Pemuda Usaha Modal Nekat Saat Korona

Profil Pengusaha Awaludin

 
jualankorona.png
 
Kisah pemuda usaha modal nekat saat Korona. Ditengah pandemi COVID 19 ini, Awaludin usia 27 tahun, terpaksa memutar otak demi memenuhi kebutuhan. Warga Desa Pekayon, Kecamatan Sukardi, yang coba menjajal usaha minuman demi pundi- punding uang.

Awaludin merintis usaha bernama Susu Royal Jelly Drink. Minuman kemasan handmade yang dibuat di kawasan setempat. Modalnya stand mini dan memasarkan melalui sosial media. Dia mengaku mampu menjual 50 botol perhari.

"Saya jual satu botolnya Rp.10.000," ujarnya kepada BantenNews.co.id. Semenjak ada Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) di Tangerang Selatan, Awaludin mengalami kesusahan ekonomi. Krisis keuangan menerpa butuh uang.

Nekat Awaludin membuka usaha kecil menengah minuman itu. "Nekat saya Bang, semangat saja terus saya promosiin," jelasnya. Teman, saudara, dan tetangga ikutan membeli membantu. Inginya kedepan bisa memperluas usaha tersebut.

Suasana COVID 19 jangan membuat kita menyerah. Ingin semua pemuda modal nekat saat Korona gini. Usaha kita jalankan sembari saling membantu sesama masyarakat kecil.

Coklat Loosari Inovasi Berani Jadi Pengusaha

 Profil Pengusaha Saiful Abdullah

 

jadipengusaha.png
 
Membuat Coklat Loosari inovasi Saiful Abdullah. Dia berani jadi pengusaha. Dulu usahanya pernah ditolak orang. Kisah jatuh bangun Saiful untuk meyakinkan masyarakat sekitarnya tentang bisnis barunya. 
 
"Waktu itu, saya pernah menawarkan cokelat saya di suatu toko. Pemiliknya bilang: Mana ada cokelat di Makassar," kata Saiful menirukan. 
 
Sang pemilik toko menganggap coklat buatannya tak berkelas. Ia pun sempat diejek dan dipandang sebelah mata.  Menurut mereka coklat milik Saiful malah bikin sakit perut.

Tak mau diejek, ia lantas balik menantang agar mereka mau mencobanya dulu, "Kalau sakit perut, saya yang tanggung jawab," kata bapak tiga anak ini. Ia tak pantang menyerah.
 

Nekat Usaha

 
Makassar memang kaya akan produk kakao atau biji coklat, produksinya sangat melimpah namun pemanfaatannya masih sangat rendah. Masyarakat disana lebih senang menjual biji coklat mentah ke luar negeri.

Memanfaatkan produk pertanian menjadi produk jadi. Itulah Saiful, yang mengembangkan merek coklatnya sendiri. Ia mengolah coklat mentah menjadi coklat kemasan siap makan.

"Saya berpikir untuk membuat produk dalam bentuk jadi. Makanya saya mencoba masuk bisnis produk ini," kata Saiful.

Sebagai awalan, di tahun 2007, dia memulai dengan membuat coklat isi kacang mende. Produknya itu lalu diberi nama "Coklat Loosari". 
 
Modal yang dikeluarkan cuma Rp.1,5 juta untuk membeli bahan baku seperti 10 kilogram cokelat dan 1,5 kilogram kacang mede serta peralatan produksi lain seperti halnya mesin pemanas, pendingin, dan mesin sterilisasi.

Waktu itu Saiful menjelaskan produknya baru sebatas pesanan. Acara- acara tertentu saja terangnya. Soal kemasan pun masih biasa, hanya toples berbentuk tabung dan segilima. Setelah dua tahun produk Coklat Loosari -nya dipasarkan, kini, Saiful telah memiliki aneka varian rasa. 
 
Ada rasa cokelat isi keju, durian, dan kismis. Ia juga sudah menggunakan kemasan dan desain yang dipatenkan.

"Ada ukuran kemasan besar yaitu 16x11 gram dan yang kecil 8x11 gram. Kalau yang besar harganya Rp30 ribu dan yang kecil Rp15 ribu," kata dia.

Awalnya menawarkan ke toko tanggapan sinis didapatnya. Namun, Saiful tak pantang menyerah bahkan ia sempat- sempatnya kembali ke tempat coklatnya ditolak. Saiful pantang menyerah. 
 
Dari toko yang sama, dia menawarkan kembali produknya lagi. Setelah dia ditolak sebanyak 3- 4 kali, akhirnya sang pemilik toko mau saja menerima cokelat buatannya, tapi dengan syarat tertentu.

"Tapi, hanya menitip. Berapa yang laku itulah yang dibayar," kata dia.

Kini, setelah cokelat buatannya banyak peminat dan digemari pelanggan, toko- toko justru ingin pasokannya ditambah lagi. Ternyata kerja keras Saiful akhirnya berbuah manis. Sekarang, bahkan ketika ia telat saja mengirimkan barang si pemilik toko bisa ngomel- ngomel. 
 
"Kenapa saya dibedakan dengan yang lain," kata Saiful sambil terkekeh. Para pelanggannya menyukai produknya, cokelat dengan berbagai isi yang dikemas dalam wadah toples ini.

"Sekali beli dapat banyak rasa," kata dia.

Pria yang kini berusia 48 tahun ini, memproduksi sekitar 300- 400 bungkus Cokelat Loosari per- hari, dan dibantu dengan 4 orang pekerja tetap dan 2 orang pekerja lepas. Berapa keuntungan yang didapatkan dari bisnis ini? Saiful tak menjelaskan keuntungannya secara rinci. 
 
Namun, pendapatan dari bisnis mencapai lebih dari Rp50 juta setiap bulan. "Sekarang omzetnya sekitar Rp60 juta per bulan," kata Saiful.

Dia menjelaskan produknya baru dijual sebatas wilayah Makassar dan sekitarnya. Tapi, Coklat Loosari bisa dipesan antarkan ke Balikpapan, Palu, Bandung dan Menado. Pernah juga dijual keluar negeri, tepatnya, pembeli menjual kembali coklat buatannya.

Ia kemudian menambahkan, produknya telah lolos uji sertifikasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Oleh karena itu, Cokelat Loosari ini aman dikonsumsi. Tidak hanya itu, merek Cokelat Loosari pun sudah terdaftar sebagai Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Kalau tidak salah, dari BPOM itu dapatnya pada 2010 dan HAKI tahun lalu," ungkapnya kepada VIVA News.

Saiful pun mempersilakan siapa pun untuk mengunjungi gerai Cokelat Loosari -nya, di kompleks Alam Hijau Sejahtera, Jalan Tidung VII No. 102, Kelurahan Mapala, Makassar Pemesanan juga bisa mengirim e-mail kepada loosari@ymail.com atau mengakses situs www.loosari.com. 
 
Saiful mematok jumlah minimal pemesanan Rp1 juta. "Tentu biaya kirim ditanggung pembeli," kata Saiful.

Biografi Arifin Panigoro Bangkit Menjadi Pengusaha

Biografi Pengusaha Arifin Panigoro

 

arifinpanigoro.png

Bangkit menjadi pengusaha begitu nilai kami petik. Biografi Arifin Panigoro menjadi salah satu orang terkaya Indonesia. Bermula pemotongan nilai mata uang atau redenominasi dulu. Atau kita menyebutnya proses sinering. Efek utamanya penurunan nilai mata uang hingga turun barang dan jasa.


Sinering menjadi momok bagi pengusaha dulu. Kejadian parah terjadi pada 1965 dan mungkin terjadi kembali. Sinering menghantam keras bisnis keluarga Arifin Panigoro muda. Dulu keluarganya memang telah menekuni bisnis.


"Dan bisnis tidaklah selamanya langgeng. Bisnis bapak saya anjlok karena imbas pemotongan mata uang ini," terang Arifin ke Okezone.com. Usaha dikerjakan keluarga bangkrut sampai terpaksa menjual aset. Salah satunya rumah ditinggali dijual buat membayar hutang.

 

Merintis Bisnis


"Saya merasakan betul bahwa survival itu tidak gampang," tandasnya. Arifin kemudian tumbuh jadi pegawai radio dan televisis Philips. Dia kemudian berkenalan dengan sosok Jusuf. Dia mengenalnya sebagai pengusaha penjual televisi.


Ia jualan televisi barang elektronik ketika cuma TVRI. Terutama ketika stasius televisis ini masuk ke daerah Tangkuban Perahu. Penjualan elektroniknya laris manis sampai melupakan sesuatu. Jusuf juga berjualan tekstil kain tetapi terbengkalai.


Dia terlalu sibuk berjualan elektronik. Disisi lain, pedagang lain mulai meninggalkan jualan kain dan menjadi pakaian jadi; Jusuf tidak melakukannya. Terlalu fokus bisnis lain membuatnya kurang awas berbisnis. Dia kehilangan tren alhasil ditinggalkan pembeli.


Pelanggan bertahap beralih ke produk pakaian jadi. Arifin belajar banyak dari kisah tersebut. Bahkan inilah yang membuat bangkit menjadi pengusaha. Arifin tidak pernah merasa trauma. Menjalankan kewirausahaan sudah mendarah daging.


Biografi Arifin Panigoro kelahiran Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945, dikenal pengusaha Indonesia yang merupakan pendiri Medco. Bukan perkara mudah dia merintis ketika dimasa Order Baru. Pada masanya dikenal pengusaha pribumi kurang diperhatikan.


Kedua orang tuanya merupakan kelahiran Gorontalo pindah ke Jawa. Arifin termasuk aktif dalam dunia perpolitikan. Pernah dia menjadi pendiri Partai Demokrasi Pembaruan. Nama- nama terkenal di dunia politik dikenalnya, antara lain Sophan Sophian, Laksamana Sukardi, Roy B.B Janis, dll.


Dia pun pernak bergabung dalam PDI- Perjuangan. Masa Orde Baru tumbang, pada 1998, namanya sudah dikenal berbisnis perminyakan. Pergaulan Arifin meluas termasuk pejabat Pertamina dan pula perusahaan minyak internasional.


Ketika masa reformasi banyak mahasiswa turun ke jalan. Arifin sadar politik. Sumbangsih Arifin telah menjadi simbol kebangkitan pengusaha berpolitik. Banyak pengusaha yang ragu bergabung gelombang reformasi. Arifin menjadi simbol lewat membagi- bagikan nasi bungkus gratis.

 

Alumni Elektro Institur Pertanian Bandung tahun 9173. Bermula dia menjadi kontraktor instalasi listri door to door pada 1980 -an. Berlanjut, masih masa Orde Baru, Arifin menjajal pemasangan pipa kecil- kecilan. Dia kemudian mencoba menggarap pipa diameter besar.


Sayangnya, dalam peraturan, proyek semacam tersebut diperuntukan perusahaan asing. Pengusaha lokal seperti dirinya akan didepak. Pasalnya perusahaan asing lebih memiliki peralatan canggih. Arifin menemukan sesuatu harus dirubah.


Andaikan pemerintah mendukung pengusaha lokal bersaing. Bagaimana bisa ikut menangani proyek- proyek sekala besar. Pada 1981, Arifin nekat mengerjakan proyek pipanisasi skala besar. Caranya ia melalui kerja sama dengan perusahaan asing.


Deal -nya unik, bukan keuntunga, melainkan satu kali proyek berhasil maka dibayar alat. Perusahaan asing akan memberikan peralatannya ke Arifin. Mitra setuju kemudian proyek berhasil. Arifin hasilkan peralatan gratis buat dijadikan modal.


Kemana- mana dia masuk proyek berbekal peralatan tersebut. Memang dukungan pemerintah sangat berpengaruh. Beruntung pemerintah mulai menyadari kebutuhan lokal. Ingin rasanya ikut membantu pengusaha lokal. Perusahaan asing mumpuni karena pengalaman mengerjakan bertahun- tahun.


Perusahaan lokal kemudian akan menjadi mitra pengerjaan. Ketika terjadi oil boom, pada 1979- 80 -an, Sekertariat Negara hendak membangun beberapa kilang baru. Pemerintah punya progam pembinaan perusahaan lokal. 

 

Medco akan membangun kilang minyak di Cilacap. Perusahaan Arifin Panigoro dikawinkan dengan perusahaan asal Amerika Serikat. Ikut mengerjakan perusahaan Arifin mendapat pengalaman. Untung ya, Arifin punya kedekatan dengan Dirjen Migas Miharso yang ingin kemandirian perusahaan lokal.


Kemudian ada proyek penyertaan modal pemerintah ke Pertamina. Targetnya pengeboran gas wilayah Sumatra Selatan. Pemerintah mendorongnya ikut tender, meskipun Medco belumlah memiliki alat pengeboran. Perusahaan asing diminta memakai orang Medco, dan menyewakan alat ke pada mereka.


Namun perusahaan asing tersebut memberikan tanggapan negatif. Pak Miharso tersinggung. Dia lalu membatalkan. Dan nekat meminta Medco mengerjakan proyek sendiri. Biografi Arifin Panigoro sama sekali tidak percaya, karena dia tidak memiliki pengalaman mengebor.


Hasilnya, Arifin kelabakan karena tender 1979 harus sudah dikerjakan 1980. Perasaan campur aduk, ia menerima tantangan itu. Arifin lalu mengajak staf yang mampu berbahasa Inggris. Disuruhnya dia ke pusat perbelanjaan paralatan pengeboran di AS.


Begitu yakin akan harga maka Arifin sendiri terbang ke Amerika. Inilah pengalaman pertamanya, ini pertama kali perjalanan bisnis, Arifin berangkat dari Jakarta ke Houston, Amerika Serikat. Dia punya modal 300.000 dollar dan "bahasa Inggris Tarzan".


Penjual meminta dalam dua minggu harus dilunasi. Atau uang $300.000 miliknya akan hangus. Total ia mengeluarkan $4 juta. Arifin tidak bisa menawar karena posisinya jelek. Pengalaman terbang itu menjadi pembelajaran. Pengalaman terbang panjang memakai fasilitas pesawat kelas ekonomi.


Sesampai di Jakarta, Arifin jatuh sakit dan tetap harus melakukan pertemuan. Arifin harus menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh lalu ke Pertamina. Inilah kisah bangkit menjadi pengusaha "bayi". Hingga Pak Piet Haryono dan Pak Wiharso sepakat Medco harus dibantu.


Sejarah Medco


Mereka memberi rekomendasi di akhir ambang perjanjian. Maka cairlah dana pemerintah meskipun hampir gagal. Medco sudah memiliki modal menjalankan proyek. Arifin makin positif bahwa kedepan pengusaha lokal dapat berjaya.


Medco mulai mengerjakan aneka proyek semenjak 80 -an. Masa kejayaanya datang ketika tahun 1990 -an. Dimana perusahaan aktif merangkul perusahaan asing. Mereka belajar sembari mempraktikan itu langsung. Tidak mudah karena sudah dibor belum tentu menghasilkan minyak.


PT. Medco Energi Internasional mengelola keuangan jutaan dollar. Keinginan mandiri selalu menjadi motivasi Arifin. Hingga di tahun 1990 -an, dibelinya lahan sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur seharga 13 juta dollar.


Ia mampu menghasilkan 4000 barel perhari dari ladang minyak. Tahun 1995, ia membeli ladang sumur tua milik PT. Stanvac Indonesia milik ExxonMobil, yang membuat Medco menghasilkan 80.000 barel minyak perhari.


Arifin mampu membuat sesuatu dari ketidak tahuan. Berkat kilang minyak tersebut dia memiliki suatu kesempatan: Meta Epsi Drilling Company (Medco) membeli kepemilikian PT. Stanvac. Yang berarti melepaskan kepemilikan asing Exxon, dan mengganti namanya menjadi Expan.


Menurut cerita campur tangan pemerintah dirasa. Namun Arifin membantah, menyatakan bahwa ia melakukan tender internasional. Pembeli pun tidak bisa menemui pemilik langsung. Setelah selesai pembelian, mereka bertemu, dan ternyata sisa minyak dihasilkan cuma 20 juta barel.


Arifin menggenjot pengeboran mampu menaikan sampai 320 juta. Sukses dia beralih menyasar gas karena pemikiran sederhana. Bila mampu berjaya memproduksi minyak kenapa gas tidak. Padahal Indonesia merupakan produsen gas besar. 

 

Dan banyak rekan pengusaha berteriak membutuhkan gas buat produksi. Cadangan gas LNG dikatakan mencapai 170 triliun kaki kubik atau 50 tahun tak habis. Arifin menyoroti pula bahwa PLN memakai gas akan lebih murah ketimbang BBM.


Arifin sendiri memang dulu sudah aktif politik. Tetapi inilah masalahnya ketika masa Orde Baru. Dia menjadi sosok ditarget oleh orang- orang tertentu. Tampaknya mereka tidak suka akan keahlian bisnis Arifin.


Pernah, pada tahun 1997, dia melakukan pertemua biass di Hotel Radisson Yogyakarta. Tetapi banyak orang bersuara bahwa itu gerakan Arifin. Bahwa dia dituduh mencoba menggagalkan Sidang Umum MPR, menghalangi Presiden Soeharto menjadi Presiden ketujuh kali.


Ketika Arifin memberikan nasi bungkus ketika reformasi. Arifin sempat dituduh menjadi cukong para mahasiswa. Era BJ. Habibie, Arifin sempat dijerat kasus korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai Rp. 1,8 triliun.


Banyak orang menduka karena dirinya dekat gerakan mahasiswa. Era Megawati, sama Arifin sempat akan dijerat lewat kasus di Kejaksaan. Diduga karena Arifin dianggap tidak sesuai aktifivas politik umumnya. Dia tidak kaget ketika berhadapan money politic.


Dia terbiasa dan menolak. Bahkan Arifin menolak fasilita negara dalam berbisnis. Arifin bukanlah sosok malaikat. Bila di Amerika meneraktir $100 sudah termasuk gratifikasi. Arifin tidak seketat itu, dia mengikuti peraturan berlaku, dan terus berharap akan ada good goverment seperti di Amerika.


Arifin mulai aktif politik praktis lewat PDI Perjuangan. Dia mengapresiasi perjuangan Megawati akan mereformasi Indonesia. Dia pun melenggang menjadi anggota DPR/MPR fraksi PDI-P. Arifin sering disebut tidak loyal atau cuma "indekos".


Namun ia termasuk pemberi jalan mulus Megawati menjadi Presiden. Ia pun dianggap anak nakal. Dia keluar atau dikeluarkan partai tidak terdapat bukti. Arifin meyakini dirinya dikeluarkan. Arifin sosok independen dan mengakui oportunis (dalam positif).


Ia respek orang seperti Cak Nun. Pria yang bernama asli Noercholis Majid tersebut, berminat menjadi presiden tetapi tidak berpolitik. Arifin mulai berpikir terbuka mengenai perpolitikan. Siapapun boleh memajukan dirinya menjadi pejabat bahkan Presiden.


Suami dari Raisis A Panigoro yang memiliki dua orang anak. Anak pertama, perempuan bernama Maera Hanifah yang sudah menikah dan memberi cucu. Bungsu bernama Yaser Mairi, yang tertarik akan dunia IT dan berkuliah di Singapura. Arifin tidak memaksa mereka masuk bisnis Medco.


Arifin sempat merasa kehilangan masa kecil mereka. Terlalu sibuk bekerja, ia merasakan kurang bisa memberi perhatian, jujur jam kerjanya awur- awuran. Dia agak menyesali kurang dekatnya. Arifin sendiri tidak memaksa ikut Medco, dan lebih mengajak adiknya, Hilmi Panigoro.


Meskipun dia dijuluki "Raja Minyak" dan masuk orang terkaya Indonesia. Baginya kaya relatif, dan sukses hanya mengikuti jalan menggelinding saja. Pengusaha Arifin Panigoro sendiri sudah beberapa kali dicekal keluar negeri. Tapi orang menyebutnya kaya namun apa definisi kaya.

Sejarah Coklat Monggo Pengusaha Thierry Detournay

Profil Pengusaha Thierry Detournay

  
coklatmonggo.png
 
Yuk dengar sejarah coklat monggo. Bermula kecintaan akan Yogyakarta pengusaha Thierry Detournay. Dia bukanlah orang asli Yogya, bahkan dia bukan orang Indonesia, Thierry Detournay seorang bule asal Belgia. 
 
Ceritanya sih, waktu itu, tahun 2001 -an ketika ia berkunjung ke kota Yogya ada perasaan menggelitik dirinya. Sekian tahun sudah dirinya tinggal di Indonesia ada rasa kangen akan produk coklat khas Belgia.

Ia tak bisa menemukan cita rasa coklat asli Belgia disini. Jadilah ide membuat usaha coklat sendiri bergulir.

Sejarah Coklat Monggo


Ketika anda bertemu dengannya jangan kaget bahasa Indonesia -nya begitu fasih. Memang sudah bertahun- tahun Mr. Thierry tinggal disini. Dan untuk menghilangkan rasa kangen akan negara asal, ia sering membuat coklat sendiri. 
 
Dari hanya untuk dikosumsi pribadi, hingga teman- temannya menyukai coklat buatan Thierry. Mereka merasakan coklat miliknya berbeda dengan yang ada di pasaran.

Akhirnya ia bersama- sama memproduksi coklat sekala rumahan. Mulanya coklat- coklat buatannya dijual di sekitaran UGM saat hari Minggu, saat acara SunMor (Sunday Morning). Cara berjualannya unik agar bisa menarik perhatian mahasiswa disana. 
 
Thierry selalu berjualan menggunakan motor vespa warna pink yang mencolok. Dengan pembawaan yang kocak ia menyebut dirinya sendiri "bule gila" berjualan coklat sendirian. Karena pembawaan yang kocak justru produknya semakin diliri. 
 
Banyak orang mencari- cari keberadaan si bule gila ini. Dibawah naungan CV. Anugrah Mulia semakin moncerlah bisnis coklatnya. Pembuatannya kala itu masih konvensional di sebuah rumah kecil di Jalan Dalem KG III/978, kota Gede, Yogyakarta.

Produk coklatnya sangat eco- friendly memakai pembungkus kertas bisa daur ulang. Soal cita rasanya, produk coklatnya merupakan perpaduan rasa timur dan barat. Semakin tumbuhanya perusahaan, label CV pun ia ganti. 
 
Ditahun 2005, ia resmi membuat perusahaan besama seorang rekan, Edward. Perusahaan yang diberi nama  PT Anugrah Mulia Indobel, dan memproduksi coklat bernama "Cocomania", dan kini berganti menjadi "Monggo".

Berjalan waktu Therry membuka toko di daerah Prawirotaman Yogyakarta, namun akhirnya tidak bertahan lama karena memang kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Kemudian ada beberapa untuk pilihan tempat baru. 
 
Ia akhirnya memilih lokasi di Kotagede untuk mendirikan toko dan tempat produksi. Nama "Monggo" sendiri datang tiba- tiba. Kala itu Edo (direktur) dan Burhan (staf kreatif) tengah berkumpul mencari nama produk unik. Kala itu kata "monggo" tersirat diantara mereka.

"Monggo" sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti "silahkan". Monggo biasanya diucapkan oleh orang Jawa untuk menunjukan bentuk sopan santun mempersilahkan. Nama tersebut sangat kental Jawanya, cocoklah dengan perusahaan yang berbasis di Yogya. 
 
Sejak 2010, sudah 100 karyawan dimana usahanya tak lagi cuma di Yogya, tapi juga Jakarta. Untuk pabrik sendiri Tierry masih tetap menempatkannya di daerah khusus Yogyakarta, tepatnya di Kota Gede.

Cokla Monggo memiliki slogan "The Finest Indonesian Chocolate", mempunyai terkandung misi: misi spiritual, yaitu menciptakan kenikmatan dalam menikmati coklat untuk orang Indonesia. Misi kedua, misi bisnisnya adalah membuat racikan terbaik untuk menciptakan coklat terbaik. 
 
Tidak mau tanggung- tanggung perusahaan rela mendatangkan chocolatier atau ahli membuat coklat langsung dari Belgia untuk mewujudkan misi. Prinsip C-U-E-G-S (Care, Unique, Educate, Genuine, dan Share) menjadi landasan usahanya.

Mantan Preman Jadi Pengusaha Raja Kopi

Profil Pengusaha Gunawan Supriadi

 
mantanpreman.png
 
Predikat mantan preman hanyalah masa lalu bagi pengusaha ini. Dulu Gunawan Supriadi (41 tahun) memang pernah memiliki reputasi sangat buruk. Dikenal sebagai preman dia telah menguasai sejumlah lahan di kawasan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. 
 
Hanya semenjak mengenal binatang luwak. Gunawan tak lagi menjadi satu orang yang ditakuti oleh masyarakat. Namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha asal daerah itu.

Dia merupakan salah satu produsen kopi luwak. Khas daerah Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, yang kaitannya dengan produk Raja Luwak. Dia tinggal memelihara luwak di pekarangan rumahnya. Melalui sosok mereka lah dia bertransformasi menjadi sosok lain.
 

Jadi Pengusaha

 
Dengan merek dagang Raja Luwak, produknya bisa ada merambah kafe- kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia. Bahkan kampungnya menjadi terkenal atas komoditas produk satu ini. 
 
Kopi luwak asli bekerja sama dengan beberapa eksportir, kopi ini bisa sampai ke nagara- negara lain, seperti ke Korea, Jepang, Hongkong, dan juga Kanada. Khusus kopi asal Liwa memiliki kualitas termasyur sebagai representasi Indonesia. 
 
Harganya bisa mencapai Rp.5 juta sampai 8 juta per- kilogram. Harga ini jauh daripada produk kopi Hacienda dari Panama misalnya. Juga beda dari kopi St Helena asal Afrika, yang katanya masuk dalam jajaran kopi termahal di dunia. Harga masing- masing terjual Rp.1,5 juta dan Rp.1 juta per- kg. 
 
Jika dibanding kopi luwak Gunawan, cuma 600.000 rupiah, ini lebih murah berkali- kali lipat dari yang kamu bisa dapatkan. Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga mampu memberi nilai tambah.

Yaitu sosoknya bisa menjadi pemimpin membawa kesejahteraan bagi para petani kopi. Pada jalannya itulah mereka sebagai petani terangkat biji kopinya. Usaha macam ini membuat mereka lebih untung daripada hari- hari biasanya.

"Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat-marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini," ujar Gunawan.

Dia lah ketua para perajin kopi luwak, yang mana membina dan mengkordinasi 10 produsen kopi. Sebagian mereka merupakan pemula dalam bisnis kopi tersebut. Ia menampung kopi dari mereka. Lantas membantu menjualkannya, utamanya jika Gunawan mendapatkan pesanan besar. 
 
Setiap para perajin diharuskan untuk storan 5kg kopi luwak. Kopi luwak itu masih berupa kotoran atau brenjelan. Mereka juga dikordinasi dalam bentuk iuran- iuran. Fungsinya untuk bantuan pinjaman modal, termasuk juga untuk membeli kandang luwak baru. 
 
Gunawan justru ingin membuka peluang bagi petani lain. Konsep dari monopoli bisnis kopi luwak jauh dari cara pikirnya. Preman ini sudah insaf, ia jugalah jadi sosok pecinta binatang, dia mengatakan kopi Liwa merupakan kopi budidaya.

Dia paham betul keterancaman si luwak sendiri. Ia ingin menyelamatkan populasi luwak dari diburu dan juga dibunuh. Dulu di daerah ini luwak merupakan hama karena memakan biji kopi disini. Disini di kebun- kebun kopi, merek diburu pakai racun babi (Timex) jelasnya miris. 
 
Sejarahnya kopi luwak Raja berasal dari kira- kira tiga tahun lalu. Gunawan mengaku hobi memelihara hewan- hewan liar, salah satunya ya si luwak.

Dua luwak pertamanya ia bercerita diberinya nama Inul dan Adam. Mengambil nama dari pasangan penyanyi dangdut tersebut. Waktu itu ia mejelaskan luwaknya cuma dipelihara. Eh, suatu hari, ada teman yang datang meminjam luwaknya. 
 
Lama ke lamaan menjadi sebuah kebiasaan dan terus menerus. Merasa penasaran, ia mencari tau. Temannya itu meminta ijin merawatkan dan memberi makan kopi. Dia melihat kok kotoran dari peliharaanya itu dijual.

Mantan Preman

 
"Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?" ungkapnya. Itulah awal mula cerita pengalamannya merintis usaha kopi luwak. Menulusuri internet ia lalu menemukan fakta di China, 0,5kg bubuk kopi luwak asli bisa dijual Rp.3,5 juta. 
 
Dia melihat satu peluang usaha menjanjikan. Ketika itu Gunawan masih bekerja serabutan. Terkadang jadi petugas satpam, kadang ia mengumpulkan uang parkiran dari pasar- pasar. Kenangnya ia saat itu punya 16 anak buah. 
 
Ia lantas meminta bantuan anak buahnya untuk mencari- cari luwak. Sebanyak- banyaknya luwak itu dipeliharanya sendiri. Namun, awalnya, ia diganjal masalah pemasaran utamanya untuk menjual dari pintu kafe lalu ke hotel- hotel. Dengan lugunya ia membawa luwaknya langsung untuk bukti.

"Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet," ujarnya.

Pelahan tapi pasti usahanya berkembang. Tercatat dia kala itu memiliki 60 ekor luwak peliharaan. Tapi, saat ini, ia cuma memelihara 26 ekor karena sisany diserahkan ke petani binaannya. Ada pula yang sudah dilepas ke alam liar. 
 
Rata- rata usahanya bisa mencapai 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal berbentuk brenjelan. Kini ketika usahanya telah mapan, Gunawan tak lagi menjadi kordinator parkir di pasar. Usahanya sekarang jadi lebih menjanjikan.

Dia ternyata pernah ditahan di penjara loh. Karena perselisihan parkir inilah ia masuk ke penjara. Dia tak mau lagi menyusahkan keluarga, dan karena usaha barunya ini, keluarganya lebih terlindungi. Hasil dari usaha miliknya ialah sebuah kendaraan dan kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku. 
 
Usaha kopi sukses menjadi kemendarian bagi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya itu dilakukan mereka mandiri.

"Dulu pernah ada pengusaha kaya Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru "ditendang". Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita "dijajah" asing lagi," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba