Penyandang Disabilitas Usaha Miniatur Kapal

Profil Pengusaha Sukses Rianto

 

penyandangdisabilitas.png
 

Penyandang disabilitas memang serba susah mencari rejeki. Tetapi ia membuktikan mampu usaha minatur kapal, dan sukses. Kisah pria bernama Rianto tidak mau berputus asa. Rianto tidak pula mau mengharap belas kasih. 

 

M. Rianto, 28 tahun, mengalami kekurangan pada kaki hingga dibantu tongkat penyangga. Rianto membuktikan bahwa kita bisa berkarya. Pengusah asal Keluarahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, yang memulai kesuksesan berkat ketrampilan. Berkat kreatifitas serta kerja keras membangun usaha. 

 

Pengusaha Mandiri

 

Dia merintis usaha semenjak setahun silam. Sudah dilirik pasar karya- karyanya mulai diminati masyarakat. Dia mendapat banyak pesanan. Pesanan dari Surabaya, kemudian datang dari Jember, Bali, Tangerang dan Jakarta. Bahan usaha miniatur kapal terbuat dari kayu waru diamplas.


Ide kreatif datang ketika Rianto nonton televisi. Tertarik melihat kapal- kapal besar di layar televisi. Ia menjadikan itu kapal kecil. Puluhan kali dia gagal membuat tetapi tidak putus asa. Rianto bangkit dan mampu membuat miniatur. 

 

"Awalnya hanya untuk pajangan di rumah," tutur pria yang pernah bekerja di pabrik roti. Lambat laun, karyanya dilirik orang, karyanya diminati sampai dipesan orang. Kemudian makin banyak orang yang membeli. Usaha miniatur kapal Rianto berkembang semenjak tersebut.


Penyandang disabilitas harus memakai tongkat ketika berjalan. Namun tangannya terampil mulai dari memotong kayu, mengamplas, sampai mengecat. Dia lakukan sendiri. Bisnis kerajinan mengalirkan rejeki diluar dugaan.


Tahap begini bukanlah perkara mudah digapai. Kini dia mungkin memiliki omzet jutaan rupiah. Tapi dia dulu pernah gagal bikin miniatur rumah. Kemudian Rianto memulai usaha miniatur kapal. Uang modalnya Rp.1,5 jutaan, pertama kali dia membuat cuma 2 kapal.


"Alhamdulillah keduanya laku hingga saya semakin bersemangat," tuturnya. Semenjak tersebut, Rianto makin bersemangat membuat banyak kapal. Dicarinya bahan kayu bekas atau limbah disulap menjadi bagian- bagian kapal.


Nanti miniaturnya dijual antara Rp.200- 700 ribu. Kini Rianto mempekerjakan dua karyawan. Hebat pengusaha disabilitas membuka lapangan pekerjaan. Kedepan dia akan terus kembangkan usaha ini hingga sampai keluar negeri, dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.


"Saya punya tekad membuka lapangan pekerjaan yang luas," ia bercerita kepada Detik.com. Ada keterbatasan alat membuatnya sulit. Tapi ia berjanji akan tetap semangat.


Awal kenapa dia penyandang disabilitas bermula ketika sekolah dasar. Bahwa ketika kelas 1 SD, dia menderita demam tinggi, hingga orang tuanya membawa ke mantri di Sidoarjo. Bukannya sembuh kaki Rianto malah mengempis tidak tumbuh. "Katanya saya menderita polio," ujarnya.


Ia mengenang semenjak kecil dia senang berkarya. Rianto senang mengerjakan sesuatu orang tidak bisa. Kerajinan minatur kapal seperti kapal Pinisi Dewa Ruci tidak ada. Bisa dibilang Rianto menjadi satu- satunya pengrajin di Blitar.


Memiliki nilai seni tinggi membuat miniatur kapal Rianto diburu. Bahkan dikirim sampai ke Jerman dan hasilkan banyak uang. Rianto bisa membangun rumah sampai menguliahkan anak. Itu dikarenakan memang sukar jarang ditekuni.


Dia kagum melihat kemegahan kapal berjajar ditepi. Bertambah ketika Rianto berkunjung ke Nusa Tenggara. Dia kagum melihat kapal Pinisi berlabuh di dermaga. 

 

"Lalu saya berpikir nanti di rumah saya harus membuat kapal seperti itu. Kalau tidak bisa minimal miniaturnya," ujarnya kepada Jatimtimes.com. Dia mengenang waktu pertama kali, dirinya masih di rumah kecil lamanya dan harus mengalah ketika membuat miniatur.


Dia terpaksa membuat miniatur di depan rumah. Tetapi justru dilirik orang ingin membeli kapal buatan Rianto. Rumah kecil tersebut suatu ketika dikunjungi pria bule asal Jerman. Ia ingin oleh- oleh. Dan dia melihat bahwa Rianto mampu membuat miniatur Pinisi.


Katanya sih dia memiliki nenek moyang pembuat kapal tersebut. Dia lantas memesan 100 buah. Ini menjadi cikal usaha miniatur kapalnya berkembang. Berkat pesanan sampai ke Jerman membuatnya mampu membangun rumah.


Dia mampu membangun galeri. Rianto membeli mesin bubut kayu dan peralatan kerajinan. Menurut Rianto memang proses pembuatan miniatur kapal susah. Proses pembuatan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Sebab namanya miniatur harus sama dengan aslinya kan.


Miniatur lengkap dengan layar, tali- talinya, detail kapal, dan masin- mesinya harus persis asli. "Sulit buatnya terutama bagian layar. Bagian lainnya saya suruhkan pekerja saya tapi khusus layarnya saya yang buat," lanjut Rianto. Dan bila kualitas menurun tidak sempurna maka akan mengurangi pasaran.


Harga dipatok antara Rp.500- Rp.800.000 tergantung bahan. Bahkan dia menjualnya sampai Rp.5 juta dengan kedetailan kapal mirip asli. Rianto cukup menjualnya di rumah. Atau dia berjualan melalui sosial media. Kalau senggang ia tak segan menawarkan langsung produknya.

Wirausaha Muda Sukses Ekspor Telur Ikan Terbang

Profil Pengusaha Sahabuddin Beta

 
eksportelurikan.png
 
Berikut wirausaha muda sukses berbisnis ekspor telur ikan terbang. Tak banyak di Indonesia yang memasukan telur ikan sebagai bahan makanan. Apalagi telur ikan terbang memang tak gampang dicari sumbernya. 
 
Meski cara pengolahannya yang rumit dan tak biasa, seorang pemuda sukses melihat pangsa pasarnya. Namanya Sahabuddin Beta, pemuda asli Bontoa- Botonompo Selatan, Gowa Sulawesi ini, mengaku jika telur ikan terbang bisa dijual mahal. Khususnya jika kita berbicara tentang pasar luar negerinya.
 

Wirausaha Muda


Beta mengaku ini adalah bisnis warisan keluarga. Bisnis bernama Anugrah Laut fokus pada pelayanan jasa dan juga ekspor olahan laut. Salah satu andalannya, ya, telur ikan terbang ini, yang sudah dijualnya sampai ke luar negeri; Korea, Jepang, Taiwan dan Vietnam. 
 
Untuk dalam negeri sendiri Beta sukses menyalurkan telur ikan tebang ke Makassar dan Papua. Di Indonesia sendiri memang masih rendah tingkat konsumsinya. Penduduk setempat menyebutnya torani. Yang mana umumnya akan diolah menjadi sushi setelah sampai ke luar negeri.

Proses produksinya masih bermodalkan sumber daya alami. Dimana ia mengalurkan modal Rp.20 juta untuk melaut. Uang yang digunakan untuk disewakannya kapal laut. Alat penangkapannya lucu karena Beta cuma bermodal menaruh daun kelapa kering ke dasar laut. 
 
Ya, daun kelapa tersebut sudah dipersiapkan dulu, ikan terbang pada umumnya akan bertelur pada bulan April sampai bulan September. Jadi sudah bisa diprediksi dulu.


"Nanti ikan terbang akan bertelur lalu esoknya kita ambil, sekali melaut itu kita dapat 100 hingga 150 kilogram (kg) telur," tambahnya kepada wartawan Okezone.

Pria kelahiran 15 Juli 1993 tersebut, akan berangkat sendiri untuk mengambil telurnya di laut. Hasilnya ia bisa menangkap sekitar 100 sampai 150 kg telur. Pada musim bertelur itu, setiap nelayan bisa mendapatkan telur puluhan kilogram dengan berlayar selama dua- tiga hari. 
 
Omzet yang didapatkannya, Beta menyebut angka Rp.30 juta, yang mana sudah dipotong dengan sewa kapal tentunya. Inilah wirausaha muda sukses ekspor telur ikan terbang.

"Satu kali melaut itu untuk tiga minggu kedepan, semain banyak hasil tangkapan semakin menguntungkan," jelasnya.

Facebook: Anugrah Laut

Usaha Peternakan Susu Cipageran Wirausaha Muda

Profil Pengusaha Rina Rosdianawati

 

usahapeternakan.png
 

Menjadi wirausaha muda Rina Rosdianawati memilih susu. Usaha peternakan susu Cipageran mampu berdampak besar kepada masyarakat. Dia mampu menaikan pendapatan peternak. Ia membantu mengelola peternakan sapi perah dan produk turunannya.


Ia bergabung SMDWP (Sarjana Membangun Desa Wirausaha Pendamping), bersama Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan sejak 2014, sampai 2017 dia ditempatkan di kawasan Cimahi. Tetapi pada 2018, Rina memilih mundur dikarenakan ingin fokus mengurusi usaha dirintisnya.


Usaha Peternakan

 

Dia bersama kelompok peternak ingin memperbaiki kualitas harga. Ia prihatin akan harga susu di Cimahi, dimana peternak mendapatkan harga rendah, yakni Rp.4500 sampai Rp.4700. Harga segitu tidak akan menutupi kebutuhan harga pakan sapi.


Kondisi harga itulah membuat peternak semakin terpuruk. Namun Rina bertahan berharap akan bisa merubah keadaan. Ia menggagas berdirinya Kelompok Peternak Sapi Perah dan Kelompok Olahan Susu dalam satu wadah.


Lantas dia mendirikan Sentra Susu Cipageran berada di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.Upaya dia lakukan bertujuan meningkatkan motivasi warga. Ia ingin kembangkan gabungan usaha atau Gabungan Kelompok Peternak.


Pengolahan susunya dilakukan kebanyakan ibu- ibu di kelompok. "Ibu- ibu sangat antusias sehingga kegiatan ini menjadi salah satu cara dalam memperdayakan perempuan," ujar Rina.


Antusias ibu- ibu dimanfaatkan Rini mengembangkan produk. Banyak varian produk diantaranya susu pasteurisasi habis 70 cup perhari, yoghurt sebanyak 200 botol seminggu, permen karamel sebanyak 12 kilogram perminggu, dan kerupuk susu yang dijual berdasarkan pesanan.


Produk makin beragam jenis dan bertambah jumlah. Ini berkat semangat ibu- ibu dan kekompakan mereka. Ada produk pangan juga termasuk produk non- pangan berupa sabun. Produk  sabun terbukti mampu menghaluskan kulit yang dipasarkan Jakarta dan Lampung.

 

"Ini semua berkat semangat dan kekompakan  ibu- ibu semua," ujarnya riang. Produk olahan susu dari Cipageran memiliki ijin edar PIRT dan Sertifikat Halal.


Guna memperluas pasarnya Rina tengah mengajukan ijin edar MD dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Fungsi ijin edar MD untuk membuktikan kelegalan, serta kehiginiesan sehingga ia dapat memasarkan lebih jauh.


Sentra Susu Cipanegaran dipasarkan secara offline, yakni di Gerai Olahan yang berada di JL. Kolonel Masturi No. 2 Kota Cimahi. Rina dan peternak juga berjualan melalui online lewat sosial media. Dia mengirim keluar kota seperti Kabupaten Karawang, menjual 250- 300 liter perminggu.


Omzet mereka mampu hasilkan Rp.30 juta perbulan. Berkat pengembangan pemberdayaan kelompok pada 2015, Rina mendapatkan penghargaan Wirausaha Muda Baru dari Gubernur Jawa Barat. Rina dan kelompoknya mengatakan selama Pandemi penjualan stabil dan relatif banyak.


Walaupun warga tidak menjadikan sumber pendapatan utama. Mereka setidaknya mampu menaikan pendapatan. Ini memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat dan kesejahteraan peternak.

Jualan Jamur Growbox Rahasia Persahabatan Pengusaha

Profil Pengusaha Annies.Dkk

  
jualanjamur.png
 
Jualan jamur Growbox merupakan rahasia persahabatan. Growbox dirintis tidak cuma satu pengusaha melainkan berempat. Apa itu Growbox? adalah kotak untuk bercocok tanam. Kamu jangan bayangkan sebuah kota kayu berisi tanah dan didalamnya bisa ditanami. 
 
Khusus untuk Growbox, yang sudah dipatenkan, berisi aneka jenis jamur yang punya aneka warna unik. Tenang karena jamurnya aman kok buat dimakan. Sebuah inovasi khas anak muda yang ingin sesuatu yang beda.
 

Rahasia Persahabatan


Suatu tanaman hias yang unik dan tenang, ini aman jika termakan.

"Asesoris interior rumah tangga yang unik, hidup, dan sehat untuk dimakan," ungkap Annies kepada pewarta asal Indonesiacareercenter.com.

Usaha berbasis persahabatan yang sudah dimulai sejak bangku kuliah. Mereka total ada empat orang yang mengusung konsep kerja bersama. Dalam sebuah wadah bernama IDEAS Indonesia yang tak terbatas pada produk satu ini. 
 
Tapi secara keseluruhan menciptakan perpaduan antara desain, permesinan, seni, dan juga ilmu pengetahuan. Yang menarik ternyata mereka berempat bukanlah berasal dari pendidikan agri. Yap, Annisa sendiri sebagai wanita satu- satunya, merupakan mahasiswi ekonomi.

Sementara itu, ada Adi, Robby, dan Aldi, yang merupakan mahasiswa arsitektur. Mereka juga kesemuanya adalah mahasiswa ITB. Bersama- sama belajar tentang aneka jenis jamur dan cara menanam jamur secara mandiri. 
 
"Saya sendiri mendalami ilmu ekonomi, dan belajar soal jamur secara mandiri," ungkapnya. Dengan fasih lantas ia menjelaskan beda jamur beracun- tidak beracun kepada para pewarta. 

Disebuah rumah yang dirubah mereka jadi semacam workshop disanalah IDEA atau kepanjangan Innovation Design, Engineering, Art and Science.

Apa yang membuat mereka berbeda adalah kenyataan latar pendidikan mereka. Itupula yang jadi masalah menurut mereka dalam sebuah acara televisi. Mereka sempat dilarang menggarap Growbox loh. 
 
Katanya itu cuma buang- buang waktu, bukannya mengerjakan apa yang mereka pelajari, itulah yang dikatakan para orang tua mereka. Juga orang tua kita pada umumnya ketika mendengar kita mau jadi pengusaha. Tapi sama seperti pengusaha muda lainnya mereka memilih tetap berlanjut.

Ada anek jamur yang ditanam melalui media Growbox. Annies menjelaskan ada jamur tiram yang biasanya dijual di pasar atau swalayan. Adapula jenis jamur lain yang mana aman ditumbuhkan; seperti jamur tiram kuning, pink, biru, coklat, dan hitam. 
 
Warnanya yang mencolok menjadikan Growbox ini digemari sebagai produk hiasan. Denga media terencana ini, kamu bisa menumbuhkan jamur dalam waktu 2- 4 minggu, dan kamu bisa langsung makan.

"Kami sengaja menyarankan penggunaan air, agar proses tumbuh jamur ini murni dan bebas dari hormon," ungkapnya.

Awalnya, pada tahun 2012, empat bersahabat ini tengah menikmati liburan ke Yogyakarta. Mereka sedang merayakan kelulusan kuliah mereka. Annisa jadi pertama yang terpana akan berbagai macam jamur. 
 
Saat itu, di sebuah rumah makan, ada ornamen lucu terbuat dari jamur terpasang di dinding- dinding. "Kok lucu banget, ada media tanam jamur- jamur yang digantung di restoran," kenang Annisa. Waktu itu belum ada pembicaraan tentang berbisnis Growbox.

Meski belum ada pembicaraan mereka berempat sepakat dalam satu hal. Yaitu bagaimana agara mandiri selepas menyelesaikan pendidikan masing- masing. Selepas makan mereka lantas berkunjung ke sebuah taman.

Disana terjadi sebuah pembicaraan ringan antar calon arsitektur. Para calon- arsitek ini berbincang tentang sangat suburnya tanah Indonesia. Kemudian merembet ke bagaimana tanah bisa diolah agar memiliki nilai ekonomi tinggi; untung kalau dijual. 
 

Jualan Jamur Growbox

 
Indonesia tanahnya subur kok sayang jika dibangun rumah semuanya. Itu kirannya kesimpulan pembicaraan tersebut. Muncul pemikiran tentang pekerjaan petani. Dimana para petani itu dikenal lusuh, kotor, dan tidak bergengsi.

Siapa anak muda yang mau jadi petani? Itulah apa kesimpulan mereka dari pembicaraan tersebut. Mereka berpikir kuliah tinggi di Bandung, selepas kuliah, lantas jadi seorang petani. "Apa kata dunia, kalau nanti profesinya petani," pikir para arsitek muda.

Mereka lantas berpikir banyak dari makanan, laha, pertanian dan kolaborasi arsitektur. Annisa ikut nimbrung membahas bersama menghabiskan waktu berjam- jam. Lalu, terbersitlah kenangan Annisa terhadap hiasan- hiasan diata restoran tersebut. 
 
Empat bersekawan lantas setuju berkunjung ke sentra jamur tiram di kawasan Bandung. Kunjungan mereka bukanlah untuk berwisata. Mereka murni belajar tentang jamur, bagaimana teknik pembibitan, pembuatan media tanam, dan hal- hal lain.

Berempat sepakat membagi- bagi tugas selepas pulang dari sana. "Kami harus membuat prototipe sendiri- sendiri. Kebetulan rumah kami tersebar di Utara, Selatan, dan Timur yang berbeda kondisi iklimnya," tutur Annisa menjelaskan. 
 
Ia pun akhirnya tau kalau jamur juga seperi hewan. Mereka (jamur) butuh oksigen bukanlah karbondioksida. Mereka juga butuh sinar matahari tapi bukan matahari langsung. Beda kan dengan tanaman pada umumnya?

Hasil penelitian masing- masing dipertemukan dalam satu diskusi kembali. Pengalaman mereka menanam jamur sendiri dibincangkan kembali. Ini sebuah cara untuk mengenal sifat jamur. Lantas, mereka berpikir agar bagaimana citra petani berubah. 
 
Karena kini mereka lah yang akan jadi 'petaninya'. Di sinilah sumber pengalaman arsitektur tiga orang, Aldi, Adi, dan Robby mulai digunakan. Untungnya si Robby ini suka segala pekerjaan tukang.

Ia lantas mengambil bahan kardus sebagai pot bukan pot plastik. Dalam tempo singkat setelah beberapa kali disempurnakan jadilag Growbox. Sebuah kotak tanam dari kardus memiliki dua lubang dan tali dipinggirnya. 
 
Kemudian didalamnya diisi baglog dan ditambah sebuah tempat semprot spray. Awalnya sih, tidak ada satupun tempat untuk spray, maka sering tejadi kehilangan begitu jelasnya. Adanya alat tempat spray itu akan membuat konsep jadi ergonomis satu kesatuan.

Termasuk juga talinya agar bisa ditentang- tentang ke mana- mana. Semula talinya ditaruh di tengah, tapi karena tidak berfungsi baik, maka konsep tali ditengah tersebut dipindahkan. Lalu berkonsep dua lubang di sisi kana- kiri akan memberikan pengalaman bercocok tanam. 
 
Bisa ditaruh jika tidak lah perlu digantung- gantung lagi. Fungsi sisi lainnya ialah untuk bernafas si jamur sendiri atau mungkin bisa tumbuah dari sana. Konsep awal Growbox itu sangat sederhana. Kotak cuma dirancang, disablon, dan dipotong mereka sendiri secara manual. 
 
Ada 20 buah sebagai tahap awal untuk kemudian dimasukan ke sebuah pameran. Sebuah pameran bernama World Architecture Festival digunakan sebagai media promosi. Unik, membuat benda itu diminat di acara tersebut. 
 
Ada yang senang karena lucu, adapula yang tertarik dengan medinya yang terbuat dari kardus. Adapula yang suka karena si jamurnya sendiri. Mereka ada pula orang tua yang bepikir menjadikan ini sebagai tanaman rumahan. Ada pula kakek- nenek yang tengah mencari bagaiman berkebung yang simple. 
 
Berkat mengikuti banyak pameran sudah banyak penghargaan sekaligus uang modal mereka menangkan. Tapi yang paling penting adalah orang tua mereka yang mulai berpikir ulang. Pola pikir kolot mereka yang (mewajibkan) mereka berkarir sesuai bidangnya itu sudah ditinggalkan.

Belakangan, dalam perjalanan, mereka bahkan memenangkan sebuah lomba besar. Mereka menjadi salah satu dari 50 pengusaha yang mendapatkan hadiah puluhan juta. Hadiah yang dipersembahkan oleh Bank BNI ini, pada 31 Desember 2012, menjadi yang pertama mengakui konsep bisnis mereka.
 

Bisnis Pengusaha Muda

 
Bisnis IDEA pun semakin moncer dimana cuma dijalankan oleh 9 orang pemuda- pemudi dan juga para pekerja lepas. Yang mana mereka akan diperbantukan ketika ada pesanan khusus. Aldi bertindak sebagai sang CEO dan bertugas mengembangkan usaha. 
 
Sementara Annisa dibagian admin, keuangan, dan marketing. Robby lantas mengerjakan operasional. Adi kemudian dibagian mengerjakan dan mengelola desain dari semua umpan balik yang mereka terima. Kebanyakan usahanya fokus pada penjualan online dan melalui aneka pameran. 
 
Annisa sendiri menjamin keberlangsungan usaha. Pada awal penjualan bahkan, mereka harus kerepotan sendiri dan menolak berbagai pesanan online. Untuk pasar ekspor? Tak menampik gadis manis berkerudung ini melihat kemungkinan ke arah sana. 
 
Bahkan itu datang sendiri dalam bentuk penawaran ekspor. Namun, apa yang mereka kembangkan sekarang belum menjamin apakah mampu bertahan dalam perjalanan panjang. Belum lagi ada proses karantina Pabean yang cukup sulit di negara- negara tertentu. 
 
Meski begitu untuk penjualan perorangan ada pula. Dimana ada orang asing yang membeli dan dibawanya ke negara asal. Sekalipun ada distributor lokal tetap disarankan untuk tak menyimpan terlalu banyak. 
 
Annisa mengaku lebih kepada direct- selling atau penjualan langsung ke konsumen. Mereka khawatir akan distributor yang nanti memilih menyimpan terlalu banyak stok dan akhirnya cuma terbuang. 
 
"Kalau pembelian langsung, mereka kan tidak membeli untuk menyimpan, melainkan untuk mengalami proses melihat pertumbuhan jamur itu sendiri setiap hari," jelasnya.

Melihat pertumbuhan jamur disela- sela aktifitas memang mengasikan. Apalagi dengan jamur yang punya aneka warna cantik itu.

Prinsip sabar dalam entrepreneurship dipengga mereka empat sekawan. Semua pengeluaran diperhatikan sangat terutama untuk keperluan gaji pegawai. "Tidak ada orang sukses dalam semalam," ujarnya kembali, kebebasan waktu dalam entrepreneurship dimaknai berbeda, mereka memaknai itu berarti bebas bekerja sampai malam dan jauh dari kata santai.

Annisa sendiri awam soal akuntansi. Karena kamu tau ia adalah mahasiswi Ekonomi Pembangunan. Semua ia pelajari sambil jalan bersama ketiga temannya. Semua belajar dari artikel dan belajar sendiri dari buku- buku akuntansi. 
 
Konsep bisnis impian mereka bukanlah seperti kebanyakan pengusaha. Sisitem bernama close- group system business, dimana tidak cuma berorientasi pada penjualan. Dalam perjalanannya mereka juga aktif mengadakan acara dan juga mengedukasi.

Disela- sela kesibukan sebagai seorang CEO, Aldi, masih bisa menikmati sela- sela harinya dengan asik menonton film. Sedangkan Robby lebih suka aktifitas pertukangan, membuat sesuatu untuk menghasilkan satu karya, dan Adi memilih membidik lingkungan sekitarnya. 
 
Ia lebih asik menikmati lingkungan dari mata kamera kemana- mana. Sebagai sosok anak muda yang telah memiliki usaha senidiri, apakah nanti tak ada masalah? Ada, tapi, mereka memilih untuk mendiskusikan semuanya.

Meski Aldi sebagai CEO punya kemampuan mengambil keputusan. Namun jika nanti tiga orang lainnya tak setuju dan punya pendapatan logis dan bisa dipertanggung jawabkan; Aldi tak sungkan, tak sungkan untuk sepakat dengan tiga kawan lainnya. 
 
Bagi Annisa berbisnis di usia muda merupakan mimpi yang telah jadi kenyataan. Kepada rakan- rekan sekalian yang seumuran, untuk kita, ia menyarankan agara tak jadi sekedar 'iya- man' akan tetapi 'analisa- man'.

Website: www.halogrowbox.com
Instagram: @growboxbdg
Twitter: @growboxbdg
Facebook: facebook.com/growboxbdg

Pengusaha Sosial Tas Ramah Lingkungan bagGoes

Profil Pengusaha M. Bijaksana Junerosano

 
tasramahlingkungan.png
 
Pengusaha sosial tersebut bernama Mohamad Bijaksana Junerosano. Dia menjadi contoh anak muda seusianya. Meskipun itu mungkin terlihat sepele tapi ada yang dilakukannya bisa menjadi perubahan. 
 
Pemuda 32 tahun yang aktif menjadi sang CEO perusahaan dibidang daur ulang. Perusahaan bernama PT. Greenation Indonesia, Sano, begitu ia biasa dipanggil membuat produk bernama baGoes, sebuah merek tas ramah lingkungan. 
 
Dia juga menjalankan sebuah komunitas bisnis berbasis daur ulang bernama Waste4Change. Fokusnya pada mengolah bahan- bahan daur ulang. Juga termasuk mengedukasi masyarakat melalui sebuah organisasi sosial bernama sama Greenation Indonesia (GI). 
 

Pengusaha Sosial

 
 
Lulusan Institut Teknologi Bandung yang sangat meyakini bahwa campur tangan langsung itu penting. Contoh nyatanya ya melalui aneka kegiatan sosial juga memberi contoh tentang bisnis ramah lingkungan.

"Menjadi seorang aktivis tidak berarti Anda harus menjalani hidup hemat. Dengan nilai-nilai kewirausahaan dalam gerakan kami, kami secara finansial didukung melalui aktivisme kami dalam isu-isu sosial dan lingkungan, " kata Sano kepada The Jakarta Post.

Dalam penjelasannya tak perlu bergantung pada donasi untuk mengerjakan sosial. Idenya adalah mensuport aneka produk berbasis ramah lingkungan atau eco- friendly. Sebuah ide yang datang sejak 2008 -an ketika Sano meneliti masalah lingkungan. 
 
Kemudian dikonseplah sebuah organisasi sosial mendukung semua apa yang disebutnya sebagai gaya hidup. Menjalankan perusahaan sosial juga berarti menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Cuma dari sekedar membuat produk tas ramah lingkungan. 
 
Bayangkanlah dunia tanpa plastik pembungkus, yang berarti juga tidak ada sampah tak bisa didaur, bisa juga berarti mengurangi kemungkinan banjir. Memang terlihat sangat sepele tetapi lebih baik dari sekedar mengadakan kegiatan sosial semata. 
 
"GI didirikan sekitar 2006, tapi dasarnya masih terlalu biasa," tambahnya. Di tahun pertamanya, Sano cuma aktif menyampaikan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Justru setelah dirinya menikah keinginan level berbeda timbul. 
 
Tahun 2008 dirinya ingin membuat organisasi ini semakin independen termasuk soal keuangan. Itulah pula ide dibalik produksi tas eco- friendly bernama bagGoes. Ia menyebutkan ini merupakan bagian dari sebuah gerakan. Sebuah jawaban atas gerakan DietKresek, gerakan yang juga dipelopori GI.

Tas Ramah Lingkungan


Sayangnya, ide bagGoes ternyata membutuhkan modal, dibutuhkan cukup uang untuk memproduksi masal. Untuk itulah ia meminjam ke bank sebesar Rp.4 juta dan memasan dua perusahaan untuk mengerjakan tas tersebut. 
 
Ada sekitar 80 buah tas diproduksi oleh kedua perusahaan tersebut. Tidak lama kemudian, Sano mulai menjual tasnya di sebuah pameran di Universitas Indonesia. Semuanya dilakukan spontan tanpa ada pemikiran bagaiman marketingnya.

Tapi tak disangka usaha spontannya itu membuahkan hasil. Dia bersama beberapa kawan akhirnya berhasil menjuala habis tasnya. Dalam perjalanan waktu produk tasnya mulai lebih inovatif. Ini termasuk agar tas itu benar- benar ramah lingkungan jelasnya.

Berapa hasilnya dari berjualan sosial? baGoes menghasilkan Rp.280 juta pada 2009 saja, Rp.550 juta pada tahun 2010, Rp.1,1 miliar di 2011, Rp.1,8 miliar di 2012, dan akhirnya menyentuh angka Rp.2,4 miliar di tahun 2013.

Disisi lain, ketika bisnis mereka ini sukses, berkuranglah kebiasaan penggunaan tas plastik. Ini merupakan satu trobosan baik. Selanjutnya adalah Sano bersama kawan mengerjakan masalah lain. Masalah lingkungan yang perlu juga mendapatkan perhatian. 
 
Jadilah sebuah perusahaan bernama Waste4Change, sebuah bisnis fokus pada pengolahan sampah daur ulang. Tidak cuma itu dalam perjalanannya juag termasuk konsultasi, penelitian dan manajerial sampah.

GI harus menjadi agen perubahan gaya hidup masyarakat. Termasuk bagaimana mengolah sampah menjadi barang daur ulang. Ini akan membentuk pola pikir masyarakat Indonesia tentang lingkungan. Termasuk ikut membantu para agen lingkungan dengan bisnisnya. 
 
Termasuk mereka para pemulung dan pengepul barang- barang bekas. Sano menjelaskan semua pengalaman didapatnya dari tinggal di berbagai kawasan di Jawa Tengah.

Diantara umur tiga sampai lima tahun dirinya sudah berpindah- pindah. Khususnya di daerah Banyuwangi yang mana dirinya akan terus berpindah. Semua karena ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. 
 
Dimana pekerjaanya sesuai dengan penempatannya. Dia pernah merasakan hidup di sekitar masyarakat kampung, juga masyarakat perkotaan. Dengan begitu pula, dirinya bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai golongan.

Berbicara mengenai bisnis pada umumnya. Sano sudah terbiasa berbisnis sejak dibangku kuliah di Bandung. Aneka bisnis sudah dijalankannya berbekal kuliah di jurusan teknik sipil dan lingkungan.

"Awalnya saya belajar bagaimana cara berbisnis dengan menjual T-shirt kustom di universitas, dan beberapa bisnis jasa kecil lainnya," ujar Sano, yang ternyata kakeknya juga seorang pengusaha sukses. "Saya berpikir saya mendapatkan insting bisnis saya dari dia."

Semua idealisme itu datang ketika dirinya masuk ke ITB. Semua berkat sebuah acara televisi dimana dirinya melihat bagaimana isu lingkungan. Itu merupakan panggilannya. Satu tahun kemudian, sejak masuk ke ITB, ia mulai memikirkan bagaiman caranya.

Website: bagoes.co.id

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba