Sukses Septian Suryawirawan Menjadi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Septian Suryawirawan


sukses septia suryawirawan

Ikuti kisah sukses Septian Suryawirawan berikut. Kisah menjadi pengusaha muda penuh tantangan. Ia menyadari hal tersebut, dan memilih bekerja lebih keras sampai menjadi miliarder. Dia merupakan mantan kru magician, Romy Rafael.

Pria kelahiran 4 September 1988 yang pernah menjadi kru magician Romy Rafel. Semenjak kecil dia tinggal bersama nenek di Surabaya. Ia terlahir prematur disaat usia kandungan enam bulan. Ibunya yang melahirkan Tian, malah pergi ketika melihat batapa kecilnya bayinya tersebut.

Sang nenek kemudian turun tangan bertanggung jawab membesarkan. "Mama saya melarikan diri dari rumah sakit, dengan alasan kecilnya saya itu sudah gak layak dilihat," kenangnya. Nenek lalu merawaknya tinggal bersama di sebuah rumah di gang sempit.

Nasib Siapa Tau


Ukuran rumahnya cuma 3x7 meter tanpa perabotan lain, bahkan kursi. Nenek Tian bekerja menjadi penjual sate keliling. Hingga suatu hari, neneknya mengeluh sudah tidak sanggup lagi bekerja jualan sate. Maka Tian bertekat bertanggung jawab meskipun sama sekali tampak buram.

Dia pusing. Tidak pernah dibayangkan akan bekerja diusia muda. Disisi lain, masa depan pendidikan Tian dalam ujung tanduk. Dia cuma bisa berdoa. Sampai telephon masuk dari saudara menawarkan kerja menjadi badut.

Tian bekerja menjadi badut di Tanjung Plaza Surabaya pada 2002- 2003. Dimana dia cuma dibayar Rp. 35 ribu perhari. Selepas itu, dia langsung berangkat ke Jakarta, mengikuti ajang magician yang bernama The Master; tetapi dia gagal.

Tian beranggapan mungkin karena tampangnya tidak menjual. Pulang tangan kosong namun ketemu kesempatan lain. Dia bersyukur bahwa master Romy Rafael memberi kesempatan. Dirinya dijadikan marketing sekaligus bantu- bantu.

"Saat itu saya kerja sama Romy cuma bantu- bantu. Saya liat dunia magician sedang naik daun," tutur Tian. Menjadi pengusaha muda bukanlah optional tetapi kerja keras. Dia menemukan jalannya justru dari bisnis MLM.

Dibesarkan nenek, Tian cuma sekolah sampai di bangku sekolah kelas 3 SMP. Dia tidak melanjutkan sekolah. Tian lebih memilih bekerja. Berbisnis MLM saja ternyata menghasilkan uang sampai sejuta dollar. Tian yakin bahwa perusahaan yang menangungi memiliki kredibilitas dan kemampuan.

Sampai ia mampu memiliki 2 buah rumah, 7 apartemen yang tersebar di beberapa kota, dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, dan beberapa mobil mewah.

Sempat dia akan digugurkan ibunya karena sebab keuangan. Kemungkinan karena dia tidak disangka akan jadi. Tian ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ibu seperti tidak mau memiliki anak lagi.

Sukses Septian Suryawirawan


"Saya ingin (hampir) digugurkan, tetapi Tuhan berkehendak lain," Tian bersyukur. Walau bekerja keras nasib sempat seolah tidak memihak. Ia habiskan waktu sekolah cuma buat menjadi badut. Dia bahkan hampir pingsan. Menjadi badut jalanan merupakan pilihan sempit buat bekerja.

Pasalnya dia tidak memiliki kemampuan ekonomi buat melanjutkan. Ijasah SMP dijamannya tidak terlalu berarti. "Pertama- tama saya sampai pingsan (jadi badut), karena enggak kuat. Tetapi saya kembali, karena kalau enggak kerja kasihan nenek saya," ucapnya.

Setelah mempelajari badut maka dilanjutkan belajar sulap. Dia sempat menjadi penjaga toko sulap sampai 2 tahun. Akhirnya dia berkecimpung di dunia sulap dimana lebih menjanjikan. Dilanjut dia masuk program Lecture oleh Dedy Corbuzier pada 2004- 2005 di Surabaya.

Tian yang sudah belajar sulap mengalami perubahan hidup. Ketika musim sulap redup maka sempat membuatnya sempat khawatir. "Saat magician sempat turun, saya pikir bahaya nih, karena saya gak akan dapat uang," ucapnya.

Beruntung dia memiliki bakat berjualan hingga dipakailah. Dia sempat menjadi promotor musik di era "booming" boyband dan girlband. Akhirnya dia menjajal berbisnis promotor musik bermodal uang Rp.1 miliar.

Dia bermodal mulut menjual idenya kepada orang kaya. Dan akhirnya mereka mensuport bisnis ini kedepan. "Padahal saya gak punya skill event," celetuk Tian. Berlanjut setiap event yang dijalankan ternyata berjalan lancar dan sukses.

Tian mulai menekuni dunia promotor kedepan. Dia lantas berpikir dana pensiun. Pikirnya dia bisa hasilkan banyak uang menjadi promotor. Tetapi dia harus terus bekerja buat hasilkan uang. "...saya bisa kaya tapi tidak bisa pensiun. Saya cari solusi pekerjaan bisa buat pensiun saya," ucapnya.

Ia kemudian bertemu sahabatnya, Marcel Halim, penulis buku best seller di Nasi Cumi Pasar Atung. Marcel melihat Tian bekerja keras tetapi berhenti. Dia hasilkan uang tetapi selalu cuma mencukupi kebutuhan. Telah bekerja keras tetapi Tian tidak kaya- kaya.

Ia mengundang Tian berbisnis talk fushion. Inilah usaha berbasis teknologi yang hasilkan miliaran rupiah. Komisinya dollar walau dikerjakan dari Indonesia. Sistemnya terbentuk hingga mampu kita hasilkan miliaran rupiah. Inilah cara Septia menjadi pengusaha muda kaya raya.

Jatuh Bangun Denim Batik Bisnis Lazuli Sarae

Profil Pengusaha Maretta Astri Nirmanda


denim batik

Pengusaha berikut menjadi inovator denim batik real. Berbekal juara runner up ajang Rencana Bisnis Kreatif yang diselenggarakan Kementrian Perdagangan tahun 2010, Maretta Astri Nirmanda bersama kedua sahabatnya jadi percaya diri mengembangkan bisnis mereka.

Tak sampai dua tahun mereka berbisnis sukses. Ia menunjukan bisnisnya kini dapat berkembang pesat dan menjanjikan. Meski kedua orang tuanya bekerja kantoran, ternyata ada darah bisnis yang mengalir dalam dirinya.

Retta begitu penggilan akrabnya memilih wirausaha sebagai jalan hidup. Diusia yang ralatif masih muda, ia mengaku telah berkeinginan kuat buat berbisnis. Bersama sahabatnya, Ivan Kurniawan, keduanya sama- sama punya visi tentang bisnis fasion.

Sejak kuliah jurusan Kriya Tekstil di Institut Teknologi Bandung (ITB), dimana keduanya memang sudah sering berbincang tentang hasrat berbisnis.

"Namun, saat itu, hanya sebatas ide tanpa ada tindak lanjut. Selepas kuliah pun kami langsung kerja kantoran di Jakarta," ujar wanita kelahiran 22 Maret 1986 ini.

Memilih Wirausaha

Ide bisnis muncul lagi ketika Ivan mengontaknya di Juli 2010. Keduanya sepakat mengikuti sebuah lomba untuk mengembangkan ide bisnisnya. Sebuah kontes Rencana Bisnis Kreatif 2010 tersebut diselenggarakan oleh Kementrian Perdagangan.

Waktu itu, Retta setuju saja, tapi ternyata konsep bisnis kuliner miliknya tak bisa diterima. Kala itu konsep bisnis kuliner tidak dimasukan dalam industri kreatif, ia pun mengganti konsep itu. Dia teringat temannya Gilang M. Iqbal, yang membuat tugas akhir bertajuk "Batik on Denim".

"Ide ini menarik. Saat itu batik lagi booming dan batik di atas denim yang sifatnya komersial belum ada," ujarnya. Bertiga, mereka maju mempresentasikan rencana bisnis tentang ‘batik on denim’ (batik di dalam kain jins) tersebut.

Tak disangka, rencana bisnis itu bisa masuk sebagai juara runner up. Atas kemenangan tersebut, mereka bertiga berhak atas hadiah Rp.10 juta. "Lalu, kami putuskan hadiah ini menjadi modal usaha," ujar Retta.

Sebagai langkah bisnis ketiganya melakukan riset ulang. Ternyata, mereka tidak lah punya bekal kuat untuk menjalankan bisnis tersebut. Mereka harus mempelajari teknik pembuatan batik di atas bahan jins ditambah menghitung biaya produksi kembali

"Butuh waktu 3 bulan untuk persiapan. Ternyata membatik di atas denim lebih sulit daripada di atas katun," ungkap wanita yang pernah bekerja sebagai desainer grafis ini. Tak patah semangat, Retta akhirnya berhasil memproduksi beberapa pakaian.

Saat barang itu siap diproduksi, Retta langsung merencanakan pemasaran. Karena terget pasarnya itu anak muda, jadilah bazar di kampus sebagai langkah awal produk dipasarkan. "Tapi sayang, hanya terjual dua potong," ujarnya, ia mengaku sempat terpuruk.

Semangatnya muncul kembali ketika mereka mendapat kesempatan mentoring langsung dari Kementrian Perdagangan. "Kami mendapat arahan dari orang-orang yang sudah sukses di berbagai bidang, seperti Betty Alisjahbana, Rene Suhardono, dan Iim Fahima," jelasnya.

Ia dan timnya mendapatkan banyak bekal untuk berbisnis kembali. Mereka pun menyusun ulang rencana bisnisnya, mereka berbenah. Mereka serius membuat katalog bisnis dengan merek dagang atau clothing line, Lazuli Sarae.

"Lazuli diambil dari kata lazhward, bahasa Persia, yang artinya biru. Sementara sarae dalam bahasa Sunda yang berarti bagus. Jika digabungkan, nama ini terdengar seperti brand luar negeri, dengan tujuan produk kami goes global," jelas Retta.

Tak hanya itu, ia mendaftarkan bisnisnya ini menjadi badan hukum. "Meski menelan biaya belasan juta dari modal kami, dengan dikukuhkan sebagai badan usaha, akan mempermudah transaksi dan memperluas kesempatan bisnis," ungkap Retta. Pada bulan Maret 2011, lahirlah CV Sarae.

Dari sini, Retta mulai fokus, tak mau setengah- setengah membesarkan bisnisnya. Ia dan Ivan telah sepakat untuk berhenti dari pekerjaan masing- masing. Sayangnya, Retta harus sedikit bersabar karena telah terikat proyek dengan kantor lamanya.

"Masa-masa itu, pikiran, waktu, dan tenaga saya benar-benar habis terkuras. Saya bekerja dan menjalankan bisnis bersamaan. Bolak-balik Jakarta-Bandung tiap minggu," ujarnya.

Keputusan resign itu memang berat terasa bagi Retta karena ia harus meyakinkan kedua orang tuanya. Dia terus menepis hal negatif yang dilontarkan teman- temannya.

"Banyak yang bilang, membangun usaha tidak gampang. Namun, tekad saya sudah bulat untuk serius membesarkan usaha sendiri," ungkap Retta.

Resign Kerja


Setelah fokus dan benar- benar total menjalankan bisnisnya, April 2011, Lazuli Sarae mendapat undangan khusus dari Departemen Perdagangan untuk menjadi peserta di pameran Inacraft 2011.

"Pameran ini memberi dampak sangat besar. Saya belajar banyak, terutama membaca keinginan pasar," ujarnya. Menurutnya, Inacraft membuka gerbang bisnisnya. "Produk kami makin dikenal banyak orang. Dalam lima hari, omzet kami lebih dari 20 juta! Ini fantastis," ungkap Retta.

Perlahan namun pasti, brand miliknya, Lazuli Sarae, makin banyak dikenal orang dari berbagai kesempatan.

Gencarnya promosi melalui toko online -Rakuten, Multiply, dan media sosial -Facebook, Twitter, Yahoo Messeger, membuat nama brandnya populer di internet. Karena sasaran mereka adalah anak- anak muda yang melek internet, cara marketing seperti ini benar- benar efektif.

"Internet sangat efektif karena sasaran kami anak muda yang setiap hari menggunakan internet," ungkap wanita peraih Shell Start-up Award 2011 ini.

Melejitny popularitas merek Lazuli Sarea tidak hanya mendapatkan respon positif tetapi juga negatif. Tak jarang kritikan menghadang, saat itu beberapa orang menilai produknya dapat merusak budaya. Tapi, Retta tidak gentar.

"Saya percaya pelestarian batik motif asli akan selalu ada. Apa yang saya kerjakan adalah pengejawantahan dari sudut pandang anak muda saat ini tentang batik. Desain batik saya buat sendiri, tidak mengambil dari motif yang sudah ada," jelasnya.

Konsumen muda tetap memilih ide unik kreasi batik yang dilukis khusus di bahan jeans. Tak hanya itu, Retta juga memiliki kejelian memanfaatkan semua material yang ada sebagai sarana promosi tepat. Produknya telah membuat kagum juri Lomba Wanita Wirausaha Femina 2012.

Pantaslah, jika kemudian ia dinobatkan sebagai The Most Potential Entrepreneur. “Desainnya sangat bagus dan sesuai dengan anak muda,” ungkap Anne Avantie, salah satu juri lomba.

"Ini semua di luar ekspektasi saya. asuk ke dalam 25 finalis saja, saya sudah sangat bersyukur. Saya tak menyangka meraih juara kategori khusus," ujar wanita berkacamata minus ini. Kepak sayap Lazuli Sarae terus melebar.

Produk fashion-nya mulai diterima di berbagai department store, seperti Alun Alun, Pendopo, dan Sarinah. Retta juga sangat berharap ada tambahan modal investasi untuk menggerakkan perputaran roda bisnisnya.

Retta pun bersiap untuk masuk ke regional Eropa untuk mengekspor produknya. Sedang dalam proses survei pasar, kebetulan kami ada teman yang akan memasarkan produk kami di sana," ujar penggemar desainer Musa ini.

Dalam waktu dekat, Retta berencana juga membawa produknya ke regional Asia. “Saya akan membawa Lazuli Sarae ke Hong Kong Fashion Week 2013. Doakan kami bisa menembus pasar Asia," ujarnya kepada Fimela, optimistis.

Koren Denim Jejak Wirausaha Rendi Maulana

Profil Pengusaha Rendi Maulana


koren denim
 
Yuk menelusuri jejak wirausaha Rendi Maulana. Pemilik Koren Denim yang berbisnis sejak kuliah. Dari dunia kampus dirinya merajut asa mimpi menjadi pengusaha. Disaat meninggalkan kota asalnya Tasikmalaya buat kuliah di Bandung, dia tidak punya pikiran lain.

Di tahun 2007, Rendi cuma kuliah kemudian mungkin bekerja menjadi pegawai. Dia memilih jurusan Manajemen Universitas Kristen Maranatha. Hingga Ia diminta bantuan sepupunya berjualan celana jean. Dia diminta membantu pemasaran, sementara tidak paham dunia fashion.

Ia mengakui bahwa kesusahan memasarkan jean. Pasalnya satu jean seharga rata- rata Rp300 ribuan perpotong. Namun Rendi terus mempelajari dan menemukan celah pemasaran. Ia menemukan pasar, mulai aktif mencari relasi, dan membuat konsep produk agar laku terjual.

"Dari pengalaman itu, saya terpikir untuk menjalankan usaha sendiri," Rendi bercerita. Lalu muncul satu kesempatan, datang program Wirausaha Muda Mandiri 2011 ke kampusnya. Ia mendapatkan kesempatan coaching selama 6 bulan.

Memupuk Jiwa Wirausaha


Beberapa mahasiswa termasuk dirinya mendapatkan coaching di gadung Bank Mandiri, Jl. Soekarno Hatta, Bandung. Aneka macam pelatihan ditambah motivasi untuk berbisnis sendiri. Pada September 2011, ia memutuskan mendirikan usaha sendiri bernama Koren Denim.

Mengawali usahanya, Rendi mengerjakan semua proses tersebut sendirian, mulai dari perencanaan, pembuatan konsep, dan penjualan. Dalam proses produksi memanfaatkan jasa makloon atau dibuat pihak ketiga.

Rendi bekerja sama dengan lima mitra penjahit lepas. Dia tinggal membawa file, membuat konsep, bahan kain, cara menjahit dan desain sablonnya. Ia yang harus melakukan finishing sebelum dibawa ke mitra.

Para mitra mengisyaratkan pemesanan 60 buah untuk tiap model. Dalam 6- 12 bulan, biasanya akan hasilkan enam model yang harus habis sebelum model lain. Ketika stok menipis maka akan langsung memproduksi. "Tidak ada waktu lagi menunggu, semua berkesinambungan," ujarnya.

Beruntung Rendi mendapatkan pinjaman kemitraan program Wirausaha Muda Mandiri. Uangnya akan dipakai membeli bahan denim atau menambah produk. Rendi kemudian mempekerjakan dua karyawan bagian produksi dan pemasaran.

Sedari awal Rendi memanfaatkan media online dalam pemasaran. Koren Denim memiliki toko online yang bernama www.korendenim.com, dan beberapa sosial media. Ternyata dalam perkembangannya, proses penjualan lewat reseller atau penjualan langsung memang lebih ampuh.

Rendi mulai merekrut beberapa mahasiswa di sejumlah kampus. Target bisnis mereka adalah anak- anak muda. Reseller diambil dari kampus Universitas Maranatha, Universitas Padjajaran, Universitas Parahyangan, ITB, Akademi Pariwisata NHI, dan Universitas Pendidikan Indonesian.

Rendi memberikan lisensi hingga katalog produk. Dia pun merambah pasar Lampung, Jakarta, Bali dan Makassar. Tiap produksinya menghasilkan 60 buah permodel dan sudah habis terjual. Begitu itu habis maka tidak akan diproduksi ulang semodel; akan digantikan model- model baru.

Agar menarik konsumen maka dibuat tematik permodel. Tujuannya agar selalu berbeda ketika sudah diluncurkan. Sebut tema Katty Perry, Cold Play, Naomi, Changemaker, atau edisi GoGreen. Agar ia selalu mendapatkan desain terbaru, Rendi tidak segan mendapatkan masukan atau kritik pembeli.

Dia menerapkan dua strategi penjualan yakni USP dan ESP. Dimana USP merupakan kepanjangan dari Unik Selling Point. Rendi akan membuat konsep yang unik, agar produk ini dapat terjual dengan keunikan tersebut.

Kemudian Rendi menciptakan ESP atau Emotional Selling Point, atau akan membeli walau tanpa ditawarkan. Produk dijual diharga kisaran Rp.250 ribu sampai Rp.650 ribu. Dia juga memproduksi denim premium seharga Rp.1 jutaan, yang dijual 5 buah permodel dan cuma dijual di outletnya.

Bisnisnya mampu meraup omzet Rp.20- Rp.40 juta perbulan. Dimana Rendi masih kuliah, dan bisa membiayai kuliahnya. Dia tidak perlu bergantung orang lain. Sementara ia tidak merasakan kerepotan antara kuliah dan wirausaha.

"Saya kan orang manajemen, jadi seharusnya bisa membagi waktu dengan baik," jelas Rendi, yang punya jejak wirausaha gagal berbisnis bubur ayam.

Pemilik Coffee Toffee Bagaimana Menjalankan Bisnis

Profil Pengusaha Rakhma Sinseria 


pengusaha pemilik coffee toffee

Bagaimana menjalankan bisnis seorang wanita karir, Rakhma Sinseria. Perjualangan pemilik Coffee Toffee yang sedang meniti karir. Ibu dua anak yang sempat tak fokus dengan bisnisnya. Kisah sukses pengusaha wanita bersama suaminya, Odi Anindito, mengusung konsep 100% asli Indonesia.

Rakhma dikenal melalui bisnis kedai kopi bernama Coffee Toffee. Bisnis yang dikelola Rakhma sampai kini telah delapan tahun berjalan.

"Yang pasti saya berusaha melakukan apa yang bisa saya lakukan, sesuai dengan bidang yang saya kuasai, tentunya berhubungan dengan dunia kopi dan wirausaha," katanya di sela- sela obrolan sore.

Sejak awal ia memang telah memiliki passion tentang berwirausaha. Namun, dia berkisah tak mau menganjurkan kewirausahaan sebagai satu- satunya jalan sukses. Kesuksesan, baginya, ialah tentang minta dan kecintaan dalam menjalankan sesuatu.

Bisnis Kopi


Jika mau kaya tak perlu harus jadi pengusaha, karena Rakma menjalankan semua tak mau setengah- setengah. Melalui Coffee Toffee yang kini telah menjelma menjadi perusahaan, bisnisnya moncer tak mau kalah dengan gerai kopi asing; sebut saja Starbucks.

Mimpi dan cinta kewirausahaan menjadikan sukses terlihat nyata dan mudah digapai. Dua modal ini ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Cintanya akan kopi dan mimpi usaha kopi lokal membuatnya membuka bisnis. Seperti semua bisnis, tetap cobaan itu datang menggoda kecintaan dan mimpinya.

Menjadi seorang wanita yang tangguh menjadi modal lain bagi kehidupannya. Dunia bisnis itu tidak ada kepastian. Begitu pula bagi juara 1 lomba Wanita Wirausahawan Femina 2010 ini, yang pernah merasakan naik turun wirausaha.

Hanya dalam satu tahun mendirikan Coffee Toffee, bisnisnya moncer seperti roket. Dari satu gerai saja, satu tahun kemudian, ia sukses mendirikan 10 gerai cabang diberbagai tempat. Tak heran rasa percaya dirinya itu begitu kuat untuk semakin membesarkan bisnisnya.

Tumbuh terlalu cepat ternyata juga tidak baik ketika saatnya masalah itu datang. Rakhma merasakan sendiri kecewa mendalam ketika semua gerainya harus ditutup.

"Bisa dibilang, saya hampir bangkrut karena salah perhitungan dan terlalu percaya diri. Saya sampai tidak bisa membayar karyawan selama 3 bulan," tutur Ria, yang sempat berpikir untuk menutup total bisnisnya.

Ia sadar kesalahan pertama ialah tentang konsep. Bisnis yang dijalankan olehny tidak memiliki konsep yang matang. Mungkin karena rasa percaya terlalu berlebihan, terutama ketika bisnis naik begitu cepat.

Belakangan, ia tahu ketidak matangan tersebut karena tidak pasti dalam membidik target. Selain itu, gerai yang dibangunnya tidak lah jelas mau dibawa kemana arahnya. Apakah gerai tersebut adalah gerai take away atau gerai bertempat duduk.

"Ibarat ABG, waktu itu kami seperti sedang mencari jati diri," ungkapnya, kini gerainya tersebut diramaikan pelajar dan mahasiswa.

Wanita yang akrab dipanggil Ria menambahkan pengetahuan tentang akuntansi itu belum mencukupi. Dia tak tau benar apakah bisnisnya saat itu masih sehat atau tidak.

"Ini saat-saat yang cukup menguras energi dan emosi. Tapi, saya berusaha tetap tenang dan berpikir positif, karena yakin bahwa kejatuhan ini adalah proses menuju kesuksesan. Saya menikmati setiap prosesnya," kata Ria, yang kemudian melengkapi usahanya dengan orang yang ahli di bidangnya.

Misalnya dia menambah divisi marketing communications dan keuangan. Pengusaha tidak harus tau detail tentang akuntansi tapi mengerti konsep dasarnya itu harus. Itualah mengapa jadi pengusaha itu harus tetap belajar dari berbagai tempat dan media.

Ria meyakini betul bahwa tak ada yang salah dari kopi khas Indonesia. Justru inilah yang membuat bisnis miliknya bertahan. Karena waktu itu tak ada rencana cadangan, ia harus merangkak lagi dari awal. Ia terus mengevaluasi segala kesalahan dan segera memperbaikinya.

Konsep, menu, harga, dan warna diubahnya. Semua masukan ia terima. Misalnya, tentang desain logo pada gelas yang awalnya kurang bagus dilihat, lalu kemudian ia percantik lagi. Ria juga menambahkan makanan pada menu.

Bagi Ria, konsep matematika setengah ditambah setengah menjadi satu bukanlah kepastian. Ia melihat dalam wirausaha konsep jadi besar dari setengah ditambah setengah tak berlaku. Kapapun satu itu bisa saja hilang jika kita lengah atas apa yang kita miliki.

Dia menambahkan lagi Setengah waktu yang ia habiskan untuk mengurus bisnis, ditambah setengah waktu untuk bekerja di perusahaan orang, tidak sama dengan target yang ingin ia capai. Inilah mengapa sedari awal dirinya langsung terjun ke dunia bisnis, tak mau setengah- setengah.

"Yang terjadi saat itu: keduanya tidak memenuhi target, sehingga saya harus segera memutuskan untuk menjalani yang mana," kata Ria, yang akhirnya memilih keluar dari perusahaan dan mencurahkan seluruh waktunya untuk Coffee Toffee.

Sampai saat ini meski sukses tidur delapan jam bisa menjadi kemewahan. Dia tetap menjalankan semuanya dengan baik dan tak mau setengah- setengah.

Jual Perlengkapan Bayi Le Monde Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Zaskiah Ambadar

 
jual perlengkapan bayi

Kisah pengusaha Zaskiah Ambadar membangun bisnis. Jual perlengkapan bayi Le Monde berbekal sebuah mesin jahit. Ia cuma punya satu mesin jait dan uang senilai Rp.900.000. Di tahun 1980 itu, dia bersama kedua adiknya membangun bisnis impian mereka.

Mereka mendirikan PT. Lembanindo Tirta Anugrah, perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan perlengkapan bayi dan ibu, merek dagangnya Le Monde. Namanya diambil dari bahasa Prancis yang berart dunia.

Perusahaan keluarga yang dijalankan oleh Zaskiah Ambadar (Jackie Ambadar) memliki aset senilai Rp.13 miliar dengan omzet Rp.3 miliar per- bulan.

Pelajaran bisnis


Pada saat perlengkapan bayi dan ibu tak banyak dilirik banyak orang. Produk asing, seperti Baby Care, telah begitu populernya dan menguasai pasar seolah sendiri. Baby Care memang produk yang terintegrasi dengan baik ditambah kualitas produk terjamin.

Tak mau kalah, Le Monde membidik pasar kelas menengah atas, menggunakan bahan berkualitas internasional.  Jackie mempunyai keyakinan kuat akan bisnisnya inilah yang menjadi rujukan baginya untuk terus maju.

Pasar yang masih luas memberikan ruang bagi produk Le Monde menjadi pionir dalam industri perlengkapan bayi. Keyakinan akan usaha yang digeluti saat ini, menurut Jeckie, berkat nasihat dari sang ayah yang selalu menanamkan nilai- nilai untuk berani tampil beda.

Jackie tumbuh menjadi lebih baik dibandingkan orang lain. "Be Different Be Better," begitulah moto yang ditanamkan ayahnya.

Menurut sang ayah apa yang dilakukan sekarang janglah karena ikut- ikutan. Dia harus mempunyai prinsip sendiri. Lalu pelajaran lain seperti keberanian untuk mengambil resiko jadi energi tersendiri. Jackie menjadi sosok yang pantang menyerah untuk mencoba sesuatu yang diyakini.

Sementara sang ibu, ia mewariskan nilai ketegasan, komitmen, dan dedikasi tinggi. Hal inilah yang menurut Jackie menjadi modal kuat untuk bisnis yang sedang dikembangkannya.

Sejak kecil memang pendidikan kewirausahaan itu begitu kental. Kedua orang tuanya pula yang menekankan bahwa bisnis tidak boleh mengikuti trend. Karena jika memasuki bisnis yang jadi trend maka persaingan itu bisa begitu ketat.

Bukan karena takut, tapi Jackie diajari bagaimana berstrategi berbisnis bisa bertahan untuk jangka waktu lama. Itulah mengapa ia telah matang secara mental. Indonesia memang membutuhkan banyak pengusaha.

Bisnis sukses


Saat ini, perusahaan perlengkapan bayi ini telah memiliki 10 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor, dan Malang. Selain memiliki banyak outlet, di tahun 2001, Le Monde menawarkan konsep waralaba atau franchise.

Jackie mampu melihat bahwa produk yang dijual di pasaran tidak lah lengkap. Menangkap rona wajah pembeli yang kecewa, ia pun selalu menawarkan satu paket lengkap. "Karenanya ketika Le Monde bisa menyajikan display secara lengkap banyak pengunjung senang," katanya.

Bicara pengalaman pertama menjual produknya, Le Monde tidak mengalam kesulitan. Produk pertama yang dijual ialah satu perlengkapan tidur lengkap di Pasaraya. Hanya dalam satu jam pertama pembukaan produk Le Monde telah habis diborong seorang istri penjabat.

Bahkan, Jackie kena tegur karena tidak membawa stok atau cadangan. Tak puas hanya menjual produknya di Pasaraya, Jackie Ambadar selaku Managing Director PT. Lembanindo Tirta Anugrah, kemudian melebarkan sayapnya di pasar Melawai.

"Berani mengambil risiko dan mau bertanggung jawab terhadap setiap keputusan bisnis yang telah dipikirkan secara matang-matang akan menjadi kunci kesuksesan suatu usaha," tegasnya. Permintaan dari sana ternyata cukup tinggi hingga perusahaan kualahan.

Tak mau lagi mengecewakan, Jackie membuka satu pabrik baru  di Ciawi, Bogor. Bersamaan dengan itu, pada tahun 1984 Le Monde juga membuka Kantor Pemasaran di kawasan Jl Radio Dalam Raya No. 88, Jakarta Selatan.

 Pembukaan outlet di Jl Radio Dalam. Ini dimaksudkan untuk merealisasikan toko sendiri, menjaga cash flow karena department store melakukan pembayaran yang relatif lama yaitu 45 hari, padahal Le Monde harus membayar pada supplier atau penyedia bahan- bahan produksi dengan jangka waktu 20 hari.

Hal lain yang menjadi dasar ialah komitmen akan pelanggan. Untuk itu pula, Le Monde mendirikan 100 counter yang tersebar di pusat perbelanjaan ternama dan tujuh gerai di beberapa kota besar di Indonesia.

"Pertumbuhan bisnis per- tahun mencapai 30-50 persen dan rata-rata keuntungan bertumbuh 10-20 persen setahun," kata alumni Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia ini. Le Monde fokus membidik pasar kalangan kelas menengah atas dengan kualitas bahan baku bersertifikat internasional.

Le Monde juga sukses merambah pasar luar negeri. Saat ini produknya telah dikirim ke Australia, Singapura, Malaysia dan negara- negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pada saat itu bisnis perlengkapan bayi masih kurang dilirik jadilah pasar itu dikuasai produk asing.

Baby Care menjadi penguasa pasaran untuk produk perelengkapan bayi dimana telah terintegrasikan dengan baik. Jackie kala itu sangat yakin bahwa produknya akan mudah masuk pasar.

Ilmu bisnis


Kayakinan untuk menggeluti bisnis yang saat ini berjalan, menurut Jackie, berkat nasihat sang ayah yang selalu menanamkan nilai- nilai untuk berani tampil beda. Ia harus lebih baik dibandingkan dengan orang lain.

"Be Different and Be Better," menjadi moto yang ditanamkan sang ayah sejak. Menurut ayahnya jika melakukan sesuatu janganlah ikut- ikutan dan tidak punya prinsip sendiri. Ia juga menekankan keberanian untuk mengambil resiko.

Sementara itu nilai- nilai yang diwariskan sang ibu ialah ketegasan, komitmen, dan dedikasi yang tinggi dalam melakukan suatu pekerjaan. Hal inilah menurut Jackie yang akan menjadi modal kuat bagi dia dan saudara-saudaranya dalam mengelola dan mengembangkan usaha yang digelutinya kini.

Sejak kecil mereka telah diajari prinsip kewirausahaan jadilah mental berusaha itu ada. Tak mudah menyerah menjadi senjata andalan Jackie menembus pasar internasional sementara bisnis ini sendiri datang karena tak mengikuti trend yang ada.

Menyikapi tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia ia berpendapat hal itu terjadi karena minimnya jiwa kewirausahaan di sebagian besar masyarakat Indonesia. Tingkat pengangguran di Indonesia masih sangat besar, terutama sejak krisis ekonomi 1997 yang berjumlah kira- kira 40 juta.

Setiap tahun sekitar 2 juta tenaga kerja baru bertambah. Kebanyakan adalah pencari kerja dan bukan manusia yang mempunyai kesadaran untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Menurutnya, masyarakat Indonesia harus mengubah pola pikir yang ada dari seorang pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Jika dari 100 angkatan kerja 10 persennya berani menjadi berbisnis yang rata- rata merekrut 10 orang tenaga kerja, hal ini akan membuka 100 lapangan pekerjaan baru.

Dengan jiwa wirausaha maka akan membuka kesempatan kerja yang akan dapat menghidupi diri sendiri dan menolong orang lain. Banyak orang berpikir bisnis butuh modal besar tapi anggapan itu salah.

Memang bisnis itu selalu mengeluarkan modal tapi yang utama adalah modal keberanian. Pada mulanya Zakiah Ambadar bersama teman kuliahnya, Miranty Abidin mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Bina Karsa Mandiri.

Yayasan ini berfungsi untuk melakukan training kewirausahaan. Jackie -begitu Zakiah biasa dipanggil- mempunyai keinginan kuat agar lembaga yang didirikan bersama sahabatnya ini bisa menularkan pengalaman yang dimilikinya.

Sasaran utama dari lembaga ini adalah generasi muda yang ingin menggali potensi jiwa usaha. Yayasan Bina Karsa Mandiri telah menerbitkan 10 buku atau lebih. Setiap peluncuran buku barunya akan selalu diikuti diskusi bedah buku yang mengundang para generasi muda.

Buku- buku tersebut pada umumnya berisi tentang perjalanan para pengusaha ketika memulai usaha dengan menangkap peluang yang ada. Dua buku dari sepuluh buku yang cukup laris berjudul Selalu Ada Peluang dan Usaha Yang Cocok Untuk Anda.

Info waralaba

Brand: Le Monde Baby’s World
Perusahaan: PT Lembanindo Tirta Anugrah
Bidang Bisnis: Toko Perlengkapan Bayi
Konsep Bisnis: Kemitraan
Kisaran Investasi: Rp. 400jt-1M
Alamat: Jl.Radio Dalam Raya No.50 Lt.2 Kebayoran Baru
Telepon: 021-7207622

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba