuk tenaga produksi dan staf. Niatnya sungguh- sungguh membuka usaha. Membantu lebih banyak lewat jiwa seninya. Dia bekerja keras tanpa dipengaruhi omongan orang sekitar. Tidak terpengaruh dan fokus mengembangkan usahanya.

Nama Susan sendiri ternyata bukan nama orang terkenal. Bukan pula nama istri Freddy sendiri. Pemilihan brand Susan hanya nyeletuk saja. Alasan utama karena mudah diingat dan diucapkan. Orang luar negeri juga mudah mengucapkan Susan.

Bisnis Freddy tidak berhenti di penjualan langsung. Dunia digital eCommerce sudah dijajaki pria paruh baya tersebut. Namun demikian pendekatan personal lebih kental. Sukses Freddy kini diambil alih oleh sang putra. Lio Andrian memiliki masalahnya sendiri dimana orang menyebut album foto sudah kuno.

Bisnis tak lekang


Meski banyak orang bilang jualan album foto sudah ketinggalan jaman. Lio masih meyakini bahwa ini hanya soal peralihan. Oleh karena itulah, ia bertekat merubah konsep album foto agar dapat mengikuti laju perubahan jaman. Lio sendiri tampak siap menghadapai tantangan global bisnis album foto.

Tidak cuma menjual album foto. Perusahaan mereka mantap memberikan jasa konsultasi. Bagaimana agar membantu rekanan bersama memajukan bisnis mereka. Lio menyasar konsep album art work, corporate package, hingga mengambangkan bisnis lain di dalam maupun luar negeri.

Freddy sendiri sudah membekali Lio. Selain ekspansi bisnis lain, seperti bisnis bridal, salon kecantikan, dan spa. Itu semua diberi nama Susan.

Devirsifikasi bisnis memang giat dilakukan Freddy. Bisnis selain album foto dikerjakan sang istri dan juga putrinya. Dua wanita Freddy memang menyukai bisnis kecantikan. Freddy mengaku bisnis dijalankan tidak ada perencanaan khusus. Freddy sendiri sejak awal sudah dibantu permodalan oleh Bank BCA.

Lio sendiri menjalankan bisnis senang hati. Memang berwirausaha sudah menjadi passion -nya. Selain itu, dirinya mewarisi bakat seni sang ayah. Dia tertarik karena melihat ayah bekerja sejak kecil. Freddy bilang Lio tidak melihat uang dibalik bisnis ayahnya. Cuma dia melihat bagaimana bisnis mempengaruhi industri fotografi.

Inilah kenapa Lio lebih mencintai berwirausaha. Dibanding sibuk memikirkan berapa uang didapat. Freddy sendiri membebaskan Lio berekspresi. Lio sendiri mengerjakan business development. Bagaimana agar membuat brand awareness tentang produk- produk milik Susan.

"Banyak orang menyebut pasar album foto sudah "senja"," ujar Lio. Penulis melihat bisnis mereka bukan cuma soal album foto tetapi brand Susan itu sendiri.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba