Pengusaha Cuma Lulusan SD Juragan Antena

Profil Pengusaha Lasiman Muhammad Nursal


pengusahasd.png
 
Pengusaha cuma lulusan SD juragan antena. Seperti halnya kata bijak lama milik maestro bisnis Bob Sadino. Dia pernah berkata dalam satu kesempatan, "orang goblok sulit dapet kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok akan mempekerjakan orang pintar." 
 
Sebuah celetukan kiranya menggambarkan kisah pengusaha perantau sukses asal Surabaya ini. Sebuah kisah Lasiman asal Surabaya, yang tak lain cuma lulusan sekolah dasar. Dia hanya mampu mencium peluang. Sukses Lasiman sudah bergaung diseantero Surabaya.

Cuma Lulusan SD

 
Juragan antena lulusan SD, mencium kesempatan meski masyarakat sudah berlangganan TV Kabel. Mereka ternyata masih membutuhkan antena sendiri. Bimsalabim Abra Kadabra.... pria yang bernama lengkap Lasiman Muhammad Nursal ini kemudian membuat antena televisinya sendiri. 
 
Bermodal pengetahuan ilmu elektronika seadanya, ia sadar, meski berlangganan, orang masih butuh saluran televisi lokal.

Tahun 1994, lelaki asal Gedangan, Kabupaten Malang, memilih merantau ke Surabaya. Apalagi kalau bukan buat mencari rejeki lebih baik. Modalnya merantau mencari kerja cuma selembar kertas. Itu bukanlah ijasah tapi selembar surat keterangan pencari kerja kelurahan. 
 
Modal seadanya, Lasiman lantas berusaha sendiri, ia berbisnis sendiri seadanya buat bertahan hidup. Usaha pertamanya berjualan kacamatan 3D. Disaat itu, dua stasiun televisi yaitu SCTV dan RCTI, tengah berlomba menayangkan acara 3D.

Kacamata didapatkanya dari seseorang dari Bandung. Dijualnya murah cuma Rp.3 ribu per- buah. Pertama kali berjualan Lasiman langsung memborong 100 buah. Usahanya ternyata laris manis. Tak disangka- sangka dia bisa menjualnya habis stoknya. 
 
Esok harinya, uang keuntungan diputar kembali, dia membeli 2.000 buah langsung dan bisa mengantongi untung puluhan juta. "Sekitar 15 juta," jelasnya. Sadar bahwa usahanya tak akan bertahan lama; dia memilih beralih.

Bisnis keduanya yaitu ceret listrik, itu loh.. teko alumunium panas yang dicolok listrik. Usaha berbasis rumahan itu ternyata tak begitu menguntungkan. Setahun sudah digelutinya, tidak seperti yang akan diharapkannya.
 

Pengusaha Lulusan SD

 
Memang tidak sampai rugi sih, cuma bisa ngepas memenuhi kebutuhan sehari- hari. Keuntungan bisnis makin menipis, membuatnya harus memutar otak kembali. Bermodal pemahaman akan kekuatan pemancar (Db) antena maka dimulailah bisnis tersukses Lasiman.

Dia membuat antena sendiri pertama kalinya. "Setelah itu, saya mulai bikin antena sendiri. Saya sendiri yang menjual ke beberapa pasar besar di Surabaya," terangnya kepada Jawa Post.

Bisnis antena tersebut merupakan cikal bakal bisnis Ante Radar. Merupakan perusahaan rumahan miliknya. Ketika orang dimalam tengah bersantai, Lasiman masih sibuk mengerjakan bisnisnya sendirian. Mengotak- atik komponen jadi antena- antena sederhana. 
 
Pagi harinya tidak ia gunakan buat beristirahat. Dia akan bergegas langsung pergi berjualan ke Pasar Turi. Bermodal lapak sederhana, karena bermodal kecil, bisnis antena buatanya dibuat jadi sesederhana mungkin.

"Maklum, modal terbatas. Jadi, saya harus ngalahi lebih sibuk dibanding pengusaha lainnya," terangnya.

Sibuknya ternyata terbayar manis meski butuh waktu. Lambat laun, lapak jualannya di Pasar Turi tersebut bisa berkembang. Bahkan sudah punya cabang di dua tempat berbeda. Keduanya baik lapak JMP ataupun di Pasar Besar sama- sama kebanjiran order. 
 
Lasiman bahkan tak sanggu mengerjakan sendiri. Mulailah Lasiman merekrut pegawai sendiri merakit antena. Dia mengajak beberapa tetangga buat bikin. Adapula beberapa karyawannya dari luar kota, membantunya merakit di kediamannya, Sukomanunggal.

Dia memberdayakan ibu- ibu rumah tangga sekitar. Mereka adalah ibu ramah tangga menganggur menunggu suaminya pulang. Ibu- ibu itu biasanya mengerjakan ferit buat dijadikan konduktor. Batang karbong tersebut dililitkan ke kotak- kotak plastik. Mereka bekerja borongan. 
 
Dalam dua hari, Lasiman meminta mereka mengerjakan sekitar 2.000 buah. Kakek dua cucu ini ternyata tak cuma fokus merangkai antena jadi saja. Seiring waktu juga mulai memproduksi sendiri rangkaiannya.

Bisnis Sederhana


Mulai dari boks plastik dan ferit sudah diproduksi sendiri. Para karyawan pria akan mengerjakan boks- boks plastiknya. Mereka akan ditempatkan di sebuh tempat, yang disebutnya pabrik kecil- kecilan. Boks tersebut ia jelaskan hasil pengolahan sampah plastik. 
 
Itu adalah sampah gelas plastik yang dirubah jadi biji plastik. Ia kemudian merubah bijinya menjadi boks plastik. Biji plastik tersebut kemudian dicampur pewarna dan bahan baku itu kemudian dicetak kotak- kotak.

"Saya buat sendiri karena kalau beli, harganya tak seimbang harga jual," jelasnya.

Harga antena tersebut dibandrol Rp.15.000. Pemasarannya sudah menjangkau luar Pulau Jawa. Ada suplier sendiri membewa produknya buat dijualkan. "Di Surabaya sudah ada suplier yang mengamb," ia menjelaskan lagi. 
 
Disaat diwawancarai pewarta, Lasiman sendiri tengah mempersiapkan pengiriman, ada 230 koli antena siap kirim ke Palembang, Balikpapan, bahkan Jakarta. Untuk feritnya sendiri, Lasiman mengaku baru bisa memproduksinya sendiri.

Ferit sendiri merupakan komponen fital. Yakni komponen alektornik buat penerima gelombang, di Indonesia sendiri; baru dirinya lah yang berproduksi. Awalnya, ia mengaku mengimpor komponen ferit dari Tiongkok. 
 
Kini, Lasiman mungkin menjadi polopor pembuatan ferir mandiri asli Indonesia. Keuntungan jadilah berlimpah utamanya dari penjualan ferit saja. Ia mengaku bisa mendapatkan pesanan ribuan cuma buat komponen tersebut.

Cuma lulusan SD, tetapi, Lasiman bisa memberdayakan banyak orang. Dia telah memilik banyak karyawan. Dia punya 13 rumah, cuma berbekal pengetahuan sederhana soal elektronika ditambah kerja keras. Sosok  Lasiman cumalah pria biasa yang hobi mengutak- atik barang. 
 
Yang tanpa disangka mengutak- atik antena menjadikannya kaya raya. Terakhir, Lasiman diajak Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, memberdayakan masyarakat di Jalan Jarak; membuktikan ia masih pria bersahaja.

"Saya pasti mau. Sebab, tempat dimana saya mendapat rejeki, warga sekitar juga harus mendapat.

Petani Muda Reza Mulyana Bisnis Milenial

Profil Pengusaha Reza Mulyana

 

petanimuda.png
 

Reza Mulyana, 26 tahun, petani muda harapan masyarakat Indonesia. Bisnis milenial memanfaatkan suatu teknologi budidaya. Ia menjalankan pertanian micro- cloning. Reza merupakan penangkar bibit tanaman dari Garut, Jawa Barat. 

 

Dalam literatur, metode ini merupakan teknik perbanyakan bibit, dengan tingkat kemurnian tinggi secara konvensional dan berkelanjutan tanpa merusak pohon induk. Reza mengaku idenya didapat ketika dirinya mengikuti pelatihan.

 

Petani Muda


Ada pelatihan micro- cloning dilakukan Insitut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019. "Informasinya mengenai micro- cloning di luar negeri sudah ada, namun di Tanah Air masih minim informasi," Reza lalu melanjutkan.


Dia tidak sendiri. "Kami tertantang melakukan itu (uji coba)," jelasnya. Bersama dia mendapatkan dukungan temannya, Rahman Hakim, berdua mencari reverensi mengenai mengenai micro cloning dan melalukan uji coba bersama.


Literasi pertamanya diterjemahkan tiga bahasa,yang akhirnya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Dia menguji coba pada produk pertanian alpukat. Bibit pertama alpukat varietas Sindangreret, asli Garut, menjadi ikonnya bisnisnya.


"Ada beberapa kali kegagalan yang saya terima, namun tetap kami coba, hingga akhirnya sukses," ia menjelaskan kepada Liputan6.com. Petani muda Reza Mulyana menggabungkan teknik grafting dan dan cangkok bibit, lalu mencoba micro cloning tersebut.

 

Metode persilangan micro- cloning melakukan uji coba setahun lalu. Itu memunculkan bintil akar, hanya 15 sukses memunculkan akar pada bintil, dan beberapa belum keluar. Kemunculan akar bintil menandakan calon bibit akan mampu menyerap nutrisi sempurna.

 

Ia bersyukur. Walau kurangnya literasi, penelitian kurang optimal tak menghalangi Reza. Banyak hal kendala mensukseskan ini. Harusnya ini dilakukan dalam rumah kaca. Tujuannya pengaturan suhu yang optimum walau begitu dia tetap bersyukur.

Inspirasi Siswa SMK Berbisnis Sepatu Ajaib

Profil Pengusaha Pelajar Indonesia


berbisnissepatu.png
 
Berbisnis sepatu ajaib inspirasi dari siswa SMK. Disinilah tempat dimana siswa dikembangkan sifat profesionalnya. Mereka muda tetapi mata memiliki jiwa kewirausahaan. Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Jakarta.

Mereka masih kelas X sudah diajarkan menciptakan produk. Siswa SMKN 6 Jakarta menghasilkan sandal multifungsi. Dijelaskan oleh Debya, remaja sederhana, yang ternyata sudah menduduki jabatan VP Produksi. Ia menjelaskan bisnis yang dikerjakan oleh mereka merupakan bisnsis serius.
 

Berbisnis Sepatu

 
Mereka menciptakan sepatu sandal unik. Dimana dilhat pertama kali cuma sepatu berbahan kanvas. Tetapi dibaliknya ada resleting yang jika dibuka. Akan merubah sepatu jadi sandal siap pakai seketika. 

Dia menjelaskan ketika ditemui DetikFinance. Debya menjelaskan sepatu ini memiliki resleting dibawahnya, yang mana menyatu atasnya. Ketika resleting dibuka sampai sol bim- salabim jadilah sandal. Mereka lantas membangun perusahaan mereka sendiri bernama Perusahaan Pelajar. 
 
Orang menginginkan sesuatu memang yang serba simple, disaat mau sandal, bagian atasnya bisa dilepas jadi sandal, jelasnya.

Jikalau kamu mau sepatu, ya, tinggal bagian atasnya dipasang. Ini bisa membantu kamu cuma membawa satu sepatu saja. Produk tersebut merupakan hasil karyanya dan kawan- kawan. Sudah ganti desain tiga kali agar produknya sesuai harapan. "Kami sampai 3 kali ganti desain. Ini kreasi kami sendiri," pungkasnya.

Usahanya dikerjakan Debyan dan 20 orang kawannya. Sejak Mei 2015, mereka terus berkreasi, modalnya cuma 1,5 juta. Jikalau dibagi 21 orang maka biayanya bisa dibilang murah. Mereka yakin pastilah bisa meski mereka masihlah berstatus pelajar. 
 
Bagaimana pembagian hasilnya? Inilah uniknya, dan bisalah kamu contoh, caranya adalah melalui bentuk saham. Mereka menyebar 75 lembar saham. Per- lembarnya akan dihargai Rp.20.000/lembar saham. Inilah cara menarik karena orang akan berminat mendanai jika ada hitam diatas putih. 
 
Satu pasang sepatu akan mereka jual seharga Rp.110.000. Dalam tahap awalnya mereka, Debyan, menjelaskan bahwa 15 sepatu haruslah dijualnya dalam 5 bulan saja. Barulah 2 bulan sudahlah bisa dijualnya 9 buah.

"Nanti setelah 5 bulan diharapkan sukses, kita akan lanjut lagi ke lebih serius," tegasnya.

Saat ini saja, perusahaan sudah mengantongi omzet Rp.450.000 per- bulan. Hambatan terbesar dibisnis ini, bisnis kreatif, apalagi kalau bukan mematenkan produknya. Bagi para siswa hal tersebut masihlah menjadi kendala sementara bisa saja ada peniru. 
 
Namun, nampaknya itu tak begitu mengganggu anak- anak SMK ini, karena visi mereka adalah:

"Visi kami menjadi perusahaan yang inovatif menciptakan produk-produk yang mendekati‎ dengan kebutuhan orang sehari-hari," tutupnya.

Penemu Kompor Gastrik Pengusaha Wahono Handoko

Biografi Pengusaha Inovator Pengusaha


komporgastrik.png
 
Pengusaha ini bukan sekedar berbisnis. Dia penemu kompor Gastrik. Ia yang tidak bergantung kepada pemerintah. Membiayai penemuanya sendiri, melakukan penelitian, hingga membuat produk cocok bagi masyarakat.
 
Beberapa penemu menyalurkan idenya dalam bentuk bisnis. Apakah sah- saha saja, menurut kami, tak perlu spesifik kamu penemu dibidang apa. Pada hakikatnya kita semua pengusaha merupakan penemu dibidang masing- masing. Nah, kali ini kita akan membahas sosok dari pria penemu kompor gastrik.
 

Penemu Kompor Gastrik


Namanya Handoko Wahono, dari seorang peneliti jadi pengusaha muda, sukses memproduksi masal apa yang kamu kenal kompor Gastrik. Bukan perkara mudah seperti sebelum- sebelumnya, terhalang biaya jadi satu kendala baginya memperkenalkan ini. 
 
Kisahnya diawali ketika masih berkuliah Semester 8 di Sekolah Tinggi Tekhnik Mandala Bandung, pria 36 tahun ini, sudah mengarang- ngara konsep penelitiannya. Berawal dari tugas kuliah penelitain saat itu.

Kompor Gastrik merupakan jawaban akan sulitnya energi alternatif. Apalagi jikalau kita mendengar baru- baru ini Pertamina akan menaikan harga elpiji. Hati berasa gondok terutama bagi pengusaha kecil menengah yang bertahan lewat tabung 3 kg. 
 
Bagaimana kalau pengusaha beralih ke produk milik Handoko ini?

"Ide awalnya Gastrik ini muncul saat masih kuliah di Semester 8, bukan tugas kuliah tapi penelitian mandiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Mandala Bandung," jelasnya kepad pewarta detikFinance ketika dirinya ditemui di Hote Bidakara, Jakarta.

Pria 36 tahun ini awalnya tak menyangkan hasilnya akan memuaskan. Bayangkan, berkat usaha berjualan kompor ini, dia bisa mengantongi omzet 36 juta. Awalnya, tak terlalu terbersit benaknya buat memproduksi masal ini apalagi sampai mengkormesilkan; banyak perhitungan dia pikirkan. 
 

Miris- memang miris ketika kita mendengar kisah- kisah inovator kita. Baru saja ada kita mendengar salah satu peniliti muda Indonesia mengeluh "kurangnya dukungan pemerintah". Handoko sudah mengamati hal- hal semacam ini sejak memutuskan mengkonsep Kompor Gastrik. 
 
Ia mengaku tak terburu- buru menjadikan produknya menjadi komersil. Dia telah belajar dari pendahulunya. Menurut pengamatannya, diperlukan satu proyek percontohan terlebih dahulu.

Nah, sayangnya lagi, proyek percontohan juga memerlukan biaya. Ia mengakalinya dengan aktif merogoh isi dompet pribadinya dalam- dalam. Hasilnya keberhasilan produk sudah ditangan. Tinggal lah bagaimana agar bisa menarik perhatian investor. 
 
Salah satu cara menarik buat kamu tiru ialah aktif mengikuti pameran -utama pameran riset dan teknologi pemerintah. Meski tak begitu ambisius, justru keberuntungan lah membawanya ke tujuan.

Hasil risetnya diikutkan acara bertajuk Pameran Inovasi Kementrian Industri. Hingga sebuah organisasi non- profi membidiknya menjadi calon inkubasi bisnisnya. Yayasan INOTEK lantas menghubungi Handoko yang mana tujuannya adalah membangkitkan wirausahawan masa depan. 
 
Didalam kegiatan diadakan organisasi INOTEK ini, Handoko mendapatkan wawasan tentang bagaimana menciptakan produknya, memasarkan itu menjadi usaha.

Kompor Gastrik merupakan energi alternatif. Lebih aman dibandingkan penggunaan gas elpiji yang kadang bisa meledak. Menurut Majalahinovasi.com, dijelaskan bahwa ini adalah produk ekonomis dan aman buat dipakai. Gastrik merupakan singkatan gas dan listrik. 
 
Diciptakan oleh tiga orang selain Wahono Handoko, yakni dua rekannya, Randy Ariaputra dan Han Harrison. 

"Kemudian saya dibina menjadi home industri, dan bagaimana menciptakan kompor sekaligus menjadi usaha yang menguntungkan selama masa inkubasi," terangnya.
 

Pengusaha Kompor


Konsep bisnisnya ialah menakar kompor gas elpiji makin mahal. Selain itu adanya fakta bahwa masyarakat terkadang mengalami kesulitan. Pristiwa- pristiwa meledaknya tabung gas agaknya menjadi faktor lain. Inilah yang disasar oleh produknya, yang memanfaatkan energi bioethanol. 
 
Kenapa lebih aman? Karena produk ini menggunakan bahan cair bukan gas mudah meledak. Loh bukannya listrik, ternyata meski bernama listrik ini tak seperti kamu bayangkan. Meski kompor listrik, dijelaskan oleh Handoko, bahwasanya meski bernama Gastrik. 
 
Adanya baterai listrik pada kompor bukanlah utama. Api kompor bukan berasal dari listrik. Penggunannya cuma menjadi indikator saja, dan fungsi pengaturan api. Kalau bahan bakar utamanya adalah bioetanol berasal dari molases rumput laut gajah. Ia sendiri loh menelitik fakta- fakta tersebut.

"Dari penelitian saya, bahan bakar bioetanol yang saya ciptakan komposisinya 80% bioetanol, sisanya 20% air," ungkapnya lagi.

Soal efisiensi disebutkan Handoko ini sama dengan kompor gas elpiji. Mungkin, menurut penulis, dari aspek jatuhnya habis bahan bakar kuat sebulanan. Selain ditawarkan bahwa produk ini aman. Ia juga menambah satu hal yakni penampilan familiar. 
 
Dimana bentuk kompornya mirip kompor gas elpiji. Jadi buat masyarakat akan mudah menggunakannya. Harapan terbesarnya adalah agar kompor ini tak seperti pendahulunya. Tak cuma akan hilang dari pasaran setelah beberapa lama. 
 
Di tahun 2010, INOTEK mengguyur proyeknya bermodal dana hibah senilai angka Rp.63 juta. Barulah di tahun 2014 kompor Gastrik resmi diluncurkan ke masyarakat. Dibutuhkan waktu bagi dia dan kawan- kawan menelitinya, yakni dari tahun 2007 sampai 2008, fokusnya pada kompornya yang berbahan bioethanol.

Bermodal uang seadanya mereka mencoba membangkitkan idelismenya. Handoko mengaku mereka menjual apa yang bisa dijualnya. Menurut pria kelahiran 6 Juli 1977 ini, mengaku leganya bertemu bisa orang- orang INOTEK.

Kompor bioetanol buatanya diklaim sama murahnya dibanding gas elpji 3kg. Harganya dibandrol di angka Rp.7.500 per- botol isinya 850 mililiter dipakai masak 3-4 jam. Ini masih murah dibanding harga elpiji yang kemungkinan naik lagi. 
 
Soal kompornya, Handoko dan tim menjualnya Rp.220.000 sampai Rp.440.000 yang dua tungku. Cuma dibantu 2 orang dalam sehari pabriknya, yang berlokasi di Gedebage, Bandung, bisa memproduksi 10 kompor satu tungku.

Soal bahan baku didugung oleh UKM Bioetanol. Dimana mereka adalah masyarakat binaannya yang telah dibantu mesin penuyulingan. Bioetanol disuling di Sumedang berbekal mesin yang dibaginya cuma- cuma.

Seiring berjalan waktu, usaha miliknya semakin sukses, bahkan permintaan dari Bandung meningkat tajam. Banyak rumah tangga yang beralih ke Kompor Gastrik. Ia sendiri sudah siap. Salah satu caranya ialah aktif menggaet investor agar bisa memproduksi sendiri bahan bakarnya di Bandung. 
 
Biar gak susah soal ditribusi mungkin. Soal omzet bisnisnya dari bisnis kompor bioetanol, ia mengaku bisa menghasilkan Rp.10 juta per- bulan.

"Tapi kalau dari Bioetanolnya bisa Rp.20- 25 juta per- bulan," katanya bangga.

Pengusaha Membuat Keripik Pare Bisnis Menggiurkan

Profil Pengusaha Sukses Sofyan Hadi


usahapare.png
  
Pengusaha asal Kudus ini mempunyai kisahanya sendiri. Ia membuat keripik pare bisnis menggiurkan. M Sofyan Hadi tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya berwirausaha. Dia berkisah semuanya terjadi ketika dirinya menetap di Surabaya, Jawa Timur. 
 
Alkisah ketika itu orang tuanya meminta Hadi tinggal disana saja. Disana mulailah ia bertemu banyak orang- orang baru dan kisah pun berlanjut. 

"Saya lama tinggal di Surabaya, disana teman- teman asal Malang banyak membuat yang berkreasi dengan keripik buah," jelasnya kepada Tribunnews.com.
 

Bisnis Menggiurkan


Terbersitlah pikiran membuka usaha membuat keripik. Tapi, Hadi maunya sesuatu berbeda dari apa teman- temannya buat. Ia pun mulai rajin mencari resep di internet. Mencoba mencari alternatif keripik yang bisa diolahnya. 
 
Sekian lama berselancar di dunia maya, barulah, ia menemukan jalan suksesnya hingga sekarang. Mantan wartawan ini memilih buah pare sebagai bahan baku. Alasannya adalah karena manfaat pare bagi kesehatan.

Alasan lainnya, Hadi mengamati kala itu, usahanya masih belum banyak pemainnya. Jadilah dirinya menjadi salah satu pemain utama. Pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini (UNNES), menjelaskan dirinya tak bisa sekonyong- konyong menggoreng pare. 
 
Dia butuh waktu agar parenya tidak berasa pahit. Buah pare harus dibuat seenak mungkin, hingga rasa pahit tak begitu mengganggu. Serangkaian percobaan kemudian dilakukannya.

Hingga, Hadi yakin betul akan formulanya, bagaimana cara mengolah pare menjadi keripik pare. Caranya yakni: pertama, pare dirajang diris tipis- tipis terlebih dahulu, kemudian direndam daun kudo selama dua hari. Kedua irisan pare tersebut dikeringkannya.

"Dari berbagai percobaan, akhirnya ketemu. Caranya ternyata sangat mudah, pare yang telah dirajam dengan daun kudo selama dua hari," jelasnya.
 
Pare kering setelah dijemur lantas ditiriskan ke wadah. Selepas itu Hadi kemudian menggorengnya dua kali sampai benar- benar kering. Perlu kamu ketahui pada penggorengan pertama jangan langsung digoreng lagi. Kamu harus mengangin- anginkan terlebih dahulu. 
 
Terakhir penggorengan kedua akan digoreng benar- benar agar hasilnya benar- benar crispy. Mantan wartawan 1998 hingga 2014 ini, tak lantas menjual hasil karyanya tapi dicobanya dulu.

Dia membagikan keripik parenya ke lingkungan terdekatnya. Hadi menyebutkan semenjak mengkonsumsi keripik buatannya sendiri. Ia merasa kesehatannya membaik. Inilah kelebihan keripik pare menurutnya. Dia menjelaskan, katanya keripik pare ini bisa mengurangi pusing- pusingnya. 
 
Bukti lain yaitu tetangganya yang punya gula darah bisa berangsur- angsur normal. "Ada juga tetangga yang punya gula darah tinggi saya kasih untuk coba, ternyata setelah menghabiskan tiga bungkus gula darahnya berangsur normal," terangnya.

Puas akan hasil kerja kerasnya. Barulah Hadi memasarkan keripik pare tersebut ke pasaran. Beberapa toko di Kudus dijajalnya, hasilnya, tanggapan positif terhadap hasil produknya. Uniknya, Hadi tak cuma menyasar toko- toko jajanan biasa, tapi juga apotik- apotik terdekat. 
 
Ya, karena memang kasiat keripik pare seperti jamu, ternyata keripik pare bisa menjadi alternatif pengobatan kita. Demikian permintaan akan keripik pare lantas membengkak; Hadi mengaku sampai kwalahan memenuhinya.

Permintaan akan keripik pare tak cuma datang di sekitaran Kudus atau Surabaya. Permintaan keripik juga datang dari Semarang, bahkan Jakarta, Bandung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Palembang, dan juga Medan, juga beberapa toko- toko di berbagai kota seluruh Indonesia. 
 
Dia dibantu oleh tujuh orang karyawan telah menikmati hasil kerja kerasnya. Produk keripik pare -nya mengantongi omzet puluhan juta per- bulan.

Juga tak perlu repot- repot marketing karena seluruh Indonesia bisa membaca kisahnya.

"Hampir semua apotek di Kudus juga berminat memasarkan, sudah banyak yang pesan," jelasnya.

Kendala dihadapinya adalah soal bahan baku. Hadi memang tak sembarang memilih pare. Ia menggunakan pare jenis Thailand atau disebut juga pare landak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hadi menyiapkan petani plasma binaannya. 
 
Tujuannya agar stok pare Thailand stabil. Menggunakan metode plasma memang bagus terutama guna memunuhi kebutuhan akan bahan baku. Total ada lima petani plasma binaanya yang ia pinta khusus menanam pare Thailand atau landak tersebut.

Setiap bulannya menghasilkan 3 ribu bungkus keripik pare. Yang kemudian dilabelinya "Parea", yang mana ia memproduksi berat 35 gram sampai 100 gram. Mayoritasnya kemasan seberat 35 gram, karena itulah yang paling laku. 
 
Soal harga, Hadi mematok angka Rp.5 ribu sampai Rp.35 ribu, semuanya tergantung berat isi dalam kemasan. Varian rasa kerpik parenya mulai dari rasa orginal, keju, jagung pedas, pedas biasa, dan lain- lain. Pabrik kecilnya juga memproduksi rempeyek pare.

"Yang pokok, untuk membedakannya, yang bertepung itu saya klarifikasikan sebagai rempeyek, sementara yang original dan tak bertepung digolongkan sebagai keripik," jelasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba