Usaha Fotografi Alvin Fauzi Menginspirasi Kita

Profil Pengusaha Alfian Fauzi


usaha fotografi
 
Tahun 2007 tidak banyak orang mencoba berbisnis ini. Usaha fotografi miliknya layak mendapatkan penghargaan. Maka pada 2010, Alfin Fauzi bersama beberapa rekan memenangkan ajang, Wirausaha Muda Mandiri mengakui keberadaan usaha mereka.

Era digital yang mulai menggeliat tahun itu merubah. Bila dulu bisnis fotografi dikuasai oleh hanya sekedar orang. Sekarang kita bisa membuka usaha tersebut bermodal minim. Kamera yang dulunya dianggap mahal, sekarang sudah di layar handphone.

Semua orang bisa menggunakan teknologi kamera. Aneka pelatihan pun tersedia buat mereka yang berminat. Usaha fotografi Alvin Fauzi bermula sebuah studio kecil di Yogyakarta. Akhir tahun 90' an dapat dihitung ada berapa studio foto, sepuluh tahun kemudian bermunculan banyak studio foto baru.

Wirausaha Mengambil Resiko


Studio Alvin Photography (AP) memakai nama sang pendiri sendiri. Sudah membuka usaha sejak 2007, Alvin menyasar pasar kaula muda berbekal cita rasanya sendiri. Maka ia mudah baginya untuk menganalisa pasar. Alvin memiliki strategi bisnis menggunakan internet agar lebih terkenal.

Memanfaatkan teknologi sekaligus memahami pangsa pasar. Alhasil anak muda akan lebih memilih ke AP. Melalui akses internet AP menempati halaman utama di Google. Sebut saja ketika anak muda mencari kata kunci "fotografi pernikahan Yogya", "fotografi prewedding Jogja", dan lain- lain.

Ia juga menggunakan promosi mulut ke mulut. Tetapi AP sangat mengandalkan promosi online, dan juga memulai sosial media. Alvin blak- blakan membuka kunci suksenya pada kekuatan internet. Dia memulai dengan masuk ke komunias fotografi, dan menyerap apa yang dibutuhkan masyarakat kini.

Dia ikut forum fotografer dari forum besar seperti Kaskus. Alvin belajar banyak dari otodidak dan lebih kekinian. Itu yang tidak dimiliki oleh studio foto pada tahun 90' an. Antusias anak muda yang tinggi memberikan peluang usaha. Ia banyak belajar bahkan tak segan untuk mengeluarkan uang.

Alvin menggabungkan teori dengan pengalaman praktik. Pertengahan 2000 -an, dia diajak oleh orang untuk membuka usaha fotografi, Alvin pun antusias menggarap pasar anak muda. Dalam tempo dua tahun saja dia berhasil balik modal dan untung.

Kerjasama antara dirinya dan si pemodal tetap berjalan. Mereka menggunakan sistem sharing untung hingga kini. Bila Alvin tak memiliki passion mungkin tidak akan sama. Pengusaha muda Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, merasa bahwa fotografi merupakan seni bukan sekedar foto.

Dunia seni memang sangat terikat dengan menciptakan rasa. Mereka seniman juga cenderung untuk mengerjakan sesuai mood. Padahal masyarakat membutuhkan ketepatan waktu. Inilah yang coba dia berikan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia menggabungkan seni dan perusahaan dalam satu wadah. Ini lebih baik dibanding mereka yang hanya menawarkan jasa cuci foto. "Makanya jam kerja kami unik, dari jam 11.00 s/d 19.00," tutur pengusaha ini.

Alvin memulai dengan menempatkan studionya tepat. Ia membangun di Condong Catur, Sleman Yogyakarta. Ini adalah tempat ramai yang merupakan poros penghubung. Studionya menjadi poros penghubung Yogyakarta dan Kota Sleman, disekitaran kampus perguruan tinggi di Yogyakarta.

Alvin menegaskan semua orang bisa saja menjadi fotografi. Semua orang bisa membuka usaha foto, bisa saja studio foto dimana- mana. Orang yang jago memfoto juga banyak tetapi Alvin beda. Ia lebih memberikan apa masyarakat butuhkan, dari estetika sampai produk berkualitas.

Soal pemilihan fotografer saja Alvin sangat pemilih. Tidak hanya sekedar profesional memfoto tetapi juga cita rasa. Ia juga memberikan pelatihan bagi calon fotografer di studio AP. Baginya usaha foto memiliki pasar yang luas, dari foto wisuda, penikahan, ulang tahun, acara kantor, dan lain- lain.

Untuk wedding saja harga yang dibandrol rata- rata 7 juta. Sementara perusahaan baik berupa acara gathering, AP Studio menawarkan harga 20 juta rupiah, dan omzetnya telah mencapai 60% dari target pasar. Dia mengaku mampu mengantongi omzet sampai 100 juta berbulan.

Masa Depan Animator Memilih Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Achamad Rofiq


pengusaha animasi
 
Tidak ingin terjebak dunia kerja membuat Achmad Rofiq galau. Menjadi lulusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Malang, dirinya cemas. Apakah dia akan berakhir menjadi pegawai terus selama hidupnya. Alih- alih terus galau Rofiq memilih membuka usaha animasi sendiri.

Dia tak ingin terjebak dunia kerja. Apalagi kalau membayangkan kerja diluar bidang. Ingin rasanya ia tetap menggeluti dunia animasi. Passion akan dunia animasi berubah menjadi ambisi. Pemuda yang sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini, ingin melakukan perubahan.

Berawal dari ambisi pribadi hingga memikirkan nasib bangsa ini. Membayangkan animasi sekelas Captain Tsubasa bisa menginspirasi orang. Ia membayangkan begitu pula karyanya kelak. Captain Tsubasa begitu populer, hingga mampu menggairahkan sepak bolah negara Jepang.

Perjalanan Wirausaha


Lantas apa yang bisa dilakukannya selain menunggu. Ya, ia mengajak beberapa rekan animator dan ilustrator. Bersama- sama mereka mendirikan CV. Kdeep Animation di 2005. Kemudian berkembang menjadi PT. Digital Globab Maxinema, yang awal- awal menggarap kebutuhan perusahaan lain.

Mengikuti beberapa ajang menadi jalan memperkenalkan pasar. Satu judul Bio Zone, animasi buatan mereka memenangkan juara 1 dan 2 dari Best Viewer Choice Animation Award, dari Universitas Parahyangan, Bandung, dan Best Animation Malang Film Video Festival, Malang.

Mereka walau sudah mendapatkan pasar belum cukup. PT. DGM juga memproduksi beberapa judul film animasi. Hingga karyanya dilirik insititusi dan stasiun televisi swasta. MNC TV menjadi salah satu pembuka kesempatan, animasi berjudul Songgo Rubuh pernah tampil pada 2012 silam.

Animasi ini menjadi pemecah kebuntuan akan nasib film animasi. Disusul beberapa judul lain yang dikerjakan perusahaan lain. Rofiq sendiri merasa tak ada persaingan sengit. Televisi secara otomatis akan menaikan kualitas studio animasi lokal. Bahkan budget animasi -nya mampu setara produksi sinetron.

Menjadi animator termasuk mempengaruhi masyarakat untuk mencintai negeri, budaya, dan sepak bola. "Itulah yang membuat saya merasa tepat memilih animasi sebagai jalan hidup, tepatnya sebagai creativepreneur," tuturnya.

Songgo Rubuh dikerjakan serius oleh para ahli animasi. Soal skrip bisa memanfaatkan para penulis skrip sinetron. Perkembangan animasi dunia memicu semangat ambisius Rofiq. Selain nama animasi Captain Tsubasa, ia juga terinspirasi Steve Jobs, sang pendiri Pixar membuktikan semua orang bisa.

Masalah finansial menjadi kendala tersendiri baginya. Tetapi ia menyadari masalah itu bukanlah halangan bagi wirausahawan. Seniman harus tetap berkarya walau tak menghasilkan. Apalagi bagi pengusaha kegagalan harus diselesaikan. Masalah finansial juga pernah dirasakan Steve Jobs ketika itu.

"Siapa yang tidak ingin seperti itu (memproduksi animasi kelas dunia)? Pastilah finansial adalah hal kecil didalamnya. Setidaknya, Steve Jobs pernah mewujudkannya," ia menjelaskan.

Sang pengusaha muda tidak membatasi diri atau idealis. Perusahaanya juga mengambil pasar iklan layanan masyarakat, komersil, dan profil perusahaan. Dirinya mengelak sebagai animator tetapi jadi pemilik usaha. Perusahaan miliknya diisi oleh banyak talenta berbakat dalam bidang animasi.

Pengusaha muda yang menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ini merupakan pekerjaan bersama untuk menghasilkan karya. Wujudnya pun beragam selama bisa membantu karyawan. Ia mengatakan pada 2011, DGM mampu menghasilkan Rp.1 miliar lebih dan terus naik.

Kantor mereka yang dulu berpusat di Malang, kini diboyong ke Jakarta, dan membangun lagi di Surabaya. DGM telah mempekerjakan tidak kurang 20 animator berbakat. Proyek besar seperti film animasi, salah satunya berjudul Kukurockyou, film yang akan dipasarkan secara global.

Perusahaan DGM sendiri sekarang lebih berbuka untuk berkembang. Mereka bermintra dengan pihak pemasaran, distributor, pengelola lisensi dan merchandise. Tujuannya agar film animasi makin lebih banyak di Indonesia. Ini juga akan membangun ekosistem bisnis yang mumpuni di kawasan Asia.

Sebagai penutup Rofiq mengajak para santri untuk berkreasi. Apapun medianya kita bisa menyebar kebaikan. Ia memandang pendidikan hanya membaca buku. Sementara diluaran sana masalah yang sebenarnya terjadi. Para santri harus bisa mempraktikan buku manual yang telah mereka pelajari.

Mahasiswi Pengusaha Evi Marlina Fokus di Kerajinan

Profil Pengusaha Evi Marlina


mahasiswi pengusaha souvenir
 
Evi Marlina satu dari mahasiswi pengusaha yang peduli. Fokusnya kepada kerajinan asli Suku Anak Dalam. Dia tidak hanya mengambil keuntungan tetapi sosial. Tetapi Evi juga mengajarkan kerajinan lain, semua agar suku anak dalam menjadi produktif dan mengikuti pangsa pasar.

Bermula dari pembicaraan ringan dengan teman mahasiswa. Pembicaraan intelektual yang mengarah ke kewirausahaan. Mereka membahas apa yang unik dari Jambi. Para mahasiswa FKIP, Universitas Jambi, saat itu di tahun 2009, yang sebenarnya iseng kemudian berkembang menjadi niatan.

Niatan untuk mengunjungi suku anak dalam di Dusun Senami, Kabupaten Batanghari. Dari keinginan mencari yang unik, mereka ingin mensurvei kehidupa seperti apa mereka. Berjalan 60 km dari Kota Jambi untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan.

Mereka menemukan berbagai hal unik dalam kewirausahaan. Produk- produk unik yang dihasilkan mereka bisa dimanfaatkan. Awalnya anak suku dalam hanya berkreasi seni melalui produk kerajinan. Evi menemukan beberapa benda hasil dari survei pada Mei 2011 itu.

Bisnis Sosial


Dia menemukan satu kerajinan bernama Ambung yang unik. Produk rotan yang biasa digunakan masyarakat suku anak dalam. Itu biasanya digunakan untuk membawa barang- barang. Mereka juga bisa memproduksi tikar rumbai dari rotan.

Ide kreatif lalu muncul dari benaknya untuk memperkenalkan itu. Ia ingin memodifikasi itu agar bisa menjadi khas Jambi. Ambung sendiri biasanya besar, lalu dia perkecil seukuran gelas, dan dimasukan ke dalam kaca. Di gelas tersebut lalu ditulisi asal mula ambung beserta asalnya dari suku anak dalam.

"Yang kita tuliskan adalah, ambung itu apa dan biasa digunakan suku anak dalam untuk apa," ia bercerita.

Mahasiswi pengusaha ini kemudian memilih berbisnis. Evi memodifikasi udang- udangan menjadi gantungan kunci. Ia kemudian mengkombinasikan itu dengan ambung. Hasilnya mengejutkan karena itu diminati oleh Pemerintah, kemudian dijadikan plakat untuk seminar- seminar pemerintahan Jambi.

Kreatifitas Evi tak berhenti salah satunya membuat bunga rota. Evi juga mengajarkan ini kepada para anak suku dalam. Ada produk bungan rotan berbentuk bung lili air dan melati. Kerajinan rotan yang memodifikasi dari anak suku dalam tersebut masih banyak.

Evi mengatakan ada puluhan variasi yang bisa nanti dikembangkan. Mengusung nama SAD Rangke- Rangke atau dalam bahasa menarik- menarik. Benar saja namanya mampu menarik khalayak ramai.Ia memasarkan produk kerajinan tersebut dari door- to door, dari satu instansi ke instansi pemerintah lain.

Tidak peduli instansi pemerintah atau milik swasta dia datangi. Evi juga rajin mengunjungi pameran, termasuk yang diselenggarakan Bank Mandiri. Dia juga bekerja sama dengan Jambi Express untuk promosi. Evi memanfaatkan banyak cara seperto media blog, website jual- beli dan Facebook.

Perbulan rata- rata ia mampu meraup omzet Rp.6- 7 juta. Kerja kerasnya tak terbuang sia- sia, karena produk Evi mulai dikenal hingga dipasarkan keluar Jambi. Evi tidak diam kemudian ikut aktif untuk mensosialisasi. Dia melakukan pelatihan bagi anak- anak dari suku anak dalam yang terpencil.

Menjadi Pengusaha Sosial


"Saat ini terdapat 11 suku anak dalam yang fokus mengerjakan kerajinan ini," tuturnya.

Bermula pengabdian untuk lebih mengenal suku anak dalam. Evi berserta beberapa orang merubah ini jadi usaha. Para mahasiswi pengusaha yang fokus mengerjakan kerajinan. Mereka pun sepakat untuk mengangkat derajat suku anak dalam.

Bermodal uang Rp.5 juta hasil lomba Dikti, Evi dan kawan membangun bisnis ini dan memasarkan aneka kerajinan. Hasil lomba kemudian dijadikan modal membangun galeri pameran. Mereka lalu mengajak lebih banyak suku anak dalam, mereka bekerja sama membuat aneka produk kerajinan.

Aneka kerajinan dan replika mereka cukup murah dari Rp.2000- Rp.250 ribu. Permintaan datang dari Jawa. Mereka juga menjual sampai ke luar negeri seperti Cheko. Orderan datang dengan jumlah yang besar. Evi mengatakan omzet tidak besar sekitar Rp3- Rp.6 juta, pemesanan bersifat waktu tertentu.

"Biasanya mereka (suku anak dalam) menggunakan kata Rangke ini untuk mengatakan sesuatu atau seseorang yang dianggap cantik," Evi menjelaskan.

Didirikan 2010 silam, bisnis mereka merupakan kumpulan mahasiswa yang bersatu. Bermula dari lomba yang diadakan DIKTI atau Direktorat Penelitian Pendidikan Tinggi. Awalnya mereka tengah melakukan penelitian sembari membahas kewirausahaan.

Mereka melakukan survei kemudian pelatihan bagi anak suku dalam. Pemberdayaan dan pelatihan itu kemudian diikutkan perlombaan di Bali. Hasilnya produk mereka berhasil menarik perhatiaan para pengunjung. Meskipun penelitian telah selesai, SAD tidak berhenti malah semakin berkreasi saja.

Mereka memasarkan ke banyak tempat. Evi mengatakan beberapa teman membantu. Para mahasiswa terkadang membawa souvenir bikinan milik mereka. Tujuan awalnya untuk kegiatan sosial, bukan untuk bisnis atau profit. Mereka mengajak lebih banyak masyarakat menjadi bagian dari tim mereka.

Bimbingan Belajar SSC Bisnis Melaju Dengan Mutu

Profil Pengusaha Sony Sugema 

  
pengusaha bimbel ssc

Maraknya bisnis pendidikan memberikan harapan manusia lebih baik. Bimbingan belajar SSC bisnis yang melaju dengan mutu. Bagi mereka yang membutuhkan pendidikan alternatif, ketika merasakan kesemrawutan pendidikan formal. Pengusaha Sony Sugema hadir untuk membantu kita lewat konsep bisnis SSC.

Banyak bisnis pendidikan menawakan konsep waralaba. Terbukti sistemnya mampu mempercepat pertumbuhan sekolah. Tidak semua berhasil sih, beberapa malah layu sebelum berkembang, walau mereka telah diwaralabakan. Kegagalan tidak mematahkan semangat pebisnis daerah mencoba.

Contohnya pengusaha sukses bernama Sony Sugema. Dia mungkin hanya pria lulusan SMA Negeri 3 Bandung. Tetapi Sonny memulai bisnis pendidikan lebih awal. Semenjak ditinggal sang ayah ketika di bangku sekolah itu, ia mulai berpikir bagaimana menjadi mandiri maka bukalah bisnis bimbel.

Pengusaha Bimbel Masa Depan


Ia menjalankan bisnis les privat, dimulai teman- temannya sendiri. Biaya lesnya hanya Rp.5000 per- bulan tetapi jadi titik balik. Pengalaman mengajar itulah membuatnya semangat membangun lembaga pendidikan sendiri. Bukan bimbel tetapi sekolah walau bersekalah sangat kecil waktu itu.

Bermodal 1,5 juta, Sony membangun idenya yang kemudian bernama Sony Sugema Collage (SSC). Ia menggunakan modalnya untuk membayar pegawai dan menyewa ruangan belajar. Sebuah lembaga pendidikan yang berkonsentrasi menghadapi ujian masuk universitas.

Metodennya diberi nama fastest solution dan learning is fun. Sekolah SCC berupaya membantu calon mahasiswa baru. Sony tertarik akan dunia pendidikan, dari SMA hingga kuliah di jurusan teknik mesin ITB, ingin membangun lembaga pendidikan sendiri.

Ia lalu memutuskan mengajar sebelum mendirikan SCC. Sonny pernah mengajar matematika di salah satu SMA Swasta. Berlanjut dia mengajar di lembaga pendidikan hingga membangun sendiri. Dia percaya melalui metode SCC buatannya, siswa akan lebih cepat belajar.

Siswa yang menganggap matematika, atau fisika sebagai momok akan terbantu. Metode belajar  yang dimiliknya nyata menghasilkan siswa berprestasi. Kesukses mereka menjadi media pemasaran viral yang efektif. Para siswa lah yang menjadi testimoni nyata keberhasilan Sonny Sugema dan SSC

Siswa- siswa yang mengikuti bimbingan SCC semakin bertambah. Sampai 1991 Sony memutuskan untuk membuka cabang di Jakarta. Momen tersebut menjadi lompata bisnis SSC di Indonesia. Butuh waktu dua puluh tahun, barulah dia mereguk keberhasilan dari bisnis tersebut.

Ia sukses memiliki empat perusahaan berbasis pendidikan Segudang penghargaan menghampirinya atas keberhasilan mengembangkan bimbingan belajar ternama di Indonesia. Sony memang memiliki tekat kuat untuk berjalan langkah demi langkah hingga mencapai puncak keberhasilan.

Solusi Wirausaha Dojo Box Siap Membantu UKM

Profil Pengusaha Indra Haryadi


pengusaha konsultan bisnis

Banyak cara membantu UKM Indonesia berkembang ketika era digital. Solusi wirausaha Dojo Box, didirikan oleh Indra Haryadi, sudah lama memberikan solusi internet. Mereka menangani klien- klien UKM dan sekala perusahaan, dari Rumah Makan Mbah Jingkrak hingga PT. Prima Andalan Group.

Para klien Dojo Box adalah mereka yang membutuhkan sistem bisni. Indra memberikan solusi untuk menghindarkan kesalahan dan kerugian. Ia juga merencanakan agar menaikan omzet dari klien. Indra memilih untuk membantu pengusaha Indonesia, yang katanya masih dikisaran 1% dari populasi.

Bisnis Konsultan UKM


Banyak upaya dilakukan pemerintah guna membantu pengusaha. Tujuannya baik dari menaikan skala  usaha sampai mempertahankan pendapatan. Banyak mereka yang gagal bertahan, karena baik secara kualitatif ataupun kuantitatif tidak siap, dan membutuhkan pihak ketiga.

Indra menyadari hal tersebut memilih untuk membantu. Bagaimana agar mereka lebih kompetitif dari pemenuhan permintaan. Juga cara menjaga kualitas dan pelayanan dari pemilik usaha. Maka hadirnya Indra bersama Dojo Box, seolah menjadi seperti pelatih sasana bela diri yang mengajari.

Menurut banggaberindonesia.com, Indra Haryadi terinspirasi untuk membuat proposal bisnis, lalu Dojo Box diberi bantuan dana hibah Rp.50 juta. Mereka memenangkan Program Studentpreneur BRI yang memberikan tantangan waktu 12 bulan.

Dojo Box memanajemen baik sistem hingga scaling bisnis. Di sistem manajemen, Indra dan timnya menawarkan sistem bernama Symesro Resto Box. Ini diperuntukan bagi pebisnis kuliner untuk hal manajemen dapur, penyajian, dan kasir, yang menggunakan sistem IT terintegritas.

Mereka mengajarkan urutan penyajian hingga manajemen waktu. Sistem Dojo Group mengajar dari staf pelayan dan kasir. September 2012, dari dana hibah itu dipakai Rp.17 juta, untuk menyiapkan resto box dan marketer box untuk Rumah Makan Mbah Jingkrak dan PT. Prima Andalan Group.

Kemudian kwartal kedua Dojo Box menggelontorkan Rp.21 juta. Klien mereka adalah CV. Miconas Transdata Nusantara, Rumah Makan Waroeng Poetri, dan ADiTV. Disusul Rp.8,5 juta untuk biaya pengembangan cleaner box bagi Rumah Makan Ambarukmo Magnum, Resto dan Wisma Joglo.

Dojo Box berhasil membantu dan menghasilkan omzet. Kuartal pertama Indra menghasilkan omzet Rp24,9 juta bulan pertama, Rp.86 juta kedua, dan bulan ketiga Rp.57 juta. Ternyata dana hibah yang diberikan BRI berhasil. Dojo Box menghasilkan omzet Rp.166,9 juta untuk tiga layanan bisnis.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba