Pengusaha Mery Yani Bisnis Telur Asin Bisa Berkembang

Profil Pengusaha Mery Yani


pengusaha talur asin mery yani

Menjadi pengusaha Mary Yani berbisnis telur asin. Pertanyaannya apakah bisnis telur asin akan bisa berkembang. Kecintaan akan sang ibu mendorongnya pulang kampung ke Karawang di tahun 2005 silam. Padahal, kala itu, karir Mery Yani tengah bagus- bagusnya ketika dalam perantauan.

Bekerja menjadi akuntan di perusahaan importir besar dilepaskan. Tak lagi bekerja, Mery ingin fokus merawat sang ibu. Hingga pada 2007, sang ibu menghembuskan nafas terakhir, ini sangat mebawa duka untuk wanita 29 tahun ini. Dia tak bersemangat untuk jadi perantau lagi tetapi mau makan apa.

Apakah tidak rugi jika ia memilih mentap di desa. Tidak, nyatanya pilihan untuk mentap di kampung, justru membuatnya menjadi pengusaha sukses. Tak terpikirkan sebelumnya dia akan menjadi juragan telur asin. Sungguh Yani tak memiliki bakat untuk menjadi pengusaha telur asin.

"Saya ketika itu pulang untuk merawat ibu yang tengah menderita sakit kanker stadium 4," ujarnya.

Meneruskan Bisnis keluarga


Sambil merawat ibu, Yani membantu- bantu ayahnya membuat pakan ternak dari dedek padi. Disisi lain ada kakaknya yang mengerjakan usaha telur asin rumahan. Usaha yang sudah ada sejak lama ada, jauh sebelum Mery merantau.

Dia ingat betul, dari usaha itulah ia bisa menjadi sarjana akuntanis. "Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu," kenangnya. Telur asin yang memberikan sokongan di keluarga kecil itu.

Dan, ketika sang ibu meninggal, tepat setelah itu usaha kakaknya kian memburuk. Mery tidak mau tinggal diam. Memang Mary merupakan sosok yang peduli akan keluarga. Sambil merawat sang Ibu, ia ikut membantu kakaknya berjualan telur di pasar, sekaligus membantu sang ayah.

Ayahnya memiliki usaha pabrik pakan ikan dan unggas di Karawang, Jawa Barat. Meskipun masih terpukul, lajang kelahiran Karawang tahun 1983 itu, tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Ia tetap bekerja membantu. Lambat laun dia justru kian tertarik pada usaha talur asin kakaknya.

Ketika itu kakaknya memproduksi telur, sekaligus berjualan berbagai jenis telur. Dia fokus menjual telur asin. Bisnis telur asin kakak Yani tengah stagnan. Sulit percaya memang bisnis telur ini punya masa depan yang baik. Ini nampaknya yang membuat sang kakak sulit mengembangkan diri.

Tetapi Mery percaya bahwa ada ini bisa sukses besar kok. Bisnis telur asin bisa berkembang pesat ke depan. Dia pun memberanikan diri mengambil alih untuk mengelolanya. Pucuk dicita, ulam pun tiba, sang kakak malah menghibahkan bisnisnya.

Kebetulan ada bisnis lain yang mau kaka Yani urus. Kalender waktu itu menunjukkan tahun 2009, dan Yani mulai bersiap dengan bisnis telur asinnya. Bukan perkara mudah meskipun ini sudah berjalan. Saat dialihkan, bisnis telur ini stagnan, dan tidak berkembang baik jumlah ataupun untung.

Tercatat kakaknya memiliki empat karyawan. Mereka menghasilkan 1.000-1.500 butir per- hari dijual di pasar. Modal toko kecil yang modalnya diambil dari klaim asuransi ibu. Yani mulai mencari- cari tau bagaimana bisnis ini dijalankan.

Mery mulai membaca- baca buku tentang telur asin. Dia juga tak malu untuk bertanya kepada mereka yang sudah punya pengalaman. Mery sendiri pernah berjualan telur asin ketika sekolah menengah, dimana dia berjualan dari satu toko ke toko di pasar tradisional.

Rencana Bisnis Telur Asin


Dia mulai menggabungkan dengan ilmu akuntansi. Pengusaha Mary Yani juga mengeluarkan semua pengalaman bekerja di perusahaan. Dia punya dasar tetapi belum teruji ketika di usaha sendiri. Anak ketiga dari empat bersaudara mulai menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap.

Dia menciptakan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan. Di bagian produksi, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang untuk pasokan telur asinnya.

Yani bahkan menggelontorkan modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery. Ia juga menyoroti soal kebersihan telur- telurnya. 

Jika sebelumnya telur akan direndam agar bersih, ternyata, dalam riset yang dilakukannya sendiri, itu satulah kesalahan. Mery menemukan bahwa perlakuan demikian justru membuat kotoran meresap, bahkan sampai ke dalam telur melalui pori- pori kulitnya.

Akhirnya proses pencucian diubah total, menggunakan air mengalir dan kemudian diberi disinfektan untuk membunuh kuman serta bakteri yang menempel. Tapi dia mengingatkan sebelum telur dicuci perlu diperiksa keretakannya, sebanyak dua kali ya.

Mery kembali memeriksa telur setelah dicuci untuk kemudian diasinkan. Dia menggunakan air isian ulang ke dalam proses produksi. Ini bisa meningkatkan kualitas produk sekaligus cara mengurangi tingkat kecacatan produk akhir.

Tak ketinggalan, Yeni rutin menguji kualitas telur hasil produksi ke laboratorium Cikolay, Bandung, setiap bulan. Kemudian soal proses produksi, bahan yang digunakan diubah semuanya bahan- bahan pilihan.

Abu yang akan digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan sudah terlebih dijamin kebersihannya. Abu itu yang berasal lahan pertanian di sekitar Karawang. Dan terakhir, untuk bagian pengemasan, ia merubah cara pengemasan tradisional.

Satu per- satu telur dikemas dan dibungkus kardus secara rapi. Dengan demikian, tingkat kerusakan produk saat pengantaran bisa dikurangi.

"Kalau membeli telur asin produksi orang lain, kerusakannya bisa sekitar 25%, tetapi kalau beli dari saya hanya 5%, bahkan bisa nol. Hal ini bisa menekan kerugian agen dan distributor," dia mengklaim.

Kemudian ia terjun langsung ke pasar menjajakan produknya. Pada saat itulah, dia belajar kesalahan pertamanya, dimana dia masuk di waktu yang salah. Produknya masuk justru ketika pasar dibanjiri pasokan telur asin.

"Jadi, orang mau menerima produk saya susah." Ia mencatat bulan Desember- Februari sebagai bulan telur langka.

Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar. Mery pun menggelontorkan sejumlah uang lagi. Dia punya tekat untuk membangun bisnisnya lebih besar.

Prospek Bisnis Telur Asin


Dia mau tak mau meminjam modal Rp.160 juta dari ayahnya, dan sebagian pekerangan rumah untuk tempat produksi. "Pabrik pakan ternak ayah saya cukup luas, jadi saya pakai separuhnya," ujarnya, dan PT. Sumber Telur Kilau, perusahaan yang menaungi bisnis ini, pun dikibarkan.

Sayang, dikala penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. "Saya harus sabar mencari mitra lain," ujar Mery.

Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, dia memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut. Dia yakin bahwa telur asin punya masa depan.

Di tahun 2012 saja, atau tiga tahun setelah memutuskan berbisnis, ini berkembang baik dan terasa manis. Dia sekarang dibantu 15 karyawan inti dan ibu- ibu sekitar pabrik, serta 20 peternak telur bebek, Merry mampu menjual 10-15 ribu butir telur per- hari, atau meningkat 10 kali lipat.

Agar lebih bisa masuk ke pasar yang lebih luar, Mery pun mengajukan sertifikasi telurnya. Di tahun 2010, ia sudah mengajukan sertifikasi untuk telur produksi peternakan miliknya dan mitra. Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Telur- telur miliknya sudah memperoleh sertifikasi kualitas gizi.  Setiap produksi, telur- telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui tahap pengujian. Tahapan itu meliputi pencucian telur, pengujian dari bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.

Kini, penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah meluas, menjangkau ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Di kegiatan pemasaran, Mery mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor perusahaan.

"Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya," terangnya

Yang membuat Mery bertambah bangga, tiada diduga, pihak lain mengapresiasi kiprahnya. Awal tahun ini dia menjadi salah satu pemenang terbaik nasional untuk kategori Alumni dan Mahasiswa Pascasarjana dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri.

Sebagai ganjarannya, Mery mendapatkan penghargaan serta uang senilai Rp 50 juta sebagai dana pembinaan. Jika melihat perkembangan bisnisnya, tak mengherankan, perempuan bertubuh mungil ini sudah punya mimpi besar.

Dia berharap terus menambah agen penjualan hingga 100 dan merambah sampai kawasan Indonesia timur. Ambisi besar lainnya? "Membuat pabrik telur asin terbesar di Indonesia, juga membuat telur saya eksis di ASEAN," tutupnya.

Juragan Minyak Asiri Pengusaha Khafidz Sederhana

Profil Penusaha Khafidz Nazrullah


pengusaha minyak asiri
 
Menyandang gelar juragan minyak asiri dia tetap bersahaja. Pengusaha Khafidz Nazrullah mungkin beromzet 2 miliar rupiah. Tetapi dia tetap ramah murah senyum dengan pakaian biasa. Dia sendiri lah yang terjun langsung menjelaskan apa itu asiri.

Padahal waktu itu dia telah membuka booth pemasaran. Khafidz memilih menyapa para pengunjung langsung. Tampilan booth nya berbeda dibanding peserta lain. Nampak hanya memajang produk sejenis minyak. Tampak berjejer botol kecil rapih di meja pada acara di Jakarta Convention Center.

Siapa sangka botol- botol tersebut bernilai tinggi. Minyak asiri dikenal sebagai bibit yang banyak digunakan. Selain untuk industri minyak wangi, manfaatnya banyak termasuk menjadi bahan baku produk rumah tangga. 

Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Islam Negeri (UIN) Yogykarta, yang telah berhasil menaikan derajat keluarga. Dia juga menaikan komoditas asal kampung halaman. Bukan satu dua orang tetapi ratusan orang berterima kasih. Sosok pekerja keras yang pernah bekerja serabutan sebelum sukses.

Awal Wirausaha Sendiri


Ia berkisah penduduk desa bekerja sebagai buruh tani dan perkebunan. Tak banyak orang yang bisa sekolah sampai kuliah. Khafidz termasuk sedikit dari yang beruntung bisa berkuliah. Ini berkat otak yang encer sampai mendapatkan beasiswa.

Menjadi siswa terbaik membawanya berkuliah dibiayai pemerintah. Desa itu pelosok dengan jalan yang rusak dan berlubang. Dialah satu- satunya warga Ngargosari yang akan mencicipi pendidikan Sarjana. Tetapi dia mendapatkan kendala birokrasi yang rumit.

Alhasul Khalidz tak jadi berangkat karena beasiswa batal. Tekat Khafidz kedarung melambung, maka ia pun nekat berangkat walau tanpa beasiswa. Dia lalu membawa uang Rp.1,6 juta yang didapat dari pinjaman. Di tahun 2006, dia berangkat ke Yogyakarta dan mendaftarkan diri ke kampus impian.

Dia benar- benar buta soal Kota Yogkayarta tersebut. Selama disana Khafidz tinggal di masjid untuk beristirahat. Selama Semester 1, dia menerima uang bulanan dari orang tua walau merasa malu. Nah, di Semester 2, Khafidz mulai mencari pekerjaan untuk mencari biaya sehari- hari.

Ia memilih bekerja serabutan. Mulai dari mencari butung kenari untuk dijual kembali. Dia mencari burung kenari untuk dijual lagi ke pasar burung. Khafidz mencari peluang dari para penghobi burung di Kota Gudeg. Belum sempat terjual, eh burungnya mati hingga dia kehilangan peluang berbisnis.

Tak patah arang aneka pekerjaan dan usaha dijalani. Salah satunya dia bekerja sebagai penngajar di bimbingan belajar. Sembari dia berkuliah mengerjakan aneka usaha demi uang. Beberapa kali dia ikut lembaga survei dari Dinas Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran UIN untuk membagi questioner.

"Saya dulu dikenal karena sering ngutang," selorohnya.

Pengusaha Angkringan Nasi Kucing


Dia bekerja keras mengerjakan apapun serabutan tak menentu. Pemuda desa yang belum tertarik akan entrepreneurship. Seorang teman mengajak dirinya untuk membuka usaha. Dia menawarkan Khafidz untuk menjalankan angkirang miliknya.

Semula dia mengerjakan bisnis angkirangan milik teman. Sampai dia mampu membeli gerobak milik sendiri. Membuka bisnis gerobak sendiri mepunyai konsekuensi. Dia harus rela bangun pagi, sekitar puku lima untuk berangkat ke pasar. Dia membeli aneka kebutuhan angkringan untuk dijual nanti.

Sepulang kuliah dia langsung membuka gerobak angkirangannya. Ditungguinya gerobak sampai para pembeli datang. Tiga tahun sudah bisnis ini dijalani, kehidupan Khafidz membaik soal keuangan, dan dia tak perlu lagi bekerja tak jelas demi memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Dia bisa membiayai makan sehari- hari, sewa kos, dan uang kuliah. Berkat angkirangan pula berhasil membuka pandangannya soal entrepreneurship. Sembari mengobrol dia bertemu banyak orang, dari semua beberapa adalah wirausahawan menginspirasi.

Ketika bisnis angkirang berjalan baik terjadi masalah datang. Bukannya dia berhasil mengembangkan bisnis. Malah gerobak miliknya dicuri orang sehingga tamat lah sudah. Pada saat itu, Khafidz tengah menjalani magang di Cilegon, gerobak dicuri menyisakan cicilan hutang kredit.

"Padahal itu gerobak cicilan, harganya mahal bagi saya, Rp.1,5 juta," tuturnya.

Kembali dia bekerja serabutan agar tetap bertahan. Sembari menyembuhkan diri, dia memilih untuk pulang kampung menghadapi hektaran kebun cengkih. Selama perjalanan dia memandangi kebun itu yang luasnya lebih dari 1000 hektar.

Banyak daun- daun berceceran tergeletak seperti tumpukan sampah. Dia mengingat ketika datang di sebuah pameran. Ada booth yang memerkan minyak asiri atau esensial oil. Mengapa tidak merubah daun cengkih itu jadi minyak. Dia mulai melakukan riset kecil- kecilan mengenai produksi asiri.

Setahun dia mempelajari mengenai produksi sampai pemasaran. Potensi pasar besar dengan bahan baku yang banyak. Ia membuat minyak asiri dengan usaha bernama Kendal Agro Atsiri. Pemuda 23 tahun yang nekat mengajak teman.

Mereka lalu menggelontorkan uang Rp.80 juta untuk membeli mesin suling. Ketika usaha telah mulai berjalan, tiba- tiba sang teman menarik modalnya. Khafidz pun segera mencari investor lain yang mau membantu. Beruntung dia menemukan orang hingga bisnis tersebut tetap berlanjut.

Dari investor baru memberi alat penyuling senilai Rp.250 juta. Bisnis Kendal Agro semakin besar dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Total dia mendapatkan omzet 700 juta perbulan untuk jualan minyak saja. Dia mempekerjakan 30 orang karyawan untuk mencari daun- daun cengkih itu.

Juragan minyak asiri yang mengoprasikan empat mesin penyulingan. Kini, dia telah mempekerjakan 400 orang karyawan, yang ditugaskan mengepulkan daun. Karyawan itu akan mengumpulkan daun ke 35 orang pengepul, yang tersebar di lima desa berbeda.

Ibu- ibu Desa Ngargosari naik taraf hidupnya dengan bekerja. Mereka yang seharian bekerja menjadi buruh tani dan pabrik. Kini mereka mendapatkan gaji tambahan setara Rp.1 juta per- bulan. Khafidz tidak hanya berhasil menjual di pasar lokal, tetapi sampai ke Eropa seperti Swiss dan Jerman.

Dia juga menjual ke Amerika Utara, Amerika Selatan dan Asia. Total lima ton minyak asiri dikirim dari Indonesia perbulan. Derasnya permintaan membuat Khafidz mengembangkan ide baru. Yang semula hanya minyak asiri cengkih, kini ada kulit pala, nilam, bunga mawar dan melati.

Minyak cengkih dihargai Rp.100.000 perkilogram. Asiri dari nilam seharga Rp.400.000 per- kg, dan asiri kulit pala Rp.600.000 per- kg. Asiri mawar dan melati dijual paling mahal sampai harga ratusan juta perkilogram. Alhasil dia mengantongi omzet Rp.2 miliaran dengan produksi 36 ton pertahun.

Pendidikan Anak Usia Dini Bisnis Menguntungkan

Profil Pengusaha Sukses Senita Jaya


bisnis pendidikan paud

Pendidikan anak usia dini bisnis menguntungkan. Berawal susahnya Senita mencari sekolah si kecil. Senita Jaya merasakan betul susahnya masuk TK. Alasannya sepele, ya karena anak Senita itu terlalu kecil untuk memulai TK.

Tidak mau terus kecewa, ia memilih memulai membuka sekolah sendiri. Senita ingin membuka sekolah pendidikan usia dini (PAUD) sendiri. Dia tidak terlalu berpikir ini bisnis menguntungkan. Sanita hanya berorientasi membantu kesusahan para kaum ibu.

Mereka yang susah mencari pendidikan lantaran usia kurang.  Hampir putus asa, seperti Senita yang terus mencari- cari pendidikan untuk anak kecilnya. Ia terus berjalan kesana kemari hingga jalan itu muncul. Muncul brosur di pintung angkot yang ditumpanginya menujukan jalan.

Dia lantas mulai berjalan menuju sebuah taman kanak- kanak tersebut. Sanita kok penasaran sekolah macam apa yang ditujunya. Hingga dia menemukan fakta, bahwa pendidikan anak usia dini itu sangat menguntungkan

Ide Bisnis Kapan Saja


Ada pepatah ide bisnis datang kapan saja. Taman kanak yang bernama TK Islami itu berada di kawasan Samarinda Utara. Ketika ia mendatangi tempat tersebut sungguh terkejut. Sanita tak percaya tempat tersebut adalah sebuah sekolah.

Itu hanyalah sebuah taman yang disulap menjadi sekolah. Begitu mudahkan membangun sebuah pendidikan anak usia dini. Padahal dirinya harus berkeliling untuk mencari sekolah. Semua mereka menolak anaknya lantaran berusia kurang.

Sekolah bernama TK Islami  dibangun di pekarangan rumah. Nampak seperti bisnis sampingan tetapi punya banyak siswa. Dan, yang lebih mengejutkan lagi. fakta bahwa sekolah tersebut berdiri diatas rumah milik warga. Pemilik TK tersebut ternyata bukanlah pemilik tanah, atau statusnya menyewa.

Setelah lelah berjalan, mencari sekolah TK Islami, ia justru merasa kecewa semudah itukah. Maski fasilitasnya kurang, sekolah tersebut menyampaikan aneka program baik. Sanita pun bisa menerima anaknya di sana. Pengalaman itu membuat Senita sadar ternyata pendidikan tak perlu mewah.

Ternyata, dia menemukan pendidikan itu, bisa juga ya menjadi usaha yang menjanjikan. Inilah awal mula segalanya, bisnis sampingan kemudian berubah besar. Dia memulai bisnis sendiri. Sekaligus itung- itung dia membantu orang tua dan anaknya yang masih kecil.

Sejak 2005, dia mulai mecicil modal usaha untuk membangun taman bermain. Dia selalu menyisikan uang yang diberikan suaminya sebagai belanja. Lambat laun sebuah sekolah mulai tercipta dengan biayanya sendiri walau baru kursi, meja, dan mainan anak- anak.
Ibunya, Sukeri dan Ayahnya, Syarif Suffendi, seorang dosen fakultas kehutanan Univerisitas Unmul, yang mulai melihat sinis bisnis anaknya tidak akan berhasil. Mereka prihatin hanya ada 24 orang anak yang mendaftar pertama kali.

Meskipun begitu dia tetap meneruskan bermodal halaman depan rumah orang tuanya.

"Tak selalu diterima, brosur saya seringa ditolak mentah- mentah. Walau begitu saya tetap semangat," ingatnya di awal bisnis.

Bisnis Menguntungkan


Meski sedikit, dia mengatakan itu bukanlah masalah baginya. Bagi Sanita yang terpenting anak- anaknya bisa gembira meski belajar seadanya. Lambat laun, persepsi positif tumbuh sejalan jumlah murid, Senita mencapai 185 murid serta menambah saran prasarana.

Dia mengakui untuk semuanya mebutuhkan uang dan kerja keras. Dia mengaku awal- awal biaya masuk belajar sebesar Rp.600- 800 ribu, bagi murid Play Group ataupun TK cuma SPP nya cuma seharga Rp.75.000.

Sekarang, Sanita menerapkan lebih tinggi dengan uang masuk TK Rp.2,4 juta, dan PG sebesar Rp.2,2 juta.  Sedangkan SPP, TK dikenakan biaya Rp.200 ribu dan PG sebesar $175 ribu. Apa itu tidak akan terlalu mahal?

Tentu tidak, ia berkata harus benar- benar memilih guru yang tepat serta program yang mumpuni. Dia dibantu oleh 23 guru yang sebelumnya hanya sendiri mengembangkan bisnisnya akhirnya ke level lebih tinggi. Bagaimana dengan tempat?

Ia berekspansi tidak hanya dari depan rumah kedua orang tuanya. Bisnisnya, PG dan TK Silmi, kini berdiri di tanah pemberian orang tua sang suami. Ia juga resmi membuka cabang PG dan TK nya di JL. KH. Wahid Hasyim.

Ibu dari Nabila, Nasywa, dan Nayla ini mengatakan, omzet dari usahanya ini bisa mencapai puluhan juta per- bulan. Sebelum jagung manis, Senita mengaku ada usaha lain tetapi gagal. Dia pernah menjual obat herbal hingga kerudung.

Sejak kuliah di Fakultas Pertanian Unmul memang dirinya hobi membuat pakain islami. Dia pun mengaku semuaya terjadi tiba- tiba kerena di memang menginginkan sekolah bagi anaknya. Senita Jaya mengaku bisnis sekolahnya mengantongi omset puluhan juta perbulan.

Tetap Percaya Diri Walau Usaha Bimbel Saja

Profil Pengusaha Muhammad Mulyakhan


usaha bimbel genius
 
Kelebihan sosok M. Mulyakhan adalah ketulusan dalam berbisnis apapun. Tetap percaya diri apapun usaha yang dijalankan. Pemuda yang menang Wirausaha Muda Mandiri asal Aceh. Dia dulu pernah mengundurkan diri ketika mendaftar di Medan.

Muhammad Mulyakhan merasa tidak percaya diri melihat pesaing. "Waktu di Medan, saya sempat mengundurkan diri, karena teman- teman di Medan luas biasa omset usahanya," ia menjelaskan. Juga mereka nampak sangat lihai dalam mempresentasikan bisnis.

Pemuda kelahiran Benua Raja, Aceh Paniang, 11 Maret 1990 yang berpenampilan sederhana. Dia mampu mengalahkan 14 ribu peserta dari seluruh Indonesia. Ia tak akan menyangka lolos bahkan sampai juara 1. Mulyakhan memang orangnya sederhana dan berbisnis bias- biasa saja.

Dia bukanlah pemilik usaha berbasis teknologi komputer. Mulyakhan berhasil berkat bisnis bimbel Genius Privat. Bahkan berkat ini pula dirinya mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Dia sendiri yang menerima piala dari Wakil Presiden. 

"Pak Boediono sendiri yang ngasih piala secara langsung," kenangnya.

Pengusaha Bimbel Genius


Bagi pengusaha dibutuhkan ketulusan menjalankan usaha. Orang mungkin menyebut perasaan itu sebagai "passion". Ia mengenang bagaimana dirinya hanya seorang guru. Mulyakhan tercatat menjadi guru bimbel di tempat temannya. Dia bekerja di Genius Privat yang dulu masih milik orang lain.

Di awal Februari 2012, bimbel Genius Privat dimiliki teman Mulyakhan, yang sahamnya kemudian ditawarkan ke orang. Mulyakhan nekat mengajukan diri membeli saham bimbel tersebut. Walaupun dengan cara berhutang, akhirnya dia memiliki bimbel yang kemudian diberi nama Genius Privat.

"Saya beranikan diri membeli saham tersebut, walaupun sebagian hutang," kenang sang pengusaha.

Dia mengenang tidak mudah membesarkan bimbel  Genius. Mahiswa cerdas Jurusan Fisika, Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Unsiyah, yang tak berhenti belajar. Dia terus berusaha sampai di titik balik kesuksesan.

Awal- awal peminat Bimbel Genius sangatlah minim. Sekarang dia mampu menggaet sampai 130 orang siswa. Semua membutuhkan proses dengan kesabaran dan keikhlasan. Tulus ingin membangun usaha sendiri hingga mereguk kesuksesan.

Pemuda yang membangun bimbel Genius dengan kerumitan. Bimbingn Belajar Genius yang saat itu sudah memiliki enam cabang. Dia mengambil alih bisnis tersebut bukan tanpa pikir panjang. Saat itu dia memutuskan berhutang.

"Saya sempat bangkrut karena hutang, bahkan hampir setengah miliar," ia menjelaskan.

Mengapa mengambil bisnis yang telah berjalan itu lebih sukses. Karena Mulyakhan bisa saja tidak punya pengalaman berbisnis. Dia tak paham mengenai manajeman perusahaan. Ia dituntut untuk bisa membaca pasar, ketika bisnis sejenis telah merebak dan persaingan ketat.

Bimbelnya sudah jadi bahkan memiliki enam kantor cabang. Berkat kerja keras dia mampu membuka dua cabang baru. Mulyakhan mampu mengoptimalkan tenaga pengajar sejumlah 70 orang. Sempat dia membuka empat cabang baru, tetapi masalah operasional menghadang dia.

Alhasil Mulyakhan terpaksa menutup semua cabang tersebut. Pria yang hobi membaca buku bisnis ini tak tinggal diam. Bisnisnya sempat akan gulung tikar karena Standar Operasional Prosedur. Dia tidak memiliki fondasi kuat dalam berbisnis.

Alhamdulillah, waktu dapat menempa Mulyakhan hingga lepas jeratan bangkrut. Dia mampu lepas dari kebangkrutan dan makin optimis. Ia yakin prospek bisnis bimbel masih terbuka luas. Terutama di Aceh, dia yakin bahwa pendidikan akan selalu dibutuhkan orang.

Wirausaha Muda Mandiri


Banyak orang dibelakang yang mendukung kemajuan bisnis Mulyakhan. Ia menyebut para pegawai yang memotivasi. Dia bukan sekedar ingin membuka banyak lapangan pekerjaan. Prinsip bahwa dia harus mensejahterakan mereka menggema.

Tidak lucu bila dia menyerah membiarkan mereka jadi pengangguran. Dia mulai memperbaiki sistem operasional. Banyak halang rintang sampai hampir kehingan setengah miliar. Titik balik lagi ketika siswa bimbelnya menang Olimpiade, ditambah menang Wirausaha Muda Mandiri tahun itu.

Dia juga memenangkan lomba Diaspora. Namun ketika itu pula masalah timbul kembali. Keluarga yang mendukung Mulyakhan nampak goyah. Mereka berharap dirinya bisa menjadi PNS karena telah berprestasi. Apalagi dia telah mengajar hingga mampu membawa siswa menang Olimpiade.

Angan mereka mengenai menjadi PNS menguat. Sementara Mulyakhan menginginkan fokus untuk berwirausaha. "Saya tidak menemukan passion saya disitu," tuturnya. Semangat entrepreneurship itu begitu menggelora di matanya. Maka dari itulah dia secara bertahap meyakinkan itu kepada keluarga.

"Alhamdulillah, sekarang keluarga mendukung," jelas Mulyakhan.

Usut- punya usut ternyata dia pemenang lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN), untuk pelajaran Fisika pada 2011. Pantaslah ini menjadi bentuk promosi untuk memajukan bimbel. Prestasinya sangat gemilang dengan otak yang cerdas dan membanggakan.

Banyak siswa yang terinspirasi akan kepribadian pengusaha muda ini. Dia juga termasuk orang yang tetap percaya diri. Walau ketika dia mengundurkan diri di Medan karena minder. Dia segera bangkit, dan masuk ke pendaftaran Wirausaha Muda Mandiri di Aceh.

Tidak ada pengusaha sempurna tetapi harus terus belajar. Seperti ketika dirinya belajar soal keuangan bisnis. Mulyakhan memisahkan antara keuangan pribadi dan perusahaan. Dia percaya harus merubah SOP berdasarkan Allah dan Rasulullah.

Agama menjadi kunci kesuksesan Mulaykhan yang sempat terpuruk. Dia yang telah sukses juga tak lupa berbagi. Salah satunya dia menjadi penggagas berdirinya organisasi pengusaha di Aceh. Di masa depan dia berharap lebih banyak pemuda jadi pengusaha, yang kreatif, inovatif, dan berakhlak baik.

Jualan Kambing Raja Aqiqah Wirausaha 400 Juta

Biografi Pengusaha Andi Nata 


jualan kambing raja aqiqah
 
Jualan kambing menghasilkan wirausaha 400 juta.  Inilah sosok penambah kasanah dunia usaha kita. Pemuda bernama Andi Nata, yang dikenal sebagai "Raja Aqiqah". Ia sukses berkat beternak kambing dan berbisnis katering akikah. Tidak ada sedikitpun rasa malu berbisnis yang terkadang diremehkan.

Padahal, pemuda kelahiran 7 Januari 1989 ini lulusan Teknik Mesin, yang suatu hari pristiwa penting merubah pola pikirnya. Dia ingin menjadi wirausaha muda. Andi ingin menjadi pengusaha, karena rasa cinta bukan keterpaksaan.

Andi terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Sumari, seorang pegawai bengkel furnitur dan ibunya , Roaenah, ibu rumah tangga biasa.

"Mayoritas keluarga saya bertani di Plered," jelasnya.

Anak kedua dari enam bersaudara yang penuh tanggung jawab. Dimana setiap hari, hidup Andi selalu dipenuhi sifat tekun di bidang akademis. Tak ayal, nilai akademisnya tidak pernah turun, meskipun setiap hari dia mungkin capek bersepeda dari rumah ke sekolah.

Rajin dan Tekun Belajar


Sampai SMA, berkat ketekunannya mampu mendapat banyak beasiswa pendidikan. Sampai kuliah beasiswa itu mengalir, terus membantunya hingga lulus menjadi sarjana. Dia sampai- sampai bisa berkuliah di Universitas Indonesia berkat beasiswa.

Sembari kuliah kegiatan lain hanyalah memberikan les privat. Andi memang telah melakoni kegiatan ini sejak sekolah menangah atas. Berkat itu pula uang saku buat sekolah tidak perlu dipikirkan. Bisnis sederhana yang mengandalkan kecerdasan Andi sebagai pelajar.

Ia selalu mengingat pesan nenek,"...enggak boleh takut dengan keadaan, karena kami tak punya apa- apa," tuturnya.

"Saya incar beasiswa," jelas Andi. Semenjak berkuliah lebih banyak waktu kosong. Dia mengisinya lagi bukan bersenang- senang, tetapi mengajari anak les privat. Kali ini, Andi juga memberikan kurus matematika dan fisika, tidak cuma sendiri tetapi ikut beberapa lembaga bimbingan di Depok.

Andi selalu berpikir mengisi waktu menambah koceknya. Berkat usahanya dalam tiga bulan saja, ia berhasil mengumpulkan uang 12 juta. Namun, dipertengahan 2007, sang ayah mendapatkan musibah di tempat kerja dan diharuskan operasi.

Inilah titik balik yang penulis ceritakan diatas. Pristiwa ini membuatnya habis- habisan. Biaya operasi mencapai Rp.35 juta. Tentu uang hasil bimbel belum mencukupi. Mata Andi lantas menatap ke saudara- saudaranya yang masih kecil.

Ia harus melakukan sesuatu. Termasuk mau meminjam uang ke salah satu orang tua murid. Bahkan untuk melunasinya, ia rela tidak digaji sebagai guru les privat sampai beberapa tahun ke depan.

Apapun usaha dilakukan bahkan termasuk mengikuti karya ilmiah di Kampus. Pokoknya apapun harus dilakukan selama menghasilkan uang. Hingga, akhirnya, ia berhasil mengumpulkan biaya buat operasi sang ayah senilai Rp.35 juta tersebut.

Titik Balik Wirausaha


Ayah Andi mulai berangsur sembuh pasca operasi. Di titik ini, pemuda 26 tahun ini, mulai kepikiran tentang membuka usaha sendiri. Awalnya ada usaha beternak kambing ditujukan buat sang ayah. Tapi seperti halnya dia, usaha yang dijalankan ayah cuma sampingan.

Tidak ada pikiran menjadi pengusaha hanya mencari nafkah. Andi salama ini juga hanya menambah pemasukan, dan juga mencari kesibukan. Ia sama sekali tidak kepikiran membuka usaha, hanya fokus pendidikan. Sampai dia harus menggantikan peran sang ayah untuk mencari nafkah.

Andi mulai mencari tau segala sesuatunya tentang usaha beternak kambing. Ingin mengangkat usaha keluarga menjadi mumpuni. Dia mencari tau tentang kambing sampai ke Jakarta Utara. Dari informasi teman, Andi lantas bertemu sosok peternak besar.

Orang itu dijadikannya sosok guru masalah kambing  soal prospek ke depan. Begitu sampai disana, tanpa malu ia mengutarakan keinginan untuk beternak kambing. Dalam beberapa bulan selanjutnya, Andi melewati hari- harinya dengan belajar tentang kehidupan peternak kambing.

Dia tinggal disana dan menemukan fakta menarik, "...dalam bisnis, kuncinya tekun dan mau tahu diri. Selama di sana, saya bantu dengan bersih- bersih juga."

Dia selalu bercerita bagiamana niatnya menjadi peternak. Dan, ini lalu ditanggapi teman- temannya dengan mengajak ke komunitas peternak. Ketekunan seorang Andi sampai membuat teman lain ikut merasakan ketertarikan serupa. Ia sama sekali awam hingga kelak pantas disebut "Raja Aqiqah:.

Bermodal Rp.8 juta hasi tabungan dimulai lah peternakan kecil. Ia merintis peternakan kambinya di Plered. Uang tersebut kemudian dibelikan empat kambing betina dan satu kambing jantan. Perawatan kambinya dibantu orang tua dan beberapa sanak saudara.

Tidak mudah karena beberapa kambing akhirnya mati. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat Andi. Teman Andi mulai tertarik akan kesuksesannya dan ikut bergabung. Sedikit- demi sedikit usahanya membesar sampai memiliki 258 ekor kambing di tahun 2009.

Total 20 orang teman ikut ambil bagian menjadi investor di peternakan Andi. Sayangnya, usaha itu mengalami puncak penjualan hanya ketika Idul Adha saja, sisanya tidak terlalu menghasilkan. Dia tak mau tinggal diam, jiwa wirausahanya telah terasah dengan aneka buku kewirausahaan.

Jualan Kambing Akikah


Tidak berpuas hati merupakan salah satu sifat pengusaha. Untuk itulah, ia tidak bisa tinggal diam saja, jadi harus memutar otak bagaimana cara agar selalu laku. Penjualan meningkat stabil meski hari besar kurban telah dilewati. Dia ingin membuka usaha dengan prospek panjang bukan musiman.

Andi pun mencari guru lagi, dan mendapatkan masukan untuk berbisnis katering. Disini mulai nama katering akikah Raja Aqiqah terdengar. Memulai bisnis akikah ternyata tidak mudah. Karena Andi tidak bisa memasak katering sendiri.

Jadi usaha katering tersebut dijalankan lewat bekerja sama dengan rekan. Dimana dia mengurusi hal tenaga dan keungan. "...masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu," celetuknya.

Sejalan waktu nama Raja Aqiqah mulai dikenal. Pasti lah, karena Andi memang ulet keluar- masuk gang, dan menempelkan brosur tiap malam. "Biar enggak malu, kalau memasang brosur pakai helm," kelakarnya.

Ia menyadari berbisnis akikah lebih menghasilkan. Jualan kambing akikah untungnya lebih banyak sampai Rp.250.000 -an per- kambing. Kebetulan sekali, tepat di akhir 2012, seorang investor tertarik membeli kambing dari tempat Andi.

Investor itu tengah menjajaki bisnis penggemukan kambing. Tidak berpikir lama, melihat peuang, dia segera baralih fokus pembiakan kambing serta merambah bisnis katering. Untuk yang satu ini, Andi kembali memutar otak karena dia tidak bisa selamanya bergantung.

Dia memutar otak menghasilkan masakan sendiri. Meski tidak bisa memasak Andi tetap nekat. Ia kini fokus mencari juru masak. Berkeliling ke berbagai tempat, lagi- lagi masalah dihadapinya, para tukang masak enggak bekerja untuknya.

"Saya punya niat besar untuk membuka bisnis akikah, namun tidak bisa masak,... maka ide saya tidak lain mencari juru masak handal," jelasnya.

Kalau pun mau diajak bekerja sama rasa masakan tidak cocok dimulut. Berbagai trik dilancarkan sampai si tukang masak mau. Salah satunya ialah menggunakan pendekatan bersilaturahmi ke orang yang diincar. Dia menjelaskan kalau bersilaturahmi maka tidak mungkn diusir, kan?

Sambil berkunjung tidak lupa dibawakan aneka jajanan, seperti coklat, biskuit,dll. Gunanya buat anak si juru masak agar senang. Istilahnya sih "menyogok" tetapi apa mau dikata. Dua minggu sudah dirinya mengadakan pendekatan.

Akhirnya, sang juru masak itu luluh hati, mau mendengar penjelasan dari Andi. Kelebihan Raja Aqiqah terletak di kualitas kambing diternakan. Selain itu, ia menjaga kualitas dari masakan lewat aneka bumbu kualitas.

Mampu Berekspansi Bisnis


Jualan kambing sering dianggap musiman dan tidak bergengsi. Padahal bila ditelusuri banyak hal bisa dikembangkan. Seperti mengembangkan bahan baku berkualitas tinggi seperti ilmuan.. Andi mulai serius mengkawin silangkan kambing Afrikan F-1 dan kambing Jawa Barat.

Hasilnya itu daging terasa empuk, tidak amis, terutama ya tidak mengandung kolestrol tinggi. Lewat kualitas maka lah berita tersebar dari mulut ke mulut. Dalam dua hari saja sudah memotong 2- 5 domba sembelihan. Atau, ia rata- rata bisa memotong 100 ekor kambing.

Tahun 2011, ia makin berani membenamkan uang ke bisnis katering- akikah ini. Uang Rp.150 juta diinvestasi ke bisnis tersebut. Dia dibantu si juru masak membangun bisnis tersebut lebih besar, dengan perhitungan kotornya ia melayani 1000 acara akikah di penjuru Jakarta.

Cukup 2% saja sudah begitu menggiurkan hasilnya dirasa oleh Andi. Sibuk menekuni bisnis barunya, ini membuat kuliah Andi sempat terbengkalai. Maklum lah dia sudah bisa merasakan bagaimana mencari uang dan menghasilkan. Muncul perasaan aneh untuk "malas" menjalankan kuliah dahulu.

Dari mulai memberika les privat, menghasilkan sampai Rp.4 juta per- bulan, kini dia meraup omzet mencapai Rp.400 juta per- bulan. Usaha ini juga sudah berkembang menjadi perusahaan bersekala nasional. Lantas apakah dia melanjutkan kuliah, padahal dia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi.

Permintaan meningkat sejak awal dimulai berusaha sendiri. Ia juga membina 10 kelompok peternak domba yang sudah tesebar di Cirebon, Depok, dan daerah lain. Kerja sama itu dibagi 50:50 dari keuntungan dibagi rata olehnya.

Tidak berhenti di bisnis kambing, Andi merambah ke bisnis properti, yang mana membeli rumah seken, diperbaiki, lalu dijualnya kembali. Ia ingat bagaimana dirinya membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Awal sekali dia harus membagi waktu antara mengajar lalu dilanjutkan kuliah.

Sampai dia terburu- buru mengejar waktu buat mengajar murid. Saat itu salah seorang orang tua murid mengingatkan akan pentingnya pendidikan. Dia pun harus mengulang 10 mata kuliah. Ada keyakinan pendidikan juga penting, maka dia tetap berusaha membagi waktu.

Oleh karena dia masih kuliah juga, teknik marketing terbilang sederhana, dia memanfaatkan jaringan teman serta promosi lewat mulut ke mulut. Barulah selepas kuliah selesai dirinya bernafas lega. Bila orang lain melamar kerja, Andi malah membuka lapangan kerja selepas kuliah.

Disamping pendidikan formal juga didukung pendidikan lain. Ia memang hobi membaca buku- buku motivasi. Menyelesaikan S- 1 ditambah sukses berbisnis, Andi memilih melanjutkan berbisnis sampai jenjang S- 2 di Teknik Industri, Universitas Indonesia.

Dia bahkan siap mencapai jenjang yang lebih tinggi yakni S- 3 Manajemen. Semua dilakukan sambil menjalankan perusahaan bernama PT. Andinata Sumari, yakni bisnis dibidang perjalanan umroh dan haji.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba