Peluang Usaha Camilan Sehat Ketika Pandemi Covid

Profil Pengusaha Pauline Angelia

 

camilansehat.png
 

Ketika pandemi Covid 19 melanda meghancurkan pendapatan. Tetapi ada peluang usaha camilan usaha buat kamu coba. Pauline Angelia warga Tangerang menjajal usaha camilan. Pengusaha 21 tahun yang menjajal kue vegan nikmat, murah, dan sangat hemat.


Usaha bernama Vegan Basket dimulai ketika pandemi Juli 2020. "Pertama kali buat ini berawal dari saya sendiri, karena suka ada masalah pencernaan," tambahnya. Berkat diet vegan ini. Dia kini pencernaan membaik. Pauline bercerita sempat kebingungan mencari camilan sehat.


Peluang Usaha Camilan

 

Ketika ketemu dia malah menemukan camilan mahal. Pauline menyadari bahwa makanan sehat lumayan mahal. Maka dia mulai membuat sendiri dan ternyata tidak semahal itu. Pauline berusaha membuatnya sendiri kemudian dimodifikasi.


Niatnya membuat makanan vegan tetap enah dimakan orang biasa. Usaha bermodal Rp.10 juta untuk membuat mini muffin, loaves, dan cookies. Harganya antara Rp.30.000- 55.000, yang membuktikan tidak selalu mahal.


"Vegan Basket juga ingin menjadi bagian dari solusi, maka itu selain menyajikan snack vegan yang sehat dan nikmat, kami hadir sebagai bisnis lokal yang sustainable dengan gerakan plastic-free," ujarnya.


Tidak hanya berjualan online. Pauline juga menjual Vegan Basket di Everplate. Dirinya bekerja sama dengan brand Green Grills menitipkan Vegan Basket di sana. Kerjasama tersebut berupa bagi hasil penjualan Vegan Basket. Keuntungannya Pauline tidak perlu membayar tempat karena dititipkan.


Vegan Basket baru tersedia di Jakarta dan Tangerang. Kini Pauline menerima pengiriman sampai ke Karawang. Namun terbatas pengiriman cookies kering yang tahan lama dibanding kue basah. Pauline menjelaskan Vegan Basket 100% terbuat dari tumbuhan.

 

Ia menegaskan tidak memakai susu, butter, dan telur. Dibandingkan produk sejenis Vegan Basket lalu mengganti mentega dengan margarin. Alternatif pembeda tidak memakai mentega dan  pengawet, tidak pula memakai pewarna dan perasa buatan.


Penggunaan margarin bertujuan menciptakan rasa. Agar pembeli non- vegan tetap mampu menikmati roti mereka. Menurutnya makanan vegan tidak semua hambar dan tidak enak apalagi mahal. "Banyak yang bilang mahal, jadi saya buatnya dengan bahan premium tapi harganya murah," papar Pauline.


Para non- vegan juga menikmati roti bikinan Vegan Basket. Menurut testimoninya mereka pembeli merasakan tekstur mirip roti biasa. Ini berbanding roti sejenis lebih mahal tetapi tidak terasa tepung. Ia seminggu mampu mengantongi omzet Rp.1 juta sudah termasuk pre- order muffin dan loaves.


Pauline menghasilkan Rp.4 juta perbulan. Varian roti vegan meliputi aneka varian muffin, loeaves varian pisang, strawberry, dan chocolate. Kemudian cookies meliputi almond dan choco chips. Paling best seller adalah chocochips cookies dan banana muffin.


Penjualan masih belum stabil ketika pandemi covid masih. Tapi Pauline melihat peluang usaha camilan sehat masih. Ia terus mendorong promosi dan marketing. Dia tak segan mengadakan giveaway untuk agar produknya lebih dikenal publik.


Pauline percaya akan kualitas produk sendiri. Yakin bahwa produknya memang bagus. "Kita saat ini kencengin promosi... terutama marketingnya bagaimana orang bisa tahu kita. Saat ini aku fokusin ke marketingnya, terakhir kita ngadain giveaway," lanjut Pauline.


Pauline belum kepikiran membuka toko kue. Dia masih mengerjakan aspek onlinenya. Pikirannya bahwa usaha online tengah berkembang pesat. Pauline mau memanfaatkan peluang tersebut. Tapi bila dia diberi kesempatan free kitchen di Everplate, dia tidak akan menolak memanfaatkan kesempatan.


"Tertarik, saya selama kerjasama dengan Everplate, dari sistmenya dan dapurnya memang menarik sekali," Pauline menjelaskan. Pauline lantas berpesan bagi pengusaha baru. Berbisnis memang tidak gampang dan juga sulit.


Tetapi yang terpenting memiliki kemauan. Percaya pada produk dan jasa akan dijual. Bila bagus maka lanjutkan sampai berhasil. Selama memiliki kemauan. "Asal kita percaya dengan produk kita dan pantang menyerah pasti bisa akhirnya untuk sukses," pungkasnya.

Cilok Mochi Inovasi Pengusaha Imanuddin Pengangguran

Profil Pengusaha Imanuddin

 
cilokmochi.png
 
Pengusaha Imanuddin pengangguran sampai melamun- lamun. Cilok mochi inovasi merupakan wujud inovasi lamunan. Agar tetap punya uang selepas berhenti bekerja, Imanuddin haru memutar otak, bahkan sampai 180 derajat dari biasanya. 
 
Pemuda ini pernah bekerja sebagai seorang desain grafis. Pekerjaan monoton di sebuah perusahaan di Bandung. Memilih keluar tidak semerta Iman langsung menemukan suksesnya. Butuh waktu, serta cara unik, yang akhirnya membawa namanya menjadi pengusaha beromzet 15 juta per- hari.
 

Inovasi Pengusaha


Kalau pun gaji naik, tapi gajinya paling naik sedikit keluhnya kepada Detik. Apalagi menurutnya di kawasan Bandung pekerjaan desain grafis kurang dihargai. Jadilah wirausaha pilihan utamanya selepas keluar dari perusahaan. 
 
Sayangnya, tak semudah membalik telapak tangan menjadi wirausaha sukses. Pasalnya dia tak berbekal apapun ketika memutuskan jadi pengusaha. Dua bulan sudah dirinya menganggur dan tak ada ide bisnis apapun yang cocok.

Sampai ketika ide itu muncul sendiri tanpa diduga- duga. Bukan sembarang mochi karena idenya datang dari jajanan cilok Loh kok? Alkisah, pada suatu sore di tahun 2012, ketika dirinya melamun di sore hari karena menganggur. 
 
Kakaknya datang berkunjung membawa satu makanan khas Bandung, cilok. Makanan terbuat dari aci asli Sunda, yang berbuat dari tepung sagu. Jajanan anak- kecil hingga dewasa yang disuguhkan layaknya bakso tusuk. Ditusuk- tusuk kemudian dibumbui saus tomat ataupun bumbu lain.

Masa mengganggur itulah yang terberat. Hingga ide muncul Imanuddin mengaku cuma bisa melamun, duduk- duduk didepan layar komputer. Pikirannya bercampur tebersit kalimat dalam bahasa Sundakan, "kumaha carana ya untuk membuka peluang usaha?"
 
Intinya ia ingin membuka ide sendiri dan pekerjaan sendiri. Nah, seperti tadi penulis jelaskan diatas. Kakak iparnya tepatnya menyuguhinya jajanan cilok. Ternyata cilok buatan sendiri itu enak ternyata.

Akhirnya, pria lulusan SDN Banjarsari, SMPN 5 Bandung, dan SMAN 19 Bandung, ini akhirnya berniat membuat jajanan khas anak SD tersebut. Namun, kalau cilok bumbu kacang mah udah biasa katanya dalam hati. Itu terlalu mainstream kata orang jaman sekarang. 
 
"Saya mah ingin menciptakan jajanan khas rakyat itu menjadi sesuatu sajian yang baru," jelasnya. Disaat itu dalam benaknya jualan cilok kurang menarik, tidak ada perbedaan dalam penyajian dan rasanya.

Selain dari rasa ciloknya Imanuddin juga menyoroti pada sausnya. Itu- itu saja jelasnya kembali di sebuah artikel. Ingin ada trobosan terbaru tidak cuma membuat cilok direbus, lalu dikukus, tapi membuatnya jadi cilok bakar. Langkah awalnya adalah menemukan komposisi pas serta resepnya.

Iman ingin mengangkat derajat cilok. Kendati belum terpikirkan caranya tapi langsung saja membawanya ke media sosial. Inilah marketing unik cara Imanuddin: Pada Januari 2012, diluncurkannya terlebih dahulu brand miliknya Mochilok. 
 
Maksudnya adalah untuk memancing reaksi pasar. Apakah ini mochi atau cilok, kalau penulis bisa asumsikan kedua nama itu memang saling bertautan; jadinya ya unik. Nah, selepas melempar bola panas tersebut barulan Iman mancari resep.

Pengangguran Sukses


Melalui berbagai pecobaan layaknya ilmuan. Iman bermodal koneksi internet mencoba mewujudkan menu- menu dalam benaknya."Cilok naik kelas," imbuhnya. Tak lengkap rasanya dalam benak cilok asin jika tak ia sandingkan rasa manis. 
 
Ketemulah ide tentang mochi, yang kebetulan nyambung dengan kata cilok, dan jadilah mochilok. Keduanya memang berbeda asal dan konsep. Berbekal imajinasi yakni mau membuatnya jadi seperti martabak mulailah Iman mencoba.

Namanya Mochilok, kan Ci bertemu kata Ci lain, yang mana digabungkan berbunyi enak. Karena sudah tau mau bisnis apa. Dia mengalami kesulitan terutama soal mochi. Kalau cilok mungkin bisa ia pahami tapi bagaimana dengan mochi. 
 
Karena berlatar belakang desain grafis bukannya mencari resep dulu. Ia malah bikin logo bisnisnya. Logo tersebut dipasarkan melalui media sosial, adapula yang dirubahnya jadi gantungan kunci dan stiker. Semua dibagikan ke masyarakat secara cuma- cuma. 
 
Tanpa berucap satu kata pun apa itu Mochilok, inilah 'gong' marketingnya, dimana orang menunggu- nunggu. Sambil berjalan berguru mencari resep mochi dari mbah internet. Total enam bulan lamanya hingga ia bisa membuat mochi. 
 
Berkali- kali mencoba, berkali- kali pula kegagalan menemuinya. Hingga dalam perjalanan ide cemerlang timbul; kita ganti isinya. Jikalau sebelumnya mochi berisi gula kacang merah, ditangan Iman itu jadi ice krim.

"Enam bulan saya trial and error. Tapi saya tak menyerah, sampai akhirnya ketemu resep mochi dengan isi es krim," ungkapnya.

Cuma iseng aja mencoba apa- apa yang ada dibenaknya. Hasilnya? Ternyata berdampak positif dalam hal kemajuan usahanya. Ketika baru dibuka, secara resemi, mochilok sangat disambut positif. 
 
"Mereka bilang, ooh ini Mochilok? Saya pernah liat logonya," begitu kiranya ungakapan mereka yang baru datang, di awal pembukaan Iman telah menang berkat marketing jitu. Meski sudah jalan bukan tanpa kendala, kendalanya ialah modal sudah kehabisan.

Modal awal 5 juta ternyata dirasanya kurang, cuma cukup dibelikannya freezer, peralatan, dan bahan baku untuk mochi dan cilok. Sambil berjalan hitung- hitunganya diperketat lagi. Agar lebih efisien dan untung lagi begitu jelasnya. Menjadi salah satu perhatiannya ada pada kemasannya. 
 
Karena mochinya berisi es krim, maka mudah cair, butuh sesuatu agar bisa awet. Secara aktif Iman memperhatikan bagaimana para pedagang es krim menjual barangnya.

"Dari situ saya belajar pengemasan dan pengirimannya," ujarnya pasti.

Marketing Cilok Mochi


Soal kemasan sebagai seorang desain grafis menjadi andala. Itulah kiranya yang penulis baca dari cara bisnis Kang Imanuddin. Dimulai tepat 8 Jun 2012, gerai pertamanya dibuka di kawasan Jalan Kubang Sari 7 No. 42, Bandung. 
 
Modal awalnya seperti disebutkan diatas 5 juta rupiah, Iman menjual 50 cilok dan mochi isi es krim aneka rasa jelasnya. Hanya dalam sebulan saja sudah bisa begitu besar hasilnya. Tercatat sudah ada 7 gerai Mochilok di Bandung saja.

Rasa yang semakin beraga membuat usahanya semakin laris. Uniknya, kedua makanan utama yakni cilok dan mohci, Iman suguhkan secara bersamaan. Yakni cilok barbeque dilumuri mayonnaise, disuguhkan juga mochi es krimnya dengan aneka isian. 
 
Berjalan waktu bisnisnya bisa menjual 7.000 buah mochi dan juga 3.000 -an cilok. Untuk meningkatkan penjualan, sekaligus menjadi brand awareness Iman sendiri langsung jemput bola. Melalui layanan delivery order membuat usahanya lebih pesat lagih.

Dimulai ketika itu pada bulan Juni- September, efeknya ternyata sangat memuaskan, utamanya karena pada bulan- bulan itu adalah hari libur mahasiswa. Kang Iman memastikan bahwa kamu akan bisa menikmati hangatnya cilok dan dinginnya mochi kapanpun. 
 
Layanan tersebut bahkan sudah diaplikasikan ke semua cabangnya. Hitungannya ialah jarak yakni dari Rp.5000- Rp.20 ribu, untuk pembelian minimal 10 buah cilok dan mochi.

Kendati persaingan mulai keras, banyak sudah makanan sama persis, bahkan diberi nama sama Mochilok telah bermunculan; Imanuddin tak gentar. Ia tetap percaya diri dan tidak mempermasalahkan orang lain ikut- ikutan mengenakan brand -nya. 
 
Dia percaya kualitas usahanya lebih dari apapun. Tak cuma hanya dikenal di penjuru Bandung, dari luar pun, banyak orang datang untuk mencicipi produknya. Apa yang terbaru dari usaha miliknya adalah menggabungkan cilok dan ramen.

Soal omzetnya, ia mengatakan kepada media, bahwa saat ini usahanya menghasilkan Rp.15 juta per- hari. Ia menyebut itu jika tak hujan. Soalnya ketika musim hujan penjualan mochi akan menurun. Lebih banyak yang membeli ciloknya. 
 
Menurutnya adanya persaingan adalah mendorongnya untuk lebih inovatif. Yang hebat itu bukanlah apa yang kita jual, tapi ide baru apa yang kita wujudkan. Jika ada orang yang meniru, buat sesuatu yang baru, jangan berhenti berinovasi.

"Yang penting mental, jangan takut persaingan," tutupnya.

Jualan CD Biografi Pengusaha Avip HIPMI

Profil Pengusaha M. Avip Firmansyah 

 
biografipengusaha.png
 
Bermula jualan CD biografi pengusaha. Kini Avip HIPMI menjadi pengusaha sukses beneran. Bahkan gelar anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia melekat. Bermodal uang 1 juta rupiah bisa sukses berbisnis. Apakah betul kiranya itu mungkin terjadi. 
 
Kenyataanya itulah pengalaman M. Avip Firmansyah. Sang pengusaha modal dengkul cuma bermodal Rp.1 juta. Kini, namanya tercatat menjadi salah satu pembicara dan coach terkenal. Dia juga membuka sekolah pengusaha sendiri. Hal lain adalah usaha kafe dan berbagai usaha lain. 
 

Bisnis Jualan CD

 
Kesemuanya cuma bermodal uang 'dengkul' termotifasi biografi pengusaha sukses. Ceritanya di tahun 2002 -an, Avip sudah berbisnis pakaian jadi, berbisnis fashion sejak masih berkuliah. Untuk yang satu ini bisnisnya cuma bermodal koneksi internet. 
 
Jika biasanya pengusaha online kebanyakan cewek, tidak baginya, apapun ditekuninya hingga menjual banyak produk. Berjalan cukup lama sekitar dua tahun sudah usaha tersebut dijalankan. Perlahan tapi pasti cakupan bisnisnya mulai banyak. Bahkan suatu hari ada pesanan fantastis senilai Rp.200 juta.

Permintaan besar itu begitu mengejutkan. Seorang ibu memesan baju muslimah sebesar ratusan juta. Tanpa ia berpikir panjang diterimalah pesanan itu. Estimasi Avip adalah sang ibu merupakan pembeli bonafit. Dirinya begitu percaya bahwa si ibu tak akan berbohong. 
 
Dalam proses berbisnis itu, ia melakukan kesalahan, jika biasanya bisnis online bermodal DP atau Down Payment; kali ini tidak!

"Saya antar barang pesanan langsung ke ibunya. Janjinya dia mau transfer. Ternyata dia sampai sekarang tidak pernah transfer membayar dagangan yang sudah dibawanya," kisahnya.

Pria kelahiran Kuningan, 18 Januari 1981 ini, resmi ditipu oleh pembelinya dari satu kesalahan sepele. Ia mengabaikan prosedur berbisnis. Ini adalah mekanisme wajib bagi pengusaha online. Avip pun melanjutkan. Dia kemudian mengunjungi rumah si empunya hutang tersebut. 
 
Hasilnya dia cuma mendapatkan kenyataan pahit. Hasilnya itu nol besar tak dapat apa- apa. Kisah pengusaha pemula bernama Avip Firmansyah inilah yang perlu kamu perhatikan. Dia sangat terpukul. Tapi hatinya langsung move on. Dia bangkit kembali untuk berbisnis lagi. 
 
Avip tetap lah berbisnis kembali dengan membayar ganti rugi ke pabrik tempatnya memesan. Untungnya, pihak pabrik dia memesan pakaian muslimah mau memberikan keringanan. Akhirnya Avip membayar uang pembelian dengan cara diangsur selama beberapa bulan. 
 
Dari kisahnya tersebut ia mengambil hikmah. Bisnis itu harus selalu penuh perhitungan dan selalu berhati- hati.

Biografi pengusaha


Bermula jualan CD biografi pengusaha muda Avip bangkit. Walau dia pernah kena tipu tetap jualan. Selalu ada hikmahnya terutama bagi kita pengusaha pemula. Avip tak pantang menyerah meski rugi ratusan juta. 
 
Baginya bisnis kini adalah penuh perhitungan sehingga hal tersebut tak akan terulang kembali. Sadar akan hutang menumpuk mendorongnya lebih bersemangat dalam berbisnis. Ia memutuskan untuk mengerjakan bisnis lainnya. 
 
Kebetulan dia adalah penggemar cerita- cerita biografi pengusaha seperti penulis. Dia punya koleksi banyak CD inpiratif. Idenya membawanya untung Rp.5 juta- 10 juta. Modalnya cuma dari kumpulan biografi tersebut. 
 
Caranya adalah Avip mengkopinya, memasuka ke CD, lantas dipasarkannya ke toko- toko buku. Hasilnya ternyata lumayan besar loh. Uniknya modal yang dikeluarkan sangatlah kecil. Jika dibanding omzetnya bisa mencapai angka 90% -nya. 
 
Yakni bermodal 5 ribu untuk burning ke CD. Hobinya itu ternyata bisa diungkan kembali. Sambil berjualan CD biografi- biografi orang sukses, Avip menyelesaikan pendidikan Sarjana di Sekolah Tinggi Manajemen Bandung. Omzetnya yang tinggi bisa menghantarkan bisnis lainnya. 
 
Dia kemudian aktif menjalankan bisnis jasa pembagian brosur. Bisnis unik tersebut cuma bermodal ide ketika ada perusahaan yang kesusahan menyebarkan brosur. Bisnis yang dijalankan satu setengah tahun sejak 2011 dijalankannya penuh dengan perhitungan.

Dia bahkan bertekat mendapatkan kontrak dari beberapa perusahaan besar. Dalam sepekan ia telah mampu mendapatkan proyek dari lima sampai enam perusahaan. Dasar pemikiran bisnisnya adalah ketika dirinya melihat perusahaan kesusahan menyebar brosur. 
 
Mereka tidak punya orang untuk menyebar brosur. Itulah yang mendorongnya bekerja sama dengan beberapa mahasiswa. Mereka akan dibayar oleh Avip yang sudah mendapatkan proyek dari perusahaan.

Sukses berbisnis barang dan jasa, lantas apa yang dilakukan oleh Avip. Kisah pun berlanjut dengan bisnis di bidang pendidikan. Kali ini ia menawarkan pendidikan bahasa Inggris. Bermodal kemampuannya usaha yang satu ini cukup berjalan baik. 
 
Usaha tersebut cuma beberapa saat, karena kini, matanya tertujua pada bisnis di bidang kuliner. Ia membuka sebuah Cafe d'Preneur. Menyulap sebuah kafe biasa jadi bukan sekedar jadi tempat nongkrong. Ditempat itulah para pengusaha muda berkumpul berbagi ilmu.

Langkah selanjutnya seorang Avip adalah menjadi salah satu pembicara. Sosoknya akan kamu bisa temui jika bergabung dengan GIMB Entrepreneurs School. 
 
Dalam catatan di situs tersebut, bisnisnya meliputi, jadi Ketua Yayasan GIMB, pemilik tokobisnis.com, pemilik PT. Indivi Energi Indonesia, pemilik Infoseminarbdg. Dia juga tercatat sebagai Direktur Muda untuk 269 rumah produksi; menyelenggarakan aneka even lokal dan nasional.

Biografi lengkap Avip Firmanysah


Nama                  : M. Avip Firmansyah, S.MB
Tempat/Tgl Lahir : Kuningan / 18 Januari 1981
Jenis Kelamin      : Laki-laki
Agama                : Islam
Alamat                : Yodkali 10 Bdg – Surapati Core  Blok F10 Bdg
Golongen Darah : AB
Pekerjaan           : Wirausaha
No Telp              : 081573049944
E-mail                : Avip.stec@gmail.com

Pendidikan


1985 – 1987 : TK Aisyiah Kuningan, Jawa barat
1987 – 1993 : SD Negeri VII Kuningan, Jawa barat
1993 – 1996 : SMP Negeri I Kuningan, Jawa barat
1996 – 1999 : SMU Negeri I Kuningan, Jawa barat
1999 – 2004 : Sekolah Tinggi Manajemen Bandung (STMB)

Pengalaman berbisnis


2002: Magang di PT Excelcomindo Pratama. Mega Kuningan Jakarta, di bagian administrasi divisi Contruction and Installation.
2000- 2003: Direktur event organizer 269 production. dimana telah banyak menyelenggarakan berbagai event baik tingkat lokal atau nasinal.
2003- 2004: Manajer Cakrawala Muda Group (CMG) yang bergerak di bidang Event organizer, Clothing company, Distributor pakaian boutiq dan factory outlet.
2004: TEAC Elektronik Indonesia BATAM, divisi General Affair.
2005- 2007: PT Shafira Laras Persada Bandung, Dept MIS (Manajemen Informasi Sistem).
2007- sekarang: Owner CV Manajemen Hidup Cerdas
2011: Owner  PT Indivi Sinergi Indonesia
2012: Owner Tokobisnis.com
2012: Owner Infoseminarbdg
2012: Ketua Yayasan GIMB Foundation
2012: Penggagas Gerakan Indonesia Muda Berbisnis (GIMB) - www.gimbfoundation.org
2012- sekarang : Sekretaris Umum HIMPUNAN PENGUSAHA MUDA   INDONESIA
(HIPMI) Jawa Bartat
2010-2011  : Secertary General Junior Chamber International Bandung
2011  : Ketua Program HIPMI Bandung Business Forum
2011  : Ketua Program HIPMI Bandung Business Development Program
2009-  Sekarang : Pengurus Masika ICMI Kota Bandung
2009-  Sekarang : Bendahara Yayasan Bintang Langit – Bandung
2010 : Koordinator Kegiatan “Bandung Menabung Air” sebuah kegiatan sosial untuk kepedulian lingkungan di kota Bandung
2010  : Fasilitator Climate Smart Leader – Yayasan Pembangunan Berkelanjutan
2010  : Mentor dan Fasilitator Program Climate for Classroom – British Council

Penghargaan


Pemenang Young Entrepreneur 2009 – Indonesia Business Link & Kerajaan Inggris Foundation,.
Finalis Wirausaha Muda Mandiri thn 2008 – Bank Mandiri
Finalis Young Entrepreneur Award:  Shell Livewire thn 2008 – Shell
Finalis National Project Management and Leadership Climate Change 2010  – British  Council
Pemenang Pertama , Lomba Business Plan Competition se-Asia, di Bali tahun 2011

Usaha Aqiqah Memilih Berhenti Jadi Pegawai Bank

Profil Pengusaha Afryan Syah Siregar

 
usahaaqiqah.png
 
Gara- gara usaha aqiqah memilih berhenti kerja jadi pegawai bank. Pilihan ekstrim buat pengusaha muda berikut. Padahal cuma usaha aqiqah kecil- kecilan. Pemuda bernama Afryan Syah Siregar, lebih memilih keluar pekerjaan mapan demi ketidak pastian.
 
Jujur, awal- awal, ia sempat ragu karena faktor umurnya yang masih muda. Tidak cocok bagi anak muda macam dirinya yang dianggap tak paham tradisi aqiqah. Hingga suatu ketika dirinya bertemu seorang nasabah. Ia yang seorang pegawai Bank. 
 

Pengusaha Aqiqah

 
Suatu hari bertemu seorang pengusaha akikah. Yang mengalami kebangkrutan dan menawarinya mengambil alih bisnis itu. Dia menawari Afryan yang tak paham apa bisnis akikah. Dia menawarkan tempat usahanya. 
 
Hanya bermodal melihat peluang: bahwa di Kotanya masih belum banyak usaha sejenis. Tanpa berpikir panjang kenapa si pengusaha itu sampai bangkrut; Afryan nekat mengiyakan saja.

Usaha akikah yang telah diambil alih sudah berbentuk. Dia sudah dapat tempat pemeliharaan atau sudah ada kandang- kandang siap isi. Setahap- demi setahap Afryan mulai mengisinya.

Bukan perkara mudah, sejak tahun 2010, total sudah 20 juta dikeluarkan oleh anak Medan ini. Dia sudah membeli puluhan ekor kambing. Jenis kambingnya yaitu jenis domba, yang dibelinya dari tetangga sekitar. Ia belajar sendiri bagaimana mengurus dombanya. 
 
Merasa kualahan, dan memang butuh perhatian kusus, enam bulan bisnisnya berjalan, anak muda 21 tahun ini memutuskan keluar dari Bank. Ia memilih menjadi peternak saja. Usaha bernama Sholeh Aqiqah menawarkan kambing siap olah. 
 
Dimana dia menjadi peternak dan penjual kambing, yang juga bisa langsung dipotongkan, kemudian diolah jadi sate, tongseng, gulai, dan kari. Usia kambing dijualnya antara 1- 2 tahun seharga Rp.1 juta- Rp.2 juta per- ekor tergantung besar- kecilnya. 
 
Jika mau dimasakan cukup menambah uang Rp.300- hingga 400 ribu. Setelah tiga tahun usaha akikahnya sudah besar mapan. Dihitung- hitung Afryan mampu menjual 100 kambing dengan omzet sampai Rp.100 juta. Menurutnya apa yang dicapainya ini berkat kerja keras dan ketekunan. 
 
Tak mudah bagi pemuda 21 tahun loh untuk menekan egonya bersenang- senang. Janganlah menyerah atas apa yang kamu hadapi. Ia juga menegaskan harus ada rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Siapa sangka usaha yang sama sekali bukan keahliannya itu bisa menghasilkan.

"Modal saya adalah menaklukan hati juru masak hebat dan promo sana- sini," ujar Afryan.

Memang tak bisa memasak sehingga ketika baru saja memulai, Afryan, harus buru- buru mencari juru masak untuk Sholeh Aqiqah. Tidak lah mudah tapi bermodal kesabaran. Akhirnya, ia bisa menemukan satu juru masak khusus buat usahanya. 
 
Usut punya usut meski tak berlatar belakang pendidikan itu. Ternyata usaha utama keluarganya adalah menjadi suplier kambing. Dari sanalah dirinya belajar bagaimana cara memelihara banyak kambing.

Bermodal paham soal perkambingan, cukup saja, ia mencari orang buat memasakan di usahanya. Dia tak perlu repot mencari bahan baku. Untuk bahan bakunya adalah daging domba yang merupakan perkawinan silang antara Domba Afrika dan Garut. 
 
Kualitas kambingnya bagus, tidak bau anyir, lebih empuk, lebih gurih, dan tidak tinggi kolesterol. Fokusnya pada olahan masakannya yang bercita rasa tinggi. Berbeda dengan usaha sejenis yang fokus cuma pada kambingnya.

Ternyata Afryan juga melakukan survei kecil- kecilan sebelum memutuskan. Sebelum memutuskan untuk mengambil alih bisnis orang. Ternyata ia sempat melakukan survei kecil- kecilan. Dalam hitungannya ada sekitar 1000 akikah diadakan. 
 
Jika saja ia bisa mengambil pasar, tak banyak deh, cuma 2% nya saja maka hitungannya sudah lumayan. Kenyataanya, justru dia kewalahan, pengusaha muda satu ini bahkan harus jauh- jauh ke Jawa Barat; membentuk kelompok kerja peternak.

Usaha akikah sejak 2010, sudahlah berkembang pesat melalui aneka media promosi. Buktinya adalah ada aneka situs menawarkan usaha akikah asal Medan ini. Sholeh Aqiqah dibawah bendera bisnis CV. Sholeh Group berpusat di Jalan Pinang Baris No.5. 
 
Tepatnya jika kamu mau berkunjung ada dibelakang Terminal Pinang Baris Medan, Sumatera Utara. Dia juga aktif menawarkan jasa usahanya melalui Facebook. Juga media lainnya seperti blog ataupun pasar komoditi.

Pengalaman Pengusaha Sumilan Bos Senapan Angin

Profil Pengusaha Sukses Sumilan 

 
bossenapan.png
 
Pengalaman pengusaha Sumilan atau Milan bermula pekerjaan. Sebelum menjadi bos senapan angin, dia pernah bekerja di tempat manufaktur senapan angin. Dia mengisahkan kembali awal berbisnis senapan angin mandiri.
 
 
Pria asal Kediri, Jawa Timur, ini pernah bekerja di sebuah pabrik manufaktur senapan angin. Lamanya 20 tahun sudah ia bekerja disana dan ada masanya kejenuhan itu melanda. Tak mau selamanya jadi pegawai diputuskannya berhenti bekerja. 
 
Milan kembali ke kampung dan mulai mengerjakan bengkel senapan angin. Selama 20 tahun sudah dirinya bekerja sebagai pegawai. Terbersit dalam pikirannya untuk membuka usaha sendiri. Berbekal uang seadanya Milan memutuskan keluar. 
 

Jadi Pengusaha

 
Mau usaha sebagai petani penggarap sawah; ia tidak bisa mencangkul. Dia tak bisa bercocok tanam. Lantas usaha apa yang bisa dilakukannya, ya, dari apa pengalamannya selama ini.

"Saya dulu bekerja di pabrik, sehingga pulang ke desa untuk memulai harus usaha dari nol. Tani enggak bisa cangkul, cocok tanam enggak bisa berladang akhirnya ke bisnis ini," pungkasnya.

Awal- awal, Milan menawarkan jasa perawatan senapan angin, di tahun 2005 hingga akhirnya diminta untuk membuatkan senapan angin. Bermodal pengalaman puluhan tahun hasilnya tak diragukan lagi. Pengusaha yang satu ini juga memiliki imajinasi luar biasa. 
 
Hingga setiap senapan buatannya sudah layaknya film- film luar negeri. Ia menambahkan aspek peredam suara dan juga periscope atau lensa bidik. Milan merancang itu untuk senapan kaliber 4,5 mm.

Tak jauh- jauh berbisnis hingga Jakarta, Milan cukup membuka bengkel di kampungnya, Desa Cipacing, di Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, dirubahnya menjadi sentral pembuatan senapan angin. Pasar miliknya tentu sudah sesuai peraturan UU bahkan sudah standar internasional. 
 
"Kita jual kaliber 4,5 mm. Ini standar  internasional yang boleh dijual secara legal," terangnya kepada Detik, ketika ditemui di sebuah acara bernama INCRAFT, di JCC Senayan.

Milan mengalir saja jika ditanya soal bisnisnya. Secara tanpa rumit- rumit merencanakan, cukup menjual tanpa memasang target, bahkan Milan mengaku tak pernah menggunakan senjatanya. Dia mengaku kasihan jika menggunakan untuk berburu binatang. 
 
Secara terus terang usahanya dilakukan untuk mengumpulkan pundi- pundi uang dari sana. Soal resiko berbisnis senapan angin, Mila bercerita pernah dikunjungi pembeli yang 'nyeleneh', meminta ia untuk membuatkan senapan diatas kaliber legal. Ia sendiri tak mau mengambil resiko.

"Yang minta di atas standar banyak. Tapi saya tau resiko dan akibatnya. Saya hari ini makan, tapi kemudian kena hukum 40 tahun mending enggak," selorohnya.

Setiap hari usahanya mampu memproduksi 50 senapan. Dibantu oleh 3 orang karyawan, kini, Sumilan jadi salah satu pengusaha yang sering keluar masuk INACRAFT.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba