Pembuat Keramik Muda Menginspirasi Usaha

Profil Pengusaha Bregas Harrimardoyo 



Keberadaan mereka dianggap kurang. Banyaknya mesim mampu mencetak ratusan. Pengrajin keramik bisa dibilang dihitung jari. Kerajinan keramik dianggap terlalu sukar. Detailnya yang beda dari sekedar caranya membuat keramik. Perajin keramik mengalami kesulitan dalam regenerasi.

Banyak pemula merasa bosan. Prosesnya dianggap memakan waktu. Butuh tidak cuma kreatifitas tetapi juga kemampuan bersabar membakar. Dari tanah liat, caranya membuat, teknik glasir, serta pemahaman akan tungku, pokoknya rumit buat diturunkan.

Sementara itu kuliah jurusan perkramikan ada. Tetapi mahasiswanya seolah bisa dihitung jari. Mulai dari ITB, IKJ, ISI, dan UNJ, apakah ada contoh suksesnya. Tidak jarang mahasiswa malah pindah jurusan. Nah, orang tua sendiri terlihat skeptis dibanding jurusan kesenian lainnya, apa keuntungan finansial ahli kramik.

Mangkanya banyak anak muda dilarang- larang. Namun ternyata kalau ditekuni menghasilkan juga. Apalagi jumlah pesainnya dapat dihitung jari.

Bisnis seni


Ambil contoh Bregas Harrimardoyo. Sejak kecil dia sudah melihat ayahnya berkutat dengan kramik. Dia lambat laun mencintai kesenian tersebut. Ayah Bregas adalah pendiri Pakunden Pottery tahun 1987. Lalu ia mewarisi bakat membuat keramik. Dia mencontoh ayah iseng membuat keramik sendiri.

Tertarik karena biasa melihat ayah kerja di studio. "Saya sudah belajar sekitar umur 5- 7 tahun," jelasnya. Ia mulai serius ketika lulus SMA. Dia tertantang untuk lebih. Tertantang menyamai kepiawaian sang ayah mengolah keramik. Usia 16 tahun sudah mewarisi keahlian sang ayah membuat aneka keramik.

Dia melanjutkan Pakunden Pottery. Kelebihan studio ini adalah kesederhanaan keramik. Namun coraknya khas Indonesia mendetail. Inilah yang coba ditonjolkan Bregas. Keramik layaknya kanvas. Disana dia akan menorehkan lukisan. Kanvas jangan rumit- rumit. Yang terpenting apa polanya terurai cantik diatasnya.

Bregas fokus mencari corak Indonesia. Dituangkan dalam kanvas keramik sederhana cukup. Harganya jadi variatif dari Rp.40 ribu sampai Rp.5 jutaan. Dan sudah dapat ditebak 95 persen pembelinya adalah orang asing. Bahkan karyanya dibawa di galeri internasional, menuju Portland, Oregon, Amerika Serikat. 

Menjadi eksportir omzet Bregas dibilang tergantung. Tidak pasti tergantung ada pameran tidak. Jumlah yang dikirim juga tidak banyak. Meskipun begitu pendapatan Bregas bisa dibilang dollar. Justru pasaran lokal dianggapnya lebih susah. Untuk orang Indonesia butuh pendekatan bukan cuma nilai estetik saja.

Kalau orang asing kan begitu liat seni langsung tertarik. Orang Indonesia mikir dulu baru memutuskan mau beli atau tidak. Kalaupun ada pasti dari kalangan tingkat pendidikan dan ekonomi atas. Lima persen ia anggap memang kurang. Bregas tetap menggali pasar 5% ini melalui aneka upaya inovatif.

Turun temurun


Sang ayah terlahir di daerah bernama Pakunden, Semarang. Ibunya Ating, kelahiran sana asli dan ketika berjalan waktu Pakunden menjadi bagian Kota Semarang. Nama Pakunden ternyata berarti kendi atau juga disebut pot.

Sementara ayah Bregas aslinya dekat situ. Kemudian menikah dan ide bisnis tentang membuat kerajinan berbahan tanah liat muncul. Hasilnya sebuah aneka benda kecil- kecil berbekal tanah liat belakang rumah. Kemudian ayah yakin memperdalam ilmu otodidak, menghasilkan studio kecil bernama Pakunden.

Nama Pakunden juga merupakan persembahan buat sang istri. Lambat laun keahlian ayah Bregas makinlah terasah. Kemudian anak kecil bernama Bregas Harrimardoyo mulai membuat pernik kecil berbahan tanah liat.

Ketika mereka pindah ke Jakarta, ibu Bregas masuk kuliah IKJ jurusan batik. Kemudian dia ditawari oleh kampus mempelajari tentang pembuatan keramik. Namun dia menyerah karena terlalu teknikal. Disitulah ayah Bregas masuk mengambil alih kuliah tersebut. Padahal jurusan ayahnya adalah teknik mesin waktu itu.

Kemudian keterarikan akan membuat keramik makin kuat. Dipadukan akan kemampuan teknikal mesin. Ia membuat studio dengan mesin sendiri. Berjalan waktu dia dikenal menjadi pengrajin, maestro, dalam hal pembuatan keramik. Dia mulai mengikuti aneka pameran kesenian keramik.

Umur 14 tahun Bregas banyak ketemu sesama perajin keramik (teman ayah). Ketika lulus SMA dia dapat kesempatan masuk Arkeologi. Melalui arkeologi dia memasuki pemahaman akan keramik. Aneka bentuk karya orang dulu sesuai passion -nya akan membuat kesenian keramik.

Ibu Bregas sangat tertarik akan batik. Dia pembuat kroset. Dan idenya selaras dengan keahlian membuat macam pola etnik. Sementara itu sang ayah juga masih aktif. Dia akan setiap hari terlihat menggambar, lalu membentuk desain pola, membentuk keramik, dan memberika saran jika diperlukan oleh Bregas.

Dia punya saudara laki- laki, seorang arsitek. Sang anak, Yuka, suka ikutan Bregas mengerjakan keramik. Tanah liat datang dari Jawa Barat. Yang mana sumbernya sangat diteliti benar. Dia memilih membeli buat distok untuk enam tahun. Bahan bumbunya datang dari lokal sekitar. Sumber: www.ajourneybespoke.com

Ikut Waralaba Waka Waka Gaji Diatas UMR

Profil Pengusaha Chaprina Kurniati Utami Dewi


 
Manisnya sukses membawa gadis muda ini berbisnis. Mencari kemandirian, gadis cantik bernama Chacha atau lengkapnya Chaprina Kurniati Utami Dewi, mencoba peruntungan lewat martabak mini Afrika Waka- Waka. Waralaba asal Jakarta tersebut dibawanya ke Solo, Jawa Tengah.

Panganan dengan aneka toping yang nikmat. Cuma berjualan dengan booth kecilnya di depan TK Kristen Manahan Solo, gadis berhijab ini mengaku untung. Dia menghabiskan 3kg adonan dan menghasilkan uang Rp.3 juta per- bulan.

Dia berhenti jadi pegawai. Fokus mengerjakan waralaba yang dia ikuti. Modal awal dia keluarkan yakni Rp. 7.500.000. Untung menggelontor melalui marketing sederhana. Cukup BBM dan brosur sudahlah cukup menjadikan dia untung. Gajinya menjadi wirausaha bahkan lebih besar dibanding cuma pegawai.

Lebih puas pula dibanding kerja bareng orang. Kenapa memilih martabak mini? Alasanya karena dia liat belum ada pelopor bisnis martabak mini. Kemudian karena produk Waka- Waka tebal kulitnya tidak tipis. Topping juga bukan sembarang tetapi sudah direncanakan matang.

Orang tinggal pilih topping sesuai selera. Banyak pilihan rasa mulai toblereno, nutella, ovomaltine, kitkat, dan banyak lagi. Kemudian aneka taburan lebih dari 30 jenis, dari kacang, coklat tabur, blueberry chip, dan lainnya.

Harga Rp.15.000 per- boks isi 4 spesial, satunya Rp.4000 -an. Untuk biasa Rp.10.000 isinya 4 juga, kalau beli satuan Rp.3000. Daerah Solo minimal beli 3 boks bisa delivery order. Kemudian dia juga siap buat pemesanan 30 boks. Kalau mau order banyak maka dua hari sebelumnya sudah pesan.

Harga mahal tentu ada komplain. Pelanggan ada pernah komplain soal harga. Namun ketika sudah rasakan kelezatan Martabak Waka- Waka langsung nagih. Repeat order mau beli lagi meski harganya mahal. Tapi sesuai kok, meski ukuran kecil, tetapi tebal dan topping nya total.

Banyak yang ketagihan. "Banyak repeat order," Chacha senang. Sehari dia menghasilkan 30- 50 boks. Yang mana adonan 3kg dimana 1kg menghasilkan 100 martabak. Optimis dalam sebulan dia akan balik modal. Untuk daerah Solo mau ikutan waralaba, bisa hubungi dia, karena akan ada trainning nya loh.

Untuk kedepan mau buka booth lagi. Di depan Lippo yang ramai banyak orang lewat. Buat membuka booth baru dia cukup bayar retribus pemerintah. Ditambah mengajukan ijin buat pedangan sekitaran sana. Dia mau menyasar malam hari karena dirasa paling ramai.

Mau Jualan Martabak Mini Waka Waka Prospeknya

Profil Pengusaha Sukses Cintra


 
Ia berkisah semua berawal Piala Dunia 2010 silam. Cintra, 42 tahun, dan suami, Suhendra, 26 tahun mulai membuat aneka martabak mini. Bisnis berdasarkan racikan bumbu Cintra. Khas itulah membedakan hasil karyanya dibanding buatan sendiri.

Dia juga tidak segan memberi lebih. Topping nya banyak tidak tanggung. Mulai berbisnis dia langsung bisa menghasilkan. Lalu langsung, Cintra dan suami langsung membuka prospek waralaba. Walaupun terbilang baru bisnis mereka melesat.

Kurang lebih mereka memiliki 800 mitra. Produk dia tidak cuma makanan tapi minuman. Omzetnya capai Rp.100 juta per- bulan jika ramai. Standar hasilnya antara Rp.20- 50 juta. Tetapi tidak semua mitra aktif menjalankan. Tidak sedikit dua kali order tidak ada kabarnya.

Untuk bisnis ini 50% mitra waralaba aktif. Tenang mereka tidak menarik royalti kok. Untung didapatkan mereka dari pembelian brand dan kios. Kemudian dapat dari pembelian bumbu racik oleh kita. Bumbunya martabak Rp.20 ribu, minuman racik dan botol milkshake beserta cool station adalah Rp.3.500.

Spesial bisnis Cintra adalah racikan green tea bernama Green Canyon. Dimana disediakan Rp.5 ribu per- bungkusnya. Dia mempertimbangkan sistem royalti karena saking banyaknya mitra tidak komitmen. Dia berpikir pakai royalti ada untungnya. Bagi brandnya bisa tumbuh pesat dibanding cuma waralaba begitu.

"Kita liat bagaimana kalau pake royalti, berjalan baik atau tidak," tuturnya. Kemudian dia siapkan skema model restoran dan kafe bernilai Rp.160 juta- 200 juta. Cukup bayar segitu dan semuanya akan disediakan pihak mereka.

Website:  www.franchisewakawaka.com

Sate Rembiga Lombok Bu Sinnaseh

Profil Pengusaha Bu Sinnaseh 



Tidak ada berbeda dari usaha dijalankan Bu Sinnanseh. Rasanya berbeda menjadi andalan. Bukan sate biasa, Sinnanseh mengatakan bisnisnya bukan produk baru. Kuliner bernama sate rembiga tersebut enak jos. Ia malahan memilih sapi lokal. Benar- benar sapi lokal ketika orang lain memilih sapi impor.

Ia menjaga kualitas bahan. Ingat kualitas produk merupakan utama. Bumbunya lengkap. Segala bumbu dia pakai seperti cabai, terasi, bawang putih, gula merah dan garam. Sate rembiga miliknya merupakan resep turun- temurun.

Resep asli Hj. Nasipah yang merupakan guru Sinnanseh. Diturunkan langsung dari si empunya kepadanya. Setelah dia meninggal barulah Sinnanseh barulah jualan. Rasa hormat memberanikan diri membawakan resep 25 tahun ini.

Bahan semua dicampurkan baru dibakar. Dia awal bekerja menjadi pembuat bumbu. Dia bekerja di kedai milik Hj. Nasipah. Dia bersama suaminya menghasilkan jutaan. Nama sate rembiga memang dikenalnya khas Lombok, Nusa Tenggara. 

Warung miliknya dikunjungi tidak cuma wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing.

"Kalau per bulan saya tidak hitung," tutur dia. Kalau per- harinya menghasilkan Rp.12- 15 jutaan! Wow, ia juga mengatakan puncaknya ketika puasa, maka omzetnya lebih dari Rp.15 juta per- hari.

Angka tersebut nyata. Karena dia bisa mengolah 100kg daging sapi dijadikan 9.000 tusuk. Tidak ada yang berbeda dari sate buatannya. Tetapi kemampua Sinnanseh mengolah dan mempertahankan kualitas sangat sedap.

Dianggap Gila Mau Jadi Pengusaha Kopi Pesisir

Profil Pengusah Yuri Dulloh 


 
Yuri sempat dianggap gila. Namun niatnya tetap bertahan sampai sekarang. Pasalnya dia tidak sekedar mau mengejar materi. Dua hasrat terbesar: Pertam Yuri Dulloh ingin menghijaukan kampungnya di Kebumen. Yang kedua adalah mengembangkan potensi kopi lokal asli.

"Saya dianggap gila ketika mulai menanam kopi di pekarangan rumah," kenang Yuri. Alasan Yuri tetap ada kepada pendiriannya, tidak lain karena sejarah Kebumen yang pernah menjadi pusat kopi Belanda. Disana ditanami aneka tanaman termasuk kopi dan berhasil.

Ditanami lah rumahnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tidak bisa dipercaya kalau kopi dapat ditanami di daerah pesisir. Dia juga merambah aneka macam jenis kopi ketika penelitiannya terbukti. Mulai Arabica, Liberica, Robusta, dan Javanica, mampu tumbuh subur di sana.

Buahnya memerah menghasilkan kopi tanpa cela. Tidak ada rasa berubah. Aroma juga nikmat layaknya itu kopi berasal dari daerah beralam sejuk pegunungan. Banyak orang terheran- heran kok bisa tanaman kopi tumbuh di daerah pantai ya.

Mimpi wirausaha


Ia bercerita hidup merupakan tantangan. Dia pernah mengerjakan aneka usaha. Merantau ke Jakarta tidak lain menjadi upaya Yuri merubah nasib. Dia pernah menjadi guru les, penjaga toko, salesman, captai bar, penjaga pintu tol, bahkan terakhir menjadi tukang masak restoran.

Antara Jakarta, kemudian ia ke Madiun, bersinggah di Semarang dan kembali ke Kebumen karena lelah. Mungkin hiruk pikuk kota besar dirasakan cukup. Tahun 2006 dia mencoba membuka usaha gypsum, dan juga menjadi tenaga pemasaran pabrik semen. Juga termasuk usaha jual- beli tanaman bonsai di pasar.

Sibuk berbisnis hingga sore Yuri sempatkan beristirahat. Disela- sela waktu, ia sempatkan mengobrol dengan masyarakat. Sebuah informasi mencengangkan bahwa di Kebumen, dulu, sekitar 5- 10 tahun silam berdiri pabrik kopi Kebumen. Namun kopi mereka tanam adalah kopi Lampung bukan Kebumen.

Apakah Kebumen memiliki kopi lokal. Pertanyaan tersebut menggelitik. Ia melanjutkan obrolan. Hingga ia menemukan fakta Kabupaten Kebumen punya kopi Salam. Sayangnya, produk kopi Salam sudah tinggal kenangan, sudah ditinggalkan masyarakat sangat lama.

Katanya warna kopi lebih pekat. Rasa kopi Salam konon memilik cita rasa lebih tajam juga. Berhentinya budidaya karena harga kopi rendah. Kopi belum sengetran sekarang. Alhasil petani mengganti tanaman kopi mereka menjadi cengkeh. Beberapa membiarkan tanaman mereka mati dan lahan tidak produktif.

Seketika dia mendapatkan inspirasi wirausaha. Ia ingin membudidayakan kopi. Bayangan kedai kopinya sendiri dan tanaman ditanam sendiri. Ia memulai dengan menanam 20 batang pohon. Berbekal akan rasa kepercayaan bahwa Kebumen pernah menjadi pusat tanaman kopi.

Tradisi menaman kopi memang sudah hilang. Banyak warga menganggam Yuri gila. Rasa optimis dia terus tumbuhkan. "Lah nyatanya tumbuh dan besar dan lebat," paparnya. Dia menaman di pekarangan rumah. Ia menunggu telaten pohon kopinya tumbuh. Sembari itu dia mengajak tetangga buat ikutan menanam kopi.

Tahan banting


Dia mengatakan sisa pohon kopi masih ada. Mereka tersembunyi diantara rimbunnya lahan tidak terpakai. Lantas Yuri menawarkan kerja sama kepada masyarakat. Ia menawarkan sistem bagi hasil. Yuri belikan bibit, menanam, merawat, dan memanen, sementara masyarakat mengikhlaskan tanahnya ditanami kopi.

Yuri ikhlas membagi dua hasil. Namun tidak semua petani langsung mengiyakan permintaan itu. Beberapa malah menolak. Untuk itulah dia serius membuktikan bahwa daerah pesisir juga bisa.

Fokus Yuri mengembangkan lahan kritis. Tanah yang tidak diurus pemiliknya. Dijadikan diolah menjadi tanah produktif. Ketika orang umum memilih pinus buat penghijauan. Yuri memilih menanam kopi jadi solusi penghijauan juga. Gerakan penghijauan produktif ini menggaung sampai Kulon Progo.

Menyiasati bisnis kopi diawal. Ia menggunakan untung bisnis gypsum. Dia juga merelakan gajinya jadi tenaga marketing. Sampai dua tahun barulah usaha dijalankan membuahkan hasil. Lahan tidak produktif itu mulai ditumbuhi pohon kopi berbuah. Kian banyak warga mengikuti jejak Yuri menanam aneka jenis kopi.

Pokoknya tidak boleh ada tanah menganggur. Kebumen harus berswasembada memiliki komoditi andalan. Ia mengakui semua dipelajari otodidak. Berbagai strategi menanam mulai okulasi dan stek dicoba. Dari hobinya bereksperimen dia bahkan menghasilkan perpaduan lima jenis biji kopi.

Tujuh tanaman kopi dikembangkan Yuri. Menurut Kompas.com, bahkan mengembangkan kopi lokal yang pernah hampir punah. Kalau melihat tanaman kopi liar di jalan, Yuri akan langsung cabut dan dibawanya ke Kebumen. Banyak tempat dia coba, mematahkan pendapat bahwa kopi cuma ditanam di tanah pegunungan.

Bahkan ada pohon kopi berusia 40- 50 tahun loh. Masih subur berbuah tetapi tidak dirawat layaknya satu komoditi. Dari biji kopi, Yuri merambah teh berbahan daun kopi, kemudian kulit kopi dijadikan pupuk cair dan padat. Hobi eksperimen bersumber dari berbagai tempat. Dia juga orangnya hobi berdiskusi tentang sesuatu.

Ia juga bertanya kepada perajin kopi di luar daerah. Dia lantas mengembangkan produksi kopi jadi. Alasan karena dia tau menjual biji kopi hasilnya dikit. Kopi olahan dihargai lebih tinggi dia sarankan. Sudah jadi makanan sehari- hari hasil eksperimen Yuri tidak sesuai harapan.

Pernah bahkan dia kehilangan 100 kilogram biji kopi. Kegagalan bagi Yuri adalah awal kesuksesan. Lalu ia mendirikan perusahaan sendiri. Brand yang bernama Yuam Roasted Coffee. Yuam berarti namanya dan juga nama Kecamatan Ambal. Dia juga belajar menyeduh kopi sendiri, belajar kursus barista di Jakarta.

Yuri juga bekerja sama dengan banyak kafe- kafe. Total ada 10 kafe dari Kebumen, Magelang, Purworejo, Sukoharjo, Semarang dan Yogyakarta. Yuri sendiri mengaku masih mau terus bereksperimen lewat kopi. Dia juga ingin lebih banyak membantu para petani khususnya kopi.

Impian lain Yuri, adalah tanaman kopi khas pesisir, aneka jenis kopi bisa ditanam di kawasan pantai. Dan ia tidak akan berhenti hanya di Kebumen. Yuri menargetkan pasar ekspor. Sejak 2009, dia memulai usaha, hasilnya mencengangkan contoh satu pohon usia lima tahun menghasilkan 25kg sekalinya panen.

Inovasi kopi


Kopi enak tidak harus mahal. Prinsip inilah mendorong Yuri berkreasi. Hobi eksperimen membawa dia menciptakan suatu alat unik. Yuri menyulap bambu menjadi alat penyaring kopi. Bambu dipotong lantas ia jadikan bak saringan ekspreso. Harga saringan asli ditaksir mencapai Rp.4 sampai Rp.50 juta rupiah.

Nah, kalau kopi sudah kena alat, maka harganya kopi ekspreso mencapai Rp.20 ribu- 50 ribu. Ia mencoba merubah paradigma tentang kopi ekspreso. Ia menawarkan kopi standar kafe. Proses pembuatan saringan ekspreso cukup sederhana loh. Bambu dibikin kayak gelas diberi lubang buat menyaring ampas.

Memang buat menyaring butuh waktu lima sampai sepuluh menit. Pria 37 tahun ini mengatakan hasilnya layak disandingkan ekspreso. Tetapi rasanya tidak kalah, bahkan mungkin unik dibanding kopi ekspreso standar. Pembuatan kopi macam ini sejak 2011 silam, dan dia juga menghias alat penyaring tersebut.

Ada pernak- pernik dipinggiran saringan bambu. Juga ditambahi aneka gambar dan diperhalus teksturnya. Ia menyebut agar banyak masyarakat tertarik. Satu paket kopi bambu seharga Rp.60 ribu sudah termasuk satu saset kopi Kebumen hasil tanamnya.

Sebagai mantan pengusaha muda. Yang masih tertahan menekuni bisnisnya. Ia mengaku masih saja sempat dicemooh gila. Butuh waktu dia memperkenalkan kopi bambu lewat workshopnya. Dia bahkan khusus memperkenalkan lewat komunitas. Dan mulai banyak barista Jakarta membeli kopi bambu karya Yuri.

Untuk melindungi hasil karya. Ia mendaftarkan kopi bambunya. Memang soal hak cipta menjadi masalah tersendiri. Balitbang sendiri menawarkan diri. Melakukan pendampingan agar bisnis terlindungi secara intelektual.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba