Ekonomi Amerika Kebijaksanaan Warren Buffett

 Artikel Bisnis: Upah Minimum Bukan Solusi



Tulisan menarik dituangkan dalam sebuah artikel di situs Wall Street Journal. Tulisan yang ditulis langsung oleh sang CEO Berkshire Hathaway sendiri.

Kamu pasti sudah dengar tentang dollar naik atau apalah- apalah itu. Tapi tau kah kamu bahwa Amerika saar ini tengah dilimbungkan oleh kebijakan ekonominya sendiri. Sejalan dengan aneka hal kebijakan baru mendorong nilai tukar menaik. Kenyataanya ada masalah mendalam dalah hal si kaya dan si miskin dalam Amerika Serikat.

Ekonomi hari- hari ini, dengan aneka startup menurut penulis, dan Warren Buffett mengindikasikan hal itu sebagai suatu efek domino. Teknologi membuat sebagian lebih cepat kaya dari yang lain. Mampu merubah posisi si kaya dan si miskin semakin tak terkendali. Setidaknya itulah yang tengah penulis pahami. Orang- orang dengan talenta tertentu mampu tumbuh pesat, sangatlah pesat, mereka adalah baik pria atau wanita berbeda dengan kemampuan lebih dari sebagian orang.

Di tahun1982, ia mencatat dalam daftar orang kaya Forbes, 400 orang terkaya kala itu punya kekayaan $93 miliar, jika kekayaan mereka digabungkan. Tahun ini, di 2010 keatas, dari 400 orang kaya yang masih sama total kekayaanya jadi $2,5 triliun. Atau, naik jadi 2,400% lebih dari tiga dekade berlalu. Dimana untuk orang orang berpendapatan menengah cuma naik 180%; sama halnya dengan Indonesia, tapi berbeda hitungannya. Intinya yang kaya makin kaya dan yang miskin tak mungkin beranjak dari kelas menengah.

Tidak ada teori konspirasi soal ini!

Yang ada adalah yang miskin karena ada si kaya yang kaya. bukanlah orang miskin tidak boleh kaya. Justru perlu kamu tau, menurut Buffett, bahwa orang "miskin" berkontribusi besar pada kekayaan. Sayangnya, di jaman sekarang pasarlah yang berkuasa, sebagian lain tertinggal dan sebagian lain melaju terlalu cepat. Mereka ini adalah para penemu ulung berasal dari para orang miskin ataupun kelas menengah. Sebut saja Steve Jobs, Henry Ford, Sam Walton, dll.

Mereka adalah manajer alamiah dan inovator Amerika mengagumkan. Bukan tentang kaya atau miskin, menurutnya ini tentang melaju pesatnya kebutuhan pasar. Dimana jika merujuk pada jaman agrari, dimana semua orang bisa mencangkul, Amerika pada 200 tahun yang lalu: semua pekerjaan bisa dilakukan. Tidak ada pangkat manajer, atasan, direktur, begitu kiranya. Dan semua orang bisa bertani. Kemudian dimana hewan lantas membantu petani meningkatkan produktifitas.

Kemudian ada lagi mesin sehingga perdagangan pada pasar berubah. Secara umum meraka yang tak punya talenta menurutnya akan mengalami masalah. Pasarlah yang menilai nilai mereka di dunia pekerjaan berapa nilai meraka; tidak ada nilai minumun untuk satu pekerjaan. Jika kamu punya sesuatu yang tidak lah dimiliki orang kebanyakan; maka itulah kekayaan kamu. Jikalau adanya permintaan akan pekerja meningkat pada Amerika. Tidak semua orang mau bekerja pada sektor buruh. Dan, semua orang memilih sektor apa yang ia inginkan. 

Kenyataanya mereka tak memiliki talenta lebih untuk itu. Di era ekonomi modern, dimana semuanya tentang kebutuhan pasar, maka jika kamu tak siap fisik dan mental. Kamu akan tertinggal jika tidak lah siap mengupgrade fisik ataupun mental secara ekonomi, bahkan akan tertinggal jauh dari apa yang kamu bayangkan. Apa yang dipahami dari beberapa tulisan ini, adalah bahwa pasar lah yang menuntut kita memiliki skill lebih. Jangan berharap menaikan upah minimum akan manaikan posisi kita.

Kenyataanya di Amerika sendiri; menurut Buffett upah minumum bukanlah solusi kemiskinan. Yang ada hanyalah menaikan upah minimun dan disama ratakan akan semua pekerjaan; akan mengurangi kemampuan tenaga kerja itu sendiri. Disisi lain para pengusaha harus berlomba menghadapi pasar. Bukan hal mustahil kelak kebutuhan pasar akan mendorong, penggantian peran manusia dalam hal untuk memenuhi kebutuhan. Itu semua karena permintaan pasar akan talenta baru.

Pengetahuan baru lah harus dimiliki oleh pegawai. Meningkatkan kualifikasi mereka kepada kebutuhan pasar. Dimana sebagian lainnya memiliki talenta diluar keumuman lebih dulu dan juga mau mengikuti pola- pola pasarnya, dan semakin terdepan -dan semakin terdepan. Mereka adalah pengusaha sukses melihat kebutuhan apa pasar sekarang. Amerika bukan membutuhkan upah minimun. Juga bukanlah membutuhkan orang kaya baru. Yang dibutuhkan Amerika sekarang ialah difersifikasi bisnis guna mensuport pasar.

Untuk artikel lengkap disini

Apa Rasanya Jadi Samurai Buta di Dunia Virtual Reality

Game Virtual Reality Blind Swordman



Game virtual reality melangkah jauh dari sekedar apa yang orang bayangkan. Jika orang berpikir bahwa VR atau virtual reality, baik dari Samsung, ataupun produk lain, maka dalam benak mereka adalah game yang sangat memanfaatkan indra penglihatan. Bagaimana jika sebaliknya, jika kita bermain game VR, untuk jadi seorang samurai buta. Cuma mengandalkan sistem audio menakjubkan dan laya hitam.

Blind Swordman, sebuah judul permainan terbaru yang fokus pada petualangan trio pembunuh. Mereka itu adalah pembunuh bayaran tapi buta. Memanfaatkan headphone selain kacamata canggih, kamu diharuskan mengetuk layar, mereka- reka dimana musuhnya. Meski tidak sangat menarik menurut Engadget tapi bisa jadi inilah kecanggihan game -tak terbatas pada apa yang bisa kita lihat dan pegang.

Menurut pencipta game tersebut, Scott Leaman, menjelaskan bahwa bisnis gamenya fokus pada sebuah eksperimen apakah virtual reality tidak cuma video. Apakah bisa kita fokus pada audio atau software suara yang tangguh juga. Ini akan menjadi pengaruh besar pada dunia audio dalam membangun dunia baru. Bisa saja kelak menggabungkan dua dunia -dunia tanpa suara dan dunia suara, dalam satu kesatuan begitu lah kira penulis saat ini.


Jebolan SMA Pengusaha Mobil Bekas Asli Rawamangun


Bisnis mobil bekas pernah mengalami masa jayanya. Bisa dibilang, kala itu, musimnya buat pengusaha mobil bekas mencari untung. Salah satu ketiban durian runtuh adalah sosok Wardoyo. Usaha yang cuma bermodal garasi. Tapi mampu meraup untung puluhan juta. Dia tak butuh showroom khusus memamerkan barang- barang dagangannya. Cukup garasi rumah di kawasan Jalan Rawamangun Muka Selatan, Jakarta Timur. Di dalam garasi tersebut terpajang 10 mobil bekas.

Dia memajang mobil- mobil bekas berbagai merek. Beberapa malah sudah laku terjualnya. Tinggal tunggu angkut. Kisah bisnisnya dimulai belasan tahun yang lalu. Tapatnya 15 tahun silam, ketika itu, bersama sang kakak juga sudah pernah membuka usaha serupa di Kalimalang.

Bapak dua anak ini sempat berhenti sejenak. Dia memilih bekerja ke Surabaya. Belakangan sekembalinya ke Jakarta, usaha tersebut lantas dimulainya lagi. Bedanya tempat berjualannya berpindah tempat. Dari ada di Kalimalang. Wardyo coba- coba jualan mobil bekas ke Jatibening. Sayangnya, usahanya gagal, dan dia harus kehilangan semua modalnya. Modalnya tingga tersisa satu mobil saja. Agak berat hati ia musti kembali bekerja bersama kakaknya.

Cukup lama dirinya bekerja bersama sang kakak. Hingga jiwa wirausaha memberontak. Itu memakasanya untuk bekerja mandiri. Jika bersama kakak bukan dianggapnya berwirausaha. Maka dia harus banting stir mencari- cari modal. Tujuannya adalah teman- temannya dulu. Meski cuma jebolan SMA, dengan percaya diri seorang Wardoyo mengajak berbisnis. Bersama Wardoyo cs mampu rata- rata menghasilkan angka 50 unit. Yang dijualnya dikisaran aneka harga.

Jika dihitung- hitung, dipotong bayar empat orang pegawai, biaya oprasional, dan juga biaya perbaikan. Dia mengeluarkan setidaknya 1,5 juta. Kala itu, ia mengaku, mampu mengantongi laba bersih 20 juta -an. Dia bersama ke enam temannya yakin bahwa usahanya bakal cerah. Minat akan mobil bekas dikatakannya akan terus meningkat. Apalagi dijaman sekarang yang mobil bukan lagi barang mewah. Makanya, semenjak itu, Wardoyo telah menyiapkan garasi luas buat bisnis mobil bekas.

Tambang Emas Terbesar Selain Freeport


Gagal masuk daftar oran terkaya, ternyata, eh ternyata Sandiaga Uno tengah mengerjakan mega- proyek. Tak tanggung- tanggung bisnisnya adalah bisnis gunung emas. Bahkan digadang menjadi yang terbesar kedua setelah Freeport. Hal unik lainnya adalah perusahaan bernama PT. Merdeka Copper and Gold Tbk, yang mana pada pembukannya sudah rugi $5 juta (Rp. 60 miliar) pada tahun lalu. Tapi tetap optimis bahwa nanti si gunung emas tersebut akan menghasilkan.

Karena memang belum berproduksi dan direncanakan berproduksi tahun depan. Ini anak usaha dari PT. Saratoga Sedaya Tbk. dan Provident Capital, komposisi sahamnya unik, ada nama- nama besar seperti Boy Thohir dan Soeryadjaya. BEI sendiri sudah membuat aturan buat perusahaan unik ini. Perusahaan yang sudah melantai sejak 2014 tapi belum untung apapun; bahkan rugi.

Hitung- hitungnya dari 2014- 2015 ini, tercatat, perusahaan tersebut merugi $5 juta. Dan, baru diperkirakan akan untung pada 2017. Apakah kamu sudah bisa beli sahamnya, sayangnya, perusahaan ini belum rencana untuk IPO.

Group Saratoga sendiri memegang saham terbanyak yakni 25,7%. Lantas ada perusahaan Group Provident 32,8%, kemudian milik perorangan senilai 31% dan Pemda Banyuwangi pemilik 10%. Ini belumlah termasuk IPO yang mana bisa saja berubah.

Tambang terbesar


Seperti dilansir dari laman Detik.com, menurut Presiden Direktur Merdeka Copper, Adi Ardiansyah Sjoekri menyebut pasti ini akan jadi terbesar kedua selepas Freeport. Dengan komposisi orang- orang asli Indonesia bisa jadi ini langkah baik untuk perubahan dalam pengolahan minerba Indonesia.

Letak tambangnya sendiri ada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, yang mana dekat dengan kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Walaupun belum berproduksi tapi sudah ada di pasar saham, yang mana baru- baru ini melakukan IPO. Bisa dibilang harganya wah sejalan dengan kepercayaan Sandi di bisnis barunya tersebut. Akan menghasilkan, bahkan dihitung- hitung akan bisa menghasilkan 90.000 ounce pada tahun 2017.

Harga sahamnya Rp.1.800 sampai Rp.2.100 yang mana dijual sebanyak 874.363.644. Yang mana dalam arikelnya taget menghasilkan sokongan dana senilai Rp.1,5 triliun hingga Rp.1,8 triliun.

"Kegiatan tambang sudah kliring lahan untuk persiapan pembuatan jalan, konstruksi pertengahan tahun ini," tutup Adi.

Membahas Si Kaya dan Si Miskin Tum Desem Waringin

 
Penulis kali ini menemukan artikel menarik di Detik.com. Kebetulan pola pikir kaya inilah yang sedang coba dijalankan penulis. Artikel yang ditulis oleh Tum Desem Waringin, yang berjudul Si Miskin Bekerja Untuk Uang, Si Kaya Mepekerjakan Uang. Ketika kamu usai sekolah menengah kita pasti sering mendengar (beberapa) orang memilih langsung bekerja dan menikah. Harapannya sih bersama- sama bersama istrinya itu akan bekerja sama mencari uang. 

Dua- duanya sama- sama saling mencukupi, tapi bagaimana selanjutnya?

Berjalan waktu kedua -nya lantas berani mencicil rumah, kemudian datanglah kabar si perempuan hamil. Nah, kemudian, sang laki- laki akan bekerja makin keras untuk membiayai anaknya. Dari bekerja sebagai seorang karyawan, bekerja keras untuk biaya anak, maka akhirnya bisa naik jabatan dan dapat uang lebih. Kemudian punya cukup uang untuk mencicil mobil. Berjalannya waktu uang yang dibutuhkan akans semakin besar.

Seiring anak- anak tumbuh dewasa, rumah semakin kecil, dan gaji semakin kurang. akhirnya semakin besar kebutuhan uang maka laki- laki akan bekerja lebih giat. Mencari sana- sini hingga bisa punya lebih banyak uang. Ketika itu mungkin dia sudah diangkat menjadi direktur. Sudah punya rumah besar? Anak- anak makin besar, apalagi kalau bukan mobil baru? Ya, dia akan mencicil mobil baru berbekal uang menjadi direktur itu. Tapi apakah itu akan berhenti tentu tidak.

Bekerja untuk uang berarti membiarkan diri kita bekerja karena kebutuhan. Ketika nanti kebutuhan naik jabatan kita akan naik, sayangnya, umur kita tak cukup untuk mengikuti pola kerja semacam ini. Makanya disebut si miskin bekerja untuk uang. Mungkin kamu akan bertanya tapi kan sudah direktur? Kenyataanya di sudut dunia lain, ada juga, orang- orang yang bekerja bukan untuk uang. Itulah kiranya yang coba dijabarkan oleh TDW. Bukan lah berarti cara hidup ini salah dan ini tepat hidup sederhana.

Faktanya beberapa orang tak cukup kuat dan pada akhirnya jatuh. Secara fisik tak mampu mengikuti pola diatas dan akhirnya sakit karena umur. Akhirnya yang terisasa adalah justru tumpukan hutang piutang karena memilih bekerja untuk uang. Apakah kita tak mau hidup seperti orang- orang kaya disana. Yang menikmati hari tua dan meninggalkan warisan cukup. Setidaknya meninggalkan warisan agar tak hidup 'ngoyo' seperti apa yang dicontohkan kita.

Orang kaya itu sederhana


TDW melanjutkan disisi lain, ada seorang laki- laki, memilih untuk tidak menjalin hubungan. Mereka adalah yang begitu lulus mencari pendidikan atau pengalaman, mencari koneksi atau hubungan, mencari modal untuk bisa bekerja. Bukankah semakin banyak ilmu semakin kreatif kita. Itulah mereka yang memilih untuk mencari ilmu terlebih dahulu. Mereka tak terburu untuk membangun sebuah rumah tangga. Mereka menundang hal- hal menyenangkan seperti malam minggu.

Mereka menunda kesenangan memilih mengumpulkan uang. Lantas menggunakan uang tersebut untuk bisnis. Dan taukah kalau entrepreneur itu bekerja 63% lebih lama dari orang normal. Yang artinya waktu mereka akan lebih banyak untuk bekerja. Sayangnya, mereka memilih bekerja diawal, tidak ada orang yang mau jadi entrepreneur untuk menghindari bekerja. Menjalankan usaha atau bekerja sendiri berarti bekerja lebih ekstra, lebih lama, dan lebih melelahkan.

Orang- orang ini akan menginvestasikan waktu, pengetahuan, dan cinta mereka. Dimana pada akhirnya uang akan bekerja untuk mereka. Karena pola diatas mereka telah terbiasa untuk menunda kesenangan. Lalu juga terbiasa untuk menyisihkan uang untuk bekerja kembali. Dengan ilmu yang didapat dari kampus, atau dari manapun, tapi jangan salah lulusan SMA berarti tidak bisa sukses. Tapi juga bisa berarti bekerja berkali- kali dan berkali- kali lipat dengan entrepreneur yang lulusan universitas.

Lulus SMA paling mentok jadi buruh dan itu menyita waktu kamu untuk belajar. Memilih mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan membuka peluang mengumpulkan lebih banyak modal: kamu akan tau apa itu saham, investasi kos- kosan, dan lain- lain. Memilih tidak menikah juga berarti tak mengeluarkan uang untuk resepsi, sewa rumah, biaya persalinan, dan biaya pendidikan, yang itu bisa kamu gunakan untuk berinvestasi atau memulai berbisnis kembali. 

Dalam sebuah artikel lain, sebuah survei, menunjukan seorang entrepreneur bisa bekerja samapi 64% lebih lama dari pegawai. Itu berarti pemilik usaha akan bekerja 52 jam per- minggu. Pada akhirnya kembali ke kamu mau bekerja untuk uang atau mempekerjakan uang. Intinya sih, menurut penulis, adalah tujuan kamu dulu apakah mengikuti kebutuhan uang atau mengumpulkan uang. Menurut artikel di Realbusiness.co.uk bahwa entrepreneur akan memilih lebih banyak uang daripada lebih banyak waktu (senang- senang).

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba