Usaha Momo Milk Memilih Bisnis Jajanan Sehat

Profil Pengusaha Haidhar Wurjanto


pengusaha pemilik momo milk
 
Miris melihat banyak jajanan tak bergizi dijual di pasaran. Usaha Momo Milk menjadi salah satu pelopor bisnis sejenis. Mereka yang memilih bisnis jajanan sehat berbasis susu. Dikembangkan oleh dua orang, Nur Nabilah dan Haidhar Wurjanto, yang pasti tak akan menyangka seviral sekarang.

Kalau dijalan kamu mungkin menemukan kedai susu kaki lima. Mereka berdualah menjadi salah satu penggagas pada 2011. Bermula dari keperihatinan mereka sebagai mahasiswa. Prihatin akan banyak jajanan kampus yang tak sehat.

Mahasiswa Jurusan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, angkatan 2009. Keduanya lalu membuka usaha bernama Momo Milk. Iklim wirausaha disekitaran kampus Institut Pertanian Bogor ketat. Dia yang memilih jajanan sehat mempunya pangsa pasar.

Apalagi melihat para mahasiswa tak punya pilihan lain. Haidhar membayangkan kedai susu yang asik buat nongkrong. Nanti Momo Milk akan menawarkan susu segar aneka rasa. Kedai ini semula hanya menjadi angan- angan sampai tiba waktunya.

Menjadi Pengusaha Susu


Suatu hari, dia melihat Bapak Prabowo mengajak kita menjalankan gerakan "revolusi putih". Ini jadi titik balik bagi Haidhar mewujudkan mimpi. Tetapi dia tak memilik modal untuk memulai. Sampai ia bertemu Nur Nabilah. Keduanya terlibat pembicaraan serius, sampai ingin mengumpulkan modal.

Sambutan positif Nabila membuahkan semangat lebih. Mereka mengumpulkan modal usaha Momo Milk. Soal bahan baku Haidhar menggunakan susu produksi petani lokal. Mereka menjual susu segar kepada masyarakat. Cara penjualan masih sederhana memakai termos es biasa untuk penyimpanan.

Ternyata menyimpan susu segar didalam termos es tidak baik. Problem muncul karena susu yang disimpan tak tahan lama. Padahal keduanya tengah mencoba bisnis jangka panjang. Tak ingin susu mereka terjebak jangka waktu. Nabilah dan Haidhar membeli mesin pendingin agar tahan lama.

Tentu itu tidaklah murah membeli mesin pendingin. Uang hasil usaha Momo Milk ternyata tak cukup membeli mesin. Keduanya berdiskusi sampai- sampai berkonsultasi ke Dosen ITB. Mereka baru sadar bahwa Momo Milk masih awam.

Nama Momo Milk bukanlah nama pilihan utama. Pertama kali keduanya akan menamai usaha susu ini "I'm Milk". Tetapi ternyata nama tersebut sudah dimiliki oleh perusahaan lain. Konsekuensi nama tersebut, maka Nabilah dan Haidhar harus membayar royalti yang tentu memberatkan keuangan.

Mereka memilih nama Momo Milk, yang resmi pada Januari 2011, tempatnya di Regina Pacis dan Bogor Junction. Agar masalah mesin pendingin teratasi, Momo Milk mulai mencari investor. Hingga seorang investor meberikan modal tambahan, sekaligus menawarkan pembelian mesin secara kredit.

Ini membuat Momo Milk menyimpan dana modal lebih banyak. Mereka berkembang sampai dapat membuka cabang di SMAN 1 Bogor. Kedepan masalah lain dapat diselesaikan dengan lebih mudah, kebanyakan sih masalah komunikasi dengan karyawan, pelanggan, dan pensuplai susu.

Pengusaha Sabun Cuci Serba Guna Mask

Profil Pengusaha Septian Suryo


pengusaha sabun cuci
 
Kepepet mungkin akan menjadi jalan sukses kamu. Ini kisah pengusaha sabun cuci serba guna Maks. Taukah kamu bahwa 80% pengusaha terlahir kepepet. Mungkin dengan kadar kepepet yang berbeda- beda. Kali ini kepepet karena dia harus mengerjakan tugas akhir kuliah.

Mengapa tidak menjalankan usaha sendiri. Buat produk unik sendiri yang menghasilkan penghasilan. Namanya Septian Suryo, yang masih 25 tahun saat itu, ialah mahasiswa, penemu, dan pengusaha. Dia yang memilih sabun menjadi tema penelitian tugas akhir atau skripsi.

Sang mahasiswa Universitas Hasannudin, yang sebetulnya kebingungan sebelum menentukan tema ini. Agak terlihat ogah- ogahan sih awalnya. Tetapi dirinya tetap mencoba buat menyelesaikan. Dia bahkan disarankah menjualnya. Ini masihlah bagian dari tugas praktikum akhir bukan bisnis serius.

"Modal awalnya sendiri hanya 24 ribu. Tadinya, saya tidak berniat," jelasnya kepada SWA.co.id.

Tugas Kuliah Menjadi Usaha


Peniliti yang jiwa kepeduliannya tentang lingkungan teruji. Septian lalu menciptakan sabun ramah lingkungan. Hampir putus asa, dia terpaksa melanjutkan tugas ini atau gagal, sehingga dia harus bisa menemukan komposisi yang pas. Septian lalu nampak tak yakin akan pilihan teman tugas akhirnya.

Akhirnya dia malah menciptakan dua sabun berbeda: sabun cuci tangan dan perabotan dapur. Waktu itu, dia belum mengembangkan ide sabun cuci serba guna. Banyak orang ingin memesan tetapi dia ragu. Bukannya memperbaiki, ia malah mencapurkan dua sabun tersebut sampai terlahir lah Maks.

Hasilnya produk unik dimana kamu bisa cuci tangan dan perabot rumah tangga. Ternyata, setelah dia teliti lebih dalam, ini bisa digunakan buat cuci pakian, cuci mobil, dan cuci motor. Inilah cikal bakan produk bernama Maks buatannya.

"Awalnya kami membuat produk terpisah baik untuk cuci tangan maupun untuk cuci perabot rumah tangga," ujarnya Karena terdesak memenuhi kebutuhan konsumen.

Sementara sistem itu produksinya memang masih belum baik, "kami sudah janjikan." Tercetuslah ide membauat sabun multi- fungsi ini. Awalnya dari cuma penelitian tugas biasa, kemudian jadi tugas akhir kuliah.

Lantas, sang dosen menyarankan dirinya, untuk memproduksi Maks sekala besar. Dia setuju walau sama sekali tak pernah jadi pengusaha.

"Sudah tidak usah diteliti lebih lanjut dulu, mendingan kamu jual saja dulu, diproduksi saja. (Untuk melihat) apakah ada orang yang mau beli atau tidak, ujar Septian, dan ternyata, resposnnya sangat bagus di pasaran.

Bisnis unik


Bermodal cuma Rp.25.000, kini, Mask sudah bisa diproduksi secara masal. Bahkan pada waktu itu sudah banyak permintaan datang tapi produksinya masih terbatas. Serba kepepet mendorongnya melakukan aneka inovasi dalam tenaga kerja maupun kapasitas produksi.

Ia pun memutar otak agar bisa mendapatkan lebih banyak modal. Salah satunya, yaitu mengikutkan Mask ke aneka perlombaan kewirausahaan muda. Pertama memenangkan lomba Mask menghasilkan Rp.14 juta.

Tak puas cuma segitu saja melihat keberhasilannya, Septian melanjutkan mengikuti perlombaan lain seperti dari UNESCO, ILO, Bank Indonesia, dan yang melambungkan namanya Wirausaha Muda Mandiri 2013.

Menurut Septian produk Maks memang lebih efisien. Multi- guna membuat lebih unggul dibanding produk lain di pasaran. Mask sabun mutli fungsi dari membersihkan mobil untuk ayah, kemudian mencuci piring buat ibu, dan terakhir juga bisa buat mencuci tangan seluruh keluarga.

Tenang kandungan bahan sudah benar- benar diteliti. Ini berkat latar belakang pendidikan Septian yang mumpuni. Ia menyebut bahwa selain bibit sabun (sufoktran), ada tambahan berupa mineral air laut.

Septian melanjutkan soal bahan lain. Ada turunan minyak kelapa, baik berupa minyak kopra, kelapa, kemudian ia serahkan pengolahannya kepada vendor. Selepas itu barulah semua dijadikan bahan baku sabun Maks.

Kemudian ia menyebut minyak goreng jelanta atau bekas pakai, ini untuk dijadikan bahan sabun padatnya. Efek dari mineral laut pada bahannya bisa membersihkan kotoran dan menghaluskan kulit. Memang terdengar aneh bahan- bahan digunakannya akan tetapi benar- benar bekerja.

Harga bahannya pun relatif murah karena memang ini bisa dihasilkan dalam negeri. Pertama kali berproduksi, Sepetian blak- blakan, mengaku memanfaatkan fasilitas laboratorium kampusnya. Modal murninya seperti dijelaskan diatas cuma Rp.25.000 saja.

Kapasitas produksi awalnya cuma satu ember cat jelasnya lagi. Tahun 2012, produk mask dijual Rp.6.000 per- liter, "kami itu hanya jual isi, atau bentuknya curah." Untuk sekarang ini produknya sudah dijual curahnya Rp.7.500 per- liter.

Septian pun tak segan mendapatkan masukan.

"Setiap konsumen punya selera berbeda- beda," terangnya. Ini termasuk saran segi kemasan, aroma, variasi, untuk aroma konsumen memintanya mempertajam aromanya.

Persaingan Pasar Sabun Cuci


Septian makin percaya diri membidik dua pasar sekaligus, yakni dari pasar ritel dan pasar industri. Untuk ritelnya, ia sudah bisa memproduksi kemasan 200ml dan 500ml, harganya kisaran Rp.4.000- Rp.7.000. Ini sudah termasuk dibawah produk sabun cuci lain di pasaran.

Sedangkan buat pasar industrinya dijual kemasan 5 liter, 10 liter, 20 liter, dan 100 liter, yang mana dijual per- liter yakni Rp.8.000 per- liter. Konsumen industri ini meliputi rumah sakit, restoran, hotel, dan juga kantor.

Besarnya permintaan membuat Septian bersama lima karyawannya cukup repot. Mereka bisa menghasilkan 5 ton sabun tiap bulannya. Untuk pasar ritel sendiri dirinya merasa yakin, karena menurutnya pasar ritel masih minim tingkat kompetisi dibanding pasar masyarakat umum.

Benar brand ternama menguasai pasaran, tetapi ia tetap percaya diri, "saya tak takut untuk bersaing karena produk saya memiliki keunikan dan efisiensi." Targetnya bahkan secara percaya diri masuk pasar modern di beberapa kota di Jawa.

Selanjutnya adalah bagaimana menguasai pasar di luar Jawa. Fokusnya kepada restoran- restoran buat cuci piring lantas pabrik- pabrik untuk mencuci peralatan produksi. Di Sulawesi harga Mask cukup kompetitif dibanding produk sabun lain.

Adalah menjadi pekerjaan rumah baginya agar menjaga harga jual. Apalagi ia juga harus memastikan produknya semakin berkualitas. Ini perlu efisiensi dalam hal produksi. Menjual lebih banyak agar modal produksi bisa ditekan.

Berproduksi 5 ton, pasaran Makassar saja, baik buat pertokoan, kafe, hotel, rumah makan, cleaning service, dan lain- lain, masih membutuhkan 14 ton per- bulan. Padahal permintaan itu terus naik apalagi karena ada publisitas dari media masa. Septia mengaku masih mengejar hal ini.

Bulan Februari di tahun 2015, produknya memperkenalkan kemasan baru untuk pasar ritel. Sekarang segmentasi akan langsung ke masyarkat luas tak perlu ditahan- tahan. Pengusaha sabun cuci serba guna ini makin percaya diri menjalankan bisnisnya.

Pengusaha Mery Yani Bisnis Telur Asin Bisa Berkembang

Profil Pengusaha Mery Yani


pengusaha talur asin mery yani

Menjadi pengusaha Mary Yani berbisnis telur asin. Pertanyaannya apakah bisnis telur asin akan bisa berkembang. Kecintaan akan sang ibu mendorongnya pulang kampung ke Karawang di tahun 2005 silam. Padahal, kala itu, karir Mery Yani tengah bagus- bagusnya ketika dalam perantauan.

Bekerja menjadi akuntan di perusahaan importir besar dilepaskan. Tak lagi bekerja, Mery ingin fokus merawat sang ibu. Hingga pada 2007, sang ibu menghembuskan nafas terakhir, ini sangat mebawa duka untuk wanita 29 tahun ini. Dia tak bersemangat untuk jadi perantau lagi tetapi mau makan apa.

Apakah tidak rugi jika ia memilih mentap di desa. Tidak, nyatanya pilihan untuk mentap di kampung, justru membuatnya menjadi pengusaha sukses. Tak terpikirkan sebelumnya dia akan menjadi juragan telur asin. Sungguh Yani tak memiliki bakat untuk menjadi pengusaha telur asin.

"Saya ketika itu pulang untuk merawat ibu yang tengah menderita sakit kanker stadium 4," ujarnya.

Meneruskan Bisnis keluarga


Sambil merawat ibu, Yani membantu- bantu ayahnya membuat pakan ternak dari dedek padi. Disisi lain ada kakaknya yang mengerjakan usaha telur asin rumahan. Usaha yang sudah ada sejak lama ada, jauh sebelum Mery merantau.

Dia ingat betul, dari usaha itulah ia bisa menjadi sarjana akuntanis. "Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu," kenangnya. Telur asin yang memberikan sokongan di keluarga kecil itu.

Dan, ketika sang ibu meninggal, tepat setelah itu usaha kakaknya kian memburuk. Mery tidak mau tinggal diam. Memang Mary merupakan sosok yang peduli akan keluarga. Sambil merawat sang Ibu, ia ikut membantu kakaknya berjualan telur di pasar, sekaligus membantu sang ayah.

Ayahnya memiliki usaha pabrik pakan ikan dan unggas di Karawang, Jawa Barat. Meskipun masih terpukul, lajang kelahiran Karawang tahun 1983 itu, tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Ia tetap bekerja membantu. Lambat laun dia justru kian tertarik pada usaha talur asin kakaknya.

Ketika itu kakaknya memproduksi telur, sekaligus berjualan berbagai jenis telur. Dia fokus menjual telur asin. Bisnis telur asin kakak Yani tengah stagnan. Sulit percaya memang bisnis telur ini punya masa depan yang baik. Ini nampaknya yang membuat sang kakak sulit mengembangkan diri.

Tetapi Mery percaya bahwa ada ini bisa sukses besar kok. Bisnis telur asin bisa berkembang pesat ke depan. Dia pun memberanikan diri mengambil alih untuk mengelolanya. Pucuk dicita, ulam pun tiba, sang kakak malah menghibahkan bisnisnya.

Kebetulan ada bisnis lain yang mau kaka Yani urus. Kalender waktu itu menunjukkan tahun 2009, dan Yani mulai bersiap dengan bisnis telur asinnya. Bukan perkara mudah meskipun ini sudah berjalan. Saat dialihkan, bisnis telur ini stagnan, dan tidak berkembang baik jumlah ataupun untung.

Tercatat kakaknya memiliki empat karyawan. Mereka menghasilkan 1.000-1.500 butir per- hari dijual di pasar. Modal toko kecil yang modalnya diambil dari klaim asuransi ibu. Yani mulai mencari- cari tau bagaimana bisnis ini dijalankan.

Mery mulai membaca- baca buku tentang telur asin. Dia juga tak malu untuk bertanya kepada mereka yang sudah punya pengalaman. Mery sendiri pernah berjualan telur asin ketika sekolah menengah, dimana dia berjualan dari satu toko ke toko di pasar tradisional.

Rencana Bisnis Telur Asin


Dia mulai menggabungkan dengan ilmu akuntansi. Pengusaha Mary Yani juga mengeluarkan semua pengalaman bekerja di perusahaan. Dia punya dasar tetapi belum teruji ketika di usaha sendiri. Anak ketiga dari empat bersaudara mulai menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap.

Dia menciptakan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan. Di bagian produksi, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang untuk pasokan telur asinnya.

Yani bahkan menggelontorkan modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery. Ia juga menyoroti soal kebersihan telur- telurnya. 

Jika sebelumnya telur akan direndam agar bersih, ternyata, dalam riset yang dilakukannya sendiri, itu satulah kesalahan. Mery menemukan bahwa perlakuan demikian justru membuat kotoran meresap, bahkan sampai ke dalam telur melalui pori- pori kulitnya.

Akhirnya proses pencucian diubah total, menggunakan air mengalir dan kemudian diberi disinfektan untuk membunuh kuman serta bakteri yang menempel. Tapi dia mengingatkan sebelum telur dicuci perlu diperiksa keretakannya, sebanyak dua kali ya.

Mery kembali memeriksa telur setelah dicuci untuk kemudian diasinkan. Dia menggunakan air isian ulang ke dalam proses produksi. Ini bisa meningkatkan kualitas produk sekaligus cara mengurangi tingkat kecacatan produk akhir.

Tak ketinggalan, Yeni rutin menguji kualitas telur hasil produksi ke laboratorium Cikolay, Bandung, setiap bulan. Kemudian soal proses produksi, bahan yang digunakan diubah semuanya bahan- bahan pilihan.

Abu yang akan digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan sudah terlebih dijamin kebersihannya. Abu itu yang berasal lahan pertanian di sekitar Karawang. Dan terakhir, untuk bagian pengemasan, ia merubah cara pengemasan tradisional.

Satu per- satu telur dikemas dan dibungkus kardus secara rapi. Dengan demikian, tingkat kerusakan produk saat pengantaran bisa dikurangi.

"Kalau membeli telur asin produksi orang lain, kerusakannya bisa sekitar 25%, tetapi kalau beli dari saya hanya 5%, bahkan bisa nol. Hal ini bisa menekan kerugian agen dan distributor," dia mengklaim.

Kemudian ia terjun langsung ke pasar menjajakan produknya. Pada saat itulah, dia belajar kesalahan pertamanya, dimana dia masuk di waktu yang salah. Produknya masuk justru ketika pasar dibanjiri pasokan telur asin.

"Jadi, orang mau menerima produk saya susah." Ia mencatat bulan Desember- Februari sebagai bulan telur langka.

Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar. Mery pun menggelontorkan sejumlah uang lagi. Dia punya tekat untuk membangun bisnisnya lebih besar.

Prospek Bisnis Telur Asin


Dia mau tak mau meminjam modal Rp.160 juta dari ayahnya, dan sebagian pekerangan rumah untuk tempat produksi. "Pabrik pakan ternak ayah saya cukup luas, jadi saya pakai separuhnya," ujarnya, dan PT. Sumber Telur Kilau, perusahaan yang menaungi bisnis ini, pun dikibarkan.

Sayang, dikala penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. "Saya harus sabar mencari mitra lain," ujar Mery.

Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, dia memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut. Dia yakin bahwa telur asin punya masa depan.

Di tahun 2012 saja, atau tiga tahun setelah memutuskan berbisnis, ini berkembang baik dan terasa manis. Dia sekarang dibantu 15 karyawan inti dan ibu- ibu sekitar pabrik, serta 20 peternak telur bebek, Merry mampu menjual 10-15 ribu butir telur per- hari, atau meningkat 10 kali lipat.

Agar lebih bisa masuk ke pasar yang lebih luar, Mery pun mengajukan sertifikasi telurnya. Di tahun 2010, ia sudah mengajukan sertifikasi untuk telur produksi peternakan miliknya dan mitra. Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Telur- telur miliknya sudah memperoleh sertifikasi kualitas gizi.  Setiap produksi, telur- telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui tahap pengujian. Tahapan itu meliputi pencucian telur, pengujian dari bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.

Kini, penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah meluas, menjangkau ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Di kegiatan pemasaran, Mery mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor perusahaan.

"Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya," terangnya

Yang membuat Mery bertambah bangga, tiada diduga, pihak lain mengapresiasi kiprahnya. Awal tahun ini dia menjadi salah satu pemenang terbaik nasional untuk kategori Alumni dan Mahasiswa Pascasarjana dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri.

Sebagai ganjarannya, Mery mendapatkan penghargaan serta uang senilai Rp 50 juta sebagai dana pembinaan. Jika melihat perkembangan bisnisnya, tak mengherankan, perempuan bertubuh mungil ini sudah punya mimpi besar.

Dia berharap terus menambah agen penjualan hingga 100 dan merambah sampai kawasan Indonesia timur. Ambisi besar lainnya? "Membuat pabrik telur asin terbesar di Indonesia, juga membuat telur saya eksis di ASEAN," tutupnya.

Juragan Minyak Asiri Pengusaha Khafidz Sederhana

Profil Penusaha Khafidz Nazrullah


pengusaha minyak asiri
 
Menyandang gelar juragan minyak asiri dia tetap bersahaja. Pengusaha Khafidz Nazrullah mungkin beromzet 2 miliar rupiah. Tetapi dia tetap ramah murah senyum dengan pakaian biasa. Dia sendiri lah yang terjun langsung menjelaskan apa itu asiri.

Padahal waktu itu dia telah membuka booth pemasaran. Khafidz memilih menyapa para pengunjung langsung. Tampilan booth nya berbeda dibanding peserta lain. Nampak hanya memajang produk sejenis minyak. Tampak berjejer botol kecil rapih di meja pada acara di Jakarta Convention Center.

Siapa sangka botol- botol tersebut bernilai tinggi. Minyak asiri dikenal sebagai bibit yang banyak digunakan. Selain untuk industri minyak wangi, manfaatnya banyak termasuk menjadi bahan baku produk rumah tangga. 

Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Islam Negeri (UIN) Yogykarta, yang telah berhasil menaikan derajat keluarga. Dia juga menaikan komoditas asal kampung halaman. Bukan satu dua orang tetapi ratusan orang berterima kasih. Sosok pekerja keras yang pernah bekerja serabutan sebelum sukses.

Awal Wirausaha Sendiri


Ia berkisah penduduk desa bekerja sebagai buruh tani dan perkebunan. Tak banyak orang yang bisa sekolah sampai kuliah. Khafidz termasuk sedikit dari yang beruntung bisa berkuliah. Ini berkat otak yang encer sampai mendapatkan beasiswa.

Menjadi siswa terbaik membawanya berkuliah dibiayai pemerintah. Desa itu pelosok dengan jalan yang rusak dan berlubang. Dialah satu- satunya warga Ngargosari yang akan mencicipi pendidikan Sarjana. Tetapi dia mendapatkan kendala birokrasi yang rumit.

Alhasul Khalidz tak jadi berangkat karena beasiswa batal. Tekat Khafidz kedarung melambung, maka ia pun nekat berangkat walau tanpa beasiswa. Dia lalu membawa uang Rp.1,6 juta yang didapat dari pinjaman. Di tahun 2006, dia berangkat ke Yogyakarta dan mendaftarkan diri ke kampus impian.

Dia benar- benar buta soal Kota Yogkayarta tersebut. Selama disana Khafidz tinggal di masjid untuk beristirahat. Selama Semester 1, dia menerima uang bulanan dari orang tua walau merasa malu. Nah, di Semester 2, Khafidz mulai mencari pekerjaan untuk mencari biaya sehari- hari.

Ia memilih bekerja serabutan. Mulai dari mencari butung kenari untuk dijual kembali. Dia mencari burung kenari untuk dijual lagi ke pasar burung. Khafidz mencari peluang dari para penghobi burung di Kota Gudeg. Belum sempat terjual, eh burungnya mati hingga dia kehilangan peluang berbisnis.

Tak patah arang aneka pekerjaan dan usaha dijalani. Salah satunya dia bekerja sebagai penngajar di bimbingan belajar. Sembari dia berkuliah mengerjakan aneka usaha demi uang. Beberapa kali dia ikut lembaga survei dari Dinas Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran UIN untuk membagi questioner.

"Saya dulu dikenal karena sering ngutang," selorohnya.

Pengusaha Angkringan Nasi Kucing


Dia bekerja keras mengerjakan apapun serabutan tak menentu. Pemuda desa yang belum tertarik akan entrepreneurship. Seorang teman mengajak dirinya untuk membuka usaha. Dia menawarkan Khafidz untuk menjalankan angkirang miliknya.

Semula dia mengerjakan bisnis angkirangan milik teman. Sampai dia mampu membeli gerobak milik sendiri. Membuka bisnis gerobak sendiri mepunyai konsekuensi. Dia harus rela bangun pagi, sekitar puku lima untuk berangkat ke pasar. Dia membeli aneka kebutuhan angkringan untuk dijual nanti.

Sepulang kuliah dia langsung membuka gerobak angkirangannya. Ditungguinya gerobak sampai para pembeli datang. Tiga tahun sudah bisnis ini dijalani, kehidupan Khafidz membaik soal keuangan, dan dia tak perlu lagi bekerja tak jelas demi memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Dia bisa membiayai makan sehari- hari, sewa kos, dan uang kuliah. Berkat angkirangan pula berhasil membuka pandangannya soal entrepreneurship. Sembari mengobrol dia bertemu banyak orang, dari semua beberapa adalah wirausahawan menginspirasi.

Ketika bisnis angkirang berjalan baik terjadi masalah datang. Bukannya dia berhasil mengembangkan bisnis. Malah gerobak miliknya dicuri orang sehingga tamat lah sudah. Pada saat itu, Khafidz tengah menjalani magang di Cilegon, gerobak dicuri menyisakan cicilan hutang kredit.

"Padahal itu gerobak cicilan, harganya mahal bagi saya, Rp.1,5 juta," tuturnya.

Kembali dia bekerja serabutan agar tetap bertahan. Sembari menyembuhkan diri, dia memilih untuk pulang kampung menghadapi hektaran kebun cengkih. Selama perjalanan dia memandangi kebun itu yang luasnya lebih dari 1000 hektar.

Banyak daun- daun berceceran tergeletak seperti tumpukan sampah. Dia mengingat ketika datang di sebuah pameran. Ada booth yang memerkan minyak asiri atau esensial oil. Mengapa tidak merubah daun cengkih itu jadi minyak. Dia mulai melakukan riset kecil- kecilan mengenai produksi asiri.

Setahun dia mempelajari mengenai produksi sampai pemasaran. Potensi pasar besar dengan bahan baku yang banyak. Ia membuat minyak asiri dengan usaha bernama Kendal Agro Atsiri. Pemuda 23 tahun yang nekat mengajak teman.

Mereka lalu menggelontorkan uang Rp.80 juta untuk membeli mesin suling. Ketika usaha telah mulai berjalan, tiba- tiba sang teman menarik modalnya. Khafidz pun segera mencari investor lain yang mau membantu. Beruntung dia menemukan orang hingga bisnis tersebut tetap berlanjut.

Dari investor baru memberi alat penyuling senilai Rp.250 juta. Bisnis Kendal Agro semakin besar dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Total dia mendapatkan omzet 700 juta perbulan untuk jualan minyak saja. Dia mempekerjakan 30 orang karyawan untuk mencari daun- daun cengkih itu.

Juragan minyak asiri yang mengoprasikan empat mesin penyulingan. Kini, dia telah mempekerjakan 400 orang karyawan, yang ditugaskan mengepulkan daun. Karyawan itu akan mengumpulkan daun ke 35 orang pengepul, yang tersebar di lima desa berbeda.

Ibu- ibu Desa Ngargosari naik taraf hidupnya dengan bekerja. Mereka yang seharian bekerja menjadi buruh tani dan pabrik. Kini mereka mendapatkan gaji tambahan setara Rp.1 juta per- bulan. Khafidz tidak hanya berhasil menjual di pasar lokal, tetapi sampai ke Eropa seperti Swiss dan Jerman.

Dia juga menjual ke Amerika Utara, Amerika Selatan dan Asia. Total lima ton minyak asiri dikirim dari Indonesia perbulan. Derasnya permintaan membuat Khafidz mengembangkan ide baru. Yang semula hanya minyak asiri cengkih, kini ada kulit pala, nilam, bunga mawar dan melati.

Minyak cengkih dihargai Rp.100.000 perkilogram. Asiri dari nilam seharga Rp.400.000 per- kg, dan asiri kulit pala Rp.600.000 per- kg. Asiri mawar dan melati dijual paling mahal sampai harga ratusan juta perkilogram. Alhasil dia mengantongi omzet Rp.2 miliaran dengan produksi 36 ton pertahun.

Pendidikan Anak Usia Dini Bisnis Menguntungkan

Profil Pengusaha Sukses Senita Jaya


bisnis pendidikan paud

Pendidikan anak usia dini bisnis menguntungkan. Berawal susahnya Senita mencari sekolah si kecil. Senita Jaya merasakan betul susahnya masuk TK. Alasannya sepele, ya karena anak Senita itu terlalu kecil untuk memulai TK.

Tidak mau terus kecewa, ia memilih memulai membuka sekolah sendiri. Senita ingin membuka sekolah pendidikan usia dini (PAUD) sendiri. Dia tidak terlalu berpikir ini bisnis menguntungkan. Sanita hanya berorientasi membantu kesusahan para kaum ibu.

Mereka yang susah mencari pendidikan lantaran usia kurang.  Hampir putus asa, seperti Senita yang terus mencari- cari pendidikan untuk anak kecilnya. Ia terus berjalan kesana kemari hingga jalan itu muncul. Muncul brosur di pintung angkot yang ditumpanginya menujukan jalan.

Dia lantas mulai berjalan menuju sebuah taman kanak- kanak tersebut. Sanita kok penasaran sekolah macam apa yang ditujunya. Hingga dia menemukan fakta, bahwa pendidikan anak usia dini itu sangat menguntungkan

Ide Bisnis Kapan Saja


Ada pepatah ide bisnis datang kapan saja. Taman kanak yang bernama TK Islami itu berada di kawasan Samarinda Utara. Ketika ia mendatangi tempat tersebut sungguh terkejut. Sanita tak percaya tempat tersebut adalah sebuah sekolah.

Itu hanyalah sebuah taman yang disulap menjadi sekolah. Begitu mudahkan membangun sebuah pendidikan anak usia dini. Padahal dirinya harus berkeliling untuk mencari sekolah. Semua mereka menolak anaknya lantaran berusia kurang.

Sekolah bernama TK Islami  dibangun di pekarangan rumah. Nampak seperti bisnis sampingan tetapi punya banyak siswa. Dan, yang lebih mengejutkan lagi. fakta bahwa sekolah tersebut berdiri diatas rumah milik warga. Pemilik TK tersebut ternyata bukanlah pemilik tanah, atau statusnya menyewa.

Setelah lelah berjalan, mencari sekolah TK Islami, ia justru merasa kecewa semudah itukah. Maski fasilitasnya kurang, sekolah tersebut menyampaikan aneka program baik. Sanita pun bisa menerima anaknya di sana. Pengalaman itu membuat Senita sadar ternyata pendidikan tak perlu mewah.

Ternyata, dia menemukan pendidikan itu, bisa juga ya menjadi usaha yang menjanjikan. Inilah awal mula segalanya, bisnis sampingan kemudian berubah besar. Dia memulai bisnis sendiri. Sekaligus itung- itung dia membantu orang tua dan anaknya yang masih kecil.

Sejak 2005, dia mulai mecicil modal usaha untuk membangun taman bermain. Dia selalu menyisikan uang yang diberikan suaminya sebagai belanja. Lambat laun sebuah sekolah mulai tercipta dengan biayanya sendiri walau baru kursi, meja, dan mainan anak- anak.
Ibunya, Sukeri dan Ayahnya, Syarif Suffendi, seorang dosen fakultas kehutanan Univerisitas Unmul, yang mulai melihat sinis bisnis anaknya tidak akan berhasil. Mereka prihatin hanya ada 24 orang anak yang mendaftar pertama kali.

Meskipun begitu dia tetap meneruskan bermodal halaman depan rumah orang tuanya.

"Tak selalu diterima, brosur saya seringa ditolak mentah- mentah. Walau begitu saya tetap semangat," ingatnya di awal bisnis.

Bisnis Menguntungkan


Meski sedikit, dia mengatakan itu bukanlah masalah baginya. Bagi Sanita yang terpenting anak- anaknya bisa gembira meski belajar seadanya. Lambat laun, persepsi positif tumbuh sejalan jumlah murid, Senita mencapai 185 murid serta menambah saran prasarana.

Dia mengakui untuk semuanya mebutuhkan uang dan kerja keras. Dia mengaku awal- awal biaya masuk belajar sebesar Rp.600- 800 ribu, bagi murid Play Group ataupun TK cuma SPP nya cuma seharga Rp.75.000.

Sekarang, Sanita menerapkan lebih tinggi dengan uang masuk TK Rp.2,4 juta, dan PG sebesar Rp.2,2 juta.  Sedangkan SPP, TK dikenakan biaya Rp.200 ribu dan PG sebesar $175 ribu. Apa itu tidak akan terlalu mahal?

Tentu tidak, ia berkata harus benar- benar memilih guru yang tepat serta program yang mumpuni. Dia dibantu oleh 23 guru yang sebelumnya hanya sendiri mengembangkan bisnisnya akhirnya ke level lebih tinggi. Bagaimana dengan tempat?

Ia berekspansi tidak hanya dari depan rumah kedua orang tuanya. Bisnisnya, PG dan TK Silmi, kini berdiri di tanah pemberian orang tua sang suami. Ia juga resmi membuka cabang PG dan TK nya di JL. KH. Wahid Hasyim.

Ibu dari Nabila, Nasywa, dan Nayla ini mengatakan, omzet dari usahanya ini bisa mencapai puluhan juta per- bulan. Sebelum jagung manis, Senita mengaku ada usaha lain tetapi gagal. Dia pernah menjual obat herbal hingga kerudung.

Sejak kuliah di Fakultas Pertanian Unmul memang dirinya hobi membuat pakain islami. Dia pun mengaku semuaya terjadi tiba- tiba kerena di memang menginginkan sekolah bagi anaknya. Senita Jaya mengaku bisnis sekolahnya mengantongi omset puluhan juta perbulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba