Hampir Bangkrut Karena Pakai Uang Perusahaan

Profil Pengusaha Daropi Alex 


 
Pengalaman menjadi penjual membuatnya tegar. Namanya Daropi Alex, pernah menjadi salesman door- to- door paling bersemangat. Jadilah ia paham betul cara menjual. Pengalaman 11 tahun tentu sudah lah ia banyak makan asam garam dunia. Bermula dari penawaran kartu kredit kemudian salesman furnitur.

Dia dikenal pendiri PT. Alexis Cipta Furnitama. Bisnisnya distributor peralatan dan perlengkapan kantor. Ia akhirnya berani membuka usaha sendiri. Sejak 1996, lulusan ekonomi UPI YAI, beralih menjadi sosok distributor peralatan dan perlengkapan Datascript.

Bisnis sambil belajar


Alex melayani over head project (OHP), layar, hingga kursi ataupun furnitur kantor lainnya. Beda kan jika dia menjadi salesman kartu kredit. Sementara kartu kredit barangnya langsung. Usaha dijalankan bermula dari Alex dengan menjadi pegawai dulu.

Tidak mudah apalagi mencoba menembus perusahaan besar. Alex belajar lewat menjadi salesman kembali peralatan kantor. Menawarkan apa yang dia miliki sendiri ke perusahaan besar. Seluk peluk proyek pengedaan barang harus dikuasai. 

Lewat bekerja menjadi pegawai dulu ini gajian pertama Alex cuma Rp.450 ribu.

"Saya bisa belajar mandiri dan berwirausaha," Alex, menjelaskan alasannya bertahan. Tahun ke 10 barulah ia mendapatkan proyek besar. Tahun 2006 bisnisnya berjalan mendapatkan proyek dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP), proyek modernisasi sejumlah kantor.

Proyek tersebut langsung senilai Rp.1,6 miliar. Keberanian Alex dituntut untuk membuka peluang usaha mandiri. Dia lantas nekat merintis bisnis sendiri. Jadi sambil bekerja, dia menawarkan usahanya sendiri, jadi dia bekerja dengan dua kaki; Menjadi pengusaha juga bekerja menjadi pegawai.

Alex memang sengaja bekerja sambil belajar. Ia belajar banyak hal. Kemudian dia pahami bagaiman cara membuat peralatan kantor. Mulai dari bahan dan cara pembuatan, mulai dari meja kantor sampai kursi buat kantor. Ide bisnis sudah sejak 2007 ide akan bisnis peralatan kantor.

Produksi pertama ada di kawasan Cileungsi, Bogor, merekrut 20 orang pagawai. Uang dikeluarkan tidak butuh banyak. Usaha ini menggunakan Rp.7 juta. Alat serta bahan baku dipinjami orang. Proyek selesai ia barulah membayar. Dia tergolong nekat karena pengalaman menjadi produsen berbeda dari ditributor saja.

Bisnis nekat


Pengusaha baru Alex cukup terkejut. Kondisi pengelolaan memang beda kan. Saat menjadi pegawai jika ia bandingkan dengan pengusaha, beda! Pengusaha butuh dana buat pembuatan bahan baku dan gaji pegawai. Sementara menjadi distributor dia digaji. Juga dia cukup memasarkan tanpa memikirkan gaji siapapun.

Dia pernah melakukan kesalahan. Uang dari proyek malah dipakai pribadi semua. Bukannya buat gaji para karyawan, dia malah pakai buat kredit mobil dan uang muka rumah. Dia lupa menganggarkan keuangan buat bisnisnya. Bisnisnya sempat berhenti tiga bulan. Dana segar untuk oprasional tidak ada butuh waktu jelas dia.

Pegawai juga tidak dipekerjakan kembali. Inilah titik terendah usaha dijalankan oleh Alex. Waktu itu ia sempat stress. Mau jual mobilnya malah dilarang istri. Untung seorang teman memesan 600 buah kursi ke dia. Alex langsung tancap gas mobil barunya, mencari dana segar buat melanjutkan berproduksi pesanan.

Dapat dana Rp.50 juta, dia mampu membuka usaha kembali dari nol. Inilah proyek sebenarnya setelah dia sempat vakum tiga bulan, dan hampir menyerah. Tiga pekan 600 kursi selesai. Meskipun pengiriman kursi tepat waktu. Sayangnya, dianggap gagal lantaran kualitas kursi buatan Alex bisa dibilang buruk.

Tepatnya enam bulan kemudian semenjak proyek. Jika awalnya dia memproduksi furnitur kayu. Kemudian dia merubah arahnya ke produksi berbahan besi, plastik, hingga kain. Tidak segan Alex mengunjungi aneka pameran alat perkantoran di Malaysia, untuk mendapatkan informasi tentang bahan dan desainnya.

Alex belajar betul dari kegagalan pertama. Ia mulai fokus menata bisnis kembali. Alhasil, dalam waktu relatif singkat, 9 bulan saja dia membeli lahan seluas 250m2 di Kalimantan, Bekasi, yang lantas dijadikan workshop. Semua keuntungan bisnis ditaruh dijadikan workshop sendiri.

Proyek- proyek besar dia lalui. Tidak cuma disana, dia juga menjadi pemasok buat swalayan besar, seperti di Atria Living. Pegawai produksi menjadi 30 orang. Omzet bisnisnya sudah mencapai Rp.600 juta- 700 jutaan saban bulan. Permintaan membesar dia mulai meluaskan workshop miliknya lagi.

Dia beli gudang seluas 1000 m2. Pria Bangka ini kemudian membeli ruko. Tujuannya dijadikan galeri buat pemasaran langsung. Produk Alexis Cipta Furnitama memenuhi pemesanan distributor dan proyek. Juga menjadi perusahaan menjual ke para konsumen langsung. Mencakup ke rumah sakit, bank, dan institusi pendidikan.

Garansi produk diberikan 2 tahun. Ia mendapatkan nama dikalangan suplier bahan baku. Mereka mengincar Alexis menjadi klien mereka. Sejak 2011 rutin pula mengikuti pameran ke China. Dia juga menjadi mitra importir bagi perusahaan China. Kiblat bisnis ke China sampai mempekerjakan 70 orang produksi.

Pengusaha Muhammad Hatta Jualan Kursi Balon

Profil Pengusaha Mainan 



Bisnis Hatta dimulai ketika dia melihat ponakan. Inspirasi dari mainan kemudian menjadi sandaran. Pria yang bernama lengkap Muhammad Hatta mulai sejak 2010 silam. Berawal dari melihat ponakan asiknya di kolam renang. Dia sedang asik memainkan balon air untuk tetap mengambang di atas kolam.

Pemikiran bahwa anak kecil suka balon air. Jadi dia bagaimana membuat produk mainan balon. Cuma tidak cuma balon tetapi memiliki fungsional. Hatta tertarik membuat usaha kursi balon.

Agar anak kecil tertarik dibikin aneka karakter kartun. Dua fungsi utama kursi balon: Menjadi mainan buat anak- anak. Juga sebagai sarana anak duduk- duduk santai. Hatta mendesain sendiri berbentuk selinder. Yang diameternya 30cm. Target pemasaran adalah anak usia 1- 5 tahun, berat beban sudah dihitung dia.

Bahan utama bernama PVC atau jenis plastik. Bahan ini dipilih karena ketebalan tidak mudah bocor. Hatta sukses meraih perhatian anak- anak. Untuk mendukung ide bisnis Hatta. Tak segan dia menyambangi para perajin plastik di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Pria berusia 34 tahun ini membuat desain alasnya. Sisanya akan dikerjakan perajin dengan kontrol dari ia sendiri. Penjualan terus meningkat sejak pertama diluncurkan. Bahkan dia sudah memproduksi ratusan buah. Produksi kursi balonya 1.000- 2.000 buah setiap bulan.

Harga jualnya Rp.60.000- 65.000 per- kursi. Buat untungnya sampai 20% keuntungan. Sekarangan ini, ia menargetkan peningkatan produksi, sisanya bagaimana menciptakan desain beda. Kali in"i Hatta pengen buat kursi balon bermotif etnik. Jadi pasarnya berkembang tidak cuma monoton di satu pasar anak- anak.

"Banyak orang tua memesan motif batik," paparnya. Mangkanya Hatta tengah giat menciptakan produk itu menjadi nyata. Selain jualan di dunia nyata bilangan Depok. Dia juga menjual melalui online lewat blog toko online di kursibalon.blogspot.com.

Pernah Ditipu Penjual Tokek ini Makin Berjaya

Profil Pengusaha David Hendar 


 
Jualan tokek ternyata sangat menggiurkan. Bahkan siapa sangka bisa jadikan kamu miliarder. Hewan ini lalu diburu dan diternakan. Dapat diekspor sampai ke luar negeri juga. Menurut David Hendar, dirinya bisa mengentungi ratusan juta sekali transaksi. Namun bukan sembarangan tokek bisa dijual dihargai mahal.

Tidak semua tokek menghasilkan. Biasanya berat juga diperhitungkan. David mengistilahkan berat harus lebih dari 3,5 ons. Kalau kamu tangkap tokek biasa, yang beratnya dibawah 2ons. Ya cuma laku buat dijual jadi obat china. Harga jualnya juga relatif tidak semengejutkan hasil David.

Pria kelahiran Prubolinggo, 24 November 1957 ini, menjelaskan tokek juga bisa sangatlah murah. Bahkan sampai dihargai cuma seribu- dua ribu. Tokek macamnya banyak kayak tokek hutan, tokek batu, lalu yang paling sering tokek rumah.

Paling banyak digemari justru tokek rumah. Hendra memang baru setahun bisnis. Tetapi dia mampu jualan sampai tokek seberat 7ons. Jualnya sampai Rp.500 juta. Boleh percaya atau tidak David meyakinkan itu kepada pembaca. "Anda percaya atau tidak, tapi ini benar- benar terjadi," yakinnya.

Harga tokek lain tidak sebesar tokek rumah. Kalau harganya cuma Rp.5 juta per- kg. Dan tokek campuran seperempat harganya. Tidak jelas alasan apa kenapa pembeli mau membeli tokek cuma sebesar 7ons. Buat tokek batu beratnya sampai berkilogram. Satu ekor biasa bisa lebih dari 1kg tetapi tetap tidak sebanding.

Harga memang menggiurkan, mangkanya banyak orang latah ikutan berbisnis tokek. Namun tidak semua bisa seberuntung David. Disisi lain efek negatifnya menjadi ladang tukang tipu. Penipu menjanjikan bisa memberikan obat, makanan, atau alat lainnya agar tokek besar. Bahkan ada yang niat memasukan biji besi ke tokek.

Pengusaha multi- talenta ini memilih fokus. Pengalaman setahun membuatnya sadar tokek. Baginya bisnis ini menjanjikan. Dia yang sudah memiliki koneksi ke luar negeri. Mengaku sangat hati- hati jika menjadi perantara penjualan tokek. Suami Tabita Sriwatiningsih menyebutkan sudah punya jaringan tokek khusus.

Pembeli kebanyakan datang dari luar negeri. Dibawah dia mencari pengepul, yang terbung langsung ke penjual, dan penjual diperhatikan sekali lewat beberapa tahap. Meskipun penjualnnya melalui foto sudah ada caranya. Kan memang bisnis omzet sampai miliaran rawan penipuan makelar nakal.

Tokek difoto tertutup tidak utuh segambar. Tokek difoto diatas timbangan. Agar memastikan tangga foto itu diambil memakai koran hari itu. Timbangan tokek pun memakai timbangan digital. Foto dipasarkan ke internet atau bisa langsung diprint out ke pembeli. Kalau mau menyanggupi transaksi dan mau transfer.

Untuk selanjutnya diadakan transaksi langsung. Transaksi selesai barulah dibayar lunas. Tahapan pertama ialah kesanggupan dirinya membeli. Lalu diberi jeda waktu melihat kondisi tokek beberapa hari. Jikalau dirasa kesehatan tokek tidak berubah.

David akan membayar uang muka jika dirasa toket sehat. Nah, setelah dibayar uang muka, dia akan melihat lagi apakah tokek tidak berubah. Berulah dia bayar sisanya jika aman dan sehat. David mengaku sudah tau rasanya ditipu. Ya sekarang dia haruslah lebih cerdas dibanding penipu.

"Itu pengalaman paling berharga," jelasnya.

Pria pengendara Honda Jazz merah ini, negara pembeli tokek nya kebanyakan orang asing. Tetapi David enggan menyebut asal negaranya, karena rahasia bisnis. Pokoknya dibeli orang luar negeri. Berat tokek ia jual lebih dari 3,5 ons katanya bisa dipakai buat penelitian.

Menurutnya tokek bisa dipakai obat, bahkan senjata biologis, kepentingan banyak dibalik tokek yang orang anggap binatang sejenis cicak. Kan teknologi tidak akan surut, dan penggunaan tokek dirasa David masih bisa lebih kedepan -masih menguntungkan dibisniskan.

Pengembangan bisnis bisa dilakukan. Buktinya dia membuka lima cabang selain di Semarang. Cabang itu ia jadikan pusat pemasaran. Cabangnya ada di Bekasi, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Tidak cuma berbisnis tokek, David punya bisnis kursus bahasa, pembuatan website, bisnis handphone- komputer.

Jualan Kursi Malas Sande Online

Profil Pengusaha Muhamad Iqbal Rasyidi 


 
Usia 23 tahun sudah menjadi pengusaha. Kisahnya belum tercatat banyak di internet. Namun pemuda asli Bantul, Yogya ini, patut kamu beri kesempatan memperkenalkan kisahnya. Berawal dari usaha milik sang kakak. Usaha sederhana kursi malas berbahan dasar rotan.

Keras dan tidak nyaman dipakai keseharian. Korsi rotan buatan kakaknya memang masih sederhana. Pria bernama lengkap Muhamad Iqbal Rasyidi ini, kemudian merubahnya menjadi besi. Biar nanti tahan lama dan juga praktis dipakai. Iqbal juga mengembangkan konsep lipat biar mudah dibawa ke mana saja.

Kursi malasnya juga memiliki tiga sudut kemiringan. "...dapat diatur kemiringannya," paparnya kepa Viva. Ia membuat kemiringan senyaman mungkin buat kamu. Mahasiswa semester 7 ini serius banget buat cari referensi kursi malas idaman mahasiswa.

Pokoknya nyaman dong. Jadilah produk bikinannya menjadi idaman mahasiswa sekitar. Cocok buat ruang sempit seperti kamar kos. Khususnya nih, penggunanya, adalah para mahasiswa yang tengah asik memakai laptop baik buat tugas maupun maen game.

Pembeli kebanyakan asal Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sendiri. Harga disesuaikan harga mahasiswa yakni Rp.135 ribu dan kursi malas kecil siap kamu gunakan. Kurang besar bisa beli yang harganya Rp.205 ribu. Pesanan sebulan mencapai 50 sampai 60 kursi malas ke berbagai kota.

Bisnis offline online


Iqbal juga menjajakan kursi malasnya ke kawasan Condongcatur, Sleman dimana dia menjejerkan kursi malasnya. Biar irit biaya buat pelanggan asal Kota Yogyakarta buat beli. Prakitan kerangka diserahkan kepada perajin asal Tegal, sedangkan busanya ambil dari Tangerang, dan covernya dari Yogya saja.

Dia mengatakan cukup punya dua karyawan buat jahit. Dimana sistemnya tinggal borong saja. Per- cover mereka jahit dapat upah Rp.21 ribu. Walaupun sudah banyak permintaan belum ada showroom khusus. Ia yakin masih akan tetap fokus jualan pakai online tanpa galeri khusus.

Kursi buatannya memang fleksibel. Dan tidak mudah rusak, seperti kursi malas rotan, yang mana menjadi ide dibalik bisnisnya kelak. Ia ingat awalnya mencoba malas- malasan pakai kursi malas rotan. Eh, barulah beberapa kali sudah rusak saja. Pengalaman tersebut menjadikan ide bisnis kursi malas yang kuat awet.

Butuh banyak eksperimen sampai dia menemukan bahan cocok. Hingga dia menemukan kerangka kuat dari besi. Kemudian ada kain kuat ditambah bahan busa empuk nyaman. Kelebihan ditambahkan yakni konsep lipat. Besinya juga dilapisi cat agar kuat memakai metode powder coating.

Teknik powder coating katanya mampu membuat besi tahan goresan lantai. Untuk efek pegas tidak perlu pakai pegas. Cukup memakai busa jenis rebounded khusus didatangkan dari Tangerang. Kain warnanya nanti pakai bahan dari sebuah toko di Yogyakarta.

Untuk pemasaran diluar online, kini, dia juga menggunakan sistem sample ke toko- toko sekitara Yogya. Ia mampu meraup pundi rejeki lumayan loh. Katanya nih, omzet pemuda yang sukses menjual lebih dari 250 unit per- bulannya, adalah sampai Rp.50 jutaan.

Kisahnya Penjual Tape Ketan Pamela Kuningan

Profil Pengusaha Carsim Cahyadi 


 
Sukses tape ketan Carsim Cahyadi bukan perkara mudah. Sukses tapek ketan di kawasan Desa Tikolot dan Cibeureum. Tidak lain salah satunya karena dia. Mimpi besar Carsim adalah Kuningan menjadi pusatnya panganan tape ketan. Warga desa yang beranikan membuka usaha tape ketan sejak 1996.

Dia merupakan pelopor kedua orang berusaha tape ketan. Usaha bersifat turun- temurun -jadul kiranya- ia mencoba memberi nuansa berbeda. Empat tahun sudah dirinya mencoba usaha. Sepanjang jalan tersebut ia hampir tidak pernah mendapatkan untung.

Peluang besar, itulah pendapat Carsim lantaran trend kuliner lokal meningkat.

"Saya bertekad memperkenalkan racikan tapai khas Kuningan," tuturnya.

Nama bisnis tape ketanya Pamela. Merupakan akronim nama kedua anaknya, Fajar dan Mela, dan karena mereka orang Sunda nama Fajar terbaca Pajar. Mangkanya bukan Famela tetapi berubah menjadi Pamela jika keduanya digabungkan.

Bisnis rumahan


Ia menyulap rumah menjadi pabrik kecil. Carsim mengandalkan cukup resep temurun. Dan bisnis tersebut memakai beras ketan dan ragi asal Indramayu, Jawa Barat. Berjalan waktu melalui daya upaya. Akhirnya ia mampu menaikan nama ketan tapai.

Sekarang usahanya menghasilkan 3 kuintal. Dikemas dalam 5 kemasan berbeda ukuran. Yaitu kemasan ember isinya 80 bungkus, kemasan dus 50 bungkus, kemasan stoples 28 bungkus, dan paling kecil kemasan plastik mika isi 16 bungkus.

Bagaimana dia bisa menjadi pengusaha sukses. Dia terinspirasi padagang tape ketan satu- satunya aktif bernama Danasih -pemilik tapai ketan Sari Asih. Carsim awalnya hanyalah pedagang perkakas keliling. Ia pernah pula bekerja menjadi buruh kontraktor ke Jakarta.

Fenomena menarik ketika ia pulang kampung. Orang luar kota mengantri lama di depan rumah tetangganya itu. Mereka mengantri cuma buat dapat tape ketan sebagai buah tangan. Carsim sendiri sering diajak oleh tetangganya Danasih. Dia bekerja di tempat Danasih mengolah tapai ketan.

Namun dia bertanya apakah akan sukses kalau diluar Lebaran. Bagaimana tapai ketan menjadi ikonik dan selalu laku. Inilah tantangan pertama Carsim coba pecahkan. Dia berpikir sulit berkembang jika kita cuma bikin ketika lebaran. Insting bisnis tersentuh, beruntung dia sudah dipoles pengalaman jualan keliling.

Deretan mobil menjadi alasan kuat. Dia ingin aktif menjajakan tape ketan. Pikiran buat jemput bola pun muncul. Carsim tidak betah lagi kerja di Jakarta. Pulanglah Carsim ke Tarikolot, tekadnya menjadi salah satu pengusaha tape ketan sukses.

Ia ingin menjadi usaha tape ketan modern. Lebih maju dibanding cuma mengharapkan lebaran. Usaha itu dia buka bermodal uang Rp.600.000. Uang tersebut dibelikan peralatan dasar dan bahan dasar. Sebagai satu langkah awal, dia juga mulai mensurvei tempat di kawasan Kuningan sampai Cirebon.

Lokasinya Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan, tetapi kenyataan tidak seindah rencana. Orang kala itu masih belum berpikir tapai ketan adalah jajanan harian. Orang masih berpikir itu buah tangan yang biasa dimakan kala waktu tertentu. Orang Kuningan sendiri lebih milih pergi ke Tarikolot ataupun Ciberurum/

Kondisi seperti itu terjadi salam 4 tahun. Dapat dibilang bisnisnya gagal total. Putus asa sudah datang ke pikiran Carsim. Dia sendiri padahal sudah menerapkan sistem konsinyasi. Bisnis dijalankan Carsim diberi perandaian seperti mebabat hutan sendirian. Karena dia menjadi satu- satunya pengusaha tapai ketan di Kuningan.

"...banyak menangis daripada tertawa," kenang dia. Ketika barang gak laku, mau dibawa pulang malu. Lalu terpaksa dia bagi- bagikan ke tukang becak. "Inginnya lari meninggalkan usaha."

Dia sudah putus asa. Sudah mau keluar dari bisnis tapai ketan. Tetapi ujungnya dia kembali berpikir lebih positif. Harapan tahun kelima akan ada perubahaan. Dia lantas ketemu seorang kenalan. Sambil bersedih hati dia menceritakan kepiluan usahanya. Dibalik itu dia menceritakan pula mimpinya dan ambisinya.

Sang teman lantas menawari tempat di kawasan Bundaran Cijoho. Dimana tempatnya ditawarkan gratis ia pakai. Sebuah pinjaman hingga dia sukses sekarang. Kesempatan ini tidak disia- siakan lewat bekerja lebih keras.

Titik balik usaha


Tahun 2000 -an menjadi titik balik pengusaha tape ketan ini. Ternyata faktor tempat sangat mempengaruhi jualannya. Banyak pelanggan datang. Dari mulut ke mulut namanya tersebar ke penjuru Kuningan. Disana dia menggunakan sebagai sarana gratis promosi. Dia juga menata barang dagangan agar lebih menarik lagi.

Papan nama usaha Pamela menjadi perbincangan masyarakat. Carsim pajang di depan usahanya terlihat jelas sekali. Orang tertarik datang karena nama unik. Mangkanya volume penjualan tape ketan Pamela jadi makin naik. Setiap harinya memproduksi 20kg beras ketan buat usahanya.

Kemudian naik dalam hitungan bulan sampai 50kg. Jelang lebaran nih bahkan sampai empat sampai enam kuintal produksi. Harga jualnya Rp.15 ribu per- 100 bungkus. Kemudian dia tarus di dalam ember plastik diberi nama Pamela. Lalu buat per- ember diberinya harga Rp.45 ribu isinya 100 bungkus.

Suami dari guru SD, Rusti Cahyadi, kemudian menawarkan kerja sama kepada Danasih. Dia membantu buat Danasih yang masih tinggal di kampung. Pasalnya Danasih juga sama larinya cuma bedanya kurang di produksi, keteteran. Mangkanya permintaan saat lebaran Danasih terbantu dan akhirnya makin laris manis.

Hasilnya justru tetangga lain ikutan. Yang mulanya cuma Danasih berbisnis di Tarikolot, kini, banyak lagi warga ikutan menjadi pengusaha tapai ketan. Carsim sendiri senang karena membantu ekonomi warga di sekitar.

Sukses Carsim terendus pihak BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), dimana dia diberi pelatihan. Tidak cuma dikenal di Kuningan tetapi mulai ke penjuru kota sekitar. Mangkanya tidak lah afdol jika datang ke Kuningan tidak membeli tapai ketan Pamela.

Dia bukan cuma pengusaha. Dalam dirinya ada kegigihan membangun tradisi lokal. Pria yang hobinya suka menyindiri di alam bebas ini, menemukan kelemahan, usahanya ketika dia melamun yakni pada proses pembuatan. Utamanya soal cuci beras karena kan jumlahnya ratusan kilogram tidak mungkin pakai tangan.

Kemudian ada kawan menawarinya alat pengaduk snack. Dia jual karena mau ganti usaha. Nah, karena ada kesempatan, Carsim beli kemudian diutak- atik dijadikan alat pencuci beras. Untung mesin tersebut dapat jalan meski tidak diperuntukan semestinya. Dan mesin tersebut mudah buat dijalankan siapa saja nantinya.

Langkah tersebut diikuti oleh pengusaha kecil lain. Mangkanya pembuatan tapai ketan di Tarikolot dan juga Cibeurum menggunakan mesin. Untuk memasaknya masih manual, biar tidak merubah rasa, cukuplah buat mencucinya saja. Carsim menjadi model bagi pengusaha lain dalam inovasi bewirausaha.

Kini, banyak sekali keagenan tapai ketan tersebar di kawasan tersebut. Tidak mudah memang merubah jiwa mereka sebagai petani. Mereka butuh contoh sukses. Kalau sudah mereka akan mengikuti sendiri dan mau diajari. Tidak berhenti disana Carsim juga melakukan inovasi aneka rasa.

Sangat penting menurutnya loh. Apalagi target pasaran Carsim mulai menyasar warga perkotaan. Karena ia pernah tinggal di Jakarta tau betul selera orang Jakarta. Varian rasa dibuat sesuai dengan rasa tapai ketan memang terkenal asam manis. Sekarang orang makan kayak jajan, buat teman minum kopi, atau lainnya.

Rasa vanilas, stroberi, dan lainnya, ternyata efektif menggaet pelanggan. Dia sendiri tengah fokus perihal pengemasan mencari ganti daun jambu air apa. Kan susah mencari apalagi kalau musim kemarau telah tiba. Cara ditempuh tetapi bagaimana agar rasanya tetap. Kemudian ia mengajak banyak orang budidaya jambu air.

Dia mampu meningkatkan kualitas tapai daerahnya, lebih awet, lebih enak, dan lebih bersih. Dia sadar pula bahwa soal kemasan menjadi hal penting bisnis kuliner sekarang. Rahasia sukses lainnya adalah tidak mau pakai bahan kimia. Semuanya dibuat secara alami tanpa bahan pengawet atau pemanis buatan.

Bisnis banyak saingan


Meskipun sudah memiliki banyak saingan. Dirinya mengaku tidak minder. Carsim selalu mengutamakan iklim persiangan sehat. Sampai sekarang sih tidak ada konflik dengan pengusaha tapai ketan lainnya. Dia menjelaskan meskipun bersaing, kan mereka sekampung, saling tetanggaan sudah kayak keluarga sendiri.

Tidak manfaat membawa pulang persaingan ke kampung. Oleh karenanya dia tidak segan membagi ilmunya tentang bisnis tape ketan. Dia juga menajaga baik hubungan dengan pegawai. Prinsipnya memanusiawikan mereka. Apalagi kebanyakan mereka adalah tetangga sendiri. Mereka yang hidup dalam kesusahan jaman sekarang.

Dia sebagai orang Sunda juga, memperlakukan karyawan halus, dan sudah dia terapkan semenjak Pamela cuma memiliki dua karyawan. Sekarang mah dia sudah punya 35 orang karyawan. Tidak ada seleksi khusus buat calon karyawan. Syaratnya ya kerjanya bikin tape ketan saja. "Mau bekerja membuat tape."

Kalaupun ada karyawan keluar, itu karena masalah ingin mencari pekerjaan lebih baik. Salam bisnis ini dia jalankan tidak ada perselisihan. Dia sadar bahwa pengusaha tidak membangun usaha sendiri. Dia juga rasa gembira kalaupun ada bekas karyawan Pamela membuka usaha serupa.

Untuk masalah gaji Carsim dikenal pemberi upah baik. Karyawan Pamela dapat upah diatas UMR yakni ia memberi Rp.30 ribu per- hari, sudah ada uang makan, bonus bulanan, dan THR. Ia tidak sungkan mengajak mereka liburan bareng.

Sejak tahun 2004 usahanya terbilang stabil, dan akhirnya Carsim mengajukan pinjaman ke bank bjb. Lalu dia mendapatkan bantuan program Peduli Jabar. Modalnya dapat Rp.10 juta dan lunas semua dalam waktu satu bulan. Sudah termasuk membayar angsuran pokok serta bungannya setiap bulan.

Pinjaman Carsim meningkat kemudian yakni Rp.20 juta. Kemudian berkali lipat, mulai Rp.50 juta, hingga Rp.200 juta. Pinjaman tersebut dirasanya bagus membantu UKM seperti dirinya. Dia sudah mandiri dalam hal berbisnis. Omzetnya sudah mencapai Rp.240 juta atau Rp.2,88 miliar per- tahunnya.

Sejak 2011 terhitung dia sudah 15 tahun bergelut dengan tapai ketan. Untungnya terbilang besar buat suatu UKM di kawasannya. Target dicanangkan Carsim ialah membuat tapai ketan makin populer. Inginya bisa bersaing dengan jajanan modern. Bersyukur keluarga mendukung usaha juragan tapai ketan Kuningan ini.

Contohnya sang istri, sebagai guru, dia selalu mengingatkan karyawan Carsim untuk menjaga kebersihan dan kerapian. Termasuk soal administrasi harus tertib. Dia serius mengembangkan konsep administrasi yang baik. Namun dia masih ragu mengambil tenaga profesional dalam bisnis tapai ketan.

Belum kuat bayar, jadi ya dia dan keluarga akan tangani sendiri saja. Pemasaran Pamela pun masih pakai cara keagenan biasa yang dianggapnya cocok. Mereka justru datang sendiri menawarkan diri menjadi agen Pamela. Cara bisnisnya melalui retail sederhana, dimana memberikan harga lebih murah agar ada untung.

Usaha ini dijalankan lewat keagenan tersebut. Melalui mereka tapai ketan tersebar ke penjuru Pulau Jawa. Diakui mereka, para agen, menjadi ujung marketing bisnis Pamela sekarang. Masalah utama ialah jarak dan waktu. Kan tapai ketan memiliki ketahanan sebentar paling lama cuma bertahan semingguan.

Oleh karenannya dia menyasar wilayah besar terdekat dulu, yakni Jakarta dan Bandung. Barulah percaya diri masuk ke kawasan Jawa Tengah bahkan Timur. Walaupun tapai ketan tidak tahan lama bukan berarti ini menghalangi Carsim berusaha loh. Dia sedang berpikir caranya memodifikasi agar tapai ketan tahan lama.

Walau dimodifikasi harapannya tidak akan merubah kekhasan. Jika 15 tahun lelau warga Tarikolot sukses jadi sentral tapai ketan di Kuningan. Harapan Carsim selanjutnya menjadikan kuningan pusatnya distribusi tapai ketan seluruh Indonesia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba