Pengusaha Mantan Preman Hanya Lulusan SD

Profil Pengusaha Kaiman Jatiman


pengusahajamur.png

Dia pengusaha mantan preman. Hanya lulusan SD hidupnya sudah dilabeli gagal. Namun ternyata kunci kesuksesan melawan logika. Keberhasilan merupakan hak tiap orang di dunia. Tak selamanya hidup itu selalu susah. Ada saatnya dimana kita berada di posisi puncak. 
 
Bedangnya para pengusaha ialah mereka terbiasa gagal terus- terusan. Karena itu pula lah mereka bisa tampak menterang bergelar pengusaha. Setiap orang berhak sukses, apalagi sukses jadi pengusaha, sebut saja namanya Kaiman. Seorang pembudi daya jamur sukses menginspirasi banyak orang.
 

Pengusaha Hanya Lulusan SD


Pasalnya, pria ini bukanlah pria biasanya, karena dia adalah mantan preman. Si preman pensiun ini modalnya nol besar hingga sukses puluhan juta. Hanya lulusan SD, Kaiman cuma mentok menjadi serabutan hingga ia masuk ke dunia hitam. 
 
Dia berkisah semuanya berawal dari kejadian krisis moneter 97. Pekerjaannya saat itu hilang seketika terhempas krismon. Ayah dua anak ini sebelumnya bekerja menjadi sopir truk Surabaya- Bali.

Selepas di- PHK jadilah Kaiman masuk ke lembah durjana kriminalitas. "Dulu saya menjalani pekerjaan sing gak nggenah (tidak benar, Red)," tutur dia, sambil menghisap dalam- dalam rokok kreteknya.

Itu dulu, sekarang dirinya adalah seorang juragan jamur. Kaiman pun masih terlihat hidup dengan kesederhanaanya ketika ditemui awak media. Di tempatnya di Desa Bulu Kandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim, sosoknya tak tampak halnya seperti pengusaha sukses. 
 
Meski begitu julukan juragan jamur melekat pada dirinya. Dia sosok paham betul tentang budidaya jamur tiram putih. Padahal 15 tahun sisa hidupnya ia habiskan bekerja non- formal. Pria serabutan ini entah dapat ilmu dari mana. 
 
Dia seolah muncul tiba- tiba dari pekerja serabutan, preman, dan jadi juragan. Di umurnya yang setengah abad, ia masih betah mengenakan pakaian kerjanya, kaos oblong. Dari gaya dia berbicara ceplas- ceplos. Apa adanya nampak menunjukan tingkat pendidikannya. 
 
Namun, jika kita amati sebenarnya dia adala orang baik yang terjebak keadaan. Sukses berbisnis jamur membawanya jadi pemilik bisnis beromzet Rp.100 juta. Keuntungan bersih bisa dibawa pulang Kaiman hanya Rp.20 juta per- bulan.

Ketika menganggur membawanya ke sebuah organisasi kriminal. Bapak- ibunya sempat pusing melihat cara dia mengumpulkan uang. Kaiman pernah bekerja sebagai kepercayaan organisasi kriminal di pusat grosir terbesar di Surabaya. 
 
Kaiman sendiri tak menjelaskan rinci lebih dalam. Mencoba dikulik lebih dalam lagi, ternyata ia pernah menjadi joki kendaraan alias sopir mengangkut barang curian. "Tapi, sepertinya saya tidak cocok di pekerjaan itu," ujarnya.

"Sebab, komplotan saya selalu gagal saat beroperasi," sambungnya. Adapula pengalaman tersebut terbilang konyol. 
 
Bayangkan ketika ia dan komplotannya tengah beraksi. Ternyata pemilik kendaraan malah berilmu kebal senjata. Dia bersama teman- temannya malah lari kabur, jelasnya sambi tertawa renyah. Orang tuanya merasa sangat prihatin ketika tau apa pekerjaan anaknya. 
 
Kelakuan anak pertama dari enam bersaudara ini memang bikin geleng- geleng kepala. Memang tujuannya mulia, salah satunya, bagaimana agar bisa membiayai adik- adiknya. Melihat keadaan dari orang tuanya; Kaiman memutuskan berhenti. Dia merasa kasihan. Hanya saja selepas bisnis kriminal itu malah membuatnya bingung. 
 
"Saya malah binggung mau kerja apa," ujar Kaiman melanjutkan, kegalauannya akan hidupnya di dunia hitam, yang mulai ditinggalkan. Cuma lulusan sekolah dasar apa pekerjaan yang bisa ia kerjakan.

Pengusaha Mantan Preman

 
Bermodal nol besar sosoknya mulai meragu. Hingga, ia memutuskan mengikuti pelatihan, pria yang cuma bisa sampai sekolah dasar kelas 5 SD ini, memutuskan mencoba wirausaha saja. Modalnya sebuah ajakan untuk mengikuti pelatihan oleh PT. HM. Sampoerna.Tbk.

"Mau kerja, saya tak mungkin. Saya tidak punya ijazah karena tidak tamat SD. Maka, tak ada pilihan lain bagi saya, kecuali mengikuti pelatihan itu," ujar Kaiman.

Dijalaninya pelatihan secara intensif dan fokus, meski begitu tak ada dalam benaknya buat mempraktikan itu di kehidupan sehari- hari. Pelajaran budidaya jarum tiram itu akhirnya menjadi pilihan. Mau- tak mau ia pun mau mencoba, "pokoknya saya tidak mau menganggur. 
 
Tak ada niat menjadi pengusaha jamur," ujarnya lagi. Motivasi lain mulai tumbuh dalam benaknya yakni mengangkat derajat orang tua. Kebetulan pula, di desanya ternyata banyak limbah kayu tak terpakai.

Memulai menjadi pengusaha apa yang dilakukan Kaiman. Lewat bantuan pelatihan dari Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, di tahun 2005 ia mendapatkan media tanam berupa baglog dan bibit jamur tiram sebanyak 100 buah. 
 
Adapula pendampingan insentif dari pihak mereka. "Awalnya, sering gagal. Nggak bisa dipanen. Dari nyetek seribu benih, yang jadi cuma 500 jamur tiram," tambahnya. Masalah yang pokok dalam budidayanya adalah masalah hama.

Terkontaminasinya benih oleh hama membuatnya tak mampu tumbuh. Karena sifatnya yang organik tentu ia tak bisa memberi pestisida. Sukses menghasilkan beberapa jamur masalah lain datang. Ialah masalah caranya pemasaran. 
 
Lima tahun lalu jamur tak setenar sekarang. Masih ada pikiran bahwa ini beracun tak aman buat dikonsumsi. Kaiman teguh meyakinkan masyarakat satu per- satu bermodal motor butut. Berkunjung dari satu pasar ke pasar lainnya.

Blusukan ke pasar ini guna meyakinkan jamur sehat, juga bisa diolah menjadi aneka variasi makanan. Aman buat dikonsumsi dan punya nilai gizi tinggi. Perlahan tapi pasti akhirnya bisa meyakinkan pembeli. Hingga ia bisa memenuhi permintaan 1.500 baglog. 
 
Sukses ternyata membawanya berpikir ke depan. Ada pikiran buat berekspansi. Tapi justru pikiran ini menjeratnya kepada hutang modal. Modal bisnis jualan bibit jamur juga tak membantunya. Akhirnya diagunkan lah BPKB mobil milik karabatnya. 
 
Terhitung nekat bahkan pinjamannya tak tanggung yaitu 10 juta rupiah ke bank. "Syukur, perhitungan saya tepat," lega. Dalam enam bulan dikebutnya target, ia pun bisa melunasi hutangnya tanpa jatuh tempo. 
 
Kegigihan Kaiman membuat pihak bank tak segan percaya kepadanya. Pria tak lulus SD ini kembali mendapatkan pinjaman dua kali lipat. Dua tahun berlalu, ia sudah bisa mengantongi laba bersih Rp.2 juta- Rp.2,5 juta per- bulan.

Padahal dihitung- hitung media tanamnya berisi serbuk kayu, dedak, tepung jagung, dan kalsium dibungkus plastik itu, tak lebih dari modal Rp.1000 (saat itu) dengan berat bersih 1kg. Sementara ketika dijualnya jika sudah lengkap bibit jamur bisa mencapai Rp.1.800- Rp.2250. 
 
Meski terhitung pengusaha pemula, instingnya sangatlah bagus. Mungkin ini dinamakan bakat tumbuh terlambat. Bisnisnya tokcer berkat kesadarannya itu bahwa penjualan bibit jamur lebih bagus. Tanpa mengurangi penjualan, fokusnya juga berjualan bibit, dimana sudah mencapai 80% pendapatan datang dari berjualan bibit saja. 
 
Jamur tiram sendiri tergolong tanaman cepat tumbuh. Kalau dihitung setiap dari baglognya bisa menghasilkan 1kg selama lima bulan. Barulah diganti media tanam baru. Tahun 2008, ia memberanikan diri berekspansi ke luar Jawa. 
 
Itu sudah bisa dipesan antar hingga ke Bali, NTB, sampai juga ke pulau Kalimantan. Satahun kemudian kemasannya diganti pakai styrofoam. Kemudian itu diberinya nama jamur Jatiman. Dari kemasan berubah membuat harga jamurnya naik dua kali lipat. 
 
Nama Jatiman sendiri diambil ketika dirinya mengikuti pelatihan HM. Sampoerna 2009. Singakatan dari Jamur Tiram Kaiman dari Jawa Timur. Disusul oleh jamur siap olah seharga Rp.10.000 per- kg. Sukses olah sendiri bahkan bisa mencukupi kebutuhan dari wilayah Pasuruan dan Surabaya.

Bisnis Jamur

 
Dia punya lima lumbung jamur terbuat dari gedek (anyaman bambu). Masing- masingnya seluas 50 meter per- segi atau 5 m x 10 m. Dia mampu menjual 60 ribu badlog tiap bulan atau 40 kali lipat banyaknya dari saat memulai usahanya. 
 
Keuntungan besihnya melonjak drastis yakni mencapai omzet tinggi Rp.130 juta- 150 juta atau laba bersihnya Rp.30 juta per- bulan. Dia sempat mengenyam bangku sekolah. Namun, tak sampai tamat, akhirnya cuma bisa jadi sopir dan juga preman. 
 
Untunglah petunjuk itu datang bagi manusia yang mau berubah. Kaiman adalah sosok "guru" setelah sukses berbisnis budidaya jamur. Dari mahasiswa, petani, atau mantan pemimpin perusahaan kini mendengar kisah inspirasinya. Mereka seolah tersihir kisah nyata preman pensiun ini.

Pengalaman unik pernah dilaluinya ketika baru mulai memberikan pelatihan. Pria kelahiran 1960 ini pernah didaulat jadi pembicara. Beberapa tahun silam, ia menjadi pembicara sukses, dan diberi uang transport serta uang saku 15 juta. 
 
Karena penerbangan telat, ia pun terlambat datang ke acara, semua orang sudah datang menunggu- nunggunya.

"Saat saya masuk, MC memperkenalkan diri saya sebagai dosen. Waduh, rasanya sangat malu ketika maju ke depan. Wong sekolah SD saja gak tamat, kok disebut dosen," kenangnya.

Pria berbedan kecil ini memang banyak dicari para petani jamur. Kaiman didapuk menjadi pembicara oleh Dinas UKM dan Koperasi Pemprov Jawa Timur ataupun pertanian. Kota- kota seperti Bontang dan Riau ia singgahi untuk menjadi pembicara. 
 
"Saya diajari Sampoerna untuk menjadi trainer mengenai jamur tiram. Juga sering diajak pameran. Lama-kelamaan jadi berani berbicara," ungkap dia.

Kaiman pun dikenal menekuni pengembangan bibit jamur. Dia memiliki dua jenis jamur. Ditangannya ada dua yakni bibit Formula 1 (F1). Harganya bisa mencapai Rp.150 per- botol kecil. Sementara itu ada pula bibit F2 yang dijual seharga seper- sepuluhnya. 
 
Nah, paling laris ini yang F1 dimana satu butol bisa dijadikan 60 botol kualitas F2. Untuk sesukses sekarang tak punya tujuan- tujuan khusus. Kaiman memang tipikal apa yang kita sebut pengusaha go with the flow.

Tak punya cita- cita muluk- muluk. Hidupnya cenderung sederhana dibanding apa diperolehnya sekarang. Ia memang mengandalkan intuisi. Selain itu menikmati prosesnya sebagai passion. Dia cuma mau usahanya bisa untung terus. Bisa terhindar dari masa luntang- lantung seperti dulu. 
 
Asetnya bisa dibilang tidak sedikit, ia sudah punya tiga rumah, 1 hektar tanah buat budidaya jamur, kemudian empat kendaraan umum, ada juga dua kendaraan beroda dua. Dia aktif membantu petani budidaya jamur. Kaiman rajin membantu anak muda agar tak seperti dirinya dulu. 
 
Di bisnisnya, ia mempekerjakan anak- anak yang dibilang nakal, mereka bertato dan jugalah mantan anak jalanan. "Lihat saja, semua anak buah bertato. Tapi, jangan takut, semua sudah insaf, kok," tegas dia. 
 
Ayah dari dua orang anak ini juga mempersilahkan peneliti datang. Mereka tertarik karena dia memang bukanlah pengusaha biasa.

Usaha Dimsum Pernah Dicemooh Teman

Profil Pengusaha Bayu Trisnoaji


usahadicemooh.png
 
Ia membuka usaha dimsum pernah dicemooh teman- teman. Pengusaha muda tersebut bernama Bayu Trisnoaji, pengusaha belum banyak disorot, kebetulan penulis menemukan profilnya. Sangat singkat tapi mampu menginpirasi pagi kamu. Hobinya memang menyantap dim sum. 
 
Makanya bisnisnya ya juga tentang kuliner satu ini. Bayu pun rajin berburu kuliner dim sum di semua tempat. Kalau dihitung- hitung mungkin saja sudah seluruh isi Jakarta diputarinya. Makanan khas China ini memang membuatnya ketagihan luar biasanya.

Merintis Usaha Dimsum

 
Sampai- sampai hobinya tersebut masuk ke tahap berbahaya. Bahkan sang Ibu mulai khawatir kepada anak laki- lakinya ini. Ada apa dengan dim sum? Apalagi katanya hobi makan dim sum sudah mulai mengganggu kuliahnya. 
 
Kemudian Bayu secara tersirat menjawab kekhawatiran ibunya. Dia tak lagi cuma penghobi dim sum; ia adalah pengusaha muda dim sum.

Dibuatnya hobi makan dim sum menjadi usaha menjanjikan. Sebelumnya tak lupa ia meminta ijin membuka usaha terlebih dahulu kepada ibunya.

"Karena ibu saya pintar memasak memberikan resep dim sum buatannya," jelasnya.

Modal bisnis dim sum cuma 300 ribu saja. Berbekal resep ibunya dimulailah perjalanan seorang anak muda, alumni Fisip Hubungan Internasional, memulai apa itu membuka usaha sendiri. Tak perlu berlatar belakang suka berdagang. 
 
Bayu juga tak tercatat pernah membuka usaha sebelumnya. Mengalir seperti air bermodal kemampuanya menilai masakan. Ia memulai usaha dim sum -nya pada September 2008. Modal segitu cuma menghasilkan 25 porsi dim sum siap jual. 
 
Dia pun memulainya dengan mengikuti bazar sekolah. "Pada awalnya saya menjalankan usaha saya mengikuti bazar ramadhan di sekolah al zara," kenang bayu. Cuma buat memperkenalkan produknya saja. Itu ternyata berhasil.

Pilihan mengikuti ajang bazar ternyata tepat. Di empat tersebut masyarakat beramai- ramai memborong dim sum -nya.Variasi dim sum -nya meliputi rasa ayam, wortel, beef, kepiting, cumi, hakau, dan juga ceker ayam. Berkat inilah permintaan dim sum -nya meningkat. 
 
Lebih mantapnya ternyata dim sum miliknya cuma seharga Rp.8 ribu isi 4 dim sum. Melihat pasarnya sudah terbentuk. Dia yakin menjual dari 25 porsi jadi 100 porsi per- hari. Jangan salah kisah suksesnya Bayu belum selesai. Mulailah berpikir bagaimana konstan berjualan. 
 
Dia nekat menyewa grobak buat jualan. Gerobak modal sewaan digunakannya buat berkeliling kampung. Kendala dari bisnisnya adalah panasnya matahari. Selain itu dim sum sulit jika dijual keliling layaknya bakso. Dulu mungkin bisa laku 100 porsi. 
 
Namun, saat memilih bergerobak, malah jatuh terpuruk cuma menjual 5 porsi per- hari. Saat itulah cemooh datang bertubi atas keputusannya. Dia mendapatkan cemooh dari teman- teman. Terasa berat karena mereka teman- teman dekatnya. 
 
Alasan mereka itu ya apalagi karena ia berlatar belakang S- 1. Dia sempat merasa goyah. Tapi semangat entrepreneurship itu masih membara. Bayu tak berhenti berjualan dim sum. Semangatnya masih membara optimis bahwa kelak akan ada jalannya.

Usaha Diejek Teman

 
"Melihat latar belakang pendidikan saya yang S1 banyak teman yang menyarankan saya untuk berhenti berjualan Dim Sum, namun saya tetap optimis bahwa usaha yang saya jalankan ini akan maju," ujar Bayu.

Pengalaman adalah guru yang baik. Begitupula baginya hingga akhirnya memutuskan buat berhenti berjualan berkeliling. Dia memilih berjualan di kios. Pilihan jatuh di sebuah kios sederhana. Tak besar cuma strategis buat berjualan. Kios dim sum -nya ramai dikunjungi pelanggan. 
 
Dalam satu hari, selepas berbisnis di kios, ia mampu menjual bahkan 500 porsi sehari. Kini jangan ditanya berapa omzet bayu tiap bulannya. Sukses dari dim sum membuatnya jadi jutawan.

Omzet Bayu mencapai Rp.150 juta. Ini sebuah pencapaian luar biasa. Berkat kerja keras serta rasa percaya tinggi membuatnya tetap berbisnis. Bahkan bisnisnya bisa berkembang hingga sekarang. Saat ini Bayu cuma dibantu 6 orang karyawan. 
 
Sukses Bayu menurutnya sendiri adalah karena sang bunda ternyata selalu ada. Ia selain menjadi sumber resep, ibunya juga selalu menyemangatinya meski dalam susah. Bicara strategi khusus ialah menjaga kualitas produk. Adapula pelayanan prima kepada pelanggan. 
 
Beranilah buat mengerti apa yang diinginkan pelanggan. Berkat kerja kerasnya ia kini sudah punya serangkaian aset pribadi. Meliputi 3 sepeda motor, 1 unit mobil Avanza, kemudian satu buah rumah bertingkat. 
 
"Serta saya berniat ingin membuka cabang di kota lain seperti Bandung," ungkapnya. 
 
Pengusaha muda ini sangat bersyukur karena berkat hobinya. Kini kehidupan dari keluarganya semakin membaik. Dulu keluarganya sederhana bahkan terhitung susah telah berbeda. Bentuk dari rasa syukur lainnya ialah ia mengangkat adik.

Dia mengangkat seorang pengamen cilik. Anak kecil yang sering mengamen di tempatnya itu dijadikan adik angkat. Dibiayai sekolah dan kebutuhan sehari- harinya dari keuntungan bisnisnya.

"Saya selalu tidak lupa saya dulu seperti apa sehingga sekarang menjadi seperti ini, alangkah baiknya saya mencoba membantu orang yang sangat membutuhkan," lirihnya

Pengusaha Mantan Pembantu Hasilkan Miliaran

Profil Pengusaha Sukses Fitriyanto


pengusahamiliaran.png
 
Pengusaha mantan pembantu namun menghasilkan miliaran. Lulusan SMA ternyata bisa membangun bisnisnya sendiri. Inilah kisah Fitriyanto, adalah seorang mantan kuli bangunan, namun mendadak jadi pengusaha pemilik perusahaan PT. Vitechindo Perkasa Autofit. 
 
Meski kami menyebut kata mendadak bukan berarti tanpa perjalanan. Namun sedikit beda dari kebanyakan cara sukses masyarakat kita. Dari kuli bangunan jadi direktur tanpa ijasah kuliah. Come on... Ini sebuah sukses mendadak baginya!
 

Pengusaha Miliaran


Fitriyanto mampu menciptakan produk bersaing. Bahkan menyaingi produk berkelas nasional dibidang perawatan mobil. Hidupnya merupakan perjuangan. Semenjak kecil sudah terbiasa di lingkungan kekurangan. 
 
Lahir dari keluarga miskin dimana ayahnya adalah tukang kayu. Tekadnya merubah nasib sudahlah bulat sejak kecil. Ia yang berayah tukang kayu tak bisa sekolah tinggi- tinggi.

"Saya semua pelajari secara otodidak," ujarnya.

Ketika lulus sekolah menengah, di tahun 1992, ia langsung hijrah ke Jakarta. Tujuan merubah nasib ia lalui lewat menantang kejamnya Ibu Kota. Anak bungsu dari lima orang saudara cuma mentok jadi kuli bangunan disana. Enam bulan berlalu, naik pangkatlah dia menjadi pembantu. 
 
Kali ini menjadi pembantu rumah orang kaya Rachmat Gobel. Entah Presiden Komisaris PT. Panasonic Manufaturing Indonesia itu ingat atau tidak sosoknya; tapi disanalah rejekinya. Dia pun ditawari kerja oleh salah satu manajer Panasonic. "Saya ditawari kerja," ujarnya pendek. 
 
Kemudian bekerja di Panasonic bagian divisi komponen. Dia kerja mengerjakan aneka produk speaker. Nah, disaat waktu senggang dia asik membaca kisah sukses seperti, dari blog ini. Bacaan kisah dari orang- orang sukses tertanam dalam benaknya. 
 
Masa itu tekatnya kuat menjadi orang sukses seperti mereka yang dibacanya. Ia menyimpulkan satu hal. Semua orang sukses mengawali karir dari tenaga marketing. Suami Lihardiana ini kemudiang cabut dari Panasonic. Nekatnya masuk menjadi marketing di produsen teh 2Tang di tahun 1995. 
 
Upahnya saat itu per- bulan cuma Rp.75.000. Bahkan ini lebih kecil dibanding menjadi kuli bangunan. Dia menjelaskan bahwa gajinya jadi kuli Rp.60.000 per- minggu. Setelah tiga bulan langsung Fitriyanto keluar dari perusahaan tersebut
 

Meniru Bisnis 


Fokus lagi- lagi ke arah tenaga pemasaran di perusahaan. Kali ini, dia melamar kerja di sebuah perusahaan coklat selama setahun, kemudia pindah lagi PT Prima Karya Gandareksa, sebuah perusahaan kimia. Disini mungkin menjadi jalannya menemukan bisnis Autofit. 
 
Kali ini tetap menjadi tenaga marketing cuma bedanya gajinya sudah 5 juta. Ia pun belajar banyak tentang produk perawatan mobil. Kinerja Fitriyanto memang lah bagus.
 
Hingga, dia bisa jalan- jalan sampai ke Bali, ditugaskan disana agar menetap di Pulau Dewata. Namun, tegas ia menolak hal tersebut karena tak mau jauh dari keluarga. Selama setahun tersebut berpindah- pindah lah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. 
 
Uniknya kini fokusnya ada di perusahaan kimia bukan soal kerja jadi marketing lagi. Akhirnya, Fitriyanto masuk ke perusahaan perawatan mobil asal Jerman. Disini, dirinya fokus memperhatikan bagaimana mereka meracik.

Memperhatikan benar racikan produk pembersih milik mereka. "Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan," katanya.

Ada tuh istilahnya meniru bisnis yang sudah ada dan memodifikasinya. Agaknya itulah yang coba dilakukan olehnya. Setiap Sabtu dan Minggu, ia merelakan diri pergi ke toko kimia, tujuannya adalah belajar bahan- bahan kimia apa saja. Bahan kimia apa terkandung dalam produk perusahaanya bekerja. 
 
Ia belajar secara otodidak satu per- satu racikannya. Bahan apa saja bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Hingga tak terasa lima tahun telah berlalu dimana gaji terakhinya sampai Rp.45 juta.

Pengalaman sepuluh tahun di perusahaan akhirnya dituangkan dalam bisnis. Padahal kalau dipikir gajinya itu malah lebih dari cukup. Fitriyanto percaya diri buat membuat perusahaan sendiri. Sebagai sosok pemasaran sudah terbiasa memegang banyak pelanggan. 
 
Cukup memanfaatkan bengkel motor di Cikeas, Bogor, yang mana langkah awalnya dimulai dari membuka bengkel sendiri. Nah, bukan langsung membuat produk dan dijual, malah membuat bengkel. Dia membukannya sebuah bengkel mobi sederhana pada tahun 2007. 
 
Cuma ada satu montir kala memulai usaha tersebut. Di bengke tersebut disulapnya juga menjadi pusat produksi. Dimana produknya bisa menang ajang tender pengadaan produk perawatan oleh satu perusahaan perawatan mobil besar. 
 
Untuk memenuhinya, ia cukup kwalahan lantaran perusahaan barunya kekurangan modal. Olehnya dipinjamlah uang Rp.25 juta dari Bank, dimana tanpa agunan.

Berkat perjalanan panjangnya di marketing. Selain itu, berkat karirnya dan jaringan luas membuatnya mudah buat meminjam uang. Cukup bermodal kepercayaan menghasilkan pinjaman. "Bank itu menjadi pelanggan dari bengker kami," jelas Fitriyanto. 
 
Dibukalah sebuah perusahaan miliknya sendiri bernama PT. Vitechindo Perkasa, di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Perusahaan ini memasok produk perawatan bahkan sukses menyetok bengkel resmi. Di dalam catatanya perusahaan ini menjadi stok agen tunggal pemegang merek. 
 
Agen bengkel resmi antara lain Toyota, Daihatzu, Isuzu, Hyundai, Suzuki, KIA, dan Mazda. Omzet perusahaanya mencapai Rp.8 miliar per- tahun. Sedangkan ia cuma dibantu oleh 35 orang karyawan sejak awal Juni 2012. 
 
Produknya seperti penulis jelaskan diatas, Autofit. Yakni terdiri dari 20 jenis produk,dari semir ban, sampo mobil, pembersih dari evaporator, dll.

Dulu Kenek Sekarang Pengusaha Distributor Besar Ayam

Profil Pengusaha Rudi Chandra


distributorayam.png
 
Roda berputar dulu kenek sekarang pengusaha. Dia membalik keadaan, dan kini menjadi distributor besar ayam ke Ibu Kota Jakarta. Lewat kisah Rudi Chandra, mulailah kamu percaya bahwa apapun dapat terjadi, bahkan buat kamu dulu kenek angkotan umum.
 
Profil Rudi Chandra dikenal sebagai pemilik perusahaan bernama Dagang Fiber Jaya. Kisah suksesnya panjang nan- pilu sudah dimulai semenjak ia dilahirkan sebagai anak dari keluarga kekurangan. 
 

Menjadi Distributor Ayam

 
Pria kelahiran 45 tahun silam, selepas masa sekolahnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, tahun 1990 -an silam. Mengaku selepas sekolah langsung ke Jakarta merantau mengadu nasib. 
 
Rudi tak terbersit akan menjadi apa selepas sekolah. Di Jakarta cuma bisa bekerja serabutan. Mulai bekerja menjadi kenek bus kota, menjadi pedagang kaki lima, hingga sampai jadi pengemudi taksi.

"Saya jadi kenek bus karena berpikir kerja apa saja, asal jangan menganggur dan halal," jelasnya kepada pewarta Kompas.com.

Ia sendiri merasakan kejamnya Ibu Kota. Terutama jika sudah bertemu preman, pungli, atau penumpang yang cuma bergelantungan di bus. Rudi sendiri memilih tak mencari masalah. Kalau ada hal seperti itu Rudi memilih mengalah. Tiga bulan berlalu cuma mentok jadi kenek. 
 
Ia mengaku lantaran tak bisa menyopiri maka jadilah dia kenek saja. Hasil dari usahanya cuma Rp.5.000 per- hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Rudi juga aktif berjualan jam tangan di Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta. Karena gaji menjadi kenek sangat kecil. 
 
Oleh karena itulah ia memilih belajar mengemudi dan menjadi sopir. Hasilnya lumayan gajinya naik jadi Rp.15.000 per- hari. Ia berbeda dari kebanyakan temannya. Jika temannya memakai uangnya untuk bersenang- senang, maka Rudi memilih meningkatkan diri.

Dia tak menghabiskan uangnya. Malah dikumpulkan digunakan buat kursus komputer. Selama delapan bulan ia gunakan fokus belajar mengoprasikan komputer. Hasilnya berkat kursus itulah dirinya diterima bekerja di pabrik pada tahun 1995 -an. Rudi memiliki prinsip menginginkan hidup lebih baik. 
 
Tak ada rasa puas dalam dirinya untuk berhenti menjadi lebih baik. "Maka saya mencari ilmu. Ilmu itu tidak akan habis," jelasnya, hasilnya ialah ia bekerja di sebuah perusahaan keramik.
 
Bekerja di pabrik, mantan kenek itu kini bekerja menjadi pegawai pengontrol mutu. Dia menjadi pegawai di perusahaan terletak di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Untuk ini gajinya bisa dibilang turun yakni cuma Rp.4.600. 
 
Bedanya ialah Rudi bisa tinggal di mes pegawai milik perusahaan. Dia tak perlu memikirkan biaya sewa tempat tinggal lagi. Dalam mes ada salah satu temannya yang beternak ayam kecil- kecilan. Ia tiap hari melihatnya hingga terbersit pikiran.

Dalam 30 hari usaha milik temannya bisa panen. Bisa menambah uang tambahan buat si empunya dari ayam- ayam potong tersebut. "Saya juga tertarik," ujar Rudi lagi. 
 
Ide membangun peternaka ia realisasikan langsung tanpa pikir lama. Rudi lantas mencari lahan buat membangun peternakan. Seorang teman memberi tahunya bahwa di kawasan Serang, Banten, ada tanah buat disewakan. Baru menjadi pegawai beberapa bulan. Rudi memilih menjadi peternak.

Dia ingin beternak ayam. Modalnya cuma Rp.3,5 juta hasil pesangon dan tabungan. Di tahun 1996, didirikan kandang ayam untuk 2.000 ayam modalnya Rp.1,9 juta. Lahan seluas 5.000 meter juga disewanya. 
 
Sewa lahan dihitungnya jumlah ayam diternakan. Yakni besarnya Rp.100 per- ekor, kala itu Rudi masih bekerja sendiri, tak cukup uang buat membayar pegawai terangnya. Panen pertama itu setelah 35 hari. Hasilnya dari panen pertama yaitu Rp1,5 juta.

Mantan Kenek Sopir

 
Tak lantas digunakan macam- macam tapi diputarkan lagi untuk kandang baru. Jadilah usahanya bisa naik lebih besar lagi. Sayangnya, usahanya tertimpa krisis monter tahun 1997. Rudi langsung bangkrut karena kriris moneter. 
 
Masalah krusial dari bisnisnya adalah bahan baku yang impor. Ya, beda dari pengusaha lain, kala itu Rudi disibukan penggunaan bahan pakan impor. Disaat harga dollar naik maka harga bahan pakan dari impor naik dua kali lipat.

Disisi lain, harga jual ayam potong miliknya tak naik. Alhasil Rudi nombok pembayaran buat tengkulaknya. Dia kemudian menerapkan sistem habis jual. Maksudnya pembayaran tengkulak selepas ayam habis terjual. Butuh waktu lama bahkan sampai satu bulan lunas. 
 
Si tengkulak jadi susah- susah gampang ditemui. Rudi harus rajin- rajin mencari mereka. Kalaupun ketemu mereka akan memilih membayar lewat mencicil.

Rudi buat memenuhi kebutuhan sehari- hari. Terpaksa menyewakan kandang- kandang miliknya. Sewanya yaitu Rp.250 per- ayam. Selain menyewakan kandang juga menjadi tukang bongkar muat sangkar ayam dari mobilnya. 
 
Selama enam bulan aneka pekerjaan lain dikerjakan. Salah satunya kembali menjadi sopir lagi. Uang dari tengkulak baru mau membayar ketika ayamnya laku. Ide lain muncul yakni kenapa menjual ayam itu utuh.

"Saya lalu berpikir, lebih baik menjual daging ayam saja," terang Rudi.

Menjadi pedagang daging tentu beda dari beternak. Meski menjual sendiri hasil ternaknya tentu beda. Rudi merasakan betul di hari pertama berjualan. Dia punya stok daging 10 kilogram. Namun, hanya ada sepotong paha laku dijual seharga Rp.15000, tak mudah memang. 
 
Apalagi ia harus bangun pagi- pagi sekali yakni dari pukul 04:30 dimana pasar mulai ramai, sampai pukul 07:00 di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang, Banten.

"Waktu itu, relasi saya memang belum banyak," jelas Rudi. Untuk daging dipotong dan dibersihkan olehnya sendiri. Dia mencoba menjaga kepercayaan pelanggan. Dalam dua- tiga hari sudah bisa uang dikumpulkan. Ia kumpulkan juga buat membayar peternak patnernya. 
 
Buat apa uang ditahan berhari- hari, semuanya ia langsung bayarkan, dengan begitu hutangnya langsung lunas.

"Itu hak orang lain," Rudi menambahkan. Hasil kerja kerasnya yaitu minibus sebagai kendaraan opersional. Dia beli seharga Rp.8,5 juta. Pelangganya tak lagi cuma pembeli pasar, tapi tukang sayur, hingga pemilik rumah makan, dan juga penjual pecel lele. Ayamnya ditawarkan melului sistem jemput bola. Dia sendiri yang menawarkan langsung ke penjual.

Mulai dari peternak ayam. Kini, ia beralih menjadi pedagang daging ayam pula. Kisah suksesnya berlanjut lewat marketing jemput bola. Dimana para pembeli tak perlu repot datang ke tempatnya. Akan tetapi ia lah sendiri menghantarkan ayam- ayamnya ke sana. 
 
Kualitas ayam dijaganya agar tetap dipercaya. Berkat inilah ia mampu membuka lapangan kerja bagi 10 orang. Salah satunya sudah ikut sejak usianya masih muda. Dia sampai sudah punya anak. Tidak cuma menawarkan ayam potong. Dia juga menawarkan kembali ayam utuh. 
 
Di tahun 2004, ia telah mampu menjual 1.200 ayam per- hari ditambah penjualan daging ayam di Pasar Ciruas. Ketika dia tak lagi mampu mengatasi pesanan. Diserahkannya usaha penjualan daging ayam kepada pegawai. Sementara dia jadi pemasok daging mentahnya untuk dipotong. 
 
Sebuah kombinasi menarik membangun usaha dari hulu ke hilir. Lewat hutang dari bank dibangun kembali peternakan miliknya. Modal kandang yang disewakan kembali ke tangannya. Digunakan kembali buat membangun bisnis peternakan ayam. 
 
Sukses dari bisnis ayam membuat ia memiliki 17 kandang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lebak, dan Kota Serang. Kemudian ia membuka namanya Perusaha Dagang (PD) Hiber Jaya tahun 2011. Kemudian usahanya dari ayam potong dan ayam beku.

Hingga ada 30 truk siap hilir- mudik dari tempatnya mengangkut ayam. Setiap truk bisa mengangkut 1000 ayam. Bisnisnya mampu menghasilkan 30.000 ayam didistribusikan dari Banten, Jakarta, Lampung, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, bahkan sudah sampai Kalimantan. 
 
Mitra bisnisnya mencapai 100 peternak dan juga 20 perusahaan. Jumlah karyawannya sudah 20 orang. Mereka lantas tersebar di rumah potong ayam, kandang, dan pasar. Dia mempekerjakan mereka warga sekitar. Total ada tujuh truk dan dua mobil boks milik pribadi. 
 
Semuanya untuk operasional utama usahanya. Bicara omzet pastilah sudah terbaca sampai miliaran rupiah. Akan tetapi yang terpenting bukanlah jumlah omzetnya tapi mampu membuka lapangan kerja. Selain itu ia ingin menjadi bukti hidup tidak ada yang tidak mungkin. 
 
Termasuk dirinya yang cuma mantan kenek. "Yang lebih penting adalah kita bisa membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha," tegas Rudi.

Pengusaha Muda Jualan Hotdog Riza Mr.Unyu

Profil Pengusaha Riza Hariadi


jualanhotdog.png
  
Pengusaha muda jualan hotdog Riza pemilik Mr. Unyu. Ini dia contoh alumni kampus sukses buat kamu. Kalau kamu kuliah ada baiknya pikir betul jurusan apa. Lantas apa juga bisa membuat kamu menjadi wirausaha. 
 
Kisah berikut adalah kisah pengusaha alumni Akpar Majapahit. Dia tak cuma kuliah tapi mempraktikan kuliahnya. Sejak masuk Majapahit Tourism, cowok 28 tahun ini, memang sudah membidik jurusan pariwisata. Dia membidik jurusan yang mampu menjadikannya seorang pengusaha.
 

Bisnis Jualan Hotdog


Tak mau menjadi pegawai hotel atau restoran, akhirnya Riza Hariadi, memilih membuka usaha sendiri. Usaha bernama Burger Gosong Saus Jodoh yang terkenal di sekitar Pantai Senggigi. Unik didengar membuat orang jadi penasaran. 
 
Apalagi kalau kita mendengar kisahnya. "Pokoknya setelah lulus dari Akpar Majapahit, saya harus punya usaha sendiri," ujar dia kepada pewarta kampus. 

Bukti di 2011, Riza mulai merintis usaha sendiri meski tak segampang itu. Pokoknya dalam benak pemuda berkacamata ini cuma membuka usaha. Dia memutar otak keras bukan bagaimana menjadi pegawai. 
 
Bukan bagaima dirinya diterima di hotel berbintang. Oleh karenanya selama masa kuliah di Akpar Majapahit, ia mulai mencoba- coba usaha sendiri. Memang sejak kuliah mahasiswa diajarkan pelajaran kewirausahaan.

"Selama kuliah memang di latih menjadi entrepreneur," ujar Riza.

Banyak lika- liku dialami selama memulai. Tak semudah membalikan telapa tangan. Kendala awal seperti halnya pengusaha lain ya soal modal usaha. 
 
"Saya ingat betul kata Pak Hedi (dosen kewirausahaan) selalu bilang bahwa Modal utama dalam berwirausaha bukanlah Uang, tapi Modal berani aja sudah cukup," jelasnya. Riza modal nekat menjual barang menjadi uang. Itu dicukup- cukupkan saja -tapi masih berasa tak cukup juga.

Masih kurang maka dicobalah meminjam saudara. Maupun mengais sisa- sisa uang tabungannya di bank. Semuanya digunakan menjadi modal usaha. Soal tempat pun sudah diputuskan yakni di Lombok. Alasan utama karena di Lombok banyak saudara. Selain mencari suasana baru. 
 
Setidaknya bisa meminta bantuan saudara kalau ada kesulitan. Sisa modal didapatkan dari motor barunya yang ditukar motor bekas; cukup menutupi. Soal tempat tinggalnya terselesaikan lewat menumpang di saudara. Riza tak terlalu banyak keluar uang. 
 
Nah, setelah disana, setelah modal cukup, tinggal memikirkan "mau jualan apa ya?. Memang sejak awal gambaran mau bisnis belum ada sejak pindah ke Lombok. Mau usaha apa tak jelas mau jualan apa. Peluangnya baru terlihat justru ketika dalam kegalauan.

Di tempat tinggalnya yang baru, di dekat pantai Senggigi Lombok, ide bisnis itu baru muncul. "Saya lihat kok enggak ada yang jualan hotdog, padahal banyak bule," celetuknya. Sejak saat itu, ia memutuskan berjualan hotdog saja. 
 
Karena saingan tak ada jualan hotdog plus burger menjanjikan. Dibuka lah satu gerai bernama Surfing Duo Burger and Hotdog. Nama yang diambil mengingat gerainya ada didekat tempat bule berstirahat selepas surfing.

Bisnis Pengusaha Muda



Pengorbanan terbayar lewat gerai yang tak perlu menyewa mahal. Cukup menambahi biaya air dan listrik. Terus berkembang membuat Riza bisa membuka cabangnya hingga Mataram. Ia dibantu oleh saudara disana yang juga mau membuka usaha sendiri. 
 
Dalam perjalanan bisnisnya sudah tak terhitung sudah berapa kali berganti nama. Faktanya brand menjadi masalah krusial pengusaha muda yang satu ini. Brand itu berubah sejalan bertambah aneka varian rasa.

Sudah beberapa kali berganti nama tak membuat sepi peminat. Untung, karena sambil berganti nama, Riza tetap aktif memperbarui varia menu. Hasil kuliah di Jurusan Food and Beverage mulai dipraktikan langsung. S
 
erangkaian varian produk hotdognya sekarang begitu digemari. Tak mau setengah- setengah ia mulai rajin membaca marketing. Akhirnya diputuskan namanya menjadi Mr.Unyu, dan terbukti mampu menarik lebih banyak pembeli.

Tepatnya, lebih panjang Mr.Unyu: Burger Gosong Saus Jodoh. Memang sengaja dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian pembeli. Sukses Mr.Unyu masih berkelanjutan loh. Sukses diraihnya bukan sekedar lewat berkorban tetapi juga kerja keras. 
 
Sejak awal ia memang hobi memasak dan bereksperimen, ditambah membaca buku marketing. Kesimpulan bahwa usaha sendiri lebih baik dari jadi pegawai, telah dibuktikan lewat pengalaman pribadi.

Memilih kuliah mempengaruhi kamu akan jadi apa kelak. Riza mensarankan buat adik kelasnya agar berpikir matang. Harus selalu belajar menekuni apa yang kamu pelajari di kampus. Memilih kampus baik menentukan pelajaran yang kita terima. 
 
Apa mendukung juga menjadi pengusaha atau tidak. Ketika ia berkuliah Kuliah Kerja Nyata, disanalah pembuktian ia tak salah memilih. Ketika Riza bersama kawan praktik berjualan Sushi Rendang. Ada pengalaman menarik tak terlupakan. 
 
Kisah kerja nyata bersama kawan, berjualan memakai mobil kampus dan berpakain chef, tampak menyolok salah kostum. Berjualan di kampung seperti orang kaya, tak ayal tukang becak nyeletuk nyinyir. 
 
"Mas kalau sudah kaya dirumah aja, ngapain jualan disini, bikin warungnya nggak laku." ucapnya.

Ini menjadi sebuah tamparan tentang makna menjadi pengusaha. Riza sadar perlu ada pemahaman soal cara terbaik memulai usaha disuatu lokasi.

"Lucunya lagi Bapak itu ngomongnya makek bahasa jawa medhok, sambil nunjuk warung temannya," Riza menirukan.

Itulah mengapa Riza meyakini bahwa pengusaha harus bisa bersosialisasi. Agar tidak ada resistensi dari masyarakat sekitar. Itu sebabnya ketika memulai bisnis dia begitu memperhatikan lingkungan. Hingga soal gambaran tempat usaha terlihat sangat sederhana. 
 
Coba bayangkan apa yang mungkin terjadi bila ada resistensi. Bisa saja kisah Riza Mr. Unyu tak akan semulus kita bayangkan kini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba