Cerita Pengusaha Dikira Gila Membatik Api

Profil Pengusaha Lugiyantoro 


 
Tradisi membatik sudah tidak lagi kaku. Banyak orang telah mengolahnya ulang, tentu tanpa meninggalkan unsur- unsur kearifan budaya. Tradisi ini coba dipegang oleh Lugiyantoro. Dimodifikasi ulang menjadi teknik membantik tersendiri. Pria 28 tahun asal Bantul, Yogya ini, dikenal sebagai pembatik menggunakan api.

Niat awal memang ingin melestarikan tradisi membatik. Tetapi bagaimana caranya agar dirinya nampak berbeda dibanding seniman lainnya. Ciri khas coba ditonjolkan lewat teknik pewarnaan dengan api. "Saya mencoba membuat batik yang dilukis dengan media api," ujarnya.

Kalau pembatik lainnya memakai malam dan canting. Kalau Lugi, begitu sapaan akrabnya, menggunakan media api menggunakan bahan khusus. Ia menjelaskan bahannya adonan tepung dan formalin, yang lalu ia tambahkan sedikit air.

Produksi Lugi menggunakan bahan kaos, kemudian dia akan membuat desain di atas karton. Begitu sudah dilubangi maka ia akan segera bekerja. Membentuk motif khusus di atas kerta karton dilubangi. Lalu dia akan mengoleskan adonan menurut pola. Selepas itu dia membakarnya hingga menimbulkan warna di atas.

Awalan, tunggu hingga adonan kering, barulah dia akan mengoleskan api di atas adonan siap. Ia bercerita butuh waktu tiga tahun hingga menemukan tekniknya. Cara membekarnya menggunakan alat khusus hasil modifikasi. Alat berbahan botol bekas, kemudian diisi sumbu dan minyak untuk bahan bakar.

Batik unik


Dengan mengolah bahan kain putih, dia menciptakan kontras warna membentuk kambar motif. Karena adaseum.prosesnya lama makanya produksi juga lama. Harga dipatoknya lumayan yakni Rp.200 ribu sampai Rp.500 ribu untuk 1,5 meter kain. Lugi mengaku belajar membatik secara otodidak lewat datang ke museum.

Inspirasi Lugi dalam berbantik adalah Pak Joko Sudadiyo, seorang pelukis batik. Dia menceritakan sosok yang dikenal dengan nama Joko Pekik, sudah tidak bisa dielak lagi salah satu maestro. Karyanya sudah sampai ke Eropa lewat melukis. Dia lah yang menyarankan Lugi untuk mencoba melukis batik saja.

Ia kemudian memikirkan bagaimana menjadikan identitas. Bagaimana agar dia bisa membatik, banyak cara dia lakukan untuk meningkatkan kemampuan. Kemudian dia mencoba melukis batik di atas kertas dulu. Ia kemudian tertarik untuk membuat di atas kain. "Saya coba buat dan eksperimen? " tutur Lugi.

Ia memanfaatkan api kecil atau sentir untuk menggoreskan pola. Penggunaan malam ternyata kemudian ia tambahkan agar terjadi perpaduan warna. Teknik ini menghasilkan warna coklat seperti terkena malam. Dia mengatakan proses pembuatan sampai lima hari.

"Waktu melakukan eksperimen buat bati api sempat gosong beberapa kali," kenangnya. Namun tekat kuat membuatnya tidak pantang menyerah. Akhirnya Lugi menemukan teknik tepat agar tidak terbakar. Ketika dia akan menjual hasil karyanya tersebut, bukannya didukung, teman- teman menyebutnya gila!

Pria kelahiran Bantul, 11 Desember 1988, ini malah dianggap aneh dan gila. Tekat dia kemudian ikutan ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), pada November 2016 silam, dan ternyata banyak orang minat untuk membeli karya Lugi. Banyak orang melihat ketika dia mulai membatik api kemudian ada pesanan datang.

Mulai diminati orang, seketika semangat Lugi menghilangkan pikiran dianggap gila. Seorang pengusaha harus siap dianggap gila. Uang Rp.900 ribu, lulusan SMA Muhammadiyah 1 Bantul tahun 2008 ini, lalu menjual 10 kaos batik dan 3 kemeja batik dalam kurun waktu 1,5 bulan, dimana totalnya Rp.3,35 juta.

Dibantuk Dakernas atau Dewan Kerajinan Nasional Bantul, dia mendaftarkan UMKM -nya menjadi badan resmi. Bisnisnya mulai moncer dan berminat untuk mematenkan produk buatannya. Dia berharap semakin dicintai produknya. Dia berharap orang mengenal batik api sebagai karyanya, kalau perlu sampai ke Eropa sana.

Boneka Lumut Planter Craft Hasilkan Jutaan Rupiah

Profil Pengusaha Faldi Adisajana 


 
Menjadi pengusaha di bidang agrari memang tujuannya. Faldi Adisajana, merupakan mahasiswa semester 5 Fakultas Pertanian, Jurusan Agrobisnis, Universitas Padjajaran. Berawal dari ide tentang sebuah teknik menanam asal Jepang bernama Kokedama. Ia lantas melihat prospek bisnis apalagi di daerah tropis.

Tanaman yang kadang terlihat menjijikan, karena licin dan lembab, diubahnya menjadi boneka- boneka lucu buat menanam tanaman. Bonek lumut Fadli mengambil lumut hutan maupun lingkungan sekitar. Ia sukses menjadi pelopor media tanam berbentuk bola imut.

Sukses Yotube


Berawal sebuah video You Tube, tentang bagaimana cara menaman lewat Kokedama, Fadli yang kebetulan mahasiswa agrobisnis berkreasi. Tidak mudah loh memulai membuat produk contoh. Untuk proses balajar termasuk belajar dari para petani lumut.

Mereka juga menjadi penyuplai bahan utama produk Faldi juga. Petani lumut lembang, sedangkan buat aksesoris tambahan dibeli awalnya di Nusa Tenggara Timur. Barang prototipe tersebut kemudian dijualnya seharga Rp.50 ribu- 75 ribu.

Jika di Jepang -Koke yang artinya lumut dan Dama yang artinya bola- digunakan sebagai media menanam bonsai. Ditanga Faldi logika dibalik bahwa bisa buat tanaman lainnya. Inilah awal lahirnya bisnis bernama Planter Craft. Uang dikeluarkan Faldi terbilang kecil yakni Rp.200.000 untuk membuat badan.

Selanjutnya, untuk lumut dan tanah, dia akali dulu sebelum membeli ke petani. Produk pertama Faldi itu berbahan lumut hutan gratis dan tanah sekitar rumah. Untuk bahan meliputi tanah, serabut kelapa, kerikil, dan lumut tentunya. Disatukan kemudian dijahit tipis membentuk bonek lucu, imut, bisa ditanami itu.

Tanaman diatasnya adalah akeseoris tambahan. Tinggal kamu tambahin mata aja seperti boneka. Langkah selanjutnya bisa menambahkan kabel sebagai tangan. Tanaman ditanam di atas bonek lumut tersebut juga seperti anggrek, kaktus, tanaman sekulen, kembang goyang atau bonsai sendiri.

Kegunaan benang ada buat merangkai kesemuanya. Dengan cara dibenangkan nantinya merekatkan antara lumut dan medianya. Jika sudah rekat sudah bisa dilepas benangnya. Soal lumut ternyata ada kekhususan sendiri agar sukses. Yakni bahan lumut harus lumut tebal yang memiliki kelembapan tinggi.

Dia juga mendapatkan suplier lumut dari Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Untuk bibit tanaman diperoleh dari Lembang. Memakai lumut berarti tanaman akan tumbuh lambat. Tetapi karena sifat lumut yang lembab menyimpan air, alhasil perawatan menjadi lebih ringan jadi memang saling menutupi kelemahan.

Produknya menonjolkan bentuk boneka sebagai faktor utama. Tanaman besar dihargai lebih seperi buat tanaman anggrek di atas lumut, harganya sampai Rp.150- 180 ribuan. Pokoknya semakin mahal tanaman hiasnya maka akan semakin mahal harga jualnya.

Perjalanan bisnis


Sebelum membuka bisnis boneka lumut, Faldi sudah terlebih dulu mengerjakan proyek bisnis lainnya. Ia memang gemar berbisnis apalagi bidang agri. Dia pernah berjualan tanaman Succulent dan Kaktus ditanam di atas  pot kayu. Di saat dipamerkan ke Event Car Free Day Dago, responnya kok tidak sebesar harapan.

Cita- cita awal seorang Faldi adalah desainer. Mangkanya, awal kuliah, ia sempat akan menetap di jurusan Desain Komunikasi ITB, tetapi gagal masuk. Melompat minatnya jatuh kepada agribisnis, tetapi jiwanya dalam berkesenian tetap ada. Jadilah gabungan tiga hal yakni seni, bisnis, dan agribisnis membentuk diri.

"Saya sejak kecil saya suka gambar dan beberapa hal tentang seni," tuturnya kepada Amazingbandung.com.

Kenapa berbisnis karena ingin menyalurkan ilmunya. Karena memang mengambil agrobisnis, mangkanya ya dia berbisnis tanaman hias, alasa lainnya karena suka tanaman hias. Tanaman hias buatan Faldi memakai kayu limbah menjadi bahan tanam.

Bisnis Plantercraft adakah dikorbankan seorang Faldi. Ya dia berkorban waktunya karena memang sewaktu menjalankan bisnis masih kuliah. Apalagi bisnis Plantercraft tengah naik daun. Jadi Faldi tidak mau untuk membuang kesempatan maskipun berpengaruh ke kuliah. Mumpung ada kesempatan nih tetap dilanjutkan bisnisnya.

Dia berpikir kalau dia memilih lulus. Kan kesempatan seperti ini bisa saja tidak terjadi lagi, jadi dia tetap berbisnis bahkan menjajaki masuk pasar ritel. Bayangan seorang Faldi adalah menjadi bisnisnya sampai go internasional. Pelan- pelan skripsi dikerjakan sembari berbisnis dan mengisi aneka acara seminar bisnis.

Sempat diprotes karena bisnisnya dianggap mengotori. Toh pada akhirnya, Faldi mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Apalagi ketika mereka menyadari prospek bisnis tengah dijalankannya. Berawal dari ide iseng kemudian mencoba dipasarkan ke sosial media, eh ternyata tanggapan orang melebihi harapan.

Ketika baru mulai beberapa minggu dengan sedikit foto. Tiba- tiba datang banyak orang dari televisi buat wawancara. Bisnis Faldi boleh dibilang mendapatkan promosi besar gratis. Dari televisi kemudian datang event organizer datang meminta bantuan buat mendekorasi dengan bahan lumut.

"Dekorasi ini saya dibayar Rp.10 juta sekali dekor," terangnya.

Dalam sebulan dia mampu menghasilkan 1000 buah. Dimana produk tersebut sudah dipajang di etalase Carrefur Kota Bandung. Bahkan dia diajak untuk mengikuti pameran ke Thailand dan Korea Selatan. Dia mengatakan produknya kebanyakan dibeli buat souvenir pernikahan.

Mengikuti pameran bisnis hingga berminggu, apa yang didapat adalah pesanan 500- 1000 buah buat untuk souvneri pernikahan. Penjualan yang terus meningkat maka ia mampu mengantungi omzet sampai Rp.50 juta dalam sebulan. Bahkan yang terbaru dia tengah menjajal proyek perpustakaan lumut di atasnya.

Penjualan dilakukan secara langsung, juga melalui online lewat www.plantercraftblog.com, dimana kamu bisa datang ke workshopnya di Jl. Sukagalih No. 58, Keluragan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Jawa Barat. Pemasaran lainnya yakni lewat Instagram Plantercraftbdg.

Perawatan lebih mudah menjadi pilihan orang dengan bisnis ini. Cukup bonekanya direndam air selama 3- 4 menit, oleh karenanya cocok buat media pendidikan anak- anak nih. Tidak berhenti di bisnis, dia juga mulai aktif di materi sosialnya, contohnya mengajak anak- anak belajar membuat boneka tanam lumut ini.

Sisi sosial lainnya, selain mempekerjakan pegawai, juga mengajak anak panti untuk mengerjakan produksi yang kemudian hasilnya disumbahkan. Tidak cuma memberikan uang tetapi juga ilmu pengetahuan. Saran buat pengusaha muda: Mulai lah berbisnis sejak usia dini, kan walaupun gagal masih disuport orang tua.

Pembuat Kue Brownies Natal Semarang

Profil Pengusaha Cisilia Tia Realita 


Membuat aneka kue merupakan pekerjaan Cisilia Tia Realita. Pengusaha kue asal Semarang ini dikenal akan kue brownies manisnya. Sang mama muda mengkhususkan dirinya berjualan kue natal. Kue brownies bertema natal tersebut mengundang banyak orang berminat.

Tidak cuma orang nasrani loh, kemampuan Cisilia mengolah manisnya kue membuat produk buatannya digemari semua orang. Tangan lincah tersebut cepat mengolah kue brownies. Toping cantik bertemakan natal warna- warni, Cisil tidak fokus ke natal, tetapi nuansa warnya memang mengesankan tersebut.

Brownies buatanya digemari banyak orang. Bahkan dipesan oleh masyarakat luar Semarang, ibu muda dua anak tersebut kemudian memasarkan produknya ke sosial media. Istimewanya kue brownies meliputi rasa juga kok. Ia punya teknik sendiri agar produknya makin lezat.

Percaya atau tidak, dia menggunakan kedua tangannya buat mengaduk adonan, dan buktikan bahwa rasanya lebih enak. Tujuan pengedukan tersebut juga punya maksud lain. Yakni permukaan akan terlihat mengkilap ketika diaduk dan kue buatannya memadukan antara rasa manis dan gurih.

Kue tersebut dibandrol seharga Rp.35.000 untuk ukuran kecil, dan ukuran besarnya seharga Rp.60 ribuan.

Sukses Bengkel Cilacap Besutan Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Jayusman, Rizal, dan Ade



Munculnya pengusaha muda memang membahagiakan. Mereka yang muda memberikan aspek berbeda di bisnis baru, maupun bisnis yang sudah ada. Tidak terkecuali anak muda asal Cilacap, Jawa Barat. Ambil contoh dua orang kawan Jayusman Widodo dan Khoerur Rijal, dua anak muda pemilik Djaya Motor.

Mereka membuka bengkel motor, yang mana merupakan hobi mereka, istilahnya menyalurkan hobi sambil berbisnis. Djaya Motor meletakan strategi berbisnis rapih dan bersih. Diliat dari tempat serta pelayanan mereka yang teliti menangani motor.

Berkat dukungan teman- teman bengkel mereka mulai menarik perhatian. Mereka mampu mengantungi pendapatan Rp.80 ribu- Rp.150 ribu. Teman- teman menjadikan juga bengkel mereka tempat nongkrong. Jayusman dan Rizal sudah menganggap mereka pelanggan mereka sendiri.

Mereka memang ingin menjadi pengusaha muda. Dan, untuk mencapai hal tersebut, mereka menyadari siap untuk menghadapi segala rintangan. Karena memang passion mereka, mangkanya apapun rintangan mereka buat senang menjalankan tantangan ke depan.

Terlebih nih kalau usaha dijalankan sudah menghasilkan. Orang tua mereka juga memberikan dukungan buat kedua pengusaha muda tersebut. "...agar kami serius wirausaha," ujarnya.

Lain cerita pengusaha muda Ade Izatul Kholiq, pemilik bengkel Dekilz Motor yang memili cara lain buat memanjakan konsumen. Ade memberikan layanan nyaman. Pelanggan mendapatkan minuman gratis, di bengkelnya juga punya dapur, kemudian karena target bisnisnya anak muda ya jadilah tempat basecamp.

Anak muda akan berkumpul mendiskusikan sesuatu. Mereka berkarya sambil menyervis motor mereka masing- masing.

Baik Jayusman dan Rizal, ataupun Ade merupakan perwujudan anak muda sekarang. Mereka yang tidak takut mencoba hal baru. Mereka wirausahawan muda mencoba mengambil jalur berbeda. Oleh karenanya mereka pantas mendapatkan penghargaan dari PT. Pertamina Lubricants lewat Enduro Students Program.

Mendesain Kayu Pinus Menjadi Perkakas Ajaib

Profil Pengusaha Ivan Yahya Adhieteja 



Pengusaha muda satu ini menciptakan desain sederhana. Tetapi justru dibalik kesederhanaanya, Ivan Yahya Adhieteja, mampu menciptakan hal berbeda dibanding orang lain. Ivan menciptakan aneka produk- produk sederhana bermanfaat berbahan pinus hingga jati. 

Furnitur sederhana tersebut dibuat untuk kebutuhan para pengusaha kafe. Sebut saja produk yang menarik dia miliki sebuah pot kaktus mini. Ya pot tersebut berbahan kayu yang eksentrik, cocok buat dipasang di tempat- tempat gaul dan easy going. Mimpi Ivan adalah menjadi seorang design- entrepreneur muda dan sukses.

Aneka produk meliputi pot, akesesoris ponsel, lampu meja, tempat tisu hingga kursi. Harga juga variatif dan lumayan terjangkau yakni Rp.25 ribu- Rp.900 ribu. Dibawah naungan startup bisnis bernama Izemu dan Ivan mampu meraup omzet sampai puluhan juta hingga ratusan.

Bisnis startup


Awal produk dipasarkan ke berbagai kesempatan. Utamanya mengikuti aneka pameran lewat brand sendiri yakni Izemu. Orderan datang mulai buat memenuhi ruang kantor hingga ke rumah. Bahkan nih, lewat Ivan masuk ke pameran terus, dia lebih banyak dapat proyek sekala menengah buat desain interior perkantoran.

Proyek deseriusin, Ivan mulai berniat membesarkan brand Izemu miliknya. Orderan pertama dia dapatkan Rp.100 jutaan, dimana dia menginvestasikan ulang uang tersebut, dibelikannya 8 buah mesin, harganya juga variatif, antara Rp.10 juta, sampai Rp.4 juta.

Lulusan desain produk RMIT University di Melbourne Australia ini, mengatakan bahwa produk dibuatnya awal menggunakan bahan pinus dan jati. Sebagai catatatan nih teman, dia membelinya langsung ke pihak Perhutani, kemudian diolah menjadi landasan buat aneka produk menarik Izemu.

Ide bisnis adalah membuat aneka produk keseharian. Mulai produk interior dan aksesoris rumah tangga sampai ke perkantoran bisa. Proses lumayan lama sampai setahun barulah produk Izemu dikenal. Butuh waktu buat branding dan desain.

Jika sebelumnya, Ivan lebih fokus mengejar proyek, untuk selanjutnya mengejar penjualan aneka produk dari bahan pinus. Produk dijual mulai Rp.50 ribu- Rp.300 ribu, untuk barang yang ukurannya jauh lebih besar akan lebih mahal yakni Rp.800 ribuan.

Produk populer menurut Ivan ada seperti baki dan kursi kayu juga. Pemasaran juga melalui aneka pameran seperti Inacraft dan sejenisnya. Omzetnya mencapai Rp.20 juta- Rp.30 juta setiap bulan. Untuk produk ia sekarang mampu menembus ke gerai- gerai besar di mal.

Dimana Izemu bisa ditemukan di 7 toko beberapa mal. Salah satunya di kawasan Kemang Village, lainnya produk Izemu juga dijual lewat website Izemu.com, dan Whatsapp 08892720400, dan juga Instagramnya di izemudesign.

Sukses meramu bisnisnya, Ivan masuk dalam jajaran finalis Shell Live Wire 2014.  Mimpinya sebagai seorang design- entrepreneur nampaknya sudah berjalan. Ini merupakan gabungan antara pengalaman jadi product designer seperti latar pendidikannya, dan bagaimana kesenangan berjualan.

Ivan memang senang bereksperimen menghasilkan desain khas. Dia menargetkan bagaiman menciptakan produk- produk yang beda sulit dikejar kompetitor. Ivan memanfaatkan sumber daya alam hayati Indonesia yang mana penyelesalainnya lewat sistem waterbase yang aman dan ramah lingkungan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba