Nama Chiat Peng Pengusaha Bidang Konsultasi

Profil Pengusaha Chiat Peng

 
chiatpeng.png
 
Menjadi pengusaha bidang konsultasi masih menjanjikan. Nama Chiat Peng, usianya 34 tahun, memiliki pandangan, "bila dia bisa maka saya bisa!". Pandangan inilah menjadi modal Chiat Peng maju. Dia gigih dan bekerja keras. Ia bahkan tertantang malukan hal sama dengan pengusaha sukses.

Tertantang menjalankan wirausaha walau tanpa pengetahuan. Nama Chiat Peng masih kecil tidak punya pendidikan menonjol. Tetapi dia memiliki tekat ketika memiliki kemaun. Sampai ketika dia masuk kuliah mulai berprestasi.

Dia lantas menjadi staf pengajar Universitas Tarumanegara. "Saya tidak pernah berpikir untuk mengajar. Dari segi prestasi saya biasa- biasa saja, dari pengalaman mengajar, saya tidak punya apa- apa," ujarnya lagi.

Chiat Peng mengaku terinspirasi seorang dosen baik. Dia masih muda. Mendedikasikan hidupnya menjadi pengajar. Terinspirasi hingga kagum sampai mulai belajar lebih tekun. Sang dosen lantas mengajaknya menjadi asisten dosen.

Ia selalu tertantang melakukan sesuatu. Di kiri ke kanan, dirasakan butuh tantangan baru, Chiat Peng mulai melirik orang- orang sukses sekitarnya. Mereka makan nasi. Dia makan nasi. Sama- sama makan nasi kenapada dia tidak bisa sukses mereka.

"Mereka kan makan nasi, saya juga makan nasi. Kenapa dia bisa begitu, kok saya tidak bisa? Saya terinspirasi. Suatu hari, mungkin tidak setahun atau dua tahun, tetapi saya pasti bisa seperti itu," tegas dia.

Chiat Peng bekerja keras hingga menjadi seperti orang disekelilingnya. Maka inilah yang membawa nasibnya sampai ke Negeri Paman Sam. Dia menyandang gelar MBA. Itu berkat kerja keras bahkan sampai menyiapkan diri demi tes TOEFL.

Dia bahkan mengulang tes berkali- kali. Kegigihan mempelajari pelajaran memunculkan kebosanan. Ia tetap belajar dan gigih sampai sukses. Setiba ia di Amerika malah mendapatkan hantaman keras. Krisis moneter mendera dunia termasuk Indonesia.

Kondisi keuangan sulit sampai krisis moneter usai dan masuk reformasi. Ia pun memohon kepada pihak dekan universitas untuk mempercepat studi. Namun disyaratkan harus belajar lebih keras bila dipercepat. Chiat Peng belajar lebih keras dibanding mahasiswa lain.

Ia bekerja paruh waktu menjadi asisten profesor. Juga menjadi staf bekerja di lab. Dia juga mengambil banyak mata pelajaran. Dia sampai bermalam- malam mengerjakan tugas di perpustakaan. Tidurnya beberapa jam saja dan sudah menjadi makanan sehari- hari.

Itu semua dibutuhkan demi menyelesaikan studi cepat. Begitu lulus dia berangkat ke New York buat mencari tantangan lagi. Teman sahabatnya orang Amerika menceritakan impian. Bahwa inilah tanah peluang bila kamu mau berjuang.

"This is land of opportunity. If you say you can work here, you can be successful." Chiat Peng yakin bahwa akan sukses ketika menginjakan kakinya. 

Dalam dua bulan, sesuai ditargetkan, ia menjadi assistant to marketing director di salah satu kantor di New York. Pengalaman menjadi pegawai menempanya bekerja lebih keras. Terutama kendala bahasa harus dapat diatasi berbagai cara.

Inilah batu loncatan karirnya lebih tinggi ketika kembali ke Indonesia. Chiat Peng bijak menyadari ini tidaklah akan mudah. Proses dilaluinya melalui selalu belajar dan bekerja keras. Banyak keluar rumah merupakan cara jitu tetap terinspirasi.

Temuilah sebanyak mungkin pengusaha muda. Balajarlah dari mereka sampai bersemangat kembali dari keterpurukan. Dia tetap menjadi sosok tertantang. Akhirnya Chiat Peng menjadi pengusaha bidang konsultasi. Usaha konsultasi ini yang menspesialkan sales management.

Berbekal pengalaman 10 tahun menjadi modal. Dia menawarkan jasa konsultasi selling skill. Dilihat banyak perusahaan membutuhkan penanganan selling. Pengusaha muda ini kemudian memberikan aneka advice. Ia pun menjadi pembicara sampai menjadi trainer.

Chiat Peng akan membantu perusahaan lain. Inilah sosok trainer sukses yang bernama lengkap, Tjiauw Chiat Peng, trainer sekaligus eksekutif muda aktif.

Toko Roti Igor's Pastry Jejak Wirausaha

Profil Pengusaha Innoco Sjahandi

 
igorpastry.png
 
Jejak wirausaha toko roti  Igor's Pastry. Nyatanya banyak orang berbisnis dari sekedar hobi. Apalagi jika faktor pendidikan menjadi pendukung hobi tersebut, ditambah pengalaman bekerja dengan orang lain. 
 
Inilah yang akan menjadi kombinasi menakjubkan bagi karir anda sebagai pengusaha. Sebut saja Innico Sjahandi dan Ratna Kusumo. Bisnis roti yang mereka rintis sejak 11 tahun silam berhasil menghantarkan mereka jadi salah satu pengusaha ternama di Surabaya, Jawa Timur.

Igo, panggilan akrab Innico Sjahandi, dan istrinya Ratna dipertemukan oleh kegemaran yang sama memasak. Berangkat dari hobi tersebut keduanya berusaha bersama membangun bisnis. 
 

Bisnis Keluarga

 
Dimulai dari berpacaran, dua- duanya bersama- sama bersekolah di Akademi Pariwisata NHI Bandung, fokus pada hobi mereka sebagai landasan. "Selain itu kami ingin cepat menghasilkan," ujar Igo yang lulus dari NHI pada 1989.
 
Selesai kuliah, mereka pun sama- sama merintis karier sebagai chef di sejumlah hotel dan restoran di luar negeri. Tujuh tahun Igo dan Ratna menghabiskan waktunya di Eropa. Keduanya sibuk bekerja dan juga melanjutkan pendidikan diploma perhotelan di Swiss. 
 
Baru di 1996 mereka kembali ke Indonesia tepatnya ke pulau Bali. Booming hotel bintang lima di Surabaya tahun 1997 membawa mereka pindah ke kota pahlawan Surabaya. Igo mendapat pekerjaan sebagai manajer restoran di Hotel Mandarin Oriental, Surabaya.

"Saya ingin lebih mengenal customer karena di Bali saya lebih banyak bertemu dengan tamu turis asing," jelas Igo.

Selama lima tahun menetap di Surabaya, Igo sudah merasa mengenal Surabaya dan juga masyarakatnya. Ia melihat peluang itu. Bisnis bakery, dia dan istrinya mencoba membawa konsep bintang lima itu dengan harga yang tetap terjangkau. 
 
Berbekal pengalaman dan tabungan selama bekerja mulailah bisnisnya ini di sebuah ruang tamu rumahnya, Jalan Biliton, Surabaya, pada 2002.  "Gerai Igor’s pertama kami kecil, ukurannya 7 m x 7 m," kata Igo. Selain Igo dan Ratna, ada 10 orang karyawan membantunya di dapur.

Seperti konsep awal, bakery buatannya haruslah seperti bintang lima tapi berharga terjangkau. Igo sangatlah mengutamakan kualitas produknya. Selain bahan- bahan baku pilihan, dia tak mau menambahkan pengawet, trans fat, dan penyedap dalam produknya. 
 
"Produk kami juga selalu fresh setiap hari," kata ayah dua putri ini. Tak heran. Roti yang mereka tawarkan tetap terasa mahal karena bahan bakunya. Igo menjual rotinya seharga Rp.4000, masih sering mendapat komplain kenangnya.

"Awalnya, kami sempat mendapat klaim soal harga yang mahal. Tapi, mereka puas karena ternyata besoknya kembali lagi berbelanja," kenang Igo.

Usaha yang diberinama Igor's Pastry ini, telah menjadi pelopor toko roti dan kue untuk mereka yang memerlukan perhatian khusus, untuk mereka yang ingin mengurangi gula, telur atau gluten. 
 
"Jadi, ada produk sugar free, egg free, gluten free, dan lainnya," ujar pria kelahiran Bandung 17 Agustus 1968 ini. 
 
Lantaran sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan restoran maupun produk bakery di hotel, Igo dan Ratna tak menemui kesulitan dalam pengembangan usaha mereka.

Kreasi dan inovasi menjadi kunci utama supaya pelanggan tak mudah bosan. "Itu juga yang selalu kami lakukan saat bekerja di hotel," kata Igo menambahkan. Hingga di tahun 2005, Igor’s Pastry telah membuka cabang kedua di Surabaya. 
 
Tak hanya melayani pelanggan ritel yang datang ke gerainya, Igo juga memasok produknya ke sejumlah hotel, kapal pesiar, beberapa perusahaan modal asing, korporasi, dan sejumlah konsulat di Surabaya.

dengan pengalamannya bekerja di hotel, Igo paham benar seluk- beluk dalam dunia bakery. Tak hanya mengandalkan kreasi-kreasi baru, Igo juga melengkapi usahanya dengan sejumlah sertifikasi. Sebut saja, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) atau sertifikasi sistem keamanan pangan. 
 
"Ini semacam SIM bagi operator food and beverage karena harus mengetahui persyaratan penanganan makanan, dari pendataan, penyimpanan, pengolahan bahan makanan dan lain-lain," jelas Igo.

Selain itu, ada pula sertifikasi Tuv Nord dari Jerman. Setifikasi ini cara Igo mengontrol kualitas produknya apalagi sejak membuka cabang- cabang usaha. Dia juga menggunakan sertifikat tersebut untuk membentangkan sayap usahanya. Ia menjadi pemasok di berbagai hotel berbintang dan kapal pesiar. Kini, Igo menjual rotinya berkisar Rp 15.000 per bungkus. Dua tahun kemudian, pada 2007, Igo telah membuka cabangnya ketiga di Surabaya. Lalu, pada 2010, mereka mulai merambah pasar Bali.

"Untuk memperbesar pasar, kami harus membuka cabang di luar kota karena seluruh Surabaya sudah terkaver," jelas Igo kepada SWA.co.id

Kualitas Produk


Baru pada 2014, Igo memberanikan diri merambah pasar bakery Ibukota. Igor’s Pastry secara resmi memiliki satu gerai pertama di Jakarta. Tak seperti di gerai-gerai sebelumnya, Igo telah melengkapi cabang terbarunya ini dengan kafe. 
 
Langkah ini dia lakukan berdasar survei maupun saran dari teman-temannya. Kini dapur Igor’s Pastry telah menyuplai ribuan potong roti ke sejumlah gerai setiap hari. Ke depan, tak ada rencana muluk dalam pikiran Igo.

Dia hanya ingin menambah gerai baru di Jakarta, supaya lebih dekat dengan konsumen. Innico Sjahandi memang tipe pekerja keras. Sejak masih muda ia telah menghabiskan waktunya di dapur tak seperti teman- teman sebayanya. 
 
Kecintaan akan kuliner bukan lagi tentang hobi tapi bagaimana cara dia hidup. "Bos saya sampai bingung, kenapa enggak pulang-pulang. Yang lain bekerja delapan jam, saya bisa 15 jam," kenangnya.

Tak heran, dalam enam setengah tahun, pria berusia 46 tahun ini naik jabatan lima kali. Begitu pula saat ini, Igo, panggilan akrabnya, juga banyak menghabiskan waktu untuk pengembangan usaha. Kini dia melihat berbedanya bekerja menjadi karyawan dan pemilik usaha. 
 
Ada sentuhan berbeda dari tiap kerja kerasnya. "Lebih pusing punya bakery sendiri," kata dia. Pasalnya, bila jadi pekerja, Igo sudah bisa benar- benar berhenti berpikir ketika off. "Sementara, punya usaha sendiri, harus terus berpikir. Kerja tujuh hari, mikirnya bisa delapan hari," cetus dia.

Dia dibantu sang istri, Ratna Kusumo, memang pengusaha yang patut dicontoh. Igo lebih banyak berperan dalam bisnis dan pengembangannya, sedangkan sang istri fokus mengurusi produksi, karena lebih ahli di pastry dan bakery. 
 
"Enggak bisa, satu dapur dua nakhoda. Berantem terus," tutur ayah dari Chenyl ( 9 tahun) dan Kathleen (11 tahun) ini. Meski menjalankan bisnis pasangan suami istri ini mengaku tak ada hambatan yang berarti. Tapi keduanya sempat merasakan pengalaman bajak- membajak pegawai.

"Bagi kami, pembajakan kurang etis. Ini sedihnya," kata Igo.

Meski punya mimpi besar menjadi gerai pastry dan bakery terbaik di Indonesia,  baik dalam kualitas dan kuantitas, Igo tak ingin memperbaniyak jumlah gerai secara berlebihan. Sebab, menurut Igo, dengan jumlah gerai berlebihan, akan sulit mempertahankan kualitas. 
 
Jejak wirausaha toko roti Igor's Pastry berlanjut. "Kami tidak ingin memiliki gerai dalam jumlah banyak, karena kami lebih mengutamakan kualitas," kata Igo yang melansir sekitar 500 varian per- gerai.
 
Setelah sukses di Surabaya dan Bali, kini Igor’s Pastry telah hadir di Jakarta Jl. Wijaya 2 No. 122, Kebayoran Baru dengan konsep Chalet.

Konsep yang menyerupai tempat peristirahatan di pegunungan Eropa menjadi ciri khas seluruh gerai Igor. Igor mengatakan bahwa gerai Igor’s Pastry juga menyediakan Wi-fi dan memiliki meeting room. 
 
"Bagi mereka yang datang bisa santai sambil menggunakan wi-fi. Kami juga memiliki meeting room," jelasnya kepada Kontan.co.id
 
Untuk harga jual, Igor menjual produknya di kisaran Rp16 ribu sampai Rp20 ribu. "Untuk harga kami coba tekan agar sesuai dengan kemampuan pasar. Saya kira harga ini tidak terlalu mahal," pungkasnya menutup.

Usaha Teknik Entrepreneur Denni Andri

Profil Pengusaha Denni Andri

 

entrepreneurdenni.png

Entrepreneur Denni Andri memilik tekat keras. Bayangkan usaha teknik buatannya hasilkan aset Rp.80 miliar. Dia adalah Presiden PT. Taka Turbomachinery Indonesia, usaha teknik mengerjakan mesin- mesin dan bahan kimia. 


Produk andalannya meliputi turbin dan compressor pump. PT. Taka bikinannya juga memiliki keahlian industrial pump repair, steam turbine repair, dan gas turbine repair. Pengalaman panjang tersebut mampu menarik klien kakap, seperti Pertamina, Indonesia Power, Torishima Guna, Kepindo, dan Chevron.


Perusahaan PT. Taka dibangun bermodalkan Rp.60 juta. Denni memiliki 150 pegawai, fasilitas kantor, dan pabrik seluas 6000 m2. Alumini Geologi Institute Teknologi Bandung, yang semula sekedar membuka bengkel di Bandung.

 

Menjadi Pengusaha


Awal Denni kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sialnya krisis moneter 1998 menerpa kehidupannya. Dia sempat bekerja freelance. Tetapi perusahaan memutuskan melepaskan pekerjaannya. Denni jadi pengangguran. Hidup tanpa pendapatan memaksa usaha teknik seadanya.


Kebetulan dia memiliki ketertarikan akan dunia teknik. Denni paham mesin dan mekanik umum. Sejak remaja dia berani mengutak- atik mesin. Pengalaman selama remaja tersebut diaplikasikan kini. Denni membuka usaha mesin umum.


Walau tidak memiliki latar belakang pendidikan cuek aja. "Saya memilih bidang ini karena minat dan menjalankannya secara learning by doing," ujar sang entrepreneur.


Pelanggan pertama adalah pemilik mobil meminta tormol rem. Pengalaman teknik semenjak remaja ternyata berguna. Dia ingat cuma menjual Rp.15 juta. Aneka taktik dilakukannya agar menjalankan usaha ini. Dari meminjam uang kepada orang tua sampai ia menjual mobil.


Pertahun nilai mobil pribadinya menurun terus. Mobil pertamanya Daihatsu Taft pada 1999 dijual, lalu berganti Toyota Hardtop, yang mana sisa uangnya buat mengganti uang  orang tua. Kemudian Hardtop dijual, diganti motor, dan motor lantas dijual dan Denni cuma naik angkot.


Dia menghadapi kesulitan dan masalah. Tantangan akan selalu ada maka harus dihadapi. Ia anggap itu sebagai proses harus dilewati; ia mengalir begitu saja. Tantangan adalah anak tangga yang wajib Denni daki. Denni berkali- kali ditolak bank.


Dua sandalnya habis dipakai berkeliling. Prinsipnya uang berapapun tetap senang. Mau punya seribu dia tetap happy. 

 

"Saya punya uang seribu saya happy, uang saya 1 juta saya happy, uang saya 100 juta pun saya happy. Bukan uang saya seribu kurang, 1 juta kurang, 100 juta kurang. It's about mindset," tuturnya mengenai entrepreneurship.


Bengkel kecil tersebut berubah selepas 12 tahun berdiri. Dulu dia memiliki 12 orang karyawan selepas menjadi PT. Taka melonjak. Dimana PT. Taka mendominasi bisnis turbin, compressor, dan pompa di Pertamina. Perusahaan tersebut juga melayani aneka industri termasuk kimia.


Prinspinya dia membangun budaya dan sistem perusahaan dulu. Denni pun tidak lupa mengembangkan sumber daya manusia. Soal permesinan, infrastruktur, dan permodalan juga menjadi sorotan. Ia terus mengumpulkan sumber daya mumpuni.


Kebiasaan belajar terus membuatnya menguasai banyak aspek. Denni juga termasuk tipikal percaya akan pegawainya. Dulu dia memegang keuangan kemudian dilepas tugaskan. Bertahap dia sistemnya dibangun dari level keuangan sampai produksi.


Peran pimpinan mulai dilepaskan diserahkan orang lain. Denni tidak ragu- ragu memberi kepercayaan ke orang lebih pintar. "Suatu saat nanti akan ada yang mengambil peran saya sebagai presiden, dan saya tidak perlu ada disana lagi," jelas Denni.


PT. Taka menguasai 20%- 40% pangsa pasar dan menjadi nomor 2 di bidangnya. Dia menargetkan di tahun 2012 menjadi nomor satu. Ia menargetkan menjadi produsen turbin pertama Indonesia. Kalau orang butuhkan turbin pasti membeli ke Jerman atau Jepang.


Dia akan membangun turbin kelapa sawit atau pabrik gula. Harapannya juga termasuk membangun pompa unit utilitas industri kimia dan perminyakan. Denni juga berencana membangun sumber daya listrik sendiri. 


"Yang saya khawatirkan, jika saya merasa kenyang, maka saya akan malas," jelas Denni. Usaha teknik ini didukung kecintaanya akan entrepreneurship.


Disaat sekolah dasar sudah menghasilkan uang. Denni sudah jualan layangan. Ada kepuasan ketika ia hasilkan uang sendiri. Kesenangan tersebut berlanjut masuk remaja. Denni jualan asongan jeruk dan durian di pasar ketika SMA. Menciptakan sesuatu yang menghasilkan uang merupakan kebanggaan.


Dia menekankan prinsip jangan mengharapkan hasil besar, bila kamu mengerjakan sesuatu minimal. Maka para entrepreneur wajib bekerja keras sampai maksimal. Bakat ditambah pengetahuan akan menjadi kombinasi maestro.


Tidak ada kata terlambat atau terlalu awal menjadi entrepreneur. Waktu paling tepat ialah lakukan sekarang atau "Just Do It", atau kamu akan menyesal. Agar lebih berani bergaulah dengan orang yang berani. Kamu akan tertular menjadi pengusaha bila tepat.


Tepat bila kamu memilih teman sepemikiran dan mentor usaha. Orang sukses akan memberikan aura positif disekilingmu. Hindari merasakan minder bila disekitar mereka. Serap kepercayaan diri mereka bukan merasa rendah diri.

Donat Bakar Inovasi Pengusaha Muda Oily

Profil Pengusaha Oily Purnama Sari

 

donatubi.png
 

Pengusaha muda Oily Purnama Sari memiliki niatan berwirausaha. Awal Oily hanya sarjana elektro tanpa pandangan mau usaha apa. Lantas dia ikutan seminar Ciputra Entrepreneurship di kampusnya Universitas Gajah Mada. Tiga bulan ditatar membuat keinginannya menguat walau tidak tau.


Oily masih kebingungan mau membuka usaha apa. Selepas lulus tahun 2007, Oily malah menjadi pegawai di perusahaan roti Yogyakarta. Kenapa tidak langsung membuka usaha. Ternyata hati Oly masih belum percaya diri. 

 

Pelatihan Ciputra Entrepreneurship pasca sarjana makin membuka pandangannya. Dia mendapatkan bimbingan materi dan pelatihan konsep bisnis. Oily lalu mendapatkan pelatihan program Crown I. Program tersebut "memaksa" Oily memutar otak. 

 

Dia pernah jualan souvenir atribut di kawasan UGM. Uang Rp.500.000 keuntungannya dijadikan modal mengikuti program tersebut.


Tahan Crown II diberikan modal Rp.1.000.000 buat dikelola. Oily kali ini diharuskan menciptakan ide bisnis orisinil. Maka dia memilih berjualan donat tetapi umum dilakukan. Dari pelatihan, Oily belajar mengenai memberikan nilai tambah produk.


Dia tidak bisa cuma jualan donat. Terlalu umum. Ucapan Pak Ciputra bahwa berbisnis membutuhkan inovasi. Dia teringat. Termasuk bisnis donatnya yang awal- awal terlalu umum. Maka ia merubah sedikit resep dari terigu menjadi tepung ubi jalar.


Kemudian dia menusuk donat- donat tersebut layaknya sate. Donat tersebut kemudian diberi nama Donatello atau tello dalam bahasa Jawa berarti ubi. Oily lalu menjajakan itu ke bazar kampus UGM minggu pagi.


Ternyata dia mampu menggaet banyak pelanggan. Rasanya lebih empuk dibandingkan donat umum. Belum puas menemukan satu penemuan. Oily kemudian bekreasi kembali lewat donat bola. Donat sate tersebut dinamakan Dboom. Di dalamnya nanti memiliki isian pilihan rasa mengejukan.


Peminat donat bakar merata anak- anak sampai dewasa. Dia mampu menaikan pamor donatnya lewat berjualan kaki lima. Dari kampus merambah ke pusat perbelanjaan lewat kemitraan. Oily sempat ragu ketika memulai usaha.


Sebab orang tuanya ingin Oily bekerja di pemerintahan atau perusahaan. Ia yakin menekuni usahanya dengan gigih. Dia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya. 

 

"...membagi pengalaman menjadi entrepreneur kepada keluarga dan teman. Bahwa entrepreneurs bukan faktor keturunan" ujar sang pengusaha muda Oily.


Dia pun tidak tinggal diam melainkan membagikan pengetahuan. Dia aktif menghadiri seminar jadi pembicara. Dalam entrepreneurship, Oily menegaskan bahwa penting membangun sistem penjualan, seperti mendapat pesanan dari kantoran atau instansi pemerintah.


Mereka kantor atau instansi pemerintah akan memberikan pemasukan stabil. Jangan lupa menghitung keuntungan cermat. Kamu juga bisa membangun bisnis katering untuk kantor dan pemerintah. Diluar strategi dijalankannya melalui menjajakan waralaba.

Pendiri Hotel Sahid Biografi Sukamdani Sahid

Biografi Pengusaha Sukamdani Sahid

 
sukamdanisahid.png
 
Biografi Sukamdani Sahid Gitosardjono mungkin terdengar asing. Kalau bertemu pendiri Hotel Sahid ini, mungkin kamu tak akan memberikan gambaran mewah. Dibanding, bila kita berbicara mengenai megahnya Hotel Sahid; barulah kamu akan tersadar hebatnya ia. 
 
Ya, dialah pemilik Sahid Group sekaligus pemilik jaringan Hotel Sahid. Ini pengusaha asli Indonesia bukan keturunan, dan sukses membangun jaringan hotel salah satu yang terbesar di Indonesia. Dia juga bukan dari keluarga berada membuatnya memulai bisnis dari nol.

Kelahiran Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1928, dia adalah putra dari pasangan R.Sahid Djogosentono dan R Ngt Hj Sadinah. Waktu kecil Sahid (panggilan akrab Sukamdani Sahid Gitosardjono) banyak dihabiskan di Sukoharjo-Solo, Jawa Tengah.
 

Jiwa Wirausahawan

 
Ayah Sahid hanyalah seorang wirausahawan kecil. Ayahnya cuma membuka usaha jahitan, sedangkan sang bunda, dia membuka sebuah toko kecil- kecilan. Maka sejak kecil Sahid mengenal wirausaha, ini membuat Sahid kreatif, selalu mencari tau bagaimana menghasilkan uang. 

Karena selalu membantu orang tua jadilah ia tau seluk beluk jual- beli. Dia selalu mendapatkan tugas untuk "kulakan" atau mengisi stok barang yang kosong. Sahid ditugaskan membeli barang dagangan untuk warung ibunya, seperti kelapa, sabun, teh, rokok, dan pisang. 
 
Jika barang dagangan tersebut laku dijual barulah Sahid mendapatkan persen keuntungan dari sang ibu. Mudah saja. Dia memang anak yang cerdas, ketika uang itu ditangan tidak langsung digunakan tapi ditabung.

Uang tabungan itu bukannya dihabiskan seketika dan akhirnya menjadi modal bisnisnya nanti. Dari uang yang ditabung dibelikan ayam lalu diternakan. Setelah ayamnya jadi banyak serta gemuk- gemuk barulah ayam- ayam itu dijualnya. 
 
Bukan dibelikan ayam lagi, ia justru membeli seekor kambing untuk diternakan kembali. Kambing terkumpul banyak, dibelikan kerbau dan diternakan lagi begitu seterusnya. Melalu metode inilah Sahid belajar tentang investasi. Tak puas berbisnis ternak, ia pun menjual jasanya untuk memanen padi.

Di umur 17 tahun kala itu perang kemerdekaan tahun 1945, daerah Sahid kekurangan bahan pangan. Disini ia berfikir bagaimana cara mencukupi bahan pangan untuk para tentara perang. Kala itu walau banyak juga penduduk yang memberi bantuan pangan kepada para tentara namun tentap saja kurang. 
 
Dia pun mendapat akal, ia mengumpulkan kain batik dari penduduk yang kemudian ditukar dengan beras. Beras itulah yang kemudian ia berikan kepada tentara- tentara tersebut.

Selepas kemerdekaan, tepatnya di tahun 1952, Sahid telah mendirikan bisnis baru yaitu mensuplai bahan pangan kepada tentara. Dia cukup mengumpulkan gaplek dari Wonogiri lalu dibawanya ke Solo, disana gaplek bisa ditukar beras. 
 
Dan, beras- beras itu pun yang menjadi modalnya untuk mensuplai para tentara. Ketika perang selesai, ia juga melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 1952, Sahid remaja hijrah ke Jakarta dengan bermodal kopor dan sepeda angin.

Dia diterima bekerja di Kementrian Dalam Negeri selepas melanjutkan pendidikan. Namun rasa gairah untuk berbisnis menggelora membuat dirinya tak betah menjadi pegawai walau hasilnya saat itu cukup menjanjikan dan dipandang terhormat. 
 
Sahid lantas memilih untuk keluar dan meneruskan bisnisnya yang telah dirintisnya sembari bekerja. Di Jakarta lah ia menemukan jodohnya, seorang gadis bernama Juliah anak dari Mangkunegara. Keduanya saling jatuh cinta dan menikah pada 27 Mei 1953. 
 
Juliah adalah anak dari orang terpandang dan kaya-raya namun begitu dia bukanlah seorang anak manja. Terbukti ketika Sahid memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dulu. Dia keluar sebagai PNS dan memilih merintis usaha sendiri. 
 
Istrinya lah yang menjadi pendukung dengan merestui apapun yang diputuskan sang suami. Bahkan Juliah secara aktif ikut membantu bisnis suaminya itu di awal. Pasangan baru ini kemudian menyewa tempat di JL. Jendral Sudirman Jakarta. 
 
Bisnis pertama yang mereka lakukan bersama adalah sebuah bisnis percetakan. Sahid dan istrinya membeli alat-alat percetakan dari tabungan mereka sendiri. Awal memulai usaha segalanya mereka lakukan sendiri, Sahid yang mengurusi membeli bahan bahan seperti kertas di JL. Tiang Bendera, Jakarta.

Sahid juga yang melakukan antar jemput pesanan cetak dan juga melakukan penagihan. "Naik turun oplet, tak heran saya banyak kenalan non pri," kenangnya. 
 
Walau telah sukses merintis bisnis sendiri, jaringan perkawanan Sahid ketika masih bekerja dulu tetap dijaganya. Dia adalah tipe orang yang supel, senang berorganisasi dan pandai bergaul. Itu memamng modal seseorang jika ingin sukses berbisnis.
 

Bisnis Perhotelan

 
Sahid pun kemudian membuat organisasi yang menaungi usahawan percetakan di Indonesia. Disinilah Sahid kemudian bisa dekat dengan sosok Presiden Soekarno. Ini juga menjadi kesempatan untuk lebih meluaskan jaringan usahanya, apalagi setelah berkenalan dengan seseorang sekelas presiden. 
 
Bisnis percetakannya pun menjadi semakin ramai karena banyaknya order dari Departemen dalam negeri dan departemen keuangan, apalagi disaat peralihan ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta maka semakin banyak dokumen yang harus dicetak di sana.

Saking banyaknya orderan Sahid harus membagi orderannya ini dengan percetakan lain yang ada di Surabaya, Bandung dan Semarang. Untunglah Sahid juga banyak membina hubungan dengan pengusaha percetakan di luar daerah. 
 
Dia mampu mengatasi orderan membludak tak keteteran menanganinya. Yang membedakan Sahid dan pebisnis di masa Orde Baru bahwa kanyataan bahwa ia tak pernah meminta- minta. Pertemanannya dengan pejabat memang sebatas mencari teman, mengikat tali persaudaraan.

Bisnis yang moncer sepenuhnya ia lakukan dengan paham profesionalitas. Percetakan Sahid akhirnya bisa semakin maju saja dan mesin- mesin pabriknya semakin canggih pula. Dia pun diangkat menjadi Presiden Direktur di perusahaan percetakan yang didirikannya. 
 
Pundi-pundi modalnya pun semakin berkembang pesat. Bisnis percetakan milik Sahid menjadi auto pilot atau bisa bekerja sendiri tanpa dirinya turun tangan langsung. Perlu sebuah ekspansi, Sahid tidaklah berpuas diri.

Dia melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka lembaga pendidikan, yaitu mendirikan Akademi Grafika dan Sekolah Tinggi Grafika di tahun 1965. Sebagai pengusaha tentulah ia sering bepergian ke luar daerah. 
 
Suatu hari, ketika sedang bepergian ke Medan, karena saat itu penerbangan begitu penuh membuat Sahid harus menginap di hotel untuk waktu yang cukup lama. Dari situ insting bisnisnya bekerja lagi. Dia berfikir, bahwa untuk Negara Indonesia yang sedang berkembang membutuhkan hotel. 
 
Indonesia baru saja merdeka tentu hotel sangat diperlukan, apalagi persaingannya belum begitu ketat. Akhirnya ketika sampai di Solo beliau langsung membangun hotel di sana. Modal yang digunakan adalah hasil dari bisnis percetakannya selama ini. 
 
Ada cerita menarik ketika proses pembangunan Hotel Sahid. Ketika itu semen sangatlah langka karena kondisi Indonesia yang memang gencar-gencarnya membangun. Kesulitan mendapatkan semen juga dialami oleh Sahid kala itu. 
 
Akhirnya dengan terpaksa dan tidak berniat melanggar hukum, ia memutuskan untuk menggunakan semen ilegal hasil selundupan. Ini dilakukannya agar proyek pembangunan Hotel Sahid segera diselesaikan agar bisa segera dijalankan. 
 
Setelah terbangun satu hotel, Sahid terus mengepakkan sayap di bisnisnya yang satu ini. Tahun demi tahun hotel yang dibangunnya bertambah banyak. Bisnisnya yang lain pun semakin berjaya antara lain industri, perdagangan kertas, biro perjalanan, pariwisata, pertanian, konstruksi dan perkebunan. 
 
Sahid juga menjadi salah satu pendiri Harian Bisnis Indonesia hingga saat ini beliau menjabat sebagai pimpinan umum. Dia kemudian membuka bisnis pendidikan lain, yaitu Universitas Veteran Bandung Nusantara di Sukoharjo melalui Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial Sahid Jaya. 
 
Kemudian ia juga membuka lagi satu Akademi Perhotelan pada tahun 1988 dan kemudian menjadi Universitas Sahid. Selain berbisnis, Sukamdani Sahid juga membangun dan sekaligus menjadi pengurus pesantren di Bogor, Jawa Barat. 
 
Menurut biografi Sukamdani Sahid, orang Islam terutama Santri harus piawai berbisnis. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang juga seorang pengusaha. Bagi beliau kerja keras, keilmuan dan keimanan yang kuat adalah satu yang tak bisa dipisahkan. 
 
Ia kemudian menulis buku berjudul Wirausaha Berbasis Islam dan Budaya. Begitulah kisah biografi dari pendiri jaringan Hotel Sahid, pengusaha pribumi yang sangat mandiri.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba