Kafe Bertema Strawberry Pengusaha Putra Priyadi

Profil Pengusaha Putra Priyadi

 

kafestrawberry.png
 
Pengusaha Putra Priyadi terlahir dari keluarga wirausahawan. Terlahir keluarga pengusaha tak lantas membuat bisnisnya moncer. Dia malah bermodal cekak. Putra mencoba peruntungan di bisnis kuliner ide sendiri. 
 
Kamu akan terkaget- kaget karena pria kelahiran tahun 1982 ini, telah sukses memiliki bisnis sebesar Cafe Strawberry. Bertempat di kawasan JL. Tanjung Duren Barat III, Jakarta Barat, tempatnya ramai sampai malam hari. 
 
Maklum kawasan ini memang dikenal dengan hiburan malamnya seperti diskotik dan billiard. Cafe Strawberry telah menuliskan namanya disini.
 

Bisnis Sendiri


Idenya membuka kafe bernuansa stroberi berawal tahun 2004. Kala itu, tumbuhan stroberi mulai marak di kawasan Jawa Barat, begitu pula berbagai panganan yang berasal dari olahan buah yang berasa asam-asam manis itu. 
 
Itulah yang menjadi awal bisnisnya. Dari sini pula namanya dikenal dikalangan artis, bahkan para pejabat, Cafe Strawberry sukses memasukan menunya hingga istana negara. Putra lahir dari keluarga berada. 
 
Orang tuanya dikenal mempunyai hotel dan sebuah restoran di kawasan Puncak. Meski begitu, anak bungsu dari dua bersaudara itu ingin mandiri sedari kecil. Ia bahkan nekat membuka bisnis pertama bernama Waroeng Strawberry semasa kuliah dulu. 
 
"Saya memang suka makan stroberi. Makanya saya berani mengusung menu serba stroberi dengan cita rasa yang saya ciptakan sendiri," ujarnya.

Bermodal Rp 20 juta, Putra menyewa ruko di kawasan Tanjung Duren. Ia yakin Waroeng Strawberry -nya akan menarik minat pengunjung. Tapi awalnya susah membuat pengunjung mau mampir. Maklum, tempat usahanya kala itu memang berada di lokasi terpencil dan terbilang kumuh. 
 
Apa lagi Putra membuat warung dari seng-seng bolong dan papan-papan tambal. Agak aneh memang, karena datang dari keluarga mapan, harusnya Putra bisa membuka usaha yang lebih berkelas.

Tapi, Putra menegaskan dia tak ingin bergantung pada keluarga dan ingin membuka usaha apa adanya saja. "Dengan modal sebesar itu, memang tak mungkin saya membuka usaha kuliner berkelas," ujarnya.

Meski konsepnya unik tetap saja harus bekerja keras karena semuanya dari nol. Dia harus membagikan brosur dari jembatan penyebrangan dan area perkantoran. Tempat makan yang sederhana bahkan sangat- sangat sederhana. 
 
Pengusaha Putra Priyadi ingat betul ketika hujan ia harus menyiapkan ember untuk menampung air. Ia sendiri mengaku tanpa tedeng aling- aling sering menangis. Ya, ia menangis ketika usahanya baru buka tapi sepi.

Resiko Pengusaha

 
 "Kalau berbicara kesedihan, saya tiap malam menangis dan berteriak keras saking stres. Orangtua marah- marah karena membuka usaha tanpa memikirkan resikonya," kenangnya.

Untungnya, keluarga Putra tetap menyemangati. Mereka tidak mematahkan semangat sang putra untuk jadi pengusaha. 
 
Akhirnya ia pun memindahkan usahanya ke tempat yang baru, yang lebih layak. Namanya kini menjadi Cafe Strewberry, dipadu dengan berbagai strategi promosi jadilah usahanya semakin ramai. Putra akhirnya menemukan satu ruko yang lokasinya masih di kawasan Tanjung Duren. 
 
Ia menyewa tempat seluas 250 meter persegi itu dengan tarif Rp 5 juta per bulan. Salah satu strategi bisnis Putra memberi tampilan unik,  seperti menyediakan berbagai jenis permainan di meja. Putra mengeluarkan berbagai jenis permainan dari penjuru dunia. 
 
Sebut saja permainan monopoli, permainan kartu, congklak, halma, karambol, ular tangga, scrabble, kartu remi, gaple, kutak-katik kotak, dan masih banyak lagi. "Tamu datang ke sini, kan, cari sesuatu yang baru dan seru," jelas pengusaha Putra Priyadi. 
 
Idenya karena ia sendiri hobi bermain mainan seperti ini. Sambil menunggu pesanan datang sembari bermain terangnya. Responnya cukup positif. Beberapa kali ia harus mengisi ulang biji congklak -entah terbawa atau dijadikan kenang- kenangan. 
 
Jangan salah, jika bicara mainan, ia tak sembarang menawarkan kepada pelanggan. Jika mahasiswa permainan semacam monopoli pastilah lebih disukai. Kalo yang sudah dewasa, permainan kartu pastilah jadi idamanan. 
 
Kalo untuk anak- anak? Putra punya berbagai koleksi mobil- mobilan untuk yang satu ini.

"Tidak terasa saking banyaknya tamu, saya sampai mengoleksi banyak permainan dari berbagai negara," ungkapnya. 
 
Saat ini, kalau dihitung, Putra sudah memiliki 320 jenis permainan. Dia sendiri mengaku tak gencar beriklan seperti waktu memulai usaha. Selain menampilkan hal unik, ia menonjolkan sikap ramah saat melayani tamu. 
 
Baginya, cara ini senjata paling ampuh agar pengunjung nyaman dan betah berlama-lama, bahkan mau datang berkali-kali. Kalau pengunjung puas, promosi dari mulut ke mulut menjadi sangat efektif. Sukses bukan berarti tanpa kendala. 
 
Suatu ketika teman baiknya ternyata membajak koki andalannya tanpa memberitahu terlebih dahulu. "Mengetahui koki saya berhenti dan bekerja pada teman saya dengan iming-iming gaji besar, saya geram dan kecewa," ceritanya kepada Kompas.com. 
 
Yang bikin emosi, teman itu kemudian membuat warung dengan konsep yang sama dengan Kafe Strawberry. Situasi ini membuat Putra cukup khawatir bahwa pengunjung akan enggan datang ke kafenya dan beralih ke tempat lain.

Usaha Jualan Es Dawet Banjarnegara di Luar Jawa

Profil Pengusaha Hafiz Khairul Rijal


 
jualesdawet.png
 
Bikin usaha jualan es dawet membawanya naik. Ide bisnis simple jualan es dawet khas Banjarnegara di luar Jawa. Sudah terhitung puluhan kali Hafiz Khairuj Rijal gagal. Tapi tak kunjung jera, dengan ketekunan, dimulailah semuanya dari awal lagi menjadi pengusaha. 
 
Di usaha ke sebelas, akhirnya dia, Hafiz, berhasil dengan usaha minuman tradisional. Kesuksesan yang tak disangka- sangka dari arah yang lain dari pada yang lain. Dia sukses memperkenalkan minuman khas Jawa di Medan.

Bahkan lewat sebuah sistem kemitraan waralaba, bisnisnya mampu tersebar ke penjuru Sumatra dan menghasilkan omzet puluhan juta.

Mendirikan Usaha

 
Pernahkan kamu mencicipi Es Dawet Cah Banjarnegara? Minuman tradisional yang terbuat dari bahan tepung beras, gula aren, santan dan aroma pandan wangi ini terasa manis, gurih, dan menyejukan, sangat menyegarkan ketika hari panas. 
 
Bagi Hafiz, kin ini usahanya semanis untungnya dimana dia telah lama menjalankan aneka usaha. Betapa tidak, berkat Dawet Ayu Banjarnegara ini, dia bisa meraih laba puluhan juta rupiah sebulan dari program waralaba. Sarjana teknik Universitas Sumatra Utara yang memulai usaha dawet sejak 2006. 
 
Ia telah mempekerjakan 27 karyawan. Meski telah memiliki beberapa unit mobil dan sepeda motor hasil kerja kerasnya, baginya harta paling berharganya tetap ratusan armada gerobak untuk berjualan Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara ke seluruh Medan, Aceh, dan sekitarnya.

Dalam tempo sekitar dua tahun saja setelah merintis usaha ini, ia juga telah mampu membeli hak paten resep dan bahan baku es dawetnya senilai Rp 50 juta.

"Alhamdulillah, usaha kami bisa berkembang dengan baik," katanya.

Lewat sistem waralaba yang telah dikembangkannya, usaha dawet ini sudah berkembang hingga ke Banda Aceh, Sigli, Lhoksumawe dan Langsa. Ia menargetkan, pada akhir 2009 bisnisnya bisa mencapai 500 gerobak. 
 
Kemudian sejak tahun 2000, ketika masih duduk di bangku kuliah, anak pegawai negeri sipil ini memang telah mulai berwirausaha. Ia pernah menjadi anggota Student Entrepreneurship Center (SEC) unit Bina Kokulikuler Sahiva, Universitas Sumatera Utara (USU).

Boleh dikatakan segala jenis usaha pernah dilakukannya. Hafiz juga pernah berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong sayur, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering, dan MLM. 
 
Meski kesemuanya gagal dalam perjalanannya; tak ada tanda akan berhenti berusaha. Dari kegagalan dianggapnya hikmah katanya. "Sebelum usaha Es Dawet Cah Mbanjar ini, usaha saya tidak fokus, tidak konsisten, dan tidak persisten," jelasnya.

Segala macam usaha memang dicobanya tanpa didalami lebih dulu seluk beluk konsepnya. Begitu merugi, ia cukup langsung beralih ke usaha lain lagi.  Dan lagi- lagi kegagalan yang sama terulang lagi. 
 
Berusaha lalu gagal lagi,  begitu seterusnya, hingga ahirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah di Aceh Monitoring Mission (AMM) misi perdamaian Aceh, di Bireuen sekitar setahun (2006-2007). 
 
Usai bekerja di sini Hafiz menjadi penerjemah untuk para pengamat Pilkada Aceh dari Uni Eropa (2007). Usaha yang kini dijalankan ternyata datang tiba- tiba. Idenya datang ketika ia tak mencari- cari bisnis macam apa. Jika kamu berharap jadi pengusaha selalu lah mencari- cari bisnis apa- dan apa lagi.

Ketekunan kerja keras


Idenya untuk kembali berbisnis itu secara tiba- tiba ada. Ketika mengambil liburan dari pekerjaan menjadi penerjemah di AMM; ia pulang kembali ke Medan. Suatu hari dia singgah di warung kaki lima di jalan untuk minum segelas dawet – minuman tradisional Jawa yang cukup populer di Medan. 
 
Dari obrolan ringan dengan penjual es dawet, Hafiz sangat tertarik dengan keuntungan dari berjualan es dawet ini. Siapa tau kali ini tak gagal lagi ujarnya santai.

Tapi Hafiz kali ini sangat berhati- hati untuk memulai suatu bisnis lagi. Usaha sang pemilik warung itu cuma bermodal uang Rp 300 ribu per- gerobak, pemilik­nya bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 100 ribu. 
 
Karena si pemilik mempunyai 25 gerobak, maka laba bersihnya per hari mencapai Rp 2,5 juta. "Dalam sebulan, si pemilik yang tamatan SMA bisa mendapatkan laba hingga Rp 75 juta. Padahal dia cukup duduk di rumah, karena yang berjualan orang lain," tutur Hafiz penuh antusias, ini bisnis yang bagus.

Fakta ini membuat Hafiz bersemangat kembali, dan sangat tertarik untuk terjun ke bisnis kembali. Jika saja manajemennya ditingkatkan lagi, pasti pendapatannya pun akan lebih baik lagi, pikirnya lagi. 
 
"Syaratnya, kita tak boleh sok gengsi. Tak boleh malu mendorong gerobak dan berjualan di kaki lima," katanya. Ia tak mau gegabah, suami dari Citra Puspita Sari dan ayah Faqih Maidani Al Hafiz ini, mulai mempelajari seluk beluk berbisnis es dawet.
 
Termasuk soal cara pembuatannya yang memang perlu dia pahami lagi. Dengan uang jaminan senilai Rp 1 juta ia pun mendapat pinjaman satu gerobak dan juga mengambil es dawet sebanyak 50 gelas dengan harga Rp 60 ribu. 
 
Bermodal gerobak pinjaman itu, Hafiz pun mulai berjualan ka wasan Sumber, Padang Bulan, Medan. Hasilnya? Sukses itu nyata, "Laris manis Tanjung Kimpul, dagangan habis duit kumpul," katanya. 
 
Karena potensinya yang memang bagus, ia pun kemudian merekrut karyawan dan memutuskan membuka satu lagi cabang penjualan es dawet di daerah Setia Budi. Selama dua tahun itu Hafiz hanya menjual dan mengambil bahan. 
 
Baru di bulan Mei 2008 ia telah dipercaya membeli hak paten bumbu es dawet dengan harga Rp 50 juta rupiah. Babak baru pun dimulai. Hafiz mulai memproduksi es dawet secara mandiri dan mendaftarkan merek dagangnya sendiri. 
 
Ia juga mendaftar ke Departemen Kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan sertifikat halal. Langkah berikutnya adalah menerapkan sistem waralaba (franchise) agar usaha ini bisa semakin berkembang.

"Selain mendapatkan resep dan bahan baku dari kami, pewaralaba (franchisor) akan mendapatkan pelatihan cara melayani, menjaga penampilan, dan menjaga hal-hal kecil lainnya yang umumnya jarang diperhatikan orang agar usaha ini dapat maju," ujarnya.

Konsep yang jelas, keuntungan itu bisa diraup mencapai di atas 50% dari modal yang dikucurkan. Tak heran bila tawaran waralaba. Pada September 2008, 27 armada gerobaknya bertambah dengan 60 gerobak mitra waralabanya memperluas pasar. 
 
Pasarnya meluas hingga ke wilayah Aceh, khususnya di Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, dan Langsa. Sebulan kemudian, persisnya di bulan Oktober 2008, Hafiz juga mendapat kucuran kredit program kemitraan dari Bank Mandiri se­hingga bisa menambah 50 gerobak untuk pasar kota Medan.

Menurutnya bisnis semacam ini cukup mudah untuk dijalankan. Produknya pun sederhana dan mudah dibuat tapi rasa tetap nomor satu. Ditambah keunikan dengan ciri khas gerobaknya, calon pembeli akan mudah mengenali gerobak dan outlet milik Es Dawet Cah Mbanjar. 
 
Sukses es dawet telah meyakinkan Hafiz akan manisnya bis­nis makanan dan minuman dingin tradisional. "Saya akan fokus di bisnis ini," katanya lagi. Alasannya sederhana: selama orang masih membutuhkan makan dan minum, bisnis ini akan terus bergulir.

la tengah mengincar se­jumlah makanan khas yang ada di Jawa untuk diboyong ke Sumatera dan sebaliknya. Lebih lanjut berdasarkan pengamatan seorang Hafiz Khairul Rijal, banyak orang Sumatera yang sangat suka makanan Jawa, dan orang Jawa yang suka makanan Sumatera.

Kisah Tony Hsieh Entrepreneur Online Jualan Sepatu

Profil Pengusaha Tony Hsieh

 

zappos.png
 

Kisah Tony Hsieh pengusaha revolusioner berjualan sepatu online. Bagaimana entrepreneur online itu berjualan sepatu. Bagaimana dia lantas menjual situsnya Zappos kepada Amazon senilai $1,2 miliar. Angkanya fantastis bukan, kalau dirupiahkan nih mencapai satu triliun rupiah


Hanya berbekal situs eCommerce tersebut namanya melambung. Namun Hsieh sudah lama membangun perjalanan wirausaha. Hal pertama dia lakukan ialah menciptakan LinkExchange, yang dijual kepada pihak Microsoft senilai $265 juta pada 1998.


Zappos sendiri menghasilkan penjualan $1,6 juta pada kurun 2000 -an. Dan 2008, Zappos mencetak nilai tertingginya penjualan $1 miliar atau setriliun.

 

Berdirinya Zappos


Hseih kelahiran Urbana, Illionis, dari pasangan Richard Hsieh dan Judy Hsieh. Mereka merupakan warga imigran asli Taiwan. Keduanya saling jatuh cinta ketika masih dibangku kuliah. Ayahnya punya pekerjaan menjadi teknisi kimiawi.


Sedangkan ibunya merupakan pekerja sosial. Mereka pindah ke California ketika usia Hseih masih 5 tahun. Dia tumbuh di San Fransisco Bay Area. Dua saudaranya Dave dan Andre. Tahun 1995, Hsieh lulus teknik komputer dari Harvard University.


Ketika masih di Harvard, dia sempat bekerja membalik pizza untuk komplek Quincy House, dimana ia menjual untuk anak- anak asrama. Pelanggan tetapnya bernama Alfred Lin, yang lantas dikenal jadi Chief Operating Officer dan Chief Financial Officer Zappos.


Dia kemudian bekerja untuk Oracle Corporation. Lima bulan kemudian dia mengundurkan diri. Hsieh ingin fokus mengerjakan LinkExchange di 1996. Perusahaan yang mengijinkan membernya memasang iklan. Nanti iklan akan dipasang dirotasi ke semua website milik member dan asosiasinya.


Hsieh mengemail 30 klien marketing pemilik website. Bertahap ia mampu tumbuh dalam kurun 90 hari dan memiliki 20.000 anggota, dan memiliki iklan banner terpasang 10 juta kali. Tahun 1998, bisnis ini memiliki 400.000 anggota dan 5 juta iklan terpasang dirotasi.


Di November 1998, LinkExchange dijual kepada Microsoft senilai $265 juta. Kemudian Hsieh mulai bisnis online lain bernama Venture Frog. Tujuannya melakukan investasi dan inkubator startup. Kisah Tony Hsieh bermula ketika temannya melakukan taruhan.


Dia bertaruh dengan Hsieh dan Alfred Lin modal uang. Syaratnya mereka harus menamai bisnisnya Venture Frog. Bila ya, maka sang teman akan memberikan investasi semua miliknya. hsieh dan Alfred setuju, walau menerima taruhan, buktinya beberapa tahun berjalan tanpa uang dihasilkan.


Barulah, pada 2011, mereka menghasilkan bisnis bernama Ask Jeeves, OpenTable dan Zappos. Inilah awal dirinya menjadi entrepreneur online jualan sepatu. Di 1999, orang bernama Nick Swinnurn tiba- tiba muncul, dimana ia berkata kepada Hsieh mau jualan sepatu online.


Hsieh sempat tidak mempedulikan email Nick. Namun ia memberikan argumen menarik ketika berada di jamannya. Bahwa pasar sepatu $40 miliar, dimana baru 5% dijual melalui email dan katalog. Alih- alih mencari investor, malahan Hsieh dan Alfred yang mengeluarkan uang pribadi buat investasi.


Mereka mengeluarkan buat buat membangun Zappos. Tetapi dia baru masuk menjadi CEO Zappos dua bulan kemudian. Tahun 2000, setelah Hsieh turun tangan, penjualan sudah mencapai $1,6 juta dan pada 2009, bisnisnya menjual $1 triliun.


Hsieh memiliki startegi mantap meyakinkan pelanggan. Dimana dia menjanjikan gratis ongkos kirim dan pengembalian bila tidak puas. Bahkan Zappos menerima pengembalian lebih dari dua pasang. Ia lalu melalukan restrukturisasi.


Hsieh menerapkan holacracy atau pekerjaan tanpa jabatan. Dengan ini dia mempercayakan pegawai bisa mengorganisir diri mereka sendiri. Zappos diambil dari nama "Zapatos", kata Spanyol yang berarti sepatu. 

 

Hsieh senang main poker. Maka ia memindahkan markas Zappos ke Nevada, Las Vegas. Pada 22 Juli 2009, Amazon mengakuisisi Zappos senilai $1,2 miliar. Walau Hsieh hanya mengantongi $214 juta dari penjualan dan belum termasuk uang investasi dari Venture Frog.


Pada 24 Agustus 2020, Hsieh memutuskan pensiun menjadi CEO Zappos, dimana setelah 21 tahun dirinya menjabat. Pada 18 November 2020, terjadi kebakaran hebat di rumah mantan pegawainya, Rachael Brown, dan Hsieh terjebak di basment dan meninggal karena luka bakar dan menghirup asap.


Entrepreneur Online


"Sukses itu dibuat mengikuti passion mu dan mengalami perjalanan mendefinisikan ulang apa sukses itu sendiri," ujarnya.


Dia selalu mengaskan siapapun bisa menjadi sumber pembelajaran. Zappos sendiri belajar dari timbal balik konsumen. Ketika ditanya mengenai mengikuti tren sepatu maka begitulah. Zappos menciptakan tim dari pembeli untuk melihat tren paling populer.

 

Tumbuhnya Zappos dikarenakan pengalaman konsumen membeli. Mereka merasakan layanan prima dan kembali lagi. Repeat costumer didukung layanan konsumen dan budaya perusahaan. Zappos dapat membangun susana nyaman membeli kembali.

 

Hsieh belajar bahwa merekrut pegawai terbaik berjalan lama. Namun ia akan tidak segan buat pegawai yang merusak budaya. Mereka akan segera "disingkirkan" dan merekrut orang baru. Bertahap mereka akan menjadi pegawai terbaik melalui sistemnya.


Hsieh mampu meluaskan pasar sepatu dalam katagori. Dulu orang paham bahwa sepatu dipakai cuma itu- itu saja. Namun Zappos mampu masuk sampai ke aksesoris pendukung dan aparel. Tahun 2008, ia mampu hasilkan keuntungan kotor $1 triliun untuk marchendise.


Ia meyakinkan kostumer bahwa Zappos bukan cuma sepatu. Lima tahun berjalan didukung layanan "wow" pegawai. "Jika kamu tidak merasa dipaksa duduk mundur, maka kamu belum sangat- sangat mengambil resiko," ujarnya.


Bagi entrepreneur online muda baiknya cepat- cepat. Menurut Hsieh semakin cepat kamu memulai usaha, maka akan semakin banyak kamu pelajari nanti. Berbisnis bukan mengenai uang tetapi visi. Dia mengatakan internet memberikan gratifikasi instan; lebih cepat berhubungan dengan orang.

Bisnis Minuman Haus Rahasia Pengusaha

Profil Pengusaha Gufron Syarif

 

pemilikhaus.png

Rahasia pengusaha Gufron Syarif tidak menyangka. Bisnis minuman Haus bermitra dengan Gofood. Ia mengantongi Rp.150- 200 juta perbulan dari satu gerai. Gofron menawarkan konsep waralaba minuman kekinian. Total dia memiliki 18 gerai dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bandung dan Jakarta.


Bisnis minuman kekinian memang tengah naik daun. Dari thai tea, bubble tea, cheese tea, dan varian es kopi susu. Luasnya pasar minuman fusion memang menjanjikan. Gufron pun membaca peluang tersebut melalui brand HAUS.

 

Bisnis Waralaba Minuman


Baru berdiri di Mei 2018, usahanya menawarkan kemitraan atau franchise, dan mengandalkan sistem bagi hasil. Pusat lah yang memegang kendali operasional, marketing, penjualan, bahkan soal karyawan. Mitra waralaba HAUS tinggal siapkan tempat seluas 30m2.


Modal dikeluarkan mitra sebesar Rp.109 juta. Modal diluar biaya sewa tempatnya. Berarti diharapkan tempat merupakan milik pribadi. Tenang, pihak HAUS juga keluarkan biaya Rp.12 juta, demi bisa renovasi, peralatan usaha, sistem, dan pelatihan karyawan, bahan baku awal, dan kontrak 5 tahun.


Haus menawarkan beberapa varian minuman dari thai tea orginal, green tea thai, cheese tea thai, green tea Yakult, ice Ovaltine, ice Taro, black Oreo cheese, dan varian kopi susu. Aneka minuman tersebut ia bandrol Rp.5000- 15.000.


HAUS tidak kalah variatif dibanding brand sejenis. Uniknya mereka menawarkan harga dibawah atau lebih murah dalam satu gerai. "Best seller sampai saat ini yang varian thai tea," ujar sang pengusaha.


Mitra diwajibkan membeli bahan baku dan kemasan dari pusat. Gufron menjelaskan: Tiap geraia akan langsung kerja sama ojek online, baik Grabfood dan Gofood. Menurut pakar memang bisnis minuman fushion memang tengah naik daun.

 

Gufron memang nekat membuka usaha. Dia ingin keluar dari zona nyaman dan membuka usaha. Ide bisnisnya langsung mengarah mau makanan atau minuman. "Ternyata buka usaha sendiri iu, enggak segampang yang saya bayangkan, waktu itu saya gagal," tuturnya rahasia pengusaha.


"Dari dulu saya mimpi punya usaha sendiri," Gufron meyakinkan diri. Diajaklah lima temannya dan mereka mendirikan HAUS. Adalah bisnis berkonsep kedai minum yang menyajikan minuman kekinian yang relatif murah.


Harga minuman HAUS dibandrol lebih murah. Tidak menjebol dompet. Ternyata strategi harga juga tidak cukup. Gufron menangkap kesempatan lewat pesanan online. Dari penjualan melalui Gofood lah usahanya menanjak.


Berkat itulah dia mendapat penghargaan Mitra Juara Gojek. Ajang bergengsi yang mendukung usaha pendukung ekosistem Gojek.


Bisnisnya tidak sekedar mengenai mencari uang. Dia berharap akan memberikan manfaat orang- orang disekitar. Gufron juga tidak berhenti cuma mengerjakan satu bisnis. Dia tercatat pemilik rendang di kawasan Uda Gembul dan Dino Donuts.

 

Bisnis Kuliner


Ia selain mendobrak usaha minuman. "Minuman enak tidak harus mahal," ujarnya. Juga dia mencoba mendobrak bisnis lewat rendang kemasan. Gufron akan menjadikan indonesia tuan rumah dinegerinya sendiri. Didukung kemasan berkualitas dengan desain menarik mata pembeli.


"Jangan hanya berpikir lulus sekolah lalu kerja menjadi seorang PNS atau pegawai di perusahaan asing," lanjut pengusaha Gufron.

 

Bicara mengenai bisnis Uda Gembul, dia sudah menekuninya semenjak 2012 silam, dan tidak mudah dijalankan. Semua berawal kesukaan akan makanan rendang. Dia menebak tren makanan pedas lewat rendang pedas berlevel ini.

 

Gufron tidak segan turun langsung ke dapur. Diolahnya rendang melalui tangannya sendiri. Dia cerita sempat mendekati seorang ahli rendang. Pendekatan sebulan buat tau cara membuat rendang enak. Dia lalu mengaplikasikan pengalaman sebagai mahasiswa.

 

Sempat Gufron diajari cara membuat kemasan. Kemudian dia jual produk Uda Rendang kepada para mahasiswa. Hasilnya lumayan setahun berjalan mampu menembus pasar swalayan. Keberuntungan telah datang ketika dia berusaha.

 

Rahasia pengusaha sukses adalah tetap berjuang. Alhasil dia mampu menembus pasar swalayan tenpa menunggu bertahun- tahun. Uda Rendang mampu memiliki sembilan cabang termasuk Bandung. Dia pun sudah memasukan produknya sampai 50 swalayan.


Tidak cuma satu nama swalayan tetapi banyak nama. Usaha bermodal Rp.100 ribu tersebut menjelma menjadi Rp.200 juta perbulan. Angka fantastis buat usahanya berkembang bermodal segitu.

CEO Muda Adila Group Kisah Perngusaha Andi Sufariyanto

Pengalaman Jadi CEO Muda


ceomuda.png
 
Kisah pengusaha Andi Sufariyanto menjadi inspirasi anak muda. Dia dikenal CEO muda sebuah grup bisnis, Adilla Group. Usahanya sudah sangat menggurita. Bisnisnya Adila Group menjadi perusahaan konglomerasi yang bergerak di berbagai bidang. 
 
Dimulai dari bisnis distribusi garment serta spa dan aroma terapi, penyedia virtual office, sebuah perusahaan investasi dan pengelolaan properti. Pendek katanya ia adalah salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Dan, yang membuat iri ketika berbicara tentang umurnya.

"Saya ingin pensiun dini di usia 33 tahun," tegasnya, pria kelahiran 8 Juli 1981 ini memang penuh ambisi.

Bisnis Makelar


Usianya masih belia namun memiliki segalanya. Karena ingin kaya usia muda, memiliki kebebasan di finansial dan waktu, Andi merintis usianya sejak dini. Hasilnya adalah buah perjuangan pahit getirnya memang berasa. 
 
Anak pertama dari seorang petinggi di sebuah BUMN. Dia merintis bisnisnya semenjak tahun pertama kuliah. Ketika banyak anak muda yang menikmati masa- masa muda, ia sibuk berkutat dengan segala bisnisnya. 
 
Usaha pertama ia cukup berjualan hp bekas di depan kampus. Pada 2001 itulah, bisnisnya bertarget mereka teman- temannya yang berkantong tipis.

Obsesinya tentang kewirausahaan sudah sejak sekolah menengah atas. Waktu itu baru berupa angan- angan, "Sejak SMA saya sudah tertarik dan bercita-cita ingin jadi pengusaha," ujarnya. 
 
Semakin menjadi ditambah persahaan ingin mandiri dibenaknya usaha itu baru berjalan ketika masa kuliah. Selepas masa SMA, Andi sukses diterima kulaih di D3 Teknik Mesin ITS. Dirantau inilah pula Andi merintis usaha untuk mendapatkan penghasilan.

Merasa telah sukses membesarkan modal dari bisnis HP bekasnya. Pada tahun 2002 ia mengajak beberapa teman kuliahnya membuka usa­ha service HP di wilayah Sidoarjo. Namun usahanya justru tidak berjalan lancar seperti harapan. 
 
Apa mau dikata, daripada terjadi pen­darahan keuangan yang lebih parah lagi, dengan berat hati Andi harus menutup usaha servis ponselnya. "Saya sempat shock waktu itu. Tidak mengira sama sekali akan mengalami kerugian," kenang penggemar rujak cingur tersebut.

"Saya memiliki prinsip, apa yang bisa dilakukan hari ini akan saya lakukan dengan upaya seratus persen. Masa lalu tidak bisa diubah, masa depan tak ada yang bisa memastikan. Tetapi masa depan bisa dikontrol dengan langkah yang cermat," ujar sang CEO muda Adila Group.

Belajar Bisnis

 
Terus mengasah naluri bisnisnya agar tak pernah pudar. Di masa kuliah ia mempelajari modifikasi motor yang juga menjadi hobinya. Andi pun memiliki gagasan membuka bengkel plus salon mobil rumahan. 
 
Disaat yang sama juga mencoba peruntungan menjadi distributor produk massal asal Cina yang mulai membanjiri tanah air. Mulai dari aksesori hingga produk rumah tangga yang dipasaran lebih dikenal serba 5000. 
 
Pengusaha Andi Sufariyanto memilih bisnis produk- produk kelas yang merakyat. Pelan tapi pasti bisnisnya mulai tumbuh baik. Ia bertahap menjadi distributor busana muslim merk Dannis Collections, yang mencoba melihat peluang lain. 
 
Ini jadi usaha sekaligus tempatnya belajar, pengalamannya sebagai makelar kini diterapkan dalam skala lebih besar dengan prinsip kemitraan. Saat ini ia telah memiliki tidak kurang dari 150 mitra yang tersebar diseluruh nusantara. 
 
Dari sinilah ia mendapat sukses tak terkira karena jeli melihat peluang bisnis. Selain itu ia juga memiliki bisnis yang tak jarang disepelekan, bisnis rumah kos. Dengan pengelolaan baik jadilah bisnis ini menjadi bisnis yang menjanjikan sekelas bisnis properti.
 
Lama kelamaan bisnis merambat ke bisnis properti, ia terus belajar dari bekerja bukan melalui buku text. Andi membuat berbagai bisnis baru lagi dan lagi. Bersama Laila Asri, istrinya, mereka membangun bisnis perawatan tubuh, khususnya produk spa dan aromatherapy. 
 
Usaha bermerk Pourvous terus dikembangkan menjadi entitas bisnis dengan prospek yang menjanjikan. Setelah itu ia menciptakan Vito Smart Office, bisnis terpadu yang menangani penyewaan ruang kantor sekaligus perawatannya.

Gagasan Vito Smart Office datang ketika dirinya kesulitan ketika menjalankan bisnisnya. Ia begitu kerepotan untuk mengundang klien atau mitra bisnis untuk bertemu tatap muka. "Banyak pertimbangannya, kalau saya udang ke cafe atau hotel terbentur biaya yang tidak sedikit," kenangnya. 
 
Bahkan perusahaan Andi bersedia memberikan penawaran lewat fax pun harus ada yang mengoperasikan. Begitu banyak hal yang bersifat administratif yang mengabiskan waktu jika diurus sendiri, semua dikerjakan lengkap hingga tenaga teknisnya. 
 
Dari situ bisnisnya diyakini akan membantu para pebisnis baru. Virto menjanjikan fasilitas pendukung mengubah fixed cost menjadi variabel cost. Beberapa benda modal seperti halnya mesin fax, fotokopi, scanner dan sebagainya tak perlu dibeli sehingga ini sangat meringankan pengeluaran tetap. 
 
Bahkan biaya sekretaris, administrasi , penerima dan pengiriman fax, pencatat pesan, foto copy, kurir, penerjemah, proyektor sampai mencetak dokumen, bisa digeser dari biaya tetap menjadi biaya variable. Menakjubkan.

Jaringan bisnis


Bisnis lain yaitu menjalankan usaha konsultasi serta usaha pengurusan pengajuan kredit modal usaha bank, perpajakan, cara pembuatan laporan keuangan, hukum, SIUP, dan NPWP untuk mebuka usaha baru. 
 
Dibawah bendera Vito mereka menjanjikan penghematan biaya hingga 85% karena pelanggan hanya akan membayar sesuai yang di butuhkan. Intinya Virto Smart Office diharapkan bisa menjadi One Stop Sollution bagi pebisnis pemula atau yang ingin mengembangkan usaha.

Segela pengalamanya membuat sebuah kesimpulan bahwa penting untuk memiliki jaringan bisnis. Dia yakin betul bahwa kesuksesan bisnis berasal dari kemampuan untuk membuat jaringan dengan orang lain. Ini juga termasuk begaimana mengembangkan jaringannya. 
 
Saat ini tujuannya hanya satu dalam berbisnis, "Saya ingin pensiun dini di usia 33 tahun," ujar Andi. Berbagai bisnisnya menghantarkan namanya untuk mendapatkan berbagai penghargaan seperti finalis Wirausaha Muda Mandiri.

Yang jelas saat ini PT Adila Imperium telah menjadi holding company atau perusahaan induk berbagai anak- anak perusahaan seperti Panelneon, Adila Property, Pourvous dan Virto Smart Office. 
 
Pengusaha muda ini terus menata imperium bisnis yang berkonsep “Commercial Profitable Enterprise that Works Without Me”. Ia ingin membuka lapangna kerja baru, dengan total karyawan mencapai 10 ribu orang. 
 
Langkah itu terus diusahakannya untuk menjadikan bisnisnya menggurita dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba