Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Quote Terbaik Yasa Singgih Pengusaha Muda

Quote Terbaik Pengusaha Muda 



Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Suhaedah 




Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.

Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.

Bisnis keluarga


Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.

Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.

Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.

Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.

Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.

Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.

Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.

Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.

Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.

Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.

Pengusaha Hijab Paling Terkenal Malaysia Selebriti

Profil Pengusaha Noor Neelofa Mohd 




Baginya setiap ada kesempatan merupakan anugrah. Salah satunya, menjadi artis tenar asal Negeri Jiran, Malaysia, wanita kelahiran 10 Februari 1989 tengah diasikan bisnis hijab. Dulu, sebelum berhijab sudah berbisnis aneka macam. Noor Neelofa Mohd menunjukan gabungan antara karir dan bisnis keseharian.

Bukan sekedar artis tetapi ratu kencatikan Malaysia. Lihat lah jutaan penggemar mengikuti dia di sosmed, follower Twitter capai 1,4 juta, dan 2,2 juta pengikut Facebook. Ketika dia mengenakan hijab maka para penggemar akan segera memburu hijab dikenakan.

Dalam tempo setahun bisnis hijab Lofa, begitu dia akrab disapa, mampu menembus angka triliunan. Satu hijab dihargai $24 atau pendapatan $11,5 juta. Bisnis Lofa tidak cuma soal busana muslim. Aksesoris besuta perusahaan miliknya juga digandrungi wanita non- muslim.

Kemampuan dia melihat pasar tidak kebetulan. Pengalaman aneka bisnis sudah dijalani sambi berakting. Ia sudah punya banyak cabang, reseller juga tersebar menyebar ke penjuru Malaysia. Total reseller capai 700 orang mendongkrak penjualan online Neelofa Hijab.

Dia dibantu sang adik, Noor Nabila, sebagai Direktur NH Prima Internasional, dibalik layar Neelofa Hijab melalang buana. Sudah ada distributor di Brunei Darussalam, London, Australia, dan Amerika Serikat, ia sudah jajaki. "Kami terkejut dan kaget," ujar Noor, respon pasar yang tidak disangka- sangka.

Pengusaha terus



Banyak usaha pernah dijalankan Lofa sambil barakting. Masalah datang juga di usaha dijalankan. Banyak orang mendengar dia dilaporkan ke Utusan Malaysia, karena soal bisnis. Usaha pertama ialah jualan aneka sepatu berhak tinggi. Berawal kesukaan sang selebiriti membeli sepatu aneka warna berhak tinggi.

Dia dikenal pandai belajar. Tetapi juga hobi pengoleksi sepatu. Bahkan katanya nih, dia terobsesi, bahkan sampai selemari loh. Kemudian dia mulai mendalami bisnis pembuatan sepatu berhak tinggi sendiri.

Meskipun digelari jutawan hijab, Lofa hanya tersenyum manis, yang terpenting usaha dijalankan tidak lah melanggar hukum. "Alhamdulillah, apa yang saya telah capai merupakan puncak titik keringat saya dan keluarga," ujarnya.

Pasar bisnis Lofa menembus negara tetangga Asia Tenggara. Menjadi fenomen tersendiri berkat dorongan banyak pihak. "...tidak ada hal yang mustahil dalam hidup jika tidak berputus asa," dia menambah. Nama bisnisnya berkat seorang anak muda asal Johor, menjadi distributor awal bisnis hijab.

Ada kesenengan mendengar kesuksesan reseller ataupun distributor produknya. Menjadikan dia lebih lagi bersemangat membuat produk terbaru. Tidak lagi terhanyut akan duni gemerlap selebiriti. Fokus dia kini hanyalah mengembangkan perusahaan dibawah brandnya.

Walaupun tidak seramai dulu berakting. Dia masih menganggap seni merupakan rumah. Karena sudah lagi berhijab banyak batasa dia lakukan. Termasuk lebih selektif memilih peran. Tidak lagi banyak tampil di layar kaca berakting, kini, kesibukan Lofa adalah menjadi pebawa acara nomor satu Malaysia.

Termasuk sosok yang peduli akan pendidikan. Lofa dikenal mempunya nilai tinggi dalam ujian nasional. Dia juga rela terbang ke New York buat sekedar kuliah singkat. Ke New York, dia banyak belajar tentang kewirausahaan, dia memang lebih ingin bicara tentang bisnis dibanding hal lain.

Dia mengantungi gelar sarjana ilmu perdagangan internasional, Sunway University Collage, yang mana mau lebih berjaya dibanyak hal. Untuk bisnis dia berharap mampu mengimbangi selera fasion pasar. "Saya akan bersifat lebih berani," unggahnya.

Aneka Tas Ekspor Eropa Rico Yudhiasmoro

Profil Pengusaha Rico Yudhiasmoro 



Menjadi pengusaha muda merupakan pelajaran. Bahkan tidak tertulis detail dalam buku bisnis manapun. Kisah dari setiap pengusaha berbeda- beda. Satu pengusaha mengandalkan bekal pendidikan. Tidak jarang berjalan menjadikan kewirausahaan pendidikan itu sendiri.

Butuh kerendahan hati untuk selalu belajar. Juga butuh rasa tidak puas karena belajar sepanjang jalan. Ini kewirausahaan tidak semudah membalikan telapak tangan. Rico Yudhiasmoro, lulusan jurusan ekonomi dan advertising, Universitas Gajah Mada, memilih membuka usaha tas dibanding bekerja di perusahaan.

Ia nekat membuka usaha tas bermodal otodidak. Semua desain karangan Rico merupakan ide original. Dia lantas bertemu seorang pengrajin. Sosok dia membantu Rico tumbuh kembang. Dari seorang mahasiswa lulusan ekonomi menjadi desainer tas berkualitas ekspor.

Awal Juni 1997, seorang pengrajin bergabung dengannya, ialah pengrajin asal Kota Yogyakarta yang dia ketahui sumber bahan dan kerajinan kulit. Soal desain dia belajar banyak belajar sama si pengrajin. Dia hanyalah pemula ketika memulai bisnis. Semua barang dipelajari betul- betul oleh Rico layaknya kuliah.

Mulai pembuatan tas, dompet, sarung tangan, sampai jaket kulit. Berlanjut usaha mereka merambah bahan non- kulit. Menjadi pengusaha muda merupakan belajar di tempat. Apapun pesanan pembeli disetujui saja olehnya.

Bisnis besar


Bertahun bersama sang pengrajin mengundurkan diri. Perbedaan visi menjadi alasan keduanya pecah. Rico merasa bahwa sang pengrajin juga kurang soal kualitas. Padahal disadari betul pembeli mulai banyak, jadi kualitas harus diperhatikan agar tidak kalah bersaing -sesuai prinsip ekonomi dan advertising dia pelajari.

Usaha produk aneka kulit Rico natural. Bahan baku hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak memakai cat supaya terkesan natural. Kulitnya ramah lingkungan atau istilahnya vegetable tanned. Soal modal tidak ada masalah karena prinsipnya kepercayaan.

Kredibilitas bahwa dia berkomitmen akan produknya. Soal uang akan mengucur sendiri, baik uang sendiri ataupun pinjaman bank. Atau terkadang berupa kucuran bahan baku. Orang akan datang rela menginvestasi ke bisnis Rico. Tunjukan prestasi dulu, kredibilitas, maka yang menawarkan modal tidak akan kecewa.

Lebih mudah soal uang dibanding teknis. Ambil contoh Rico bisa meminta pinjaman keluarga. Ketika dia diberi pinjaman maka tanggung jawab. Susah justru datang dari kebutuhan sumber daya manusia. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus membuat tas disini.

Pelatihan harus diberikan oleh Rico sendiri. Pelatihan khusus spesifik untuk pekerjaan tertentu. Ada yang diajarkan mengelem, menjahit. Setiap orang diberikan keahlian khusus. Mereka tidak mengerjakan semua dari awal sampai akhir. Awalan dia memiliki lima orang karyawan bekerja di garasi rumah orang tuanya.

Kalau sekarang sih, sudah ada 100 orang karyawan, dan usaha M Joint bergeser ke belakang rumah supaya menampung banyak karyawan. Usaha mereka fokus membuat tas dan dompet kulit. Alasan karena barang tersebut tetap ada sejak dahulu kala. Kualitas dia ingatkan merupakan urusan nomor satu pengusaha muda.

Bisnis terbang ke Eropa


Kualitas baik maka barang akan dicari oleh pembeli. Konsumen akan sendirinya mencari- cari. Contoh ringan ya kalau berbisnis kuliner: Makanan enak kalau tempat terpencil tetap laku. Orang akan datang ke pelosok buat menikmati kuliner.

Produk Rico dipasarkan utama lewat mulut ke mulut. Usaha lainnya, lewat aneka pameran, tujuan Rico ialah membangun relasi bisnis. Usaha pameran menghasilkan pembeli bahkan dari luar. Pameran yang dia rasa paling berkesan, ialah pameran di Frankfurt, Jerman, lewat Badan Pengembangan Ekspor pada 2007.

Promosi dianggap penting gak penting. Pokoknya harus meningkatkan kualitas produk kita. "...kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri," ujarnya.

Produksi Rico mencapai 2500- 3000 buah setiap bulan. Jumlah produksi ditentukan kesulitan desain dia miliki. Makin rumit semakin sedikit diproduksi. Jumlah produksi tas mencapai 90 persen. Sisanya dia fokus mengerjakan aneka dompet. Tahun 1998, produknya sudah masuk Jepang, meskipun tidak banyak.

Pengiriman ke Jepang tidak berlangsung panjang. Alasan karena produk M Joint kalah bersaing dengan produk China. Sekarang pasar eskpor dialihkan ke Eropa, dimana besaran 80%, sementara ke Australia 15% dan sisanya dalam negeri. Produk Rico mengisi etalase 450 toko, dijual lewat mereka setempat.

Pasar lokal Rico hanya menyasar pameran atau di rumah. Jadi kalau kamu mau tasnya harus ke rumah Rico sendiri. Kalau sekarang dia ingin mempertahakan penjualan di duna negara itu. Pernah dapat pesanan besar dia syukuri. Dengan cara kerja lembur semalaman buat memenuhi pesanan produksi dua negara.

Oleh karena penjualan lebih ke luar negeri. Dimana produknya dimereki orang lain. Rico mengaku masih kesulitan mengembangkan brand sendiri. Ia tengah mempersiapkan paten atas mereka sendiri. Sementara itu pasaran Indonesia mulai bergeliat minta dipenuhi. Omzet sendiri tidak bersedia beberakan detailnya ke Kompas.com

Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.

Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba