Pemilik Hotel Savanna Malang Erly Setiawati Tedja

Profil Pengusaha Erly Setiawati Tedja

 
pemilikhotel.png
 
Kisah pemilik Hotel Savanna Malang, Erly Setiawati Tedja. Munculnya forum- forum atau organisasi pengusaha muda bukan tanpa alasan. Membangun sebuah koneksi merupakan prinsip utama berbisnis, itulah mengapa Young Entrepreneur Society lahir. 
 
Forum YES, salah satu yang menarik yaitu komunitas Second Generation, yang disatukan oleh Bank BCA pada 21 Agustus 2013. Mereka merupakan putra- putri pemilik bisnis yang sukses meneruskan usahanya.
 

Pemilik Hotel Savanna Malang


Young Entrepreneur Society bertujuan agar wirausahawan muda di dalam satu wadah, yang mandiri dengan berlandaskan pertemanan.
 
Misi YES adalah sekolah entrepreneurship, mendorong sinergitas bisnis antar anggota komunitas, salain itu menjadi fasiliator antara pemilik modal dan pengusaha muda, lalu mendorong bisnis baru jangka panjang. Mungkin mereka menjadi penerus bisnis keluarga tapi bisnis tetaplah bisnis.

Second Generation bukanlah anak manja dalam berusaha. Mereka terbukti sukses menggarap ide baru dari bisnis yang dijalankan. Salah satu sosok yang telah menjadi sorotan kami, Erly Setiawati Tedja yang kini menjabat sebagai Direktur Hotel Savana.
 
Pengusaha wanita kelahiran 1983 ini merupakan salah satu orang yang punya andil dalam kesuksesan hotel yang terletak di Jalan Letnan Jenderal Sutoyo, Kota Malang tersebut.

Padahal usia hotel tersebut baru menginjak tiga tahun, Erly begitu dia disapa, merupakan generasi kedua memegang estafet bisnis sang ayah. Hotel Savana sendiri hotel bintang 4 yang berdiri megah di kawasan kota Malang.


Kamu yang orang malang pasti tau Savana Hotel and Convention. Direktur utamanya seorang perempuan cantik 30 tahun sukses membesarkan bisnis keluarga. Dulu sang ayah,Yudiavian Tedja, memilih menyulap sebuah mal menjadi hotel bernama Savana. 
 
Saat itu insting sang ayah melihat prospek kedepan di bisnis perhotelan. Tak mengherankan Yudiavian memang sudah lama malang melintang di bisnis bidang konstruksi, perhotelan dan perumahan.

Setelah berjalan usaha hotel Savana kemudian dijalankan oleh putrinya. Menerima tawaran itu Erly memang sempat ragu karena latar belakang pendidikan tak terkait dengan perhotelan. Maklum saat itu ia tengah menimba ilmu di University of California at Los Angeles. 
 
Tepatnya 2008, ia bekerja di sebuah bank asing di Jakarta. "Hal baru ini menjadi tantangan bagi saya untuk belajar, belajar dan belajar," ujar Erly saat dijumpai di hotel Savana di Jalan Letjen Sutoyo 32-34 Malang.

Dia kemudian telibat langsung dalam pembuatan konsep, pembangunan hotel, dekorasi, hingga marketing. Ia lakukan segalanya walau mungkin perhotelan bukanlah passion -nya. Seiring waktu ia pun mulai menikmati pekerjaan hotel, bahkan mulai mampu melihat potensinya. 
 
Erly sangat optimistis Hotel Savana akan menjadi salah satu penginapan favorit di Kota Malang.

"Sebenarnya kalau dibilang passion, passion saya mungkin bukan di sini, cuma kita sebagai generasi kedua kita harus bertanggung jawab untuk melanjutkan. Terjun ke hotel karena saya melihat ada kesempatan di bidang perhotelan, Malang sebagai kota pendidikan dan pariwisata," ungkapnya.

Bukan hanya karena fasilitas yang lengkap, tapi juga letak Hotel Savana yang strategis, letaknya di tengah kota Malang bisa diakses dari daerah manapun. Satu kelebihan lain Hotel Savana memiliki luas kamar yang rata-rata 38 meter persegi untuk tipe deluxe. 
 
Kini, ditangan Erly, hotel tersebut memiliki tingkat hunian 70% per- harinya sebuah angka besar untuk hotel bintang 4. Mayoritas tamunya adalah pelanggan korporat yang sekaligus ingin melakukan pertemuan bisnis.

"Saat ini kami sedang ekspansi untuk menambah kamar dan ruang meeting. Kami akan menambah 40 kamar dan 3 ruang meeting serta memperbesar haluan kita.Target hingga Desember 2014 nanti ada 160 kamar, 7 meeting room, dan convention hall," tambah Erly yang mempekerjakan 150 orang karyawan ini.

Berpikir positif


Erly selalu berpikir positif ujarnya ketika diwawancarai awak media. Dia selalu memegang prinsip bisnis yang positif terhadap bisnis sejenis. Ia lebih fokus mengembangkan potensi dan memajukan bisnis hotel. 
 
Prinsip sang ayah juga tak akan pernah dilupakannya yaitu untuk selalu bekerja dengan tekun, rajin, ulet, jujur dan tidak lupa berdoa kepada Tuhan. Prinsip tersebut ia kombinasikan dengan gaya kepemimpinan yang demokratis agar karyawan betah bekerja.

Ia pun sukses menambah jumlah kamar sebagai diektur Hotel Savana. Erly mampu menambah 160 kamar dari jumlah 116 kamar saat ini. Proyek pembangunan untuk menambah jumlah kamar ini, kata Erly baru selesai di akhir tahun. Erly kini aktif mengikuti forum YES yang didukung oleh Bank BCA. 
 
Merupakan satu wadah bagi pengusaha muda di kota Malang. YES sendiri merupakan wadah berkumpulnya pengusaha muda di Kota Malang. Tidak hanya itu, YES juga tempat sharing dan learning serta memperbanyak koneksi.

Bagi Erly, BCA berarti bagi bisnisnya. Dia mengaku menganal BCA sendiri sejak SD. 
 
"Fasilitas yang paling saya suka di BCA adalah Internet Banking. Sebab kita bisa melakukan transaksi tanpa keluar rumah, misalnya cari mesin ATM. Kita juga memakai EDC BCA karena lebih praktis, karena mayoritas customer menggunakan kartu BCA untuk pembayaran," tutupnya.

Menjadi Petani Muda Bisnis Miliran Muhammad Khudori

Profil Pengusaha Muhammad Khudori

 

pengusahakentang.png

Bisnis miliaran Muhammad Khudori justru diremehkan. Menjadi petani muda ternyata sekarang sangat menjanjikan. Tentu Khudori menerapkan teknologi hingga mempermudah. Jangan membayangkan petani susah payah menggarap sawah.


Bisnisnya menangkar kentang kemudian melakukan kemitraan. Dia mengajak lebih banyak orang menjadi petani. Berkat kegigihan usahanya menciptakan bibit kentang berkualitas. Perusahaan bernama PT. Horti Agro Makro (HAM), didirikan untuk mengerjakan usaha dari hulu sampai hilir.


Bisnis Petani


Adapun strategi usahanya: 

 

1. Aspek produksi: Tujuannya ketersediaan bahan baku berkualitas, kuantitas, dan kontinyuitas. 2. Aspek pasar: Mampu menyesuaikan akan permintaan pasar yang berkembang secara dinamis. 3. Aspek distribusi: Memperhitungkan aspek perkembangan pesaing atau produk subsitusinya.


4. Aspek teknologi: Mampu berkembang mengikuti perkembangan teknologi yang lebih efisien. 5. Aspek manajerial: Yaitu sumberdaya manusia yang mampu menjalankan aspek manajemen agrobisnis secara efesien. 6. Aspek sosial: Mempertimbangkan pendayagunaan masyarakat serta sarana transfer teknologi.

 

Khudori menambahkan HAM memiliki tujuan utama pengembangan industri benih, perkebunan (Inti), kemitraan perkebunan kentang (Plasma), dan pengolahan melalui pabrik kentang. Berdiri sejak 2010, fokusnya memberikan penyuluhan petani termasuk penyediaan bibit kentang.

 

Perusahaanya kemudian melisensi varietas kentang medians sejak 2013. Plantet kentang kemudian ia distribusikan ke Garut, Dieng, hingga Riau. Varietas Medians memiliki keunggulan warna cerah, mata tunas yang dangkal, dan tahan terhadap penyakit busuk daun.

 

Mata tunas dangkal membuatnya cocok dipakai industri keripik kentang. Sejak Februari 2019, usaha perusahaanya mampu menghasilkan 500 botol plantlet tiap hari. Khudori sering menjadi pembicara di berbagai sentra kentang di Sumatra, Jawa, Sulawesi, NTB, dan NTT.


Khudori juga masuk dalam perumus Pedoman Perbenihan Kentsast Direktorat Jendral Hortikultural dan tim perumus Standar Operasional Perbenihan Kentang Dirjen Hortikultural. Khudori juga ikut mengajak anak muda milenial buat menjadi petani muda.


"Semuanya berjumlah 200an orang anak-anak muda yang saya bina, dan meraka akan menjadi petani pengusaha milenial" terang Khudori.

Kisah Wirausaha Cireng Kamsia Pengusaha Fadly

Profil Pengusaha Fadly Alfiansyah 

 
 
cirengkamsia.png
 
Pengusaha Fadly tengah merasakan fenoman cireng. Kisah wirausaha asal Bandung, Jawa Barat, yang dapat kita contoh. Pengusaha muda bernama Fadly Alfiansyah, sosok dibalik makanan cireng Kamsia itu. 
 
Produk terkenal yang digandrungi masyarakat. Usahanya dimulai dengan menerima pesanan dari tetangga dan saudara. Lalu bermodal 3 juta membuka booth di depan minimarket pada Desember 2011. Ia saat itu tanpa pikir panjang langsung berbisnis.

Pengusaha Muda

 
Dalam pikirannya adalah bisnis kuliner khas Bandung yang sedang naik daun. Mulai dari pasaran lingkungan sekitar Fadly melebarkan sayap. Jajanan berbahan aci dicampur tepung terigu itu dibuatnya sendiri. 
 
Awalnya karena semakin banyak permintaan maka jadilah ia yakin pada produknya. Secara tak sadar wirausahawan pemula ini telah membangun produknya sendiri. Meski saat itu ia mengaku belum membuat variasi; cuma cireng biasa ungkapnya.

Setelah itu rasanya bekembang jadi 8 aneka rasa: yaitu rasa bakso, sosis, ayam, sapi pedas, keju bahkan rasa oncom. Kesemuanya dimasukan dalam satu bendera rasa Cireng Kamsia. Kala itu Fadly mengaku bisa menjual 150 buah senilai Rp.150.000 per- hari. 
 
Pada awalnya, dia mengaku hanya fokus berjualan saja tanpa embel- embel franchise. Hingga 2012, tercatat ia telah memiliki 6 booth yang tersebar di beberapa titik di kota Bandung. Wirausahawan pemula ini sukses mengantongi omzet 7- 8 juta per- bulan.

Barulah September 2012, ia memanfaatkan sistem delivery order, dimana ia membekukan cirengnya untuk dijual. Dengan hal tersebut pasaran 6 cabangnya semakin luas. Meski tidak menggunakan sistem franchise talenta bisnisnya sudah mengaggumkan. 
 
Cireng Kamsia sejak itu berjualan bentuk frozen atau beku, yang mana dijual secara mentahan. Bisnisnya semakin besar dimana omzetnya semakin besar pula. Tapi ternyata besar omzet tak membuat selamanya bisnis ini menguntungkan. 
 
Meski sudah punya cabang atau booth sendiri, Fadly saat itu tak mampu mengawasi jalannya cabang meski SOP untuk produk sudah dijalankan. Namanya berbisnis auto atau kamu cukup mempekerjakan orang kesulitan itu pasti ada. 
 
Dia mengaku kurang paham bagaimana mengelola di manajemen penjualannya, bukan produknya itu. Tak cuma berjualan cireng matang tapi juga cireng beku. Fadly mulai mencari- cari bagaimana menjual yang baik. Nah, dimulailah ia menggunakan sistem reseller pada produk Cireng Kamsia. 
 
Awal 2013, ia merelakan jumlah booth berkurang agar bisa lebih ekonomis. Entah sudah berapa saat itu booth dimilikinya, namun, Fadly nekat mengurangi dan akhirnya sistem berjualan bercabang dihentikan. Total Fadly mencoba sistem dagang berbeda yaitu sistem reseller.

Setiap bungkus dibuatnya berisi lima potong. Visinya kala itu menjadikan cireng kudapan disenangi hingga jadi ikon Kota Bandung. Bahkan kalau bisa go internasional ujarnya kala itu pada sebuah artikel di situs Bisnis.com. 
 
Cireng Kamsia beku dijualnya melalui sistem reseller dan saat itu total ada 5 orang reseller yang siap menjualkan. Melalui sistem ini Fadly berharap cukup fokus menjual saja, dimana ia tak perlu fokus pada cireng yang matang. Jual mentahan saja pikirnya kala itu bersama Cireng Kamsianya.

"Saya ingin cireng dapat menjadi makanan yang keren dan tidak diremehkan karena dimakan oleh seluruh masyarakat di berbagai kota dan negara. Sistem reseller dapat menjadi salah satu caranya," ujarnya.

April 2013, sosoknya diperhitungkan sebagai seorang wirausahawan sukses, dan akhirnya ia bisa menjadi salah satu UKM yang bisa ikut pameran. Di Mirza, sebuah pameran bertema makanan halal dikerjakannya untuk menambah sukses. 
 
Pameran yang diselenggarakan pemerintah Jawa Barat tersebut banyak memberi dia ilmu. Bukti terbaru meyakinkannya bahwa Cireng Kamsia digemari setiap orang. Pada saat itu ia sudah lah punya produk beku yang terbungkus standar internasional.

Semuanya itu ludes diborong oleh mereka yang datang. Barang contoh itu menjadi pembukan untuk aneka pesanan sampai 100 pack per- harinya. Memanfaatkan jaringan reseller yang telah membengkak sampai ke penjuru Indonesia. 
 

Bisnis Semua Umur

 
Pada saat itu ternyata cumalah sukses sementara karena Fadly membidik konsumen di segala usia. Ternyata saat itu pembelian produk sejenis miliknya didominasi umur 25- 35 tahun. Hasilnya ia akhirnya kehilangan 50% pendapatan.

Dalam pemikiran kami, kemungkinan reseller Fadly saat itu, ialah mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Jadilah mereka tidak bisa menjual produk- produknya untuk teman- temannya sendiri. Tak begitu populer dikalangan anak sekolah ternyata justru menjadi kelemahan. 
 
Mungkin karena produk cireng beku yang tak bisa langsung makan. Dengan tekat masih membara membawanya tetap bertahan berbisnis. Ketika Cireng Kamsia mendapatkan penghargaan dari Pangan Award Kementrian Perdagangan sebagai produk inovasi pada pasar makanan ringan. 
 
Saat itu pula lah kepercayaan akan produk Cireng Kamsia kembali. Secara tak langsung ia telah membranding produknya kembali. Tak mau terhanyut seiring perjalanan kebangkitan Fadly mulai merencana target pasarnya.

Proses penjualan akhirnya merambah sistem online. Fokusnya disempitkan di kawasan Bandung dulu. Ia menyebut strategi bisnisnya ialah membangun brandnya di kawasan lokal. Menjadikan Cireng Kamsia jadi cemilah wajib bagi mereka orang Bandung. 
 
Setiap harinya Fadly bisa memproduksi 300 pack dari ukuran 30kg- 40kg aci dimana total karyawannya ada 14 orang. Dari berbisnis cireng siap makan, Fadly total fokus pada cireng goreng yang mentah atau beku.

Merambah produk lain, kemudian ada produk lain selain cireng goreng atau Cireng Krauk, yaitu cireng yang dimasak dengan kuah. Memang terdengar aneh tapi memang itulah kenyataanya. Caranya ialah cireng beku plus bumbu terpisaha. Jadi secara rasanya sudah ia sesuaika dulu resepnya. 
 
Reseller total telah berkembang jadi 20 reseller di Bandung, lalu ada 15 agen yang mana juga punya reseller dibawahnya. Jika reseller di Bandung ia bawahi sendiri. Di kota lain, kelima belas agen tersebut lah pemimpinnya.

Mereka akan sibuk mengambil stok untuk diedarkan ke reseller. Setidaknya para agen akan mengambil 60 pack langsung tiap harinya. Sedari awal ia mengaku menjual cireng bekunya seharga 20.000 mungkin jika dilihat harga berbeda dengan cireng lain. 
 
Mungkin memang tidak difokuskan untuk semua orang tapi Fadly tak gentar. Dia tetap menjual seharga itu meski mungkin cireng lain lebih murah. Ia pun mencoba memilih untuk mencari- cari pasa menengah atas.

Caranya ialah ia masuk ke pasar swalayan atau pasar ritel modern. "Meskipun saya memiliki reseller dan agen, tetapi ujung tombak bisnis ini adalah pasar ritel moderen atau pengembangan brand image agar lebih mudah sampai ke tangan konsumen atau pasar," jelasnya.
 
"Reseller dan agen adalah jaringan yang membantu penyampaian informasi." ujarnya penuh percaya diri.


Website resmi: www.cirengkamsia.com

Bisnis Tour and Travel Online Pengusaha Jacktour

Profil Pengusaha Jack Fabrian


 
jacktour.png
 
Pengusaha Jacktour bukanlah sembarang wirausaha. Bisnis tour and travel online bukan sembarang. Walau namanya tidak begitu digaung di Bandung dan Jakarta. Sang pengusaha merupakan pakar dalam optimisasi layanan Google dan Yahoo.


Jack Fabrian, adalah seorang pengusaha, juga penulis, dan marketer online, dimana bisnis utamanya dibidang tour and travel. Meski nama usahanya tak begitu bergaung di kawasannya beroperasi. Namun, jika kita membaca sekilas apa sih Jacktour bisnisnya tetapi salah.
 
Bisnisnya maju berbekal segudang ilmu digital marketing. Pria 40 tahun yang memang barulah mengepakan sayapnya di bisnis tour and travel. Dia terlebih dulu aktif di online, penulis buku yang berjudul Google and Yahoo Secret.
 

Gabungkan Bisnis Online Offline


Bisnisnya baru sajalah masuk ke berbagai hotel, restoran, factory outlet, serta beberapa tempat wisata. 97% pelangganya merupakan wisata asing yang berkunjung ke Bandung atau Jakarta. Meraup pangsa pasar asing yang akan berkunjung ke Indonesia nampaknya tak mudah. 
 
Itulah kiranya yang dirasakan Fabrian. Dia pun tak segan menggunakan kemampuanya dalam internet marketing. Melalui sebuah situs www.jacktour.com, ia mencoba memburu pasar asing melalui media internet.

Baik sistem SEO optimal disuguhkan melalui halaman situsnya. Tak lupa ia juga menyuguhkan form reservasi disana. Ini sangat mencerminkan akan latar belakangnya di dunia IT. Telah 7 tahun malang- melintang di bisnis ini, bisnis travel dan tour, membuatnya percaya diri. 
 
Alhasil ia mampu membukukan 1000 kamar tiap bulannya. Bahkan dia menyebut bisa mencapai 300 kamar hotelnya seperti dilansir dari Malajalah Pengusaha Muslim. Dimana mereka kebanyakan berasal dari negara Malaysia dan Singapura.

Tak hanya sampai disitu, Jacktour sukses merambah pasar wisatawan Australia, Eropa, Jepang, dan lain- lain. "Kata orang Jacktour termasuk yang disegani di Bandung," imbuhnya. Untuk lokal sendiri mungkin nama Jacktour kala pamor, tapi pasar wisatawan asing, Jacktour pandai mencari celah. 
 
Tak perlu beriklan di media cetak ternama. Selain itu fakta pengalaman si empunya tidak diragukan lagi. Fabrian mampu bekerja sama dengan berbagai hotel, FO, restoran dan berbagai destinasi wisata. Dia lantas menyebut ada 78 hotel telah bekerja sama dengannya. 
 
Rasianya ialah komitmen Jacktour dalam memberikan pelayanan, ungkapnya saat ditemui di kantornya, di Jalan Bukit Dago No.53B, Bandung.

 Bisnis Jacktour


Paket yang ditawarkan pengusaha Jacktour bermacam. Secara spesifik ada 4 macam ia ungkapkan yaitu, dari situsnya, ada sewa mobil, sewa bus, pesan hotel, serta paket wisata. Paketnya, biasanya sudah tersusun dalam satu paket wisata. 
 
Ketika kamu mengunjungi laman situsnya. Ketika mengklik menu car rental (sewa mobil) maka akan muncul pilhan lain: economy, deluxe, superior, dan KIA Pregio. Selanjutnya kamu akan mengisi form yang berisi data waktu penjemputan, mulai dari tanggal, bulan, dan tahun, serta pukul berapa.

Belum lah selesai. Pada menu bawahnya lagi ada format lokasi penjemputan, dan berapa lama kamu akan berwisata di lokasi pengantaran. Setelah itu nanti ada tombol cek harga (check rate) dimana akan muncul menu transportasi reservasi. 
 
Dibawahnya lagi masih ada pilihan: transportasi semua paket serta mobil plus sopir. Setelah itu barulah pengisian data diri si pemesan.

Selanjutnya pemasan akan mendapatkan kode reservasi. Untuk pembayaran bisa melalui transfer bank. Dia menjelaskan semuanya sudah tercatat dalam sistem terintegrasi. Sistem komputer ini disebutnya akan mampu menghemat biaya telephon dan kertas. 
 
Fabrian juga menyarankan pemasan agar tidak berkomunikasi lewat telephon kecuali pelanggan baru. Inti dari sistem online yaitu menggunakan koder reservasi jelasnya. Bagi penulisa buku- buku IT ini memang perkara biasa memanfaatkan teknologi. 
 
Pelayanan milik Jacktour ini dianggap bagian terpenting di bisnis travel dan tour di asalnya. Di Bandung, dengan cara ini, bisnis travel dan tour bisa mengalahkan bisnis transportasi umum. Salah satu andalan Jacktour ialah mereka akan melayani dengan rasa kekeluargaan ketika pelanggan tiba. 
 
Di Jacktour, sopir akan menyapa ramah, dan tak jarang sopir akan memberikan permen untuk anak pelanggan yang merengek.

Atau, bahkan ada kejutan dadakan untuk kliennya, semua dilakukan spontan pada waktu- waktu khusus. Bahkan ketika klien merasa tak enak badan, pihak Jacktour akan tanggap.

"Saya menganggap customer adalah saudara kami yang ada disini. Bagi kami bisnis hanya sampai pukul 9 malam. Setelah itu kalau ada klien sakit kita antar ke rumah sakit. Kita layani secara gratis. Kasihan mereka disini tidak punya sanak sudara," jelas Fabrian.

Inilah mengapa Jacktour menjadi terkenal. Bukan melalui iklan, tapi pelayananlah, majalah- majalah besar seperti majalah Cleo, Cosmopolitan, Majalah Department Pariwisata Malaysia, menulis tentang Jacktour; ini sebuah cara ampuh marketing. 
 
Fabrian yang pernah mencicipi jabatan penting lembaga dunia seperti WorldBank, USAID dan JICA-Jepang, mampu mengkomunikasikan dirinya sebagai bagian keluarga dari mereka.

Jangan khawatir soal barang mewah tertinggal di mobil. Fabrian menjamin semuanya akan dikembalikan utuh ke pelanggan. Kisah menarik pun terlontar darinya, ketika itu ada wisatawan asing yang ketinggalan kamera digital. 
 
Ternyata orang asing ini menuliskan nomor Indonesia tapi tak bisa dihubungi. Satu tahun kemudian, ia kemudian kembali menggunakan jasa Jacktour. Betapa terkejutnya ketika wisatawan asing itu tiba- tiba disodori kemera miliknya dulu. Dan tau kah, kamera itu telah dibungkus rapih.

Rasa aman itu tidak hanya milik mereka para pelanggan. Mitra kerja jacktour juga merasakannya. Dia lalu berkisah tiga tahun lalu ada pelanggan setia Jacktour yang memesan dua bus ke Cengkareng. Pelanggan itu juga memasan beberapa kamar di hotel High Season di Bandung. 
 
Semuanya itu telah dibayar pembayaran awal 5 juta. Suatu malam pelanggan tiba- tiba membatalkan pesanan karena penerbangan ditunda. Jacktour sigap menarik kembali bus yang nongkrong di Cengkareng.

Sedangkan untuk hotel Febrian langsung mengakalinya. Dia mengajak karyawan dan keluarganya untuk ke hotel yang telah dipesan tersebut. Sisanya digunakan beberapa rekanan Jacktour. Meski rugi Jack Fabrian tetap berprinsip agar selalu amanah. 
 
Amanah inilah sumber insipirasi dirinya ketika pulang dari berhaji dan mendirikan Jacktour. Meski dikenal memiliki jabatan tinggi, ia memilih menekuni bisnis, dan ketika usahanya itu telah berjalan tetap amanah pada apa yang diyakininya, menjadi pengusaha.

Facebook: www.facebook.com/inijack

Mendirikan Tempat Kursus di Luar Negeri Bisnis

Profil Pengusaha M. Yusuf Donda

 

kursusluarnegeri.png
 

Bisnis M. Yusuf Donda bermula memulai karir menjadi pengajar. Ia mendirikan tempat kursus di luar negeri. Bisnisnya bermula ketika ia akan mengajar atas undangan sekolah di Vietnam. Berjalannya waktu, ia menyadari bahwa butuh pendidikan bahasa berbeda.


Lebih ke mengembangkan communication skill. Dia mengajak sahabatnya asal Indonesia. Mereka lalu mendirikan mydonda.com, situs belajar bahasa Inggris berbentuk podcast. Pada 2010, lebih dalamnya dia mendirikan MEA Vietnam atau Mydonda English Academy.

 

Bisnis Pengusaha Muda


Ia memfokuskan kepada bahasa Inggris untuk mahasiswa dan profesional. Metode pembelajaran melalui kelas berisi 6 orang, dan bebas menentukan pengembangan diri (soft skill) berdasarkan minat dan bidang mereka.


Ketatnya kursus bahasa Inggris tidak membuatnya takut. Lewat MEA Podcast memberikan pelatihan via online. Kursus bahasa Inggris virtual tersebut telah melewati lima tahun. Yusuf sudah memiliki dari 1 menjadi 10 staf pengajar, terdiri dari 4 staf asli Indonesia  yang mengajar 200 siswa.


MEA Vietnam miliknya telah membantu banyak orang Vietnam. Bayangkan 2000 orang alumni telah bekerja di perusahaan internasional. Dia juga mengirim siswanya melakukan program homestay ke Indonesia. MEA Vietnam kemudian membuka cabangnya di Indonesia melalui MEA Indonesia.


MEA Indonesia dapat dilihat melalui website MEAIndonesia.com. Harapannya membawa kesuksesan di Vietnam ke Indonesia. Dia ingin ikut serta memajukan industri kursus di Indonesia. Sekolahnya terletak di kawasan 34 Bis Tran Khanh Du, P Tan Dinh District 1, Ho Chi Minh City.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba