Pengusaha IPB Membuat Boneka Domba Akar Wangi

aProfil Pengusaha Tatang Gunawan 


pengusahaipb.png

Akar wangi dikenal menjadi bahan utama pembuatan minyak. Pengusaha IPB ini membuat boneka akar wangi.  Menurut penelitian Indonesia menempati tiga negera terbesar untuk bahan mentah ini, selain Bourbon dan Haiti. 
 
Di daerah Jawa Barat pada khususnya, tepatnya di daerah Garut, nama Tatang Gunawan tersohor berkat akar wangi.
 

Usaha Boneka Domba


Sejak kuliah dirinya bersama rekan yaitu Larasati Widyaputri, Istiq Farila, dan Ihwan Nul Padli, punya tujuan yakni membangun bisnis hijau sendiri. Lewat green entrepreneurship memanfaatkan sumber daya alam lokal dan akhirnya menemukan akar wangi. 
 
Kesuksesan para alumni mahasiswa pertanian IPB ini, adalah produk bernama Ecodoe. Atau, buat kamu warga Jawa Barat, pasti sudah familiar akan ikon boneka bulu domba wangi ini.

"Produk pertanian tidak selalu identik berkutat dalam hal pangan saja," tuturnya.

Proyek Ecodoe bertujuan mengambangkan budaya lokal. Apa tanaman komoditas pertanian lokal yang bisa menjual. Selain itu disisipi misi- visi menghijaukan. Memang banyak limbah pertanian bisa dikembangkan menjadi aneka kerajinan. 
 
Inovasi dibutuhkan disetiap sentuhan termasuk akar wangi. Oleh Ecodoe, akar wangi akan diangkat menjadi tanaman pertanian produktif.

Jujur Tatang Gunawan tidak sadar akan akar wangi. Dia bahkan tidak tahu akar wangi itu banyak tumbuh di tempat kelahirannya. Ia juga baru tau kalau akar wangi bisa diambil minyaknya. Itupun baru tau ketika sudah masuk jurusan pertanian. 
 
Disaat kuliah di IPB itulah, dia menyadari kalo akar wangi bisa disuling menjadi bahan baku kosmetik, pelumas senjata, obat- obatan, dan lain- lain.

Sayangnya, menurut pendapat Tatang masih sedikit pemrosesan limbahnya. Akar wangi lebih dominan oleh masyarakat disuling minyaknya bukan akarnya. Padahal bau akar wangi masih tersisa meski minyak telah disuling. Ini menggelitik ide bisnis Tatang. 
 
Ia mencoba memanfaatkan konsep zero waste. Artinya tidak ada satupun tersisa dari tanaman ini menjadi limbah. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor memang dikenal kreatif. Terutama mereka soal kewirausahaan membuat produk turunan tani.

"Kami kemudian mengumpulkan bulu domba itu dan mengolahnya menjadi Ecodoe," terangnya.

Dia mencoba mengambil aspek akar wangi segar. Memilik harus yang masih kuat khas dan tahan lama. Ia lantas bertemu tiga sekawan sesama mahasiswa IPB. Bersama mereka kemudian mengkonsep bulu domba dan akar wangi. 
 
Seperti halnya akar wangi, lain hal di negara seperti Australi dan Selandia Baru, Indonesia justru meliha bulu domba menjadi limbah. Padahal senyawa keratin yang ada didalamnya sulit terdegradasi.

Ini akan mencemari lingkuhan loh, jikalau tidak ditanggulangi bisa berbahaya. Dan, seperti hal bisnis online lainnya: Ecodoe mengkonsep matang marketingnya lewat online. Mereka berjualan lewat Facebook dan Instagram. 
 
Mereka juga punya toko online sendiri di www.ecodoe.com. Minim modal itulah kehebatan dari empat sekawan asal IPB ini. Menarik minat pembeli online, menarik investor datang menawarkan kerja sama offline.

Bisnis Ramah Lingkungan

 
Mereka resmi mendirikan toko offline di Bogor. Mereka juga bermitra gerai di SMESCO Jakarta dan juga di Kaliunda Gallery di Bali. Tim Ecodoe menyasar para turis dalam negeri maupun manca negara. Visi dari bisnis mereka pun semakin jelas "menjadi brand green souvenir andalan Indonesia. 
 
Tujuan mereka tidak lain sampai ke manca negara.

"Kami juga ikut bermacam-macam kompetisi bisnis untuk tambah modal, hingga yang kemarin di Singapura. Intinya, masalah modal karena ketidaktahuan jaringan," kata Tatang lagi.

Sempat ditentang orang tua ketika membangun usaha, Tatang dan kawan tidak menyerah. Mereka terus saja membuktikan bahwa peluang bisnis terbuka. Ecodoe bahkan memerkan diri mereka ke orang tua bahwa ini bukan sekedar berwirausaha. 
 
Buktinya ialah mereka bisa memberdayakan peternak asal Wonosobo. Bisa membuka lapangan pekerjaan, belum lagi ibu- ibu pengrajin akar wanginya di Garut.

Untuk pengemasan mereka bekerja sama dengan masyarakat Bogor. Banyak pihak terlibat dalam bisnis ini. Ia meyakinkan bahwa bisnis Ecodoe merupakan bisnis bersama. " Kami making money tak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ada benefit buat masyarakat sekitar," tambahnya.

Hasil karya Ecodoe meliputi bros kupu- kupu seharga Rp.12.000. Kemudian paling mahal yaitu replika dari akar wangi seharga Rp.150.000. Bentuk nan- cantik ditambah wangi khas, membuat souvenir karya mereka begitu digemari. 

Pesanan pun sudah datang merata di kota- kota besar se- Indonesia. Bahkan merambah Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Italia. Tim Ecodoe lewat kerja kerasnya berhasil meraih banyak penghargaan.

Penghargaan meliputi emas dan perak di tahun 2014, untuk prestasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional oleh DIKTI di Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian pernah menjuarai juara 1 Sociopreneur Expo di UIN Syarif Hidayatullah tahun 2014. 
 
Terakhir ini bahkan mereka memenangkan ajang internasional Singapore International Foundation. "Kami akan ekspansi pada beberapa pekan ke depan," tutur Tatang kepada SWA.

Usaha yang dirintis sejak Februari 2014 ini, telah membuktikan ke kita bahwa berwirausaha tidak cuma lah soal berjualan. Tetapi anak muda berwirausaha juga berarti bisa menyelamatkan lingkungan. 
 
"Kami senang tiasa merubah desain agar lebih modern," tambah salah satu anggota Ecodoe, Ihwan Nul Padli mahasiswa dari jurusan peternakan IPB. Nilai ekonomis keduanya bisa diangkat setinggi- tingginya lewat aneka inovasi.

Untuk reseller Ecodoe sendiri masih dalam perencanaan. Banyak tawaran kerja sama yang sayang kalau dilepaskan. "Kami punya cita- cita turis asing yang datang ke Indonesia tak lengkap kalau tidak membawa pulang oleh- oleh dari Ecodoe," tutupnya.

Pengusaha Jaket Kulit Kalong Usaha Selepas PHK

Profil Pengusaha Sutarmanto 


pengusahajaket.png
   
Usaha selepas PHK membuat produk- produk kulit. Sutarmanto pengusaha jaket kulit Kalong. Meski sempat berbisnis donat, nyatanya, Sutarmato lebih asik menggarap bisnis fashion. Utamanya fashion kulit yang sudah dikerjakannya semenjak muda. 
 
Dia dulu pernah bekerja menjadi manajer PPIC sebuah perusahaan kulit asing. Mereka mensuplai aneka produk kulit dunia seperti Pierre Cardin, Tommy Hilfiger, Burton, Harley Davidson, dll.
 

Usaha Selepas PHK


Sayangnya, ketika krisis ekonomi menerpa membuat perusahaan tutup, begitu pula nasib pekerjaannya yang ia banggakan. Tutuplah tumpuan hidup seorang Sutarmato. Bekerja menjadi pegawai puluhan tahun begitu saja hilang. Ia terpaksa menghidupi diri lewat berjualan donat. 
 
Selain itu masih bekerja sana- sini tetapi tidak kunjung memiliki pendapatan tetap. Lalu perusahaan memilih merelokasikan pusatnya ke China.

"Setelah berhenti bekerja, saya sempat jualan donat yang saat itu lagi booming," pungkasnya.

Dia mulai berjualan ke sekolah- sekolah. Namun 2- 3 tahun kemudian mulai turun pendapatan. Apalagi kalau bukan terlalu banyak orang berbisnis sama. Masuk pertengah 2000 nasib baik datang kepadanya. Lewat apa yang pernah dulu dikerjakannya. 
 
Modal awal Rp.24 juta diambil dari dana pensiun. Modal lainnya, ya, pengalaman bekerja dibidang yang sama. Sutarmato membuka usaha kulit sendiri. Produksi awalnya adalah aneka jaket kulit dan celana kulit. 
 
Respon positif didapatnya. Dia mulai menghubungi mantan rekan kerjanya di perusahaan dulu. "Saya menghubungi teman- teman yang dulu sama- sama kerja di pabrik itu dan sedang menganggur," tuturnya. Mereka sepakat membuat kembali produk kulit standar ekspor.
 
Mereka adalah para pemilik keahlian khusus dari tukang potong, tukang pola, tukang jahit, dan lain- lain. Sukses kemudian dipajang lah aneka produk kulit itu di depan ruko kecil ukuran 2x5 meter.  Tempat itulah awal mula berdatangan pesanan aneka produk kulit milik Sutarmato.

Kisah Pengusaha Jaket Kulit


Andalan utama selain kualitas adalah marketing nama Kulit Kalong. Usaha yang terdengar ngejreng kalau kita sandangkan produk sejenis. Pengusaha lokal ini mengaku jaket kulitnya bukan dari kulit kalong loh. Dia mengambil nama tersebut juga bukan tanpa sebat. 
 
Sutarmato beralasan ketika memulai bisnis baru ini, para penjahit harus bekerja keras di malam hari. Mirip binatang kalong yang aktif bekerja ketika malam tiba.

Mereka para kalong bekerja keras tetapi menghasilkan. Hasilnya jaket dan celana kulit kualitas ekspor. Ia juga berani berekspansi lewat aneka produk lain. Semua berdasarkan permintaan pelanggan dari dompet, sepatu, tas, ikat pinggang, sarung tangan, bahkan topi kulit. 
 
Harga dipatok berfariasi sesuai jenis produk yang dibeli. Untuk bahan baku sendiri terbuat dari kulit kambing asli, sapi ataupun kulit domba. Kulit- kulit tersebut disamaknya ke pabrik besar agar terstandar. Dia juga punya suplier kulit dari Bandung, Jawa Barat. 
 
Selain lokal, usaha Kulit Kalong juga mengimpor kecil- kecilan ke Korea Selatan dan Italia. Ia bisa menjual rata- rata 200 item per- outlet. Kalau bicara produk paling dicari, yah apalagi, kalau bukan aneka model jaket kulit. Pelanggan datang dari Bogor, Jakarta, beberapa dari Sumatra dan Kalimantan.

"Biasanya mereka datang langsung," paparnya. 
 
Harga jual jaket kulit mulai Rp.650 ribu- Rp.3 juta, kemudian sepatu kulit Rp.400- Rp.500 ribu, dompet kulit harga Rp.200 ribu- Rp.500 ribu, topi seharga Rp.100 ribu- Rp.250 ribu, ikat pinggang mulai Rp.350 ribu- Rp.600 ribu, tas wanita Rp.700 ribu- Rp.4 juta, dan tas pria Rp.1,5 juta- Rp.3 juta.

Dia juga memanfaatkan internet berjualan secara online. Pembeli pun bisa berkunjung langsung ke tempat dia berjualan. Untuk target pasaran bervariasi menyesuaikan. Kalau remaja menurutnya lebih suka model yang lebih fashionable. 
 
Untuk kalangan pekerja memilih yang terproteksi berkendara, dan kelompok pekerja di kantoran lebih ke semi- jas. Soal kualitas dirinya siap diadu dengan produk sejenis; dibuktikan harga relatif mahal.

Tetapi bukan itupula lah patokannya tetapi nama. Brand Jaket Kulit Kalong sudah tersohor memiliki kualitas lebih baik. Dengan proses pemasakan yang sempurna. Kulit dibuat berdasarkan standar impor bukan cuma lah mengejar pasar lokal. Meski bahannya sama tetapi cara memasaknya sudah bagus.

"Kalau yang murah biasanya dipakai sebulan saja sudah kusut atau menyusut dan bau. Kalau produk kami jaminan tidak bau, tidak luntur, tidak mudah menyusut," ungkap Sutarmoto.

Kendala? Tidak ada, dia merasa mudah saja soal menjalankan bisnis jaket kulit ini, cuma saja tenaga kerja susah didapat. Bayangkan ketika bahan baku mencukupi tetapi penjahit handal jarang. Dia sendiri punya 3 outlet berlokasi di Bogor, Jawa Barat, dibantu 15 orang karyawan. 
 
Sutarmoto sendiri optimis akan kemajuan usaha miliknya. Pasalnya pertumbuhan sepeda motor terus meningkat.

"...orang makin tau kalau pakai jaket kulit asli lebih awet bisa sampai 20 tahun," ujarnya. Dia menambahkan lagi,"kalau sintetis paling 1 tahun."

Ia berharap usaha 13 tahun ini bisa terus berkembang. Sutarmoto berharap jaket kulitnya semakin disukai oleh masyarakat. Soal ekspor masih pada tahapan menjual lewat orang ke ketiga. "Sementara fokus pasar lokal saja," tutupnya.

Website: www.kulitbogor.com

Pengusaha Muda 25 Tahun Berkat Kulit Ikan

Profil Pengusaha Wildan Mathlubi


pengusahamuda.png


Ide bisnis dari pengalaman praktek kerja lapangan (PKL) menjanjikan. Contoh pengusaha muda 25 tahun ini. Kisah sukses Wildan Mathlubi. Dimulai dari kerja praktik di pabrik fillet ikan. Kemudian dia melihat banyak limbah tidak terolah.
 
Ia menemukan bahwa banyak limbah berceceran. Utamanya limbah kulit ikan yang sebenarnya masih bisa diolah. Ide bisnis menggunakan bahan baku kulit ikan muncul.
 

Bisnis Pengusaha Muda


Pengusaha muda 25 tahun ini berkeinginan mengolah kembali limbah kulit ikan. Sejak saat itulah, semenjak bekerja lapangan di pabrik fillet ikan Jakarta pada 2005, putra pasangan H. Tatang Sudrajad dan Sri Halawiyah ini, cukup memanfaatkan kulit ikan terbuang yang mencapai puluhan kilogram.

"Dari yang saya tau, kulit ikan itu mengandung banya protein," jelasnya. Maka terbersitlah ide tersebut ketika dia bekerja disana.

Dimulai ketika dirinya masih sebagai mahasiswa jurusan perikanan IPB. Ia memulai dari level paling bawah. Dimana modal awalnya cuma Rp.200.000 saja. Uang tersebut dibelikan bahan baku kulit ikan patin dan juga ikan kakap dari Muara Angke sebanyak 10 kilogram. 
 
Cuma bermodal peralatan sederhana kemudian dia dan satu orang karyawan sukses. Jadilah olahan kerupuk kulit ikan kaya protein tersebut.

Sasaran utama produk olahanya adalah masyarakat menengah ke bawah. Kerupuk tersebut lantas diberinya nama Willy. Dimana, ia jual seharga Rp.500/bungkus kecil dan Rp.4.500/ons, untuk kemudian dipasarkan ke restoran dan warung- warung makan. 
 
Berkat tempat tinggal yang dekat pasar, yakni Kelurahan Pasir Kuda RT 03 RW 04 Kecamatan, mudahlah Wildan menjual produk unggulannya. Responnya menjadi begitu sangat masif.

CV Usaha Muda miliknya kemudian menjadi Alfa Dinar. Usaha bermodal Rp.200 ribu itu terus mengalirkan keuntungan. Dia menuturkan usahanya mampu memproduksi 4 kuintal kulit ikan patin/bulan, 4 kuintal kulit ikan kakap/bulan, dan 1 kuintal daging ikan/bulan. 
 
Soal omzetnya mencapai melejit sampai Rp.20 juta per- bulan. Ia tidak hanya di Bogor, tetapi meluas sampai Jakarta, Bandung, Bekasi, Tangerang, Purwakarta, dan Surabaya.

"Saya memiliki agen di daerah-daerah agar mempermudah proses pengiriman barang," papar Wildan, yang kini dibantu 8 orang karyawan.

Motivasi Usaha


Motivasi usaha agar maju membuat ia semakin agresif. Bahkan Wildan terus berkreasi lewat apa yang dikerjakannya. Ia semakin serius mengerjakan kerupuk kulit ikan pating. Kemudian menjalar ke aneka ikan lain. 
 
Usaha ini membantu banyak orang loh, mereka para tetangga yang ikut membantu bekerja keras. Selama dua tahun berjalan usahanya tumbuh tanpa terkendala apapun.

Memiliki latar belakang Fakultas Perikanan menjadikan itu modal. Pemuda 25 tahun ini mempunyai beragam inovasi. Melalui proses sebulan percobaan, Wildan melahirkan cemilan baru di Juli 2007. Camilan keripik ikan teri kelapan dan dendeng ikan. 
 
Produk kerja samanya dengan nelayan asal Tuban, Jawa Timur dan Cirebon, Jawa Barat. Ikan memang begitu melimpah di kedua daerah tersebut dan dipandangnya sebagai prospek.

"Bahan bakunya cukup banyak sehingga memudahkan untuk suplai bahan baku," ujarnya.

Prospek yang cerah didukung oleh respon masyarakat. Ia kemudian membuat kerupuk berbahan dasar ikan tongkol yang dijualnya seharga Rp.50.000/kg. Tak disangka permintaan dari luar semakin deras mengalir ke perusahaanya. 
 
Jadilah Wildan harus mencari lebih banyak tenaga kerja. Ia mengisaratkan tidak ada syarat khusus bagi mitranya.

"... asalkan mau bekerja keras bersama- sama, punya kejujuran dan kamauan keras," pungkasnya.

Untung bersih rata- rata dikantungi 30% dari omzet penjualan. Alfa Dinar miliknya semakin bersinar berubah menjadi perusahaan besar. Metamorfosis tersebut dibuktikan di tahun 2008. Dimana Wildan mulai bekerja sama dengan perusahaan terkumka di kawasan Muara Baru Jakarta Utara. 
 
Bentuk kerja sama berupa siap menjadi agen memasarkan produk olahan ikan. Dia membidik segmen mahasiswa dan pelajar. Produk olahan ikan berupa bakso, otak- otak, dan juga kaki naga. Melalui kerjasama tersebut, ia mulai belajar membuat aneka bakso ikan sendiri. 
 
"Tujuan kami dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat," tambah Wildan. Berkat kerja kerasnya tersebut nilai aset perusahaan naik. Faktor inilah yang membuat Wildan bahkan berani merambah diluar bidangnya.

"Dalam waktu dekat saya juga berencana menciptakan berbagai aksesoris dari kulit ikan," urai Wildan.

Meski tergolong anak baru gede di bidang industri ikan. Wildan terbilang percaya diri akan kemampuannya. Ia bahkan telah merambah sektor diluar makanan. Dia menyulap aneka kulit ikan menjadi aneka aksesoris. Inspirasi datang ketika mendapati satu fenomena. 
 
Fenomena kulit yang terlalu tebal buat dibikin kerupuk ataupun keripik. "ada juga yang tidak dijadikan keripik karena terlalu tebal dan hasilnya keras," jelas Wildan.

Wildan memperoleh sekitar 25- 30 kilogram ikan patin dan kakap. Sayangnya, tidak semuanya bisa diolah menjadi keripik ikan. Dari sana juga tidak bisa dijadikan kerupuk ikan. Alhasil perusahaanya menghasilkan limbah menumpuk. 
 
Untuk itulah dibawanya contoh kulit tersebut ke Departemen Kelautan Perikanan (DKP). Hasilnya, mereka DKP pun setuju akan konsep diberikan Wildan tentang aksesoris.

Bahan baku setengah jadi tersebut kemudian dipilah. Karyawan Wildan mulai sibuk memilah kulit yang layak dijadikan bahan aksesoris. Untuk tahap awalnya kulit dibawa dahulu ke laboratorium DKP. 
 
Dimana disanalah dilakukan standarisasi pewarnaan dan pengawetan. Ini dipastikan terpisah karena menggunakan bahan kimia pengawet; Wildan tidak sembarangan.

"Setelah berubah ke bahan setengah jadi kemudian dikembalikan ke kami untuk diolah," terangnya.

Juara ketiga ajang The Real Business Plan Training Series IPB 2004 ini, menyebut bahwa dirinya optimis akan usaha barunya tersebut. Wildan masih percaya bahwa aksesoris kulit ikan akan diterima masyarakat. 
 
Dia bahka berencana besar membuat aneka alas kaki berbahan kulit ikan. Adapula aneka aksesoris seperti dompet dan aneka gantungan kunci. Cuma kata semangat yang terus dikobarkan Wildan Mathlubi sampai sekarang.

Bisnis MLM Haram Memilih Pancake Durian

Profil Pengusaha Sukses Subakti 


mantanbisnismlm.png
 
Mengetahui bahwa hukum bisnis MLM haram memilih berhenti. Ia memutuskan tidak mengejar jargon passive income begini.  Rahasia passive income jutaan rupiah setiap hari. Bahkan sosok agamis satu ini pernah "merasakannya", apakah bisnis semacam ini halal atau haram. 
 
Berbisnis MLM menjanjikan Subakti, 30 tahun, sangat tergiur dengan aneka hadiah dari perjalanan ke luar negeri, rumah, atau mobil. Subakti merupakan salah satunya agen MLM perusahaan asal China.
 

Memilih Wirausaha


Lima tahun sudah dirnya jalani usaha model MLM. Dia pun mulai diliputi perasaan ragu apakah halal atau halal kah. Hingga, suatu hari, ia mendengar ceramah Ustadz di Rodja TV menganai muamalah yang dilarang oleh Islam. 
 
Transaksi dalam MLM dinyatakan tidak sesuai syariat Islam olah sang Ustads. Inilah alasan yang membuatnya tidak melanjutkan kembali. Akhirnya ayah tiga anak ini memilih berjualan gorengan saja.

"Ustadz tersebut menjelaskan bahwa salah satu muamalah yang dilarang ternyata ada pada sistem bisnis MLM. Dari situ saya mulai melakukan koreksi tentang muamalah yang sedang saya jalani," ujarnya. 
 
Ia tidak cuma mempertanyakan kehalalan MLM loh. Termasuk bisnis yang dijalani selanjutnya. yaitu bisnis jasa servis komputer dan kursus komputer. Dia memilih wirausaha tetapi tidak mudah.

Pasalnya, Subakti memanfaatkan software bajakan buat menjalankan bisnisnya. Inilah hal yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Komputer yang cuma bertahan 3 semester.

Mundur bisnis MLM saatnya berbisnis sesungguhnya. Dia juga menjual semua aset bisnis komputer miliknya. Usang tersebut digunakan untuk melunasi hutang dan pindah ke Kota Medan. 
 
Tepatnya rumah di daerah Deli Serdang dimana keluarga kecilnya melepas penat. Sesampai di Kota Medan sudah banyak usaha terlebih dahulu dia geluti.

Bisnis Durian


Terkanal akan duriannya membawa Subakti berbisnis sama. Dia berjualan aneka pancake durian ataupun daging durian beku. Hasilnya diluar dugaan ternyata begitu sangat menjanjikan. Subakti memberanikan diri membuka usaha ini sejak awal Januari 2015. 
 
Dimulai dari mengamati pasar yakni maraknya sup durian dan lain- lain. Ia memutuskan menjadi produsen dan suplier pancake durian.

"Saya memberanikan diri merintis usaha dengan nama Kampung Durian," papar Subakti, yang mana nama itu terinspirasi teman di group KPMI Korwil Medan. Mereka merupakan group produktif yang membahas soal Medan serta potensi bisnisnya.

Subakti mengambil durian tersebut langsung dari kebunnya, seperti daerah Sidikalang atau lainnya. Awalnya ia mengaku cukup kesulitan memenuhi bahan baku. Pasalnya durian merupakan buah musiman. Ketika tidak musim maka harga jualnya bisa melonjak tajam. 
 
"Sistem stok disaat musim durian menjadi solusi utama bagi kami untuk tetap bisa produksi sepanjang tahun," tuturnya.

Dia juga siap menghadapi anaka komplain terkait produknya. Dari komplain tersebut kemudian dijadikan bahan evaluasi baginya. Ia mulai memperbaiki produk dan pelayanan bisnisnya. Dia bahkan mempekerjakan beberapa orang karyawan untuk membantu. 
 
Total ada 9 karyawan yang ia miliki, pengusaha pancake durian ini mengaku berproduksi bisa sampai 200 bok pancake. Untuk harga disebut cukup fluktuatif atau naik turun. Terutama jika berbicara pusat durian seperti Medan. 
 
Ia sendiri tidak berpangku tangan. Usahanya sudah merambah ke daerah lain di Indonesia lewat port- to- port -jemput cargo di bandara. Subakti memberikan minimal order 25- 30 kotak dan untuk kamu yang mau jadi reseller pemula, cukup membeli 15 kotak.

Total Kampung Durian memiliki 70 reseller tersebar di seluruh penjuru dunia. Dia sendiri memberikan tips buat kamu tentang hutang usaha. Pastikan hutang kamu terbayar tepat waktunya jangan menunda. Karena menurut pengusaha muslim satu ini hutang akan mematikan kreativitas kamu.

"...membuat pikiran kita menjadi tidak tenang baik siang maupun malam hari, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi kreativitas kita dalam mengembangkan usaha," tutup interviewnya bersama BisnisUKM.com

Usaha Warung Lalapan Bermodal Enam Juta Rupiah

Profil Pengusaha Adil Frantoso

 
warungenamjuta.png

Membuka usaha warung lalapan bermodal enam juta. Adil kini mengantongi omzet sampai Rp.30 juta. Berikut kisah pengusaha muda Adil Frantoso. Bermula pekerjaan guru honorer kemudian memilih resign kerja. Adil memilih merintis usaha.
 
Dia guru honorer salah satu sekolah swasta. Begitu keluar dia langsung mendirikan warung makan. Usaha kecil- kecilan tersebut tampak beresiko. Mengingat Adil memang memutuskan menjadi guru. Bahkan dia sempat diangkat menjadi kepala sekolah.
 
Tetapi menjadi honorer tentu sangat berkurangan. Alhasil Adil memiliki tunggakan cicilan bank. Pinjaman tersebut semakin membesar menekan Adil. Dia harus membayar cicilan 2 juta perbulan. Ia cuma digaji Rp.500.000 perbulan, hanya cukup buat makan.
 
Adil juga sakit ketika menjadi guru honorer. Sakit tersebut cukup lama membuat dia cuti. Ini membuatnya kehilangan pendapatan. "Akhirnya membuka usaha makanan dengan menjadi pedagang kaki lima di 2015 silam," kenangnya kepada Kompas.com

Warung Bang Fahri ternyata disambut baik masyarakat. Alumni Universitas Jember mengawali usaha di pinggir jalan dekat Pasar Tanjung; Dia cuma bertahan dua bulan. Ia kembali melanjutkan usaha masih bermodal pinggir jalan.
 
Berganti- ganti tempat memang menjadi resiko. "Ternyata di sana cuma bertahan dua bulan, ternyata enggak berhasil," jelasnya.
 
Hingga dia memutuskan membuka usaha online. Ayah dua anak ini membuka usaha melalui rumah. Ia memasarkan produk melalui Facebook dan WhatsApp di 2016. Berbekal internet malah membuatnya sukses besar. Dia bahkan sudah memiliki pelanggan tetap.
 
Pelanggan termasuk pegawai- pegawai rumah sakit. "Yang terdaftar di WA ada 3000 pelanggan," ia menerangkan. Tidak puas akan pencapaian. Dia memutuskan bergabung dengan GoFood.

Kini dia membuka usaha depan rumah kawasan Jalan Merak, Kelurahan Gebang Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur, sekarang ramai pengunjung. Adil sangat memanfaatkan pesanan onlin. Bahkan ia rela mengantarkan sendiri. Adil nampak sibuk melayani pesanan driver Gojek.

Omzet Mitra GoFood


Berapakah omzet mitra GoFood begini. Adil menjelaskan mampu mengantongi omzet sampai Rp.30 juta. Bisnis Adil meliputi menjual ayam goreng dan ikan bakar. Itu sudah termasuk lalapan, dijual Rp. 9000- Rp.15.000. Adil berjualan dibantu istri dan mertua.

Usaha tersebut merambah ke berbagai sekolah. Dia membuka kantin di dua sekolah, di MA Alqodiri dan SMK Analisis Kesehatan. Ketika Covid 19 menyerang membuat dua kantinya tutup. Di awal- awal pandemi usahanya sangat berdampak dan berangsur pulih.

Berkat online membuat usahanya mampu melewati pandemi. Padahal ia bercerita cuma bermodalkan Rp.6 juta mampu menjual 240 porsi perhari. Banyak cara pengusaha muda ini gunakan, guna menaikan jumlah penjualan, mulai dari menjaga kebersihan makanan, menjaga kesehatan, dan kualitas terbaik.

Jujur warga banyak khawatir bila membeli makanan. Takut ketularan covid ketika mereka membeli keluar. Adil menyajikan makanan bersih dan sehat. Ia menerapkan protokol kesehatan. Agar tidak membuat kecewa pembeli. Ia menyajikan secara cepat tepat waktu.

Pembeli tidak akan menunggu terlalu lama. Adil merasa usaha dijalankan sekarang berkat "terpaksa". Ia meyakini harus berhasil. Terkenan besar membayar angsuran sementara ia berhemat. Awal dia tidak menghasilkan pemasukan sampai sekarang sukses.

Pengusaha muda ini menerapkan prinsip kepepet. "Ini the power of kepepet," celetuknya. Meskipun sudah tidak menjadi guru. Dia kini sibuk menjadi pembicara. Ia memotivasi orang lain agar mau ambil resiko menjadi pengusaha.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba