Kue Bingka Bakar Bisnis Kerja Keras Wisnu

Profil Pengusaha Rosnendya Wisnu Wardhana


bingka bakar batam
 
Tidak mudah baginya mencapai posisi Wisnu sekarang. Kue bingka bakar, ide bisnis kerja keras yang tak terbayangkan. Rosnendya Wisnu Wardhana sempat berpikir bisnis konvensional. Dia pernah jadi penjual pulsa konter. Wisnu juga pernah membuka usaha cuci helm, cuci motor, dan angkirangan.

Itu semua gagal tetapi justru ketemu kue tradisional tersebut. Coba dipikirkan kok bisa kue bingka bakar menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Sukses itu tidak didapat dalam sekejab tetapi butuh perjuangan.

"Karena kelolanya tidak fokus. Alhamdulillah, semua usaha saya akhirnya tutup," ia mengenang dulu sebelum jualan bingka.

Pengusaha yang tidak pernah putus asa. Sampai dia bangkit kembali dan memulai usaha lain. Ia lalu merintis usaha pembuatan kue bingka dan bilis. Jualan aneka kue tradisional yang dimodali Rp.5 juta saja. Ia ingat waktu itu tahun 2009, uang segitu dibelikan mixer, loyang, dan cetakan kue.

Pengusaha Kecil- Kecilan


Begitu sudah membeli bahan baku tinggal mencari tempat. Alih- alih menyewa tempat, Wisnu lebih memilih stan ukuran 2x3 di kawasan Pasar Mega Lagendang, Batam. Begitu menyewa tempat kecil itu sudah habislah modal. Biaya sewa yang dia keluarkan Rp. 390.000 per- bulan yang cukup murah.

Membayangkan berjualan aneka jajanan pasar di Batam. Kota industri itu dirasa cukup besar buat dia berjualan. Dia menjual berbagai camilan yang dijual di pasar. Awalnya dia menjual banyak sekali jenis tidak fokus, seperti kerupuk ikan, keripik talas, hingga keladi pedas.

Hampir dua bulan berjualan tanpa dia paham mau jualan apa. Wisnu akhirnya fokus membuat bingka bakar. Di awal berjualan, kue buatanya tidak begitu laris dan terjual cuma 15 loyang. Padahal ia ingat betul harnya murah cuma Rp.8000 per- loyang.

Berbeda dengan sebelumnya dia malah semakin bertekat. Ia merasa kue bingka bakar bisa menjadi oleh- oleh khas. Ia gencar mempromosikan produk itu ke sejumlah acara, baik kelurahan, kecamatan, dan bahkan provinsi. Bahkan acara khataman Al Quran dan penyuluhan keluarga berencana tak lolos.

Kerja keras Wisnu berbuah hasil dengan mulai datang pesanan. Pada 2009, Pemerintah Kota Batam mengajaknya ikutan acara Asia Food Festival di Singapura. Berkat mengikuti acara tersebut namanya semakin dikenal. Kue bingka bakar bikinan Wisnu pun semakin laris diborong masyarakat Batam.

Wisatawan mulai mengikuti tidak pulang Batam tanpa bingka bakar. Awalnya Wisnu sempat minder bila wartawan mengunjunginya. "Karena kecil- kecilan, seperti konter pulsa gitu," ia melanjutkan. Di tahun 2010, dia memindahkan gerainya ke ruko, yang lebih besar dan bersih dibanding dulu.

Kue tradisional kalah pamor dibanding produk makanan impor. Aneka roti asing sudah menguasai pasar Kota Batam. Tetapi Wisnu meyakinkan diri untuk tetap menjual kue bingka. Selama ini di Kota Batam telah diserang aneka kue coklat, baik dari Singapura atau Malaysia.

Kue Bingka Bakar mampu menjual sampai 11.000 loyang perhari. Harga jual 20.000 per- loyang atau omzetnya mencapai ratusan juta. Cukup buat menghidupi keluarga dan 60 orang karyawan. Semakin lama produknya dikenal, semakin banyak wisatawan yang membawa sebagai oleh- oleh khas.

Popularitas kue ini bahkan sampai ke Negara Singapura. Ia memperkenalkan produk ini ketika aktif mengikuti pameran di Singapura. Produk kue bingkanya telah dimodifikasi sehingga sesuai selera pasar. Pilihan rasa begitu variatif sampai memiliki 12 rasa, termasuk mochacino, durian, hingga buah naga.

"Saya bereksperimen mengembangkan varian rasa kue yang dibantu keluarga," pengusaha muda ini menuturkan.

Selain bingka Wisnu juga berjualan blackforest berbahan pisang. Ia berharap aneka produk kue ini akan menjadi khas Batam. Kue Bingka Bakar Nayadam diharapkan bisa membuka cabang di Jakarta. Wisnu pun menggaet UKM lain untuk bekerja sama dalam pengembangan oleh- oleh.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner Fajar Handika

Profil Pengusaha Fajar Handika


pengusaha fajar handika

Nama Fajar Handika sudah terbiasa akan kegagalan. Jatuh bangun pengusaha kuliner ini bisa menjadi contoh. Aneka bisnis pernah dilakukan Fajar dan kesemuanya gagal. Dia pernah membangun usaha warnet. Ia pernah pula membuka angkirangan, bahkan kafe anak muda dengan modal besar.

Kesemua bisnis tersebut gagal total tidak tersisa. Namun dia tak menyerah dalam menjadi wirausaha. Ia sangat bergairah ketika membahas kewirausahaan. Meskipun usahanya belum berhasil, dia tak mau menyerah, untung dari hobi makanya keluar ide bisnis baru.

FoodFezt merupakan pengembangan dari bisnis antar makanan. Sistem FoodFest Integrated Kitchen System, mampu menawarkan solusi perhitungan pemesanan. Ini akan mengefisiensi SDM dan juga kertas yang dipakai. Pasalnya penjual akan terhubung melalui jaringan internet bukan manual saja.

Pelanggan akan lebih praktis dan mudah memesan. Selain itu FoodFest juga menawarkan manajerial waktu yang mumpuni. Ada perhitungan real time yang akan dipantau pembeli. Sistem ini menjadi memudahkan proses transaksi pembeli dan penjual.

Mengembangkan Sistem Bisnis


Bisnis kuliner tidak hanya mengenai makan atau minum enak. Jatuh bangun pengusaha kuliner Fajar Handika memberikan pandangan. Bayangkan pesanan kamu terkoneksi dengan internet sampai real time. Tiap hari tidak kurang 400- 500 porsi kuliner dipesan dari restoran miliknya.

Mereka pembeli merupakan kalangan menengah. Rentang usianya diantara 30 -an dan beruang. Dia mampu menggaet mereka. Restoran dengan sistem food court tetapi dengan layanan antar. Food Fezt juga mengajak pengusaha kuliner lain dalam satu tempat.

FoodFezt bertempat di Pandega Karya, Jalan Kaliurang KM 5,5, Yogyakarta. Mereka memiliki tidak kurang 11 dapur atau tentant. Tiap tentant mempekerjakan tidak kurang 3 orang. Konsep yang bisa menampung 80 orang karyawan, benar- benar membuka lapangan pekerjaan.

Tiap tentang milik mitra dirinya mengambil 20 persen untung. Hasilnya Fajar mampu mengantongi omzet Rp.400 juta. Untuk mengembangkan usahanya, Fajar terus mengevaluasi layanan dan tentu menu makanan. FoodFezt mampu menyajikan lebih dari 100 menu dengan variasi makanan.

Varian makanannya mencangkup khas India, Timur Tengah, Eropa, dan Jawa. Pilihan lain meliputi menu vegetarian, mi hitam, nasi kebuli, sate kambing buntel, dan sebagainya. Layanan pesanana, waktu itu, FoodFezt melayani lewat email Yahoo Massager dan GTalk.

Fajar memiliki visi jelas dan segera diterapkan. Ia mengembangkan bisnis dengan terstruktur. Dia juga selalu berinovasi dalam pelayanan dan produksi. Tiap ada pembeli yang datang selalu diberikan layanan maksimal. Inovasi produk meliputi kemasan mudah hancur untuk pembelian.

Fajar memang pengusaha yang memiliki wawasan. Dia kini juga membuka usaha bidang perikanan dari nila dan udang. Spesifikasi bisnis Fajar meliputi aneka pengolahan pasca panen. Tahun 2011, ia juga mengeluarkan brand makanan olahan, dan kenaikan omzet sampai tiga kali lipat.

Andi merambah bisnis minuman bersama Nestle. Dia juga menggaet pakar kuliner Bondan Winarno, yang mengerjakan bisnis Kopi Tiam Oey di Yogyakarta. Kedai kopi ini dijumpai di semua cabang FoodFezt.

Pengusaha Juragan Katering


Dia kemudian membuka bisnis bernama Kulina. Ini untuk menyambut pasar FoodFezt yang mulai menggeser ke platform baru. Sebagai satu penggagas bisnis kuliner berbasis IT, FoodFezt berevolusi menjadi bisnis startup berbasis iOS atau Android, masih dengan tema yang sama.

Alumni Jurusan Ilmu Komputer. Universitas Gajah Mada (UGM), yang juga membuka startup aneka kerajinan. Kulina sendiri masih seperti FoodFezt yang menawarkan katering online. Jadi nanti orang bisa berlangganan makan siang lewat subscribe dari marketplace digital.

Kulina berbeda dengan pendahulunya tidak mengutamakan fisik. Lewat Kulina pembeli dapat cari- cari kuliner macam apa. Pemesanan sampai 5000 boks makan siang sampai ke 2000 tempat diseluruh Jakarta. Fajar menjelaskan boks tersebut merupakan milik lebih dari 12 perusahaan katering mitra.

Untuk bisnis kerajinan Fajar bekerja layaknya makelar. Orang akan melihat gambar di aplikasi, lalu dia yang akan memesankan ke toko mitra. Bisnis lain yakni Kopi Tiam Oey terbilang tidak beruntung karena tutup. Sementara Food Fezt sendiri "ditutup" hingga dintegrasikan melalui Kulina App.

Sejak dulu, hingga 2015, Fajar selalu melihat prospek dalam bisnis kuliner berlayanan antar. Dia lalu melihat polanya lebih luas melalui revolusi digital. Aplikasi seperti Google Maps banyaknya lebih membantu dalam penerapan. Maka pada tahun yang sama dia membangun makandiantar.com sebagai bisnis lain.

"Negara kita sudah memasuki era startup," ujar Fajar bersemangat.

Aplikasi Kulina sendiri merupakan rintitas dua orang. Bila Fajar Hidayat ahli soal sudut pandang dari produsen atau pemilik kuliner. Rekannya, Andy Hidayat, akan membantunya melihat dari sudut pandang konsumen. Dia mengatakan pengguna Kulina tak perlu memiliki tempat berjualan fisik.

Awal 2016, mencatat 45 rekan kongsi dengan Kulina, kebanyakan mitra merupakan mereka yang belum profesional. "Satu dua bulan pertama, pesanan yang masuk hanya satu dua kotak perhari, tidak seperti yang diharapkan," kenang Fajar.

Karena rekanan Kulina kebanyakan masih pemula. Kualitas rasa mereka masih tidak konsisten, sekarang enak, besoknya bisa tidak. Kulina sendiri belum punya standarisasi. Mereka ada yang pakai kardus atau styrofom.

Kulina belum memiliki standarisasi menu. Mereka menyerahkan ke pemilik mitra. Alhasil mitra bisa menawarkan aneka jenis makanan bebas. Akhirnya Fajar pun menstandarisasi menu makan siang yang sama. Walau dapurnya berbeda, makanan disuguhkan sama dengan pengemasan yang sama pula.

Proses berbulan- bulan membuahkan pesanan ratusan perhari. Kulina sendiri memiliki tim ahli gizi yang menentukan menu. Ada algoritma khusus yang membuat orang memilih mitra yang terdekat. Ini akan mengurangi biaya logistik, apalagi menu makan siang telah disamakan walau beda dapur.

Kulina membandrol Rp.20.000 per- boks untuk basik, Rp.30.000 untuk delux, dan sudah termasuk ongkos kirim. Paket makanan dibantu kerja sama dengan suplier ayam, daging, tahu, dan beras. Ini alhasil mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan untung.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner


Bisnis Kulina membesar mengakibatkan Fajar semakin sibuk. Alhasil dia pun menjual empat buah restoran milikny. Dia ingin fokus mengerjakan bisnis Kulina. Sebagai pemilik startup, baginya tidak mudah menghasilkan kesuksesan. Ia bahkan harus mendanai dengan menjual 4 restoran tersebut.

Tidak cukup, Fajar pun mendapatkan pendanaan pada awal 2017. Satu tahun mengandalkan kantong sendiri bukan mudah. Suntikan dana dari Monk's Hill Ventures, East Ventures, Coffee Ventures, dan mendapatkan dana $700.000 atau Rp.9,8 miliar.

Tahun 2018, Kulina terpilih mengikuti program Google Launched Accelerator, yang memberikan 6 bulan pelatihan. Bootcamp program ini memberikan pelatihan dengan tim dari Google. Mentornya datang dari Silicon Valley, Amerik Serikat.

Kulina sendiri mulai ekspansi ke daerah- daerah lain seluruh Indonesia. Fajar telah menyebarkan dari Depok, Denpasar, Tangerang dan Bekasi. Mereka belum berencana memasarkan keluar negeri. Agar lebih variatif, Fajar juga merambah ke makanan ringan yang unik.

Mereka tak segan menggandeng pengusaha jajanan ringan. Yang dijual jajanan anti- mainstream yang memiliki citara rasa dan tak mudah ditemukan. Melalui ekspansi menu dan produk, Fajar berani untuk menarget pesanan dua kali lipat, pesanan 100.000 boks perhari siap dipenuhi aplikasi Kulina.

Fajar menjamin makanan yang diterima adalah segar. Sistem algoritma memastikan makana dipesan dari tempat terdekat. Mitra juga sudah diberikan pelatihan hingga standarisasi. Pengantaran pesanan juga dibatasi tidak boleh lebih dari dua jam, sebelum jam 12 siang, atau tidak pelanggan dapat gratis.

Usaha Fotografi Alvin Fauzi Menginspirasi Kita

Profil Pengusaha Alfian Fauzi


usaha fotografi
 
Tahun 2007 tidak banyak orang mencoba berbisnis ini. Usaha fotografi miliknya layak mendapatkan penghargaan. Maka pada 2010, Alfin Fauzi bersama beberapa rekan memenangkan ajang, Wirausaha Muda Mandiri mengakui keberadaan usaha mereka.

Era digital yang mulai menggeliat tahun itu merubah. Bila dulu bisnis fotografi dikuasai oleh hanya sekedar orang. Sekarang kita bisa membuka usaha tersebut bermodal minim. Kamera yang dulunya dianggap mahal, sekarang sudah di layar handphone.

Semua orang bisa menggunakan teknologi kamera. Aneka pelatihan pun tersedia buat mereka yang berminat. Usaha fotografi Alvin Fauzi bermula sebuah studio kecil di Yogyakarta. Akhir tahun 90' an dapat dihitung ada berapa studio foto, sepuluh tahun kemudian bermunculan banyak studio foto baru.

Wirausaha Mengambil Resiko


Studio Alvin Photography (AP) memakai nama sang pendiri sendiri. Sudah membuka usaha sejak 2007, Alvin menyasar pasar kaula muda berbekal cita rasanya sendiri. Maka ia mudah baginya untuk menganalisa pasar. Alvin memiliki strategi bisnis menggunakan internet agar lebih terkenal.

Memanfaatkan teknologi sekaligus memahami pangsa pasar. Alhasil anak muda akan lebih memilih ke AP. Melalui akses internet AP menempati halaman utama di Google. Sebut saja ketika anak muda mencari kata kunci "fotografi pernikahan Yogya", "fotografi prewedding Jogja", dan lain- lain.

Ia juga menggunakan promosi mulut ke mulut. Tetapi AP sangat mengandalkan promosi online, dan juga memulai sosial media. Alvin blak- blakan membuka kunci suksenya pada kekuatan internet. Dia memulai dengan masuk ke komunias fotografi, dan menyerap apa yang dibutuhkan masyarakat kini.

Dia ikut forum fotografer dari forum besar seperti Kaskus. Alvin belajar banyak dari otodidak dan lebih kekinian. Itu yang tidak dimiliki oleh studio foto pada tahun 90' an. Antusias anak muda yang tinggi memberikan peluang usaha. Ia banyak belajar bahkan tak segan untuk mengeluarkan uang.

Alvin menggabungkan teori dengan pengalaman praktik. Pertengahan 2000 -an, dia diajak oleh orang untuk membuka usaha fotografi, Alvin pun antusias menggarap pasar anak muda. Dalam tempo dua tahun saja dia berhasil balik modal dan untung.

Kerjasama antara dirinya dan si pemodal tetap berjalan. Mereka menggunakan sistem sharing untung hingga kini. Bila Alvin tak memiliki passion mungkin tidak akan sama. Pengusaha muda Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, merasa bahwa fotografi merupakan seni bukan sekedar foto.

Dunia seni memang sangat terikat dengan menciptakan rasa. Mereka seniman juga cenderung untuk mengerjakan sesuai mood. Padahal masyarakat membutuhkan ketepatan waktu. Inilah yang coba dia berikan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia menggabungkan seni dan perusahaan dalam satu wadah. Ini lebih baik dibanding mereka yang hanya menawarkan jasa cuci foto. "Makanya jam kerja kami unik, dari jam 11.00 s/d 19.00," tutur pengusaha ini.

Alvin memulai dengan menempatkan studionya tepat. Ia membangun di Condong Catur, Sleman Yogyakarta. Ini adalah tempat ramai yang merupakan poros penghubung. Studionya menjadi poros penghubung Yogyakarta dan Kota Sleman, disekitaran kampus perguruan tinggi di Yogyakarta.

Alvin menegaskan semua orang bisa saja menjadi fotografi. Semua orang bisa membuka usaha foto, bisa saja studio foto dimana- mana. Orang yang jago memfoto juga banyak tetapi Alvin beda. Ia lebih memberikan apa masyarakat butuhkan, dari estetika sampai produk berkualitas.

Soal pemilihan fotografer saja Alvin sangat pemilih. Tidak hanya sekedar profesional memfoto tetapi juga cita rasa. Ia juga memberikan pelatihan bagi calon fotografer di studio AP. Baginya usaha foto memiliki pasar yang luas, dari foto wisuda, penikahan, ulang tahun, acara kantor, dan lain- lain.

Untuk wedding saja harga yang dibandrol rata- rata 7 juta. Sementara perusahaan baik berupa acara gathering, AP Studio menawarkan harga 20 juta rupiah, dan omzetnya telah mencapai 60% dari target pasar. Dia mengaku mampu mengantongi omzet sampai 100 juta berbulan.

Masa Depan Animator Memilih Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Achamad Rofiq


pengusaha animasi
 
Tidak ingin terjebak dunia kerja membuat Achmad Rofiq galau. Menjadi lulusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Malang, dirinya cemas. Apakah dia akan berakhir menjadi pegawai terus selama hidupnya. Alih- alih terus galau Rofiq memilih membuka usaha animasi sendiri.

Dia tak ingin terjebak dunia kerja. Apalagi kalau membayangkan kerja diluar bidang. Ingin rasanya ia tetap menggeluti dunia animasi. Passion akan dunia animasi berubah menjadi ambisi. Pemuda yang sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini, ingin melakukan perubahan.

Berawal dari ambisi pribadi hingga memikirkan nasib bangsa ini. Membayangkan animasi sekelas Captain Tsubasa bisa menginspirasi orang. Ia membayangkan begitu pula karyanya kelak. Captain Tsubasa begitu populer, hingga mampu menggairahkan sepak bolah negara Jepang.

Perjalanan Wirausaha


Lantas apa yang bisa dilakukannya selain menunggu. Ya, ia mengajak beberapa rekan animator dan ilustrator. Bersama- sama mereka mendirikan CV. Kdeep Animation di 2005. Kemudian berkembang menjadi PT. Digital Globab Maxinema, yang awal- awal menggarap kebutuhan perusahaan lain.

Mengikuti beberapa ajang menadi jalan memperkenalkan pasar. Satu judul Bio Zone, animasi buatan mereka memenangkan juara 1 dan 2 dari Best Viewer Choice Animation Award, dari Universitas Parahyangan, Bandung, dan Best Animation Malang Film Video Festival, Malang.

Mereka walau sudah mendapatkan pasar belum cukup. PT. DGM juga memproduksi beberapa judul film animasi. Hingga karyanya dilirik insititusi dan stasiun televisi swasta. MNC TV menjadi salah satu pembuka kesempatan, animasi berjudul Songgo Rubuh pernah tampil pada 2012 silam.

Animasi ini menjadi pemecah kebuntuan akan nasib film animasi. Disusul beberapa judul lain yang dikerjakan perusahaan lain. Rofiq sendiri merasa tak ada persaingan sengit. Televisi secara otomatis akan menaikan kualitas studio animasi lokal. Bahkan budget animasi -nya mampu setara produksi sinetron.

Menjadi animator termasuk mempengaruhi masyarakat untuk mencintai negeri, budaya, dan sepak bola. "Itulah yang membuat saya merasa tepat memilih animasi sebagai jalan hidup, tepatnya sebagai creativepreneur," tuturnya.

Songgo Rubuh dikerjakan serius oleh para ahli animasi. Soal skrip bisa memanfaatkan para penulis skrip sinetron. Perkembangan animasi dunia memicu semangat ambisius Rofiq. Selain nama animasi Captain Tsubasa, ia juga terinspirasi Steve Jobs, sang pendiri Pixar membuktikan semua orang bisa.

Masalah finansial menjadi kendala tersendiri baginya. Tetapi ia menyadari masalah itu bukanlah halangan bagi wirausahawan. Seniman harus tetap berkarya walau tak menghasilkan. Apalagi bagi pengusaha kegagalan harus diselesaikan. Masalah finansial juga pernah dirasakan Steve Jobs ketika itu.

"Siapa yang tidak ingin seperti itu (memproduksi animasi kelas dunia)? Pastilah finansial adalah hal kecil didalamnya. Setidaknya, Steve Jobs pernah mewujudkannya," ia menjelaskan.

Sang pengusaha muda tidak membatasi diri atau idealis. Perusahaanya juga mengambil pasar iklan layanan masyarakat, komersil, dan profil perusahaan. Dirinya mengelak sebagai animator tetapi jadi pemilik usaha. Perusahaan miliknya diisi oleh banyak talenta berbakat dalam bidang animasi.

Pengusaha muda yang menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ini merupakan pekerjaan bersama untuk menghasilkan karya. Wujudnya pun beragam selama bisa membantu karyawan. Ia mengatakan pada 2011, DGM mampu menghasilkan Rp.1 miliar lebih dan terus naik.

Kantor mereka yang dulu berpusat di Malang, kini diboyong ke Jakarta, dan membangun lagi di Surabaya. DGM telah mempekerjakan tidak kurang 20 animator berbakat. Proyek besar seperti film animasi, salah satunya berjudul Kukurockyou, film yang akan dipasarkan secara global.

Perusahaan DGM sendiri sekarang lebih berbuka untuk berkembang. Mereka bermintra dengan pihak pemasaran, distributor, pengelola lisensi dan merchandise. Tujuannya agar film animasi makin lebih banyak di Indonesia. Ini juga akan membangun ekosistem bisnis yang mumpuni di kawasan Asia.

Sebagai penutup Rofiq mengajak para santri untuk berkreasi. Apapun medianya kita bisa menyebar kebaikan. Ia memandang pendidikan hanya membaca buku. Sementara diluaran sana masalah yang sebenarnya terjadi. Para santri harus bisa mempraktikan buku manual yang telah mereka pelajari.

Mahasiswi Pengusaha Evi Marlina Fokus di Kerajinan

Profil Pengusaha Evi Marlina


mahasiswi pengusaha souvenir
 
Evi Marlina satu dari mahasiswi pengusaha yang peduli. Fokusnya kepada kerajinan asli Suku Anak Dalam. Dia tidak hanya mengambil keuntungan tetapi sosial. Tetapi Evi juga mengajarkan kerajinan lain, semua agar suku anak dalam menjadi produktif dan mengikuti pangsa pasar.

Bermula dari pembicaraan ringan dengan teman mahasiswa. Pembicaraan intelektual yang mengarah ke kewirausahaan. Mereka membahas apa yang unik dari Jambi. Para mahasiswa FKIP, Universitas Jambi, saat itu di tahun 2009, yang sebenarnya iseng kemudian berkembang menjadi niatan.

Niatan untuk mengunjungi suku anak dalam di Dusun Senami, Kabupaten Batanghari. Dari keinginan mencari yang unik, mereka ingin mensurvei kehidupa seperti apa mereka. Berjalan 60 km dari Kota Jambi untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan.

Mereka menemukan berbagai hal unik dalam kewirausahaan. Produk- produk unik yang dihasilkan mereka bisa dimanfaatkan. Awalnya anak suku dalam hanya berkreasi seni melalui produk kerajinan. Evi menemukan beberapa benda hasil dari survei pada Mei 2011 itu.

Bisnis Sosial


Dia menemukan satu kerajinan bernama Ambung yang unik. Produk rotan yang biasa digunakan masyarakat suku anak dalam. Itu biasanya digunakan untuk membawa barang- barang. Mereka juga bisa memproduksi tikar rumbai dari rotan.

Ide kreatif lalu muncul dari benaknya untuk memperkenalkan itu. Ia ingin memodifikasi itu agar bisa menjadi khas Jambi. Ambung sendiri biasanya besar, lalu dia perkecil seukuran gelas, dan dimasukan ke dalam kaca. Di gelas tersebut lalu ditulisi asal mula ambung beserta asalnya dari suku anak dalam.

"Yang kita tuliskan adalah, ambung itu apa dan biasa digunakan suku anak dalam untuk apa," ia bercerita.

Mahasiswi pengusaha ini kemudian memilih berbisnis. Evi memodifikasi udang- udangan menjadi gantungan kunci. Ia kemudian mengkombinasikan itu dengan ambung. Hasilnya mengejutkan karena itu diminati oleh Pemerintah, kemudian dijadikan plakat untuk seminar- seminar pemerintahan Jambi.

Kreatifitas Evi tak berhenti salah satunya membuat bunga rota. Evi juga mengajarkan ini kepada para anak suku dalam. Ada produk bungan rotan berbentuk bung lili air dan melati. Kerajinan rotan yang memodifikasi dari anak suku dalam tersebut masih banyak.

Evi mengatakan ada puluhan variasi yang bisa nanti dikembangkan. Mengusung nama SAD Rangke- Rangke atau dalam bahasa menarik- menarik. Benar saja namanya mampu menarik khalayak ramai.Ia memasarkan produk kerajinan tersebut dari door- to door, dari satu instansi ke instansi pemerintah lain.

Tidak peduli instansi pemerintah atau milik swasta dia datangi. Evi juga rajin mengunjungi pameran, termasuk yang diselenggarakan Bank Mandiri. Dia juga bekerja sama dengan Jambi Express untuk promosi. Evi memanfaatkan banyak cara seperto media blog, website jual- beli dan Facebook.

Perbulan rata- rata ia mampu meraup omzet Rp.6- 7 juta. Kerja kerasnya tak terbuang sia- sia, karena produk Evi mulai dikenal hingga dipasarkan keluar Jambi. Evi tidak diam kemudian ikut aktif untuk mensosialisasi. Dia melakukan pelatihan bagi anak- anak dari suku anak dalam yang terpencil.

Menjadi Pengusaha Sosial


"Saat ini terdapat 11 suku anak dalam yang fokus mengerjakan kerajinan ini," tuturnya.

Bermula pengabdian untuk lebih mengenal suku anak dalam. Evi berserta beberapa orang merubah ini jadi usaha. Para mahasiswi pengusaha yang fokus mengerjakan kerajinan. Mereka pun sepakat untuk mengangkat derajat suku anak dalam.

Bermodal uang Rp.5 juta hasil lomba Dikti, Evi dan kawan membangun bisnis ini dan memasarkan aneka kerajinan. Hasil lomba kemudian dijadikan modal membangun galeri pameran. Mereka lalu mengajak lebih banyak suku anak dalam, mereka bekerja sama membuat aneka produk kerajinan.

Aneka kerajinan dan replika mereka cukup murah dari Rp.2000- Rp.250 ribu. Permintaan datang dari Jawa. Mereka juga menjual sampai ke luar negeri seperti Cheko. Orderan datang dengan jumlah yang besar. Evi mengatakan omzet tidak besar sekitar Rp3- Rp.6 juta, pemesanan bersifat waktu tertentu.

"Biasanya mereka (suku anak dalam) menggunakan kata Rangke ini untuk mengatakan sesuatu atau seseorang yang dianggap cantik," Evi menjelaskan.

Didirikan 2010 silam, bisnis mereka merupakan kumpulan mahasiswa yang bersatu. Bermula dari lomba yang diadakan DIKTI atau Direktorat Penelitian Pendidikan Tinggi. Awalnya mereka tengah melakukan penelitian sembari membahas kewirausahaan.

Mereka melakukan survei kemudian pelatihan bagi anak suku dalam. Pemberdayaan dan pelatihan itu kemudian diikutkan perlombaan di Bali. Hasilnya produk mereka berhasil menarik perhatiaan para pengunjung. Meskipun penelitian telah selesai, SAD tidak berhenti malah semakin berkreasi saja.

Mereka memasarkan ke banyak tempat. Evi mengatakan beberapa teman membantu. Para mahasiswa terkadang membawa souvenir bikinan milik mereka. Tujuan awalnya untuk kegiatan sosial, bukan untuk bisnis atau profit. Mereka mengajak lebih banyak masyarakat menjadi bagian dari tim mereka.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba