Pengusaha Gagal 200 Kali Hingga Sukses Keripik

Profil Pengusaha Jayadi Keripik


pengusahagagal.png
   
Seperti judul lagu dangdut "Jatuh Bangun" hingga sukses. Bayangkan Jayadi pengusaha gagal 200 kali berusaha. Dari 199 kali usahanya baru menghasilkan sekali ini. Dia merupakan golongan yang ngotot pekerja keras.

Bila di Amerika mengenal nama Coloner Sanders, maka di Indonesia, ya ada sosok Jayadi ini pemilik usaha keripik. Pak Jayadi merupakan warga asal Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, yang tidak pernah menyangkan akan menjadi pengusaha.

Jayadi hanya bekerja tukang bengkel mesin bubut. Suatu hari ada pengusaha berkunjung ke tempatnya. Pengusaha itu meminta dibuatan mesin produksi. Pria 56 tahun ini pun mulai berpikir out of the box. Dia yang setiap hari cuma berkutat dengan mesin las, bubut, dan sejenisnya. 
 

Gagal Berbisnis

 
 
Tiba- tiba harus membuat mesin produksi makanan. Sejak itu pula, lewat tangan kreatifnya, banyak pengusaha datang ke tempatnya.

"Dari tahun ke tahun banyak orang memesan mesin produksi," tutur Jayadi.

Bisa membuat mesin produksi membuat Jayadi berpikir. Kenapa tidak membuat mesin sendiri untuk dipakai sendiri. Ia melihat pengusaha cemilan itu enak. Mereka tampak lebih menjajikan dan jarang merugi. Itulah awal cerita pengusaha berkacamata satu ini. 

Ada bayang kegagalan dibenak Jayadi saat itu. Hanya saja perasaan penasaran lebih besar dari takut gagal. Dia memang tidak punya pengalaman bisnis kuliner. Ditambah latar belakang pendidikan yang sarjana teknik. 
 
Kalau membuat mesin mudah baginya. Tapi membuat cemilan dari mesin tersebut memang lain soal. "Bagaimana dengan pemasarannya nanti," ada keraguan dibenak Jayadi.

Percobaan demi percobaan dilalui Jayadi. Hingga jadilah mesin tersebut. Cuma, jadi mesin bukan berarti dia bisa langsung berproduksi. Dia berpikir mau membuat apa. Jadilah rencana membuat kripik buah, alasannya karena tempat tinggal Jayadi mudah mendapat buah. 
 
Mesin itu akan membuat buah tanpa kadar air. Sebuah mesin penggoreng berbentuk tabung yang memiliki penyaring uap. Itu mampu membuat kripik menjadi lebih renyah.

Ketika pertama kali mesin tersebut dicoba hasilnya tidak sempurna. Kripik tersebut tidak terasa renyah betul dibanding harapan. Jayadi tidak patah arang. Bahkan aneka percobaan terus dilakukan lagi. Dia menghitung setidaknya ada 199 kali percobaan. 
 
Baru percobaan yang ke 200 -an menghasilkan kepuasan. "Saya puas dengan hasilnya," ujarnya. Ini layak dikonsumsi masyarakat. Dan, hasil mesin tersebut bisa dipertanggung jawabkan.

Usaha kripik yang dimulai sejak tahun 2005 silam. Babak baru bagi seorang Jayadi, seorang tukang bengkel mesin bubut. Sebagai tahap pertama dibuatlah dua varian kripik; kripik nangka dan kripik nanas. 
 
Lantas ia namai kripik Vigour. Tampak akan sukses bukan? Tapi tidak, dia sempat merasa modal Rp.54 juta itu telah melayang jauh.

Berusaha menjual terus tapi selalu merugi. Meski awal- awal berhasil memproduksi bentuk dan rasa sempurna. Diperjalanan mesin buatan Jayadi tidak sempurna. Dia mengaku rugi besar karena kripiknya tak lagi sempurna. 
 
Sial buat Jayadi lantaran jenis kripik tersebut sudah marak. Pendek kata, kripik Vigour belum jadi, sebata khayalan Jayadi saja. Sampai dia memutuskan harus berhenti berproduksi. Segela celah dicari olehnya agar si mesin membaik.

Dia membenahi si mesin sampai benar- benar. Agar kualitas kripik Vigour selalu gurih dan renyah tanpa berubah rasa. Nah, dikala suntuk karena stress datang, harapan Jayadi bangkit ketika mendengar lagu yang berjudul "Jatuh Bangun" itu.


Tidak ada kata mundur bagi pria 56 tahun ini. Lagu dangdut yang dipopulerkan Krisitina dan Magy Z terus mengalun indah. Memenuhi semangat dia agar tetap bangun ketika jatuh. "Intinya jangan cepat menyerah," ucap Jayadi.
 

Bekerja Keras

 
Dia tidak ragu belajar dengan mereka yang telah sukses. Sedikit- demi sedikit usahanya bangkit telah nampak hasilnya. Sebagai pemula melihat pasar kripik sulit ditembus. Jika pertama kali susah menembus pasar. Berkat kerja keras diubahnya 19 jenis buah dan sayur jadi kripik. 
 
Apa pencapaian terbesar seorang Jayadi adalah mampu menaklukan semangka. Membuat semangka menjadi kripik manis. Jika teman- teman pengusaha kripik gagal mengolahnya. Jayadi sanggup menaklukan tantangan.

"Salah satu keunggulan Vigour memang bisa mengubah buah kaya air menjadi kripik," bangga Jayadi. Dia pun menjamin baru mesinnya yang bisa membuat.

Kecanggihan mesin menjadi kunci fital bisnis Jayadi. Berkat mesin tersebut produksi Vigour melimpah karena sudah bisa otomatis. Tinggal menjaga kebersihan mesin dan produksi. Berkat usaha kripik buah bisa menjadi modal bisnis lain. Menjadi subsidi bisnis lain yang dijalankan Jayadi. 
 
Sebut saja bisnis bengkel yang pernah ia geluti. Sekarang kan masih sepi, karena punya bisnis kripik aneka buah ya bisa mencukupi. Ia tidak bekerja sendiri. Diangkat beberapa karyawan membantu urusan administrasi. 
 
Sementara dirinya bisa fokus di proses produksi. Bahkan karena permintaan meningkat. Dia bisa sampai mempekerjakan 45 orang karyawan. Sebagian besar tetangganya yang membutuhkan pekerjaan. 
 
Hitung- hitung membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran. Mereka punya aneka keahlian diluar apa yang bisa dilakukan oleh Jayadi.

"Kita beri tugas sesuai kemampuannya masing-masing. Ada yang bertugas di bidang pemasaran, produksi, accounting, dan pemasaran produk di dua outlet yang kami miliki," jelasnya.

Berkat kerja kerasnya sudah ada dua outlate sendiri. Yakni di Kota Batu, beralamat di Komplek Ruko Batu Galleria, Jalan Dipenogoro dan Jalan Raya Mojoerjo No. 35B, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Sukses kripik Vigour tidak cuma terbatas di Kota Malang. 
 
Bahkan sudah masuk Jayapura, Aceh, Medan, Riau, Bangka Belitung, kemudian sebagian Pulau Kalimantan juga.

"Untuk wilayah Kalimantan, ada di Samarinda, Balikpapan,Tarakan, dan Banjarmasin," sebutnya.

Khusus Sulawesi, ia mencatat seluruh Kebupaten dan Ibu Kota Provinsi sudah ada kripik Vigour. Untuk memenuhi kebutuhan total ada empat mesin penggoreng. Dimana Jayadi sudah bisa memenuhi 120kg kripik buah. 
 
Omzetnya mencapai Rp.252 juta. Ini termasuk produk lain seperti sari buah dan berbagai kue buah yang ada di outlate. Meski sukses masih ada saja hambatan dilalui. Dimana ia harus mencari buah sampai ke luar kota.

Harus mencari ke Semarang bahkan Lampung pungkasnya. Untuk kripik buah jambu, dari Kota Batu sudah cukup memenuhi kebutuhan. Agar meningkatkan penjualan dilakukan aneka kerja sama. Termasuk kerja sama dengan agen pariwisata. 
 
Istilahnya, kalau ada yang ke Kota Batu, maka pulangnya langsung mampir ke Vigour. Kalau rejekinya sedang bagus. Maka akan ada 5-7 bus pariwisata mampir ke outlate milik Jayadi tersebut.

Kue Buah- Buahan Ide Bisnis Untung

Profil Pengusaha Maria Wardhania

 

kuebuah.png
 

Kue buah- buahan mampu menjadi ide bisnis untung. Tengok pengusaha bernama Maria Wardhania, sang pemilik usaha bernama Rumah Pisang di Bekasi, Jawa Barat. Menerapkan konsep spesial kue berbahan utama pisang, dia merubahnya menjadi kue kering atau cake.


Tidak cuma diolah minuman jus atau keripik buah. Maria merubah pisang menjadi cake beromzet Rp.100 juta perbulan. Keuntungan dari satu jenis makanan sudah menggiurkan bukan. Pengusaha Maria untung sampai 30% margin dari Rp.100 juta.


Cara pembuatan kue sangat mudah. Itu sama kayak membuat kue pada umumnya. Pertama langkahnya, kamu menyiapkan adonan berbahan terigu. Kedua kamu masukan pisang ambon atau sunpride yang telah dihancurkan. 

 

Ketiga kamu campurkan dua adonan menjadi satu di dalam cetakan dan siap dioven. "Jumlah pisang harus dominan dari adonan trigu supaya rasa pisangnya lebih berasa," terang Maria.


Maria memilih kue buah- buahan karena mudah dikonsep. Kenapa dia memilih pisang karena lebih dikenal masyarakat. Bahan baku juga mudah didapatkan dibanding buah lain. Ide bisnis untung bukan karena bahan baku mudah.


Pisang juga buah favorit keluarga dapat dinikmati siapapun. Buah pisang juga mengandung banyak gizi dan vitamin. Mari sukses menggaet pelanggan sampai Jakarta dan Bandung. Harga banana cake miliknya Rp.50 ribu perloyang.


Maria juga mengembangkan kue berbahan oatmale Rp.35 ribu pertoples. Pertama Maria mampu mengantongi omzet Rp.30 juta, laba bersih 20% atau lebih. Sementara dia pernah membua kue pisang tetapi kurang.


Kebanyakan orang memahami kue dibuat cake buka kue kering. Maka Maria giat mempromosikan kue kering pisang bermodal internet. Pengusaha Maria Wardhani aktif membagikan resep- resep kue secara online.

Kedai Kopi Luwak Asli Bisnis Merambah Kota

Profil Pengusaha Satiran

 
 
kopiluwak.png
 
Kedai kopi luwa asli Wonosalam memang sedap disruput. Kini kedai mereka merambah kota lewat kemasan instan. Meski kaki lima, kedai kopi khas Wonosalam memang otentik. Sedap sempat dikira mahal ternyata dapat dinikmati siapapun.
 
 
Apakah kamu yakin itu benar- benar dari luwak asli. Jikalau kamu tak meyakin maka mampirlah ke Wonosalam. Di kedai kopi sederhana milik Satiran kamu akan mencicipi kopi luwak asli.
 

Bisnis Merambah Kota


Warung Pojok milik Satiran memiliki kopi seduhan tak kalah restoran kelas atas. Warung yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Tempatnya disebuah dataran tinggi di lereng Arjuno, pas untuk menikmati panasanya secangkir kopi. 
 
Meski sederhana dari tempat, gelas, tapi dia sangatlah tau betul mahalnya kopi luwak. Diperkotaan dijual seharga 100.000 maka Satiran menjualnya satu nol berkurang. Kamu bisa menikmati satu cangkir kopi cukup 10 ribu.

Di kawasan itu ternyata dikenal sebagai penghasil kopi. Sayang, kopi bukanlah komoditas primadona disana. Suatu ketika ia pun bercurhat bagaimana agar komoditas asli bisa berkembang. Ide tentang kopi luwak ia dapatakan ketika berbincang dengan anaknya. 
 
Sejak tiga tahun lalu, sosok- sosok Satiran yang bermunculan dan menawarkan konsep sama. Yaitu menawarkan kopi dari luwak yang ditangkarkan. Perjalanan kakek 16 cucu ini tidaklah mudah. Meski sukses bermodal sedikit membangun kopi luwaknya; tetap sepi. 
 
Berjalan lebih lama, dia mencoba menawar produknya secangkir 10 ribu. Awalnya kopi buatan miliknya diragukan apakah asli. Cara terbaik yang dia lakukan ialah menunjukan luwak- luwak miliknya dibelakang. 
 
Meski terlihat jijik, ketika kamu bisa melihat si luwak mengeluarkan biji dari belakang melegakan. Alhasil, usahanya tersebut tidak sia- sia, banyak peminat kopi datang ke tempatnya. Dia benar total untuk selalu menjaga kualitas. 
 
Bahkan ketika ditanya kenapa tidak membeli kopi luwak sudah jadi; ia menolak hal itu. Satiran tak ragu membeberkan bagimana dirinya memperlakukan kopinya. Dia menunjukan cara baik dalam menangkar si luwak. Semua dilakukan bermodal cara sederhana tapi bersih.

Satiran lantas menunjukan proses pencucian secara tujuh kali dari air mengalir.Setelah benar bersih dari sisa kotoran barulah ia menjemurnya di terik matahari. Usai itu Satiran menyangrai atau disangan di nanangan, dia lalu membakarnya dengan kayu bakar. 
 
Nanangan ini adalah wajan dari tanah liat. Apinya digunakan bahan bakar kayu bakar. Proses sangrai membutuhkan satu jam lamanya. Caranya khusus jadi jangan takut untuk berkunjung ke sana. Setelah kering dia akan menyeduh kopi ke gelas dengan air, lantas ia diamkan selama tiga menit. 
 
Nah, setelah itu kopinya akan ditutup agar baunya tetap terasa hingga dinikmati. Dia mengaku usahanya ini bukanlah main- main. Kopi buatannya nyatanya mulai dinikmati banyak orang. Ia bahkan menyiapkan kemasan khusus. Ia menanggap peluang dari pamor Warung Pojoknya.

Kopi produksi usahanya memiliki slogan "harga murah berkwalitas prima". ika secangkir kopi luwak ia hargai Rp 10 ribu, untuk satu ons bubuk kopi luwak, pembeli cukuplah merogoh kocek sekitar Rp 100 ribu. Harga yang pantas dan jauh lebih murah dari harga kopi luwak di perkotaan.

Usaha Telur Puyuh TKI Ingin Merubah Nasib

Profil Pengusaha TKI  Sukisman dan Dewi

 

usahatelur.png

TKI ingin merubah nasib tidak mau selalu bekerja diluar. Usaha telur puyuh banyak tidak terpikirkan oleh mereka. Kebanyakan TKI memilih berbisnis rumah makan atau warung. Ke depan para pejuang devisa ini diharapkan mampu lebih kreatif berbisnis.


Kalau tenaga kerja kita pulang dari luar negeri pasti pusing. Mereka akan tinggal sebentar dan harus siap- siap berangkat. Godaan gaji lebih besar memang tidak terelakan. Beberapa tenaga kerja luar negeri kita bahkan tidak memiliki opsi lain.


TKI Ingin Merubah Nasib


Banyak TKI gagal memanfaatkan uang dibawa pulang. Lebih baik kembali keluar negeri karena gaji kuli lebih mahal. Tapi usia produktif juga menjadi permasalahan. Usaha telur puyuh TKI memang belum orang opsikan. 

 

Menyadari keadaan pasangan suami- istri, Sukisman dan Dewi, meyakini mereka harus berbuat suatu perbedaan. Mereka merupakan tenaga kerja berangkat ke Korea Selatan. Usia keduanya telah 35 tahun dan harus menyiapkan hari tua nanti.


Pasangan yang dipertemukan ketika pulang mampir ke Jakarta. Keduanya sepakat menikah, kemudian bekerja sama membangun usaha telur puyuh. Mereka ingin merubah nasib dan berhasil mengantongi Rp.1 juta perpekan.


Modal awalnya kembali dalam tempo enam bulan. Ternyata mereka sempat beternak sapi. Usaha yang lebih mainstream tersebut malah gagal. Mereka tidak langsung berhasil ketika berpindah. Akibat gagal beternak sapi membuat habis- habisan.


Sebelum mereka membuka usaha baru membutuhkan modal. Dewi harus ikhlas ditinggal. Suaminya berangkat ke Korea demi mengumpulkan uang. Bertahap warga Garut, Jawa Barat, merintis usaha budidaya puyuh.


Dewi bahkan sempat mengandung ketika merintis. Suami istri tersebut berbagi peranan antara yang mencari modal dan usaha. Dewi melahirkan anak pertama mereka, Gerrad Milano, dan putra keduanya lahir ketika usaha sudah jalan, berusia sebelas bulan.


Mereka memang mengawali usaha tanpa kepastian. Kini mereka sudah mapan, memiliki toko pakan ternak dua tingkat dan 4 ribu burung puyuh. Penjualan stabil sudah memiliki keagenan. Pengepul datang dari Klaten dua minggu sekali mengambil telur.


Suami juga beternak burung kicau hasilkan ratusan ribu sampai jutaan. Kesuksesan mereka datang selepas bangkrut usaha sapi. Dewi sendiri memiliki latar belakang pendidikan menengah atas. Lulus tahun 1999, dirinya sudah bekerja dan tidak berharap melanjutkan kuliah.

 

Usaha Telur Puyuh


Buat sekolah saja sudah bekerja keras. Dewi lebih memilih merantau merubah nasib. Pernah dia kerja di pabrik di Purwokerto. Cuma bertahan dua tahun kemudian pulang kampung. Dewi langsung jadi pengangguran ketika pulang ke desa, tetapi tidak betah dan ingin bekerja kembali.


Dia tidak mau berpangku tangan.. Keingina bekerja teralisasi lewat program bekerja keluar negeri. Ia memutuskan menjadi TKI. Dia mendaftar PJTKI. Bersusah payah akhirnya diberangkatkan keluar negeri. Pertama kali Dewi bekerja menjadi buruh di pabrik pembalut Korea.


Ketika akan diberangkatkan  dia bertemu sosok Sukisman di Jakarta. Sosok yang berasal dari Sleman yang hendak diberangkatkan ke Korea juga. Perkenalan mereka berlanjut bahkan ketika sampai di negeri orang. Dewi dan Sukisman pulang bersamaan ke Indonesia pada 2005.


Tahun 2006, mereka menikah, "waktu menikah itu, kami sama- sama masih menganggur," kenang Dewi. Pusing tidak mendapatkan pekerjaan kembali. Suami nekat berangkat ke Korea kembali. Dan Dewi menetap di Garut bersama anak pertamanya berusia dua minggu.


Tiga tahun suami bekerja di Korea kemudian pulang. Keduanya sepakat membuka usaha di kampung halaman Sukisman di Pendowoharjo, Sleman. Dewi setuju. Di tahun 2009 itu, keduanya sepakat buat beternak sapi, mereka membeli sepuluh sapi.


"Kami berdua membeli sapi sepuluh ekor. Tapi, semua itu gagal. Harga sapi terjun bebas dan kami rugi dua juta rupiah perekor," ia mengenang. Belum termasuk kerugian waktu mereka merawat. Kegagalan tidak membuat mereka berhenti berusaha.


Mereka terus memompa semangat suaminya berusaha. Dewi kemudian mendapatkan saran seorang kawan. Dia akan mengajarkan Dewi beternak burung puyuh. Akhir tahun 2009, Sukisman dan Dewi bahu- membahu membangun bisnis telur puyuh.


Uang sisa penjualan sapi yang rutin tetap ada. Uang kemudian diputar kembali ke bisnis telur puyuh.  ini. Mereka investasikan semua uang kedalam bisnis puyuh. Bahkan mereka mulai membangun usaha toko pakan burung.


Bermodal 4 ribu ekor semua bertelur dan balik modal. Dalam enam bulan mereka sudah kembali uang modal. Walau memelihara burung puyuh cukup sulit tetapi sepadan. Burung puyuh dikenal ternak sensitif. Burung mudah terkena penyakit dan stres.


"Kalau mendengar suara keras yang mendadak, puyuh bisa stres. Tapi dengan kandang yang tertutup dan dibersihkan setiap hari, semua kendala tidak bermasalah," imbuh Dewi. 


Bahkan Dewi melarang orang lain masuk ke kandang. Keuntungan telur puyuh memang sangat bagus kedepan. Bahkan mereka menerima penjualan kotoran burung. Kotoran mereka hasilkan dari 4 ribu burung mencapai 3 ember, satu embernya dijual Rp.1000.


Puyuh yang tidak produktif masih bisa dijual Rp.2500 perekor. Itu nanti diganti burung puyuh muda berusia 3 minggu. Burung puyuh akan bertelur setelah berusia 60 hari. Mereka baru mencapai puncak produktif pada usia 10 bulan.

Pengusaha Kerupuk Kemplang Palembang Eva Yunus

Profil Pengusaha Eva Yunus  

 
evayunus.png
 
Usaha kerupuk kemplang Palembang memang prospek. Pengusaha Eva Yunus telah mampu patahkan mitos usaha butuh modal besar. Eva juga mampu mematahkan bahwa usaha kerupuk recehan. Dia adalah wanita asal Palembang, cuma pembuat kemplang, ya makanan remeh- temeh itu.
 
 
Tapi apakah kamu tau berapa ia menghasilkan. Kini bisnis kemplangnya bisa menghasilkan omzet Rp.35 juta rupiah per- bulannya. Kalo setahunnya bisa menghasilkan cuma Rp.420 juta atau hampir bisa setengah miliar dalam satu tahun.
 

Rahasia Kerupuk Kemplang


Apakah rahasia pengusaha kerupuk kemplang Palembang ini. Eva Yunus berbisnis dengan modal kecil, berapa modalnya ketika ditelusuri tenyata ia cuma punya Rp.200.000 kala itu. Semua dijalaninya dari pertama hingga sekarang sukses. 
 
Apakah rahasianya ya tentu soal inovasinya. Eva dikenal sebagai pengusaha wanita inovatif soal kemplangnya. Salah satu jajanan hasil karyanya yaitu kemplang dari wortel. Kemplang itu manis, sedap, dan gurih dalam satu waktu.

Ia pun tak segan memanfaatkan teknologi modern. Disentuh teknologi dibisnisnya membuat sosoknya jadi semakin bersinar dalam bisnis ini. Bisnis rumahan tapi menguntungkan.



Perlu diketahui Eva menjadi pengusaha karena desakan ekonomi. Mudahnya dia kepepet jadi pengusaha dan itu nyatanya berhasil. Suaminya hanyalah guru, bergaji pas- pasan, hanya mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari- hari. 
 
"Dari situ, saya menguatkan tekat menambah penghasilan," pungkas wanita yang sudah mengerjakan bisnisnya sejak 1998.

Piliha bisnisnya jatuh pada usaha kerupuk. Alasanya usaha apa yang tak bermodal besar, ya, usaha kerupuk inilah hitungan kasar Eva. Tentu hasilnya besar jika benar ia mengerjakannya. Nyatanya ia punya modal yaitu dari ilmu kerupuk dari orang tuanya. 
 
Ia mengaku kedua orang tuanya sudah berbisnis kemplang sejak dulu. Untungnya bisa 20% dari omzet setelah dipotong bahan baku dan lain- lain. Selepas menentukan mau usaha apa. Eva lantas mencari- cari peralatan milik orang tuanya. 
 
Kebetulan juga peralatan itu sudah tak pernah digunakan lagi. Dia lantas membeli bahan- bahan baku pembuatan kerupuk seperti tepung, ikan, dan bumbu. Modalnya cuma minim ia tak punya uang lebih. Upaya meminta tambahan modal dari kerabat nampaknya sia- sia. 
 
Karena mereka sendiri hanya cukup untuk rumah tangganya masing- masing. Makanya Eva lantas meminta sang suami meminjam koperasi. Guna melunasi hutangnya ini suami harus rela uang bulanan kena potong. Eva pun berkata tak mengapa asal usaha jelasnya.

Sayang, menjadi pengusaha itu susah tak segampang ia bayangkan. Dia harus melalui masa- masa sulit di awalnya. Semua karena di Palembang sendiri banyak pengusaha kemplang. Tapi Eva tampak tak mau untuk menyerah. 
 
Alasannya karena kemplang punya pasar banyak dicari oleh masyarakat sekitar dan juga para pelancong. "Mencocol kerupuk ke sambal sambil nonton TV," pungkasnya.

Sasaran pertama "uji coba" kerupuk kemplang buatannya ialah mereka para tetangga dan sanak sudara. Ia lantas menggelar lapak di emperan rumahnya. Agar bisa laris manis sagala upaya dilakukannya. Eits, bukan upaya mencurangi isinya ya. Eva paham betul konsekuensinya. 
 
Ia pun memilih menambah takaran untuk ikan gabus dan tengiri agar lebih dominan diadonannya. Jika biasanya orang memilih lebih banyak tepung, ia lantas menjual 1kg ikan hanya menghasilkan 4 kerupuk mentah.

"Dengen begitu rasa ikannya akan lebih terasa," ungkapnya. Selain pada kualitas ikan ditingkatkan, andalan usahanya ialah ia menggunakan bumbu khusus. Untuk yang satu ini Eva enggan mengungkapnya kepada kita. 
 
Tak puas cuma dikonsumsi orang terdekatnya, berjalan waktu, ia menjual produknya ke halayak luas. Satu kendala lagi yaitu modal untuk promosikan produk olahannya.

Upaya akhirnya ialah ia menawarkan produk itu di acara- acara arisan, sunatan, hingga perkawinan. Dia pun tak lupa menawarkan daganganya ke toko- toko. Dari sanalah ia mendapatkan pesanan- pesanan datang hingga sekarang. 
 
Eva, kini. menjajakan produknya di JL. K.H. A. Azhari Lr. Anten- Anten No.557 RT 165, Ulu Laut, Palembang. Rumah sekaligus tempatnya berjualan dan juga pabriknya itu berada tepat di pinggir jalan besar.

Ia mengaku usahanya ini tak fokus pada untung sebesar- besarnya. Dia malah lebih senang karena kurupuk miliknya Kerupuk Yunus jadi terkenal. Eva lebih fokus pada branding produknya ini. Dengan nama kerupuk miliknya semakin besar maka pembeli akan datang sendirinya.

Modal Usaha Kerupuk Kemplang


Semakin terkenalnya Kerupuk Yunus mengantar Eva ke keberuntungan lain. Konsistensinya membangun dari nol brand miliknya. Membuat usahanya kini didatangi banyak orang, bahkan, kamu akan melihat rentengan mobil- mobil berjejer di depan rumahnya. 
 
Melihat itu PT. Pupuk Sriwijaya mengajak bermitra dengan Eva. Gayung bersambut kesempatan itu dimanfaatkan. Pada tahun 2003, ia resmi mengajukan proposal pinjaman ke Pusri.

Dia mengajukan modal cuma 9 juta. Pinjaman berbunga 6% ini digunakannya nanti untuk menambah jumlah karyawannya. Belum sampai jatuh tempo ia sudah bisa melunasinya. Karena itulah Pusri mau memberikan modal kedua untuk Eva. 
 
Untuk kali ini Eva berani mengambil modal 40 juta, kali ini digunakannya sebagai modal mengembangkan pabriknya. Namun kali ini pengusaha berkerudung ini diberikan syarat tambahan yaitu membimbing petani plasma.

Eva harus membina para nelayan plasma. Mereka adalah para nelayan pemasok ikan gambus dan tengiri. Ini bukanlah persoalan baginya. Justru dengan adanya hal ini ia bisa mendapatkan koneksi. Mereka itulah para nelayan yang membantu memasok usahanya kini. 
 
Cuma ia tak mau asal borong meski ada embel- embel harus membantu mereka. Eva membantu mereka untuk memenuhi kreteria yang ditetapkannya.

"Saya tak segan menolak jika ikan dari nelayan ternyata berkualitas jelek," tandas Eva.

Mendapat sentuhan teknologi Eva mampu berinovasi lebih. Kerupuk kemplang miliknya ini bisa jadi aneka rasa. Dia mendapatkan dorongan bimbingan Badan Litbang dan Inovasi Daerah Sumatra Selatan. Produk kerupuk kemplangnya bisa jadi aneka rasa. 
 
Sebelumnya cuma satu rasa kini ia memiliki 14 model rasa. Ada 4 rasa dengan 18 model bentuk jelasnya; ada digoreng dan dipanggang. Penjualannya bisa mencapai Rp.5 juta- 10 juta, kerupuknya ini telah melalang buana ke Jakarta, Bandung, hingga Batam. 
 
Eva juga tengah menjajaki penggunaan oven khusus. Ia menjelaskan ketika hujan nanti tetap bisa berproduksi tanpa dikeringkan dengan matahari. Meski sudah aneka rasa, Eva Yunus, pengusaha wanita ini menjelaskan produk rasa originalnya tetap paling diminati.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba