Dilarang Usaha Aqiqah Tetap Ngotot Hasilkan Ratusan Juta

Profil Pengusaha Teguh Arif Hidayat 


 
Menjadi pengusaha muslim usaha apa terbaik. Apalagi kalau bukan usaha aqiqah. Ini salah satu ajaran yang disunahkan umat muslim. Bayangkan 4,5 juta bayi terlahir dan beraqiqah menjadi sunahnya. Dan banyak umat muslim mulai sadar pentingnya beraqiqah. Di era sekarang aqiqah tidak lagi rumit banyak kemudahan.

Banyak pengusaha aqiqah bermunculan. Dari pengusaha veteran sampai yang pengusaha muda sukses. Salah satu pengusaha veteran dibidang aqiqah adalah Teguh Arif Hidayat. Tahun 2007 silam, dirinya mulai berbisnis aqiqah bernama As Shidiq. Kala itu mencari lembaga pemberi layanan aqiqah tidak semudah sekarang.

Ia harus mencari kambing atau domba sendiri. Saking sulitnya mencari, sampai Teguh mendapatkan kambing dari daerah Priuk, Jakarta Utara. Disitulah ide mengenai usaha aqiqah terbentuk. Kenapa tidak dia memberi layanan penjualan sekaligus pengolahan menjadi satu, sebuah bisnis profesional seperti sekarang.

Uang tabungan sebesar Rp.750 ribu dijadikan modal. Taguh lantas membeli beberapa peralatan memasak dari kompor dan penggorengan. Uniknya kambing dan domba baru dibeli setelah ada pesanan. Jadilah Teguh mulai menawarkan usaha aqiqah tanpa kambing.

Sukses nekat


Strategi bisnis Tegus mudah kok. Dia langsung membagi brosur. Mencetak brosur mengenai usahanya lantas menempelkan di tempat strategis. Paling menarik iyalah Teguh menitipkan brosur ke apotik. Kemudian dia juga memberikan informasi kepada rekan kerja, tetangga, dan saudara.

Untuk layanan tambahan, dia mendobrak lewat cara mencicil kambing. Ini dapat mempermudah masyarakat menyiapkan aqiqah anak jauh hari. Nilai angsurang disesuaikan harga hewan ditambah perkiraan kapan si calon bayi lahir. Hasil layanan tersebut terbukti manjur. Bulan pertama berbisnis dia mendapatkan 7 pesanan kambing.

Pada bulan kedua dia mendapatkan 12 ekor. Bulan ketiga mendapatkan pesanan sampai 20 ekor. Usaha dia jalankan membaik membuat rekan kerja Tegus ikutan. Dia memberikan suntikan dana modal Rp.5 juta ke Teguh. Rekan kerja Teguh itu juga menunjukan tempat pemasok kambing dan domba asal daerahnya.

Semenjak itu pula usaha dijalankan Teguh makin berkembang saja. Sukses bukan berarti ia lekas puas akan hasilnya. Dia ngebut membeli lahan untuk dibangun rumah 3x5 meter sebagai dapur dan kandang. Rumah yang terletak di bilangan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Rumah tersebut dijadikan tempat penggemukan kambing. Tempat pemotongan kambing sekaligus dimasak di sana. Teguh yakin akan kualitas nomor satu selalu punya cara meningkatkan itu.

Cara meningkatkan layanan seperti membuat varian masakan. Aqiqah bernama As Shidiq ini memiliki aneka menus seperti tongseng, gulai semur, kare, dan lainnya. Untuk kambing atau domba orang bisa datang ke tempatnya buat memilih langsung. Pembeli juga bisa melihat proses penyembelihan langsung.

"Ada bonus buku risalah akikah dan jika diperlukan dokumentasi hewan," ia tambahkan.

Memang inovasi layanan selalu diberikan Teguh. Bahkan dia sudah masuk ke ranah internet lewat website milik sendiri www.akikahmurah.com. Dimana dia menyampaikan tipe layanan akikah. Juga termasuk harga kambing atau domba dijual serta aneka promosi lainnya.

Informasi lain juga berupa edukasi tentang aqiqah. Dia mengedukasi calon konsumen sehingga tidak salah memilih. Namun startegi melalui internet bukanlah strategi utama. Kesuksesan aqiqah As Shidiq memang dari offline. Dimana 90 persen konsumen baru merupakan hasil rekomendasi pelanggan.

Sukses layanan


Memberikan layanan satu atap membuat aqiqah lebih menarik. Berbeda jika dulu dimana orang harus cari sendiri kambing ditambah masak sendiri. Konsep one stop solution dianggap lebih murah, serta gampang buat dijalankan, maka pelanggan tidak perlu khawatir kehabisan waktu buat aqiqah.

Pelayanan terbaik selalu diberikan Teguh. Dia sendiri mampu menjual sampai 750 ekor kambing atau domba per- bulannya. Mengejutkan omzet diraup Teguh telah mencapai Rp.750 juta. Untung kotornya sampai 20- 30 persen dari harga satu kambing yakni Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta.

Teguh sadar membuka usaha aqiqah berarti ibadah. Makanya dia lebih memilih menyasar masyarakat kelas menengah bawah. Ini ditunjukan dengan kemudahan membeli kambing atau domba lewat angsuran. Dia ingin mengedukasi bahwa aqiqah bisa murah. Orang Islam bisa mengikuti sunah tanpa khawatir soal uang lagi.

"Selama ini persepsinya aqiqah mahal, padahal tidak," imbuh dia. Dia bahkan menyebutkan uang Rp.400 ribu sudah dapat kambing dan diolah secara syar'i. "...umurnya cukup dan sehat," tambahnya.

Seiring kemajuan usaha aqiqah, pria penghobi baca ini melebarkan sayap ke bisnis lain. Seperti katering dan restoran khusus kambing atau domba. Semua karena permintaan konsumen sudah terpenuhi. Ia menambah lagi bahwa bisnis katering sejalan bisnis aqiqah. Berarti orang dapat memasakan ke dia langsung tanpa repot.

Dia juga menyiapkan peralatan makan lengkap. Jadilah orang tinggal cari tempat buat acara aqiqah dan isi semua ditangani As Shidiq aqiqah. Semua makanan tinggal dihidangkan ke pengunjung acara aqiqah. Untuk usaha resto dibuka di JL. Ciledug Raya, Petukangan Selatan. Menu disajikan sate kambing dan domba dia sendiri.

Walaupun terlihat biasa, restoran dihadirkan Teguh, menurut klaimnya memiliki cita rasa berbeda. Dimana dia menyuguhkan sate barbeque, saos padang dan lada hitam. Suami dari Nurlela ini memang memiliki semangat wirausaha tinggi. Dia bahkan tengan mengkonsep sistem kemitraan modal agar usahanya makin menyebar.

Dia tidak memilih waralaba atau franchise. Dia lebih memilih ke sistem pendanaan bersama. Join venture mungkin istilah tepat buat usahanya. Dari pihaknya yang akan mengelola sementara hasilnya bagi hasil.

Dilarang jadi pengusaha


Kisah sukses Teguh bukanlah tanpa hambatan. Orang tua mana mau anaknya jualan kambing. Padahal dia sudah disekolahkan tinggi- tinggi sampai kuliah. Padahal dia bekerja di perusahaan sekelas Nokia. Ganjalan hati tersebut sempat membuat usahanya agak tersendat. Apalagi ketika dia memutuskan keluar dari perusahaan.

Orang tua mana mau anaknya bergaji tinggi kini jualan kambing. Pilihan sulit diambilnya di tahun 2008 tetapi dia sudah melihat arah bisnisnya. Dalam benaknya ada kegamangan antara membesarkan perusahaan orang lain atau menjadi pemilik usahanya sendiri. Waktu itu permintaan kambing aqiqah sudah meledak butuh dia disana.

Butuh seseorang buat menjalankan usaha aqiqahnya. Dia sendiri harus turun tangan. "Tidak enak juga jika harus sering terlambat ke kantor. Apalagi tanda tangan saya diperlukan untuk mengambil suku cadang," ia mengenang. Orang tua langsung protes mempertanyakan keputusan Teguh keluar dari kantor.

Masuk akal karena berkat orang tua, Teguh bisa lulus kuliah jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, dia ingat betul kedua orang tuanya bekerja keras banting tulang. Tetapi dia tetap yakin ngotot melanjutkan usaha di bidang aqiqah ini.

Dia membuktikan bahwa jualan kambing bisa sukses. Bahkan dari usahanya kini, Teguh mampu mengakat kedua orang tuanya berangkat haji. Dia juga membantu adik sampai kuliah. Tidak perlu khawatir karena omzet usahanya sudah ratusan juta dan punya restoran sendiri.

Seiring usaha berkembang jumlah pegawai meningkat. Dia memiliki 29 pegawai bekerja. Dia mengambil orang- orang yang minim keahlian. Sebagian besar merupakan buta aksara yang membutuhkan pertolongan.

Bakso Rumput Laut Mahasiswa Maha Bakso

Profil Pengusaha Zaenal Arifin dan Mohamad Haiba 



Bosan akan bakso itu- itu saja. Zaenal Arifin bertekat membuat perbedaan mencolok. Bersama rekannya sesama mahasiswa, Mohamad Haiba, mengembangkn bakso berbahan rumput laut. Tidak cuma sebatas itu, mereka lantas mengembangkan bakso kelapa muda. Jika dilihat bentuknya tidak berbeda sama- sama bulat.

Bakso buatan Zaenal tidak sekedar daging sapi. Tambahan rumput laut menjadikan bakso makin gurih. Dia juga punya senjata lain yakni bakso jamur. Berkat ide kreatif dua orang mahasiswa mampu meraih omzet mencapai Rp.13 juta.

Mahasiswa salah satu Universitas Swasta asal Jombang. Bermodal semangat kewirausahaan membuka satu gerai bakso di Jalan Raya Ceweng No.9, Kecamatan Jombang, Jawa Timur -depan SPBU Ceweng. Kedai bakso buka pukul 10.00 pagi sampai 10.00 malam.

Cara membuat bakso umum. Bedanya ditambah berbagai bahan, termasuk rumput laut, kelapa muda, dan juga jamur kecil- kecil. Semua dicampur bareng menjadi satu adonan. Rebus sampai matang sampai dapat dihidangkan.

Kesan bahwa bahan baku biasa tetapi luar biasa. Para pengunjung mengaku senang bakso buatan Zaenal. Ia menyebut rasa rumput laut, kelapa muda, dan jamurnya bukan tempelan. Belum ada duanya di Indonesia kali yah. Sebagai mahasiswa keduanya mengaku senang dapat berbisnis sambil tetap berkuliah.

Berjalan sampai 1,5 tahun usahanya stabil. Rata- rata omzet Rp.13 juta selalu diraih. Gerai bakso yang lantas diberi nama Maha Bakso memang beda. Tambahan gerai milik keduanya memakai konsep lesehan. Konsep yang fokus menjadi tempat istirahat apalagi posisinya strategis arus mudik.

Di tempat ini diharapkan bisa menjadi tempat istirahat, meeting, ataupun sekedar ngobrol. Nuansa dibikinnya senyaman mungkin bermodal televisi laya datar dan alunan musik menghibur. Kedua mahasiswa ini masih mau terus berkreasi menciptakan bahan bakso lain, yang tidak melulu menggunakan bahan daging sapi.

Jual Ikan Lele Asap Piko Resign Pegawai Bank

Profil Pengusaha Al Iskandariah



Ide bisnis terkadang terinspirasi usaha lain. Kalau ada ikan bandeng diasap, kenapa tidak kita membuat itu dengan bahan ikan lele. Mungkin ini dibenak Al Iskandariah, pemuda 26 tahun asal Jambi yang mengaku dia berhenti menjadi pegawai Bank buat berjualan ikan lele diasap.

Jika umumnya pecel lele digoreng kini tersedia diasap. Pengusaha ikan lele asap ini mengatakan rasa disuguh berbeda. Menjadi wirausaha dianggapnya memilik tantangan. Idenya datang sendiri. "Jadi lelenya diasapkan, di- smoke," imbuh pemuda yang akrab dipanggil Piko.

Pemuda kelahiran 28 Februari 1988 memiliki cara pengasapan sendiri. Ia menyebutkan butuh 2 hari atau 2x 24 jam tetapi kemudian dioven. Pertama diasapkan bawahnya pakai asap kayu bakar. Menggunakan asap berpanas 40- 50 derajat celcius. Tetapi jangan sampai ada baranya jelas Piko menjelaskan lebih.

Dia menambahkan jangan kayu sembarang kayu. Piko mengisyaratkan kayu dari pohon buah manis seperti buah rambutan. Kalau memakai kayu sembarangan maka rasanya tidak akan sama. Rasa cenderung pahit rasa ikan lele tersebut. Sayangnya, kayu seperti ini susah dicari, lantaran penebangan buat lahan dan pabrik.

Di Jambi menurut Piko memang susah di Sumber Daya Alam. "Kita perlu kayu, tetapi kayu langka," jujur dia. Modal awal usahanya sampai Rp.20 juta. Dimana untung dia raup mencapai Rp.40 jutaan sekarang.

Kedepan, dia berharap kemasan lebih bagus, jadi lele asap buatanya mencapai pasar modern. Caranya yaitu mengemas lebih berwarna dan menarik. Ia percaya diri akan mencapai pasar modern. Dia tidak tanggung keyakinan tersebut sudah dimulai dengan proses pengemasan. "...Insyaallah 3 bulan kedepan," tuturnya.

Dia rela melepaskan pekerjaan di perusahaan milik pemerintah. Bermodal tabungan Rp.20 juta dimulailah ia bekerja sendiri. Memang di benak Piko menjadi pengusaha lebih untung. Kini keberanian Piko terbayar dari keuntungan lebih tinggi dibanding gajinya dulu. Potenis bisnis lele dirasa memiliki potensi besar kalau serius.

Ia membeli lahan kemudian oven. Peralatan terpenting menurutnya adalah oven besar buat mengeringkan. Ia mengatakan fungsi oven buat menyempurnakan proses pengeringan. Ini dikatakan Piko sebagai ganti dari pengeringan lewat sinar matahari.

Cara Piko memang berbeda dan terbukti efektif. Fungsi pengeringan buat mengurangi kadar air ikan lele segar. Proses pengasapan sendiri butuh waktu 5 jam. Proses pematangan akan memunculkan aroma khas menggugah selera. Ikan lele asap akan terlihat mengkerut. Dia pun memiliki strategi menjual tersendiri lagi.

Ia mencoba membangun lele asap menjadi ikon Jambi. Dijualnya melalui toko oleh- oleh khas Jambi. Dia mempromosikan sebagai makanan ikonik budaya daerah. Dia membuat lele asapnya seolah harus dibeli jika kita mampir ke Jambi. Memang keraguan akan produk buatan rumah buatan Piko ada.

Tetapi dia menjawab keraguan tersebut. Dia sekarang membuat kemasan bersih, higenis, dan menarik buat ditenteng. Cara ini menjadi andalan agar meyakinkan bahwa lele buatanya sehat dan bersih. Tidak seperti hal ikan asap dipajang di pinggiran jalan. Cara kemasan juga digunakan untuk membuat tahan lebih lama lagi.

Tempat Makan Mahal Bercita Rasa Seni Tinggi

Profil Pengusaha Dara Setyohadi 


 
Muda dan cantik serta memiliki jiwa seni tinggi. Dara Setyohadi memiliki banyak prestasi. Didukung oleh kreatiftas membawa gadis kelahiran 18 September 1988 ini, memiliki kerajaan bisnis sendiri. Dari bisnis Hyde Restaurant & Bar, Maison Ten- Ichi, ARDS Studio, Gaia Tea & Cakes, dan Y&D Stylist Dinnerware.

Untuk bisnis terakhirnya yakni Y&D Stylist Dinnerware memang berbeda. Dia berkolaborasi dengan sang mama, Yulie Nasution Grillion, istri duta besar Paraguay untuk Indonesia. Perempuan cantik anggun bernama lengkap Adindara Jelita Setyohadi ini fokus di bidang interior dan arsitektur.

"Mama bilang, kalau aku udah suka seni sejak kecil," lanjutnya. Sejak TK pun, Dara sudah dikenal jagonya menggambar. Masuk SMA tahun 2006, memilih melanjutkan kuliah ke jurusan seni interior dan arsitektur di Lasalle Collage of the Arts Singapore. Dan tahun 2012 ia sudah menyandang gelar S2 untuk jurusan sama.

Sudah lulus kuliah tinggal bekerja. Dara seharusnya mudah mendapat pekerjaan. Ibu Dara dikenal memiliki perusahaan sendiri. Namun, dia memilih mandiri, wanita yang suka main piano ini memilih bekerja di galeri seni selama dua tahun di Singapore.

Di Indonesia, dia memilih bekerja menjadi pegawai di perusahaan interior. Selama enam bulan, kemudian ia mendapatkan proyek sendiri berbekal pengalaman dan kecerdasan. Kreatifitas mendorong dia membuka satu usaha yang sama dengan milik mama.

Selain bekerja Dara dikenal sebagai pemain piano. Tidak sekedar hobi tetapi dilanjutkan mengikuti aneka kejuaraan. Dia mendapatkan nilai tertinggi buat konser piano Yamaha tahun 2000, 2002, 2004, dan 2005.

Bisnis bersama


Dia tidak suka bekerja sendiri. Ia mengajak teman mengerjakan proyek. Termasuk bekerja sama dengan mama sendiri. "Aku banyak belajar bisnis dari mama, jadi kenapa aku enggak coba berpatner sama mama," jelasnya.

Karena passion mereka sama di bidang desain painting. Jadilah bisnis bernama Y&D Stylist Dinnerware, membuat desain buat tempat teh, kopi, atau perlengakapan makan ekslusip. Mereka pun memecahkan satu rekor MURI yakni "Kolaborasi Pertama di Indonesia Antara Ibu & Anak di Atas Porceline", sebuah karya seni.

Selain bisnis Y&D Stylist Dinnerware, dia bersama beberapa teman membuka usaha bernama Hyde. Yang mana menjadi tempat nongkrong keren menyalurkan kreatifitas.

Untuk bisnis kuliner sendiri Dara mengaku cukup kesulitan. Sudah berdiri sejak 2013 silam dimana banyak orang bergabung. Banyak karakter bercampur layaknya bumbu. Komplain sudah menjadi biasa, yang dapat dia lakukan cuma merubahnya menjadi bumbu memperbaiki kualitas pelayanan.

"Kadang bisa menimbulkan stress, tetapi ketika itu berhasil menjadi kepuasaan tersendiri," ujarnya merujuk kepada bisnis Hyde Restaurant and Bar.

Menjadi pemilik usaha maka lingkungan dibuatnya senyaman mungkin. Bukan cuma buat dirinya tetapi juga bagi karyawan. Wanita penggemar lukis ini sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Baginya mereka merupakan pilar bisnis mereka sejak dirintis.

Dara cuma mau apa adanya. Harus fleksibel soal bagaimana memanajeri karyawan. Ia melanjutkan bahwa ini merupakan bisns kreatif tidak bisa saklek. Dia harus memiliki komunikasi dua arah.

Selain dua bisnis diatas juga ada Yulindra Gallery. Menampilkan hasil painting dia keseluruhan. Salah satu proyek terbaik Dara adalah melukis tas Harmez bersama mama. Dia sendiri diminta langsung oleh rumah mode Lotuz bersama @hunt_street. Tujuan awal proyek tas Harmez ini sendiri adalah untuk acara lelang amal.

Bukan perkara mudah lantaran medianya kulit. Apalagi kulitnya hitam tidak mudah menempelkan warna. Dia kemudian mempostingkan itu ke Instagram. Alhasil selepas acara Dara mendapatkan banyak orderan. Dia sendiri tidak dapat menolak karena mereka orang dekat.

Keduanya benar mengambil rasiko. Bayangkan tas Harmez harganya mencapai ratusan juta. Soal melukis di kulit keduanya sempat berlatih dulu.

Bisnis ekonomi kreatif


Yuli, sang mama, dan Dara sudah dikenal sukses melukis porselin. Dimana kita tau mereka melukis di atas media keramik. Bedanya sekarang, mereka melukis di atas Hermes Birkin, yang mana itu merupakan wujud dari kelas pemiliknya. Harga tas ratusan juta sempat membuat keduanya nerves buat melanjutkan melukis.

Disisi lain, Dara bersemangat apalagi 100 persen hasil lelang akan disumbangkan ke Sampoerna Foundation, yang mana akan digunakan buat anak- anak Indonesia. Dia bersemangat karena belum pernah melukis seperti ini sebelumnya. "...saya cukup puas dengan hasilnya. Semoga banyak yang suka," tutur Dara.

Mereka melukis bunga tulip, mawar, dan jasmin, yang warnanya menonjol dan memiliki gradasi sempurna dengan latar belakang kulit hitam. Harga lelang di Gala Fashion Show tanggal 22 Maret 2016 mencapai nilai Rp.260 juta atau dua kali lipat dari harga sebenarnya.

Pengusaha cantik ini mengendalkan jiwa seni tinggi. Yuliandra Gallery memajang peralatan makan dengan seni lukis diatas. Produknya memang bertaruh pada nilai artistik. Yuliandra memproduksi berdasarkan tema, sebut saja bunga tulip atau Blooming Blossom, lalu ada tema bunga jasmin.

Dia bekerja sebagai Painting Artist dan Art Director di usaha sang mama ini. Dia bertanggung jawab atas hal desain buatan tangan. Inilah kenapa terlihat ekslusip diburu kolektor. Bahan baku juga dibuat khusus jadilah ini tidak cuma melukis diatas benda.

Sebut saja Yuliandra pernah menerbitkan koleksi ke- 3 menggunakan bahan bone china. Peralatan makan ini disebutkan Dara menggunakan teman jasmin. Tidak cuma mendesain ataupun dilukiskan. Dara dan usahanya juga memberikan kesempatan buat menatakan ruang pembeli. Tujuannya agar selaras dengan dinnerware karyanya.

Bone china merupakan sebutan bahan. Katanya lebih baik dibanding keramik ataupun porselin. Bahan yang ringan tetapi tidak mudah pecah -jika tidak dibanting. Harga per- set dinnerware naik sampai Rp.1.500.000 per- set. Butuh waktu 4- 5 bulan untuk membuat satu setnya. Sedangkan porselin dibutuhkan 2- 3 bulanan.

Agar pembeli lebih tertarik ada kekhususan. Dia mengaku per- tema cuma akan dibuat tidak lebih dari 1.000 buah. Sebagai pengusaha muda, tidak sekedar khusus orang tertentu, dia memiliki hasrat agar lebih banyak orang memakai. Itulah ada lini ke dua, satu usaha fokus memproduksi besar- besaran buat masyarakat.

Meski berarti bersaing dengan produsen masif peralatan makan umum, tidak takut Dara buat hadapinya. Dia yakin karya miliknya cocok buat mereka pecinta seni. Dia fokus di barang yang tidak ada duanya di pasaran. Berkat visi dan ambisinya mulai banyak pihak hotel dan restoran tertarik akan karya Dara, mulai piring,cangkir teh dan kopi.

Inspirasi Mengajari Anak Sholat Berbuah Bisnis

Profil Pengusaha Nenden Nurjanah



Inspirasi mengajarkan anak sholat berbuah manis. Dari sekedar ide dadakan berubah menjadi bisnis sukses. Inilah kisah Nenden Nurjanah (29 tahun), pengusaha pembuat sajadah khusus anak. Sajadah lucu dibuat khusus agar anak tertarik mau sholat. Warna- warna ngejreng menunjukan keceriaan sesuai dunia anak kita.

Meninggalkan bisnis semula mereka yakni pembuatan boneka. Berawal dari usaha milik keluarga bernama Panda Berdikari sejak 1982. Yang semenjak tahun 2005 mulai bergeser ke boneka peraga, khusus anak usia dini PAUD dan TK. Hingga tahun 2009 sepenuhnya berbisnis sajadah sampai sekarang.

Permintaan boneka menurun menjadi alasan lain. Berbekal bahan membuat boneka yaitu bahan katun serta diadora. Jadilah Nenden membuat aneka sajadah bermotif lucu. Sajadah bermotif kartun Thomas Kereta Api, Cars, Upin & Ipin, Angry Bird, serta motif buatan sendiri baik bertema binatang, tanaman, atau alat transportasi.

Total ada 40 motif diedarkan ke pasaran. Nenden dibantu delapan bekerja dan bertambah jika masuk empat bulan sebelum Lebaran.

Bisnis mengajar


Usaha bernama Nafeesa Kids ini bukanlah tanpa hambatan. Nenden sendiri mengaku tidak bisa jahit. Lalu dia mengajak sang suami bersama memulai dari nol. Dengan meminjam pegawai usaha keluarga, Nenden bersemangat menyambut pagi. Sang suami sendiri ikut membantu desain dan memproduksi.

Perempuan asli Bandung ini memang menyukai dunia anak. Sebagai pengajar baginya mengajak anak buat sholat harus sejak dini. Melalu bisnis ini dijadikan cara terbaik mengajar anak. Harga sajadah dibandrol itu seharga Rp.80 ribu sampai Rp.100 ribu.

Adapula berbentuk paket sajadah dan sarung seharga Rp.150 ribu. Kemudian adapula satu paket sajadah dan juga mukena seharga Rp.220 ribu.

Dia mengajak keluarga. Dibantu adik memasarkan produk ke berbagai penjuru. Untuk pemasaran utama dia fokus menggunakan sosial media, seperti Facebook, Twitter, WeChat, dan BlackBerry Messanger. Melalui pemasaran jejering sosial produknya menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Tidak cuma disitu, dia juga merambah pasar luar negeri, utamanya pasar negara tetangga Malaysia. Meski sudah tersebar masih belum puas. Nenden mengakui penyebaran produk Nafeesa Kids masih belum merata. Dia sekarang ini lebih fokus ke membenahi sistem ditribusi agar produk sajadahnya merata.

Kunci sukses pengusaha ibu dua anak ini. Dia menyebutkan ada di kualitas produk. Menomor satukan soal kualitas produk memang wajib. Baginya konsumen tidak boleh kecewa begitu menerima barang. Kunci ini dibawa sampai sekarang dia menghasilkan omzet puluhan juta.

Bayangkan di bulan Ramadhan menghasilkan Rp.90 juta sebulan itu. Sedangkan buat sehari- hari, Nenden mampu mengais omzet Rp.40 juta sampai Rp.50 juta. Dimana dia mengaku margin keuntungan mencapai angka 50% atau Rp.20- 45 juta per- bulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba