Mantan Satpam Jadi Pengusaha Sosis Caplin

Profil Pengusaha M. Aries Zara


mantansatpam.png
 
Mantan satpam jadi pengusaha sosis Caplin. Dia salah satu anggota wirausahawan Tangan Diatas atau TDA. Dialah M. Aries Zara, menceritakan pengalamannya menjadi pengusaha muda. Kepada kita dia membuka ceritanya dengan kalimat, "persaiangan adalah wajar". 
 
Apalagi persaingan bisa meningkatkan semangat kita. Persaingan baik menurutnya adalah yang mampu memberikan dampak positif. Usahanya memang tipikal usaha umum jaman sekarang.

Mantan Satpam

 
Bahkan udah terlalu banyak usaha sejenis. Akan tetapi prinsipnya selama ini persaingan haruslah sehat. Tak masalah Pemuda 25 tahun ini menyebut tak masalah. Ketika ia ditemui oleh pewarta. Ia berprinsip jangan bohong sama konsumen, jagalah relasi, selalu berinovasi menjadi andalan. 
 
"InsyaAllah lancar- lancar saja," ungkapnya. Aries menceritakan awal mula menggeluti wiraswasta. Dulunya, dia hanyalah seorang satpam di salah satu perusahaan BUMN perminyakan. Apa membuatnya tertarik membuka usaha sendiri. 
 
Pikirannya muda yakni jikalau berhasi tentulah penghasilannya lebih dari satpam. Sebuah pertaruhan dilakukannya ketika memulai usaha ini. Hal lain karena usaha sendiri berarti waktunya fleksibel.

Dia bisa jalankan sambil santai katanya.

 "Saya kerja (jadi satpam) dua tahunan. Habis itu coba usaha sendiri. Sempat jatuh bangun juga. Dari main proyek dekorasi, sampai buka usaha capucino cincau," katanya.

Ini tidak semudah membalikan telapak tangan saja. Selepas menjadi satpam kurang lebih selama dua tahun. Dirinya langsung tancap gas mengerjakan usaha pertama. Pertama kali mencoba membuka usaha sendiri ya jatuh bangun. 
 
Ia mulai berbisnis dekorasi. Gagal disusul menjual capucino cincau. Usaha terakhir capucino ini berjalan lumayan baik. Bahkan masih bertahan menyisakan dua outlet. Soal capucino cincau menurutnya paling susah soal sewa tempat.

Bayangkan saja, selepas masa kontrak habis, pemilik tempat pastilah menaikan harga sewanya. Pengalaman semacam ini menjadi perhitungannya. Hingga akhirnya ia memutuskan membuka usaha sosis bakar. Sebuah inovasi dimana sosisnya dijual lewat warung tenda. 
 
Modal pengalaman capucino cincau, ia memilih membuat seperti itu. Alasannya bila sewaktu- waktu disuruh pindah ya pindah. Cuma modal tanah lapang, kemudian dipasangnya tenda, tak perlu pula pusing soal biaya sewa.

"Kalau model kios misalnya kontrak enggak diperpanjang repot cari tempat yang baru," terang Aries lanjut. Memang tak disangka usaha sederhana ini menghasilkan.

Meski cuma lulusan SMA dirinya bisa menghasilkan uang lebih. Bahkan lebih banyak dari kita yang menjadi pegawai negeri. Konsep bisnisnya sosis ditambah aneka jajan lain dibakar. 
 
Ada sosis bakar ayam dan sapi, kemudian aneka bakso bakar, cumi- cumi, kepiting, tuna, bahkan sampai otak- otak, semuanya ditusuk sate. Harganya dibandrol Rp.5.000 ukuran sedang dan kecil Rp.10.000. Aneka bakso dibandrol lebih murah yakni cuma Rp.2.000 per- tusuk.

Jadi Pengusaha Sosis


Meski kecil- kecilan tapi berani menawarkan konsep warlaba. Bahkan untungnya bisa sangat tinggi kalau dihitung dari omzetnya 150 juta. Usaha aneka sosis bakar ini diberinya nama Si Caplin. Soal pemasok tak perlu risau karena ia distok oleh perusahaan- perusahaan besar. 
 
Dan, sudah terjamin kehalalannya, dari itu semuanya jika dihitung untungnya "tak masuk akal". Tapi faktanya omzetnya bisa minimal 5 juta per- bulan dimana itu dari empat tempat saja. Ini bahkan belum termasuk apa yang dihasilkan dari 21 cabang mitra warlabanya.

"Yang pasti dari usaha ini alhamdulillah saya bisa mandiri, punya penghasilan lebih, walaupun hanya tamatan SMA," kata Aries.

Untuk menjadi mitranya cukup membayar modal Rp.5 juta. Kemudian mendapatkan stok sosis langsung, kemudian tenda jualan, ditambah perlengkapan dan dekorasinya termasuk merek dagang Si Caplin. Soal pemasaran baiknya kamu menjual di waktu sore pukul 16:00 sampai 23:00. 
 
Si Caplin tidak mengenakan fee cuma diwajibkan membeli kepadanya. Murah banget buat waralaba sejenis sosis yang pernah kami ulas dari sini. Aries sosok tak sekedar berteori. Membuktikannya melalui kerja nyata. Dia sudah memiliki 25 cabang kini. 
 
Yang tersebar di wilayah Ciputat, Pamulang, Cileduk, Depok, Cikupa, Kebayoran Lama, Bekasi, juga di Karawang. Sukses berbisnis sosis bakar dirinya sangatlah bersyukur. Dimana ia sudah bisa mengajak kedua orang tuanya pergi umroh. 
 
Nah, sukses berbisnis sosis, ia siap masuk ke bisnis lain dibidang kuliner juga. Menurut informasi Warta Kota Tribunnews, diberitakan kini, Aries Si Caplin tengah fokus menggarap bisnis kuliner lain. Sukses Si Caplin usahanya beralih ke soto kalong. 
 
Dia menjelaskan konsep bisnisnya kuliner dan bisa dijajakan di jalan. Lokasinya ada di depan Perumahan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat, di Tangerang Selatan. Soto Kalong sendiri dikonsepnya kuliner malam hari. Konsep kaki lima tapi tak memakai lilin. Ia menjelaskan ini pakai obor!

Konsepnya gelap- gelapan, ditemani obor, dibawah taburan bintang, romantis, dan susanannya seperi halnya di puncak. Aries sendiri menjelaskan ini bukan soto biasa. Resepnya merupakan pemberian neneknya. 
 
Dan dijamin akan menggugah selera kamu. Selain rasanya nendang ditambah susananya. Hal lain, yang menjadi keunggulan adalah harganya murah dari standar soto. Ada kerupuknya kemudian minumnya teh tawar yang hangat.

"Teh tawar hangat semuanya gratis dan bisa menambah sepuasnya," jelas Aries.

Soto ayam dibandrol Rp.8.000 per- porsinya. Harganya murah akan tetapi tidak murahan. Dia menawarkan startegi beli satu dapat satu mulai 16 September 2015. Ini bukanlah startegi baru. Sudah pernah dicobanya ketika merintis bisnis sosi bakar. 
 
Menjalankan bisnis barunya Aries Si Caplin tak lupa teman. Menggandeng teman sekolahnya Udin sebagai juru racik sotonya. Kebetulah mitra barunya itu memang suka masak. Ya, ia tinggal mentransfer ilmu resepnya.

Ia sendiri juga turun langsung. Modalnya kesuksesan bisnis kuliner sebelumnya. Aries berharap nantinya bisa sukses seperti sosis bakar Si Caplin. "Saya jualan soto tidak mau mengejar keuntungan saja," terangnya. 
 
Dia mau membuka lapangan pekerjaan seluasnya. Termasuk buat sahabat- sahabat SMA nya dulu. Disini pilihan tempatnya di kawasan romantis. Menggarap usaha sotonya, Aries memiliki lima karyawan, menarget 30 cabang soto.

Sementara itu belum setahun Si Caplin berdiri. Baru 14 bulan sudah berani berekpasi ke bisnis lain. Itulah pengusaha muda ini, bahkan, sudah mampu membuka 45 cabang bermodal kemitraan atau waralaba. 
 
"Insya Allah dalam waktu ini sosis bakar mau buka enam cabang lagi," tambahnya. Sukses bermodal ijasah SMA layaknya menggugah hati kita. Menggugah buat kita agar tetap fokus berusaha. Jadilah pengusaha yang bisa menginspirasi banyak orang.

Pengusaha Asal Semarang Berbisnis Tahu Crispy

Profil Pengusaha Anggih Heri Saputra

 

pengusahasemarang.png

Perkenalkan pengusaha asal Semarang beromzet ratusan juta. Pemuda bernama lengkap Anggih Heri Saputra, berbisnis tahu crispy sampai memiliki 40 gerai cabang berbekal waralaba. Diceritakan pemuda 24 tahun berbisnis disebabkan keterpaksaan.


Pengusaha kepepet dia pernah merasakan kesusahan. Pernah hampir kelaparan di perantauan ketika masih kuliah dulu. Anggih tidak punya uang. Disisi lain, Anggih harus membeli baju olahraga buat berkuliah di jurusan Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Semarang.

 

Pengusaha Semarang


Perlu diketahui Anggih bukanlah anak orang kaya. Hidup di keluarga biasa, didorong guru dan orang tua mimpinya menjadi guru diperjuangkan. Lewat jalur prestasi Anggih masuk kuliah lewat Bidikmisi. Jalur beasiswa tersebut ia manfaatkan baik- baik.


Kini cita- citanya masuk jurusan keguruan terkabul berkat beasiswa. Anggih pun menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Dia lulus bernilai IPK 3,63 dan bergelar Cumlaud. Ia sempat minder lahir di keluarga berekonomian rendah.


"Saat itu saya sangat ingin kuliah, tetapi keluarga tidak mampu," ia menambahkan. Dan dia merupakan satu dari empat bersaudara. Kesemua saudaranya tidak pernah masuk Universitas. Jalan terjal Anggih lampaui, walau optimis namanya kuliah tetap membutuhkan biaya lebih.


Disinilah Anggih terpaksa mencari pekerjaan. Tidak punya biaya membeli kaus olahraga buat praktek. Ia ingin kerja sampingan. Tetapi dia memutuskan berbisnis sendiri. Usaha kecil- kecilannya berjalan lancar. Inilah berbisnis tahu crispy berbahan murah dan mudah.


Merintis usaha Maret 2018, usahanya kecil- kecilan tetapi berkembang pesat dalam tiga tahun. Dia bahkan mampu membuka cabang. Memiliki 40 gerai cabang tersebar di penjuru daerah. Dia memiliki 60 orang pegawai dan beromzet ratusan juta.


Menjadi mahasiswa memberikan ruang belajar lebih banyak. Mahasiswa diajarkan mampu mencari peluang. Kewirausahaan merupakan bekal mutlak. "Tidak ada proses yang menghianati hasil. Sukses itu butuh pengorbanan dan perjuangan," Anggih melanjutkan.


Menjadi pengusaha tidak melulu dibayar uang. Malah pengusaha akan dibayar kegagalan, bangkrut, rugi, ditipu. Harus optimis bahwa akan tiba waktu kesuksesan. Anggih optimis dia akan sukses kelak dan jadilah bisnis tahu crispy Kekinian.

Pengusaha Hendi Avanda Pemilik Panda Rumput Laut

Profil Pengusaha Sukses Hendi Avanda


hendiavanda.png
 
Pengusaha Hendi Avanda pemilik Panda Rumput Laut. Tidak setenar Top Tao Kae Noi asal Thailand, tetapi merupakan salah satu perintis usaha sejenis. Padahal laut Indonesia begitu luas tetapi hanya Hendi Avanda mampu bertahan. Tapi bisa juga dia belum lah pernah mendengar namanya. 
 
Namun, pastinya pengusaha satu ini sama- sama bukan tipikal pemuda pantang menyarah. Dia bernama Hendi Avanda, pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Februari 1992, dimana juga mahasiswa Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 
 

Usaha Rumput Laut

 
Sejak kuliah pikirannya tak pernah bisa fokus berkuliah. Jiwa kewirausahaan telah mendarah daging. Sosok entrepreneur muda ini sudahlah berbisnis sejak dini. Yah, akan tetapi lagi- lagi usahanya selalu gagal -padahal sudah berbisnis aneka macam. 
 
Waktu itu dirinya masih berbisnis buat membantunya berkuliah. Vanda memang bukan dari golongan orang mampu. Contoh bisnisnya yaitu menjual ketan durian buatan sendiri ke GOR UNY. Usahanya berjualan cuma menghasilkan penjualan tiga porsi itupun dalam sebulan.

"Habis itu aku juga sempat buka aksesoris komputer sama teman- teman, tapi hanya bertahan tiga bulan," kenang Vanda.

Kegagal tak membuatnya patah arang. Malah memunculkan ide- ide unik keluar. Tujuannya bagaimana sih mengakali kegagalan. Hingga, seorang teman membawakan oleh- oleh khas, yakni jajanan rumput lau asli dari Korea Selatan. Vanda lantas berangan- angan punya produk seperti ini.

Jajanan rumput laut di pasaran memang asalnya dari Negeri Gingseng. Namun tidak semuanya dihasilkan dari sana sendiri. Oleh karena itulah dirinya meyakinkan diri. Ia ingin membuat jajanan rumput laut khas asli Indonesia. 
 
Dia mulai bereksperiman membuat jajanan rumput laut sendiri. Pemilik produk bernama Panda Rumput Laut ini tak langsung jadi nyata. Tidak langsung jadi produk idam- idamannya tersebut. Sepanjang tahun 2011 dijadikan perjalanan mencari resep terbaik.

"Saya pun bereksperimen membuat snack rumput laut buatan Indonesia," tegasnya. Pengusaha muda 20 tahun ini memang tak ada matinya. Mahasiswa Manajemen Pendidikan semester akhir ini sudahlah bertekat bulat. 
 
Semuanya bermodal otodidak saja. Tahun 2011 berbekal uang pas- pasan mulailah dikelilinginya pantai di Pulau Jawa, mulai dari pantai Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Semarang, Jepara, lalu Surabaya hingga Pacitan.

Kesimpulannya saat itu adalah tidak menemukan rumput laut idamannya. Memang produk Panda Rumput Laut menggunakan rumput laut khusus bernama porphyra. Di Timur Indonesia sendiri sudah ada rumput laut jenis. 
 
Sayangnya, mutunya tak sebaik ketika dirinya impor, ya, akhirnya Vanda memutuskan untuk impor saja dari Korea. "Jalan satu- satunya ya saya impor. Hingga kini juga masih impor," pukasnya. Tak tanggung kini dirinya sudah bisa mendatangkan satu ton rumput laut.

Usaha Sendiri

 
Rumput laut jenis ini yang satu ton tersebut, digunakannya buat kebutuhan sebulan dan produksinya memang bersekala rumahan. Bermodal rumah kontrakan di Perum Graha Palem Indah A10, Condongcatur, Sleman, dimana produksinya sudah harian. 
 
Kesemuanya dikerjakan di tempat tersebut dari pemasakan sampai hal pengemasan. Di setiap harinya memproduksi mencapai 400 bungkus. Kemudian dipasarkan ke 28 toserba di Jogjakarta. 
 
Selain disana, Panda Rumput Laut sudah menyebar ke Bandung, Bangka, Lampung, Malang, Solo, dan juga Magelang, totalnya sudah ada 120 toko di luar Jogja. Bahan spesifik porphyra ini ternyata justru membuat jajanannya berbeda dari asli Korea. 
 
Karena snack rumput lautnya jadi tidak membutuhkan MSG atau bahan penyedap rasa. Jajanan ini juga jadi lebih murah terangnya lagi ke awak media. Dia dibantu oleh enam karyawan. Juga masih terus mengembangkan bisnis rumput lautnya ini. 
 
Total ada tiga varian rasa rumput laut yaitu original, barbeque, dan spicy, tapi belum lah cukup. Rasa penasarannya akan sukses asli Indonesia akhirnya melahirkan rasa gudeg. Namun, masih belum mendapatkan komposisi enak buat rasa gudegnya tersebut. 
 
Tak cuma varian rasanya, Vanda bermimpi membudidayakan rumput laut porphyra sendiri. Sejujurnya ia menjelaskan bahwa petani lokal sudah membudidayakan rumput laut. Selama ini mereka baru bisa membudidayakan jenis ulva (yang biasa jadi minuman es). 
 
Nah, Vanda ingin agar jenis ini juga bisa aktif dibudidayakan tapi dengan kualitas sama baiknya. Dia berharap agar ini bisa cepat terealisasi, Agar nantinya bisa ia gunakan untuk produk- produk jajanan rumput lautnya dan varian produk olahan lainnya.

Tak Suka Diatur Atasan Pengusaha Toko Olahraga

Profil Pengusaha Randy Fitranadi


pengusahatoko.png
 
Jadi pengusaha toko olahraga tak suka diatur atasan.  Dulu gagal usaha batik tak membuatnya lantas surut. Malah semakin menjadi- jadi berbisnisnya. Dia Rady Fitranadi, awalnya merintis usaha pakain batik tapi beralih pakaian lain. 
 
Beda bukan pakaian distro tapi malahan pakaian olah raga. Dan, hasilnya, tak terlalu buruk pengusaha kelahiran Padang, 25 April 1980 ini bisa bernafas lega. Usahanya terbilang lancar jaya dibanding sebelumnya. Randy bahkan jadi sorotan karena bisnisnya tak biasa.
 

Usaha Toko Olahraga


Randy cuma berjualan di kampusnya saja. Tiap berangkat ke kampus punggung Randy selalu terbebani. Tas ranselnya berisi barang dagangan aneka pakaian. Kemudian seiring waktu sedikit- demi sedikit mulai lah ia membangun toko perlengkapan olah raga sendiri. 
 
Ia memang suka sekali menjadi pengusaha muda. Berawal ketika mengikuti ajang Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) oleh Universitas Andalas. Berlanjut ke bisnis batik pertamanya.

Sukses dari ajang tersebut didapatkannya modal Rp.8juta. Ia lantas gunakan sebagai modal membeli batik. "Saat itu saya melihat batik sedang populer di Indonesia," ujarnya. Ada prospeknya bagus disana di bisnis batik ini. 
 
Sayangnya, dalam beberapa bulan malah tidak ada perkembangan berarti. Dia berpikir sederhana mungkin batik di Padang belum sepopuler di Jawa. Secepatnya ia banting stir memilih berjualan pakaian olah raga; seketika keburu modalnya habis.

Randy memulai usaha dari nol lagi. Uang modal digunakan membeli pakain olah raga dari Jakarta. Idenya muncul karena kebiasaanya beli peralatan olah raga. Ketika membeli perlengkapan olah raga di tempatnya, ia lantas berpikir kenapa tidak berbisnis pakain olah raga. 
 
Peniliaian akan prospeknya memang tak salah. Terbukti pembeli selalu datang mampir. Peminatnya tak surut utamanya buat olah raga futsal.

"Apalagi saat ini, olahraga futsal menjadi olah raga yang top di tengah- tengah masyarakat," jelasnya.

Usaha pria penghobi futsal ini semakin berkibar saja. Dari awalnya cuma menjual peralatan atau kaos olah raga seadanya. Ia tawarkan kepada teman- teman sekampusnya. Kini, usahanya sudah punya tempat tetap, padahal dulu modalnya cuma tas ransel. 
 
Ini membuktikan bisnis tak harus bermodal besar. Kawan- kawannya pun mendukung langkah Randy mengembangkan sayap. Kawan- kawanya jadi pelanggan pertama tetap toko kecilnya. Ini memberikan dorongan motivasi baginya.

Ia jadi lebih percaya diri. Kerja kerasnya berbuah ketika itu dihargai. Penghargaan itu salah satunya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui pinjaman KUR. Putra ketiga dari pasangan Indra Nadhi dan Nursidah ini tak menyia- nyiakan. 
 
Toko pertamanya itu berdiri di Jalan Adinegoro No.11 Tabing di Simpang, tepatnya ada di arah ke kampus ATIP Padang. Waktu telah berlalu dimana usahanya tak seperti dulu. Kini, Randy bisa bolak- balik naik pesawat Jakarta- Padang cuma buat menyetok barang. 
 
Jumlah pelanggannya juga sudah bertambah seiring waktu. "Saya tidak menyangka, saya sekarang sudah bisa bolak- balik Jakarta- Padang," ungkapnya. Ia merasa senang karena tak perlu lagi susah kesana- kemari mencari kerjaan. 
 
"Ternyata jadi pengusaha itu memang enak," tambah pria berbadan atletis ini.

Randy blak- blakan mengaku kenapa jadi pengusaha. Ternyata semenjak merasakan enaknya. Ia malah ketagihan karena memang tak ada batasan. Tepatnya dia tak perlu diatur- atur orang. "Saya tidak suka diperintah," jelasnya. 
 
Dirinya merasa gaji menjadi pegawai itu kecil. Padahal jika dibaca dari pengalamannya diatas dia belum pernah bekerja. Padahal dia belum pernah jadi karyawan tapi langsung pengusaha, "Jadi pegawai itu harus siap seperti robot, yang senang tiasa dikendalikan orang."

"Itu bukan tipe saya," sebut Randy. Menurutnya menjadi pengusaha memberikan banyak manfaat. Bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia kemudian menjelaskan, kita tidak makan gaji pemerintah saja. Ini mungkin merujuk kepada pegawai negeri sipil. 
 
Malahan menurutnya pengusaha lebih berguna bagi negara. Tak makan gaji buta justru malah jadi sumber pajak negara. Mampu membantu masyarakat banyak.

Usaha Keripik Telur Pengusaha Mahasiswa

Profil Pengusaha M. Daimil Asfa

 

keripiktelur.png
 

Pengusaha mahasiswa bukanlah mudah. Usaha keripik telur merupakan bentuk keprihatinan. Itu bermula dari rasa prihatin melihat nasib peternak telur. Muhammad Daimil Asfa adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Islam Blitar (Unisba), dimana ia melihat nasib peternak telur merugi.

 

Peternak ayam Desa Ariojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungaggung, mengalami kerugian selain karena harga turun, harga pakan ternak juga naik tajam. Mereka resah apalagi beternak ayam telur merupakan mata pencarian pokok.


Jualan Keripik

 

Mayoritas warga desa merupakan peternak ayam. "Dari hal tersebut, saya menangkap suatu peluang di mana  telur yang jumlahnya sangat banyak itu ternyata dapat kita olah sehingga memiliki nilai jual yang semakin tinggi," terangnya.


Dari telur tersebut dapat diolah menjadi makanan matang. Nilai jualnnya juga berubah menjadi lebih tinggi. Ini pikiran Imil yang mengembangkan camilan keripik telur. 

 

"Telur yang jumlahnya banyak itu ternyata dapat kita olah sehingga memiliki nilai jual yang semakin tinggi. Saya mempunyai ide membuat kripik yang terbuat dari telur," ungkap Imil kepada BlitarNews.


Nama keripik telur sangat unik ditelinga dan belum ramai di pasaran. Dia percaya diri. Imil mencoba melakukan eksperimen. Ia menjelaskan, bahan utama telur ayam yang masih mentah dicampur dulu antara putih dan kuning. Kemudian dia beri rempah- rempah dicampur sampai menjadi merata.


Akhirnya dicampur diolah dicampur tepung tapioka dan terigu. Imil kemudian menambah bumbu- bumbu termasuk bawang putih, garam, penyedap rasa, dan lain- lain. Adonan dicampur merata lalu ditambah sedikit tepung crispy.


Hitungan tepungnya 70% telur dan 30% nya tepung. Itu kemudian digoreng. Tidak langsung kering sekali goreng. Imil menggoreng berulang. Dan dimasukan ke oven menjadi penutup. Lewat oven lah keripik berasa kering dan terasa crispy bila dimakan.


Ditiriskan dari oven, Imil melanjutkan memasukan keripik ke spinner buat mengeringkan minyak, lalu keripik telur siap diberi bumbu. Kemudian dia tiriskan, tambahkan bumbu perasa buat menambah cita rasa keripik.


Ada enam varian rasa keripik telur buatannya. Dia membuat rasa barbeque, ayam bakar, jagung bakar, pedas, original dan sapi panggang. Ide bisnis coba- coba tersebut membuatnya sukses. Pengusaha mahasiswa yang masih disibukan urusan kampus.


Dia membuat usahanya setahun lalu. Ternyata keripik telur lezat dan dinikmati masyarakat. Penjualan dikemas sabagus mungkin. Dia mengemas kemudian melabeli Bontot Egg Chips. Harganya juga cukup murah perbungkus Rp.11 ribu sampai Rp.30 ribu dibungkus plastik aneka ukuran.


Buat menjalankan usaha keripik telur dia dibantu dua karyawan. Mereka ditugasi produksi dan lakukan pengemasan. Sedangkan pemasaran melalui sistem getok tular atau mulut ke mulut. Imil juga jualan lewat sosial media. Dia pasarkan ke anak- anak muda penggemar camilan.


Ya menjadikan ini camilan buat menemani nongkrong anak muda. "Melalui penjualan produk saya ini, Alhamdulillah bisa untuk membantu biaya kuliah saya," terang Imil. Pengusaha mahasiswa ini kata berita hasilkan ratusan juta.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba