Jualan Bantal Mica Work Pengusaha Paulus

Profil Pengusaha Paulus 


pengusaha bantal

Jualan bantal Mica Work pengusaha Paulus. Ide bisnis memang bisa datang kapan saja- dimana saja, begitu pula Paulus yang penciptakan Mica Work. Pria 30 tahun ini menyebut awal mula usahanya untuk menciptakan keceriaan di mobil.  Dia menciptakan bantal yang bikin gembira tidak hanya nyaman.

Dia merasa membutuhkan bantal yang tidak hanya nyaman. Orang membutuhkan bantal mobil yang menyenangkan. Apalagi dikala macet orang akan semakin mudah stress. Bantal juga harus memenuhi konsep enak dipandang, berwarna- warna cerah, berbentuk animasi lucu, serta empuk.

Pengusaha Paulus membuat bantalnya sendiri, hanya bermodal kreatifitas serta keahlian menjahit. Semua bermula dari toko onlinenya yang laris manis. Paulus membuka bisnis kreatif bernama Mica Work. Produk bantal Paulus bermacam- macam, tapi awalan ia fokus untuk membuat bantal mobil.
 
Jualan bantal mobil jangan monoton, dengan warna- warna yang cenderung kusam. Maka Paulus berniat diubahnya menjadi penuh warna- warni ceria. Dia memakai karakter- karakter berbeda di tiap produk. Mulai dari kartun sampai tulisan warna- warni yang menyegarkan mata.

Karakter tersebut bisa dipesan oleh pembeli custom. Itu bisa berupa robot, tokoh kartun, motif batik atau lainnya. Paulus lantas memajang sample di etalase tokonya. Sebagai catatan Mica Work tidak memiliki toko khusus, melainkan menciptakan toko onlinenya sendiri.
 

Ide Bisnis Jualan Bantal


Paulus yang memulai ide berjualan online, keuntungan diambil berkisah dari Rp.5000- Rp.30.000 per- buah.

 "Selain menjadi pajangan jok mobil, bantal tersebut juga dapat dipakai sebagai sandaran dan dapat berfungsi ganda. Apalagi symbol yang digunakan cocok dengan symbol pemilik mobil," ungkap Paulus.

Bisnis miliknya bisa dibilang bisnis tak terbatas. Segi segmentasi, pembeli bisa siapa saja termasuk kalangan pria. Bentuk yang dipesan juga tidak selalu berorientasi anak- anak atau wanita.  Paulus lalu menciptakan simbol tertentu seperti wajah tertawa atau tersenyum.

Pembeli boleh memesan model apa saja. Paulus pun gencar memasarkan produknya di berbagai media, selain melalui toko online sendiri. Bantal miliknya beredar baik di Facebook dan Twitter yang dikelola olehnya langsung.

Dari mulut ke mulut, bisnis Mica Work semakin besar, para pembeli berdatangan baik melalui fans page atau profil Twitter. Ia tidak pernah membuka cabang, hanya fokus berjualan di sekitar Solo, Jawa Tengah. Kebanyakan orang datang melalui online untuk langsung mencari tau.

Tidak hanya Indonesia, Paulus juga menerima pesanan dari Malaysia dan Singapura. Tidak mudah baginya karena jarak yang jauh serta pengalaman minim di ekspor. Ia mengaku cukup kesulitan bahkan rugi akhirnya.

"Saya pernah ada pesanan untuk membuat bantal mobil dengan harga Rp.90.000. Tapi karena pembelinya dari Malaysia, ongkos kirimnya Rp.135.000. Malah mahal ongkosnya kirimnya. Tetap saya layani meski pesanan dari luar negeri," kenangnya.

Pengusaha ini menjual hasil karyanya melalui blog resminya yaitu micawork.com. Dibawah merek Mica Work, Paulus menjual produk- produk bantalnya serta produk- produk lain, mulai dari produk sarung kursi mobil, safety belt, bantal serba guna hingga tempat tisu.

Inovasinya tidak pernah berhenti sekalipun talah sukses. Buktinya adalah produk majalah, Paulus mencoba menciptakan majalah PLUSH, bercerita mengenai karya seninya. Baru dua tahun, Mica Work memiliki 13 karyawan khusus menjahit boneka dan bantal hingga penyelesaian.

Mica Work berprinspi menjaga kualitas, karena persaingan bisnis semacam ini selalu bermunculan. Perusahaan juga tidak khawatir gagal bayar oleh pembeli online, padahal tak jarang bagi pengusaha terkena penipuan semacam ini.

Selaku pemilik Paulus mengaku belum pernah ditipu, dan berharap tidak pernah. Dia melakukan banyak upaya melayani. Hasilnya Mica Work mampu meraup omzet 30 juta/ bulan. Paulus selalu berkreasi dari desain terbaru, mengikuti aneka pameran, dan menjual paketan agar lebih murah.

Perseteruan Antara Pemilik Perusahaan Dwi Arianto

Profil Pengusaha Dwi Arianto Nugroho


pengusaha minyak nilam

Alumni Teknik Kimia ITB membuat Dwi punya mimpi spesial. Namun adanya perseteruan antara pemilik perusahaan membuat pusing. Dwi Arianto Nugroho, pemuda 28 tahun, yang tengah berjuang mengembangkan bisnis minyak atsiri. Dia bertemu seorang wanita bernama Mimin yang menjadi rekan bisnis.

Jauh sebelum bertemu dan membangun perusahaan perseroan. Pengusaha muda ini memang tertarik dunia kimia. Minyak atsiri sendiri merupakan nama kimia untuk minyak nilam. Diesktrak dari ikan yang dikembangkan masyarakat.

Ibu Mimin sendiri juga seorang pengusaha lokal. Menurut versi Dwi, beliau merupakan pemilik CV. Anissa Kausar. Bekerja bersama para nelayan di Sumedeng, mereka menyaring minyak atsiri untuk bahan baku minyak wangi. Menurut Dwi bahwa CV. Anissa Kausar bukan penggagas para nelayan.

Bahkan ia menyebut perusahaan tersebut hanya soal bangunan. Dwi telah merintis usaha sejak 2006 dengan tanah seluas 18 hektar, dengan nama usaha PT. Nusantara Agro. Ia lalu mencatatkan diri jadi salah satu peserta ajang Wirausaha Muda Mandiri 2007.

Sengketa Perusahaan


Inilah cikal bakal permasalahan yang timbul ke depan. Dwi lantas bertemu Mimin Sumarlina, yang memang usaha CV. Anissa Kausar. Dwi bertemu ketika berkunjung ke kampung Narimbang. Kerja sama keduanya baru terbentuk 25 November 2008, dengan nama PT. Nusantarindo Agro Energi.

Permasalahnnya ialah Mimin kecewa karena Dwi tidak memberi tahu. Ketika pertama kali bertemu Dwi meminta data- data. Ia juga memfoto usaha yang dijalankan Mimin. Kemudian menggunakan itu sebagai data untuk ikutan lomba. Hasilnya ia memangkan lomba dan sama sekali tidak memberi tau.

Mimin kecewa karena Dwi menang tanpa memberi tau. Walaupun kedua pengusaha ini pada akhirnya bekerja sama. Di perusahaan baru, Mimin menjadi komisaris, dan Dwi menjadi direktur utama atau memimpin. Permasalah lomba sendiri sudah Mimin coba tanyakan tetapi selalu Dwi hindari.

Dwi tak sekedar memakai karena berlanjut. Selepas itu dia menemui para nelayan di Narimbang, dan mengajak Ibu Mimin bekerja sama. Dwi memandang Mimin memiliki modal, aset yang berupa cara berkomunikasi baik, kedekatan dengan para nelayan, sementara Dwi bukanlah orang lokal.

Status Dwi sendiri masih dalam pengembangan dan marketing. Perusahaanya belum benar- benar bekerja seperti semestinya. Kedua pengusaha ini bertemu kemudian mendirikan perusahaan. Di saat itu perusahaan berdiri bukanlah hasil peleburan.

Dwi mengaku masih memiliki perusahaan awal. Entitas yang tercantum memang penyertaan modal dari CV. Anissa Kausar. Ketika Ibu Mimin diangkat menjadi komisaris, buku keuangan pun masih ia pegang. Dwi tak punya kuasa untuk membuka. Mimin beralasan biar perusahaan tidak menjadi rumit.

Konflik internal itu berlanjut sampai ke kepolisian. Dari pihak Dwi sendiri mengakui kesalahan dan meminta maaf. Perihal perusahaan tetap berjalan semestinya oleh Dwi dan Mimin. Keduanya masih bergerak dalam persahaan, walau terjadi perseteruan antara pemilik perusaha

Bisnis Fashion Aktif Membangun Komunitas Muslim

Profil Pengusaha Mesiyarti Manar



pengusaha blogger

Mesiyarti Manar didapuk menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2007. Dia dikenal sebagai blogger traveling. Masiyarti bekerja sebagai guru dan dosen. Dalam CV nya dia mengerjakan banyak proyek penelitian, yang fokus kepada komunitas sosial dan bisnis daur ulang pada umumnya.

Tahun 2013, dia dengan membawa brand Mesya Manar, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Indonesia Fashion Week. Ia juga dikenal sebagai blogger yang aktif bertraveling. Kamu bisa mencari postingannya mengenai liburan ke Korea Selatan, Singapura, dan lain- lain.

Proyek yang dikerjakan:

1. Bertanggung jawab atas proyek manajemen limbah terbuang. Menjadi kordinator untuk tim yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan, ia bersama tim bekerja untuk membentuk komunitas dan menangani sampah stereofom.

2. Ia ditugaskan untuk menjadi kordinator progam kerajinan tangan. Mereka membangun usaha yang berbasis tenaga matahari. Yang didukung oleh Universitas Gajah Mada untuk komunitas, kampus dimana Mesiyarti menjadi alumni jurusan ilmu sosial.

Mesiyarti juga vokal dalam mengekritik pemerinta. Utama dia menyoroti penanganan permasalahan sosial di berbagai lini. Dia memenangkan kompetisi bisnis plan, yang berjudul "Desa Bebas Sampah Otomatis Pendekatan Entrepreneurship.

Seorang fashion desainer yang mengerjakan bisnis hijab. Pengusaha sukses ini mendirikan Mosleema sebuah komunitas. Mereka merupakan kumpulan fashion antusias yang sepemikiran. Mosleema rutin mengadakan pertemuan, dengan follower yang banyak berbagi kisah mengenai bisnis fashion hijab.

Ia tegaskan bahwa hijab bukan sekedar fashion. Karenannya dalam setiap kegiatan, ia mengajak para anggota Mosleema untuk tidak memakain hijab ketat. Selain aktif berbagi ide fashion, komunitas ini juga mengajak bersama mengaji, mengkaji ilmu Islam dan tentu membangun silaturahmi.

Pengusaha Aneka Olahan Jamur Achmad Isbandi

Profil Pengusaha Achmad Isbandi


pengusaha muda jamur
 
Namanya mungkin asing buat kita tetapi dia menginspirasi. Pengusaha aneka olahan jamur bermula dari produk unggulan desa. Wilayah Dusun Lingsuh, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, dikenal dengan komoditas jamur yang diproduksi dan dikelola masyarakat.

Mulai dari proses penanaman hingga pemasaran dilakukan mereka. Caranya masih sangat tradisional yakni jamur tiram panen di jual ke pasar. Para petani ini juga masih menggunakan media tanam yang lama. Faktor kelembagaan dibutuhkan guna menangani masalah tak terduga.

Ambil contoh ketika panen raya serentak membanjiri pasar. Dalam satu waktu mereka menjual semua jamur di pasar. Alhasil petani mengalami kerugian karena harga anjlok dan tak laku. Isbandi dengan kelompok petani bernama Sejahtera Mandiri, memberika edukasi dari hulu sampai hilir pemasaran.

Petani Sulit Memasarkan


Pemasaran mulai dari dusun mentok hingga kecamatan. Bila mau mengirim keluar dusun maka itu tidak mudah. Umumnya mereka dari luar dusun adalah para pengusaha. Mereka yang datang mencari bahan baku untuk olahan jamur, atau mereka yang bekerja sebagai pengepul untuk dijual ke pasar.

Industri kecil jamur masih sebatas penjualan bahan mentah pasca- panen. Meskipun produk mereka sangat berkualitas tetapi mental dari supermarket. Mereka bisa masuk namun harus melalui pengepul dahulu. Runtutan proses perdagangan yang komplek terkadang merugikan masyarakat.

Pengusaha yang datang membeli juga tidak semua membeli. Terkadang menolak membeli lantaran jamur tak distandarisasi. Bila produksi berlebihan maka petani menjadi kebingungan sendiri. Isbandi lah yang mengajarkan proses pengawetan, yakni dikeringkan seperti orang jaman dulu lakukan.

Pengeringan dilakukan tak lagi menggunakan matahari. Isbandi membuat mesin untuk membuat jamur kering lebih cepat. Mesin berbahan stainless steel, yang dijadikan cabinet dryer, dan dilengkapi dengan rak penjemuran. Proses pengeringan lebih higenis, memenuhi standar mutu para pengusaha.

Jamur yang dibudidayakan mulai dari tiram atau merang. Semua jamur akan ditaruh dalam rak- rak besar kemudian dibentangkan. Masyarakat dusun diharapkan bisa menyimpan bila panen raya. Hasil produksi tak akan terbuang karena panen raya.

Produk jamur yang dijual tak akan membusuk karena tidak laku. Isbandi pun mengajak mereka untuk menjual lebih jauh. Karena kering tentu akan bisa dijual keluar dusun bahkan provinsi. Memakai internet pemasaran akan lebih luas, tak berhenti disitu Isbandi juga mengembangkan kuliner.

Sejak 2015, Isbandi telah menerapkan produksi olahan jadi untuk dijual. Ia memasakan jamur mereng menjadi sate atau tongseng. Kuliner tersebut dijual ke masyarakat sekitar terutama tetangga. Aneka olahan lain juga dikembangkan, tujuannya untuk dapat dijual ke supermarket atau toko oleh- oleh.

Isbandi juga membuat kerupuk jamur yang lezat. Permintaan akan kerupuk ini cukup tinggi, dan dia berharap akan menjadi bisnis masa depan. Masyarakat juga diajarkan membuat jamur crispy, yang akan dikemas modern untuk pemasaran.

Ia juga membuat pemasaran berbasis online dan offline. Isbandi berharap masyarakat dusun akan bisa lebih produktif. Soal bahan baku mereka menghasilkan jamur yang melimpah. Tinggal bagaimana para petani mengembangkan kreatifitas, kemudian berkembang menjadi pengusaha juga.

Pengusaha Warnet Gue Salman Aziz Alsfadi

Profil Pengusaha Salman Aziz Alsfadi


 
Cukup bermodal berusaha dan kreatifitas, bukan uang. Pengusaha warnet ini bernama Salman Aziz Alsfadi. Bisnis tanpa modal dibuktikan oleh pria bernama Aziz  Bermula dari jualan nasi goreng hingga buku foto kopian, bisnis Salman pun mulai berkembang ke mana- mana.

Seolah ia menemukan feeling -nya, aneka bisnis kemudian dilakoni tanpa beban. Sebut saja bisnis penyewaan komputer, toko foto, laundry, dan bahkan usaha salon. Modal Aziz bukan sekedar uang, melainkan kejelian dan kemampuan untuk membaca peluang.

Tak percaya? Berikut cerita sang pengusaha muda yang kreatif dimanapun. Ini kisah pemuda yang berhasil memangkan Wirausaha Muda Mandiri 2007.

Bisnis Pertama


Begini kisahnya, suatu hari di tahun 2003, dia sebagai siswa SMU Insan Cendekia sekolah berasrama (boarding school) di Serpong, Salman dan kawan- kawannya tak jarang merasa bosan. Mereka jenuh akan menu makanan di asrama. Ingin rasanya ia mengajak teman- teman menyantap menu lain.

Mau mencoba makanan lain tetapi tidak bisa, di sana tidak ada kantin yang menjual jajanan untuk mereka. Semuanya telah tersedia tetapi monoton lauknya itu- itu saja. Keadaan inilah justru yang mulai menggelitik naluri bisnis Salman.

la menanyakan siapa saja yang ingin membeli makanan di luar asrama, lalu bersama dua rekannya, mereka  naik sepeda 3 km mencari tukang nasi goreng. Salman mencari yang murah dan enak, dan menjualnya lagi kepada pemesan tadi. Usaha yang tidak membutuhkan modal cukup sekali saat itu saja.

Tentu untungnya sedikit tapi tetap dilakukan karena passion. Pengusaha muda Aziz membeli nasi goreng di luar kemudian dijual untuk mereka yang di asrama. Wajah Salman lalu menerawang ketika cerita ini dibuat, namun bibirnya menyungging senyum.

"Saya mengingat peristiwa itu seolah seperti baru kemarin," katanya.

Salman terobsesi menjadi wirausahawan muda sukses. Itu semua gara- gara buku entrepreneurship, ketika masih duduk di bangku SMU, bapaknya membelikan dia buku berjudul Rich Dad Poor Dad, karya fenomenal dari Robert T. Kiyosaki.

Ia mengaku menemukan pilihan hidup yang sangat menarik karena buku itu; pilihan untuk menjadi pengusaha.

"Sebagai manusia saya tidak ingin untuk mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri," ujarnya.

Tamat berasrama, pria kelahiran 11 Februari 1986 ini, tak lantas langsung berbisnis, ia memilih berkuliah terlebih dahulu di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UL. Aziz melihat buku- buku di Fasilkom yang be­gitu besar dan tebal, serta jumlah mahasiswanya yang mencapai ratusan.

Hingga muncul gagasan untuk berjualan foto kopian buku. Dia ingin berbisnis buku foto kopian ini ia membagikan selem­bar kertas kepada teman-temannya sesama mahsiswa. Isinya, "Bagi yang ingin pesan buku foto kopian silakan tulis di sini." begitu singkat.

Karena jumlah mahasiswa Fasilkom tiap angkatannya cukup besar. Maka jumlah mahasiswa yang memesan buku foto kopian ini cukup ba­nyak. Uang muka pesanan dijadikan modal Salman, tak perlu uang untuk membeli buku aslinya, kemudian tinggal difoto kopi saja.

Mudah kan? Pembayaran kepada tukang foto kopi akan dilaku­kan secara mencicil, seiring dengan pelunasan biaya buku foto kopian, Aziz mampu mengatur laju uang modal. Memang sedikit repot sih tapi nyatanya hasilnya itu lumayan.

"Sebagai manusia saya tidak ingin mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri." kata Salman.

Pengusaha Muda Mandiri


Salman tak pernah berhenti mencari peluang usaha baru. Dia tiba- tiba melihat kesempatan lain lagi, mahasiswa Fasikom membutuhkan komputer, jadilah ide bisnis baru muncul. Mahasiswa kala itu membutuhkan adanya komputer untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.

Kala itu, di tahun 2004, belum ada toko komputer yang menjual komputer murah bermerek. Yang ada hanyalah komputer rakitan, dan itu pun dijual di glodok. Lebih repot lagi karena pembeli harus beli secara tunai dan itu memberatkan mahasiswa.

Di semester 2 itulah bisnis komputernya mulai dijalankan. Dia lalu menjual komputer rakitan murah sendiri yang dibelinya di pasar Glodok. Kemudian dibuatkan selebaran- selebaran foto kopian yang disebar hingga ke kampus UI, halte- halte bis, dan fakultas- fakultas di lingkungan UI.

Isi foto kopia tersebut bunyinya "jual komputer murah". "Sebelumnya, hampir setiap Minggu saya berkeliling Glodok mencari toko yang menjual komputer dengan harga paling murah," kenangnya.

Ketika pesanan itu datang ia tinggal menelpon toko lalu menyampaikan spesifikasi yang dibutuhkan agar segera dirakit, lalu diambilnya ke Glodok. Keunggulan seorang Salman untuk merubah masalah menjadi kesempatan memang benar adanya.

Di jaman sekarang internet sangatlah dibutuhkan, dan jadilah ini kesempatan baik baginya. Sukses berbisnis komputer Salman tertarik bisnis internet.Tepatnya dia lalu membuka warung internet. Ia mengajukan proposal agar satu ruangan di asrama dijadikan warnet, dan usulan itu diterima.

Nah, masalahnya kini ada pada permodalan dan modal membuka warnet tidaklah sedikit. Biayanya sekitar Rp.34 juta, uang tersebut didapat dari pinjaman 19 juta dan sisanya Salman sendiri, yang menyisakan tanggung sekitar 19 juta lagi. Maka dia harus memutar otak untuk mendapatka sisanya.

"Tetapi waktu itu saya hanya punya 9 juta dari hasil usaha yang dulu. Yang 10 juta belum tahu harus dari mana," kenang pengusaha warnet ini. Dia kemudian menyampaikan rencana bisnis itu kepada orang tuanya.

Gayung pun bersambut, untunglah orangtuanya sangat mendukung pola berfikir Salman yang ingin wirausaha. Sukses membuka warnet meberi efek ganda kepada Aziz. Apa itu? Yang pertama, dia mendapatkan uang yang dibutuhkannya untuk modal untuk kedepan.

Kedua memotivasinya untuk berusaha habis- habisan. Tentu dengan maksud menutup modal yang dipinjam; dia harus sukses begitulah kiranya. Ya hutang Aziz masih menumpuk walau bisnis warnet masih jalan. Tetapi itu tidak masalah karena keuntungan mengalir stabil. Dia cuma butuh eksta penghasilan.

"Kalau saya gagal saya akan kelaparan, maka saya tak boleh gagal," tegas Salman.

Warnet ini kemudian diberi nama Warnet Gue. Berharap pelanggan merasa memiliki dan terus mengunjunginya. Pelanggan warnet Aziz tentulah mahasiswa di sekitar kampus. Pengusaha muda Salman terus melakukan promosi luar biasa diluar kampus. d

Dia meletakkan berbagai brosur di halte bus dan fakultas lain. Tujuannya agar warnet tersebut tidak hanya digunakan mahasiswa sekitar saja. Sukses di asrama di universitas UI, ia melebarkan sayap ke luar wilayah kampus, dan terbayarlah hutang- hutang Aziz.

Menghadapi Persaingan Bisnis


Aziz membuka dua gerai baru Warnet Gue di 2006. Dia membuka gerai di dua di sekitar stasiun Universitas Pancasila. Rupanya ini tak disukai pesaingnya, ada usaha terntu untuk menjegal bisnis Salman. Inilah resiko menjadi pengusaha tetapi kamu harus yakin untuk tetap berusaha.

Mereka tidak suka ketika Salman menjual servis printing 300 per- lembar sedangkan mereka menjual 400 per lembar. "Saya menolak mengikuti kemauan mereka untuk menaikkan harga," ungkap Aziz kepada pewarta. Ini lalu dianggap perlawanan dengan mayoritas usaha sejenis.

Ternyata penolakan ini berbuntut panjang loh. Di malam hari, warnetnya selalu didatangi 10 preman berclurit. Saat itu kebetulan Salman tak ada ditempat. Tapi setelah mendengar hal itu ia langsung bergegas kesana. Ternyata para preman sudah raib, Salman langsung mengadukan hal ini ke pak RT.

Seketika itu pak RT mengumpulkan seluruh pengusaha warnet untuk berdiskusi. Para pesaingnya menuntut Salman menyamakan harga atau rusuh. Akhirnya, Salman menurut juga, "Saya sekarang percaya orang bisa bunuh- bunuhan gara- gara uang seratus perak," katanya.

Warnet cabang kedua ini tak berjalan mulus. Berbagai teror dan percobaan perampokan juga kerap terjadi. Hingga Aziz terpaksa menutup gerai kedua ini. Namun hal ini tak membuat Salman jera. Ia terus melebarkan sayapnya dengan membuka cabang- cabang lain.

Warnet Gue tersebar sampai ke Serpong, Pamulang, Ciputat dan lain- lain, yang kesemuanya masih wilayah Tangerang. Dalam waktu dekat, Aziz akan merambah ke desain web, servis computer dan akan membuat pelatihan ilmu teknologi informasi. 

Baginya berbisnis itu layaknya berpetualang di laut lepas. Bayangkan kamu tengah mencari- cari harta karun ditengah bahaya dan ketidak pastian. Itu membuat diirnya selalu ingin coba-coba dan bereksperimen kapan saja.

Banyak diantara percobaan itu gagal dan tidak dilanjutkan, namun itu tak masalah. Namun kini, pengusaha warnet Aziz telah menemukan bisnis inti, yaitu ada bisnis di bidang teknologi informasi. Ia telah memiliki visis dan misi ke depan, baginya optimisme akan masa depan telah di depan mata.

Sumber: wirasmada.blogspot.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba