Bisnis Online Asri Tadda Pengusaha Media Blog

Profil Pengusaha Asri Tadda

 
asritadda.png
 
Bisnis online Asri Tadda bermula sebuah blog. Pengusaha media blog yang memiliki ratusan salah satu blognya, AstaMediaGroup. Dia hanya sekedar blogging, merambah jualan iklan per- klik, SEO, dan jual beli artikel. 
 
Akhirnya, dia menjalankan bisnis lain yang bersifat konvensional; seperti bisnis kafe hingga membuka sekolah. Apa yang dia lakukan tidak sekarang bukanlah hal mudah. Dia belajar banyak dari hidupnya dan internet tentunya.

Asta sendiri merupakan lulusan Universitas Hasanudin Makasar sebagai dokter umum. Tak ayal dari jurusannya, blog- blog buatannya membahas mengenai kesehatan pada umumnya. Dia mengawali blognya untuk Adsense dan mengaku mendapatkan $400 untuk awal. 
 
Bukan nilai yang besar kala itu, tapi dengan usaha keras semuanya bisa berubah. Pria kelahiran Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terus memiliki tekat yang kuat dibidang internet. Dia (29) yang mampir di warung internet, mengubah hidupnya. 
 

Bisnis Online Adsense

 
Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief hobinya pergi ke warnet cukup mengganggu. Dia yang fokus bisnis internet kuliahnya ikut tersendat. Awal 2007, Asri mengenal bisnis blogging melalui Adsense. Dia keranjingan membaca kisah- kisah sukses mereka di bisnis ini. 
 
Dimulai dari menulis, publikasi, dan akhirnya ikut menjadi blogger mumpuni. Awalnya Asri hanya memilih curhat- curhat kemudian berubah serius seperti artikel kesehatan. Dia berubah menjadi dokter online. Tak berhenti disitu. Ia mulai belajar seluk beluk bagaimana menguangkan blog itu. Dia terobsesi atas kesuksesan orang- orang dari bisnis internet. 
 
Melalui Google, Asri tau adanya Adsense, apa itu? Adsense adalah iklan online milik Google dimana para pemilik blog atau situs bisa memasangnya. Jangan main- main, tiap iklan yang diklik akan menghasilkan dollar bagi sang pemilik blog atau situs.

Melalui cara itulah ia menguangkan blognya hingga ketagihan, membuat beberapa blog baru. Dari Adsense, ia mengaku mendapatkan uang lumayan. Dari sini pula dia mengembangkan bisnis lain seperti jualan artikel dan SEO. 
 
Dari pengalaman, dia mengaku memiliki kejelian untuk menentukan bagaimana sebuah blog dikembangkan dan dibisniskan. Untuk jual beliartikel, dia mengaku membrandol perartikel untuk $5 atau Rp. 50.000 dan sedikit modal nekat. Nilainya berdasarkan jumlah minimal untuk 200 kata.

Dia mengaku mendapatkan pendapatan untuk bisnis artikel setidaknya  $3, dan $2 sebagai fee penulis. Dari bisnis artikel, ini lain ceritanya, dia menjual setiap artikel untuk para pemilik blog lain. Gunanya agar mereka bisa memasang Adsense seperti blog miliknya. 
 
Hasilnya dia gunakan untuk pembayaran hosting hingga mentraktir temannya. Berjalan waktu, ia tidak hanya memiliki 1 blog tetapi 100 blog hingga menjadi 250 blog. Ini merubahanya menjadi bisnis advertising potensial.

Setelah bisnis iklan, AstaMediaBlogNetwork, pendapatannya naik 100 juta per- bulan. Asri menggunakan pay- per click hingga iklan banner untuk bisnisnya. Angka 100 juta per- bulan ini merupakan angka yang menakjubkan baginya. 
 
Lahirlah AstaMediaGroup, perusahaan yang dikelola olehnya dan beberapa temannya. Dia mengakui kesulitannya hanya ada pada ketrampilan. Dia sama sekali tidak memiliki dasar web design. Dia juga memiliki pengetahuan sedikir tentang search engine optimization; semuanya otodidak.

"Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing." ujar pengusaha media blog ini. Itu patutlah diapresiasi bagaimana semangatnya berjuang belajar pada sesuatu yang bukan bidangnya.

Bisnis Internet


AstaMediaGroup merupakan pusat semua bisnis. Dia membuat perusahaan yang mempermudah setiap orang belajar SEO. Asri mengungkapkan malalui SEOSEMID.Inc, dia mampu memberikan layanan SEO untuk blog non- medis. Untuk non- medis, SEOMeds menganai hal lain selain blog medis. 
 
Omzet untuk bisnis SEOMeds telah mencapai $60.000. Semuanya menjadi satu tempat dibawah bendera Asta Media Group. Merambah binis online lain, dibuatnya bisnis situs IklanBarisTerkini, IklanBarisTerbaru, IklanBarisMakasar, dan PasangIklanBaris
 
Asri mengaku omzet keseluruhan dari atas dan bawah hanya 300 juta, dan dia hanya memiliki 13 karyawan.

Sejak April 2009, Asri bersama rekan- rekannya di AstaMediaGroup memiliki ide bisnis lain. Mereka membangun AstaMedia Blogging School di Maret 2009. Dan, sekolah tersebut resmi memberikan pengajaran di 16 Mei 2009. 
 
Tujuannya menghasilkan lapangan pekerjaan dan penghasilan baru. Bukan perkara mudah, mereka harus menyiapkan kurikulum. Melalui Astalog.com, Asri menjelaskan bagaimana kurikulum dibagikan kepada sekolah internetnya.

"Memang mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini merupakan tantangan kami di AstaMedia Blogging School."

Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu blogging basic untuk pemula, blogging pro untuk fokus mengoptimalkan blog dan menghasilkan uang dari sana. Dia menjamin dengan pengajar profesional. 
 
Target utamanya, dia memilih generasi muda yang sering menyalah gunakan internet. Saat ini ada sekitar 100 orang siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. Diantara mereka kini menghasilkan $250 atau 2 juta perbulan.

Kerajinan Tulang Ikan Bisnis Kreasi Seni

Profil Pengusaha Ridwan

 
kerajinantulang.png
 
Bisnis kreasi seni memang memiliki nilai lebih. Dan Erwandi mengembangkan kerajinan tulang ikan. Ia tak patah arang berbisnis. Namanya selalu tercantum dalam berbagai pameran kerajinan. Erwandi dan karyanya bisa dibilang jadi maskot di daerah asalnya. 
 
Entah nantinya pergi bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepri. Atau pun mereka dari Kabupaten Bintan. Apa yang menjadi spesial seorang Erwandi, ialah kemampuan pria tersebut dalam mengolah tulan dan kulit ikan jadi kerajinan. 
 
Merubah apa yang dianggap "sampah"  menjadi produk bernilai ekonomis. Meski bukan pengusaha besar tapi kewirausahaan -nya patut dicontoh.
 

Menjadi Pengusaha


Sudah banyak kota disambanginya. Kesemuanya tak mengurangi isi kantong dompetnya. Dia jutru semakin beruang dengan berkeliling kota. Bukanlah untuk berjalan- jalan tetapi berdagang. Erwandi memang sering jadi tamu dalam berbagai pameran. 
 
Saking seringnya kamu akan berpikir dia sedang sibuk melancong. Memang tak nampak dari sosoknya yang sederhana. Kerajinan tulang ikan buatannya pernah ditawar warga Singapura, seharga Rp.1.5 juta dan banyak lagi. 
 
Ada produk kerajinan tulang ikan yang berbentuk kapal layar. Produk laris tersebut setinggi tak kurang dari 30 sentimeter. Yang kesemua bahannya merupakan asli tulang ikan. Pengusaha Erwandi terus berkomitmen menggunakan bahan- bahan tak terpakai tersebut. 
 
Sebenarnya tak hanya tulang ikan sebenarnya. Ia juga menjelaskan berbagai bahan tulang dari lautan bisa disulapnya jadi kerajinan. Ridwan mantap mengerjakan kerajinan tulang ikan tersebut.

Erwandi rajin menyusuri pantai mencari sesuatu untuk diolah. Jika menemukan bahan yang dibutuhkan ia pun berlari pulang. Dibawanya bahan- bahan, kemudian dipotong, diperhalus, dan dilekat. Aktifitas sehari- hari inilah yang dilakukannya. 
 
Awalnya cuma kurang percaya diri untuk menjualnya, tapi hasilnya menakjubkan. Dimata kami produknya luar biasa. Jikalau tak punya jiwa seni kuat pastilah kerajinan tulang ini akan cuma masuk ke tempat sampah saja.

Dia memang jenius. Cerdas dalam membuat bentuk kapal layar atau sosok manusia berbahan tulang ikan. "Dia bilang barang saya ini bisa laku dijual. Karena belum ada yang buat," tutur Erwandi, ia mengingat bagaimana pertama kali membuat karyanya ini. 
 
Butuh beberapa kali diyakinkan oleh temannya barulah karyanya mantap dijual. Mungkin waktu pertama kali Erwandi cumalah iseng saja. Ia pun luluh dan menuruti saran temannya. Mulailah di rumahnya yang kecil, produksi kerajinan tulang diperbanyaknya.

Mantan buruh bangunan ini sebenarnya tak mematok harga mahal- mahal. Nilai 1,5 juta diatas merupakan nilai yang tertinggi produksinya kala itu. Untuk produk miniatur layar kapal dijualnya dikisaran Rp.100- 500 ribu. Tapi itu lain cerita jika orang terdekatnya yang membeli. 
 
Dia sambil bercanda menyebut asal ada uang rokok saja cukuplah. Disperindag Provinsi Kepri dan Kabupaten Bintan pun melirik hasil kerjanya. Mereka langsung menggandeng Erwandi. Suami Naziah ini lantas diminta agar memproduksi berbagai bentuk kerajinan tangan dari tulang ikan.

Semenjak mendapatkan dukungan kementria produknya semakin digandrungi. Dalam sehari di rumah ada saja pesanan yang datang baik dari instansi pemerintahan atau perorangan. Apalagi setelah ia rajin datang ke berbagai pameran. Kenapa memilih kerajinan dari bahan laut. 
 
Ya, karena ia berpikir ini sesuai dengan apa yang dimiliki Bintan dan Kepri. Sebagai kawasan maritim inilah yang bisa dilakukannya. Selain dari bahan- bahan tulang ikan, adapula kerajinan dari kulit ikan dan kulit kerang.

Terpaksa Jadi Pengusaha Usaha Kerajinan Batu Alam

Profil Pengusaha Ahmad Ngabdulloh

 
terpaksapengusaha.png
 
Terpaksa jadi pengusaha kerajinan batu alam. Dia bukanlah pengusah tulen layaknya ayah. Juga tidak mau mewarisi usaha keluarga. Namun dia "perkasa" mewarisi usaha keluarga. Ia sempat gamang apa mau kerja atau wirausaha.
 
Siapa sangka jutru berkat kerajinan batu alam dirinya menjadi pengusaha sukses. Ahmad Ngabdulloh tak pernah belajar menjadi pengusaha. Keluarganya lebih suka Ahmad kecil bersekolah dan berprestasi di bidang akademi. 
 
Ia hanya berkonsentrasi pada sekolah dan kuliahnya. Saat remaja paling banter ia hanya melayani pembeli batu alam dari ayahnya.
 
 

Usaha Kepepet


Kalaupun membantu lebih jauh, Ahmad kecil akan disuruh belajar. Begitulah, hingga masuk SMA, lalu ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil Diploma 3, selsai kuliah disana, tentu Ahmad akan bekerja menangani mesin. 
 
Cita- citanya kala itu bekerja kantoran. Namun, siapa sangka nasib berkata lain. Selesai kuliah Ahmad sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal dirinya sudah rajin menebar ijasah ke mana- mana. Dalam tahun itu ia sama sekali tak terbersit batu alam.

"Namun semua ditolak. Ternyata cari kerja itu berat," imbuhnya.

Tak lantas bekerja membuat Ahmad sempat tertekan batin. Suatu hari, sang ayah, yang penompang ekonomi keluarga jatuh sakit. Itulah titik baliknya. Meski enggan akhirnya ia mengambil alih usaha keluarga. "Cita- cita saya bekerja di perusahaan," ungkap Ahmad. 
 
Akan tetapi dia harus menopang ekonomi keluarga. Pria 32 tahun itu harus membiayai sekolah adik- adiknya.

"Kalau bukan saya siapa lagi," jelasnya. Akhirnya meski tak punya kemampuan mengolah batu alam, ia pun sigap sedia. Usahanya dimulai dengan belajar tentang batu alam. 
 
Pendidikan dibidang teknik ternyata taklah cukup membantu di usahanya. Dulu, ia pernah belajar, tapi hanya sampai dasar membuat cobek ataupun kerajinan kecil lain.

Ditengah keterpaksaan ia mulai belajar kembali. Caranya yaitu dengan belajar dari mereka pekerja- pekerja ayahnya. Melalui belajar Ahmad memastikan agar tak tergilas pesaing ayahnya. Nampaknya meski tak secara khusus menyentuh batu alam; jiwanya sudah ada disana. 
 
Dia menuruni ketrampilan ayahnya bahkan lebih pintar. Meski sempat gamang karena disekelilingnya telah banyak perajin batu alam; ia tak mau gentar. Jika berjalan- jalan ke kawasan jalan raya Muntilan, memang disana berderet- deret toko usaha batu alam.

Dari usaha pembuatan cobek, patung, batu hiasan taman yang lengkap denga air mancur. Bahkan jika kamu mau miniatur Candi Borobudur gampang disana. Semakin banyak toko disana pastilah samakinlah gampang buat pembeli. 
 
Tapi bagi Ahmad itu bisa jadi pertanda bahwa samakin banyak persaingan. Untunglah ayahnya itu punya toko di Jalan raya Muntilan, sehingga ia bisa bebas memajang karyanya. Meski begitu ia juga sadar bahwa tempat strategis tak memastikan penjualan tinggi.

Guna menggaet pelanggan dia tetap bekerja keras. Apalagi ia menarget turis asing. Untuk itulah ia mencari- cari tau apa saja yang digemari mereka. Ahmad yakin, sekian banyak turis, pastilah ada yang melirik hasil karya batu alamnya. 
 
Dia selalu membuat apa yang diminati pengunjung turis di etalase tokonya. Ia tetaplah melayani mereka dengan ramah. Meski mereka tak membali atau melihat- lihat saja, itu tak masalah baginya.

"Intinya saya ingin menghasilkan yang kreatif dan menarik," kata Ahmad.

Pengusaha tak perlu kuliah?

Tidak tepat dari berkuliah di teknik mesin justru ia menemukan banyak ide kreatif. Pengalaman menggunakan aplikasi bernama AutoCad digunakannya. Aplikasi yang pernah dipelajarinya semasa kuliah itu mampu mendukung usahanya. 
 
Nah, dengan aplikasi itulah ia membuat desain- desain baru. Kemudian lahirlah ide hiasan tanaman yang mengalirkan air mancur. Hiasan tersebut karena ada bola ditengah yang bisa berputar terbalik.

Ia pun berseloroh, "kuliah saya ternyata tak sia- sia". Tak disangka- sangka produk itulah yang jadi maskot dalam bisnisnya. Apalagi, produknya itu tak tersedia di toko lainnya yang masih membuat aneka hiasan tradisional. 
 
Untuk menambah pelanggan, Ahmad pun bekerja sama dengan para pengusaha mabel di kawasan Yogyakarta. Ahmad mulai melobi mereka agar saling berbagi pelanggan. Caranya jika ada yang cari hiasan batu alam maka diarahkan ke Ahmad. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu ia mulai memperbaiki pelayanan kepada pelanggan. Ia berperinsip ramah kepada konsumen berarti menentukan nasib bisnis. Berkat ramahnya bahkan pemandu wisata dengan senangnya mengarahkan. 
 
Meski begitu terlalu ramah juga bisa jadi apes. Dia bercerita pernah ditipu oleh pemesan kerajinannya. Kala itu, di tahun 2008, ada pembeli yang tak mengambil barang pesanannya. Belajar dari sana ia paham untuk mereka para pelanggan, meski kenal, harus tetap membayar dulu atau minimal dp.

Ahmad pun berniat membangun cabang di Jakarta. Tepatnya ia membuka cabang di Jakarta, tepatnya di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Alasannya karena banyak pelanggan asal Jakarta gagal bertransaksi karena kesulitan dalam pengiriman. 
 
Mereka pelanggan dari Jakarta ada yang takut pesanan nanti rusak di jalan, atau karena jadi mahal jatuhnya. Meski kini telah sukses apakah ia masih ingin dengan apa cita- citanya dulu. Dia "terpaksa" jadi pengusaha usaha kerajinan batu alam.

Sambil bercanda ia berkata, "Mungkin kalau ada yang menawarkan pekerjaan, saya terima."

Dibawah bendera usaha 77 Craft, kini Ahmad bisa mengekspor produknya ke beberapa negara. Kini produknya telah tersebar di kawasan Asia, Amerika, dan Australia. 
 
Negara- negara Asia yang telah rutin meminta  kiriman produknya antara lain Filipina, Singapura, dan Malaysia. Pangsa pasar yang cukup luas tersebut membuatnya mampu mengumpulkan omzet minimal Rp 100 juta per bulan. 
 
Jenis produknya berupa produk eksterior seperti air mancur, ornamen lampu, dan patung. Produk- produk tersebut dijual seharga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 1 juta per unit.

Jual Keripik Tempe Mafia Pengusaha Irvan Widadya

Profil Pengusaha Irvan Widadya

 
jualtempemafia.png
 
Pengusaha muda Irvan Widadya terinspirasi game mafia war. Dia jual tempe mafia. Bermula game Facebook kemudian menjadi inspirasi usaha. Pemuda asal Bandung untuk berkreasi lebih, ia mengajak banyak reseller buat kembangkan usaha. 
 
Makna mafia memang terdengar kejam, sadis, dan berbuat kriminal, seolah- olah diwujudkan dalam pedasnya jajanan khas nusantara. Dia sukses menciptakan keripik tempe yang kejam, mempunyai rasa pedas aneka level. Keripik Mafia siap menantang hingga titik keringat terakhir. 
 
Kini, ia mendulang omzet puluhan juta rupiah dari bisnis keripik tempe yang terlihat sepele. "Game Mafia War ada berbagai level, maka seru juga kalau ada makanan yang ada tingkat kepedasan seperti itu," katanya.

Bisnis Keripik Tempe

 
Irvan berbincang bahwa produk olahan seperti singkong memang lebih digemari. Kalian pasti mendengar nama populer seperti Keripik Karuhun ataupun Keripik Maicih. Iravn lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Tinggi Harapan Bangsa, yang tak malu terjun berjualan keripik tempe.
 
Dia bermodal hanya ratusan ribu rupiah. "Tahun 2011 akhir, saya memulai usaha ini. Modalnya Rp700 ribu dan itu saya pinjam dari orang tua," kata dia.

Dengan modal minim ia mencoba membuat keripik tempe yang renyah dan pedas. Produknya kemudian dilebeli nama Mafia, atau Keripik Tempe Mafia. Pria yang memang hobi wisata kuliner dan game ini fokus menggarap bahan lokal. 
 
Proses pembuatannya pun singkat cuma 1- 2 hari jadi. Mengusung tema Mafia, kita disuguhi keripik tempe dari level keroco atau level boss. Tak berhenti berkarya ada pula rasa manis, asin, dan gurih atau perpaduan daun jeruk dan rasa original.

Tak hanya tingkatan yang seram. Tagline atau moto produknya juga tak kalah seram, "Keripik Tempe Mafia, Nembak Pedasnya!" Dari bisnis penganan ini, Irvan meraih untung sekitar Rp30-50 juta per bulan.

Produk tempe dengan tingkatan kepedasan 0-2. Sesuai dengan levelnya, keripik level 0 atau hitman tidak pedas dan ada aroma daun jeruk, keripik level 1 atau kroco akan memiliki rasa sedikit pedas, manis, asin, dan gurih. 
 
Sedangkan keripik dengan nilai 2 atau boss itu lebih pedas, asin, gurih, dan manis. Awalnya, Irvan menjual produknya kepada teman- teman dekat di Bandung. Kemudian baru setelah mantap akan reaksinya dia menggunakan media sosial sebagai media.

Pertama kali menjual di Kaskus, Irvan mengaku jualannya tak laku, sepi dari pembeli yang memesan. Dia tak pantang menyerah. Setelah berjalan dua bulan barulah thread (tulisan tentang produknya) produknya mulai disambangi beberapa member lain. 
 
Di bulan kedua ini menjadi awal Keripik Tempe Mafia memasuki pasar, tidak hanya Kaskus, media sosial lain juga sama. "Bulan kedua ini sudah ada efeknya. Banyak pembeli dari online, dari situ lah bisnis ini berkembang," katanya.

Usaha Irvan pun mulai maju. Banyak permintaan untuk menjadi distributor resmi. Ia segera menangkap kesempatan itu memberikan jalan bagi para reseller. Ada syarat khusus untuk menjadi reseller katanya. 
 
Kamu diharuskan membeli minimal 15 kilogram, sedangkan pembeli biasa bebas. Irvan menjual produk Keripik Mafia bervariasi, tergantung ukuran. Kemasan ukuran kecil yaitu 100 gram akan dijual seharga Rp10 ribu, sedangkan kemasan besar 250 gram mencapai Rp20 ribu.

"Tidak ada jumlah minimal pembelian untuk pembeli biasa. Tapi, untuk dikirim lewat paket, apa tidak sayang kalau hanya satu bungkus. Maka, pembelian untuk paket dipaskan sebanyak satu kilogram," kata dia.

Merambah Pasar Ritel


Sepertinya sukses itu belum selesai untuk Irvan Widadya. Jumlah ditributor yang telah membanjir bahkan membuat tak ingat berapa jumlahnya. Para distributor tersebut nantinya akan menjual kembali ke reseller. 
 
Tak puas, Irvan mengincar pasar ritel, langkah pertamanya adalah menambah 3 karyawan baru dari jumlah 3 karyawan tetap.  Irvan menargetkan pada tahun- tahun ini produknya dapat dijual di berbagai supermarket lokal.

Jika tertarik dengan produk ini, anda bisa berkunjung ke tempat produksi keripik Tempe Mafia di Jalan Cipaera Selatan No. 5, Kosambi, Bandung, Jawa Barat. 
 
Selain itu, bisa juga dengan mengunjungi situs www.tempemafia.com atau mem-follow akun Twitter @tempemafia dan akun Facebook tempemafia untuk keterangan lebih lanjut. Langkah ini juga berlaku bagi kamu yang berminat menjadi reseller keripik ini. 
 
Ikuti langkah diatas agar sesuai dengan harga yang dipatok Irvan. Tempe Mafia tidak hanya melulu berupa keripik tempe. Ada pula produk keripik talas dan kacang peluru atau biasa disebut kacang Bandung. 
 
Kacang peluru hanya memiliki tingkat kepedasan 1-2 saja, sedangkan keripik talas dengan tingkat kepedasan yang sama dengan keripik tempe. Kacang peluru ini dibanderol dengan harga Rp20 ribu untuk kemasan 200 gram dan keripik talas Rp16 ribu pada kemasan 150 gram.

Para pembeli keripik tempe ini berasal dari Jakarta, Kalimantan, Jambi, Palembang, dan Medan. Ada pula mereka pembeli dari Amerika, Australia, China, dan Arab Saudi. 
 
"Ada pembeli dari China yang memesan 200 kilogram keripik. Lalu, pembeli dari Amerika, Australia, dan Mekkah (Arab) rata-rata memesan 5 kilogram," tutur pengusaha muda ini.

Lulus Kuliah Malah Wirausaha Ikan Asap

Profil Pengusaha Dwi Angga

 

wirausahaikan.png
  

Ketika lulus kuliah malah wirausaha ikan asap. Dwi Angga, usianya 24 tahun, malah melanjutkan usaha yang sudah 20 tahun ini. Tinggal diantara rawa- rawa dan tambak memang cocok. Maka cocoklah usaha mereka membuat ikan asap.


"Saya sendiri meneruskan usaha milik orang tua. Memang dari dulu usahanya ya pengasapan ikan ini," ia menjelaskan. Dia beranggapan kerja sama orang tidak enak. Maka dia lebih baik melanjutkan usaha milik keluarganya.


Tak malu meskipun dia merupakan lulusan kuliahan. Tampak rumah sederhana tersebut terjejer ikan- ikan asap. Diatasnya nampak cerobong asap yang mengepul hitam. Rumah- rumah di Desa Poropayung, Kec. Juwana, Kabupaten Pati, memang dikenal produsen ikan asap.


Bahkan baru 100 meter dari gapura sudah tampak baunya tercium. Di sana, tampak orang- orang yang mengerjakan sesuatu, ada yang tengah memotong ikan dengan batang kayu kecil. Adapula mereka tengah mengasapi ikan di dapur bercerobong asap.


Bahan bakarnya memakai batok kelapa. Kemudian ikan dikemas pakai koran bekas. Angga ketika dia ditemui pewarta Betanews.id, tengah sibuk menjejer ikan matang dan sembari dikipasi kipas angin biar dingin.


Pengusaha muda berkaos panjang, bersepatu bot karet, itu lantas melanjutkan ceritanya. Dia bercerita usahanya memproduksi aneka macam ikan. Dari ikan manyung, pari, jahan, dan kropak. Itu semua dia beli dari nelayang langsung.


Dia setelah dikemas akan diantarkan ke pelanggan. Angga sudah memiliki pelanggan tetap. Mereka adalah pemilik rumah makan di beberapa kota. Mereka dari Semarang sampai Yogyakarta ada. Dimana produksi ikannya mencapai 2 kuintal perhari, kalau kepala bisa 5 kuintal.


Harganya berbeda- beda tetapi terjangkau. Buat manyun paling mahal harga sampai Rp.60 ribu. Dan kepala dihargai Rp.30 ribuan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba