Kisah Raja Perak Malang Berbisnis Karena Gagal Karyawan

Profil Pengusaha Faishal Arifin


 
Siapa sangka Faishal Arifin pernah menjadi supir angkot. Pengusaha muda 28 tahun ini memulai segalanya dari nol. Sampai sekarang banyak orang menyebutnya Raja Perak. Ia berkisah setalah lulus kuliah jurusan ekonomi manajemen, Universitas Widya Gama, Malang, tahun 2008, kok susah ya mencari pekerjaan.

Untuk menunjukan bahwa kuliahnya tidak sia- sia. Dia banting stir menjadi pengusaha dadakan. Dia memilih jualan ayam bakar. Selepas berjualan beberapa lama, dia kemudian bangkrut, uangnya ludes juga dibakar api karena kiosnya kebakaran. Karena tidak ingin menyerah akan nasib, Faishal memilih merantau ke Kalimantan.

Di Kalimantan, pengusaha kelahiran 3 Juni 1987, ini juga gagal mendapatkan pekerjaan seperti di Malang. Dia bahkan ditolak masuk perusahaan tambang. Harapan merubah nasib seolah mau tertutup. Tidak mau menyerah kembali ke Kota Malang.

Bisnis perak


Faishal melihat banyak perajin batu permata. Muncul perasaan tertarik akan usaha tradisi tersebut. Lalu ia iseng mencoba ikutan mendalami. Semakin lama menumbuhkan minat akan usaha perhiasan. Pengalaman belajar perhiasan membuat dia nyaman. Bagaimana kalau nanti diseriuskan saja menjadi usaha di Malang.

Dia memboyong ilmu batu permata Kalimantan. Di Malang, Maret 2009, dia mulai membuat perhiasan yang modalnya hanya koran bekas. Tepatnya gambar perhiasan majalah bekas. Ditiru kemudian dijadikan perhiasan sendiri. Berjalan ke Pasar Comboran, Malang, menemukan majalah bekas bergambar perhiasan.

"...saya gunting dan kliping, itu yang saya jadikan modal," imbuh Faishal.

Pesanan pertama datang dari seorang ibu- ibu. Ia tidak menyangka. Bahkan pesanan tersebut tidak sedikit. Ia akhirnya malah kebingungan karena tidak punya peralatan.

Ia kemudian ingat seorang kenalan. Orang Malang juga yang pernah bekerja menjadi perajin. Kemudian ia mengajaknya menjadi mitra. Hasil untungnya dibagi dua, yang mana nanti juga dibelikan peralatan usaha bersama. Modalnya ala kadar ia bercerita cuma mengeluarkan uang Rp.150 ribu.

Faishal cukup membeli peralatan dari tukang perhiasan yang bangkrut. Lumayan lah, dijual murah, tetapi masih layak digunakan. 

Cuma modal nekat


Dia pernah berkeliling dari Banjarmasin- Martapura. Mulai mencari pekerjaan biasa, atau mencoba masuk menjadi pegawai BUMN, ataupun coba ikutan tes PNS. Gagal. Ia malah ketagihan belajar membuat aneka perhiasan di sana. Kembali ke Malang dia sempat urungkan niat menjadi pengusaha.

Ia sempat mencoba lagi. Mencari pekerjaan tetapi kembali gagal. Titik inspirasi mengembalikan niatan awal. Dia menemukan majalah bekas ketika jalan- jalan. Tidak memiliki uang sama sekali. Dia berjalan tanpa arah ke Pasar Comboran, Malang.

Dia bolak- balik ke pasar jalan kaki karena tidak punya kendaraan. Ayah dua anak ini kemudian menemukan majalah berisi katalog perhiasan. Nekat dia meminta majalah bekas tersebut. Beruntung sang penjual mau memberi majalah tersebut cuma- cuma. Sepulangnya dia gunting kecil- kecil kemudian ditempat dalam map.

Esok harinya dia lari ke pusat pemerintahan. Mencoba menawarkan gambar tersebut. Dia melewat aneka keribetan birokrasi. Tidak gampang memang apalagi dia menjual harapan. Sesampainya disana, seorang ibu- ibu tertarik, seolah menguji keseriusan Faishal bahkan dia rela memberikan DP yang diminta Faishal.

Padahal nih, gambarnya dari majalah luar negeri, dia cuma asal menawarkan saja. Hasilnya DP senilai 60% harga disepakati. "Kala itu, pemesan perhiasan tersirat rasa curiga," kenang Faishal. Karena tidak mau melepas kesempatan. Dia rela menyerahkan KTP asli dan fotokopinya menjadi jaminan.

Syaratnya harus jadi seminggu ke depan. Kemudian dia ingat kawan lama perantauan. Dan dengar- dengar dia sudah bekerja di toko perhiasan. Keduanya kemudian negosiasi dan saling sepakat kerja sama. Faishal akan dibantu sang kawan memenuhi pesanan. Selesai, hasilnya memuaskan sesuai harapan pembeli dulu.

Cuma bermula sebuah proyek tungga menjadi viral. Melalui mulut ke mulut usahanya mulai dikenal oleh orang. Pesanan makin banyak. Karena tidak sanggup sendiri. Dia mengajak rekan awalnya kembali tetapi lewat kerja sama lebih dari sekedar untung.

Dia diajak menjadi pegawai, menjanjikan insentif, dan memaparkan pandangannya ke depan. Faishal tidak mau sekedar menjual janji. Akhirnya sang kawan mau hingga sekarang masih setia. Dari banyak orderan, mereka melewati bersama dan diselesaikan dengan sangat baik.

Kesuksesan Faishal kemudian terdengar sampai ke Walikota Malang, Moch. Anton. Mbah Anton lantas menjadi pelanggan tetap buat aneka kesempatan. Menjadikan perhiasan Fasihal souvenir sampai ke tangan orang lain di luar daerah. Menjadi satu kebanggan bagi Kota Malang karena ada pengusaha perhiasan perak hebat.

Ia kemudian rajin diajak ke aneka pameran wirausaha. Lewat itu dia berkenalan dengan eksportir. Seorang eksportir bahkan mengajaknya menjual sampai ke Ethiopia. Sadar akan kekurangan tenaga kerja. Tetapi tidak mau hilang kesempatan, dia merekrut beberapa perajin kecil Malang, Wajak, dan Pujo, Kab. Malang.

Mereka dilatih kusus, diberikan bekal peralatan, dan semakin banyak saja perajin datang bergabung ke usaha dijalankan Faishal.

Jika diandaikan kalau saja tidak nekat. Nilai usahanya akan setara modal Rp.35 juta. Beruntung tekad keras menjadi modal sangat berharga. Serta keberuntungan disetiap keputusan Faishal.  Omzet dicapai sampai ke angka Rp.350 juta. Tidak cuma berproduksi dia juga memberika pelatihan kepada masyarakat sekitar.

Konsep social entrepreneurship dijalankan dia. Tujuannya adalah agar memberikan lebih banyak peluang buat masyarakat Malang. Lahirnya bisnis yang diberinya nama Silver 999, merupakan bukti bahwa dia bekerja keras dan tekun. Dibalik itu keuntungan tumbuh dengan tanggung jawab akan kepentingan sosial kita.

Silver999 meyakinkan kita. Lewat penelitian mereka yakinkan aman alergi. Tahun 2010, dia bekerja sama dengan PT. Sucofindo, melalukan jaminan sertifikasi bahwa produknya berstandar kesehatan. Untuk hal ini Faishal menjadi mitra binaan agar mudah verifikasi.

Jika sebelumnya hasil menyontek. Faishal meyakinkan produknya kin 100% desain sendiri. Katika ada boming batu permata usaha dijalankannya mampu meraup omzet Rp.500- 600 juta -itupun buat ekspornya saja.

Bisnis Paper Cutting Dewi Kacu Cutteristic

Profil Pengusaha Dewi Kacu


 
Berawal keisengan membuat seni potong kertas. Awalnya dia akan berikan sebagai hadiah buat ponakan. Nah, dari sanalah, Dewi Kucu menemukan ide bisnis. Dia menghasilkan puluhan juta cuma dari hobinya mengukir kertas. Usaha bernama paper cutting, yang mulai ditekuninya sebagai usaha sejak 2010 silam.

Karena latar belakang pendidikan arsitektur. Mangka Dewi gampang memasuki dunia paper cutting. Selain memang kehidupannya tidak jauh dari dunia seni. Dia pernah bekerja menjadi fotografer, juga pernah jadi digitak marketer selama empat tahun.

Pengalaman serta melihat peluang. Mangka sejak tahun tersebut Dewi mulai fokus. Berderet nama- nama beken menghiasi kertasnya, mulai dari pengusaha sampai orang nomor satu Indonesia. Seorang lulusan Universitas Tarumanegara, Jurusan Arsitektur, semakin ahli melalui aneka artikel tentang paper cutting.

Bisnis hobi


Dari hobi, dia mulai menyalurkan bakatnya ke orang terdekat. Mulanya menjadi hadiah buat saudara yang ulang tahun. Kemudian keluarga memintanya membikinkan. Mereka meminta pesanan khusus bahkan rela membayar. Animo akan bisnis meningkat, Dewi mempromosikan lewat Facebook, dan makin dikenal luas.

Gadis kelahiran 1985 ini, tahun 2011, masih sempat bekerja menjadi pegawai. Menjadi desainer dan juga fotografer di Vinotti Living. Kemudian dia makin serius ke sananya. Bahkan membuat brand sendiri, lalu membuat akun sosial media, serta membuat situs toko online sendiri.

Nama usahanya Cutteritic diambil nama alat pemotong cutter. Mencerminkan kreatifitas diatas segalanya, bahkan hanya bermodal peralatan sederhana. Pakai cutter cukup menciptakan produk berkualitas bernilai jual. Situs toko onlinenya dibuat sebaik mungkin, juga segampang mungkin dikases oleh pengunjung.

Dia juga menerapkan search engine optimization (SEO). Strategi yang mampu mengalirkan pesanan baru setiap harinya. Pesana makin banyak dibanding dulu. Tetapi, Dewi, masih bekerja menjadi pegawai dari pagi sampai sore. Pesanan dikejerkan waktu malam harinya. Bukannya lelah, ia malah merasa tenang dan senang.

Pasalnya mengukir kertas sudah menjadi hobi. Disalurkan malah membuatnya seperti meditasi. Berlanjut namanya makin dikenal tidak cuma dikalangan pembeli. Dewi mendapatkan sorotan dari media masa baik cetak maupun elektronik. Nama Cutteristic makin melambung membawa lebih banyak pesanan datang.

Tidak bisa menghindar lagi. Dewi memilih fokus mengerjakan bisnisnya. April 2014, Dewi resign, sudah tidak bekerja lagi menjadi Manajer Pemasaran Digital & Kreatif di Sunpride.

Bakat seni dan bisnis


Dewi mewarisi bakat seni dari sang ibu. Dia dikenal memiliki hobi membuat aneka ketrampilan. Namun, lucunya, ketika Dewi mendalami paper cutting, ibu menjadi orang pertama yang protes. Karena Dewi buat rumah jadi kotor karena banyaknya potongan kertas.

Sekarang ibu Dewi bangga akan anaknya. Lantaran melalui hobi menghasilkan sesuatu. Tidak cuma uang, tetapi kesenian indah eksotis yang membanggakan. Kunci sukses Dewi menurut kami: Adalah fakta dia tidak menganggap ini bisnis memberatkan. Hobi selamanya akan menjadi hobi tutur gadis cantik ini.

Berawal hobi untuk mengisi waktu luang. Disela- sela kesibukannya bekerja menjadi pegawai. Kalau saja, hal yang awalnya cuma kado, tidak menjadi minat besar orang. Mungkin Dewi tidak akan mau melepaskan pekerjaan. Apalagi lewat bisnis ini menghasilkan omzet lumayan yakni Rp.30- 40 juta.

Berawal marketing mulut ke mulut. Dewi mulai mengisi rasa ingin taunya. Seberapa besar orang akan mau mengapresiasi karyanya. Hingga membuka halaman Facebook, aktif di situs jejaring sosial, dan juga mau membuka toko online sendiri. Dari sekedar paper cutting melebar hingga bisnis desain interior kertas.

Ia iseng memention karyanya ke majalah interior. Dari sejumlah majalah desain interior dia mention di akun Twitternya. Salah satunya merespon kemudian mengajaknya kerja sama. Semenjak itu permintaan jadi makin membesar. Padahal jika melihat proses kerjanya dan peralatan cuma pakai peralatan sederhana.

Bedanya cutter dipakai Dewi punya bantalah. Disisi- sisinya ada bantalan khusus buat jari. Fungsinya buat menjaga jari Dewi tidak kapalan. Karena internsitas produksi yang lumayan. Bayangkan untuk membuat satu sisi desainya saja. Bagian terkecil dan detailnya butuh waktu sampai tiga jam pengerjaan.

Cutter merupakan pensil, kuas, pewarna dalam karyanya. Ini bukan sekedar barang dagangan tetapi karya seni. Dia tidak memakai kerta khusus. Cukup kertas biasa bahkan kertas bekas. Dalam pembuatan pola juga tidak spesifik layaknya pabrikan. Dia melakukan seperti maestro melukis di atas kanvas dengan kuas.

Ini tentang apa yang tangan kerjakan. Orang beli karena indah dan karena datang dari tangannya. Tidak ada mesin yang membuat ratusan desain. Meskipun sudah menjadi bisnis menjanjikan. Dewi memilih tidak mau merekrut pegawai. Meskipun banyak orang bisa lukis, karya seni adalah milik mereka pembuatnya.

Semua karya Dewi buatan tangan. Disamping itu, paper cuttingnya tidak semua merupakan barang jualan. Ada yang dijadikan koleksi pribadi. Bisnis ini juga tidak mau mengeksporalif. Maksudnya membuat masal kemudian ditawar- tawarkan. Murni barang dihasilkan merupakan buah pikiran inspiratif manuasia.

"Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer tidak ambil," imbuhnya. Jika banyak orang berharap karyanya menjadi booming. Dewi justru menjaga agar paper cutting tetap dijalur semestinya sebagai seni rupa.

Semanjak terekspos media, perasaan khawatir cukup menghinggapi. Banyak media besar mau mengolah apa karyanya. Namun dia memilih menjaga paper cutting sebagai kerajinan. Karena itulah dia mulai jarang aktif di sosial media baik Facebook ataupun Twitter. Dewi hanya tetap memajang desainya tanpa aktif marketing.

Dewi merasa bisnis dijalankan adalah seni. Harus menunggu mood bagus barulah jadi. Layaknya lukisan seni rupa. Dewi tidak mau dipaksa- pakas berproduksi. Namun nama Dewi Kucu sudah terlanur populer di kalanga pencari Google. Alhasil pesanan besar datang tiba- tiba dari pengusaha besar Tomy Winata.

Dia tanya Pak Tomy shio -nya apa. Dewi kemudian mengerjakan buat dia. Pesanan semakin deras mengalir hampir setiap hari karena Tomy Winata bukan orang biasa.

Bisnis jiwa


Cutter adalah soulmate itulah ujar Dewi ke Fimela. Dia punya 8 jenis cutter aneka warna. Pemakaian biar tidak bosan. Namun tidak semua cutter dipakai. Kadang dia minta dibelikan hingga ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada. Tidak semua juga dipakai karena rasa nyaman tidak ditemukan.

Cutter harus ergonomis nyaman dipakai. Hanya ada satu yang sangat sering dipakai. Karena rasanya sudah nyaman di tangan Dewi.

Ketika dia membuat produk tidak sembarangan. Setiap karya dihasilkan terselip unsur budaya Indonesia, khususnya pola Batik. Pemberian unsur budaya dilakukan sebisa mungkin. Disetiap pesanan akan coba ia telisipkan budaya. Adalah batik megamendung menjadi favorit karena sesuai akan citra paper cutting.

Megamendung menggambarkan kesuburan, harapan akan kelancaran usaha, yang mana merupakan satu buah motif turunan dari budaya China. Cutteristic mengambil pedoman passion and obsession. Passion berarti semangat. Semangat buat tetap fokus meski lelah karena polanya sangat tipis dan sulit dipotong.

Obsession sendiri tentang orang lain. Bagaiman tetap membuat orang selalu tertarik akan karyanya. Juga bagaimana mengubah pola bahwa batik terkesan kuno.

Karya yang menjadi kebanggan? Ia pernah membuat paper cutting ukuran 1x1meter. Berisi foto sepasang suami istri pengusaha Indonesia. Dimana sang pengusaha cuma mengirim foto ukuran 17kb. Karena sudah dipercaya maka Dewi bekerja super- keras buat memuaskan permintaan klien khususnya tersebut.

Karena ada idealisme dibalik karnya. Dewi bisa dibilang seniman. Jangan selalu mengharapkan untunng jika menghasilkan karya. Esensi seni bisa hilang jika kamu mulai mengejar untung semata. Dewi hanya membuat apa di kepalanya. Terkadang membuat tanpa berpikir apa akan laku dijual atau tidak.

Meskipun bahan relatif murah. Dia berani mematok harga tinggi. Awal buat karya ukuran A5 dijualnya seharga Rp.300 ribu. Sekarang ukuran 35x35cm dihargai sampai Rp.1,4 juta. Ukuran 35x35 menjadi favorit dipesan pembeli untuk hadiah pernikahan atau lahiran anak.

Meskipun bahan baku murah. Ia berani mematok harga tinggi. Yah karena dia percaya nilanya setara nilai dengan jerih payahnya. Buktinya dia tidak pernah sepi aliran pesanan. Sejumlah pesanan dari Hong Kong, Australia, Singapura dan Malaysia.

Tidak ada kesulitan berarti dalam bisnisnya. Kalau desain akan diberikan awal. Tiga desain akan ditawarkan kepada pelanggan dulu. Soal desain juga bisa tinggal potong. Desain lama terkadang sudah ada stok buat dipotong nanti. Justru memilik peluang lain seperti dibuatkan kalung atau juga dijadikan hiasan interior.

Membuat Sabun Berbahan Susu Kambing Etawa

Profil Pengusaha Ragil Bambang Sumatri 


 
Menjadi sarajana arsitektur, Ragil Bambang Sumatri, malahan memilih beternak kambing. Pria kelahiran 6 Januari 1982 ini diejek tetangga. Tetangga mengguyoni pemuda ganteng angon kambing. Namun itu tidak membuat Ragil jatuh. Ia meyakini kambing mampu mencukupi kebutuhan hidup.

Ia sempat menjadi konsultan proyek. Pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta. Hingga, suatu saat, ia ketemu godaan beternak kambing. Ia telah jatuh cinta kepada kambing jenis etawa. Bahkan kata Ragil jauh sebelum dia lulus kuliah Institut Teknologi Nasional (ITN), Malang.

Rasa penasaran makin menjadi ketika kakaknya gulung tikar. Yusuf, sang kakak, adalah seorang peternak kambing tetapi gulung tikar pada 2003 silam. Lantas disela- sela kuliah, Ragil mulai membuka jurnal dan buku- buku tentang kambing.

Pemuda asal Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, ini lantas menemukan kunci bagaimana beternak kambing. Kunci sukses menurut Ragil ada pada manajemen ternak dan pakan. Juga perhatikan kebersihan kandang dan mengecek kesehatan ternak, pakan juga terjaga baik. Dia bekerja bersama seorang kaka sepupunya.

Bisnis etawa


Tahun 2006, dia kerja sama dengan kakak sepupu, Ragil bersama Zainal Abidin bertenak kambing etawa peranakan jarawadun. Agar pakan terjaga dia menanam rumput gajah, lagume juga dedaunan hijau, seperti lamtoro, kaliandra, dan kleresede.

Sebelum etawa booming di 2009, ia sudah dahulu beternak kambing etawa.Serius berwirausaha suami Nurul Azizah ini, kemudian menyabet penghargaan Juara II Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan tingkat Jateng 2011. Sampai 2013 total kambing diternakan Ragil mencapai 40 ekor.

Sebagian kambing sangat produktif menghasilkan susu etawa. Berawal usahnya mendapatkan pekerjaan mapan. Ragil memilih bewirausaha menggantungkan hidup mandiri. Melewati proses panjang sampai dia memerah hasil. Berawal dari usaha nekat membeli delapan kambing etawa.

Hingga mendirikan Kelompok Tani Ternak (KTT) Margomulyo. Mereka mewujudkan mimpinya tentang produk olahan non- susu. Ia mengenang ketika kuliah. Mengamati tanggal kadaluwarsa yogurt memang sangat cepat.

Terbersit pemikiran membuat olahan lain, yakni produk kecantikan berupa sabun susu. Produk buatannya mulai sabun etawa, masker susu etawa, serta susu murni serta aneka olahan yogurt, sudah jadi primadona beberapa kota di Indonesia.

Omzet dihasilkan mencapai Rp.20 juta, dimana pemasaran sudah merambah pasar luar Jawa. Ragil sendiri sudah melakukan uji klinis menganai produk kecantikan mereka. Seperti sabun yang sudah uji lab hingga ke laboratorium Gajah Mada, dan hasilnya tidak ada masalah.

Bisnis panjang


KTT Margomulyo sudah punya 223 ekor kambing. Kambing pribadi Ragil berjumlah 60 ekor kambing. Ia juga mengambangkan peternakan diluar mereka. Contohnya menggaet agensi penjualan produk mereka. Aganesi sudah sampai ke kawasan Palembang, Sumatera Utara.

Azizah menjelaskan usaha mereka juga sudah merambah ke bisnis online. Perempuan berjilbab ini gencar mempromosikan ke situs jejaring sosial. Mereka mendapat suntikan modal dari PT. Semen Indonesia, senilai Rp.25 juta dan Rp.35 juta setiap peternak.

Ide bisnis sabun susu etawa mendobrak pakem. Usaha mereka mampu diterima masyarakat kita. Dan sudah mampu menjual 1.000 batang per- bulan. Azizah dan suami kerap saling bertukar ide tentang produk yang akan dikembangkan kepada para peternak.

Harga produk mereka bervariatif dimana susu dijual Rp.10 ribu, sabun dan masker Rp.10- 15 ribu. Ragil mengevaluasi perjalanan bisnis mereka: Banyak hal perlu ditingkatkan mulai dari kebersihan kandang, terus kualitas pakan, fasilitas produksi, melengkapi izin produk.

Produk mereka juga merambah permen susu etawa juga. Dan inilah kenapa perusahaan Semen Indonesia rela menggelontorkan modal. Kelebihan binaan mereka adalah produksi pasca- panen. Menurut Ragil, ia sesukses sekarang karena memanfaatkan waktu dengan sangat baik.

Ragil memberikan saran kepada pemuda. Hendak lah kita menjadi pemuda pemalu. Mau menggeluti usaha apapun tanpa gengsi. Kunci sukses beternak adalah keuletan. Kamu bisa memulai dengan beternak jenis kambing yang lebih murah. Mau merubah nasib jangan cuma asik duduk minum kopi sambil ngobrol saja.

Hampir Bangkrut Karena Pakai Uang Perusahaan

Profil Pengusaha Daropi Alex 


 
Pengalaman menjadi penjual membuatnya tegar. Namanya Daropi Alex, pernah menjadi salesman door- to- door paling bersemangat. Jadilah ia paham betul cara menjual. Pengalaman 11 tahun tentu sudah lah ia banyak makan asam garam dunia. Bermula dari penawaran kartu kredit kemudian salesman furnitur.

Dia dikenal pendiri PT. Alexis Cipta Furnitama. Bisnisnya distributor peralatan dan perlengkapan kantor. Ia akhirnya berani membuka usaha sendiri. Sejak 1996, lulusan ekonomi UPI YAI, beralih menjadi sosok distributor peralatan dan perlengkapan Datascript.

Bisnis sambil belajar


Alex melayani over head project (OHP), layar, hingga kursi ataupun furnitur kantor lainnya. Beda kan jika dia menjadi salesman kartu kredit. Sementara kartu kredit barangnya langsung. Usaha dijalankan bermula dari Alex dengan menjadi pegawai dulu.

Tidak mudah apalagi mencoba menembus perusahaan besar. Alex belajar lewat menjadi salesman kembali peralatan kantor. Menawarkan apa yang dia miliki sendiri ke perusahaan besar. Seluk peluk proyek pengedaan barang harus dikuasai. 

Lewat bekerja menjadi pegawai dulu ini gajian pertama Alex cuma Rp.450 ribu.

"Saya bisa belajar mandiri dan berwirausaha," Alex, menjelaskan alasannya bertahan. Tahun ke 10 barulah ia mendapatkan proyek besar. Tahun 2006 bisnisnya berjalan mendapatkan proyek dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP), proyek modernisasi sejumlah kantor.

Proyek tersebut langsung senilai Rp.1,6 miliar. Keberanian Alex dituntut untuk membuka peluang usaha mandiri. Dia lantas nekat merintis bisnis sendiri. Jadi sambil bekerja, dia menawarkan usahanya sendiri, jadi dia bekerja dengan dua kaki; Menjadi pengusaha juga bekerja menjadi pegawai.

Alex memang sengaja bekerja sambil belajar. Ia belajar banyak hal. Kemudian dia pahami bagaiman cara membuat peralatan kantor. Mulai dari bahan dan cara pembuatan, mulai dari meja kantor sampai kursi buat kantor. Ide bisnis sudah sejak 2007 ide akan bisnis peralatan kantor.

Produksi pertama ada di kawasan Cileungsi, Bogor, merekrut 20 orang pagawai. Uang dikeluarkan tidak butuh banyak. Usaha ini menggunakan Rp.7 juta. Alat serta bahan baku dipinjami orang. Proyek selesai ia barulah membayar. Dia tergolong nekat karena pengalaman menjadi produsen berbeda dari ditributor saja.

Bisnis nekat


Pengusaha baru Alex cukup terkejut. Kondisi pengelolaan memang beda kan. Saat menjadi pegawai jika ia bandingkan dengan pengusaha, beda! Pengusaha butuh dana buat pembuatan bahan baku dan gaji pegawai. Sementara menjadi distributor dia digaji. Juga dia cukup memasarkan tanpa memikirkan gaji siapapun.

Dia pernah melakukan kesalahan. Uang dari proyek malah dipakai pribadi semua. Bukannya buat gaji para karyawan, dia malah pakai buat kredit mobil dan uang muka rumah. Dia lupa menganggarkan keuangan buat bisnisnya. Bisnisnya sempat berhenti tiga bulan. Dana segar untuk oprasional tidak ada butuh waktu jelas dia.

Pegawai juga tidak dipekerjakan kembali. Inilah titik terendah usaha dijalankan oleh Alex. Waktu itu ia sempat stress. Mau jual mobilnya malah dilarang istri. Untung seorang teman memesan 600 buah kursi ke dia. Alex langsung tancap gas mobil barunya, mencari dana segar buat melanjutkan berproduksi pesanan.

Dapat dana Rp.50 juta, dia mampu membuka usaha kembali dari nol. Inilah proyek sebenarnya setelah dia sempat vakum tiga bulan, dan hampir menyerah. Tiga pekan 600 kursi selesai. Meskipun pengiriman kursi tepat waktu. Sayangnya, dianggap gagal lantaran kualitas kursi buatan Alex bisa dibilang buruk.

Tepatnya enam bulan kemudian semenjak proyek. Jika awalnya dia memproduksi furnitur kayu. Kemudian dia merubah arahnya ke produksi berbahan besi, plastik, hingga kain. Tidak segan Alex mengunjungi aneka pameran alat perkantoran di Malaysia, untuk mendapatkan informasi tentang bahan dan desainnya.

Alex belajar betul dari kegagalan pertama. Ia mulai fokus menata bisnis kembali. Alhasil, dalam waktu relatif singkat, 9 bulan saja dia membeli lahan seluas 250m2 di Kalimantan, Bekasi, yang lantas dijadikan workshop. Semua keuntungan bisnis ditaruh dijadikan workshop sendiri.

Proyek- proyek besar dia lalui. Tidak cuma disana, dia juga menjadi pemasok buat swalayan besar, seperti di Atria Living. Pegawai produksi menjadi 30 orang. Omzet bisnisnya sudah mencapai Rp.600 juta- 700 jutaan saban bulan. Permintaan membesar dia mulai meluaskan workshop miliknya lagi.

Dia beli gudang seluas 1000 m2. Pria Bangka ini kemudian membeli ruko. Tujuannya dijadikan galeri buat pemasaran langsung. Produk Alexis Cipta Furnitama memenuhi pemesanan distributor dan proyek. Juga menjadi perusahaan menjual ke para konsumen langsung. Mencakup ke rumah sakit, bank, dan institusi pendidikan.

Garansi produk diberikan 2 tahun. Ia mendapatkan nama dikalangan suplier bahan baku. Mereka mengincar Alexis menjadi klien mereka. Sejak 2011 rutin pula mengikuti pameran ke China. Dia juga menjadi mitra importir bagi perusahaan China. Kiblat bisnis ke China sampai mempekerjakan 70 orang produksi.

Pengusaha Muhammad Hatta Jualan Kursi Balon

Profil Pengusaha Mainan 



Bisnis Hatta dimulai ketika dia melihat ponakan. Inspirasi dari mainan kemudian menjadi sandaran. Pria yang bernama lengkap Muhammad Hatta mulai sejak 2010 silam. Berawal dari melihat ponakan asiknya di kolam renang. Dia sedang asik memainkan balon air untuk tetap mengambang di atas kolam.

Pemikiran bahwa anak kecil suka balon air. Jadi dia bagaimana membuat produk mainan balon. Cuma tidak cuma balon tetapi memiliki fungsional. Hatta tertarik membuat usaha kursi balon.

Agar anak kecil tertarik dibikin aneka karakter kartun. Dua fungsi utama kursi balon: Menjadi mainan buat anak- anak. Juga sebagai sarana anak duduk- duduk santai. Hatta mendesain sendiri berbentuk selinder. Yang diameternya 30cm. Target pemasaran adalah anak usia 1- 5 tahun, berat beban sudah dihitung dia.

Bahan utama bernama PVC atau jenis plastik. Bahan ini dipilih karena ketebalan tidak mudah bocor. Hatta sukses meraih perhatian anak- anak. Untuk mendukung ide bisnis Hatta. Tak segan dia menyambangi para perajin plastik di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Pria berusia 34 tahun ini membuat desain alasnya. Sisanya akan dikerjakan perajin dengan kontrol dari ia sendiri. Penjualan terus meningkat sejak pertama diluncurkan. Bahkan dia sudah memproduksi ratusan buah. Produksi kursi balonya 1.000- 2.000 buah setiap bulan.

Harga jualnya Rp.60.000- 65.000 per- kursi. Buat untungnya sampai 20% keuntungan. Sekarangan ini, ia menargetkan peningkatan produksi, sisanya bagaimana menciptakan desain beda. Kali in"i Hatta pengen buat kursi balon bermotif etnik. Jadi pasarnya berkembang tidak cuma monoton di satu pasar anak- anak.

"Banyak orang tua memesan motif batik," paparnya. Mangkanya Hatta tengah giat menciptakan produk itu menjadi nyata. Selain jualan di dunia nyata bilangan Depok. Dia juga menjual melalui online lewat blog toko online di kursibalon.blogspot.com.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba