Pembuat Mainan TK PAUD Pengusaha Fiber

Profil Pengusaha Sukses Sugiono


pengusahafiber.png

Pengusaha fiber tersebut bernama Sugiono. Hanya pembuat mainan TK PAUD, namun ia layak kita beri apresiasi. Sosok seorang manusia biasa yang beradu nasib berwirausaha. Setamat sekolah STM di Blora, dia pindah ke Solo dan bekerja serabutan. 
 
Mulai berjualan cilok, roti terang bulan, serta pekerjaan lainnya berkeliling kampung. Ide bisnis muncul ketika bersentuhan langsung dengan anak- anak. Bermodal ijasah STM -nya, Sugiono lantas melamar kerja ke sebuah perusahaan mainan elektronik.
 

Pengusaha Mainan PAUD


Cuma bekerja delapan bulan hingga mengantungi Rp.1 juta. Uang tersebut lantas digunakan untuk memulai usaha utamanya. Modal Rp.1 juta dijadikan produk papan seluncur anak TK. Ia cukup mencari tukang fiber yang biasanya digaji Rp.17.000 per- hari. Tidak mau setengah dikeluarkan uang Rp.45.000 per- hari. Inilah bukti bakat berbisnis seorang Sugiono terlihat.

Jadilah bisnis mainan anak ini berkembang. Semakin banyak pesanan, dirinya semakin percaya diri akan arah usaha kedepan. Meski begitu usaha barunya tidak begitu efektif. Usaha yang dimulai sejak 2004 ini cuma bermodal marketing door- to- door dari Pedan, Kelaten. 
 
Perlu usaha keras ekstra memang buat mainan fibernya laku tinggi. Akhirnya, Sugiono masuk ke ranah iklan di Internet, memanfaatkan berbagai situs iklan gratis.

Usaha tersebut berhasil membawakan pesanan besar. Suatu hari, dia ditelepon oleh sesorang asal Meulaboh, Aceh. Kala itu tengah diadakan proyek pembangunan playground pasca gelombang Tsunami. 
 
Semua untuk anak- anak Aceh yang tengah dirundung duka. "Itu pesanan pertama saya yang bernilai besar," kenangnya.

Semenjak itu pesanan datang tidak terbendung. Seperti pesanan dari Kota Bogor berupa 200 unit perahu bebek. Belum lagi pesanan dari Pantai Benter Purbalingga, Selecta Malang, hingga Sindrap Sulawesi. 
 
Ia juga mendapatkan pesanan dari mal- mal di kota- kota kecil. Mereka memesan kereta- kerat apian kecil beserta relnya dan paket wahana playground. Menjamurnya water park atau water boom di daerah, ternyata menimbulkan fenomena menarik. 
 
Orang pikir mereka adalah hasil buah karya orang Jakarta. Padahal kenyataanya tidak seperti pikiran kita. Siapa sangka bahwa beberapa wahana di Solo adalah hasil karya seniman lokal. Mereka merupakan pengusaha sekitar salah satunya adalah Sugiono.

"Ada orang Solo mencari pembuatnya ke Jakarta. Justru saat itu orang Jakarta sendiri yang memberi tahu bahwa mereka juga memesan dari Solo," ucap pemilik Rumah Fiber ini.

Tujuh tahun sudah sosoknya bermain di bisnis fiber. Sudah tidak terhitung berapa karyanya memanjakan kita dan anak kita. Fokusnya kini mengerjakan aneka pesanan water park. Nama Sugiono di Solo memang tidak begitu dikenal tetapi tidak di Jepara, Colomadu, Tasikmadu, dan Kudus. Dia lah sosok dibalik wahana air di kawasan tersebut.

"Sekarang saya sedang mengerjakan water park di Taman Puncak Sindrap, Sulawesi." tutunya kepada Solo Pos. Selain itu, usaha Rumah Fiber miliknya juga masih fokus mengerjakan yang kecil- kecil. Yang terbaru ia mengerjakan pesanan bak sampah pemerintah daerah dan perusahaan.

Juga termasuk mengerjakan wahanan mainan koin. Itu loh yang sering kita lihat dibeberapa mal ataupun di minimarket. Belum lagi pesanan buat taman kanak- kanak. Tidak terbayang sibuknya si mantan penjual cilok ini sekarang. 
 
Kalau memesan sekarang sudah dipastikan menunggu. Karena Rumah Fiber punya begitu banyak pesanan diterima. Sugiyono sendiri bukan karakter bekerja muluk- muluk. Pencapaian sekarang disukurinya karena memang masih buatan tangan. 
 
Pembuatan dan finishing menggunakan tangan menjadi andalan. Mungkin lebih berseni dibanding hasil karya perusahaan produksi masal.

Usaha Konveksi Mahasiswa Modal Kartu Sakti

Profil Pengusaha Fadliansyah Nasution


usahakonveksi.png
  
Membayangkan usaha konveksi mahasiswa. Mau modal apa? Kisah pengusaha muda kelahiran Medan, 21 Februari 1989, yang mana usahanya dibidang konveksi dan fotografi. Menjadi wirausahawan muda memang selalu membawa kisah menarik ditiru. 
 
Alkisah, di suatu hari, Fadli mulai menuturkan pengalamannya kepada Koran Sindo Medan. Ia bercerita awal mula masuk ke dunia ini. Dimulai dari mengkover pesanan baju seragam sekolah di SMA 1 Rantauprapat tahun 2006 lalu.
 

Usaha Modal Kartu Mahasiswa


Fadli belum berpikir jauh untuk memulai usaha sendiri. Dia masih fokus mengerjakan kuliahnya apalagi masih semester pertama. Memasuki semester tiga, barulah Fadli merasakan panggilan berwirausaha kembali. 
 
Tepat di tahun 2008, mahasiswa semester tiga Ilmu Komputer Universitas Sumatra Utara ini memulai, dimana ia memulai lewat usaha pembuatan baju. Awal sekali bahkan usahanya tanpa modal. Fadli mengkisahkan cuma bermodal kartu mahasiswa. 
 
Dirinya bisa masuk ke dunia konveksi. "Kebetulan, adik saya kuliah di Bogor, dekat dengan Bandung. Jadi, saya mulai kepikiran, kenapa enggak saya memulai usaha sendiri?," jelas Fadli. 
 
Nah, disanalah ia mulai akali itu, memberikan pesanan pembuatan baju seragam sekolah. Bermodal kepercayaan itulah semua usahanya akan dimulai. Dia menggunakan model pembayaran dimuka dan ditambah kartu mahasiswa. 
 
Ia menjelaskan kembali, "jadi, saya bisa minta tolong dengan adik saya untuk buat baju di Bandung." Sukses mendapatkan pesanan dari dua sekolah, uang untung tidak dipakai buat kepentingan pribadi. Fadli memilih memutar modal kembali. Modal digunakan untuk membuat aneka baju selanjutnya.

"Niatnya untuk menambah uang jajan kuliah, saya musti jemput bola ke sekolah- sekolah," jelasnya kepada Okezone.com. Ia sadar akan batasan usahanya tersebut. Usaha yang bernama FAN (Focus and Network) ini memilih digerakan dari sekolah- ke sekolah. 
 
Hingga, tahun 2010, ia membuka usaha baru yakni dibidang fotografi. Sasaran utama adalah foto pre- wedding dan wedding.

"Selain itu juga menerima percetakan spanduk dan brosur," akunya.

Di tahun 2010, dia mengajak teman- teman bergabung mengerjakan usaha. Namun, sayangnya, usaha milik mereka malah kandas ditengah jalan.

Usaha bersama itu sempat jatuh bangun dan akhirnya kandas. Tetapi keadaan tidak lantas membuatnya jatuh terpuruk. Ia masih bersemangat membangun usaha itu kembali. "Saya kan masih punya simpanan hasil usaha saya yang lama," ujar Fadli. 
 
Dia pun gunakan untuk membuat usaha baru dan brand baru. Ia juga mulai aktif meningkatkan kualitas layanan. Kalau dulu konsep bisnis business- to- costumer, kini, pengusaha muda ini memilih business- to- business dan hasilnya mengejutkan. 
 
Fadli menemukan titik terang lewat konsep B2B ini. Pesanan menjadi semakin banyak saja berdatangan. Bahkan beberapa perusahaan besar di Medan memesan kepadanya. Tidak cuma dalam kota, tetapi bahkan Aceh, Kalimantan, dan lain-lain, ikut memesan. Perbulan FAN miliknya menerima 500- 1000 potong.

Berkat itula omzet usahanya juga naik mencapai puluhan juta. Sukses dalam berbisnis, ternyata, Fadli juga adalah seorang kepala sekolah loh. Dia kepala sekolah SMK Islamic Technology Mariana AL Hidayah. Ia mengaku meski sibuk tetapi FAN selalu menjaga kualitas. 
 
Fadli bahkan rela mengawasi sendiri disela- sela kesibukan. Ia juga rela menjemput bola menawarkan ke aneka instansi.

"Kalau sudah begitu, kita enggak akan takut dengan persaingan, karena orang akan percaya dengan produk yang kita buat," tutup presiden chapter wirausaha mandiri di Sumut ini.

Pengusaha Laundry 24 Jam Strategi Pengalaman

Profil Pengusaha Kukuh Ginanjar


laundry24jam.png

Menjadi pengusaha laundry 24 jam. Kisah Kukuh Ginanjar belajar melalui pengalaman orang lain. Ia menjadikan pengalaman sebagai senjata.  Pengusaha muda jasa cuci asal Bandung ini masuk dikala tidak tepat. Pasalnya usaha laundry sudah menjamur ketika dirinya memulai. 
 
Kukuh lantas rela jauh- jauh mempelajari pasarnya ke Yogyakarta. Dari sana strategi bisnis pun ditemukannya yakni memberi garansi. Tetapi bukan garansi biasa karena ia menjanjikan garansi setrika pakian satu hari jadi.

Pengusaha Laundry

 
Kukuh pelajari betul seluk- beluk usaha laundry di Yogyakarta. Strategi pengalaman orang tersebut memang unik Cara unik tersebut ternyata efektif apalagi di Bandung belum begitu ramai. Pengunjung berdatangan meminta dia cucikan langsung ketika mendengar.

"Saat itu, di daerah kampus memang sudah ada laundry, tapi banyak yang mengeluh soal pelayanannya," kata Kukuh kepada Republika.

Kukuh mahasiswa Semester tiga STT Telkom Bandung, Jawa Barat, ini membuktikan. Kamu perlu banyak mengamati sebelum memulai berbisnis. Agar tidak mengecewakan pelanggan maka muncul ide kuota. 
 
Inilah cara lain Kukuh mengakali menumpuknya pesanan pasca marketing. Jika sudah melebih kuota maka dengan sangat terpaksa ditolak.

Dalam tempo sebulan usahanya menjaring dua ton pakaian kotor. Pemuda asal Klaten ini mengaku semua itu bermodal pas- pasan. Modal awal seorang Kukuh cukup 300 ribu di kantong. 
 
Tekatnya bulat memulai satu usaha sendiri. Ia menyisihkan 200 ribua buat sewa tempat. Sisa uang kemudian digunakan sebagai biaya buat promosi mulai spanduk dan lain- lain.

Kalau peralatan?

Ia ternyata punya cara tersendiri. Dia rajin menemui teman- teman menawarkan satu proposal bisnis. Berkat keahlian melobi Kuku bisa mendapat Rp.5 juta. Uang patungan tersebut barulah digunakan sebagai modal buat peralatan. 
 
Memang sedari dulu dirinya dikenal sebagai pengusaha. Jiwa entrepreneurship terasah oleh pengalaman mulai dari usaha pulsa, donat, kaus, hingga susu murni.

"Saya sadar sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana mau tak mau harus kreatif mencari tambahan biaya," tutur Kukuh.

Bisnis Laundry 24 Jam


Ia sendiri tidak sebebas kita. Meski begitu bisnisnya tetap melejit sambil menjalankan ikatan dinas. Ya, betul, dia kala itu tengah menempuh pendidikan ikatan dinas, dan ini memberinya bebas biaya kuliah. Akan tetapi ayahnya yang cuma guru SD tidak memberi banyak. 
 
Alhasil, Kukuh tetap banting tulang mencari tambahan untuk hidup di negeri rantau. Sang ayah beristri ibu rumah tangga biasa dan memiliki empat orang anak. Kukuh sadar merasakan betul kekurangannya dalam keuangan.

Keprihatinan membawa dia serius menjalankan bisnis. Dalam waktu lima tahun, Waroenk Laundry mampu melebarkan sayap ke berbagai wilayah. Cabang tersebar dari Sumedang, Jombang, Bangka Belitung, dan juga Palembang. 
 
Tarif laundry cukup Rp.5000 per- kilo untuk mahasiswa. Untuk umum Rp.6000 saja tidak terlalu jauh. Sistem komputerisasi mempermudah jalannya perusahaan milik Kukuh ini.

Sistem komputer termasuk dalam hal pelayanan. Sistem pengecekan via SMS bisa langsung diterima oleh administari sejak diterima dan proses packing. Ini memungkinkan pelanggan memantau cucian setiap saat lewat sistem notifikasi. 
 
Orang tidak perlu bolak- balik datang mengecek cucian. Lain fungsi, sistem ini juga berlaku dalam pengawasan pegawai di tempat kerja.

Menerapkan banyak strategi dan model manajemen membuat Kukuh yakin. Ia meyakinkan bahwa usahanya ini akan berkembang bagus, dan terbukti. "Kami siap menjadi barometer laundry Indonesia," tuturnya.

Lantas bagaimana strategi marketing mumpuni. Maka, Kukuh memperkenalkan konsep bisnis 24 jam. Ini menjadi yang pertama buat bisnis laundry Indonesia. Dia juga menggalang konsep go green melalui produk detergen ramah lingkungan. 
 
Waroenk Laundry tidak pula menyediakan pembungkus plastik. Tidak cuma itu ternyata, soal limbah pun sudah Kukuh pikirkan, dimana melakukan proses filterisasi ketika menggunakan air. Promosi lewat SMS dikembangkan olehnya. 
 
Ia lantas menawarkan menyisihkan Rp.100,- untuk yang tidak mampu. Terakhir adalah menawarkan konsep kemitraan alias waralaba. Kukuh menawarkan paket investasi Rp.49 juta paket mini. Paket standarnya senilai Rp.79 juta dan medium Rp.107 juta. 
 
Untuk perbedaan itu terletak dijumlah mesin cuci dan pengering. Jika paket mini satu mesin cuci dan dua pengering, paket standar dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Ia menambahkan paket renovasi tempat, komputer, training karyawan, dan furnitur. 
 

Strategi Bisnis Laundry

 
Di luar investasi tersebut buat kamu yang tambahan Rp.6 juta sebagai biaya pengiriman. Asumsi balik modal jika semuanya terpenuhi adalah enam bulan sampai 11 bulan.

"Tarif terjangkau menjadi kelebihan kami," paparnya.

Sukses berbisnis waralaba membawa Kukuh jauh melompat. Bayangkan pemuda 25 tahun ini sekarang bisa membuka banyak cabang dan terakhir membuka anak perusahaan. 
 
"Waroenk Laundry menawarkan sistem waralaba agar jangkauan outlet dapat merambah ke berbagai pelosok," ujarnya. Lompatan itu tidak serta- merta membuat hatinya sombong.

Dia bahkan menyempatkan mengerjakan pesanan alamemeternya. Pria yang juga lulusan SMAN 1 Klaten ini, dipercaya mencucikan pakaian mahasiswa di asrama. Total 4.000 pakain kotor mahasiswa dari 16 tower dipegangnya sendiri. 
 
Kembali ke anak usaha, masih berhubungan dengan bisnis utamanya, ia membuka satu usaha kebutuhan laundry berupa diterjen dan pewangi. Anak perusahaan kedua menjual alat- alat cuci, seperti mesin cuci dan pengering. 
 
Buat kamu konsumen bisa melihat di www.pusatlaundry.com dan www.bospengering.com. Usaha lain yakni menciptakan alat konverter mengurangi daya mesin 2.200 watt menjadi 150 watt. Ide mendirikan perusahaan dimulai saat dirinya pernah ditipu oleh suplier mesin cuci dan pengering. 
 
Ia kehilangan 30 juta tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Saya hanya mendapatkan alat- alat kualitas rendah," sebut finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini.

Menjadi pengusaha muda bukan perkara mudah. Ia sempat ditentang ayah dan ibunya. Berbekal ilmu kuliah dari satu kampus terkenal, harapan mereka Kukuh menjadi pegawai perusahaan bonafit. Apalagi sosok sang kakak adalah dokter lulusan UGM.

Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin Pengusaha

Profil Pengusaha Mochammad Nur Arifin


biografibupati.png
 
Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin. Siapakah dia merupakan pengusaha muda menginspirasi masyarakat. Hanya usaha sepele tetapi ternyata menghasilkan miliaran.  Anak muda satu ini tidak pernah malu berjualan panci.
 
Karena dalam benaknya, ini bisnis spektakuler yang patut dia coba. Meski merupakan bisnis keluarga sering memberikan rasa tidak nyaman. Mochammad Nur Arifin, pemuda kelahiran 1990, yang kini menjadi Wakil Direktur UD Cipta Karya Abadi. 
 
Selain itu dia juga dikenal sebagai komisaris MG Corporation dan PT. Karya Mugi Sentoso.
 

Bisnis Panci


Dia merupakan pewaris usaha keluarga. Ia sendiri punya visi memajukan usaha keluarga tersebut. Meski pun gempuran produk China menggempur, usaha pembuatan panci tetap mengepul. Justru masuknya produk dari China malah membuatnya semakin semangat. 
 
Pemilik usaha UD Cipta Karya Abadi ini, mengatakan potensi masih terbuka lebar.

"Dari permintaan sebanyak 30.000 unit, kami hanya sanggup memenuhi sekitar 21.000 unit perbulan," ujar pria yang akrab disapa Avin ini. Permintaan kitchen set menjadi paling tinggi. Terutama, Avin menjelaskan untuk produk khusus panci.

Produk bermerek CKA, diklaim Avin, telah menguasai pasar Pulau Jawa. Bahkan menurutnya lagi share marketnya mencapai 65% panci. Atau, 65% panci di rumah- rumah sekarang merupakan buah karya perusahaan miliknya. Usaha yang dirintis oleh Alamarhum Mugianto. 
 
Dimana sang ayah memulai sejak tahun 1990 -an yang awalnya cuma distributor panci. Sejak 2007, setelah sang ayah meniggal, usaha ini lantas berubah.

Fokus usaha berubah bagaimana caranya memproduksi panci. Berekspansi lewat pembukaan pabrik wajan cor alumunium. Sosok ibu menjadi pengambil alih nahkoda dibantu Avin dan dua adiknya. Mereka bersama bisa mempertahankan eksistensi usaha panci tersebut. 
 
Mereka memanfaatkan berbagai macam rongsokan alumunium untuk dijadikan panci. Itu kejelian seorang Avin cepat berekspansi menguasai dua kota disekitar. Dari sanalah sampai berdiri dua pabrik di kawasan Jawa Timur, yakni Mojokerto dan Trenggalek. 
 
Avin juga menambahkan pabrik di Mojokerto menghasilkan 6.000 unit. Sementara itu di Trenggalek bisa menghasilkan lebih besar yakni 15.000 unit. Dua pabrik tersebut bukan sekedar memproduksi panci loh. Ia memplot dua pabrik tersebut juga menjadi tempat pengolahan alumunium.

Usaha pembuatan panci yang dianggap sepele itu menjadi "wah". Kini, Avin sudah memiliki 2.000 orang karyawan yang tersebar di 22 cabang seluruh Indonesia. Ia dibantu oleh 1.500 karyawan untuk sales. 
 
Avin mampu menjual wajan alumunium ke seluruh penjuru Indonesia. Model bisnis direct selling, setiap cabang itu ditergetkan menjual 1.000 panci. Metode marketing langsung tersebut terbukti ampuh, apalagi ada stimulus bonus.

"Melalui metode ini, kami tetap bisa melakukan produksi sebagai stok yang untuk sewaktu- waktu bisa dipasarkan" imbuh Pengusaha muda.

Batang alumunium rongsokan cukup dicor diatas 2000 derajat. Dari sana lah, Avin mampu mencetak ratusan unit panci dari sana. Selepas benar cair, cairan langsung dituangkan ke cetakan panci berbahan baja. Panci tersebut lantas dihaluskan agar rapih. 
 
Proses terakhir jelasnya ialah finishing atau dipercantik agar terlihat wajan sempurna. "Pengawasan berupa QC diperlukan agar aluminium yang berhasil dicetak dalam menghasilkan produk berkualitas," tutur pemuda yang kini juga pengusaha properti dan Bupati Trenggalek ini.

Penulis Pengusaha Keripik Singkong Gadung

Profil Pengusaha Siti Maria Ghozali 


penulispengusaha.png

Penulis pengusaha keripik singkong gadung. Penulis bernama Siti Maria Ghozali tidak familiar di telinga. Atau, kamu akan lebih kenal nama penanya Maria Bo Niok. Meski kamu tidak mengenalnya, penulis meyakinkan dia adalah sosok wanita hebat. 
 
Dia dikenal oleh kalangan aktifis sebagai wanita vokal. Khususnya menyuarakan hak buruh migran wanita di Hong Kong. Wanita berumur 40 tahun, seorang novelis, hal lain adalah dia seorang pengusaha wanita asal Wonosobo.
 

Menjadi Penulis dan Pengusaha


Mari telah menulis sejak 2002, ketika dia tinggal di Hong Kong. Seorang teman mailist menyadarkan dirinya menulis merupakan bakatnya. Sosok teman itu selalu mendukung, menyemangati, bahkan seolah menjadi guru jarak jauh Mari. 
 
Hasilnya ia telah menulis tidak kurang dari 20 judul cerita pendek. Dan kebanyakan dipublikasikan oleh tiga majalah Indonesia yang diterbitkan di Hong Kong.

Tiga majalah yang dikhususkan untuk buruh migran, seperti Intermezo, Berita Indonesia, dan Rose Mawar. Kebanyakan ceritanya tidak jauh dari pengalaman pribadi. A Ne Ge , contohnya, merupakan cerita pendek tentang kehidupan buruh migran Hong Kong. 
 
Utamanya bagaimana kesulitannya mereka berkomunikasi satu sama lain.

"Mereka menggunakan tiga kata A, Ne, Ge yang menjelaskan 1001 kosa kata dengan pekerja migran," tuturnya.

Karya lainnya meliputi Embun Pagi di Hong Kong (A Morning Dew in Hong Kong), Desah Keluh Pejuang Devisa (Grievance by Foreign Exchange Fighters), Batik, dan Kelobot Tembakau Kasih (Love of Klobot Cigarette).

Sekembalinya ke Indonesia, Maria memutuskan tidak kembali ke Hong Kong. Tepatnya waktu itu, tahun 2004, dia kembali ke kampunya di desa Pasunten, Lipursari, Wonosobo Jawa Tengah. Disana pula ia bisa menemukan cara lain untuk hidup. 
 
"Saya tidak mau jauh dari anak- anak saya lagi," jelasnya kepada pewarta the Jakarta Post. Ibu enam anak ini memiliki jiwa entrepreneurship. Inilah yang coba dituangkannya selepas di Indonesia.
 
Lahir dari keluarga sederhana pasangan Siti Ngaisah dan Muhammad Ghozali, Maria membuktikan dirinya merupakan sosok tangguh. Dia menjalankan bisnis kecil- kecilan di 2004 yakni sebuah wartel. Dia juga jadi guru bahasa Kanton di sekolah lokal. 
 
Untuk tambahan dia (saat menjadi migran) juga pernah belajar Kanton di Abraham Collage di Hong Kong. Dia masih sempat menulis novel Ranting Sakura Dalam Bingkai Abstrak. Sambil menunggu kembalinya ke perusahaan penerbit. 
 
"Saya selesai menulis dalam sembilan bulan tetapi ide telah ada selama empat tahun. Beberapa cerita dalam novel berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa yang lain dari teman-teman saya," kata Maria.

Pengusaha Keripik Singkong Gadung

 
Umur 12 tahun, Maria pergi dari rumah kedua orang tuanya, ke Bandung bekerja menjadi pembantu. "Saya harus pergi dari rumah karena saya harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu buat saya bermain," pungkasnya. 
 
Tetapi kemudian ketika diperjalanan, hidup merantau jauh dari orang tua justru malah membuatnya kesepian. Dia dibayar kecil dari pekerjaanya di Bantung. Selepas dua bulan malah pulang ke rumah.

Sekembalinya, ia bersekolah kembali hingga lulus sekolah menengah atas. Dia lantas dinikahkan diumur 17 tahun. Untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa dilakukan adalah menjual burung di pasar. 
 
Suatu hari pasar tradisional Wonosobo tersebut terbakar habis -membawa semua barang dagangan. Api besar menghanguskan segala modal Maria. Tetapi yang terberat adalah ketika itu membuatnya harus bercerai.

Tidak cuma bercerai tetapi ia (sang suami) meninggalkan hutang menumpuk.

Itulah Maria memilih menjadi buruh migran di negara orang. Dia meninggalkan anaknya kepada keluarga. Ia mempunya lima orang anak. Dimana yang termuda masih bayi empat bulan, dimana Maria meminta bantuan seorang babysitter untuk menjaganya di Jakarta. 
 
Pergi jauh dari orang tuanya membuatnya menjadi sedih, bosan, dan kesepian. Menulis merupakan bentuk penyaluran luapan tersebut.

Hingga, suatu hari di 2002, dia bertemu sosok Stevi Yean Marie, seorang penulis puisi asal Yogyakarta. Dimana semenjak itu ia menjadi guru Maria Bo Niok secara online.

"Dia adalah orang yang menemukan bakat menulis saya. Dia selalu berani mengoreksi saya ketika saya membuat kesalahan," kata Maria.
 
Setahun sudah Maria mendapatkan pelatihan wirausaha. Pelatihan bagaimana merubah ketela menjadi kripik gadung di Balai Latihan Kerja, Wonosobo. Usaha yang didasari bahwa ketela memang banyak di daerah itu. Maria sendiri langsung mempraktikan pelatihan tersebut. 
 
Prosesnya memang cukup rumit tetapi akhirnya ia bisa. Ia lantas memberi nama usahanya UD Mari. Dia menjadi penulis pengusaha. Keripik ketela rasa gadung lantas dikemas dengan merek. Warga desa Lipursari ini lantas menitipkan produk tersebut menjadi oleh- oleh khas. 

"Banyak toko mau menerima keripik buatan saya," ujarnya bangga. Kian lama usahanya semakin berkembang. Bahkan keripik gadung Mari sudah tersedia di toko oleh- oleh dan juga supermarket. Ia tak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Usaha keripik tersebut lantas dibantu 4 orang karyawan.

"Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela," celetuknya. Jikalau kurang pun, ia bisa membeli dari desa lain. Perbulan usaha UD Mari memproduksi satu ton ketela. Usahanya ternyata bisa menjadi rezeki buat warga sekitar. 
 
Pasalnya dia mengajak warga memasok bahan ketela siap masak. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan, ia bahkan berani membeli seharga Rp.1.500 per kilo. Harga normal ketela di daerahnya Rp.200 per- kilo. Maria memberikan nilai lebih bagi petani di kampunya. 
 
Alhasil usahanya terus tumbuh sebagai jawaban kebaikan hati Maria. Harga jual dari keripik rasa gadung adalah Rp.45 ribu. Memang relatif mahal diakuinya dibanding produksi rumahan lain. Ia meyakinkan produk UD Maria benar- benar berkualitas. 
 
Mereka sendiri tidak saling bersaing karena sudah punya pelanggan. Meski sederhana Maria senang usahanya berjalan. Dia bahkan sudah siap berjualan lewat Facebook. Lewat nama Mari Singkong Rasa Gadung. Disela- sela berbisnis sendiri Maria masih aktif menulis. 
 
Selain itu ia juga aktif mengajar anak- anak di kampung. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang gratis buat anak- anak sekitar. Dia sendiri dibantu kawan- kawan soal pengedaan buku.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba