Pengusaha ini Melanggar Hak Paten Evrawood

Profil Wahyu Adji Evrawood


evrawood.png

Pengalaman pengusaha ini melanggar hak paten begitu berkesar. Pendiri Evrawood hanyalah anak dari keluarga biasa bercita- cita sukses. Dia ingin menjadi pengusaha. Baru sukses setelah melewati aneka masalah. Ketika dewasa dia dikenal sebagai pemilik Evrawood.
 
 
Tiap orang memiliki fase dalam kewirausahaan. Beda- beda adapula orang tidak memulai dari nol. Ada yang memulai dari nol tetapi jauh sebelum dewasa. Kisah kali ini ada seorang Wahyu Adji Setiawan. Sejak SMU sudah berbisnis sendiri, aneka usaha telah dilakoninya sejak masa- masa itu. 
 

Menjadi Pengusaha

 
Prinsip awalnya yakni menjual barang untuk menambah uang saku. Dia mulai berjualan barang- barang mode, seperti jualan kaus, celana ataupun tas. Bisnisnya berlanjut hingga dirinya masuk ke Universitas Negeri Surabaya. 
 
Dalam catatan Detik.com, Adji ternyata pernah "mencoba" jadi pegawai. Kenyataanya itu tak berhasil, toh, memang lah hasratnya ada di kewirausahaan. Berjualan stiker, kaus, bahkan juga pernah berjualan pecel dan crepes. Kisah pun berlanjut bahwa dia juga pernah ditawari menjual 400 tas oleh dosennya.

"Saya terima saja, ketika pulang baru mikir dari mana tasnya," ujarnya kepada CNN Indonesia.

Jiwa pengusaha sudah terbentuk sejak dini. Masalah apapun dihadapinya tanpa ragu. Apapun kesempatan usaha selalu dijalaninya. Ia pernah tercatat sebagai pengelola toko Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. 
 
Di toko tersebut Adji menjual aneka barang seperti aksesoris HP, kaos, stiker, dan minuman ringan. Setiap ada peluang selalu siap sedia dilakoninya penuh semangat.



Yang terbesar dia pernah menyanggupi mengadakan barang buat kampusnya. Pengadaan atau pun tander kaus untuk mahasiswa baru. Dia pun berhasi memenangkan tender senilai 1.200 kaus. Caranya memenangkan tender terbilang unik. 
 
Karena sebagai mahasiswa, dia sama sekali tak memiliki pabrik sendiri, cuma bermodalkan pesan ke konveksi yang dikenalnya. Sayangnya, usahanya tak berjalan sesuai rencananya.

"Uang muka tak cukup karena pabrik minta uang 50%, sementara dari kampus hanya cukup membayar 30% uang muka," jelasnya kepada wartawan.

Disanalah ia belajar tentang 'apa itu negosiasi', dari sanalah cuma bermodal KTP, akhirnya ia sukses untuk memenuhi permintaan pihak konveksi. Ya, Adji tak punya uang sama sekali, satu- satunya cara ialah ia meninggalkan kartu tanda penduduknya. 
 
Sukses terbayar semuanya lantas disusul banyaknya pesananan lain berdatangan kepadanya. Kerja keras Adji tercium oleh dosen dikampusnya. Dia ditantang untuk masuk ke bisnis tas, yang mana seperti penulis ceritakan diatas.

Tahun 2006, seorang dosen menawari pria asli Kebumen, 10 Maret 1986, ada orderan tas yang perlu ia penuhi. Adji sama sekali tak menolak tantangan tersebut. Tanpa pikir panjang disanggupinya, kemudian ia memesan tas dari Tanggulangin, sentra produksi tas di Sidoardjo, Jawa Timur. 
 
Mulailah pengalamannya masuk ke bisnis tas semakin dalam. Semakin dalam masuk membuat itu menjadi passion -nya hingga sukses seperti sekarang.

Lebih mudah


Ada perbedaan antara berbisnis tas dibanding kaus jelasnya. Terutama jika berbicara tentang ukuran kaus yang harus pihak konveksi produksi. Sering akan terjadi revisi disoalan ukuran pesannan. Akhirnya, Adji memilih fokus pada satu bisnisnya, yakni memproduksi berbagai macam tas.

Memulai usaha sejak dini membuatnya mudah beradaptasi. Hanya ingin punya tambahan uang saja, awalnya, ia pun lantas memilih fokus pada usahanya sendiri. Berbeda dengan teman- temanya dimana selepas kuliah jadi pegawai. Sebetulnya ia sendiri pernah melamar kerja loh. 
 
Pernah terpikir untuk kerja sambilan saja dibanding kesana- sini mencari orderan. Total 5 buah lamaran sudah dikirimnya. "Untung gak diterima, kalau diterima saya enggak mungkin seperti ini," selorohnya.

Pria plontos ini memang lebih senang berjualan. Faktor efisiensi seperti soal ukuran menjadi alasan memilih berbisnis tas. Tak perlu memproduksi ukuran S, M, L, XL dan sebagainya. Tas itu enggak ada ukurannya, ujar Adji. 
 
Kelebihannya yang lain dari pengalamannya adalah segi bahan mudah dihitung. Soal penjualan, ia menjelaskan itu lebih mudah terjual, kalau pakaian kan soal ukuran. Jika ukurannya tak sesuai, bisa saja tak laku terjual.

Selepas kuliah langsung lah Adji mengajak temannya serius berbisnis. Langkahnya tersebut berbekal sudah berbekal pengalaman panjang. Sayangnya, ketika sukses punya usaha sendiri, bernama Ortiz, disaat itupula serbuan produk asing melanda. 
 
Ada merek- merek seperti Adidas, Nike, dan lain- lain sudah merajai pasar lokal kita. Tak pantang menyerah, Adji optimis kepada bisnis lokalnya, selain bersaing dengan merek- merek itu. Adapula merek- merek lokal mesti dihadapinya.

"Kelemahan waktu itu branding -nya. Waktu itu orang pikirannya merek itu nomor satu. Adidas bikin kantung  plastik pun laku mahal dijual. Beda dengan lokal meskipun produknya berkualitas," ujarnya lagi, menambahkan realita kewirausahaan sekarang.

Fokusnya adalah menyasar perusahaan- perusahaan. Gunanya adalah memenuhi permintaan mereka, yang rata- rata, ada untuk kebutuhan pegawainya. Sebut saja ada sebuah perusahaan Surabaya yang memasan tas darinya, untuk tas bepergian ataupu buat umroh dan haji. 
 
Seiring waktu semakin banyak pesanan datang ke padanya. Adji sebagai pemilik merek mulai kesulita ketika berhubungan dengan pengrajin. Ya, susahnya untuk mengatur mereka karena bukan pegawainya.

Hal- hal seperti keterlambatan memenuhi pesanan mulai terjadi. Untuk mendapatkan industri yang mau kerja untuk mereknya juga gampang- gampang susah. Mereka akan memilih mendahulukan pesanan besar, dan masalahnya ialah kala itu Adji baru saja memulai. 
 
Untuk itulah ia menerapkan konsep perjanjian dimuka, agar mereka mengerjakan pesanan miliknya tepat waktu.

"Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda," terang Adji.

Dari sekedar membuatkan tas travel atau memenuhi kebutuha perusahaan, Adji ingin punya brand sendiri, akhirnya, ia punya brand fashion -nya sendiri yakni Ortiz. Merupakan tas kasual bagi kamu yang mana pasar produknya manyasar Malaysia dan Singapura. 
 
Sebagai pengusaha pemikirannya berkembang, kesemua itu demi keberlangsungan usahanya. "Idealisme saya sangat tinggi saat itu, ingin punya merek dengan desain sendiri," ungkapnya. Jiwanya merasa tertantang untuk membangun brand -nya sendiri. 
 
Karena memang dirinya merasa senang untuk membuat desainnya sendiri. Tidak monoton seperti apa yang dipesannya dari konveksinya. Awal 2010 barulah merek Ortiz dipasarkan. Sebelum satu tahun berjalan bisnis barunya. 
 
Ada masalah, yakni masalah pelanggaran hak paten, pasalnya merek dagang Ortiz sudah dipatenkan. Yakni oleh perusahaan asal Spanyol dimana memberinya somasi langsung. Dalam pasalnya disebut bahwa ia wajib menarik semua produk bermerek Ortiz dari pasaran. 
 
Jika tidak dilakukannya segera, bukan main akibatnya, yaitu dalam dua bulan jika tidak ditarik maka: Adji akan dituntut sebesar Rp.7 miliar. Padahal ketika itu dirinya sudah mendapatk kontrak 6.000 tas selama setahun. Dia pun menark kesemua produknya. 
 
Sebagai efeknya, Adji harus menanggung kerugian, yaitu kerugian dari kontrak itu sebesar Rp.600 juta. Mungkin karena fokus Adji pada pasaran asing, makanya produknya itu menjadi sorotan pemilik brand. Di penelusurannya, dia menemukan bahwa mematenkan brand itu penting. 
 
Dalam hal ini jikalau kamu mau membuat paten Internasional maka di Singapura lah jalannya. Kembali ke bisnisnya, fokus pada pasar di luar negeri, Adji memandang di luar pemikiran orang Indonesia. Faktanya orang Indonesia memang selalu melihat merek bukan kualitas.

"Jadi, standar kualitasnya internasional," kata Adji.

Berkat kasus pelanggaran hak paten, Adji baru tau "dari situ baru saya tau, pendaftaran paten yang diakui secara internasional harus di Singapura." Akibat pristiwa tuntutan tersebut makalah ia harus membatalkan nilai kontrak vendor. Adji terpaksa berhenti berproduksi selama dua bulan. 
 
Banyak tagihan vendor dan juga pemasok barang banyak tak terbayar kenangnya. Tak mau terpuruk lama makalah ia mengunjungi pihak- pihak terkait.

"Kalau bahasa bisnisnya itu potential loss. Saya harus bayar ke mereka Rp.600 juta karena saya gagal untuk memenuhi target 5.000 tas yang mereka pesan," jelasnya.

Dia meminta tenggang waktu kepada vendor. Meminta untuk bisa membayar mundur. Modalnya hanyalah satu yakni kepercayaan diri yang tinggi. Selain itu karena selama berbisnis tidak ada masalah. Adji yang juga menjaga kepercayaan mereka. 
 
Jadilah ia dibolehkan membayar mundur. Bahkan, tidak hanya itu, ia diberi modal berupa pinjaman bahan baku untuk memproduksi kembali. Untuk kali ini, awal 2011, pengusaha muda yang satu ini memulai kembali.

Dari nol usahanya punya brand terbaru yakni Evrawood. Bahkan untuk menanggulangi hal- hal sebelumnya, maka, ia langsung bergegas mendaftarkan paten ke Singapura. Dia lantas merekrut orang- orang baru. Dia fokus pada kualitas bahan serta cara pembuatannya. 
 
Bahkan agar semakin cepat laris produk Evrawood membari garansi tiga tahun, ujar pengusaha 29 tahun tersebut. Selain di Indonesia, tas kasual urban ini, telah dipasarkan ke Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia.

Kapasitas produksinya mencapai 1.000 item, jikalau di dalam dijual dikisaran 400.000, maka pasaran di luar negeri akan mencapai Rp.1,8 juta- Rp.2,5 juta.

Bunda Yeni My Darling Bisnis Sampah Plastik

Profil Pengusaha Yeni Mulyani Rondonuwu Hidayat

 
bundayeni.png
 
Bunda Yeni My Darling bukanlah pengusaha sembarangan. Yeni bisnis sampah plastik yang identik menjadi masalah. Kini bukan lagi identik sebagai masalah melainkan peluang. Ini menjadi peluang bagi masyarakat, dan bisa mencapai angka miliaran rupiah loh.
 
Untuk kali ini, dikisahkan seorang wanita 32 tahun, yang bernama lengkap Yeni Mulyani Rondonuwu Hidayat, A.Md. Merupakan pendiri dan sekaligus penggagas usaha yang berbasis sosial, My Darling. Yang jika dipanjangkan berarti Masyarakat Sadar Lingkungan. 
 
Sebuah usaha yang bermodal sampah dari masyarakat luas, Jawa Barat khususnya. Menurut sumber Detik.com, kisahnya bermula, ketika puncak kekesalannya akan sampah. Dia melihat ada sampah berserakan dimana- mana. Perasaan kesal bergumam dalam hatinya. 
 

Pengusaha Sosial

 
Hingga, mendorong Yeni untuk mengumpulkan sampah- sampah tersebut. Mulai dari sampah botol plastik, botol minuman ringan, koran bekas dan segalanya. Itu  kemudian dijadikan satu entah apa yang akan dilakukannya.

"Awalnya dari kesal melihat sampah, gemes melihat sampah di jalanan, jadi saya di mana pun, ke mana pun, kalau melihat sampah pasti saya pungut," ungkapnya.

Tentu hal tersebut dipandang aneh oleh orang sekitarnya. Kegiatan mengumpulkan sampah wanita nyentrik ini jadi sindiran bahkan hinaan "gila". Bahkan beberapa orang memanggilnya pemulung. Tapi justru itu malah membuat Bunda Yeni menjadi bangga. 
 
Tumpukan sampah tersebut benar membuatnya "gila". Wanita asal Cianjur, Jawa Barat, ini kemudian menemukan ide menyulap sampah. Menyulapnya menjadi aneka produk seperti bros, tas, tikar, topi, jam dinding, tempat pensil.dll.

Perlahan tapi pasti apa yang dibuatnya menarik hati masyarakat. Bermodal mulut ke mulut dijualah produk- produk unik tersebut. Sejak memulai usaha tersebut sudah ada 4 orang ikut membantu wanita, yang jika kami amati, sekilas nyentrik seperti Menteri Susi.

Perusahaan sampah


Didirikanlah sebuah perusahaan kecil- kecilan di kawasan Halimun, Setiabudi, Jakarta Selata, yang ia lantas namakan Bank Sampah My Darling. Tepatnya berada di Jalan Sultan Agung No.20 RT. 001/01 Kalurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan. 
 
Telah diresmikan oleh Walikota -nya sendiri pada 14 September 2012. Namanya Bank tugasnya memang mengumpulkan. Bedanya jika Bank Sampah adalah yang mengumpulkan sampah.

Sampah tersebut diolah menjadi bahan baku aneka produk kreatif. Akhirnya bisa diolah menjadi tas- tas unik yang tak bisa kamu temui di toko- toko biasa. Yeni sendiri bertuga menjadi Direktur di Bank miliknya sendiri.

Dibantu oleh 4 rekannya, yang masing- masing kebagian menjadi Sekertaris, Manager Keuangan, Bagian Penimbangan, dan Pengepakan. "Saya sarjana Perbanas. Cita- cita saya tercapai beneran jadi direktur tapi jadi direktur Bank Sampah," kata Yeni sambil tertawa kecil.

Produk yang dihasilkan dijual dengan aneka kisaran harga. Misalnya ada bros dari botol air mineral yang ia jual seharga Rp.5000, kalung dari koran bekas yang dibandrol harga Rp.50.000. 
 
Kemudian ada pula tempat pensil dari koran bekas seharga Rp.17.000, namun ada pula yang seharga Rp.35.000. Kemudian ada tempat tisu yang seharga Rp.95.000, mengejutkan bukan? 

Yang paling menarik ialah tikar dari plastik kopi, yang mana panjangnya mencapai 1 meter. Tikar itu terbuat dari 1.963 bungkus kopi yang mana dipatok harga Rp.200.000. Adapula tas dari botol minuman dibandrol sama. Untuk tas dari bekas botol minuman dibutuhkan 200 helas minuman kemasan. 
 
Tas tersebut bisa lantas dijual seharga Rp.300.000- 400.000. Berbicara soal omzet, Yeni menuturkan, dirinya dan kawan- kawan bisa meraup omzet Rp.15 juta per- bulan. 
 
Pasarnya dijual hingga ke luar negeri yakni Darwin, Australia, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Malaysia bahkan Nigeria. Moto Yeni sendiri adalah bagaimana merubah sampah menjadi gaya hidup. Yakni kita harus bersahabat dengan sampah karena itulah solusi sampah.

Produk unik


Jangan salah terbuat dari sampah bukan berarti menafikan keindaha. Bunda Yeni memang punya jiwa seni yang mana terpancar dari karya- karyanya. Awalnya, dia cuma memakainya sendiri, membawa tas terbuat dari plastik bekas itu kemana- mana. 
 
Hingga tiba- tiba ada seorang bule Prancis mendekatinya. Ketika itu, dalam tulisan sebuah blog nurulhoeda.blogdetik.com, sang Bunda Yeni sempat kepedean karena memang si bule ganteng. Sempat merasa mau didekati, eh ternyata, ia cuma tertarik dengan tas plastik tentengannya. 
 
Langsung saja, si Bule itu menyebut How much? Berapa harganya itu kiranya apa yang coba ia lontarkan. Karena memang tak berniat menjual, ia nyeletuk sedanya, "seven hundred thousand rupiah" jawabnya. Tujuanya sih agar si bule tak berani membayarnya. 
 
Ternyata malah kebalikannya yaitu langsung keluar kontan; tanpa menawar lagi. Si bule sendiri sadar bahwa tasnya terbuat dari sampah kertas. Menurut penjelasannya itu merupakan bentuk apresiasi akan konsep green. 
 
Dia mengimplentasi apa yang disebut re- use. Ternyata diluar dugaan, di luar negeri, justru produk- produk seperti ini sangat diapresiasi. Ia cumalah ibu rumah tangga biasa. Cuma ada mimpinya untuk menjadi direktur yang belum tercapai. 
 
Itu adalah obsesinya yang terbawa hingga My Darling berdiri. Sebuah kepedulian akan lingkungan yang mana nilai tambahnya adalah uang. Tujuan utamanya adalah mengolah sampah sehari- hari. 
 
Di belakang rumah, di garasi rumahnya, Manggarai Jakarta Selatan, dia mengumpulkan sampah- sampah plastik. Sampah- sampah itu dihargainya uang, dimana sampahnya akan diolah kembali.

Bisnis Reseller Kembangkan Produk Olahan Beku

Profil Pengusaha Astri Putri Ardi

 

bisnisreseller.png
 

Wanita ini berhasil kembangkan produk olahan beku. Berkonsep bisnis reseller usahanya mengantongi hasil ratusan juta. Berbisnis tidak memiliki batasan. Asal dilakukan giat dan semangat apapun terjadi. Ini kisah Astri Putri Ardi, mendirikan Hoki Foods mengajak orang menjadi reseller cuan.

 

Omzetnya ratusan juta laba usaha Rp.45 juta- Rp.55 juta perbulan. Hoki Foods merupakan toko online aneka makanan beku. Aneka makanan beku berbagai merek juga tersedia. Istilah minimarket mungkin cocok disematkan ke Hoki Foods.

 

Pengusaha Olahan Beku


Isinya makanan beku berbagai merek dikirim online. Astri mengisahkan usaha tersebut berdiri semenjak 8 tahun silam akhir 2012. Berawal kecintaannya akan wirausaha semenjak kuliah. Dia pernah jualan aneka barang. Waktu jualan baju bisnis reseller juga menghasilkan lumayan.


Tak kalah sampai tiga tahun dirinya bertahan. "Cuma setelah menikah, punya anak jadi repot," Astri menerangkan. Maka dia mengakali usaha lewat berjualan online. Kecintaan akan wirausaha membuat Astri langsung menjadi pengusaha.


Tidak pernah melamar pekerjaan. Tidak tertarik akan dunia pekerjaan. Bahkan orang tuanya bertanya Astri menjawab lulus kuliah wirausaha. Wanita lulusan Universitas Al Azhar tersebut melanjutkan. Ia berkata bahwa berbisnis adalah jalan hidup.


Pada Desember 2012, musim hujan tuh, membuat Astri termenung kepikiran membuat bisnis makanan beku. Kepikiran memilih bisnis makanan frozen food karena masuk akal. Orang kan membutuhkan makan setiap hari. Dan makanan beku tahan lama sehingga resiko jualan tidak besar.


"Nah awal mulanya saya jadi reseller, beli dari orang nama makanannya suki steamboat," imbuhnya.


Kebetulan pada saat itu jualan frozen food masih jarang- jarang. Kebayangkan enaknya kebetulan sudah musim hujan, jadi kayaknya pas buat makan anget- anget. Modalnya cuma Rp.650 ribu dapat 10 pack. Itu dijualnya Rp.80 ribu perpack dan mendapat untung Rp.15 ribu.


Tidak disangka peminatnya banyak laris manis. Laku dia semakin bersemangat menambah barang dagangan. Astri makin semangat menjadi reseller makanan beku. Pemasarannya melalui Instagram dan belum banyak persaiangan dulu.


Terbukti sukses dia mampu mengumpulkan follower sampai 138 ribu. Ini menjadi gerbang pembelian buat bisnis dirintis Astri. Sudah 2- 3 tahun bisnisnya memakai penjualan e-commerce. Dia berjualan lewat marketplace sangat menguntungkan. 

 

Tetapi tetap pembeli akan melihat penampilan IG miliknya sebelum membeli. Kenapa membeli lewat marketplace karena banyak promo kurir dan cashback. "Kalau masuknya ya tetap lewat Instagram," ia menjelaskan.


Hoki Foods juga memiliki beberapa jenis produk sendiri. Jenisnya sekarang sudah banyak aneka brand juga. Total 120 jenis makanan beku dijual melalui online. Hoki Foods tidak menjadi reseller produk sembarangan. Dulu dia memang memburu produk buat dijualkan online.


Kini Hoki Foods yang didatangi produsen buat dijualkan. Tips bisnis reseller apapun adalah banyakan variasi jualan. Ini akan membuat pembeli tidak bosan. Keuntungan menjadi reseller ialah mudah memasukan hal baru.


Gambang mengikuti trend jualan diluaran sana. Astri mengistilahkan lagi musim drakro, ya langsung hidangkan drakor mumpu lagi booming. Keuntungan diambil Astri antara 10%- 20% sengaja ambil untung tidak besar, tentu agar mengincar kuantitas penjualan.


Beberapa produsen memang membebaskan mau ambil untung berapa. Bahkan besarpun pemilik brand perbolehkan selama mampu menjual. Strategi ambil untung cukup membuatnya mampu bertahan. Di pandemi begini penjualannya laris manis.


Ini disebabkan pembatasan keluar rumah buat makan. Frozen food menjadi pilihan makan dikalan pemerintah melarang keluar. Bahkan penjualannya naik ketika pembatasan. Begitu pembatasan malah dilonggarkan, menurun menjadi normal dan begitu diketatkan kembali naik lagi.

Biografi Widyasari Dewi Mantan Artis Jadi Direktur BEI

Biografi Pengusaha Friderica Widyasari Dewi 

 
widyasaridewi.png
 
Bila mantan artis lain memilih jalur politik. Biografi Widyasari Dewi malah menempuh jalur eksekutif. Yakni dia mendalami ilmu ekonomi sampai menjabat Direktur BEI. Artis cantik yang bernama lengkap Friderica Widyasari Dewi ini, Kiki, begitu sapaan akrabnya, tidak mengalami kesulitan.
 
Adalah dara cantik kelahiran Cepu, 28 November 1975, yang dulu pernah berperan aktif di sinetron Bulan Masih Perawan, Angling Darma, Panji, dan Doaku Harapanku. Walau telah sukses dalam dunia intertainmen, nyatanya, ia sama sekali tak terbresit menjadi selebriti. 
 
Sejak awal keinginan kuatnya adalah menjadi seorang ahli ekonomi. Latar belakang pendidikannya juga bukan main- main. Ayahnya seorang dosen, ibunya seorang guru, pas waktu SMA barulah ia masuk ke dunia intertainmen, uniknya yang Kiki akui sebagai ketidak sengajaan. 
 

Jejak Karir Dirut BEI

 
Ia bahkan menyebutnya distraction atau gangguan. Selepas terbebas dari padatnya jadwal suting barulah ia bisa melanjutkan kuliahnya. Kiki kembali berkuliah menyelesaikan S-1 -nya dan kemudian melanjutkan kuliah S- 2 dibidang finance atau keuangan.

Mengambil kuliah keuangan di California State University, Fresno A.S, lantas pulang ke Indonesia, telah lulus di 2004 yang kemudian menjadi dosen tamu berbagai kampus. Kesempatan bekerja di BEI pun diterima menjadikannya sebagai corporate communication. 
 
Dalam berkarir jenjang jabatannya bisa dibilang tumbuh lancar dari menjadi kepala divisi komunikasi, corporate secretary, wakil direksi dan akhirnya Kiki bisa jadi Direktur BEI pada 2009.

Kiki berkisah pengalamannya di Amerika. Disana perlu kamu tau perusahaan sudah total disuport oleh pasar modal. Sedangkan di Indonesia pengusaha lebih meminta akan pendanaan dari perbankan. Menurutnya Indonesia harus lebih aktif di pasar modalnya. 
 
Memang tercatat hanya segelintir perusahaan yang akhirnya berani untuk masuk ke pasar modal. Selepas kuliah kembali ke Indonesia seharusnya ia sudah langsung bekerja di pasar modal.

Akan tetapi kesempatan menjadi dosen tamu tak ditampiknya. Bahkan ia pernah diajak menjadi direktur sebuah perusahaan. Sayang, keinginannya masuk ke dunia keuangan, khususnya pasa modal lebih menarik jadilah Kiki berbagi kuliah pasar modal di berbagai kampus. 
 
Selain karena tak cocok ia juga merasa harus memulai semuanya dari bawah. Meski kamu merupakan lulusan luar negeri bekerja dari bawah merupakan kesempatan yang baik.

"Ketika kita memulai dari bawah, positifnya saya bisa menguasai materi, kedua, tentunya saya lebih empati kepada bawahan," jelasnya kepada Okezone.

Baru 2015 dirinya diberi kesempatan melamar ke BEI atau Bursa Efek Indonesia. Dimana, dirinya terpilih menjadi Head Corporate of Communication, dan pada 2007- 2009 barulah ia menjadi Corporate Secretary. Ini semua dijalankannya lebih serius dibanding disaat menjadi selebriti.

Dengan mudahnya Kiki menolak beberapa judul sinetron dan tawaran iklan. Semuanya guna fokus memulai dari jabatan paling bawah dan sedikit- demi sedikit naik hingga menjadi kepala BEI itu sendiri. Sebuah pencapaian karir yang sangat menginspirasi. 
 
Menurutnya dunia keartisan bukanlah satu yang abadi. Semakin usia bertambah maka kesempatan untuk tampil juga berkurang. "Aku tidak mau di masa tua aku membebani orang lain," jelasnya.

Sempat juga mengalami keraguan ketika harus berhenti dari dunia intertainmen. Tapi kesemuanya ditepisnya untuk kembali berkuliah ke Amerika Serikat. Begitu pulang ke Indonesia hidupnya sudah tak lagi disambut hingar- bingar dunia kerartisan. 
 
Di Amerika sendiri, jangan pikir ia bersenang- senang, Kiki bahkan tak mau kembali ke Indonesia selama dua tahun, bukan karena betah tapi harus. Akan susah lagi kalo dirinya kembali ke Indonesia; semakin menyusahkan lagi katanya.

Demi menjadi seorang yang ahli di bidang keuangan. Kiki menempa dirinya dengan hidup super mandiri. Ia masak sendiri, menyetir sendiri, sementara jika di Indonesia banyak bantuan termasuk soal mengemudikan mobil. Kiki sempat bertanya kembali apakah pilihannya telah tepat. 
  
Sifat gigihnya membuat pikiran tersebut hilang berganti kecintaan akan pasar modal. Jikalau memiliki keinginan maka akan dilakukannya hingga ia sukses itulah Friderica Widyasari.

Beruntung baginya adanya keluarga menjadi penyemangat karirnya. Bahkan kedua orang tuanya mendukung keputusannya untuk keluar dari dunia intertainmen. Sebelum akhirnya menikah orang tua lah yang menjadi satu- satunya faktor utama. 
 
Ketika berjuang di karirnya tersebut Kiki selalu mengingat keadaan rumah. Ia akan merasa kangen dan berjuang lebih bersemangat kembali. Beda dengan sekarang dirinya lebih sibuk, ia adalah seorang ibu, seorang istri sekaligus wanita karir.

Kiki tercatat menjadi wanita ke empat dalam jajaran Direksi BEI. Baginya keluarga merupakan motivasi bagi karirnya. Meski berprofesi berbeda, suaminya yang polisi, juga mendukung pilihannya untuk tetap bekerja di bidang yang dicintainya. 
 
Tidak ada wanita yang bisa memilih antara karir dan keluarga. Untuk itulah jika ada kesempatan maka prioritasnya adalah menghabiskan waktu bersama keluarga.

"Setelah menikah lebih bahagia, ternyata kalau ketemu jodohnya yang bener, pasti happy banget. Berat banget kadang ninggalin, kadang suka nangis, dia juga lebih dekat sama aku," kisahnya.

Peluang Usaha Camilan Sehat Ketika Pandemi Covid

Profil Pengusaha Pauline Angelia

 

camilansehat.png
 

Ketika pandemi Covid 19 melanda meghancurkan pendapatan. Tetapi ada peluang usaha camilan usaha buat kamu coba. Pauline Angelia warga Tangerang menjajal usaha camilan. Pengusaha 21 tahun yang menjajal kue vegan nikmat, murah, dan sangat hemat.


Usaha bernama Vegan Basket dimulai ketika pandemi Juli 2020. "Pertama kali buat ini berawal dari saya sendiri, karena suka ada masalah pencernaan," tambahnya. Berkat diet vegan ini. Dia kini pencernaan membaik. Pauline bercerita sempat kebingungan mencari camilan sehat.


Peluang Usaha Camilan

 

Ketika ketemu dia malah menemukan camilan mahal. Pauline menyadari bahwa makanan sehat lumayan mahal. Maka dia mulai membuat sendiri dan ternyata tidak semahal itu. Pauline berusaha membuatnya sendiri kemudian dimodifikasi.


Niatnya membuat makanan vegan tetap enah dimakan orang biasa. Usaha bermodal Rp.10 juta untuk membuat mini muffin, loaves, dan cookies. Harganya antara Rp.30.000- 55.000, yang membuktikan tidak selalu mahal.


"Vegan Basket juga ingin menjadi bagian dari solusi, maka itu selain menyajikan snack vegan yang sehat dan nikmat, kami hadir sebagai bisnis lokal yang sustainable dengan gerakan plastic-free," ujarnya.


Tidak hanya berjualan online. Pauline juga menjual Vegan Basket di Everplate. Dirinya bekerja sama dengan brand Green Grills menitipkan Vegan Basket di sana. Kerjasama tersebut berupa bagi hasil penjualan Vegan Basket. Keuntungannya Pauline tidak perlu membayar tempat karena dititipkan.


Vegan Basket baru tersedia di Jakarta dan Tangerang. Kini Pauline menerima pengiriman sampai ke Karawang. Namun terbatas pengiriman cookies kering yang tahan lama dibanding kue basah. Pauline menjelaskan Vegan Basket 100% terbuat dari tumbuhan.

 

Ia menegaskan tidak memakai susu, butter, dan telur. Dibandingkan produk sejenis Vegan Basket lalu mengganti mentega dengan margarin. Alternatif pembeda tidak memakai mentega dan  pengawet, tidak pula memakai pewarna dan perasa buatan.


Penggunaan margarin bertujuan menciptakan rasa. Agar pembeli non- vegan tetap mampu menikmati roti mereka. Menurutnya makanan vegan tidak semua hambar dan tidak enak apalagi mahal. "Banyak yang bilang mahal, jadi saya buatnya dengan bahan premium tapi harganya murah," papar Pauline.


Para non- vegan juga menikmati roti bikinan Vegan Basket. Menurut testimoninya mereka pembeli merasakan tekstur mirip roti biasa. Ini berbanding roti sejenis lebih mahal tetapi tidak terasa tepung. Ia seminggu mampu mengantongi omzet Rp.1 juta sudah termasuk pre- order muffin dan loaves.


Pauline menghasilkan Rp.4 juta perbulan. Varian roti vegan meliputi aneka varian muffin, loeaves varian pisang, strawberry, dan chocolate. Kemudian cookies meliputi almond dan choco chips. Paling best seller adalah chocochips cookies dan banana muffin.


Penjualan masih belum stabil ketika pandemi covid masih. Tapi Pauline melihat peluang usaha camilan sehat masih. Ia terus mendorong promosi dan marketing. Dia tak segan mengadakan giveaway untuk agar produknya lebih dikenal publik.


Pauline percaya akan kualitas produk sendiri. Yakin bahwa produknya memang bagus. "Kita saat ini kencengin promosi... terutama marketingnya bagaimana orang bisa tahu kita. Saat ini aku fokusin ke marketingnya, terakhir kita ngadain giveaway," lanjut Pauline.


Pauline belum kepikiran membuka toko kue. Dia masih mengerjakan aspek onlinenya. Pikirannya bahwa usaha online tengah berkembang pesat. Pauline mau memanfaatkan peluang tersebut. Tapi bila dia diberi kesempatan free kitchen di Everplate, dia tidak akan menolak memanfaatkan kesempatan.


"Tertarik, saya selama kerjasama dengan Everplate, dari sistmenya dan dapurnya memang menarik sekali," Pauline menjelaskan. Pauline lantas berpesan bagi pengusaha baru. Berbisnis memang tidak gampang dan juga sulit.


Tetapi yang terpenting memiliki kemauan. Percaya pada produk dan jasa akan dijual. Bila bagus maka lanjutkan sampai berhasil. Selama memiliki kemauan. "Asal kita percaya dengan produk kita dan pantang menyerah pasti bisa akhirnya untuk sukses," pungkasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba