Perpustakaan pengusaha berisi 1000 profil dan biografi pengusaha sukses. Baca, pelajari, tiru dan kembangkan bisnis kamu sendiri. Gratis!
Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha
Profil Pengusaha Norma Suhaedah
Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.
Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.
Bisnis keluarga
Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.
Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.
Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.
Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.
Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.
Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.
Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.
Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.
Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.
Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.
Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.
Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.
Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.
Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.
Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.
Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.
Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.
Pengusaha Hijab Paling Terkenal Malaysia Selebriti
Profil Pengusaha Noor Neelofa Mohd
Baginya setiap ada kesempatan merupakan anugrah. Salah satunya, menjadi artis tenar asal Negeri Jiran, Malaysia, wanita kelahiran 10 Februari 1989 tengah diasikan bisnis hijab. Dulu, sebelum berhijab sudah berbisnis aneka macam. Noor Neelofa Mohd menunjukan gabungan antara karir dan bisnis keseharian.
Bukan sekedar artis tetapi ratu kencatikan Malaysia. Lihat lah jutaan penggemar mengikuti dia di sosmed, follower Twitter capai 1,4 juta, dan 2,2 juta pengikut Facebook. Ketika dia mengenakan hijab maka para penggemar akan segera memburu hijab dikenakan.
Dalam tempo setahun bisnis hijab Lofa, begitu dia akrab disapa, mampu menembus angka triliunan. Satu hijab dihargai $24 atau pendapatan $11,5 juta. Bisnis Lofa tidak cuma soal busana muslim. Aksesoris besuta perusahaan miliknya juga digandrungi wanita non- muslim.
Kemampuan dia melihat pasar tidak kebetulan. Pengalaman aneka bisnis sudah dijalani sambi berakting. Ia sudah punya banyak cabang, reseller juga tersebar menyebar ke penjuru Malaysia. Total reseller capai 700 orang mendongkrak penjualan online Neelofa Hijab.
Dia dibantu sang adik, Noor Nabila, sebagai Direktur NH Prima Internasional, dibalik layar Neelofa Hijab melalang buana. Sudah ada distributor di Brunei Darussalam, London, Australia, dan Amerika Serikat, ia sudah jajaki. "Kami terkejut dan kaget," ujar Noor, respon pasar yang tidak disangka- sangka.
Pengusaha terus
Banyak usaha pernah dijalankan Lofa sambil barakting. Masalah datang juga di usaha dijalankan. Banyak orang mendengar dia dilaporkan ke Utusan Malaysia, karena soal bisnis. Usaha pertama ialah jualan aneka sepatu berhak tinggi. Berawal kesukaan sang selebiriti membeli sepatu aneka warna berhak tinggi.
Dia dikenal pandai belajar. Tetapi juga hobi pengoleksi sepatu. Bahkan katanya nih, dia terobsesi, bahkan sampai selemari loh. Kemudian dia mulai mendalami bisnis pembuatan sepatu berhak tinggi sendiri.
Meskipun digelari jutawan hijab, Lofa hanya tersenyum manis, yang terpenting usaha dijalankan tidak lah melanggar hukum. "Alhamdulillah, apa yang saya telah capai merupakan puncak titik keringat saya dan keluarga," ujarnya.
Pasar bisnis Lofa menembus negara tetangga Asia Tenggara. Menjadi fenomen tersendiri berkat dorongan banyak pihak. "...tidak ada hal yang mustahil dalam hidup jika tidak berputus asa," dia menambah. Nama bisnisnya berkat seorang anak muda asal Johor, menjadi distributor awal bisnis hijab.
Ada kesenengan mendengar kesuksesan reseller ataupun distributor produknya. Menjadikan dia lebih lagi bersemangat membuat produk terbaru. Tidak lagi terhanyut akan duni gemerlap selebiriti. Fokus dia kini hanyalah mengembangkan perusahaan dibawah brandnya.
Walaupun tidak seramai dulu berakting. Dia masih menganggap seni merupakan rumah. Karena sudah lagi berhijab banyak batasa dia lakukan. Termasuk lebih selektif memilih peran. Tidak lagi banyak tampil di layar kaca berakting, kini, kesibukan Lofa adalah menjadi pebawa acara nomor satu Malaysia.
Termasuk sosok yang peduli akan pendidikan. Lofa dikenal mempunya nilai tinggi dalam ujian nasional. Dia juga rela terbang ke New York buat sekedar kuliah singkat. Ke New York, dia banyak belajar tentang kewirausahaan, dia memang lebih ingin bicara tentang bisnis dibanding hal lain.
Dia mengantungi gelar sarjana ilmu perdagangan internasional, Sunway University Collage, yang mana mau lebih berjaya dibanyak hal. Untuk bisnis dia berharap mampu mengimbangi selera fasion pasar. "Saya akan bersifat lebih berani," unggahnya.
Dia dikenal pandai belajar. Tetapi juga hobi pengoleksi sepatu. Bahkan katanya nih, dia terobsesi, bahkan sampai selemari loh. Kemudian dia mulai mendalami bisnis pembuatan sepatu berhak tinggi sendiri.
Meskipun digelari jutawan hijab, Lofa hanya tersenyum manis, yang terpenting usaha dijalankan tidak lah melanggar hukum. "Alhamdulillah, apa yang saya telah capai merupakan puncak titik keringat saya dan keluarga," ujarnya.
Pasar bisnis Lofa menembus negara tetangga Asia Tenggara. Menjadi fenomen tersendiri berkat dorongan banyak pihak. "...tidak ada hal yang mustahil dalam hidup jika tidak berputus asa," dia menambah. Nama bisnisnya berkat seorang anak muda asal Johor, menjadi distributor awal bisnis hijab.
Ada kesenengan mendengar kesuksesan reseller ataupun distributor produknya. Menjadikan dia lebih lagi bersemangat membuat produk terbaru. Tidak lagi terhanyut akan duni gemerlap selebiriti. Fokus dia kini hanyalah mengembangkan perusahaan dibawah brandnya.
Walaupun tidak seramai dulu berakting. Dia masih menganggap seni merupakan rumah. Karena sudah lagi berhijab banyak batasa dia lakukan. Termasuk lebih selektif memilih peran. Tidak lagi banyak tampil di layar kaca berakting, kini, kesibukan Lofa adalah menjadi pebawa acara nomor satu Malaysia.
Termasuk sosok yang peduli akan pendidikan. Lofa dikenal mempunya nilai tinggi dalam ujian nasional. Dia juga rela terbang ke New York buat sekedar kuliah singkat. Ke New York, dia banyak belajar tentang kewirausahaan, dia memang lebih ingin bicara tentang bisnis dibanding hal lain.
Dia mengantungi gelar sarjana ilmu perdagangan internasional, Sunway University Collage, yang mana mau lebih berjaya dibanyak hal. Untuk bisnis dia berharap mampu mengimbangi selera fasion pasar. "Saya akan bersifat lebih berani," unggahnya.
Aneka Tas Ekspor Eropa Rico Yudhiasmoro
Profil Pengusaha Rico Yudhiasmoro
Menjadi pengusaha muda merupakan pelajaran. Bahkan tidak tertulis detail dalam buku bisnis manapun. Kisah dari setiap pengusaha berbeda- beda. Satu pengusaha mengandalkan bekal pendidikan. Tidak jarang berjalan menjadikan kewirausahaan pendidikan itu sendiri.
Butuh kerendahan hati untuk selalu belajar. Juga butuh rasa tidak puas karena belajar sepanjang jalan. Ini kewirausahaan tidak semudah membalikan telapak tangan. Rico Yudhiasmoro, lulusan jurusan ekonomi dan advertising, Universitas Gajah Mada, memilih membuka usaha tas dibanding bekerja di perusahaan.
Ia nekat membuka usaha tas bermodal otodidak. Semua desain karangan Rico merupakan ide original. Dia lantas bertemu seorang pengrajin. Sosok dia membantu Rico tumbuh kembang. Dari seorang mahasiswa lulusan ekonomi menjadi desainer tas berkualitas ekspor.
Awal Juni 1997, seorang pengrajin bergabung dengannya, ialah pengrajin asal Kota Yogyakarta yang dia ketahui sumber bahan dan kerajinan kulit. Soal desain dia belajar banyak belajar sama si pengrajin. Dia hanyalah pemula ketika memulai bisnis. Semua barang dipelajari betul- betul oleh Rico layaknya kuliah.
Mulai pembuatan tas, dompet, sarung tangan, sampai jaket kulit. Berlanjut usaha mereka merambah bahan non- kulit. Menjadi pengusaha muda merupakan belajar di tempat. Apapun pesanan pembeli disetujui saja olehnya.
Bisnis besar
Bertahun bersama sang pengrajin mengundurkan diri. Perbedaan visi menjadi alasan keduanya pecah. Rico merasa bahwa sang pengrajin juga kurang soal kualitas. Padahal disadari betul pembeli mulai banyak, jadi kualitas harus diperhatikan agar tidak kalah bersaing -sesuai prinsip ekonomi dan advertising dia pelajari.
Usaha produk aneka kulit Rico natural. Bahan baku hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak memakai cat supaya terkesan natural. Kulitnya ramah lingkungan atau istilahnya vegetable tanned. Soal modal tidak ada masalah karena prinsipnya kepercayaan.
Kredibilitas bahwa dia berkomitmen akan produknya. Soal uang akan mengucur sendiri, baik uang sendiri ataupun pinjaman bank. Atau terkadang berupa kucuran bahan baku. Orang akan datang rela menginvestasi ke bisnis Rico. Tunjukan prestasi dulu, kredibilitas, maka yang menawarkan modal tidak akan kecewa.
Lebih mudah soal uang dibanding teknis. Ambil contoh Rico bisa meminta pinjaman keluarga. Ketika dia diberi pinjaman maka tanggung jawab. Susah justru datang dari kebutuhan sumber daya manusia. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus membuat tas disini.
Pelatihan harus diberikan oleh Rico sendiri. Pelatihan khusus spesifik untuk pekerjaan tertentu. Ada yang diajarkan mengelem, menjahit. Setiap orang diberikan keahlian khusus. Mereka tidak mengerjakan semua dari awal sampai akhir. Awalan dia memiliki lima orang karyawan bekerja di garasi rumah orang tuanya.
Kalau sekarang sih, sudah ada 100 orang karyawan, dan usaha M Joint bergeser ke belakang rumah supaya menampung banyak karyawan. Usaha mereka fokus membuat tas dan dompet kulit. Alasan karena barang tersebut tetap ada sejak dahulu kala. Kualitas dia ingatkan merupakan urusan nomor satu pengusaha muda.
Bisnis terbang ke Eropa
Kualitas baik maka barang akan dicari oleh pembeli. Konsumen akan sendirinya mencari- cari. Contoh ringan ya kalau berbisnis kuliner: Makanan enak kalau tempat terpencil tetap laku. Orang akan datang ke pelosok buat menikmati kuliner.
Produk Rico dipasarkan utama lewat mulut ke mulut. Usaha lainnya, lewat aneka pameran, tujuan Rico ialah membangun relasi bisnis. Usaha pameran menghasilkan pembeli bahkan dari luar. Pameran yang dia rasa paling berkesan, ialah pameran di Frankfurt, Jerman, lewat Badan Pengembangan Ekspor pada 2007.
Promosi dianggap penting gak penting. Pokoknya harus meningkatkan kualitas produk kita. "...kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri," ujarnya.
Produksi Rico mencapai 2500- 3000 buah setiap bulan. Jumlah produksi ditentukan kesulitan desain dia miliki. Makin rumit semakin sedikit diproduksi. Jumlah produksi tas mencapai 90 persen. Sisanya dia fokus mengerjakan aneka dompet. Tahun 1998, produknya sudah masuk Jepang, meskipun tidak banyak.
Pengiriman ke Jepang tidak berlangsung panjang. Alasan karena produk M Joint kalah bersaing dengan produk China. Sekarang pasar eskpor dialihkan ke Eropa, dimana besaran 80%, sementara ke Australia 15% dan sisanya dalam negeri. Produk Rico mengisi etalase 450 toko, dijual lewat mereka setempat.
Pasar lokal Rico hanya menyasar pameran atau di rumah. Jadi kalau kamu mau tasnya harus ke rumah Rico sendiri. Kalau sekarang dia ingin mempertahakan penjualan di duna negara itu. Pernah dapat pesanan besar dia syukuri. Dengan cara kerja lembur semalaman buat memenuhi pesanan produksi dua negara.
Oleh karena penjualan lebih ke luar negeri. Dimana produknya dimereki orang lain. Rico mengaku masih kesulitan mengembangkan brand sendiri. Ia tengah mempersiapkan paten atas mereka sendiri. Sementara itu pasaran Indonesia mulai bergeliat minta dipenuhi. Omzet sendiri tidak bersedia beberakan detailnya ke Kompas.com
Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.
Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.
Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.
Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.
Notaris Sambilan Pengusaha Sarung Tangan Musim Dingin
Profil Pengusaha Wing Mahareny
Seorang notaris yang mendadak menjadi pengusaha. Apalagi dia menjadi pengusaha garmen. Uniknya ya karena dia sama sekali tidak bisa menjahit. Kesempatan itulah Wing Mahareny Yudiati lihat ketika melihat bisnis sarung tangan. Walaupun tidak bisa menjahit, dia tetap "paksakan" menjadi pengusaha dengan segala suka- duka.
Tugasnya menyuplai buat kebutuhan perusahaan lain. Dia membuat lalu dilabeli sendiri orang lain. Dimana ada perusahaan asal Korea, batal investasi di Indonesia. Perusahaan Korea batal membangun pabrik di Magelang. Tetapi sudah terlanjur melatih 150 tenaga kerja lokal.
Semua karena Gunung Merapi meletus di 2010. Padahal mesin juga sudah berdatangan siap pakai. Disisi lain, bisnis Wing lumayan, menyetok tiga perusahaan melebeli produksi Wing sendiri. Ketika dia ditawari kerja sama sang pengusaha asal Korea. Tinggal menyiapkan tempat buat berproduksi dan ia sanggupi itu.
Bisnis peruntungan
Bukan perkara mudah menciptakan sarung tangan. Awal bisnis usahanya gagal menembus pasar luar, juga tidak cocok di lokal. Usaha sempat mati suri tetapi tetap bertekat. Sempat berhenti produksi ketika rekan bisnis mereka berhenti berproduksi -mungkin perusahaan asal Korea tersebut ya.
Karena alasan keamanan ketika Gunung Merapi meletus. Untung kejadian bencana tidak berlangsung lama. Alhasil Wing kembali mencoba peruntungan bisnis sarung tangan. Perusahaan asal Korea tersebut juga membuka peluang berproduksi sendiri lebih banyak.
Dipikir mencoba sesuatu lebih baik. Ia mengambil alih 75 orang pekerja siap pakai -hampir semuanya perempuan. Laki- lakinya kecil jumlahnya, termasuk orang kepercayaanya, pimpinan perusahaan dibawah Wing langsung sebagai tangan kanan. Perusahaan berjalan lebih cepat, tetapi kok tidak semudah itu jualan.
Di Magelang sendiri, wanita muda lulusan SMP- SMA, lebih senang bekerja menjadi pelayan toko atau pembantu rumah tangga. Tempat kerja Wing sendiri memiliki tekanan tersendiri. Dimana ia menerapkan tempat kerja tenang, tanpa gangguan ponsel di jam tertentu, pokoknya tidak boleh mengobrol tapi kerja.
Inilah yang membuat karyawan Wing susah. Mereka merasa kurang nyaman karena ada tekanan. Terutama jika ada pesanan besar membutuhkan target waktu. Mereka belum terbiasa. Apalagi ditambah soal tempat tinggal yang jauh dari tempat produksi. Butuh waktu naik angkot, lebih banyak uang habis buat ongkos.
Ujung- ujungnya beberapa pegawai mengompori. Mereka mengajak teman buat keluar perusahaan. Ini jadi beban produksi karena butuh orang baru. Kemudian masalah pegawai lain dari orang dekat Wing yang ikut dipekerjakan. Karena merasa dekat secara pribadi, kebanyakan bermuka tetapi kerja nol.
Masalah lain umur pegawai, ya, karena pegawai kebanyakan perempuan umuran 15- 18 tahun. Kan kalau sudah saatnya ada cuti nikah, cuti hamil, kalau sudah begitu susah dipaksa bekerja lagi. Mangkanya dia banyak bongkar pasang pegawai. Susah mempekerjakan pegawai dari nol lagi, tetapi mau bagaimana lagi.
Sukses belajar mengenai manajemen otodidak. Ia menerapkan pegawai hanya bekerja satu pekerjaan. Jadi yang mengerjakan pola satu tugas, tidak dari semua pola sampai jadi dikerjakan pegawai. Pokoknya satu orang mempunya satu kerjaan yang harus diselesaikan. Ada khusus memotong, menjahit luar, variasi dan sebagainya.
Kacau, padahal belum balik modal, padahal dia beru merenovasi bangunan biar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Korea tersebut. Sampai sempat putus asa menyerah akan keadaan. Dua tahun awal bisnis itu dianggap paling emosional. Alhasil berefek hubungan dengan karyawan, manajemen, dan hasil produksi.
Setelah bongkar- pasang pegawai, akhirnya, Wing mendapatkan tim solid bekerja bersama. Ujungnya ya ia mampu memproduksi lebih banyak sarung tangan cantik. Ia menerapkan quality control ketat. Wing cari pegawai dari desa- desa, mereka perempuan yang tidak memiliki pekerjaan tetap, mereka dididik jahit.
Prinsipnya mereka mau kerja diberi pelatihan. Bahkan ia rela mengirimkan mesin jahit ke desa. Mulai lah sistem tersebut berkembang. Dimana perempuan desa dilatih, kemudian desanya dijadikan Wing tempat produksi, ada dua yaitu di Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Grabag di Kabupaten Magelang.
"...dan satu lagi tempat produksi di rumah saya," tuturnya.
Kenapa memecah pusat produksi, ternyata ada alasan tertentu, lantaran bagaimana membuat mereka bisa bekerja dekat rumah. Urusan emosi memang wanita lebih rentan. Untuk kendali Wing sudah memiliki sosok tangan kanan.Tidak ada kerja sistem kontrak, mau kerja ya kerja, kalau keluar sudah punya skill.
Kenapa bisnis garmen selalu menggunakan perempuan. Dasarnya perempuan telaten, sabar, dan persaaan halus, tentu terbawa ke produk mereka ciptakan. Kalau dikerjakan tangan kasar nanti lekas rusak. Ibarat dia karakter seseorang terlihat dari sentuhan di mesin jahit.
Oleh karenanya, pegawai tidak boleh pindah mesin jahit, satu mesin hanya diperuntukan khusus buat si pemegang sejak awal.
Pasar Wing adalah perusahaan di Korea, mereka bisa meminta label dipasang disini. Lalu perusahaan itu akan ekspor ke Eropa, atau negara bermusim empat lain. Katanya sih dijual di mal- mal besar karena dia memang buat sarung tangan musim dingin.
Si perusahaan Kore akan menjual ke berbagai perusahaan besar, seperti ada Adidas, Nike, dan Sanrio yang punya hak cipta Pororo. Adapula perusahaan alat olah raga lain, Eagle, menawarkan kerja sama langsung buat konsep sarung tangan. Wing becerita konsep sangat bagus, tetapi lebih rumit bila nanti dikerjakan.
Untuk sekarang ini, Wing merasa sangat beresiko, daripada nanti terlalu banyak reject. "...lebih baik saya tolak." Ada 10 jenis sarung tangan dan dikerjakan bertema permusim. Produksi juga mengikuti musimnya, contoh dikerjakan bulan Januari, maka dikerjakan 2- 3 bulan sebelumnya agar sesuai musim dinginnya.
Setiap sarung tangan memiliki perbedaan, baik bahan, material, dan kebutuhan pasar. Apalagi sekarang dia tidak lagi cuma memproduksi sarung tangan musim dingin umum. Kan ada sarung tangan golf, ski, atau aktifitas lainnya, yang tentu bahan berbeda, ada lycra, parasut, dan sebagainya.
Mesin jahit juga disesuaikan bahan. Jika tidak, ketika pergantian kain, satu jenis mesin jahit malah bikin mesin macet, jahitan benang ruwet, lompat- lompat, dan sebagainya. Mangkanya mesin jahit harus beda juga termasuk soal jarum. Pokoknya satu mesin jahit hanya dikerjakan oleh satu pegawai ahlinya saja.
Setiap bulan dia memproduksi lebih dari 5000 pasang. Pesanan tergantung musimnya, contoh lebih detail, sarung tangan golf pada bulan Januari- April, kemudian bulan Mei- Juli ada pesanan dari perusahaan sepatu boot asal Finlandia. Harga jualnya misal sarung tangan anak Pororo harganya mencapai Rp.400 ribu.
Perusahaan sendiri memang tidak menarget produksi besar. Pasalnya melihat pengalaman lebih baik kecil tetapi tetap dan bagus kualitasnya. Sesuaikan dengan jumlah karyawan 60 orang dan 75 mesin jahit, kira- kira bisa berproduksi 5- 6 ribuan lah.
Ternyata sepanjang perjalanan tidak semulus kelihatan. Kerja sama dengan perusahaan Korea sudah tidak lagi. Lantaran makin ke sini, pengiriman bahan makin berkurang dan terlambat, eh ternyata perusahaan itu sudah punya cabang lagi di Yogyakarta. Memotong uang sebagian tidak sesuai kontrak pertama mereka.
Sempat memegang 2- 3 pesanan dari perusahaan berbeda. Kini dia lebih nyaman fokus satu perusahaan rekanan. Untung dia menemukan perusahaan yang sesuai, jadi mereka kerja sama sudah empat tahun jalan, keduanya juga fokus membuka usaha bersama di Yogyakarta.
Wing sendiri ketika ditanya mau gak bikin merek sendiri. Kepada Tabloid Nova, dia memang ingin sekali menjual langsung ke pembeli. Dia juga melihat bagaimana beberapa pegawai masih dibawah UMR. Dia ingin sekali menjual tanpa perantara. Mungkin dengan meningkatkan kualitas produksi dan menjajal pasar lokal.
Memang kalau dijual buat lokal susah. Apalagi bahan baku impor, termasuk bulu dombanya, mangkanya tidak salah jika harga jual dikisaran Rp.400 ribuan. Oleh karena itu, untuk pasar lokal, Wing tengah hitung- hitungan biar produknya bisa diminati siapa saja. Yang jelas menurut Wing sumber daya manusia utama!
Selain menjadi pengusaha, ternyata Wing masih kerja menjadi notaris sejak 2005, dan juga pernah jadi anggota DPRD. Kegiatan lain menjadi semacam pelestari manian tradisional lewat sebuah komunitas di Magelang. Mengurus pegawai sudah jadi biasa, dulu, dia pernah bekerja di Salim Group pada 1991 -an.
Inilah yang membuat karyawan Wing susah. Mereka merasa kurang nyaman karena ada tekanan. Terutama jika ada pesanan besar membutuhkan target waktu. Mereka belum terbiasa. Apalagi ditambah soal tempat tinggal yang jauh dari tempat produksi. Butuh waktu naik angkot, lebih banyak uang habis buat ongkos.
Ujung- ujungnya beberapa pegawai mengompori. Mereka mengajak teman buat keluar perusahaan. Ini jadi beban produksi karena butuh orang baru. Kemudian masalah pegawai lain dari orang dekat Wing yang ikut dipekerjakan. Karena merasa dekat secara pribadi, kebanyakan bermuka tetapi kerja nol.
Masalah lain umur pegawai, ya, karena pegawai kebanyakan perempuan umuran 15- 18 tahun. Kan kalau sudah saatnya ada cuti nikah, cuti hamil, kalau sudah begitu susah dipaksa bekerja lagi. Mangkanya dia banyak bongkar pasang pegawai. Susah mempekerjakan pegawai dari nol lagi, tetapi mau bagaimana lagi.
Sukses belajar mengenai manajemen otodidak. Ia menerapkan pegawai hanya bekerja satu pekerjaan. Jadi yang mengerjakan pola satu tugas, tidak dari semua pola sampai jadi dikerjakan pegawai. Pokoknya satu orang mempunya satu kerjaan yang harus diselesaikan. Ada khusus memotong, menjahit luar, variasi dan sebagainya.
Kacau, padahal belum balik modal, padahal dia beru merenovasi bangunan biar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Korea tersebut. Sampai sempat putus asa menyerah akan keadaan. Dua tahun awal bisnis itu dianggap paling emosional. Alhasil berefek hubungan dengan karyawan, manajemen, dan hasil produksi.
Setelah bongkar- pasang pegawai, akhirnya, Wing mendapatkan tim solid bekerja bersama. Ujungnya ya ia mampu memproduksi lebih banyak sarung tangan cantik. Ia menerapkan quality control ketat. Wing cari pegawai dari desa- desa, mereka perempuan yang tidak memiliki pekerjaan tetap, mereka dididik jahit.
Prinsipnya mereka mau kerja diberi pelatihan. Bahkan ia rela mengirimkan mesin jahit ke desa. Mulai lah sistem tersebut berkembang. Dimana perempuan desa dilatih, kemudian desanya dijadikan Wing tempat produksi, ada dua yaitu di Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Grabag di Kabupaten Magelang.
"...dan satu lagi tempat produksi di rumah saya," tuturnya.
Kenapa memecah pusat produksi, ternyata ada alasan tertentu, lantaran bagaimana membuat mereka bisa bekerja dekat rumah. Urusan emosi memang wanita lebih rentan. Untuk kendali Wing sudah memiliki sosok tangan kanan.Tidak ada kerja sistem kontrak, mau kerja ya kerja, kalau keluar sudah punya skill.
Bisnis harus kuat
Kenapa bisnis garmen selalu menggunakan perempuan. Dasarnya perempuan telaten, sabar, dan persaaan halus, tentu terbawa ke produk mereka ciptakan. Kalau dikerjakan tangan kasar nanti lekas rusak. Ibarat dia karakter seseorang terlihat dari sentuhan di mesin jahit.
Oleh karenanya, pegawai tidak boleh pindah mesin jahit, satu mesin hanya diperuntukan khusus buat si pemegang sejak awal.
Pasar Wing adalah perusahaan di Korea, mereka bisa meminta label dipasang disini. Lalu perusahaan itu akan ekspor ke Eropa, atau negara bermusim empat lain. Katanya sih dijual di mal- mal besar karena dia memang buat sarung tangan musim dingin.
Si perusahaan Kore akan menjual ke berbagai perusahaan besar, seperti ada Adidas, Nike, dan Sanrio yang punya hak cipta Pororo. Adapula perusahaan alat olah raga lain, Eagle, menawarkan kerja sama langsung buat konsep sarung tangan. Wing becerita konsep sangat bagus, tetapi lebih rumit bila nanti dikerjakan.
Untuk sekarang ini, Wing merasa sangat beresiko, daripada nanti terlalu banyak reject. "...lebih baik saya tolak." Ada 10 jenis sarung tangan dan dikerjakan bertema permusim. Produksi juga mengikuti musimnya, contoh dikerjakan bulan Januari, maka dikerjakan 2- 3 bulan sebelumnya agar sesuai musim dinginnya.
Setiap sarung tangan memiliki perbedaan, baik bahan, material, dan kebutuhan pasar. Apalagi sekarang dia tidak lagi cuma memproduksi sarung tangan musim dingin umum. Kan ada sarung tangan golf, ski, atau aktifitas lainnya, yang tentu bahan berbeda, ada lycra, parasut, dan sebagainya.
Mesin jahit juga disesuaikan bahan. Jika tidak, ketika pergantian kain, satu jenis mesin jahit malah bikin mesin macet, jahitan benang ruwet, lompat- lompat, dan sebagainya. Mangkanya mesin jahit harus beda juga termasuk soal jarum. Pokoknya satu mesin jahit hanya dikerjakan oleh satu pegawai ahlinya saja.
Setiap bulan dia memproduksi lebih dari 5000 pasang. Pesanan tergantung musimnya, contoh lebih detail, sarung tangan golf pada bulan Januari- April, kemudian bulan Mei- Juli ada pesanan dari perusahaan sepatu boot asal Finlandia. Harga jualnya misal sarung tangan anak Pororo harganya mencapai Rp.400 ribu.
Perusahaan sendiri memang tidak menarget produksi besar. Pasalnya melihat pengalaman lebih baik kecil tetapi tetap dan bagus kualitasnya. Sesuaikan dengan jumlah karyawan 60 orang dan 75 mesin jahit, kira- kira bisa berproduksi 5- 6 ribuan lah.
Ternyata sepanjang perjalanan tidak semulus kelihatan. Kerja sama dengan perusahaan Korea sudah tidak lagi. Lantaran makin ke sini, pengiriman bahan makin berkurang dan terlambat, eh ternyata perusahaan itu sudah punya cabang lagi di Yogyakarta. Memotong uang sebagian tidak sesuai kontrak pertama mereka.
Sempat memegang 2- 3 pesanan dari perusahaan berbeda. Kini dia lebih nyaman fokus satu perusahaan rekanan. Untung dia menemukan perusahaan yang sesuai, jadi mereka kerja sama sudah empat tahun jalan, keduanya juga fokus membuka usaha bersama di Yogyakarta.
Wing sendiri ketika ditanya mau gak bikin merek sendiri. Kepada Tabloid Nova, dia memang ingin sekali menjual langsung ke pembeli. Dia juga melihat bagaimana beberapa pegawai masih dibawah UMR. Dia ingin sekali menjual tanpa perantara. Mungkin dengan meningkatkan kualitas produksi dan menjajal pasar lokal.
Memang kalau dijual buat lokal susah. Apalagi bahan baku impor, termasuk bulu dombanya, mangkanya tidak salah jika harga jual dikisaran Rp.400 ribuan. Oleh karena itu, untuk pasar lokal, Wing tengah hitung- hitungan biar produknya bisa diminati siapa saja. Yang jelas menurut Wing sumber daya manusia utama!
Selain menjadi pengusaha, ternyata Wing masih kerja menjadi notaris sejak 2005, dan juga pernah jadi anggota DPRD. Kegiatan lain menjadi semacam pelestari manian tradisional lewat sebuah komunitas di Magelang. Mengurus pegawai sudah jadi biasa, dulu, dia pernah bekerja di Salim Group pada 1991 -an.
Langganan:
Postingan (Atom)