Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Jualan Kulit Harimau Sumatra Aman Ala Catur

Profil Pengusaha Debi Catur Setyobudi 


 
Berburu harimau itu dilarang. Tetapi bagaimana cara bisnis aman kulit harimau. Bagaimana kalau kita coba seperti pengusaha muda satu ini. Namanya Debi Catur Setyobudi, yang mana bisnisnya unik, bagaimana dia bisa jualan kulit harimau aman berikut detailnya.

Kulit harimau memang dicari buat koleksi. Warga Dukuh Alastuo, Desa Balegondo, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan, yang berbisnis kulit sapi. Dimana Catur merubah kulit sapi nampak seperti macan. Aneka motif macan bisa dibuat Catur seperti macan tutul kecil/besar, cheetah atau leopard, hingga motif zebra bisa.

Mereka dibuat pakai kulit sapi. Hanya motifnya diubah. Cara pembuatan menggunakan pigmen warna. Tapi sebelumnya dia siapkan dulu motif targetnya.

Bisnis kreatif


Bisnis ini sudah dijalankan sejak lima tahun lalu. Awalnya pengusaha muda, putra pasangan Sirun Priadi dan Eni Sri Mawar, pernah bekerja di pengolahan limbah industri Magetan. Catur memilih membuka usaha sendiri tetapi tidak mudah seketika.

Butuh waktu setengah tahun, untuk mencari cara merubah warna kulit lewat pigmennya. Susah apalagi itu masih ada bulunya. Ia menjelaskan yang diwarnai bukan kulit tetapi bulu sapi. Bagaimana caranya merubah warna bulu menyerupai bulu harimau. "Itu susah bukan main," jelasnya.

Walau kamu oles pigmen hitam belum tentu jadi hitam. Kan motif harimau itu ada hitam- hitamnya, ada coklat- coklatnya kemerahan. Campuran pigmen agar mendapatkan warna itu butuh lebih dari pengalaman. Hingga pengalaman dan teknik itu mendapatkan bayaran berupa maraknya pesanan datang.

Dia menjual aneka ukuran. Ukuran 25 sentimeter persegi kulit motif dijual 35 ribu, itu kalau satu warna, nah kalau warnanya dua harganya Rp.45 ribu.

Produknya sudah ada di wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Nantinya akan diproduksi ulang jadi tas, sepatu, dan dompet, yang bahkan diekspor ke Timur Tengah. Motif harimau dan zebra Catur juga dibikin jok mobil bisa. Penggunaan kulit lain juga dimungkinkan seperti kulit domba atau kambing.

Namun tidak semua bisa dicetak semprot. Khusus buat motif harimau Sumatra butuh lukis tangan. Jadilah harganya pantas mahal. Setiap bulan dia mengirim 50- 100 lembar kulit. Kadang bisa melonjak banyak ya kadang juga permintaan sedikit.

Pasar impor


Pria yang cuma lulusan STM Mesin ini. Tidak cuma lokal tetapi juga merambah internasional. Sebuat saja negara Amerika menggemari motif leopard, jaguar, dan zebra miliknya. Untuk motif zebra ada kendala tersendiri nih teman. Karena warna dasarnya harus putih dan kulit seperti itu hanya ada waktu tertentu.

Usut- punya usut ternyata dia pernah belajar kulit. Meskipun singkat tetapi dia bekerja langsung. Dia dulu ikut Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Langsung kerja dipengolahan kulit dari dasar. Ternyata adalah bosnya yang pernah menantang Catur membuat kulit harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

Mantan bosnya dapat pesanan entah dari mana. Tapi dia maksa Catur bekerja meski di rumah. Bahkan dia rela memberikan bahan untuk dikerjakan gratis. Sukses membuat sendiri, si bos malah makin rajin buat memberinya proyek sampai ke Bali.

Kendala lain adalah masalah cuaca. Dimana pengeringan masih memakai tenaga matahari. Alhasil pada musim tertentu pemenuhan permintaan bisa dibatasi. Dia cuma dibantu seorang karyawan bernama Tumini yang juga tetangganya. Keduanya mampu memenuhi pesanan seabrek itu hebat bukan.

Harga jual meningkat drastis dibanding jualan kulit sapi polos. Apalagi nih, kalau sudah di kirim ke luar, di pasaran Eropa saja harganya bisa berlipat- lipat. Kulit tanpa motif harganya Rp.15 ribu per- 30 senti, dan kalau sudah bermotif harimau di Eropa harganya bisa Rp.50 ribu per- 30 sentimeter.

Meskipun sudah jadi barang ekspor. Pihak pemerintahan daerah Magetan masih belum sadar. Keberadaan bisnisnya tidak disadari. Walau kebutuhan modal tidak mendesak. Ia masih merasa bisnisnya ini butuh promosi terutama ke daerah lain diluar jangkauannya sekarang. "Atau pembinaan kualitas kerajinan saya."

Biografi Pengusaha Mebel Jepara yang Sukses

Profil Pengusaha Furnitur Ali Sodikin



Nama kota furnitur dimana lagi kalau bukan Jepara. Banyak perajin kayu berasal dari daerah tersebut. Ialah Ali Sodikin sedikit dari banyak namanya menanjak. Anak petani ini diangkat ceritanya oleh Kontan.co.id. Orang tuanya petani tetapi lingkungan Ali di Jepara adalah para pengrajin kayu.

Akhirnya pria 37 tahun ini tertarik akan dunia mabel. Dia kemudian memutuskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk memperdalam ilmu desain. Sayangnya, karena kekurangan biaya, dia akhirnya drop- out kuliah. Lantas apa yang dilakuan Ali muda selanjutnya berikut lengkapnya.

Desainer mebel


Pulang ke Jeparang langsung memilih bekerja. Pekerjaan pertama Ali adalah membuat desain untuk rumah mabel. Gambarnya masih pakai tangan. Ternyata perasaan mau kuliah masih membara. Dia sempat mau berkuliah di Jepara saja. Namun urung dan kembali berhenti di tengah jalan.

Waktu krisis moneter banyak kena imbas. Termasuk pengusaha mebel asal Jepara. Dampaknya tempat Ali kerja bangkrut. Ali lalu lari ke Jekarta mengadu nasib. Di sana dia memasuki dunia yang sama apalagi kalau bukan dunia mebel atau furnitur.

Beda dengan pengusaha mebel Jepara. Di Jakarta, mereka tidak memakai kayu semuanya, tetapi adalah perpaduan antara triplek dan kayu. Baru ketika di Jakarta dia belajar bagaimana material mebel. Sudah memegang material sendiri, Ali nekat berbisnis sendiri di Jepara, dimana semuanya dimulai tidak sengaja.

Dia secara tidak sengaja mendapat pesanan pintu rumah. Pembeli menantang Ali memenuhi pesanan itu. Ia menanggapi serius dan pembeli itu puas. Berlanjut pembeli tersebut mulai memesan lebih banyak. Adanya keberuntungan itu ditanggapi Ali lebih serius, pesanan mulai dari furnitur isi kantor dan rumah juga.

Mulai pemesanan semakin banyak datang. Guna menggarap itu, Ali kemudian meminta pinjam alat dari kakaknya, yang kebetulan menjalankan usaha mebel di Jepara. Tetapi usaha sang kakak itu bangkrut ketika krisis datang dulu. Ali kemudian mengambil alih semua peralatan dengan uang Rp.13 juta.

Sudah punya peralatan Ali berani buka workshop sendiri dengan sewa. Sudah memiliki workshop sendiri, Ali menerima kontrak pembuatan lantai kayu dari sebuah pabrik di Solo. Dia menerima orderan yang mungkin sulit tetapi dikerjakan. Meskipun pengalaman minim tetap dikerjakan buat menggaji karyawan.

Menambah modal dilakukan Ali berbagai cara. Termasuk ikut ajakan Pemerintah Daerah untuk datang ke Pulau Seram, Maluku, guna memberikan penyuluhan anak muda agar memanfaatkan kayu. Dua bulan dia bekerja di sana kemudian balik ke Jepara.

Bisnis lanjut


Pria kelahiran Jepara, 6 Juni 1978 ini, pada 2006 silam mendapatkan perhatian dari pembeli luar negeri. Dari dia, Ali mendapatkan pesanan berupa aneka furnitur luar rumah atau outdoor. Bisnis beresiko sih, Ali mengatakan tidak ada pembayaran uang muka, sebuah bisnis beresiko sulit mekanisme pembayarannya.

Untuk menyelesaikan masalah, dia memutar otak, caranya menghubungi pemasok yakni dari pengrajin lain dibidang mebel ini. Tujuannya agar cepat menghasilkan barang. Dan, anehnya, Ali berani menggelontorkan uang lebih meski tanpa uang muka. Dia beli lebih mahal agar bisa cepat dikemas dalam 6 kontainer siap kirim.

Pembayaran selesai, sukses Ali semakin percaya diri akan bisnisnya. Dimana bisnis itu berjalan ke tahun- tahun berikutnya. Jumlah pesanan bertambah tiap tahun. Mulai 6 kontainer, menjadi 10 kontainer, lalu sampai 24 kontainer. Dalam satu periode bisa mengirim hingga 43 kontainer sejak 2009- 2010.

Meskipun dianggap orang sebagai bukti kesuksesan. Menurut Ali, menanggapi ekspor belum tentu kita katakan sukses, karena tidak ada uang muka beresiko tinggi. Apalagi pasarnya makin kompetitif banyak pemainnya. Mangkanya tuntutan keuangan kuat harus dimiliki pengusaha macam Ali.

Suami Yuni Fatciah ini mengaku, agak kurang nyaman berbisnis seperti itu. Karena tidak sedikit pengusaha bangkrut karena bisnis ekspor tersebut. Padahal untungnya tipis, kalau dilanjutkan Ali harus punya modal kuat tegasnya. Celah lain adalah memperkuat penjualan dalam negeri sambil tetap melayani ekspor mebel.

Kemudian dari segi profit, penjualan mebel indoor lebih tebal dibanding mebel garden furniture. Jadilah dia semakin gesit menggarap furnitur dalam ruangan. Model- modelnya didesain semenarik mungkin buat di mata. Caraka Creasindo menawarkan solusi produk furnitur untuk kebutuhan keluarga di ruangan.

Contoh satu paket furnitur untuk lobi hotel. Desainnya semenarik mungkin bisa agar menarik pengunjung hotel. Tidak cuma membuat meja kursi, termasuk membuat aksesoris buat menambah keindahan. Akhir 2011, dia semakin matang berbisnis furnitur indoor, dan mulai mengurangi pengiriman mebel outdoor.

Tetap berjualan outdoor termasuk pasar luar negeri. Namun, jumlahnya terbatas, agar bisa disesuaikan dengan keadaan keuangan dan kenyamanan perusahaan Caraka Creasindo. Masih menjual aneka furnitur outdoor ke Eropa, Timur Tengah dan Kanada kok.

Untuk pasar lokal makin digenjot Ali. Khususnya memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran. Dengan penargetan ini Ali yakin bisnisnya tidak akan berhenti di satu titik. Kini, dia mampu mempekerjakan 60 orang karyawan.

Sejarah Andrrows Mematahkan Stigma Pria Bertato

Profil Pengusaha Faris Juniarso


 
Stigma melekat bahwa orang tatoan tidak berprestasi. Mereka yang biasanya cuma memilih kriminalitas. Dipatahkan oleh Faris Juniarso, dipatahkan sampai kecil- kecil, karena prestastinya menciptakan satu produk yang merambah pasar Malaysia, Singapura, bahkan Australia.

Pria 28 tahun ini memang ingin mematahkan stigam itu. Pengalaman susah dapat kerja juga. Bayangkan orang seperti Faris sangat disepelkan. Dipandang tidak mampu bekerja kantoran. Alhasil wirausaha jadi pilihan kebanyakan orang bertato. Namun Faris memilih bisnis diluar kebiasaan yakni bisnis cuci sepatu.

"Orang bertato itu bakalan susah dapat kerja... Mangkanya saya memilih bikin kerjaan sendiri," tuturnya kepada pewarta Merdeka.

Rintisan pertama berupa bisnis cuci sepatu. Ia merekrut anak muda bertato yang susah cari kerja. Dia juga ingin menunjukan ke masyarakat bahwa orang bertato berkarya. Sengaja dia nyari pegawai yang bertato. Perasaan dulu pernah ditentang untuk bertato oleh keluarga berasa.

Bisnis inovasi


Ia mengenang bagaimana orang tua melarang. Apalagi orang tua Faris adalah pegawai kantor urusan agama. Sejak kelas 3 SMA dia mengaku sudah punya tato. Tentu waktu itu dia masih sembunyi- sembunyi dari orang tua. Ketika kuliah ikut teater, lalu dia kenalan sama seniman- seniman bertato dan jadilah dia.

Aneka pekerjaan diterima asal tetap menjadi diri sendiri. Tentu tidak banyak pilihan pekerjaan. Sebut saja dia pernah bekerja sebagai tukang sampah, pencuci piring, dan bartender. Karena tato hidupnya susah dan harus siap kerja apapun untuk makan saja.

Wirausaha pertama Faris ialah berjualan lekker. Semuanya bermodalkan sendiri, hasil jualan apapun yang ada di badan tanpa bantuan orang tua. Kemudian dia membuka bisnis semir sepatu berlanjut jasa buat mencuci sepatu bernama Andrrows.

Andrrows merupakan nama diambil dari sahabat Faris. Keduanya sepakat bekerja sama membangun satu bisnis. Sayang dia meninggal dunia ketika bisnis cuci sepatunya belum sukses. Namanya Andrrows adalah teman bermain sejak kuliah. Keduanya hobi sepatu bersama membuat cairan pembersih sepatu sendiri.

Dia menggunakan nama sang teman. Sebagai bentuk penghargaan, biar menjadi persembahan karena dia belum merasakan suksesnya sekarang. Bayangkan nama Andrrows sekarang dikenal di luar negeri semua berkat cairan pembersih racikan mereka.

Mereka pecinta sepatu, berdua kerap pergi bersama mengisi waktu luang untuk hunting sepatu. Mereka kemudian kepikiran membuat pembersih sepatu lewat obrolan santai. Ide mereka kemudian dicoba tetapi kegagalan selalu ada.

Kegagalan kunci sukses


Awalnya mereka ingin membuat alat pembersih sneaker. Namun, kelamaan, keduanya mengembangkan buat semua macam sepatu. Semua sepatu bisa dari kain, kulit, atau jenis pantofel. Termasuk buat sepatu cewek yang aneh- aneh bahannya.

Bisnis digeluti Faris sebenarnya adalah bisnis cuci sepatu. Tetapi nama produk pembersih Andrrows jadi lebih menonjol. Tidak apa- apa toh bisnis Faris sukses. Pasarnya luas sampai menerobos batas negara besar macam Australia -yang notabennya susah dimasuki pasarnya.

Merek Andrrows diluncurkan pertama kali 1 Mei 2014. Dimana total produksi baru beberapa botol saja. Dua tahun berselang produksinya perhari meningkat jadi 2.5000 botol per- hari. Awal, untuk uji coba, ia mendekati para kolektor sepatu dan hasilnya oke.

Inovasi digayangkan Faris agar beda dengan produk pencuci luar negeri. Bahannya dibuat alami yakni dari bahan virgin coconut oil dan aroma khas Andrrows. Kebetulan kotoran di Indonesia lebih banyak jadi kita sudah tau ketahanan Andrrows terjamin.

Dalam sebulan omzet sampai Rp.100 juta karena juga diekspor, dan mempekerjaan 19 orang pegawai buat produksi. Penjualan sampai ke Malaysia, Singapura, dan Australia. Untuk proses produksi masih ada di Semarang, packingnya dan distribusi ke Yogyakarta,

"Kami pertahankan produk lokal berkualitas internasional," terangnya penuh semangat.

Ia belajar dari pembersih asal Amerika. Yang harganya Rp.300 ribuan, sudah mahal dan susah dicari, lalu dia mulai membuat produknya sendiri. Semua orang kan memakai sepatu mahal, anak SD saja sepatunya sudah mahal, tidak cuma buat orang kantoran jadi prospek bisnisnya bisa ke atas ataupun ke bawah.

Contoh Jason Markk -produk pembersih asal Amerika- bahannya coconut oil, jojoba oil, dan lainnya. Ya sayangnya memiliki kandungan bahan kimia. Maka Faris ingin produk bagus namun bebas bahan kimia. Ia bayangkan kalau alami beda lebih baik kenapa tidak.

Apalagi ya kotoran di Indonesia lebih ngeri candanya. Proses pencarian resep dari 2010 tetapi terus gagal, tahun 2013 akhirnya menemukan resep tepat, maka dilirik produk buatan mereka itu. Dari omzet Rp.40 juta sudah naik Rp.100 juta hingga membuat kantor cabang di Australia juga.

Inovasi kerja sama bisnis

Harganya Rp.150 ribu lebih murah dibanding produk impor. Dia juga membuat starter kit memudahkan buat pembeli berisi satu pembersih dan standar brush atau sikat seharga Rp.180 ribu. Sikat itu terbuat dari bulu sapi Australia. Cukup Rp.400 ribu itu saja sudah bisa membuat bisnis cuci sepatu sendiri loh.

Pemasaran produk semakin gencar. Teknik pemasaran termasuk mengajak kerja sama jasa layanan cuci sepatu. Mitra pertama mereka yakni Shoes & Care asal Yogyakarta. Ada 40 perusahaan bekerja sama dengan mereka, tersebar di Lampung, Aceh, Batam, Makassar, dan kota lainnya.

Bentuk kerja samanya perusahaan itu harus berjanji. Mereka tidak akan menggunakan bleaching ataupun pakai ditergen. Jadi 100% menggunakan produk mereka sudah. Jika kerja sama baik, kita sebagai mitra mau mengikuti SOP mereka, akan dapat potongan 15%- 20% selama memakai produk mereka.

Edukasi pasar terus dilakukan. Tetapi sekarang ini bahkan anak SMP sudah tau pentingnya merawat sepatu mereka. Bisnis cuci sepatu berkembang sejalan bisnis cairan pembersih Adrrows. Selebihnya tinggal dia melakukan promosi sosial media seperti Intagram dan Twitter @Andrrows.

Jaringan ke costumer didekatkan lewat layanan Line. Pokoknya cara marketing modern sudah dia lakukan sekarang. Hasilnya tidak mengecewakan. Target berikutnya menguasai seluruh pasar Asia. Inovasi coba dia kembangkan adalah produk pembersih sepatu berbentuk spray buat traveling.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba