Ikut Waralaba Waka Waka Gaji Diatas UMR

Profil Pengusaha Chaprina Kurniati Utami Dewi


 
Manisnya sukses membawa gadis muda ini berbisnis. Mencari kemandirian, gadis cantik bernama Chacha atau lengkapnya Chaprina Kurniati Utami Dewi, mencoba peruntungan lewat martabak mini Afrika Waka- Waka. Waralaba asal Jakarta tersebut dibawanya ke Solo, Jawa Tengah.

Panganan dengan aneka toping yang nikmat. Cuma berjualan dengan booth kecilnya di depan TK Kristen Manahan Solo, gadis berhijab ini mengaku untung. Dia menghabiskan 3kg adonan dan menghasilkan uang Rp.3 juta per- bulan.

Dia berhenti jadi pegawai. Fokus mengerjakan waralaba yang dia ikuti. Modal awal dia keluarkan yakni Rp. 7.500.000. Untung menggelontor melalui marketing sederhana. Cukup BBM dan brosur sudahlah cukup menjadikan dia untung. Gajinya menjadi wirausaha bahkan lebih besar dibanding cuma pegawai.

Lebih puas pula dibanding kerja bareng orang. Kenapa memilih martabak mini? Alasanya karena dia liat belum ada pelopor bisnis martabak mini. Kemudian karena produk Waka- Waka tebal kulitnya tidak tipis. Topping juga bukan sembarang tetapi sudah direncanakan matang.

Orang tinggal pilih topping sesuai selera. Banyak pilihan rasa mulai toblereno, nutella, ovomaltine, kitkat, dan banyak lagi. Kemudian aneka taburan lebih dari 30 jenis, dari kacang, coklat tabur, blueberry chip, dan lainnya.

Harga Rp.15.000 per- boks isi 4 spesial, satunya Rp.4000 -an. Untuk biasa Rp.10.000 isinya 4 juga, kalau beli satuan Rp.3000. Daerah Solo minimal beli 3 boks bisa delivery order. Kemudian dia juga siap buat pemesanan 30 boks. Kalau mau order banyak maka dua hari sebelumnya sudah pesan.

Harga mahal tentu ada komplain. Pelanggan ada pernah komplain soal harga. Namun ketika sudah rasakan kelezatan Martabak Waka- Waka langsung nagih. Repeat order mau beli lagi meski harganya mahal. Tapi sesuai kok, meski ukuran kecil, tetapi tebal dan topping nya total.

Banyak yang ketagihan. "Banyak repeat order," Chacha senang. Sehari dia menghasilkan 30- 50 boks. Yang mana adonan 3kg dimana 1kg menghasilkan 100 martabak. Optimis dalam sebulan dia akan balik modal. Untuk daerah Solo mau ikutan waralaba, bisa hubungi dia, karena akan ada trainning nya loh.

Untuk kedepan mau buka booth lagi. Di depan Lippo yang ramai banyak orang lewat. Buat membuka booth baru dia cukup bayar retribus pemerintah. Ditambah mengajukan ijin buat pedangan sekitaran sana. Dia mau menyasar malam hari karena dirasa paling ramai.

Mau Jualan Martabak Mini Waka Waka Prospeknya

Profil Pengusaha Sukses Cintra


 
Ia berkisah semua berawal Piala Dunia 2010 silam. Cintra, 42 tahun, dan suami, Suhendra, 26 tahun mulai membuat aneka martabak mini. Bisnis berdasarkan racikan bumbu Cintra. Khas itulah membedakan hasil karyanya dibanding buatan sendiri.

Dia juga tidak segan memberi lebih. Topping nya banyak tidak tanggung. Mulai berbisnis dia langsung bisa menghasilkan. Lalu langsung, Cintra dan suami langsung membuka prospek waralaba. Walaupun terbilang baru bisnis mereka melesat.

Kurang lebih mereka memiliki 800 mitra. Produk dia tidak cuma makanan tapi minuman. Omzetnya capai Rp.100 juta per- bulan jika ramai. Standar hasilnya antara Rp.20- 50 juta. Tetapi tidak semua mitra aktif menjalankan. Tidak sedikit dua kali order tidak ada kabarnya.

Untuk bisnis ini 50% mitra waralaba aktif. Tenang mereka tidak menarik royalti kok. Untung didapatkan mereka dari pembelian brand dan kios. Kemudian dapat dari pembelian bumbu racik oleh kita. Bumbunya martabak Rp.20 ribu, minuman racik dan botol milkshake beserta cool station adalah Rp.3.500.

Spesial bisnis Cintra adalah racikan green tea bernama Green Canyon. Dimana disediakan Rp.5 ribu per- bungkusnya. Dia mempertimbangkan sistem royalti karena saking banyaknya mitra tidak komitmen. Dia berpikir pakai royalti ada untungnya. Bagi brandnya bisa tumbuh pesat dibanding cuma waralaba begitu.

"Kita liat bagaimana kalau pake royalti, berjalan baik atau tidak," tuturnya. Kemudian dia siapkan skema model restoran dan kafe bernilai Rp.160 juta- 200 juta. Cukup bayar segitu dan semuanya akan disediakan pihak mereka.

Website:  www.franchisewakawaka.com

Sate Rembiga Lombok Bu Sinnaseh

Profil Pengusaha Bu Sinnaseh 



Tidak ada berbeda dari usaha dijalankan Bu Sinnanseh. Rasanya berbeda menjadi andalan. Bukan sate biasa, Sinnanseh mengatakan bisnisnya bukan produk baru. Kuliner bernama sate rembiga tersebut enak jos. Ia malahan memilih sapi lokal. Benar- benar sapi lokal ketika orang lain memilih sapi impor.

Ia menjaga kualitas bahan. Ingat kualitas produk merupakan utama. Bumbunya lengkap. Segala bumbu dia pakai seperti cabai, terasi, bawang putih, gula merah dan garam. Sate rembiga miliknya merupakan resep turun- temurun.

Resep asli Hj. Nasipah yang merupakan guru Sinnanseh. Diturunkan langsung dari si empunya kepadanya. Setelah dia meninggal barulah Sinnanseh barulah jualan. Rasa hormat memberanikan diri membawakan resep 25 tahun ini.

Bahan semua dicampurkan baru dibakar. Dia awal bekerja menjadi pembuat bumbu. Dia bekerja di kedai milik Hj. Nasipah. Dia bersama suaminya menghasilkan jutaan. Nama sate rembiga memang dikenalnya khas Lombok, Nusa Tenggara. 

Warung miliknya dikunjungi tidak cuma wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing.

"Kalau per bulan saya tidak hitung," tutur dia. Kalau per- harinya menghasilkan Rp.12- 15 jutaan! Wow, ia juga mengatakan puncaknya ketika puasa, maka omzetnya lebih dari Rp.15 juta per- hari.

Angka tersebut nyata. Karena dia bisa mengolah 100kg daging sapi dijadikan 9.000 tusuk. Tidak ada yang berbeda dari sate buatannya. Tetapi kemampua Sinnanseh mengolah dan mempertahankan kualitas sangat sedap.

Dianggap Gila Mau Jadi Pengusaha Kopi Pesisir

Profil Pengusah Yuri Dulloh 


 
Yuri sempat dianggap gila. Namun niatnya tetap bertahan sampai sekarang. Pasalnya dia tidak sekedar mau mengejar materi. Dua hasrat terbesar: Pertam Yuri Dulloh ingin menghijaukan kampungnya di Kebumen. Yang kedua adalah mengembangkan potensi kopi lokal asli.

"Saya dianggap gila ketika mulai menanam kopi di pekarangan rumah," kenang Yuri. Alasan Yuri tetap ada kepada pendiriannya, tidak lain karena sejarah Kebumen yang pernah menjadi pusat kopi Belanda. Disana ditanami aneka tanaman termasuk kopi dan berhasil.

Ditanami lah rumahnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tidak bisa dipercaya kalau kopi dapat ditanami di daerah pesisir. Dia juga merambah aneka macam jenis kopi ketika penelitiannya terbukti. Mulai Arabica, Liberica, Robusta, dan Javanica, mampu tumbuh subur di sana.

Buahnya memerah menghasilkan kopi tanpa cela. Tidak ada rasa berubah. Aroma juga nikmat layaknya itu kopi berasal dari daerah beralam sejuk pegunungan. Banyak orang terheran- heran kok bisa tanaman kopi tumbuh di daerah pantai ya.

Mimpi wirausaha


Ia bercerita hidup merupakan tantangan. Dia pernah mengerjakan aneka usaha. Merantau ke Jakarta tidak lain menjadi upaya Yuri merubah nasib. Dia pernah menjadi guru les, penjaga toko, salesman, captai bar, penjaga pintu tol, bahkan terakhir menjadi tukang masak restoran.

Antara Jakarta, kemudian ia ke Madiun, bersinggah di Semarang dan kembali ke Kebumen karena lelah. Mungkin hiruk pikuk kota besar dirasakan cukup. Tahun 2006 dia mencoba membuka usaha gypsum, dan juga menjadi tenaga pemasaran pabrik semen. Juga termasuk usaha jual- beli tanaman bonsai di pasar.

Sibuk berbisnis hingga sore Yuri sempatkan beristirahat. Disela- sela waktu, ia sempatkan mengobrol dengan masyarakat. Sebuah informasi mencengangkan bahwa di Kebumen, dulu, sekitar 5- 10 tahun silam berdiri pabrik kopi Kebumen. Namun kopi mereka tanam adalah kopi Lampung bukan Kebumen.

Apakah Kebumen memiliki kopi lokal. Pertanyaan tersebut menggelitik. Ia melanjutkan obrolan. Hingga ia menemukan fakta Kabupaten Kebumen punya kopi Salam. Sayangnya, produk kopi Salam sudah tinggal kenangan, sudah ditinggalkan masyarakat sangat lama.

Katanya warna kopi lebih pekat. Rasa kopi Salam konon memilik cita rasa lebih tajam juga. Berhentinya budidaya karena harga kopi rendah. Kopi belum sengetran sekarang. Alhasil petani mengganti tanaman kopi mereka menjadi cengkeh. Beberapa membiarkan tanaman mereka mati dan lahan tidak produktif.

Seketika dia mendapatkan inspirasi wirausaha. Ia ingin membudidayakan kopi. Bayangan kedai kopinya sendiri dan tanaman ditanam sendiri. Ia memulai dengan menanam 20 batang pohon. Berbekal akan rasa kepercayaan bahwa Kebumen pernah menjadi pusat tanaman kopi.

Tradisi menaman kopi memang sudah hilang. Banyak warga menganggam Yuri gila. Rasa optimis dia terus tumbuhkan. "Lah nyatanya tumbuh dan besar dan lebat," paparnya. Dia menaman di pekarangan rumah. Ia menunggu telaten pohon kopinya tumbuh. Sembari itu dia mengajak tetangga buat ikutan menanam kopi.

Tahan banting


Dia mengatakan sisa pohon kopi masih ada. Mereka tersembunyi diantara rimbunnya lahan tidak terpakai. Lantas Yuri menawarkan kerja sama kepada masyarakat. Ia menawarkan sistem bagi hasil. Yuri belikan bibit, menanam, merawat, dan memanen, sementara masyarakat mengikhlaskan tanahnya ditanami kopi.

Yuri ikhlas membagi dua hasil. Namun tidak semua petani langsung mengiyakan permintaan itu. Beberapa malah menolak. Untuk itulah dia serius membuktikan bahwa daerah pesisir juga bisa.

Fokus Yuri mengembangkan lahan kritis. Tanah yang tidak diurus pemiliknya. Dijadikan diolah menjadi tanah produktif. Ketika orang umum memilih pinus buat penghijauan. Yuri memilih menanam kopi jadi solusi penghijauan juga. Gerakan penghijauan produktif ini menggaung sampai Kulon Progo.

Menyiasati bisnis kopi diawal. Ia menggunakan untung bisnis gypsum. Dia juga merelakan gajinya jadi tenaga marketing. Sampai dua tahun barulah usaha dijalankan membuahkan hasil. Lahan tidak produktif itu mulai ditumbuhi pohon kopi berbuah. Kian banyak warga mengikuti jejak Yuri menanam aneka jenis kopi.

Pokoknya tidak boleh ada tanah menganggur. Kebumen harus berswasembada memiliki komoditi andalan. Ia mengakui semua dipelajari otodidak. Berbagai strategi menanam mulai okulasi dan stek dicoba. Dari hobinya bereksperimen dia bahkan menghasilkan perpaduan lima jenis biji kopi.

Tujuh tanaman kopi dikembangkan Yuri. Menurut Kompas.com, bahkan mengembangkan kopi lokal yang pernah hampir punah. Kalau melihat tanaman kopi liar di jalan, Yuri akan langsung cabut dan dibawanya ke Kebumen. Banyak tempat dia coba, mematahkan pendapat bahwa kopi cuma ditanam di tanah pegunungan.

Bahkan ada pohon kopi berusia 40- 50 tahun loh. Masih subur berbuah tetapi tidak dirawat layaknya satu komoditi. Dari biji kopi, Yuri merambah teh berbahan daun kopi, kemudian kulit kopi dijadikan pupuk cair dan padat. Hobi eksperimen bersumber dari berbagai tempat. Dia juga orangnya hobi berdiskusi tentang sesuatu.

Ia juga bertanya kepada perajin kopi di luar daerah. Dia lantas mengembangkan produksi kopi jadi. Alasan karena dia tau menjual biji kopi hasilnya dikit. Kopi olahan dihargai lebih tinggi dia sarankan. Sudah jadi makanan sehari- hari hasil eksperimen Yuri tidak sesuai harapan.

Pernah bahkan dia kehilangan 100 kilogram biji kopi. Kegagalan bagi Yuri adalah awal kesuksesan. Lalu ia mendirikan perusahaan sendiri. Brand yang bernama Yuam Roasted Coffee. Yuam berarti namanya dan juga nama Kecamatan Ambal. Dia juga belajar menyeduh kopi sendiri, belajar kursus barista di Jakarta.

Yuri juga bekerja sama dengan banyak kafe- kafe. Total ada 10 kafe dari Kebumen, Magelang, Purworejo, Sukoharjo, Semarang dan Yogyakarta. Yuri sendiri mengaku masih mau terus bereksperimen lewat kopi. Dia juga ingin lebih banyak membantu para petani khususnya kopi.

Impian lain Yuri, adalah tanaman kopi khas pesisir, aneka jenis kopi bisa ditanam di kawasan pantai. Dan ia tidak akan berhenti hanya di Kebumen. Yuri menargetkan pasar ekspor. Sejak 2009, dia memulai usaha, hasilnya mencengangkan contoh satu pohon usia lima tahun menghasilkan 25kg sekalinya panen.

Inovasi kopi


Kopi enak tidak harus mahal. Prinsip inilah mendorong Yuri berkreasi. Hobi eksperimen membawa dia menciptakan suatu alat unik. Yuri menyulap bambu menjadi alat penyaring kopi. Bambu dipotong lantas ia jadikan bak saringan ekspreso. Harga saringan asli ditaksir mencapai Rp.4 sampai Rp.50 juta rupiah.

Nah, kalau kopi sudah kena alat, maka harganya kopi ekspreso mencapai Rp.20 ribu- 50 ribu. Ia mencoba merubah paradigma tentang kopi ekspreso. Ia menawarkan kopi standar kafe. Proses pembuatan saringan ekspreso cukup sederhana loh. Bambu dibikin kayak gelas diberi lubang buat menyaring ampas.

Memang buat menyaring butuh waktu lima sampai sepuluh menit. Pria 37 tahun ini mengatakan hasilnya layak disandingkan ekspreso. Tetapi rasanya tidak kalah, bahkan mungkin unik dibanding kopi ekspreso standar. Pembuatan kopi macam ini sejak 2011 silam, dan dia juga menghias alat penyaring tersebut.

Ada pernak- pernik dipinggiran saringan bambu. Juga ditambahi aneka gambar dan diperhalus teksturnya. Ia menyebut agar banyak masyarakat tertarik. Satu paket kopi bambu seharga Rp.60 ribu sudah termasuk satu saset kopi Kebumen hasil tanamnya.

Sebagai mantan pengusaha muda. Yang masih tertahan menekuni bisnisnya. Ia mengaku masih saja sempat dicemooh gila. Butuh waktu dia memperkenalkan kopi bambu lewat workshopnya. Dia bahkan khusus memperkenalkan lewat komunitas. Dan mulai banyak barista Jakarta membeli kopi bambu karya Yuri.

Untuk melindungi hasil karya. Ia mendaftarkan kopi bambunya. Memang soal hak cipta menjadi masalah tersendiri. Balitbang sendiri menawarkan diri. Melakukan pendampingan agar bisnis terlindungi secara intelektual.

Kisah Tukang Angkut Ikan Menjadi Jutawan

Profil Pengusaha Jhon Nesimnasi 



Awal bisnis tidak menyenangkan. Kehidupan sebelum menjadi suplier ikan layaknya kuli. Jhon Nesimnasi, memulai menjadi pengakut ikan. Jhon sudah hidup susah sejak kecil, sudah terbiasa akan namanya kerja keras. Dia bekerja sebagai pengakut ikan.

Kuli ikan, sebelum usahanya sendiri dibuka 2002 silam, ia setiap saat ada kapal merapat akan segera berlari. Jhon akan membantu mengangkuti. Ikan dibawa ke pasar dan nanti ia mendapatkan imbalan lumayan. Lumayah loh, ia mengaku sehari bisa mengantungi Rp.100 ribu.

Meskipun begitu tidak mudah. Persaingan sesama ditambah kehidupan keluarga yang susah. Hidup adalah bekerja keras. Kedua orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah Jhon. Maka ketika pulang sekolah, Jhon kecil langsung berangkat ke pantai, mengangkut ikan- ikan membantu para nelayan bekerja.

Dimulai sejak sekolah menengah pertama atau SMP. Dia bersama kawan mulai ikut bekerja bersama. Jhon menjadi bakul ikan.

Kisah sukses


Nasib berubah ketika tempat itu dirubah menjadi pelelangan ikan. Pantai kecil tersebut sudah memiliki satu tempat khusus. Nah, karena Jhon dikenal dapat dipercaya, maka para nelayan menerima bantuannya. Ia dijadikan suplier buat nelayan menyetorkan ikan.

Ia mengatakan menghasilkan Rp.20 juta. Itu diluar biaya yang Jhon keluarkan buat anak buah loh. Ada 16 orang dipekerjakan dia. Tugas mereka membongkar ikan dan membawa ke pelelangan. Sebagai suplier dia bekerja mengumpulkan ikan hingga dipasarkan ke pasar- pasar di daerahnya, dan pengolahan ikan juga.

Setiap harinya pria 40 tahun ini bisa memasarkan sampai 10 ton ikan. Ikan dipasarkan banyak macam, dari ikan cakalang, tuna, layang, tongkol, dan kakap. Moda dikeluarkan Jhon terbilang kecil. Kepercayaan akan John membuat bisnisnya lancar. Usahanya terus berkembang lewat kemitraan bersama.

Jhon pun merasakan berkat kebaikan nelayan. Dia memberikan timbal balik. Yakni memberikan modalnya ke nelayan. Sebagai gantinya meminta dia menjadi supliernya. Para nelayan akan menjual ke Jhon buat dia pasarkan. Namun dia menggunakan harga lelang yang disepakati bersama.

Uang dibutuhkan nelayan senilai Rp.2- 7 jutaan. Utama nelayan akan memancing tuna. Lamanya lumayan sampai tujuh hari melaut. Atau bahkan mereka bisa memancing sampai sepuluh hari. Kemitraan dijalankan Jhon mampu membeli dia satu kapal sendiri. Dan dibawah naungan Jhon ada 22 kapal mitra milik nalayan.

Kondisi angin laut menjadi tantangan tersendiri. Bahkan ketika musim angin barat, dalam dua bulan dia bisa tidak mendapatkan ikan. Kalaupun nelayan bisa menangkan ikan ya terbatas. Pria asal Kupang ini dulu pernah terjerat rentenir. Dia harus membayar bunga sampai 10- 20 persen dari total uang dipinjamkan.

Hingga situasi tersebut dapat diatasi selepas 4- 5 tahun. Paling terberat adalah karena hutang Jhon tidak boleh dicici. Kewajiban membayar hutang tersebut akhirnya terbayar. Karena dia memakai uang bukan buat sembarangan. Hasil usahanya penampungan ikan, gudang seluas 8x13 meter, dimana ikan disalurkan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba