Pencipta Jamur Crispy Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Tririan Artianto


penemu jamur crispy

Jauh sebelum "booming" nya bisnis jamur yang naik daun. Pencipta jamur crispy wirausaha muda mandiri, yang telah terlebih dahulu terkenal dari jaman now. Namanya Tririan Artianto, pemuda yang tercatat salah satu pemenang di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009 silam.

Kisah tersebut dimulai dari ketertarian Rian untuk berwirausaha. Bermula dari cerita- cerita mereka para pengusaha besar. Ia kagum karena jam kerja mereka tidak ketat. Sementara bisnis mereka bisa menghasilkan uang tanpa kehadiran mereka terus.

Kedua orang tua Rian hanyalah orang biasa. Ibunya bekerja sebagai guru, dan ayahnya bekerja di rumah sakit. Bayangan menjadi wirausahawan tidak ada dalam benak mereka. "Rencana saya baru jadi pengusaha setelah 30 tahun bekerja," ia menjelaskan.

Dia mau tetapi tidak cukup gila untuk nekat. Ryan tidak memiliki modal. Kedua orang tuanya lebih senang anaknya berkuliah. Maka Ryan lalu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Telekomunikasi Telkom. Pada dasarnya ia memang berotak cerdas, ketika SMA pun sering mengikuti ekstrakulikuler.

Ketika dia kuliah juga mengikuti anaka macam kegiatan ekstra. Rian selalu membagi waktu antara kuliah dan berorganisasi. Tidak ada pandangan sedikitpun mengenai kewirausahaan lagi. Begitu kelar kuliah, ia langsung bekerja di sebuah perusahaan vendor telekomunikasi.

Mimpi yang tertunda


Ryan telah hidup normal sebagai pegawai perusahaan telekomunikasi. Dia bekerja untuk membangun jaringan 3G di Surabaya. Selama enam bulan gajinya bagus sehingga tidak perlu pusing. Sampai dirinya ditugaskan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ia naik jabatan menjadi wakil manajemen di sana.

Begitu dia akan dipindahkan ke Jakarta, Rian menolak dan memilih untuk tinggal di Makassar. Dia jujur tidak cocok dengan suasana di Jakarta. Kemudian ada lowongan ke Arab Saudi, itu yang membuka pandangan Rian. Mimpinya berangkat ke Arab untuk mendapatkan kehidupan lebih baik.

Lantas bagaimana dengan mimpi besarnya jadi pengusaha. Begitu menerima tawaran ke Arab Saudi, Ryan bersama teman berangkat ke sana. Ia nekat mengiyakan dengan kemampuan bahasa Inggris dan Arab pas- pasan. Dia berkata bekerja ke luar negeri menjadi salah satu keinginan lain.

Baru bekerja tiga bulan, satu dari tiga temannya merasa tak cocok bekerja di Arab Saudi, dan ingin pulang. Karena soladaritas ia ikutan pulang kembali ke Indonesia. Sialnya, begitu pulang otomatis dia pengangguran, dan kesusahan mendapatkan pekerjaan bergaji setara.

Gaji bekerja di perusahaan telekomunikasi terbilang besar. Bekerja di luar negeri tentu menghasilkan lebih banyak gaji. Begitu pulang ke Indonesia, Rian keteteran menemukan pekerjaan denga gaji yang setara. Ia yang memang suka membaca buku pengusaha, ditambah tabungan gaji seadanya; dia buka usaha!

Untuk memenuhi keinginan itu berangkatlah dia ke Surabaya. Ia menemui seorang kawan yang biasa mengolah jamur. Temannya bercerita menjadi penjual jamur di pasar sulit. Teman Rian beberapa kali mengeluh karena dagangannya tak laku. Umur efektif jamur cuma dua hari untuk diolah masakan.

Disisi lain, ada temannya yang mengolah jamur di Bandung, Rian juga ikut memodali dia walaupun gagal. Bisnis keripik jamur temannya memberikan motivasi untuk bkreasi. Rian pun cukup terkesan dengan usaha temannya, sampai- sampai ingin mencobanya di Surabaya.

Bukan perkara mudah dia menyadari bisnis keripik tak berhasil. Saat itu, di Surabaya sedang musim kentang goreng yang ditaburi bumbu. Rian lantas berpikir kenapa tidak diganti jamur. Inilah cikal pencipta jamur crispy. Dia langsung mengutarakan niatnya kepada sang teman pedagang jamur.

Temannya tersebut setuju untuk membantu Rian berbisnis. Mereka lalu mencari resep yang pas enak. Keduanya kemudian patungan dan terkumpul Rp.35 juta. Modal itu dibelikan stan, peralatan masak, dan bahan baku. Kemudian lahirlah jamur crispy yang kering dibalut mayones dan saos sambal.

Pencipta Jamur Crispy

Camilan jamur ini begitu populer di Surabaya pada 2010 -an. Dia membuat gorengan jamur lengkap dengan tepung goreng. Ryan kemudian memberi topping diatas jamur- jamur itu, mulai dari sambal mayones hingga saos sambal. Kudapan kreasi Ryan yang kemdian diberi nama Mushroom Factory.

Insinyur telekomunikasi yang semakin sukses berkat jamur. Dia mengembangkan produk olahan agar beda. Bukan membuat keripik jamur, dia memilih menggoreng dengan taburan aneka saos. Total ia mengantongi omzet Rp.80 juta sampai Rp.100 juta.

Nekat ia membuka satu gerai pada tahun 2008 silam. Bermula dari pembeli yang penasaran akan jualan Mushroom Factory. Hingga mereka yang akhirnya ketagihan buat membeli lagi. Harga satu porsinya masih Rp.7000 -an. Butuh cuma tiga bulan, Rian bisa membuka empat gerai berturut- turut.

Jujur dia tak paham namanya sistem waralaba. Itu karena memang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Contohnya yang sukses juga terbatas itupun kurang menarik. Hingga munculah nama pemilik Baba Rafi, Hendy Setyono, yang menunjukan kita semua bisa sukses dimasa muda.

Mulai November 2009, ia menawarkan konsep kemitraan untuk Mushroom Factory. Alhasil dia bisa membuka cabang di kota lain. Ini sangat cepat sehingga membuat dia lumayan khawatir. Terutama bila melihat sasarannya membuka bisnsi premium.

Orang yang bergabung harusnya tidak sembarangan membuka. Ingin rasanya dia membuka gerai di mall seperti di Surabaya. Sayangnya biaya sewa bisa sangat mahal sampai Rp.7 juta perbulan. Ia juga khawatir soal standarisasi, karena ia cuma mensyaratkan 70:30 tanpa menganggu jalannya bisnis.

Rian mampu menggaet enam perwaralaba. Ia juga khawatir bila malah rekan pewaralabanya merugi. Maka pengusaha muda ini menghitung ulang rencana waralabanya. Untuk memasarkan waralaba, ia memanfaatkan website perusahaan, dan menjual lewat Facebook atau milist.

Rian tidak membuat keripik jamur, malahan mengemas ini menjadi jajanan premium. Dia mengemas produk Mushroom Factory agar premium. Tidak berhenti berkreasi, Rian yang sukses menyebut namanya Mushroom Factory, juga menyajikan enoki, brokoli, bawang bombay, dan lainnya.

Walau bisnis tersebut berjalan tetapi belum diakui. Butuh setahun hingga ia bisa meyakinkan kedua orang tua. Anggapan bahwa jadi pengusaha naik turun menkhawatirkan. "Apalagi setelah bisnis saya masuk koran dan televisi," ia senang, akhirnya dia bisa meyakinkan kedua orang tuanya itu.

Orang terlanjut mencap pengusaha hidupnya naik- turun. Mereka mengaggap pengusaha memiliki pendapatan tak stabil. Dia bertahan dengan memperbanyak varian produk. Rian mulai menjual sosis dan nugget, yang kesemuanya berbahan sama yakni jamur.

Merambah Bisnis Lain


Menjalankan usaha tanpa sepengetahuan orang tua. Rian lebih memilih untuk bilang masih bekerja di perusahaan. Padahal bisnisnya menghasilkan uang yang cukup besar. Bahkan melebihi apa yang dia dapatkan dulu. Orang tuanya tak sanggup mengetahui anaknya bukan pegawai perusahaan.

Mereka selalu menyuruh Ryan mencari pekerjaan. Dia berpura- pura bekerja di perusahaan. Padahal dia seharian mengurusi Mushroom Factory. Penolakan orang tua bukanlah hambatan Ryan berkarya. Menurutnya hambatan terbesar ialah pola pikirnya yang masih pegawai.

Mushroom Factory berjalan baik hingga Rian percaya diri. Ia pun memberi tau kedua orang tuanya. Berkat bukti berita koran dan televisi, dia mampu meyakinkan kedua orang tuanya untuk menjadi pengusaha. Mendapatkan restu bisnis Rian semakin moncer dengan aneka inovasi.

Ia menganalogikan pengusaha sebagai perenang. Belajar tekstual saja tidak cukup, orang butuh untuk terjun langsung berbisnis. Kesulitan finansial bukanlah hal baru bagi wirausahawan. Dia pernah kesulitan uang sewa tempat. Uang tabungan menikah pun dijadikan taruhan untuk menyewa tempat.

Usaha berkembang pesat sampai dia bisa membuka cabang. Begitu memakai konsep waralaba, bisnis Mushroom  Factory seperti terbang. Ryan sekarang bisa membuka usaha lain sebagai tambahan. Dia meniru pengusah lain, bahwa satu bisnis bisa tidak cukup yang terpenting ada kemauan.

Rian melebarkan sayapnya menjadi produsen dan ditributor jajanan. Produk bernama keripik jamur Tiramizzu. Keripik jamur yang diapresiasi masyarakat dengan baik. Bulan pertama produksi, dia maemproduksi 1000 kemasan keripik, yang dijual ke seluruh Indonesia seharga Rp.12.000.

Tak berhenti berjualan jamur saja tetapi produk lain. Rian merambah menjadi agen sendal, investasi telekomunikasi, dan memiliki 6 gerai waralaba outlet teh poci. Lalu dia berencana menyulap tanah didekat rumahnya menjadi pesantren wirausaha.

Ia betah menjadi pengusaha. Meskipun masih banyak orang menawari dia bekerja. Justru ketika dia menganggur susah dapat pekerjaan. Sekarang dia malah ditawari pekerjaan bidang telekomunikasi, bahkan sampai ke luar negeri dengan gaji tinggi, tetapi tetap gaji sebagai pengusaha lebih banyak.

Erwin Aksa Mental Pengusaha Sejak Kecil

Biografi Pengusaha Erwin Aksa


biografi erwin aksa

Biografi Erwin Aksa, bernama lengkp Erwin Aksa Mahmud, kelahiran Ujung Pandang, 7 Desember 1975. Ia selalu mengingat bahwa bisnis dan pengusaha merupakan bagian hidupnya. Ayahnya, Aksa Mahmud, adalah orang terkaya ke 34 versi Forbes di 2013, memberikan ketegasan dan disiplin tinggi.

Erwin kecil marasakan itu, bukanlah sesuatu yang mudah harus ikutan berkantor sejak dini. Di masa kecilnya, dia merasakan betul bagaimana tekanan sang ayah, ia harus mencontoh sosok ayahnya yang baik sebagai pengusaha dan pribadi. 

Baginya ayahnya merupakan tokoh yang inspiratif, selain itu dia pernah menjabat ketua HIPMI dua kali. Erwin yang memiliki sifat suka menerima tantangan membuatnya aktif berorganisasi. Terkahir, ia tercatat sebagai ketua HIPMI dari Sulawesi Selatan mengikuti jejak ayahnya.

"Ya. Dengan bismiallah, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah; saya terima amanah ini" ujar Erwin,  ujar Erwin, penggemar otomotif dan sop konro ini.

Anak Orang Kaya


Mungkin dia anak orang kaya tetapi tidak sembarangan. Erwin telah memulai dari bawah di Bosowa Corp. Di 1997, ia bekerja jadi executive director & deputy VPD PT. Semen Bosowa Maros, perlahan tapi pasti karirnya menanjak. Dia berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya di bisnis.

Erwin muda merupakan lulusan universitas Pittsburgh, Pennsylvania USA, akhirnya resmi menjadi direktur utama di PT. Bosowa Energy. Dia meneruskan karirnya sebagai pengganti sang ayah sendiri. Dia merupakan sosok yang pantas jadi direktur utama Bosowa Corporation.

Ayah tiga anak yang menunjukan bakat alami. Melalui Bosowa, ia mampu merubah bisnis berkali- kali lipat. Bosowa Corp merupakan perusahaan yang bermula dari perusahaan di bidang perdagangan umum, lalu CV. Moneter didirikan di Sulawesi Selatan, pada 22 Februari 1973 oleh Aksa Mahmud.

Pada 1978, perusahaan ini mendapatkan hak ekslusive untuk menangani pemasaran Datsun. Ini adalah merek mobil buatan dari Jepang tersebut diperuntukan untuk kawasan Indonesia Timur. Di tahun yang sama, di tahun 1973, Perusahaan berubah nama menjadi PT. Monetera Motor.

Kesuksesan tersebut semakin menjadi dengan pengakuan lainnya. PT. Monetera Motor mendapatkan kesempatan untuk memegang merek Mitsubishi wilayah Timur. Selanjutnya, perusahaan kembali berubah nama jadi PT. Bosowa Berlian Motor, dan menjadi tonggak penting bagi dirinya.

Berdirinya Bosowa yang berbisnis tidak hanya mobil. Bosowa adalah singkatan nama dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yakni Bone, Soppeng dan Wajo, semuanya wilayah Bugis. Dia yang menjadi direktur utama bukanlah karbitan, tapi benar- benar serius mengeluti bisnis.

Ia mendapatkan pengkaderan secara langsung bahkan dikabarkan hingga kabur dari rumah. Tapi, malalui itu pula, Erwin belajar lobi bisnis, negoisasi, sopan santun, kepemimpinan bisnis dan sosial.

 "Saya mau fokus pada bisnis inti yang prospektif saja. Makanya, kami melakukan regrouping menjadi cukup enam bisnis inti saja. Industri kelautan saya tidak masukkan sebagai bisnis inti Bosowa. Pertambakan ikan dan udang serta rumput laut, kami jadikan sebagai usaha pengembangan masyarakat, community development, supaya keberadaan Bosowa bisa benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat," ucapnya

Didikan Pengusaha Sejak Dini


Erwin pdiangkat menjadi ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Indonesia), ia sangat fokal dalam hal usaha kecil dan menengah. Dia melalui HIPMI menyuarakan tentang Kredit Usaha Rakyat, yang kala itu memang sulit untuk klaimnya, hingga kini kita diberikan kemudahan berwirausaha.

Sekarang, setelah lepas HIPMI, Erwin lanjut diangkat menjadi wakil ketua umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dan memegang bagian usaha kecil menangah (UKM).

"Salain ada kepastian, UKM kita butuh bantalan. Tapi bukan bantuan uang tunai, melainkan akses modal yang lebih mudah ke perbankan," kata Erwin disebuah pembicaran resmi, seperti dikutip dari situs Suara Pengusaha.

Karena kecintaan akan olahraga, Erwin pernah menangani sebuah klub sepakbola selepas kuliah di Amerika. Kegiatan tersebut dilakukannya disela- sela mengerjakan tugas di Bosowa. Ia sendiri sanggup, bahkan berhasil mengembangkan PSM Makasar.

Ia mendirikan klub alasannya selain gemar olahraga, dia mengaku sapak bola merupakan kegemaran anak- anak di Makasar. Sepak bola bisa menjadi lifestyle di sana, sehingga ia telah berminat untuk menahkodainya.

Berkat pengalaman organisasi dari SMA, PSM Makasar menjadi klub yang diperhitungkan ditangannya. Erwin berhasil bahkan melebihi ketua sebelumnya. Dia pun berhasil membuat PSM Makasar sukses menjadi runner- up di Liga Indonesia.

Lainnya, ia juga berhasil mengembalikan pamor PSM menjadi tim elit di Indonesia. Melalui olah raga inilah, ia patut mendapat apresiasi sepenuhnya. Erwin Aksa selalu percaya semangat datangnya dari hati. Dan, keluarga mendukungnya sengat berarti bagi kehidupannya.

Ayah dari Trinisha Erwin Aksa, Shyla Erwin Aksa, dan Muhammad Yusuf Akasa, dalam biografi Erwin Aksa telah mampu hingga sekarang menjadi pemimpin. Dia menjadi pemimpin tidak hanya di Bosowa hingga KADIN, tetapi menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarga kecilnya.

Membuka Restoran Jepang Pengusaha UGM

Profil Pengusaha Saiqa Ilham Akbar


pengusaha ugm berjaya

Universitas Gajah Mada (UGM) sering merajai kompetisi kewirausahaan. Seperti dua pemuda yang membuka restoran jepang ini. Pengusaha muda yang  berhasil memenangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009. Mereka Saiqa Ilham Akbar dan Sukantyoso Putro pendiri Hotaru Japanese Resto.

Mereka berhasil menyabet juara dua untuk kategori boga. Keduanya sukses menggagas bisnis resto Jepang lokal. Peluang bisnis ini sudah lama diamati Saiqa terutama di Yogya. Banyaknya orang yang antusias akan Jepang. Bisnis ini juga didukung oleh banyaknya komunitas pecinta Jepang.

Bermodal Rp.90 juta keduanya membuka usaha murah meriah. Dibanding usaha sejenis yang dibawa orang. Mereka menawarkan menu seharga Rp.10- 20 ribuan. Alhasil restoran tersebut laris manis didatangi orang. "Kami juga menyediakan segala pernak- pernik dan busana khas Jepang," ujarnya.

Tidak hanya mengandalkan menu makanan sesuai selera. Makanan yang enak seperti asli Jepang juga didukung fasilitas. Mereka bahkan membuka dojo untuk orang berlatih bela diri aslinya. Atmosfer Jepang terbentuk menggaet lebih banyak pecinta budaya Jepang.

Pengusaha pasti lekat dengan kegagalan. Bahkan 60% mahasiswa yang memulai usaha gagal total. Ini tak mudah tetapi Saiqa telah bertekat.

"Sebagai pengusaha tidak boleh gampang menyerah," ia menjelaskan.

Prinsip membuka usaha ialah tidak bisa instan. Semua butuh proses pembelajaran, dan harus jalan dengan penuh kesabaran. Baginya bisnis butuh untuk memberi manfaat orang banyak. Ia mengajak dua temannya, membuka 2 kedai di lembah UGM dan sekitar Jalan Godean.

Saiqa juga membuka tiga cabang di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Mengambangkan bisnis apapun tidak mudah. Mereka butuh pemasaran menarik pelangga, dan masahal sumber daya alam.

Rencana Usaha Ayam Bakar Mahasiswa Sukses

Profil Pengusaha Dymas Tanggul Panudju 


pengusaha mahasiswa
 
Semenjak kecil, Dymas Tanggul Panudju, memang gemar berwirausaha. Renacana usaha ayam bakar mahasiswa ini pun sukses. Bahkan bisnis ini bisa berkembang pesat. Dia, Mahasiswa Universitas Brawijaya, jurusan Teknologi Hasil Pertanian, malah memilih berbisnis ayam bakar.

Mungkin terlihat banyak persaingan tetapi pemuda 28 tahun ini mampu. Menyalip diantara bisnis serupa bukan mudah. Dipicu oleh kekurangan biaya kuliah, Dymas mulai sibuk bekerja sampingan. Ia harus memilih antara bekerja atau berkuliah, tetapi dia memilih berwirausaha dan tetap kuliah.

Pilihan tidak menyenangkan memang. Dia adalah memilih bekerja untuk membiayai kuliah, sekaligus mengumpulkan modal. Dia membuat opsi sendiri dengan mengakali biaya kuliah. Dymas bekerja di sebuah rumah makan, berlanjut karyawan sebuah perusahaan katering.

Bisnis Mahasiswa


Dia mungkin memiliki gaji cukup. Dymas bekerja di sebuah katering ternama. Ia pun bisa lanjut berkuliah. Rangkul hari mu atau seize the day, yakni prinsip bahwa keseharian harus diisi oleh hal- hal berharga. Mangkanya selain sibuk berkerja dan kuliah, dia juga aktif berorganisasi.

Dymas sempatkan diri mengikuti organisasi di kampus. Kemudian Dymas diangkat menjadi steering committee. Mendapat Jabatan bergengsi di organisasi, ia menemukan kasus- kasus unik sebagai celah bisnis. Kasus bahwa organisasi kampus membutuhkan katering yang berkualitas.

Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa membutuhkan konsumsi buat anggota dan panitia seminar. Ia kemudian mendapatkan tugas buat menyiapkan konsumsi. Tetapi keterbatasan dana menjadi masalah. Ia tetap semangat. Pokoknya tugasnya bagaimana menciptakan makanan murah tetapi berkualitas.

Jujur dia kembingungan menghadapai pesanan tersebut. Dymas lalu berpikir keras caranya untuk memenuhi kebutuhan katering. Disisi lain keinginan menjadi pengusaha katering muncul. Pasalnya karena kebutuhan makanan pesanan memang sangat dibutuhkan.

Memang bisnis kuliner tidak pernah ada matinya bukan. Prospek sebut saja jika 6000 orang hadir, dimana ada tiga hari dalam sepekan, dan dimana kegiatan itu sudah bersifat rencanan tahunan atau sudah pasti ada. Disisi lain, organisasi memiliki 10- 16 program kerja, yang pasti butuh makan.

Dymas mulai hitung- hitungan di atas kertas. Hitungan 36 Universitas di Malang, dimana jika mereka nanti menjadi pelanggan katering yang akan Dymas dirikan. Sudah berapa keuntungan bisa diraih oleh pemuda tersebut.

"Orang yang terbiasa menggunakan otak kanan akan melihat titik finish dimana ada banyak sudut pandang meskipun dalam benang kusut dan hanya 5 meter," ungkapnya dalam blog pribadi.

Masih kuliah Semester 3, dia membiayai semua bisnisnya sendiri bermodal pengalaman. Ia memutar otak agar bisa mendapatkan modal usaha. Pertama mikir mau pinjam bank tetapi pasti tidak dikasih mereka. Dymas mikir lagi apalagi mau minta orang tua, untuk biaya kuliah dan makan aja susah.

Pengusaha Muda Mandiri


Dia juga kayaknya malu kalau pinjam saudara. Maunnya sharing dengan teman satu kosnya. Lalu dia coba sampaikan ke teman- teman kosnya. Tidak disangka ide itu mendapatkan tanggapan baik. Ia pun mendapatkan dana Rp.4,5 juta.

Menurutnya waktu itu, hasil iuran, sudah termasuk banyak dari mereka mahasiswa. Dukungan moril juga diberikan teman Dymas. Ia sendiri berjanji uang tersebut adalah hutang usaha. Jadi bukan sharing modal. Yah teman- teman Dymas ragu tetapi tetap mendukung usaha itu.

Mereka nampak tidak siap untuk berbagi usaha dan percaya bahwa akan sukses. Ia memaklumi hal tersebut. Bisnis yang awal katering, lantas berubah menjadi bisnis ayam bakar, tetapi dia pintar tetap menarget pasar sebelumnya.

Dia mematok ayam bakarnya Rp.7.500. Dengan waktu itu, di tahun 2010 masih sedikit persaingan, dan bisnis ayam bakarnya masuk memenuhi pesanan buat mahasiswa Unibraw. Dymas berani untuk menyiapkan ayam goreng Rp.6.500, dibanding tempat lain sudah murah tuh

Padahal satuanya bisa Rp.10.000 -an di tempat lain. Udah murah dia bikin semakin murah saja. Hasilnya orderan Dymas membludak hingga tak kepikiran nama. Ia baru kepikiran nama usaha di akhir- akhir. Dulu pake nama pemberian teman tetapi dianggap tidak cocok.

Ia teringat asal usulnya. Pelosok Desa Ngimbang, Kabupaten Lamongan, inilah cikal bakal nama usahanya. Dymas ingin mengangkat nama desanya, dan ingin membuat orang tuanya bangga. Uang segitu ternyata tidak mudah loh.

Dia memulai usahanya bermodal dua kompor minyak dan satu penanak nasi. Dymas memang jago mengolah ayam. Bumbu racikan dicari sampai 36 kali hingga rasanya pas. Jadi dia tidak langsung launching bisnis, tidak berani mengecewakan pelanggan bermodal coba- coba.

Modal utamanya adalah ketekunan, keuletan, inilah rahasia dia menciptakan masakan sedap. Ini cara dia menemukan resep sesuai lidah pelangganya. Usahanya berkembang pesat, memasuki tahun 2007- 2009, dia membuka 15 cabang.

"Kalau soal bumbu, itu rahasia, nanti ditiru," selorohnya. Buat menunya ada ayam bakar Ngimbang, ayam goreng mentega, dan bebek halilintar.

Bisnis Ojek Sukses


Tahun 2009 datang masalah tidak terduga. Yakni penyakit flu burung yang merebak. Apalagi daerah Jawa Timur ramai sekali kasus flu burung. Alhasil, penjualan Dymas menurun drastis, banyak cabangnya tutup dan sisa tiga yakni di Malang, Surabaya, dan Lamongan.

Sudah jatuh karena flu burung, pihak mall juga melarang jualan ayam bakar karena asapnya. Agar bisa lepas dari jerat penyakit flu burung. Ia lalu mengedukasi masyarakat bahwa unggas miliknya aman. Dia lalu membuat stiker bebas flu burung, hasilnya per- hari bisa menjual 250 ekor per- hari.

Berawal dari satu outlet di depan Unibraw. Karena permintaan banyak, dia membuka empat outlet di luar kampus, terus hingga cabang di luar kota. Omzet tahun 2007 adalah Rp.60 juta, untung bersihnya sampai Rp.27 juta.

Tahun 2008 membuka empat outlet, hasilnya omzet Rp.128, laba bersih Rp.75 juta. Di 2009, omzetnya naik mencapai Rp.234 juta, dan untung bersih mencapai Rp.166 juta. Tidak berhenti di usaha satu saja, dia lantas membuka usaha ojek motor mengajak teman- teman mahasiswa.

Beberapa sepeda motor nanti dipakai oleh mahasiswa. Ia bahkan memadukan itu dengan teknologi komputer. Sebelum jamannya Gojek dan smartphone, Dymas menggunakan sistem komputer kuno. Dia juga berbisnis jajanan ote- ote, memang usahanya keliatan sepele, tetapi pendapatannya lumayan loh.

Banyaknya pesanan membuat banyak orang minat. Para investor menawari Dymas untuk menjadika usaha ayam bakar miliknya menjadi franchise atau waralaba. Selepas menang Wirausaha Muda Mandiri 2009, dan dapat juara 1, nama Ayam Bakar Ngimbangan.

Kemenangan ini semakin menarik investor untuk menjadi bisnis mereka. Namun, pengusaha muda ini belum kepikiran untuk waralaba, malah lebih fokus membuka cabang sendiri. Fokus ini didukung oleh kemampuan menjaga cira rasa tetap terjaga. Mungkin dia takut kalau nanti kualitas ayamnya menurun.

Resiko Jadi Pengusaha Agung Simply Fresh

Profil Pengusaha Agung Nugraha Susanto


agung simply fresh

Pernah tidak kamu merasa ingin sekali membuka usaha. Resiko jadi pengusaha Agung Simply Fresh, memberikan padangan menghadapi masalah. Resiko itu ada tetapi dia membuktikan pasti bisa kita selesaikan. Prinsip- prinsip kerja pria bernama lengkap Agung Nugraha Susanto patut dicoba.

Ia memutuskan memulai bisnis disaat kuliah semester 5. Jujur dia buta akan wirausaha, hanya sosok pemula yang meraba- raba. Ternyata tidak mudah buktinya dia bangkrut dua kali. Dia pernah bisnis jualan handphone. Agung juga pernah berbisnis kaos distro kayak anak gaul

Toh dia terlanjur terobsesi menjalankan wirausaha. Maka Agung yang masih bersatus mahasiswa Universitas Gajah Mada, nekat gadaikan BPKB. Surat kepemilikan kendaraan tersebut dihargai cuma beberapa belas juta. Padahal dia paling tidak harus menggelontorkan modal 30 jutaan.

Ia lantas mengakalinya dengan beli seadanya. "Uang hasil menggadaikan BPKB lalu saya belikan satu mesin cuci, dan satu pengering," kenangnya. Dia kemudian membuka jasa cuci yang ternyata banyak saingan. Dia butuh kerja keras menemukan keunikan agar tetap laku.

Kerja Cerdas


Sudah ada lima tempat laundry di kawasan tersebut. Ia harus memutar otak agar tetap laku. Layanan pertama ialah dia memberikan tarif kiloan. Kemudian kedua, Agung memberanikan diri mengaku bisa 4 jam selesai. Ini kemudian ditambah dengan empat varian pewangi yang beda.

Agung menjadi yang pertama menawarkan sistem kiloan di Yogya. Bertarif Rp.3.500 per- kilo, ia terpaksa tidur seadanya karena peminat membludak. "Saya harus rela tidak tidur 24 jam karena peminatnya banyak," kenang Agung.

Apalagi dia cuma memiliki satu mesin cuci dan pengering.  Modal 30 juta lalu digelontorkan, sebuah bisnis didirikan olehnya bernama Simply Fresh di tahun 2006. Bisnis laundry kiloan yang sempat ditentang orang tua namun mampu ia buktikan dengan 30 outlet di tahun pertama.

Setelah 5 tahun berlalu, dia telah memiliki 165 outlet yang tersebar di 50 kota dengan omzet miliaran. Ia masih muda, enerjik, dan sudah berpenghasilan miliaran. Sistem waralaba Simply Fresh ternyata sangat membantu, Agung pun berniat membuka cabang di Singapura dan Malaysia.

Itulah pengusaha muda kita, pria kelahiran Bandar Lampung 15 November 1984 ini terbilang pejuang tangguh dan pekerja keras.

"Dulu saya sering tidak pernah tidur. Saya berobsesi bisa sukses kuliah dan bisnis, ternyata itu tercapai. Saya lulus kuliah dalam waktu 4 tahun. Bisnis pun berkembang pesat," ucap sarjana hukum UGM ini.

Bisnis Pengusaha Muda


Laundry ini bukanlah bisnis pertama, sebelumnya, ia pernah menekuni bisnis pakaian dan telephon seluler. Inilah resiko jadi pengusaha Agung Simply Fresh harus kuat. Kedua bisnis itu gagal pada saatnya.

"Bisnis saya bangkrut, namun saat itu saya melihat bisnis lain yang menjanjikan yakni laundry untuk kalangan mahasiswa," ia melanjutkan

Dengan modal sisa dari usaha sebelumnya dan pinjaman. Dia menggelontorkan uang Rp.30 juta dan sukses besar. Ia berani menawarkan harga miring sampai 2500 per- kilo. Agung pun bergairah untuk berinovasi dan promosi.

Pelanggan bertambah bermodal peralatan seadanya dan dua karyawan. Ia menawarkan cuci kilat 4 jam. Keputusan ini memberi resiko harus sibuk sampai 24 jam. Kuliah menumpuk begitu pula cucian pesanan.

Keuntungan dari kedua outlet pertama mencapai nilai 8 juta rupiah. Sayang, disaat naik daun, kedua orang tuanya menginginkan sang anak bekerja kantoran saja. Hampir saja jalannya sebagai seorang pengusaha terkubur karena tak mau dianggap anak tidak patuh.

Orang tua ingin anaknya menjadi pegawai kantoran. Mereka tak rela Agung menjadi tukang cuci. Ayahnya seorang pengacara, sementara saudaranya ada yang jadi jaksa dan dokter. Maka ia menurut begitu lulus, Agung melamar pekerjaan, lolos seleksi, dan diterima.

"Tapi hasrat untuk berbisnis masih besar," ucap anak ke tiga pasangan Agus Susanto dan Hermin Yulistyowati ini.

Tak berhenti akal ia membujuk kedua orang tuanya dengan sedikit memelas. Orang tua pun luluh dan merestui. Tetapi ia harus meyakinkan untuk sukses besa. Agung lalu meminta waktu 1 tahun untuk membuktikan. Kalau gagal dia akan menuruti permintaan orang tua untuk jadi pegawai kantoran.

"Kalau gagal, saya siap turuti kemauan mereka dan mengubur dalam-dalam mimpi saya," tegasnya.

Ia pun mengutip kalimat dari Albert Einstein, tokoh idolanya, bahwa "imajinasimu merupakan cuplikan dirimu di masa mendatang" Agung pun memasang kuda- kuda agar bisnisnya semakin berjaya dan tak berhenti lagi di tengah jalan. Ia mencoba membuktikan sesuatu tentang keilmuan.

Bahwa ilmu bisnis ia pelajari secara otodidak bisa bekerja. Dia rajin membaca agar jualannya laku keras. Maklum Agung bukan tamatan sekolah bisnis melainkan sarjana hukum. Kerja keras dan peras keringatnya tak sia-sia, karena ia dapat memenuhi janjinya bahwa menjadi pengusaha ternama

Setahun bisnis laundry Simply Fresh berjalan, melalui sistem franchis atau waralaba menghasilkan hingga 30 outlet. "Saya bangga bisa membuktikan pada orang tua bahwa saya mampu," kata pria berkacamata ini.

Lundry Kiloan Murah Berkualitas


Jargonya adalah Laundry Kiloan Kualitas Berkelas, dalam lima tahun, franchise -nya telah menggurita ke berbagai kota besar. Ekspansi yang dilakukan Agung tidak tanggung-tanggung, bisnisnya sudah merangsek ke 50 kota besar di Indonesia dengan lebih dari 165 outlet tersebar.

"Outlet saya itu tersebar dari Aceh hingga Papua. Bahkan saya berobsesi menjelajah pasar manca negara," bebernya.

Peraih beragam penghargaan nasional ini, seperti Rekor Spektakuler Waralaba Laundry Kiloan Pertama di Indonesia (2008), Top 10 Indonesia Young Entrepreneur Franchise Award (2009), The Best Bisnis Prospect Indonesia Franchise Start-Up Award (2009) dan sejumlah penghargaan lainnya.

Ia menyebut bahwa kamu bisa mendapatkan 4 paket harga untuk franchise: seharga 109 juta (paket standar), 129 juta (paket eksklusif), 170 juta (paket industri), dan 305 juta (paket platinium).

Ia pun mendirikan PT. Sushantco Indonesia dimana ia sendiri adalah presiden direkturnya. "Saya bersyukur, karena bisa mengembangkan bisnis ini dari nol," pungkas pria yang telah memiliki 1000 karyawan dengan omset miliaran ini.

Bahkan, ia juga sudah merambah ke bisnis lainnya seperti resto dann properti. Ia menjadi sosok pemberontak tapi tetap santun. Dari bisnis laundry, ia merambah bisnis properti dan penginapan dari Simply Homy, lalu bisnis kuliner Resto Bobbys steak & d'grill stone, dan bisnsi snack bernama Don Simply.

"Saya bersyukur, karena bisa mengembangkan bisnis ini dari nol," pungkas pria yang telah memiliki 1000 karyawan dengan omset miliaran ini.

Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Kini mereka tentu merestui putranya yang tidak hanya sukses di bisnis tapi juga kuliah. Ia mendapatkan gelar sarjana hukumnya, menjadi pengusaha dan advokat, R. Agung Nugroho Susanto, S.H. Alumni dari Fakultas Hukum UGM. Seorang ADVOKAT No.010-00074/KAI-WT/I/2009.

Website pribadi: agungnugrohosusanto.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba