Pengusaha Ina Cookies Biografi Ina Wiyandini

Biografi Pengusaha Ina Wiyandini

 

inacookies.png
 
Pengusaha Ina Cookies bukan usaha musiman.  Biografi Ina Wiyandini, wanita berhijab asal Bojong Koneng Atas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini, memang dikenal akan sifatnya yang ramah. Senang berbagi kisah suksesnya kepada orang banyak. 
 
Ditemui di rumahnya, Hj. Rr. Ina Wiyandini, bersemangat ketika menemui rombongan asal Malaysia di tempat usahanya. Segala pengalaman dia beberkan tanpa ditutupi.

Mulai begaimana wanita ini memulai bisnis dari angka nol. Sempai pada kiat menghadapi persoalan bisnis. Dia adalah pemilik kue kering Ina Cookies. Sebuah perusahaan kue keringa terkenal. Pengusaha wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963, sudahlah mendapatkan banyak penghargaan.
 

Bisnis Musiman

 
Pada tahun 1992, Ina sudahlah memulai kerajaan bisnisnya dengan Ina Cookies. Pengalaman jatuh bangun bisnis telah dilaluinya, dari usaha berjualan jahe gajah, usaha perkebunan vanili, hingga jual beli rumah.

Namun, pada bisnis kulinerlah, usahanya kini berkembang dan bercabang tidak hanya di bisnis kue kering. Ia memang memiliki banyak energi tak terbatas untuk berbisnis. Layaknya pengusaha lain, ia selalu berinovasi dengan bisnis miliknya. 
 
Ina mampu menciptakan produk dari tahu, tempe, rosella, green tea, jamur, tepung ubi, singkong, tapung ganyong, dan tepung pisang. Kesemuanya dapat diolahnya jadi aneka kue kering. Menakjubkan.

Ina mampu mengkreasikan olahan murah meriah jadi kaya rasa. Semuanya Ina lakukan guna membantu para petani. Usahanya berbasis bahan pertanian lokal. Dia menyebut bahwasanya bangsa Indonesia itu punya masalah. 
 
Masalahnya ialah pada bahan pangan, dimana para petani selalu mengeluh. Suatu hari Ina ketika jadi pembicara di sebuah seminar, ada seorang ibu petani datang. Ia lantas mengeluh kepada Ina tentang harga tepung ubi singkong. Ia lantas membantunya membuat produk kue enak.

Eh, ternyata kue itu laris- manis hingga banyak ibu tani berdatangan. Dari pristiwa diatas produk kue Ina menjadi semacam problem solving. Tak hanya mengambil untung, Ina tetap foku bagaimana agar produk lokal berjaya. Khususnya apa yang dihasilkan para petani. 
 
Oleh karena Kepedulian itulah ia mendapatkan penghargaan dari Menteri Perdagangan RI saat itu. Ibu Menteri Mari Elka Pangestu lantas memberinya penghargaan Pangan Award 2010. Ina dianggap mengembalikan kejayaan para petani melalui aneka kue kering buatannya.

Tangan Ina yang mampu mengolah anek kue kering. Dari usahanya tersebut mampu memberikan optimis para petani. Produk olahan yang berkualitas miliknya menghasilkan nilai ekonomis tinggi. 
 
Selain itu, ia juga tercatat mendapatkan penghargaan Best Women Entrepreneur 2008 dari Ikatan Pembauran dan Pengusaha Indonesia (IPPI) yang diberikan langsung oleh istri Wakil Presiden Indonesia saat itu, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, dihadapan ribuan pengusaha lain.

Penghargaan diatas ditujukan bagi pengusaha yang sudah berbisnis lebih dari 10 tahun. Usahanya itu haruslah dimulai dari nol, memiliki lebih dari 100 karyawan, kreatif dan berinovasi tinggi, memiliki kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat baik. 
 
Serta barulah sering menjadi pembicara di berbagai seminar. Itu semuanya ada pada sosok Ina Wiyandini. "Wah saya waktu itu tidak percaya. Perasaan saya kan biasa-biasa saja," Ina benar- benar tak percaya.

Penghargaan lainnya pun menyusul pengusaha wanita ini. Seperti salah satunya penghargaan dari MarkPluc. Inc, Herman Kartajaya, dengan Marketers Women 2010. Tiga penghargaan itu pun ternyata masih tidaklah cukup. 
 
Ada penghargaan lain seperti penghargaan Pretty Women dari ASTRA Internasional, Dewi Sartika Muda 2009, Pengusaha Kreatif IWAPI 2009, Perempuan Pengusaha Berprestasi IWAPI 2009, IWAPI Wanita Pemgusaha Kreatif 2010 dan lain- lain.

Dia pernah bangkrut saat mengelola perkebunan jahe gajah. Ina juga pernah bangkrut usaha manisan jahe yang sempat diekspor hingga Jepang. Pengusaha wanita ini menyebut usaha kue kering bukanlah jadi cita- citanya. Bahkan menjadi pengusaha bukanlah cita- citanya, apapun bisnisnya. 
 
Dia memilih menjadi dokter sebagaimana ayahnya sebagai cita- citanya. Tapi, ternyata takdir berkata lain, dia memilih jadi pegawai lalu menjadi pengusaha.

Pengusaha Ina Cookies


Lulus dari Jurusan Bahasa Jepang di Akademi Bahasa Asing, Ina muda diterima menjadi sekertaris bagian penjualan Astra di Bandung. Disinilah mungkin pemahaman akan marketing itu tumbuh. Bertahan cuma dua tahun, Ina meninggalkan Astra untuk menikah. 
 
Dia menikah dengan Rakhmat Basuki, pria yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan ditugaskan ke Aceh Tenggara. Suatu ketika, di tahun 1989, suaminya pensiun dini dari Dinas PU dan memboyongnya ke Cirebon. 
 
Mereka lalu bersama membuka bisnis perkebunan jahe gajah.Idenya datang dari kakak ipar Ina sendiri. Awalnya, ia sukses ekspor hingga Jepang, dan memiliki 500 orang pegawai. Sayangnya, batu sandungan besar menghadang langkah bisnis jahenya. 
 
Yaitu ketika adanya pristiwa panen raya di Thailand dimana harga jahenya jatuh murah. Putri dari pasangan Wiyono Kartodirekso (almarhum) dan Toeti Ferliani akhirnya bangkrut.

Seperti sudah diduga, pembeli asal Jepang itu lebih memilih impor jahe dari Negeri Gajah Putih tersebut. Padahal, ia lantas menjelaskan lagi, perkebunannya sudah menanamkan modal 14 hektar kebun jahe di kawasan Plumbon. Dia memang belum lama berbisnis ekspor. 
 
Semua modal telah dipertaruhkan di bisnis perkebunan jahe, yang kemudian tak laku. Ironisnya disaat yang sama Ina harus melahirkan anak kedua. Bahkan untuk persalinan saja tidak ada uang lagi.

Pertolongan Tuhan datang ketika suaminya diterima kerja di IPTN. Sementara itu Ina belajar membuat lima kue kering yang laku di pasaran. Yaitu kue putri salju, nastar, sagu, cokelat mede, dan corn flake. Sembari mempelajarinya, ia mencoba memasarkan kuenya dari pintu ke pintu. 
 
Dia mulai menjualnya ke para tetangga, teman arisan dan pengajian. Waktu itu ia masih menjualkan kue- kue milik kakaknya karena dia belum bisa membuat kue sendiri. Kue buatan kakaknya yang seharga Rp.25.000 dijualnya Rp.35.000/toples. 
 
Hasilnya lumayan dimana setiap hari setidaknya laku enam toples. Kala itu Ina belum membuat kue sendiri. Meski sering mendapat cemooh seorang eksportir jahe sekarang berjualan kue kering, Ina tetap berlalu. 
 
Baginya, usaha dari keringatnya sendiri itu sangatlah menyenangkan meski untungnya kecil. Dia pun disarankan sang kakak ipar mulai memproduksi kue sendiri. Semuanya agar margin untungnya lebih besar. Benar saja, dengan menjual produk sendiri, hasil keuntungan Ina bisa separuh harga jual.

Bisnis rumahan


Ina yang menuruti saran kakanya mulai membuat aneka kue kering. Dimulai dari membuat enam toples kue per- harinya. Respon pasar ternyata baik, Ina bahkan bisa merekrut lima orang karyawan. Perkembangan usahanya terus lah meningkat. 
 
Hingga, Ina memiliki total 50 orang pegawai dimana pasarnya kelas menengah atas. Bisnis kue kering yang sudah dimulai sejak 1992 mampu menjual kue biasa seharga Rp.15.000 jadi Rp.25.000.

Semua berkat branding dan kualitas kue kering yang terjaga. Sistem pembelian menggunakan sistem beli- putus. Maksudnya agar pembeli setelah membeli selesai tak ada kue kembali. Ia beralasan karena untungnya pun sedikit. 
 
Tapi dari sini, karena kue buatannya enak, kue itu jutru diburu ulang untuk dinikmati. Bahkan mulai menyebar dari mulut ke mulut. Kuenya terjuang hingga ke luar Cirebon, seperti Tasikmalaya.

Wanita yang sudah hobi memasak sejak SD ini semakin dicari oleh para penikmat kue. Semuanya cuma melalui promosi dari mulut ke mulut. Setelah pindah ke Bandung, Ina semakin bertekat agar bisnisnya semakin besar. 
 
Tahun 1994, bisnis kuenya dilanjutkan dengan memboyong tiga karyawan inti dari Cirebon. Sang suami lantas memilih keluar dari IPTN dimana pesangonnya digunakan untuk modal Ina. Semuanya sudah dipikirkan matang- matang oleh anak kedua dari lima bersaudara ini.

Hasilnya, ternyata diluar dugaan, bisnis rumahannya berkembang sangat pesat bahkan menambah 100 orang karyawan. Tahun 1994, total karyawannya mencapai 500 orang dimana 150 karyawan inti. 
 
Maksudnya dari 150 orang, sisanya diperuntukan jika ada order yang tak bisa ditangani sendiri. Kebanyakan karyawan didatangkan dari kampunya dimana sisanya dari warga sekitar. Pesanan kue terbanyak jika menyambut momen tertentu.

Tapi jangan salah sangka, dihari biasa juga banyak permintaan. Khusus dihari Lebaran, Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine’s Day, produksi kue keringnya bisa mencapai 21 ribu lusin per hari. Padahal menurutnya di hari biasa cuma kurang lebih lima lusin (sekitar 20 resep). 
 
Sebagai wujud syukurnya maka Ina pun memberangkatkan umroh karyawan terbaiknya. Ada empat faktor yang menjadikan kue keringnya laku keras disegala musim.

Ina menjelaskan empat faktor itu: pertama, kehalalan produknya. Kedua, adanya kualitas bahan dengan standarisasi. Ketiga, bagaimana penyimpanan. Kue dipastikan tetap terjaga kualitasnya saat penyimpanan. 
 
Keempat, harus jeli pada apa yang ada di sekitar kita. Nah, yang keempat inilah yang jadi faktor utama. Ina Cookies selalu punya inovasi dalam resep kuenya. Dia bercerita jika di satu daerah ada produk terkenal bisa dibuatkan kue keringnya.

Misalnya, ada daerah yang dikenal dengan  peuyeum (tape singkong), akhirnya dia pun membuat kue dari peuyeum. Dengan cara begini, Ina Cookies bisa mengumpulkan 114 macam kue. Ini sesuai dengan slogan perusahaan kecilnya "The Most Creative Cookies". 
 
Bagaimana bisa sebanyak itu resep Ina Cookies. Kami menyadari ialah sang pemilik selalu belajar dan berkreasi. Ia pernah bercerita mendapatkan kesempatan menimba ilmu gratis ke berbagai negara. Pengalaman itu digunakannya untuk belajar bikin kue.

Sebuah brand keju langganan lah yang mendorongnya. Dia bisa studi gratis dari Taiwan, Filipina, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dalam segi kemasan, Ina Cookies juga mengandalkan keunika. Selain rasa sudah ditanggung sedap, bisnis rumahan ini menggunakan aneka kemasan tidak umum. 
 
Ada kemasan daur ulang yang terbuat dari kemasan daur ulang mie instan, bungkus kopi dirajut, atau plastik bekas coklat. Sejak 2007, limbah plastik dari Ina Cookies dimanfaatkan sebagai aneka kerjinan tangan.

Selain dijadikan wadah roti, ada yang dijadikan tas cantik, tempat pensil, sajadah, celemek dan sandal. Bahkan ada produk aneka topi unik dari jerami, yang kemudian mencuri perhatian pembeli asal Belanda dan Jerman. Dari sekedar cuma daur ulang, Ina Cookies bisa membuat bisnis lain. 
 
Banyak agen berminat memasarkan Ina Cookies. Alasanya karena diatas: produk berkualitas dari bahan- bahan unggulan, aneka kue unik, dan kemampuan Ina Cookies membuat aneka kerajinan.

Total sudah ada ratusan agen dimana jumlahnya berfariasi tiap kota. Di Jakarta sendiri, ada 150 agen dimana menjadikan Ina Cookies pamain besar bisnis kue kering Jakarta. Tamy Bambang, salah satu agen dari Bintaro, mengaku berhasil menjual sekitar 5.000 lusin saat Lebaran.
 
Menurutnya kue yang laris kue biasa seperti putri salju, nastar, sagu keju serta cheese kress.

"Tahun pertama saya jadi agen di Kemang Pratama Bekasi menjual 500 lusin dan tahun kedua saat pindah ke Bintaro bisa memasarkan 1.500 lusin," ucap Tamy yang menjadi agen sejak 1998.

Ribuan Agen Reseller


Mula- mula Ina menjelaskan agennya di Bandung ada 20 titik. Suatu hari di tahun 2009, ketika ia sedang menjadi pembicara tentang kisah sukses Ina Cookies dihadapan 1.000 ibu- ibu pengajian. Tak disangka dari sana, para ibu- ibu meminta menjadi agen kesuksesan Ina Cookies. 
 
Semua dilakukannya tanpa memaksa atau tanpa iming- iming untung. Untuk agen, Ina memilih fleksibel, terlihat dari ada dua cara pembayaran yaitu beli- putus atau beli dapat barang, down payment untuk pembelian besar, dimana bayar 50% dulu. 
 
Walaupun sukses ternyata bisnis Ina Cookies juga punya masalah loh. Diawal sudah ada kendala modal awal. Seperti dikisahkan diatas Ina sampai menggunakan uang suaminya. Itupun masih kurang, dimana butuh modal hingga 200 juta untuk pengembangan.

Tepatnya itu di tahun 1995, dimana Ina Cookies mendapatkan banyak order hingga butuh ratusan juta. Alhasil, ia meminta pinjaman ke bank, dimana cuma 75 juta disanggupi. Sisanya, ya, ia harus cari dari sanak famili. Semua karena bank belum percaya. 
 
Pas Bank mulai percaya akan bisnisnya, malah giliran masalah dari pemasok bahan baku kontinu. Umpamanya ada permintaan kue banyak, para petani justru tak menyanggupi untuk memasok. Tapi semuanya itu dilalui dengan penuh usaha tanpa kenal menyerah.

Di Kota Kembang Bandung, tercatat lokasi agennya tersebar di gerai D’Risole, Bandung Supermall, Branded Factory Outlet, Kayoe Manis, Rumah Brownies Kukus, Kedaung Showroom, Maskumambang, Citarum 31 serta Rumah Baju Anak. 
 
Sukses berbisnis kue, kini, Ina Wiyandini juga merambah usaha lain yang masih dibidang kuliner. Salah satu usaha lainnya yaitu Cafe De Tuik, berlokasi di kampung Haur Manggung, dimana jaraknya tidak jauh dari Ina Cookies.

Kafe yang baru dirikan tahun 2004, dimana merupakan restoran keluarga khas Sunda. Selain itu, disana, juga ada berbagai sarana rekreasi seperti camping ground dan super kids camp. Tak berhenti di tahun 2007, ada bisnis daur ulang limbah plastik dan Ran Toy’s dari limbah kayu. 
 
Untuk usaha daur ulang ini, bisnis Ina menghasilkan aneka barang seperti tas, dompet, tempat HP, baju boneka, tempat pensil, sajadah, celemek, sandal dan aneka kemasan kue. 
 
Sedangkan bisnis Ran Toy’s akan menghasilkan beragam kerajinan tangan seperti aneka mobil- mobilan, motor, perahu, dan lain-lain yang bisa dicopot dan dibentuk ulang. Setahun kemudain Ina masuk ke bisnis kue pastry dengan nama Inara Pastry and Bakery. 
 
Bisnisnya kali ini fokus pada snack box baik untuk pernikahan, seminar dan lain- lain. Ada pula pusat pelatihan motivasi dinamai Merhid (Menggapai Ridho Ilahi), bisnis bandeng keju, dan kursus menghias kue.

Belum lama ini, ia telah membuka kafe kue yang diberi nama Mr. Komot kafe coklat dan keju.

"Kita harus menjadi manusia yang bisa berbagi kepada lingkungan sekitar sebelum kepada yang jauh. Percuma kita maju tapi lingkungan kita masih terpuruk," jelasnya.

Untuk regenerasi bisnis nampaknya tak terlalu dipikirkan Ina. Ketiga anaknya memang sudah memiliki kecendrungan membantu bisnis keluarga. Putra sulungnya, Afiandini Nur Sadrina, telah mulai membantu mengurus bisnis kue. 
 
Afiandini ikut aktif membantu membuat resep- resep baru. Anak keduanya, Voula Nur Rakhmaniar, baru saja tamat sekolah dan ikut mengelola kafe miliknya. Sedangkan anak ketiga, Fakhri Saefullah Nur Rahman, masihlah bersekolah.

Bisnis Direktur PT Maicih Fajar Guntara Affandi

Profil Pengusaha Fajar Guntara Affandi 

 

bisnisdirektur.png
 
 
Yuk ngebahas bisnis Direktur PT. Maicih Fajar Guntara Affandi. Maicih di sekitar 2010 -an, buat kamu yang berasal dari Bandung, pastilah sudah mulai mendengar bisnis keripik pedas "booming" ini. Kisah keripik Maicih memang pedas sepedas rasanya sudah pernah kita bahas.
 
Suksesnya begitu meledak sehingga kita bisa memetik ceritanya. Untuk dikenal, menginspirasi, dan mengilhami, banyak pengusaha muda untuk berbisnis sendiri. Berbagai penghargaan diterima oleh pendirinya, Reza "Axl" Nurilham, melalui PT. Maicih Inti Sinergi yang kemudian sukses berekpansi. 
 

Jalan Pengusaha


Tak hanya berbisnis makanan riangan, tercatat ada usaha dibidang properti Maicih Property, kemudian ada pula AXLent Academy, ada pula kisah Icihers Magazine. Tapi ada sosok lain disamping Reza. 
 
Dialah Fajar Guntara Affandi, sebagai Direktur Utama PT. Maicih Inti Sinergi. Diberbagai kisah mungkin kamu belum tau siapakah dia. Tak banyak yang kami dapat ketehui tentang dirinya. Dia ternyata salah satu orang yang membangu usaha keripik pedas ini. 

Ia bercerita pernah sempat berjualan bersama Reza. Dia juga pernah menjadi konsumen atau Icihers juga loh.

"Saya juga sempet menjadi konsumennya Pak Pres Axl loh, begitu ditanya keripik apa'an? Pak Pres menjawabnya itu keripik hasil bikinan saya yang saya berinama "Maicih"," kisah Fajar. 
 
"Setelah lama saya menjadi konsumennya Pak Pres Axl, saya tertarik untuk ikut berjualan keripik Maicih dan Axl pun mengangkat saya menjadi Direktur Utama Maicih,"lanjut pengusaha muda ini.

Kehidupan pribadinya sih biasa saja begitu jelasnya dalam sebuah wawancara. Dia lahir dari keluarga biasa saja. Selain kuliah, dia pernah berbisnis kecil- kecilan, yaitu membuat buklet angkatan untuk anak SMA di Bandung. 
 
Fajar pernah jadi fotografer, sayang, dia cuma bertahan sampai pertengahan 2010 begitulah jelasnya. "Mungkin gw sudah bosan sama bisnis yang gw teladani itu, hehehe," pungkasnya ringan.

Selepas dia masuk ke Maicih lah, dia mendapatkan pengalaman, mental, untuk menjadi entrepreneur. Selain berbisnis dengan Maicih, dia tercatat punya bisnis lain. 
 
Di malam hari, cobalah berkendara ke kawasan yang bernama Cihampelas bawah. Kamu akan menemukan tenda putih sederhana yang mengusung nama Master Kalkun. Yap, warunga tenda yang baru ada di 2012, yang menjanjikan aneka olahan unggas.

Yang menarik, enak, ya produk olahan kalkun berbasis rumah makan tenda. Kebetulah dia beniat mencari macam usaha yang belum ada. Kebetulan ada teman yang bisa mengolah kalkun. Jenis kalkun yang dipakai fajar adalah jenis kalkun impor dari US. 
 
Ia lebih memilih kalkun impor karena dagingnya lebih bedar.

"Kita beli kalkun minimal yang beratnya 7,5 kilogram, idealnya 8 kilogram. Kalau yang lokal itu kecil-kecil."

Tubuh kalkun besar jadilah hampir semua bagian kalkun bisa diolah menjadi sajian makanan yang berbeda. Di Master Kalkun, kita bisa mencoba aneka masakan kalkun mulai dari steak kalkun, kalkun barbaque, kalkun goreng tepung dan lainnya 
 
"Semua daging bisa dipakai kecuali kepala. Untuk steak kita pakai dada, barbeque paha bawah dan paha atas. Kalau goreng tepung kita pakai paha atas," terangnya.

Warung tenda Master Kalkun di Cihampelas bawah. Atau follow akun twitter @masterkalkunBDG, atau juga kunjungi masterkalkun.blogspot.com.

Mantan Pegawai Restoran Jadi Pengusaha Emperan

Profil Pengusaha Trias Agung Wibowo

 

mantanpegawai.png
 

Jadi pengusaha emperan dia mengantongi omzet ratusan juta. Mantan pegawai restoran bernama lengkap Trias Agung Wibowo. Sempat dia menjadi pegawai restoran di sebuah restoran di DKI Jakarta. Dia yang bertekat menaklukan Jakarta memilih wirausaha.


Benar siapa sangka usahanya hasilkan ratusan juta. Padahal jadi pengusaha emperan tetapi tidak malu. Ia sempat jualan online. Pernah berjualan aneka pasta, cake dan lain- lain. Usahanya tidak berjalan lancar sampai berpikir mau lebih serius.

 

Pizza Emperan


Kepikiran buat sesuatu belum pernah ada di Kota Yogyakarta. Kan Yogya dikenal akan makanan emperan khas angkringan. Trias ingin bikin angkiran. Konsepnya Tunqu Angkiran, namun jualannya bukan nasi kucing melainkan pizza.


"Saya cari- cari konsepnya, lama itu kita cari konsepnya, akhirnya nemu itu Italian Pizza dengan konsep emperan," terangnya kepada Detik.com


Begitu ketemu konsep dijalankan tidak langsung berhasil. Usaha pertamanya menggunakan lahan kecil kurang efektif. Padahal Trias mengkonsep jualan memakai tungku pizza. Kebayang bukan besarnya tungku pembuat pizza, tidak sekecil itu.


Trias berniat menonjolkan proses pembuatan pizza tradisional. Namun dia cuma mendapatkan sedikit ruang tempat. Memang mencari ruko dengan halaman luas kesusahan. Terutama di Yogyakarta susah menemukan tempat buat berjualan begitu.


Konsepnya dirasa susah diaplikasikan. "Sekitar setengah tahunan kita merintisnya itu sangat berat, susah awal- awal itu, karena itu tadi, kita kan konsepnya emperan," lanjutnya. Tunqu Angkringan baru dapat tempat setelah ditawari pelanggan.


"...jadi kita pindah sekitar 2019 akhir ke tempat sekarang ini," lanjut Trias. Begitu pindah berjalanlah konsepnya baik. Bahkan modal besar dulu, bahkan yang sempat rugi modal, terbayar sudah setelah pindah ke tempatnya sekarang ini.


Omzetnya ratusan juta rupiah perbulan begitu menggiurkan. "Iya sempat rugi. Saat itu modal awal- awal sekitar Rp.200 jutaan, itu kerane beli tungkunya," Trias melanjutkan. Bayangannya dulu sempat berubah mau memakai mobil VW bukan gerobak.


Ia udah membeli mobil VW. "...dah sempat pesan dan bayar, minta dimodif sesuai kebutuhan, tetapi orangnya kabur itu, sampai sekarang enggak bisa dihubungi," tambah Trias.


Trias ingin menonjolkan tungku sebagai ikon. Pengusaha emperan ini ingin memperlihatkan proses pembuatannya. Bahwa mereka menyajikan aneka pizza Italia fresh from the oven. Dia pernah ditipu orang tetapi tetap lanjut.


Dia menerangkan bahwa bisnis tidak cuma unik. Produk harus berkualitas bukan setengah- setengah jadi. Ia membelikan keju berkualitas. Dulu Trias sempat memakai keju biasa namun gagal. "Kita sudah coba pakai keju biasa aja, dia enggak bisa," tuturnya.


Mereka bakar pakai oven sungguhan sepanas 500 derajat. Kalau mereka sembarangan memakai oven, maka akan pecah. "...kalau yang (keju) biasa akan pecah, berminyak gitu. Jadi kita pakai keju khas impor dari Prancis," tutur Trias.


Tidak cuma makanan utama bahkan pendamping juga berkualitas. Dia menyediakan teh berkualitas, buat menyenangkan pembeli boleh refil teh ulang. Tunqu Nangkring kerap membagikan diskon dan giveaway. Mantan pegawai restoran tersebut memasarkan melalui media Instagram.

Pengusaha Payung Merintis Usaha Unik Bertema Hujan

Profil Pengusaha Johanes Paulus

 

pengusahapayung.png
 

Kalau toko bertemakan bangunan atau elektronik sudah biasa. Bayangkan punya usaha unik yang bertema hujan. Ya inilah pengusaha payung bernama Johanes Paulus. Bukan bohongan, dia merupakan pemilik toko bernama Istana Payung, yang dirintis sejak 2008 silam.


Johanes tentu senang kalau musim hujan tiba. Terutama bulan- bulan Februari ketika curah hujan tinggi. Ia akan lebih sibuk di toko. Di sini dia menyediakan jas hujan dan payung. Tak perlu pusing mencari- cari karena namanya Istana Payung.


Isinya produk- produk khas ketika musim hujan tiba. Aneka macam ukuran dan bentuk tersedia. Johanes melayani orang tua sampai anak- anak. Musim hujan merupakan musim penghasilan berganda. Tokonya mampu menjual menjual antara 1000 sampai 10.000 perbulan.

 

Merintis Usaha Unik


Tidak bulan hujan juga menghasilkan uang. Dia tidak spesifik menjual dalam kota. Penjualan dapat dipenuhi keluar kota, sampai keluar negeri seperti Maldives dan Singapura. Banyak jenis payung dengan harga Rp.17,5 ribu sampai Rp.250 ribu perunit.


Harga jas hujan dari Rp.5 ribu sampai Rp.200 ribu terjangkau bukan. Dari usaha unik bertema hujan ini, omzetnya bukan kaleng- kaleng bukan recehan. Pengusaha payung tersebut mampu mengantongi omzet Rp.50- 100 juta perbulan.


Buat ngejalani bisnis ini maka ia mempekerjakan 10 karyawan. Paling banyak Johanes mengirim ke Maldives, dan Singapura juga lumayan. Alumni Jurusan Ekonomi Universitas Bunda Mulia, tidak kurang menjual 100 merek payung dari berbagai negara.


Pengusaha muda tersebut melanjutkan ceritanya kepada Merdeka.com. Bahwa pemula tidak perlu takut ketika musim berganti. Johanes sendiri memiliki berbagai macam bentuk dan jenis payung. Ada lipat, payung panjang, payung golf, sampai payung mobil.


Produk tidak terbatas impor juga terdapat brand lokal. Johanes telah jeli dan ahlinya mengenai dunia perpayungan. Ada merek Rosida dan Jope asal Taiwan dan Jerman yang terkenal akan kualitasnya. Ia merupakan spesialis payung, stoknya besar sampai 1000 lusin atau setara 12.000 unit payung.


Johanes menyiasati dikala bukan musim hujan. Yakni mengalihkan pemasaran ke korporasi yang butuh aksesoris atau media promosi. Ia meyakini prospek bisnis payung bagus. "Untuk payung promosi dan souvenir itu kustom, dengan minimal pemesanan sebanyak 1 lusin," ujarnya.


Harga paling murah payung kustom Rp.25 ribu. Pembeli akan mendapatkan payung lengkap gambar logo sewarna. Ia selain menggarap pasar offline juga online. Caranya dia memasarkan melalui website, sosial media, dan marketplace.


Johanes pun tak lupa memperkuat pasar offline. Sementara pemasaran online dikembangkan lewat cara payung aneka warna yang disukai masyarakat, selain kualitas barang bagus. Johanes terus meyakinkan akan kualitas produk. Masyarakat diyakinkan agar bisnis bertahan dan mereka mencintainya.


"Lantaran kami fokus di bidang ini, menjadikan lebih tahu barang yang bagus dan warna yang paling disukai konsumen," imbuh Johanes.


Johanes memilih fokus dan konsisten. Maka dia ingin tau terbaik dari produk tersebut. Johanes fokus buat membesarkan bisnis payung dan jas hujan meski musim panas. Sebelumnya ia pernah bekerja banyak profesi, pernah menjadi agen asuransi, salesman, dan pegawai bank.


Inspirasi bisnis payung ketika dirinya melihat usaha pamannya. Dia bekerja di toko paman sembari berkuliah selama empat tahun. Karakter ulet dan pekerja keras memang sudah terlihat. Walaupun dia sebenarnya bercita- cita menjadi musisi bukan pengusaha.


"Hobi saya bermain musik. Saya bikin band bersama teman- teman. Tapi setelah kuliah, ada yang kerja dan bisnis, maka bubarlah band kami," celetuknya.


Ia pun bekerja tetapi mencari fleksibel. Maka dia bekerja di tempat pamannya buat berjualan payung. Bermodal Rp.50 juta dia memberanikan diri menyewa tempat. Johanes menyewa tempat buat berjualan payung- payung. Ia meyakini bahwa bisnis payung memiliki prospek cerah.


Iklim Indonesia memang tropis dan bergantung hujan. Prospeknya bagus terutama tempatnya khusus berjualan payung. Bila toko lain, ketika masuk musim kemarau, mereka memilih usaha lain seperti jual sandal, buku, petasan, dan lain.


"Saya sih tetap konsisten menjual payung. Jika musim kemarau sepi, itu resiko," ujar pengusaha muda tersebut. Pengusaha payung Johanes konsisten menggeluti sampai tumbuh baik. Itu sekaligus menjadi branding "penjual payung yang tak kenal musim".


Keahlian pemilihan payung terbaik semakin terkenal. Namanya dikenal sampai banyak masyarakat rela datang. Mereka langsung membeli payung di Kawasan Perniagaan Timur, Jakarta Barat.

Bisnis Online Asri Tadda Pengusaha Media Blog

Profil Pengusaha Asri Tadda

 
asritadda.png
 
Bisnis online Asri Tadda bermula sebuah blog. Pengusaha media blog yang memiliki ratusan salah satu blognya, AstaMediaGroup. Dia hanya sekedar blogging, merambah jualan iklan per- klik, SEO, dan jual beli artikel. 
 
Akhirnya, dia menjalankan bisnis lain yang bersifat konvensional; seperti bisnis kafe hingga membuka sekolah. Apa yang dia lakukan tidak sekarang bukanlah hal mudah. Dia belajar banyak dari hidupnya dan internet tentunya.

Asta sendiri merupakan lulusan Universitas Hasanudin Makasar sebagai dokter umum. Tak ayal dari jurusannya, blog- blog buatannya membahas mengenai kesehatan pada umumnya. Dia mengawali blognya untuk Adsense dan mengaku mendapatkan $400 untuk awal. 
 
Bukan nilai yang besar kala itu, tapi dengan usaha keras semuanya bisa berubah. Pria kelahiran Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terus memiliki tekat yang kuat dibidang internet. Dia (29) yang mampir di warung internet, mengubah hidupnya. 
 

Bisnis Online Adsense

 
Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief hobinya pergi ke warnet cukup mengganggu. Dia yang fokus bisnis internet kuliahnya ikut tersendat. Awal 2007, Asri mengenal bisnis blogging melalui Adsense. Dia keranjingan membaca kisah- kisah sukses mereka di bisnis ini. 
 
Dimulai dari menulis, publikasi, dan akhirnya ikut menjadi blogger mumpuni. Awalnya Asri hanya memilih curhat- curhat kemudian berubah serius seperti artikel kesehatan. Dia berubah menjadi dokter online. Tak berhenti disitu. Ia mulai belajar seluk beluk bagaimana menguangkan blog itu. Dia terobsesi atas kesuksesan orang- orang dari bisnis internet. 
 
Melalui Google, Asri tau adanya Adsense, apa itu? Adsense adalah iklan online milik Google dimana para pemilik blog atau situs bisa memasangnya. Jangan main- main, tiap iklan yang diklik akan menghasilkan dollar bagi sang pemilik blog atau situs.

Melalui cara itulah ia menguangkan blognya hingga ketagihan, membuat beberapa blog baru. Dari Adsense, ia mengaku mendapatkan uang lumayan. Dari sini pula dia mengembangkan bisnis lain seperti jualan artikel dan SEO. 
 
Dari pengalaman, dia mengaku memiliki kejelian untuk menentukan bagaimana sebuah blog dikembangkan dan dibisniskan. Untuk jual beliartikel, dia mengaku membrandol perartikel untuk $5 atau Rp. 50.000 dan sedikit modal nekat. Nilainya berdasarkan jumlah minimal untuk 200 kata.

Dia mengaku mendapatkan pendapatan untuk bisnis artikel setidaknya  $3, dan $2 sebagai fee penulis. Dari bisnis artikel, ini lain ceritanya, dia menjual setiap artikel untuk para pemilik blog lain. Gunanya agar mereka bisa memasang Adsense seperti blog miliknya. 
 
Hasilnya dia gunakan untuk pembayaran hosting hingga mentraktir temannya. Berjalan waktu, ia tidak hanya memiliki 1 blog tetapi 100 blog hingga menjadi 250 blog. Ini merubahanya menjadi bisnis advertising potensial.

Setelah bisnis iklan, AstaMediaBlogNetwork, pendapatannya naik 100 juta per- bulan. Asri menggunakan pay- per click hingga iklan banner untuk bisnisnya. Angka 100 juta per- bulan ini merupakan angka yang menakjubkan baginya. 
 
Lahirlah AstaMediaGroup, perusahaan yang dikelola olehnya dan beberapa temannya. Dia mengakui kesulitannya hanya ada pada ketrampilan. Dia sama sekali tidak memiliki dasar web design. Dia juga memiliki pengetahuan sedikir tentang search engine optimization; semuanya otodidak.

"Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing." ujar pengusaha media blog ini. Itu patutlah diapresiasi bagaimana semangatnya berjuang belajar pada sesuatu yang bukan bidangnya.

Bisnis Internet


AstaMediaGroup merupakan pusat semua bisnis. Dia membuat perusahaan yang mempermudah setiap orang belajar SEO. Asri mengungkapkan malalui SEOSEMID.Inc, dia mampu memberikan layanan SEO untuk blog non- medis. Untuk non- medis, SEOMeds menganai hal lain selain blog medis. 
 
Omzet untuk bisnis SEOMeds telah mencapai $60.000. Semuanya menjadi satu tempat dibawah bendera Asta Media Group. Merambah binis online lain, dibuatnya bisnis situs IklanBarisTerkini, IklanBarisTerbaru, IklanBarisMakasar, dan PasangIklanBaris
 
Asri mengaku omzet keseluruhan dari atas dan bawah hanya 300 juta, dan dia hanya memiliki 13 karyawan.

Sejak April 2009, Asri bersama rekan- rekannya di AstaMediaGroup memiliki ide bisnis lain. Mereka membangun AstaMedia Blogging School di Maret 2009. Dan, sekolah tersebut resmi memberikan pengajaran di 16 Mei 2009. 
 
Tujuannya menghasilkan lapangan pekerjaan dan penghasilan baru. Bukan perkara mudah, mereka harus menyiapkan kurikulum. Melalui Astalog.com, Asri menjelaskan bagaimana kurikulum dibagikan kepada sekolah internetnya.

"Memang mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini merupakan tantangan kami di AstaMedia Blogging School."

Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu blogging basic untuk pemula, blogging pro untuk fokus mengoptimalkan blog dan menghasilkan uang dari sana. Dia menjamin dengan pengajar profesional. 
 
Target utamanya, dia memilih generasi muda yang sering menyalah gunakan internet. Saat ini ada sekitar 100 orang siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. Diantara mereka kini menghasilkan $250 atau 2 juta perbulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba