Biografi Arifin Panigoro Bangkit Menjadi Pengusaha

Biografi Pengusaha Arifin Panigoro

 

arifinpanigoro.png

Bangkit menjadi pengusaha begitu nilai kami petik. Biografi Arifin Panigoro menjadi salah satu orang terkaya Indonesia. Bermula pemotongan nilai mata uang atau redenominasi dulu. Atau kita menyebutnya proses sinering. Efek utamanya penurunan nilai mata uang hingga turun barang dan jasa.


Sinering menjadi momok bagi pengusaha dulu. Kejadian parah terjadi pada 1965 dan mungkin terjadi kembali. Sinering menghantam keras bisnis keluarga Arifin Panigoro muda. Dulu keluarganya memang telah menekuni bisnis.


"Dan bisnis tidaklah selamanya langgeng. Bisnis bapak saya anjlok karena imbas pemotongan mata uang ini," terang Arifin ke Okezone.com. Usaha dikerjakan keluarga bangkrut sampai terpaksa menjual aset. Salah satunya rumah ditinggali dijual buat membayar hutang.

 

Merintis Bisnis


"Saya merasakan betul bahwa survival itu tidak gampang," tandasnya. Arifin kemudian tumbuh jadi pegawai radio dan televisis Philips. Dia kemudian berkenalan dengan sosok Jusuf. Dia mengenalnya sebagai pengusaha penjual televisi.


Ia jualan televisi barang elektronik ketika cuma TVRI. Terutama ketika stasius televisis ini masuk ke daerah Tangkuban Perahu. Penjualan elektroniknya laris manis sampai melupakan sesuatu. Jusuf juga berjualan tekstil kain tetapi terbengkalai.


Dia terlalu sibuk berjualan elektronik. Disisi lain, pedagang lain mulai meninggalkan jualan kain dan menjadi pakaian jadi; Jusuf tidak melakukannya. Terlalu fokus bisnis lain membuatnya kurang awas berbisnis. Dia kehilangan tren alhasil ditinggalkan pembeli.


Pelanggan bertahap beralih ke produk pakaian jadi. Arifin belajar banyak dari kisah tersebut. Bahkan inilah yang membuat bangkit menjadi pengusaha. Arifin tidak pernah merasa trauma. Menjalankan kewirausahaan sudah mendarah daging.


Biografi Arifin Panigoro kelahiran Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945, dikenal pengusaha Indonesia yang merupakan pendiri Medco. Bukan perkara mudah dia merintis ketika dimasa Order Baru. Pada masanya dikenal pengusaha pribumi kurang diperhatikan.


Kedua orang tuanya merupakan kelahiran Gorontalo pindah ke Jawa. Arifin termasuk aktif dalam dunia perpolitikan. Pernah dia menjadi pendiri Partai Demokrasi Pembaruan. Nama- nama terkenal di dunia politik dikenalnya, antara lain Sophan Sophian, Laksamana Sukardi, Roy B.B Janis, dll.


Dia pun pernak bergabung dalam PDI- Perjuangan. Masa Orde Baru tumbang, pada 1998, namanya sudah dikenal berbisnis perminyakan. Pergaulan Arifin meluas termasuk pejabat Pertamina dan pula perusahaan minyak internasional.


Ketika masa reformasi banyak mahasiswa turun ke jalan. Arifin sadar politik. Sumbangsih Arifin telah menjadi simbol kebangkitan pengusaha berpolitik. Banyak pengusaha yang ragu bergabung gelombang reformasi. Arifin menjadi simbol lewat membagi- bagikan nasi bungkus gratis.

 

Alumni Elektro Institur Pertanian Bandung tahun 9173. Bermula dia menjadi kontraktor instalasi listri door to door pada 1980 -an. Berlanjut, masih masa Orde Baru, Arifin menjajal pemasangan pipa kecil- kecilan. Dia kemudian mencoba menggarap pipa diameter besar.


Sayangnya, dalam peraturan, proyek semacam tersebut diperuntukan perusahaan asing. Pengusaha lokal seperti dirinya akan didepak. Pasalnya perusahaan asing lebih memiliki peralatan canggih. Arifin menemukan sesuatu harus dirubah.


Andaikan pemerintah mendukung pengusaha lokal bersaing. Bagaimana bisa ikut menangani proyek- proyek sekala besar. Pada 1981, Arifin nekat mengerjakan proyek pipanisasi skala besar. Caranya ia melalui kerja sama dengan perusahaan asing.


Deal -nya unik, bukan keuntunga, melainkan satu kali proyek berhasil maka dibayar alat. Perusahaan asing akan memberikan peralatannya ke Arifin. Mitra setuju kemudian proyek berhasil. Arifin hasilkan peralatan gratis buat dijadikan modal.


Kemana- mana dia masuk proyek berbekal peralatan tersebut. Memang dukungan pemerintah sangat berpengaruh. Beruntung pemerintah mulai menyadari kebutuhan lokal. Ingin rasanya ikut membantu pengusaha lokal. Perusahaan asing mumpuni karena pengalaman mengerjakan bertahun- tahun.


Perusahaan lokal kemudian akan menjadi mitra pengerjaan. Ketika terjadi oil boom, pada 1979- 80 -an, Sekertariat Negara hendak membangun beberapa kilang baru. Pemerintah punya progam pembinaan perusahaan lokal. 

 

Medco akan membangun kilang minyak di Cilacap. Perusahaan Arifin Panigoro dikawinkan dengan perusahaan asal Amerika Serikat. Ikut mengerjakan perusahaan Arifin mendapat pengalaman. Untung ya, Arifin punya kedekatan dengan Dirjen Migas Miharso yang ingin kemandirian perusahaan lokal.


Kemudian ada proyek penyertaan modal pemerintah ke Pertamina. Targetnya pengeboran gas wilayah Sumatra Selatan. Pemerintah mendorongnya ikut tender, meskipun Medco belumlah memiliki alat pengeboran. Perusahaan asing diminta memakai orang Medco, dan menyewakan alat ke pada mereka.


Namun perusahaan asing tersebut memberikan tanggapan negatif. Pak Miharso tersinggung. Dia lalu membatalkan. Dan nekat meminta Medco mengerjakan proyek sendiri. Biografi Arifin Panigoro sama sekali tidak percaya, karena dia tidak memiliki pengalaman mengebor.


Hasilnya, Arifin kelabakan karena tender 1979 harus sudah dikerjakan 1980. Perasaan campur aduk, ia menerima tantangan itu. Arifin lalu mengajak staf yang mampu berbahasa Inggris. Disuruhnya dia ke pusat perbelanjaan paralatan pengeboran di AS.


Begitu yakin akan harga maka Arifin sendiri terbang ke Amerika. Inilah pengalaman pertamanya, ini pertama kali perjalanan bisnis, Arifin berangkat dari Jakarta ke Houston, Amerika Serikat. Dia punya modal 300.000 dollar dan "bahasa Inggris Tarzan".


Penjual meminta dalam dua minggu harus dilunasi. Atau uang $300.000 miliknya akan hangus. Total ia mengeluarkan $4 juta. Arifin tidak bisa menawar karena posisinya jelek. Pengalaman terbang itu menjadi pembelajaran. Pengalaman terbang panjang memakai fasilitas pesawat kelas ekonomi.


Sesampai di Jakarta, Arifin jatuh sakit dan tetap harus melakukan pertemuan. Arifin harus menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh lalu ke Pertamina. Inilah kisah bangkit menjadi pengusaha "bayi". Hingga Pak Piet Haryono dan Pak Wiharso sepakat Medco harus dibantu.


Sejarah Medco


Mereka memberi rekomendasi di akhir ambang perjanjian. Maka cairlah dana pemerintah meskipun hampir gagal. Medco sudah memiliki modal menjalankan proyek. Arifin makin positif bahwa kedepan pengusaha lokal dapat berjaya.


Medco mulai mengerjakan aneka proyek semenjak 80 -an. Masa kejayaanya datang ketika tahun 1990 -an. Dimana perusahaan aktif merangkul perusahaan asing. Mereka belajar sembari mempraktikan itu langsung. Tidak mudah karena sudah dibor belum tentu menghasilkan minyak.


PT. Medco Energi Internasional mengelola keuangan jutaan dollar. Keinginan mandiri selalu menjadi motivasi Arifin. Hingga di tahun 1990 -an, dibelinya lahan sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur seharga 13 juta dollar.


Ia mampu menghasilkan 4000 barel perhari dari ladang minyak. Tahun 1995, ia membeli ladang sumur tua milik PT. Stanvac Indonesia milik ExxonMobil, yang membuat Medco menghasilkan 80.000 barel minyak perhari.


Arifin mampu membuat sesuatu dari ketidak tahuan. Berkat kilang minyak tersebut dia memiliki suatu kesempatan: Meta Epsi Drilling Company (Medco) membeli kepemilikian PT. Stanvac. Yang berarti melepaskan kepemilikan asing Exxon, dan mengganti namanya menjadi Expan.


Menurut cerita campur tangan pemerintah dirasa. Namun Arifin membantah, menyatakan bahwa ia melakukan tender internasional. Pembeli pun tidak bisa menemui pemilik langsung. Setelah selesai pembelian, mereka bertemu, dan ternyata sisa minyak dihasilkan cuma 20 juta barel.


Arifin menggenjot pengeboran mampu menaikan sampai 320 juta. Sukses dia beralih menyasar gas karena pemikiran sederhana. Bila mampu berjaya memproduksi minyak kenapa gas tidak. Padahal Indonesia merupakan produsen gas besar. 

 

Dan banyak rekan pengusaha berteriak membutuhkan gas buat produksi. Cadangan gas LNG dikatakan mencapai 170 triliun kaki kubik atau 50 tahun tak habis. Arifin menyoroti pula bahwa PLN memakai gas akan lebih murah ketimbang BBM.


Arifin sendiri memang dulu sudah aktif politik. Tetapi inilah masalahnya ketika masa Orde Baru. Dia menjadi sosok ditarget oleh orang- orang tertentu. Tampaknya mereka tidak suka akan keahlian bisnis Arifin.


Pernah, pada tahun 1997, dia melakukan pertemua biass di Hotel Radisson Yogyakarta. Tetapi banyak orang bersuara bahwa itu gerakan Arifin. Bahwa dia dituduh mencoba menggagalkan Sidang Umum MPR, menghalangi Presiden Soeharto menjadi Presiden ketujuh kali.


Ketika Arifin memberikan nasi bungkus ketika reformasi. Arifin sempat dituduh menjadi cukong para mahasiswa. Era BJ. Habibie, Arifin sempat dijerat kasus korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai Rp. 1,8 triliun.


Banyak orang menduka karena dirinya dekat gerakan mahasiswa. Era Megawati, sama Arifin sempat akan dijerat lewat kasus di Kejaksaan. Diduga karena Arifin dianggap tidak sesuai aktifivas politik umumnya. Dia tidak kaget ketika berhadapan money politic.


Dia terbiasa dan menolak. Bahkan Arifin menolak fasilita negara dalam berbisnis. Arifin bukanlah sosok malaikat. Bila di Amerika meneraktir $100 sudah termasuk gratifikasi. Arifin tidak seketat itu, dia mengikuti peraturan berlaku, dan terus berharap akan ada good goverment seperti di Amerika.


Arifin mulai aktif politik praktis lewat PDI Perjuangan. Dia mengapresiasi perjuangan Megawati akan mereformasi Indonesia. Dia pun melenggang menjadi anggota DPR/MPR fraksi PDI-P. Arifin sering disebut tidak loyal atau cuma "indekos".


Namun ia termasuk pemberi jalan mulus Megawati menjadi Presiden. Ia pun dianggap anak nakal. Dia keluar atau dikeluarkan partai tidak terdapat bukti. Arifin meyakini dirinya dikeluarkan. Arifin sosok independen dan mengakui oportunis (dalam positif).


Ia respek orang seperti Cak Nun. Pria yang bernama asli Noercholis Majid tersebut, berminat menjadi presiden tetapi tidak berpolitik. Arifin mulai berpikir terbuka mengenai perpolitikan. Siapapun boleh memajukan dirinya menjadi pejabat bahkan Presiden.


Suami dari Raisis A Panigoro yang memiliki dua orang anak. Anak pertama, perempuan bernama Maera Hanifah yang sudah menikah dan memberi cucu. Bungsu bernama Yaser Mairi, yang tertarik akan dunia IT dan berkuliah di Singapura. Arifin tidak memaksa mereka masuk bisnis Medco.


Arifin sempat merasa kehilangan masa kecil mereka. Terlalu sibuk bekerja, ia merasakan kurang bisa memberi perhatian, jujur jam kerjanya awur- awuran. Dia agak menyesali kurang dekatnya. Arifin sendiri tidak memaksa ikut Medco, dan lebih mengajak adiknya, Hilmi Panigoro.


Meskipun dia dijuluki "Raja Minyak" dan masuk orang terkaya Indonesia. Baginya kaya relatif, dan sukses hanya mengikuti jalan menggelinding saja. Pengusaha Arifin Panigoro sendiri sudah beberapa kali dicekal keluar negeri. Tapi orang menyebutnya kaya namun apa definisi kaya.

Sejarah Coklat Monggo Pengusaha Thierry Detournay

Profil Pengusaha Thierry Detournay

  
coklatmonggo.png
 
Yuk dengar sejarah coklat monggo. Bermula kecintaan akan Yogyakarta pengusaha Thierry Detournay. Dia bukanlah orang asli Yogya, bahkan dia bukan orang Indonesia, Thierry Detournay seorang bule asal Belgia. 
 
Ceritanya sih, waktu itu, tahun 2001 -an ketika ia berkunjung ke kota Yogya ada perasaan menggelitik dirinya. Sekian tahun sudah dirinya tinggal di Indonesia ada rasa kangen akan produk coklat khas Belgia.

Ia tak bisa menemukan cita rasa coklat asli Belgia disini. Jadilah ide membuat usaha coklat sendiri bergulir.

Sejarah Coklat Monggo


Ketika anda bertemu dengannya jangan kaget bahasa Indonesia -nya begitu fasih. Memang sudah bertahun- tahun Mr. Thierry tinggal disini. Dan untuk menghilangkan rasa kangen akan negara asal, ia sering membuat coklat sendiri. 
 
Dari hanya untuk dikosumsi pribadi, hingga teman- temannya menyukai coklat buatan Thierry. Mereka merasakan coklat miliknya berbeda dengan yang ada di pasaran.

Akhirnya ia bersama- sama memproduksi coklat sekala rumahan. Mulanya coklat- coklat buatannya dijual di sekitaran UGM saat hari Minggu, saat acara SunMor (Sunday Morning). Cara berjualannya unik agar bisa menarik perhatian mahasiswa disana. 
 
Thierry selalu berjualan menggunakan motor vespa warna pink yang mencolok. Dengan pembawaan yang kocak ia menyebut dirinya sendiri "bule gila" berjualan coklat sendirian. Karena pembawaan yang kocak justru produknya semakin diliri. 
 
Banyak orang mencari- cari keberadaan si bule gila ini. Dibawah naungan CV. Anugrah Mulia semakin moncerlah bisnis coklatnya. Pembuatannya kala itu masih konvensional di sebuah rumah kecil di Jalan Dalem KG III/978, kota Gede, Yogyakarta.

Produk coklatnya sangat eco- friendly memakai pembungkus kertas bisa daur ulang. Soal cita rasanya, produk coklatnya merupakan perpaduan rasa timur dan barat. Semakin tumbuhanya perusahaan, label CV pun ia ganti. 
 
Ditahun 2005, ia resmi membuat perusahaan besama seorang rekan, Edward. Perusahaan yang diberi nama  PT Anugrah Mulia Indobel, dan memproduksi coklat bernama "Cocomania", dan kini berganti menjadi "Monggo".

Berjalan waktu Therry membuka toko di daerah Prawirotaman Yogyakarta, namun akhirnya tidak bertahan lama karena memang kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Kemudian ada beberapa untuk pilihan tempat baru. 
 
Ia akhirnya memilih lokasi di Kotagede untuk mendirikan toko dan tempat produksi. Nama "Monggo" sendiri datang tiba- tiba. Kala itu Edo (direktur) dan Burhan (staf kreatif) tengah berkumpul mencari nama produk unik. Kala itu kata "monggo" tersirat diantara mereka.

"Monggo" sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti "silahkan". Monggo biasanya diucapkan oleh orang Jawa untuk menunjukan bentuk sopan santun mempersilahkan. Nama tersebut sangat kental Jawanya, cocoklah dengan perusahaan yang berbasis di Yogya. 
 
Sejak 2010, sudah 100 karyawan dimana usahanya tak lagi cuma di Yogya, tapi juga Jakarta. Untuk pabrik sendiri Tierry masih tetap menempatkannya di daerah khusus Yogyakarta, tepatnya di Kota Gede.

Cokla Monggo memiliki slogan "The Finest Indonesian Chocolate", mempunyai terkandung misi: misi spiritual, yaitu menciptakan kenikmatan dalam menikmati coklat untuk orang Indonesia. Misi kedua, misi bisnisnya adalah membuat racikan terbaik untuk menciptakan coklat terbaik. 
 
Tidak mau tanggung- tanggung perusahaan rela mendatangkan chocolatier atau ahli membuat coklat langsung dari Belgia untuk mewujudkan misi. Prinsip C-U-E-G-S (Care, Unique, Educate, Genuine, dan Share) menjadi landasan usahanya.

Mantan Preman Jadi Pengusaha Raja Kopi

Profil Pengusaha Gunawan Supriadi

 
mantanpreman.png
 
Predikat mantan preman hanyalah masa lalu bagi pengusaha ini. Dulu Gunawan Supriadi (41 tahun) memang pernah memiliki reputasi sangat buruk. Dikenal sebagai preman dia telah menguasai sejumlah lahan di kawasan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. 
 
Hanya semenjak mengenal binatang luwak. Gunawan tak lagi menjadi satu orang yang ditakuti oleh masyarakat. Namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha asal daerah itu.

Dia merupakan salah satu produsen kopi luwak. Khas daerah Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, yang kaitannya dengan produk Raja Luwak. Dia tinggal memelihara luwak di pekarangan rumahnya. Melalui sosok mereka lah dia bertransformasi menjadi sosok lain.
 

Jadi Pengusaha

 
Dengan merek dagang Raja Luwak, produknya bisa ada merambah kafe- kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia. Bahkan kampungnya menjadi terkenal atas komoditas produk satu ini. 
 
Kopi luwak asli bekerja sama dengan beberapa eksportir, kopi ini bisa sampai ke nagara- negara lain, seperti ke Korea, Jepang, Hongkong, dan juga Kanada. Khusus kopi asal Liwa memiliki kualitas termasyur sebagai representasi Indonesia. 
 
Harganya bisa mencapai Rp.5 juta sampai 8 juta per- kilogram. Harga ini jauh daripada produk kopi Hacienda dari Panama misalnya. Juga beda dari kopi St Helena asal Afrika, yang katanya masuk dalam jajaran kopi termahal di dunia. Harga masing- masing terjual Rp.1,5 juta dan Rp.1 juta per- kg. 
 
Jika dibanding kopi luwak Gunawan, cuma 600.000 rupiah, ini lebih murah berkali- kali lipat dari yang kamu bisa dapatkan. Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga mampu memberi nilai tambah.

Yaitu sosoknya bisa menjadi pemimpin membawa kesejahteraan bagi para petani kopi. Pada jalannya itulah mereka sebagai petani terangkat biji kopinya. Usaha macam ini membuat mereka lebih untung daripada hari- hari biasanya.

"Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat-marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini," ujar Gunawan.

Dia lah ketua para perajin kopi luwak, yang mana membina dan mengkordinasi 10 produsen kopi. Sebagian mereka merupakan pemula dalam bisnis kopi tersebut. Ia menampung kopi dari mereka. Lantas membantu menjualkannya, utamanya jika Gunawan mendapatkan pesanan besar. 
 
Setiap para perajin diharuskan untuk storan 5kg kopi luwak. Kopi luwak itu masih berupa kotoran atau brenjelan. Mereka juga dikordinasi dalam bentuk iuran- iuran. Fungsinya untuk bantuan pinjaman modal, termasuk juga untuk membeli kandang luwak baru. 
 
Gunawan justru ingin membuka peluang bagi petani lain. Konsep dari monopoli bisnis kopi luwak jauh dari cara pikirnya. Preman ini sudah insaf, ia jugalah jadi sosok pecinta binatang, dia mengatakan kopi Liwa merupakan kopi budidaya.

Dia paham betul keterancaman si luwak sendiri. Ia ingin menyelamatkan populasi luwak dari diburu dan juga dibunuh. Dulu di daerah ini luwak merupakan hama karena memakan biji kopi disini. Disini di kebun- kebun kopi, merek diburu pakai racun babi (Timex) jelasnya miris. 
 
Sejarahnya kopi luwak Raja berasal dari kira- kira tiga tahun lalu. Gunawan mengaku hobi memelihara hewan- hewan liar, salah satunya ya si luwak.

Dua luwak pertamanya ia bercerita diberinya nama Inul dan Adam. Mengambil nama dari pasangan penyanyi dangdut tersebut. Waktu itu ia mejelaskan luwaknya cuma dipelihara. Eh, suatu hari, ada teman yang datang meminjam luwaknya. 
 
Lama ke lamaan menjadi sebuah kebiasaan dan terus menerus. Merasa penasaran, ia mencari tau. Temannya itu meminta ijin merawatkan dan memberi makan kopi. Dia melihat kok kotoran dari peliharaanya itu dijual.

Mantan Preman

 
"Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?" ungkapnya. Itulah awal mula cerita pengalamannya merintis usaha kopi luwak. Menulusuri internet ia lalu menemukan fakta di China, 0,5kg bubuk kopi luwak asli bisa dijual Rp.3,5 juta. 
 
Dia melihat satu peluang usaha menjanjikan. Ketika itu Gunawan masih bekerja serabutan. Terkadang jadi petugas satpam, kadang ia mengumpulkan uang parkiran dari pasar- pasar. Kenangnya ia saat itu punya 16 anak buah. 
 
Ia lantas meminta bantuan anak buahnya untuk mencari- cari luwak. Sebanyak- banyaknya luwak itu dipeliharanya sendiri. Namun, awalnya, ia diganjal masalah pemasaran utamanya untuk menjual dari pintu kafe lalu ke hotel- hotel. Dengan lugunya ia membawa luwaknya langsung untuk bukti.

"Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet," ujarnya.

Pelahan tapi pasti usahanya berkembang. Tercatat dia kala itu memiliki 60 ekor luwak peliharaan. Tapi, saat ini, ia cuma memelihara 26 ekor karena sisany diserahkan ke petani binaannya. Ada pula yang sudah dilepas ke alam liar. 
 
Rata- rata usahanya bisa mencapai 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal berbentuk brenjelan. Kini ketika usahanya telah mapan, Gunawan tak lagi menjadi kordinator parkir di pasar. Usahanya sekarang jadi lebih menjanjikan.

Dia ternyata pernah ditahan di penjara loh. Karena perselisihan parkir inilah ia masuk ke penjara. Dia tak mau lagi menyusahkan keluarga, dan karena usaha barunya ini, keluarganya lebih terlindungi. Hasil dari usaha miliknya ialah sebuah kendaraan dan kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku. 
 
Usaha kopi sukses menjadi kemendarian bagi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya itu dilakukan mereka mandiri.

"Dulu pernah ada pengusaha kaya Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru "ditendang". Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita "dijajah" asing lagi," tutupnya.

Geplak Waluh Bu Nanik Usaha Modal Seratus Ribu

Profil Pengusaha Bu Nanik

 
bunanik.png
 
Usaha modal seratus ribu coba tiru pengusaha berikut. Geplak waluh Bu Nanik sudah melegenda tak sembarangan. Kisah bermula dari pasangan Pak Slamet (45) dan Ibu Nanik Daryanti, pesangan suami- istri yang ingin membuka usaha.
 
Jangan meremehkan kreatifitas orang. Terbukti dari kisah satu pasangan pengusaha UMKM ini. Dari buah waluh yang banyak dianggap enteng, ternyata bisa jadi usaha jutaan rupiah. Waluh bisa dijadikan sandaran kehidupan menuju kemapanan.
 

Usaha Kecil


Ketika kamu sedang melewati jalan raya di Salatiga- Kopeng pasti sering melihat buah labu teronggok di pinggiran jalan. Ketidak mampuan para petani mengolah buah labu menjadikan buah satu ini hanya dijual gelondongan, tanpa diolah lagi. 
 
Jika dijual begitu saja maka buah labu harganya tidak menentu. Akibatnya, hasil panen para petani terkadang hanya tergeletak di pinggir jalan; menanti pembeli. Miris memang melihat nasib petani labu ini.

Suatu hari, seorang pria paruh baya bernama Slamet dipercayakan untuk menjadi penyuluh lapangan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Semarang. Berbekal pengalamannya di lapangan itulah, dia memiliki pemikiran seketika untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan buah labu. 
 
Usaha apa yang bisa memanfaatkan buah yang telah dianggap remeh tersebut. Memang di Kecamatan Getasan terutama sekitar Kopeng yang terletak di Lereng Gunung Merbabu, yang berketinggian 700- 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl), sangatlah cocok untuk areal pertanian budidaya labu.

Makanya Slamet memutar otak biar labu tidak sia- sia. Dia menginginkan diversifikasi buah labu ini dapat berkembang dan terus meningkat. 

"Harga labu memang labil. Pada bulan Maret-April saat musim tanam, harganya bisa mencapai Rp 1.200 per kg. Namun harga labu bisa jatuh mencapai Rp 600 per kg sewaktu panen. Malahan saat-saat tertentu harganya sangat rendah, yakni Rp 150/kg," papar Nanik.

Awalnya memang coba- coba itulah yang diakui Bu Nanik sendiri (istri Pak Slamet). Dari usaha coba- coba tersebut justru hasilnya sangat memuaskan. Wanita paruh baya ini memulai dengan membuatnya untuk sajian lebaran saja. 
 
Rupanya, geplak waluh diminati banyak pembeli. "Kami akhirnya mulai usaha pada 2003," ujarnya. Apa yang dihasilkan oleh sepasang suami istri diakui lebih dari cukup. Bahkan penghasilannya bisa lebih dari gaji pegawai negeri sang suami!


Usaha modalnya seratus ribu buat membeli bahan baku: waluh, tepung terigu, gula pasir, dan kelapa. Waktu itu harga waluh berkisar Rp.200 per- kilo gram. Kini, harga sayur yang terkenal berkat tradisi Hallowen itu bisa mencapai harga Rp.700 ribu- 1.000 per- kilo gram -nya. 
 
Bahkan, kalau sedang mahal- mahalnya nih, atau bisa sampai Rp.2- 3 ribu. "Kalau alat produksi, saya menggunakan alat-alat rumah tangga," kata dia.

Ternyata menurut Bu Nanik, buah waluh itu bisa tahan lama disimpan. Geplak waluh Bu Nanik punya kelebihan.
 
"Kalau waluh tidak dibuka, dia bisa tahan selama setahun. Enak jadinya, bisa menyetok waluh. Kami tidak kewalahan mendapatkan bahan baku. Kami juga beli dari petani. Sekali beli, kami dapat empat ton waluh," ujar Nanik. 
 
Itulah alasan lain kenapa kedua suami- istri ini memilih bahan baku waluh. Kemudian bisnisnya ini diberinya nama "Geplak Waluh Bu Nanik" dan mempekerjakan hanya enam orang saja, termasuk dia sendiri. 
 
Selain geplak, ibu ini ternyata juga memproduksi camilan seperti pia, egg roll, dan kuaci. Ada juga dodol waluh, wingko waluh, dan sirup waluh, semua serba waluh pokoknya.

"Misalnya geplak, waluh dikupas, dibersihkan, diparut, dicampur dengan gula dan kelapa, lalu dimasak. Prosesnya bisa mencapai empat jam untuk setiap kali pengolahan 15 kilogram geplak," kata Nanik.

Harga produknya pun tak fantastis. Emping cuma harganya Rp15 ribu per 250 gram, gelek Rp20 ribu untuk kemasan 250 gram, dan pia isi sepuluh butir Rp15 ribu. Egg roll harganya Rp20 ribu, geplak Rp20 ribu, dan stik waluh harganya Rp15 ribu. Tetapi, kalau kuaci harganya Rp60 ribu per 1 kg

Meski enggan menyebut omzet per- bulannya, Bu Nanik menyebut persentase 20- 25 persen dari total biaya belanja bisa masuk kantong. Ia menyebut biaya pembelian bahan- bahan sekitar Rp.2,5 juta, jadi apabila dikalikan sebulan, ia bisa mengantongi omzet sekitaran Rp.18 juta. 
 

Prospek Bisnis

 
Nanik menambahkan, bahwa kalo ramainya karena namanya bisnis terkadang tidak menentu. Lagipula uang tersebut bercampun uang kebutuhan keluarga tandasnya. Nanik mengaku geplaknya sangat laku di luar negeri. 
 
Nanik juga mengklaim produknya sudah dibeli oleh orang- orang di luar Semarang, seperti dari Palu, Jakarta, dan Yogyakarta. Orang asing pun turut datang ke rumahnya untuk membeli produknya seperti dari Taiwan, China, Belanda, dan Filipina.

"Ada sepuluh orang dari Filipina yang datang ke rumah saya untuk magang," kata dia.

Di Filipina sendiri, waluh tidak dijadikan barang dagangan, hanya dinikmati sendiri menjadi kue kukus. Dia mengaku menjual produknya disekitaran rumah saja. Dia juga tidak mematok minimal pembelian. 
 
Bila ada pembeli luar yang ingin memesan produknya, boleh asalkan pembeli mau menanggung biaya pengiriman. Apabila mungkin anda tertarik bisa berkunjung ke rumahnya yang terletak di RT 07/RW 01, Getasan, Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah.

Atau mengontak melalui email di geplakwaluhbunanik@yahoo.co.id atau segera mengunjungi blog miliknya di alamat geplakwaluh.wordpress.com.

Ada cerita menarik ketika Slamet mengikuti satu perlombaan di Universitas Diponegoro Semarang. Dia yang dibantu istrinya menyiapkan sekitar 10 kg geplak waluh untuk presentasi saja. Takut- takut jikalau terjadi insiden di tempat penjurian. 
 
Dia belajar dari insiden sebelumnya ketika membuat makalah. Slamet yang meminta tolong temannya untuk memotret proses pembuatan. Namun, ternyata film negatif yang dipasang di kamera tersebut malah hangus semua, akhirnya harus dipotret ulang.

Total biaya lomba jadilah membengkak sampai 500 ribu, padahal uang itu bisa untung banyak jika dibikin geplak selorohnya. 
 
"Total biaya untuk lomba sekitar Rp500.000. Istri saya sempat khawatir karena uang sebanyak itu hanya digunakan untuk lomba. Kalau digunakan untuk membuat geplak, pasti untungnya lebih jelas. Saya jelaskan kepada istri,kalaupun nanti kalah,yang penting produk kami sudah dikenal orang lain," tutur Slamet.

Diruangan penjurian ada persaan grogi. Apalagi peserta lain memakai LCD untuk melakukan presentasi; Slamet hanya membacakan makalahnya di depan para juri. Setelah selesai, ia tekejut karena sampel yang dibawa dari rumah sudah ludes dimakan habis (10 kg tersebut). 
 
Ia pun menang, meski hanya juara ketiga dan mendapatkan bantuan permodalan senilai Rp.1 juta. Yah, hasilnya memang tak sebesar yang bisa kita harapkan tapi ingat efek lainnya; geplak waluh jadi populer seperti sekarang.

Selebgram Jualan Susu Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Nadia Ursulla

 
selebgramjualan.png
 
Kisah Nadya Hersa Ursulla Permana selebgram jualan susu. Bisnis menjanjikan yang dirintis sebelum dia sibuk bersosial media. Nadya merupakan pengusaha pemilik brand Klinik Susu. Dia menjual aneka hasil olahan berbasis susu.

Dia bekerja sama denga dua rekannya, Toga Christovel dan Siti Hani Kusmiati. Pada 2016 silam, merek bertiga bahkan menjajakan langsung. Tidak malu berkeliling menawarkan olahan susu. Nadya memang memiliki mimpi menjadi orang kaya.

Nadya ingin menjadi CEO perusahaan sendiri. Tanpa berleha- leha dirinya terjun memberikan informasi soal susunya. Ia rela membawa botol- botol dari satu tempat ke tempat lainnya. Usaha dan kerja keras dia dan rekan membuahkan hasil.

Produk makin banyak diminati. Kemudian mereka mendirikan perusahaan sebagai legalitas. KS Group akan mengelola lebih profesional aneka produk. Selebgram jualan susu juga jualan aneka produk olahan singkong. Nadya tak ragu menunjukan bisnis- bisnisnya.

Aneka makanan singkong dihasilkan perusahaan Nadya. Makin banyak menghasilkan penjualan, maka KS Group membuka ratusan lowongan pekerjaan. Nadya berprinsip mengerjakan sesuatu maksimal dan bekerja keras.

"Aku selalu berusaha melakukan semaksimal mungkin di kerjaan, aku usahain aku bisa jadi yang terbaik bukan untuk atasan atau perusahaan atau apapun, tapi untuk Tuhan," tulisnya di akun Instagram @nadyaursulla

Jujur dia tidak mendapatkan dukungan kedua orang tua. Namun dia terus berusaha sembari memberi keyakinan. Dia tidak menyalahkan orang tua karena tak mendukung. "Aku pun engga salahin orang tua engga biayai ini itu. Aku engga buang waktu menyalahin orang sekitar ku," ucap Nadya.

Dia banting tulang demi mimpi mandiri. Sembari bersyukur dirinya memiliki pandangan mau apa. Dia sudah menseting pola pikirnya menjadi pengusaha. Banyak hal dikorbankan Nadya demi menghasilkan uang. Dia kehilangan masa muda.

Nadya mengaku harus bekerja dari jam 7 pagi sampai 1 malam. Tidak ikutan hang out seperti teman- teman lain. Dia habiskan masa muda buat bekerja. Bahkan ketika sibuk, ia akan tidur cuma 4 jam dan 5 jam setiap hari.

Walau bisnis menjajikan tetapi banyak pengorbanan. Bayangkan dia pernah ditolak, disepelekan orang, dianggap remeh, dan diragukan akan berhasil. Nadya tidak menyerah ketika dihina. Ia berprinsip harus sukses. Maka ia menyarankan pengusaha muda baru buat bermental kuat.

Kamu harus bermental baja enggak manja. Mental pengusaha muda harus tidak gengsian. Harus punya pandangan akan sukses kelak. Nadya sendiri merupakan selebgram dengan follower 107.000.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba