Korban Lapindo Kuliahkan Anak Berkat Pepaya Calina

Profil Pengusaha M. Syifa 



Kisah korban lumpur Lapindo itu bernama M. Syifa. Disebutkan oleh pewarta Sidoardjonews.com, pria 54 tahun ini memang dikenal petani kuat. Pernah sekali ia membudidayakan buah blewah, itulah buah musiman yang rasanya segar dimakan. Sayangnya, keberuntungan belum dipihaknya jadi dia memilih usaha lain yang sejenis.

Dia seorang petani asal Desa Kandang RT 09 RW 05 Kec. Krumbung, Kabupaten Sidoarjo. Merupakan sosok petani ulet setiap hari bangun menaburi tanahnya dengan bibit blewah. Ia berharap menghasilkan buah yang berkualitas. Hanya tanah tersebut ternyata tidak cocok ditanami tanaman blewah hingga mati.

Sejak kecil ia memang menyukai bercocok tanam. Mulai blewah, mentimun emas, kegiatan bercocok tanam yang awalnya cuma sekedar mengisi waktu luang. Pria beranak delapan ini kesehariannya merupakan guru pengasuh santri. Sampai dia menjadi korban lumpur Lapindo yang menyesengsarakan hidup orang banyak.

Tetapi tidak mengurangi kegigihan bercocok tanam Syifa. Atas saran seorang temannya, ia lantas beralih ke bisnis pepaya, bercocok tanam pepaya Thailand

Diejek petani


Dia disarankan oleh teman menanam pepaya Thailan. Ia pun berangkat ke Trubus Surabaya membeli benih tersebut. Sayang pepaya Thailand tersebut ternyata tidak didapatkan. Lantas pemilik toko menyarankan dia bercocok tanam pepaya Kalifornia atau Calina.

Saran tersebut diikuti Syifa tanpa pikir panjang. Dibawalah benih pepaya Calina, yang katanya berasal dari negeri Amerika sana. Lima saset ditangan berisi dua puluha biji seharga Rp.30 ribu. Ia menaburkan benih itu ke tanah. Namun, sekali lagi kegagalan ditemui oleh Syifa, bedanya dia tetap ngotot.

Ia meyakini akan sukses. Jadi dia tidak memilih tanaman lain. Meyakini kegagalan diawal merupakan proses yang harus dilaluinya. Percaya akan insting, dia melanjutkan menanam pepaya Calina, "mungkin langkah awal saya untuk melatih kesabaran dan lebih mengenal tentang pertanian," imbuhnya.

Suami Nur Wasilan ini meyakini bahwa Allah pasti menjawab keseriusannya. Kegagal tidak dihitung, terus ia menanam sambil mencari informasi tentang tanaman tersebut. Bahkan dia membeli dua kali lipat dari jumlah bibit sebelumnya dibeli, yaitu sepuluh saset.

Total 200 biji disebar hanya menjadi saratus tiga puluh pohon. Itu saja masih ada pohon yang mati. Jadi dia cuma menghasilkan saratus dua puluh tujuh. Empat bulan berlalu dan pepaya akhirnya berbunga. Hingga ia sekarang menikmati buahnya dipetik. Dalam seminggu pepaya dipanen dua kali, sekali menghasilkan dua kintal.

Pernah sekali dalam proses menanam pepaya dia diejek. Lantaran harga pepaya murah di pasaran. Ngapain menanam pepaya kalau tak laku dijual. "Keuntungan didapat dari mana," kenang Syifa. Gagal dan omongan orang malah menjadi semangat dia menanam lebih banyak. Tanah seluas 1,7 hektar ditanami pepaya Calina semua.

Memang menanam pepaya tidak semudah omongan. Pepaya barulah akan mengeluarkan bunga setelah 6 bulan, setelah 8 bulan sudah tumbuh buah pepaya. Panen menghasilan dua kwintal dijual Rp.350 ribu. Dia menghasilkan omzet sekitar Rp.5,6 juta. Satu tahun minimal pemasukan sampai Rp.60 juta terangnya.

Berkat sabar


"Saya pun menyekolahkan anak- anak saya ke perguruan tinggi," tuturnya. Dalam proses pemasarannya juga tidak ribet. Dia yang kini sudah menjadi Pimpinan Anak Cabang Jam'iyattul Qurra' Wal Huffaz (JQH) NU, Kec. Kerumbung, mengaku pembeli malah datang sendiri. Tidak perlu lah jauh- jauh dia menjual ke pasar tradisional.

Meski begitu lagi- lagi omongan datang. Dia tetap yakin bahwa pepayanya tidak akan cuma dibeli kalangan sekitar.

"Nandhor kates piro kayane, nandhure yo suwe," ejek tetangga.

Alumni SMP N 1 Porong ini tetap bersikukuh budidaya pepaya. Hasil nyata ditunjukan Syifa lewat membeli mobil dan mampu menyekolahkan delapan anaknya. Karena dia memang menyukai bercocok tanam, maka dia tidak merasakan letih mengerjakan.

Dia terkadang dibantu istri dan anak ketika panen. Selain pepaya, dia merambah cabe, terong, dan melon di kebun di sela- sela pohon pepaya. Syifa juga menanam pepaya jenis merah delima dari Solok Sumatera, lalu pepaya Solinda dari Bangkok, Thailand.

Ekpansi bisnis Syifa termasuk memproduksi bibit sendiri. Lewat gelas plastik bekas air mineral ditaburi bibit hasil tanamannya. Akhirnya tetangga ikutan membeli bibit dan pelanggan juga membeli bibit. Mochamad Syifa menjual pepaya secara satu seharga Rp.6.000 sampai Rp.7.000, yang rasanya manis, atau datang ke rumahnya.

Jual Kepiting Untung Miliaran Modal Awal Jutaan

Profil Pengusaha Heriansyah 



Menjadi pengusaha banyak jalannya. Asal kita menemukan bisnis tepat maka waktu akan menyesuaikan diri. Inilah kisah Heriansyah, pria kelahiran Balikpapan, 17 Agustus 1976 silam, yang menceritakan kisah awalnya bagaimana memulai bisnis kepiting.

Kota Balikpapan sudah dikenal sebagai penghasil komoditi ikan. Tetapi tidak lantas membawanya menjadi seorang pencari ikan. Perjalanan justru membawanya menjadi sopir carteran. Hanya dilubuk hatinya paling dalam ingin membuka usaha.

Mau usaha apa belum direncanakan. Hanya dia meyakinkan pekerjaan selama itu sebagai batu loncatan. Dia bukan terlahir dari keluarga nelayan. Bukan pula keluarga pengusaha ikan di Balikpapan. Hanya seorang sopir carter perusahaan. Jikalau sepi carteran, maka Heri -begitu panggilannya- akan bekerja jadi sopir taksi gelap.

"...latar belakang keluarga saya bukan nelayan atau pengusaha ikan," ujar warga Manggar, rumahnya Jalan Mulawarman, Balikpapan.

Dia tidak punya modal uang. Hasil bekerja dikumpulkan sampai menumpuk. Dengan sabar, hingga 1997, ia membuka bengkel motor menjadi usaha pertama. Namun, usahanya ternyata belu tepat, maka waktu itu ia bangkrut tidak bertahan lama.

Bengkel tertutup maka mau usaha apa. Akhirnya Heri menyadari sekitarnya bahwa ada potenis bisnis yang ia luput. "Saya sempat bingung ingin usaha apa," kenang Heri. Perlu diketahui memang di Pulau Kalimantan itu terkenal akan komoditas lautan.

Modal usaha 3 juta


Suami dari Rintih Dewi Astuti ini, melirik usaha komoditi lautan, kan di tempat tinggalnya sekitar merupakan para nelayan. Bisnis lauatan dipikirnya ada potensi. Ayah tiga anak ini lantas mencoba berbisnis ikan. Tepat di tahun 2008 dia mulai kulakan ikan jadi bisnis.

Menjalankan bisnis ikan ternyata tidak segampang dibayangkan. Pada akhirnya, Heri kembali tidak sukses berbisnis, kali ini bahkan sampai defisit keuangan. Bisnis Heri tidak mengalami perkembangan selama satu tahun berjalan. Sampai di 2001, ia menyasar bisnis udang, dan usaha bakul ikan ditinggalkan berganti lagi.

Kembali dia cuma bertahan selama setahun. Nampaknya bisnis udang masih juga belum menjadi bisnis tepat. Masih bertahan di bisnis perikanan, ketika melihat restoran menjajakan menu kepiting, otak Heri langsung terkoneksi dia harus berbisnis kepiting. "Saya coba berbisnis kepiting," tutur pria murah senyum ini.

Tahun 2002, dia memulai usaha binatang bercapit itu, dan hanya mempekerjakan satu orang rekan. Bersama mereka mengumpulkan kepiting kecil untuk dikirim ke Surabaya. Mulai dari menyasar pasaran kecil terlebih dahulu. Heri menjual perkilo kepitinganya seharga Rp.300 ribu. Keuntungan pertama diakui Heri tidak begitu banyak.

"Keuntungan waktu itu hanya beberapa juta per- bulan," imbuh Heri.

Lalu putra almarhum Aliansyah dan Aminah ini, mulai menempa dirinya dengan segala pengetahuan tentang kepiting. Hasilnya omzet usaha Heri naik, bahkan sampai menyentuh puluhan juta. Permintaan datang sampai ke orang kargo. Sampai di 2005, Heri tercatat sudah melakukan ekspor, mulai kepiting telur ataupun besar.

Terus berkembang


Perlahan namun pasti usaha dijalankan Heri mulai nampak. Kemajuan tercatat mulai awal 2008, dimana Heri setiap hari mampu mengirim berton kepiting ke daerah serta restoran di Balikpapan. Cuma bermodal uang tiga juta waktu pertama kali. Kini, omzet Heri menembus angka miliaran baik dari ekspor dan sebagainya.

Ia pun telah membuka harapan. Lapangan pekerjaan dibuka oleh Heri, terutama bagi para nelayan kepiting ataupun pembudidaya kepiting. Kalau sebelumnya cuma dua pegawai sekarang dia mempekerjakan puluhan orang. Meski begitu banyak aturan pemerintah sempat menggoyah keberlangsungan usaha Heri.

Sebut saja di tahun 2009, aturan maskapai yang hanya membolehkan satu lubang kecil. Satu tersebut dibuat untuk satu kerdus berisi beberapa kepiting segar. Alhasil banyak kepiting mati dan merugikan pihak pengirim tentunya. "Hal itu membuat banyak kepiting mati saat proses pengiriman," paparnya.

Beruntung berkat usaha bersama hal tersebut teratasi. Pihak maskapai menyetujui memberikan satu lubang besar di pesawat. Sampai terbitnya Permen (Peraturan Menteri) Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen- KP/2015 dan surat edaran susulan nomor 18/MENKP/1/2015 membuatnya pusing kembali.

Ini menyangkut penangkapann lobster, kepiting, dan rajungan, yang membuat banyak pengusaha hasil laut di Balikpapan merugi. Namun Heriansyah mesih optimis mampu menjalankan usahanya. Masih mampu dia menafkahi karyawan serta keluarga.

Tidak surut


Berawal dari bermain kepiting BS atau sortiran. Kini, Heri tercatat memiliki aneka kepiting lengkap siap jual, seperti 16 jenis kepiting bakau. Mulai kepiting jantan, betina, kepiting soka, BS, dsb. Bermain kepiting super lebih menghasilkan. "...di kepiting jenis BS yang perkilonya hanya Rp.8 ribu."

Ketika ditemui perwarta di kediamannya, Jalan Mulawarman Manggar Baru RT. 15 No 20, Balikpapan Sel. ini, menyebutkan dari 16 jenis tidak semua memberi untung. Istilahnya ada kelebihan dan kekurangan soal mereka. Untuk mengurangi kerugian ditetapkan Heri sistem dibayar langsung. Semua agar tidak bertambah rugi.

"Saya terapkan habis timbang langsung bayar. Soalnya dulu saya pernah pengalaman soal uang macet itu," ia berujar.

Berbisnis kepiting punya resiko besar dibelakang. Oleh karenanya, Heri selalu ambil ancang- ancang lewat cadangan modal. Kalau dilihat keseluruhan penghasilan sampai miliaran, tetapi faktanya per- hari selalu saja ada biaya pengeluaran. "Ini bisnis resikonya juga besar," jelas Heri. Utamanya karena biaya sehar- hari buat oprasional.

Pendapatan besar setiap hari sebanding pengeluaran operasional. Menjadi titik rawan selalu dicermati Heri. Ia tidak mau kecolongan sebuah antisipasi saja.

Untuk kepiting bakau pasarnya meliputi restoran seafood dan pasar tradisional. Kepiting bakau Heri disebut merambah Dandito, Ocean's, dan Bondi (nama restoran). Untuk pasar tradisional kepitingnya dapat ditemui di Pasar Klandasan. Adapula pengiriman ke luar Jawa, seperti ke Kalimantan, Bali dan Surabaya.

Untuk pasar ekspornya?

Heri menjelaskan dia mengirim ke China. "Hanya saja melalui eksportir dari Jakarta," terangnya. Maka itulah biaya ekspor sebenarnya lumayan tinggi. Ada pengeluaran khusus dianggarkan. Maka jangan salahkan jika keuntungan dihasilkan sering naik- turun. "...disamping cost eskpor yang mahal juga. Harga juga ada yang mengendalikan."

Dikirim ke Jakarta, Heri mengirim sampai satu ton sampai ke China jika lautan tengah pasang. Ini berbanding terbalik kebutuhan lokal. Ia menyebut hanya mencapai 200- 400 kilo setiap hari. Harga perkilo relatif beda tergantung jenis kepiting dari Rp.25 ribu- 190 ribu per- kilo.

Meski besar di ekspor, semua tergantung akan kebutuhan. Pasalnya China memilik musim tertentu dimana ia mampu menjual lebih banyak dan menutupi biaya operasional. "Kalau ada perayaan ya ekspor bagus ada ya rugi," jelas Heri.

Meski begitu ia berharap agar pemerintah tetap memperhatikan nasib nelayan. Utamanya bagaimana cara agar harga stabil untuk ekspor ke luar. Ini dimaksudkan harga tidak turun mengikuti harga luar. Nah, selepas itu barulah mengatur penangkapan kepiting, udang, dll. "Jadi nelayan tidak sembarangan menangkap." tutur dia.

Prospek bisnis kepiting masih positif. Heri tak lupa memberikan tips bagi kamu pengusaha pemula. Yaitu ia mengingatkan jangan boros. Manajemen keuangan dari bisnis harus diorganisir diperkuat. Istilah dia pakai ialah pengeluaran sekecil apapun harus diperhitungkan.

Heri sendiri enggan menyebut angka pasti untung pribadi. Tetapi ia meyakinkan dari usaha kepiting dirinya sudah mampu menghidupi keluarga, dan 8 orang karyawan gudang dan dua karyawan di lapangan. Untuk kepiting asoka, Heri telah memenuhi kebutuhan pasar sampai 200 kilo per- hari.

Daging Sapi Berbahan Tempe Dawa Dawa Ceria

Profil Pengusaha Muhamad Hidayat



Menjadi pengusaha berarti siap berkreasi. Seperti kisah mantan reseller baju ini mencoba hal baru. Namanya adalah Muhammad Hidayat, seorang pengusaha muda asal Makassar, Sulawesi Selatan, kelahiran 29 April 1992. Yang mana profilnya sulit ditemukan tetepi kami mencoba mencari cerita terbaik.

Usahanya adalah membuat daging organik. Atau daging nabati menurut pengakuannya. Usaha tercetus ketika harga daging naik memberikan peluang. Harga daging di pasar Makassar khususnya memang tegolong tinggi. Hidayat menyebut Rp.95.000 per- kilogram. Harganya mahal butuh olahan pengganti tetapi masih sama di kualitas.

Hidayat berpikir menciptakan sesuatu, yang sama- sama bergizi, memiliki kemasan kekiniaan, serta tentu jadi lebih ekonomis. Membuat produk alternatif daging sapi buat dijadikan olahan seperti burger. Maka dia cari ke penjuru internet bagiaman membuat tempe jadi daging.

Yah berbahan tempet, usaha bernama Dawa Dawa Ceria ini, memberikan sentuhan kusus. Ditambah bumbu rahasia mampu membuat rasanya seperti daging sungguhan. Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) ini meyakinkan tidak terasa beda.

Ia sendiri merupakan mahasiswa perikanan. Usahanya dijalankan melalui serangkaian percobaan. Sampai ia benar menemukan rasa sesuai harapan. Menjadi daging nabati berasa sapi. Tempe pilihan menjadi andalah pemuda ini. Diberikan bumbu kemudian tempe digiling sangat halus. Tekstur dibuat agar tidak terasa tempe di mulut.

Dan ketika dicobakan ternyata hasilnya memuaskan. Ia menyebut butuh waktu percobaan sejak tahun 2012 sampai 2013. Lalu, dari eksperimen setahun tersebut, terciptalah daging nabati tetapi tidak langsung terburu- buru dipasarkan. "Rasanya seperti daging sapi, padahal enggak ada campuran daging sama sekali," papar dia.

Cara marketing Hidayat terbilang unik. Dia tidak memasarkan daging tersebut mentah. Malah memilih untuk membuka usaha burger dan kebab di Makassar. Bayangkan harga daging nabati dipatok Rp.2000/pcs, lalu dia olah dan jual lagi, maka untungnya berlipat jadi Rp.7 juta per- hari hanya satu gerai miliknya.

Melihat peluang lebih luas, dia mencoba menjajakan berbentuk mentah, atau seharga Rp.2000/pcs. Yang mana omzetnya sekarang (ditambah bisnis burger kebab) mencapai Rp.50 juta/bulan. 

Kebutuhan akan satu alternatif daging terbaca olehnya. Harga yang terjangkau tetapi rasa hampir sama laku terutama dikalangan mahasiswa. Cuma 2- 5 tahun bisnis siap berekpansi ke pasar luar Makassar. Dia yakin peluangnya masih besar di luar sana.

Bagaimana Rasanya Menjadi Pewaris Universitas Swasta

Profil Pengusaha Candice Gorianuy 


  
Menurut pengakuannya sendiri, dia terpaksa harus "menendang dan berteriak" coba menolak bisnis keluarga hanya beberapa bulan selepas dia lulus kuliah, Anteneo de Manila University di pertengahan 1990 -an.

Hanya saja hidup -dan ayahnya- memiliki rencana lain bagi Yvette Candice Gorianuy, yang pada akhirnya ia tidak bisa menolaknya. Dia sekarang dikenal sebagai sosok berpengaruh di Filipina.

Seorang entrepreneur maju berjiwa kepemimpinan kuat. Padahal, seingat Candice dulu, dia ingin menjadi pengacara dibanding menjadi pengusaha. Sudah masuk ke jurusan hukum, lulus, dan mencoba melanjutkan pendidikan lagi. Hingga, waktu itu, ketika sekolah hukum baru dimulai, ayah mengajaknya makan malam.

Ayahnya berkunjung ke Manila dan mengajaknya makan malam. Ayah Candice, Augusto Go, merupakan seorang businessman dan juga pemilik University of Cebu.

"Saya pikir dia takut saya akhirnya jadi gelandangan," tawanya renyah. "Jadi dia dudukan saya dan berkata ke saya "Aku membuka kampus baru dan aku mau kamu menjalankannya"," kenang Candice.

"Jadi sebagai hadiah kelulusan mereka, beberapa anak akan keluar negeri, atau orang tua mereka memberi mereka perjalanan ke Eropa, ataupun dapat mobil," ujarnya kepada Inquirer.net -terdengar penuh rasa iri jika didengar. "Saya... pergi bersekolah untuk berlari."

Pada awalnya dia berpikir akan menolak saja kesempatan menjalankan sekolah. Tetapi akhirnya tidak dapat dilakukan karena perasaan tanggung jawab.

"Pelajaran dipetik dari cerita diatas ialah: Jika seorang laki- laki datang -siapapun itu- mengajak kamu makan malam mewah, dia mau sesuatu dari mu," candanya lagi, disusul tertawa terpingkal. "Itu berlaku melampaui batas level."

Perjalanan panjang


Selama 14 tahun menjalankan karir di University of Cebu, bekerja menjadi education consellor, Candice bertanggung atas empat kampus yang terkenal di pusatnya, Visayan Island. Dia juga menjalankan kampus terpisah untuk institusi lain bernama Collage of Technology Science.

Candice semakin bertanggung jawab atas kampus swasta tersebut. Bahkan Candice malah mengambil gelar master di bidang pendidikan, di Harvard University.

Dia belajar banyak dari kampusnya orang sukses tersebut. Lalu membawa pengetahuan tersebut ke tempat dia bertugas. Memang reformasi dibutuhkan terkadang menyakitkan. Harus ada orang baru yang masuk dan orang lama keluar dari kampus.

Menurutnya, meskipun begitu, ketika seorang pemipin menggelindingkan "perubahan" dan "reformasi", maka kamu akan menemukan momentum.

Jika kamu memiliki passion tentang kualitas dan layanan terbaik, maka kamu harus percaya atas cara kamu membangun organisasi. Maka kamu akan menarik perhatian mereka yang memiliki sudah pandang sama. Ia menambahkan bahwa kamu harus tenang, karena kamu akan menarik orang bervisi sama dan akan merubah sistem.

Memang, berawal dari sekolah kampus kecil oleh sang ayah, pada 1964 lantas tumbuh besar. Semua orang berkata sekitar 44.000 mahasiswa belajar di berbagai kampus didirikannya. Mereka mulai dari mengambil jurusan kelautan, teknologi informasi, keperawatan, dan paling baru, teknik mesin.

"Kami merupakan kampus swasta terbesar di negara ini," aku Candice, "Tetapi saya maunya kualitas, lebih dari sekedar angka."

"Kami berinvestasi di fasilitas dan orang," tambahnya. Hal paling baru, Candice juga ditugaskan menjalankan rumah sakit St. Vincent General Hospital, rumah sakit level tiga yang memiliki 100 kasur, yang dia ingkan jadi rumah sakit terbesar dan layanan terlengkap di Cebu.

Sekali lagi, baginya situasi baru memberikan tantangan kembali bagi karirnya. Sebuah situasi komunitas yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam bisnis mereka. Untuk mengisi waktu luang dari kejenuhan akan rutinitas, maka dia memiliki satu hobi sekaligus passion lain; berkuda.

Bisnis sekolah


Jika waktu memungkinkan, dia akan bersekolah kuda di Lahug, Whistlejacket Farms, dimana dia mencoba menyempurnakan gaya berkudanya; dia menyukai berkuda bukan pamer lompatan.

"Itu salah satu hal mewah saya menikmati," jelas Candice. Berkuda sangat menarik, karena setiap sisinya itu memiliki kepribadian berbeda, kita tengah berbicara sifat sang kuda sendiri.

Menurutnya, berkuda mengurangi stress bekerja menjalankan kerajaan universitas miliknya, dan dapat jadi satu titik penyemangat di pagi hari.

Candice juga menyukai musik terutama menjadi fans band U2. "Band terbaik di dunia," tambah Candice lagi, mencoba meyakinkan kamu. Maka tidak salah jika dia memiliki semua DVD konser milik mereka. Dia juga masuk ke kelompok penggemar khusus, memberikan tiket konser awal dimanapun terutama New York.

Dia berkata bahkan dia dapat memasan dua tiket satu tahun kedepan. Jika event -nya sudah direncanakan selama satu tahun sebelumnya, maka Candice dapat duluan. Ia pernah sekali memesan dua tiket sekaligus. Dan ketika pewarta bertanya, Candice menjawab, untuk kemungkinan mendapat lelaki masa depannya.

Akhirnya Candice membuang tiket tersebut. "Tetapi itulah jalan hidup. Saya bisa menjadi impulsif, tetapi saya coba mencoba melanjutkan hidup, hidup untuk memenuhi diri sendiri."

Jadi dimana pelampiasan cintanya setiap waktu?

"Untuk kuda- kuda saya? Selalu," ujarnya sambi tertawa tetapi lantas berubah menjadi serius. "Ketika orang tepat datang, maka akan selalu ada waktu."

Bertanya tentang pencapaian paling membanggakan sejauh ini, maka tidak tentang suksesnya mengangkat kampus swasta miliknya. Ataupun tentang senangnya pemegang saham, ataupun tentang tantangan terbaru yaitu ia harus menjalankan rumah sakit.

Tetapi dia malah menunjukan kliping koran sebuah pristiwa. Yakni kecelakaan kapal tenggelam tahun 2008, dimana banyak orang terselamatkan berkat sang kapten. Dan perlu kamu tau nih, kapten kapal laut ternyata adalah mahasiswa University of Cebu. "Kami menjadi lebih terorganisir karena kami tau apa yang kami mau."

"Inilah momentum paling membanggakan," ucapnya. "Saya berpikir kami membuat perbedaan disini."

Kata Motivasi Tantangan Terbesar Pengusaha Muda


"Tantangan terbesar kamu sebagai entrepreneur bukanlah bagaimana menutupi ide kamu agar tetap menjadi rahasia, tetapi tentang bagaimana meyakinkan orang bahwa kamu sebenarnya tidak gila dan kamu bisa membuktikan hal tersebut," Sean Parker, co- founder Facebook.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba