Kerja Dulu Baru Buka Usaha Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Bayu Wirawan 




Skill dipelajari seseorang ketika sekolah, belum tentu menjamin kesuksesan seseorang. Justru dari hobi kita bisa menemuka skill utama kita. Sekolah cuma mempoles teori sedangkan dari hobi bisa jadi sebuah pekerjaan nyata. Inilah kisah seorang pengusaha pemilik toko kue bernama Queen Pastry.

Sempat dia bekerja di restoran dan bakery. Justru disana, dia belajar banyak, berkat hobi memasak pula dia jadi semakin percaya diri. Ini kisah Bayu Wirawan, yang kemudian resign kerja untuk mengejar bisnis pembuatan roti. Meskipun sekala kecil dia mengerjakan dengan senang hati dibanding menjadi karyawan.

Bisnis kue


Agar dapat modal dijualnya motor pribadi. Dia tidak pernah belajar di luar negeri. Tidak pernah belajar buat membikin kue khusus. Modalnya nekat dengan uang seadanya. Total Rp.500 ribu digunakan sebagai modal bisnis. Skill terasah selain karena hobi tetapi juga karena keluar masuk perusahaan bakery.

"...benar- benar memulai dengan Bismillah," tuturnya.

Tetapi dia tidak langsung resign. Awalnya dia masih bekerja hingga bisnisnya matang. Merasa omzet sudah matang. Bayu baru memutuskan resign. Mantan karyawan Aston Hotel ini, memproduksi setelah pulang dari jam 12 malam sampai 6 pagi.

Untuk awalan dia membidik makanan umum. Sesuatu yang tidak mahal dijangkau semua golongan. Namun cita rasanya harus sekelas bakery besar. Inilah daya jual Bayu berbekal modal seminim itu. Targetnya kue- kue pasar seperti donat isi, bolen keju, seharga Rp.2000/pcs, donat keju Rp.3000/pcs.

Tidak cukup juga ada roti mini bite, roti kacang coklat, lapis Surabaya, American risoles, pastel ulir, dan akhirnya aneka wedding cake. Tidak mudah tetapi berhasil. Tiga bulan omzet terakhir Rp.100- 180 jutaan. Dia dibantu sang istri semakin menajamkan bisnisnya.

Berbisnis hanyal berbekal ijasah SMA. Tetapi lantaran karena memang hobi masak. Ia memilih untuk bisa mengembangkan skillnya. Bukan lewat kuliah, selepas SMA, Bayu memilih bekerja di sebuah toko kue saja. Sambil bekerja sambil mengasah kemampuan langsung tanpa teori melulu.

Dia keluar- masuk toko bakery dan restoran di Pontianak. Pikirannya bagaimana mengasah skill tetapi dia dibayar. Apalagi kalau sudah masuk umur 30 tahun, kan ijasah SMA saja tidak cukup. Prinsipnya di dunia kerja digeluti itu. Semakin pengalaman di dapur maka akan semakin dicari oleh perusahaan bakery bukan teori.

Jatuh bangun pemasaran pernah dilalui. Dia pernah terpuruk. Tetapi bangkit kembali membenahi sistem di dalamnya. Bayu pernah kesulitan bekerja sama dengan karyawan. Kini, dia memilih lebih aktif di dapur, hasilnya bisa dirasakan pada produksi kue miliknya.

Walaupun sudah menjamur tetapi dia yakin. Bisnis bakery bisa dia taklukan dan tetap menghasilkan omzet menjanjikan. Untuk itu inovasi selalu diberikan Queen Pastry. Termasuk salah satunya ialah ia membuka tawaran kue blackforest, vanilla cake, dan cake brownies, dengan desain pesanan kita sendiri.

Rugi Bisnis Konsinyasi Tetap Berjuang Terus

Profil Pengusaha Kartika Yuswadi Soediwardojo 


 
Siapa sangka berawal keisengan menjadi bisnis serius. Kesenangan seseorang siapa sangka, seperti kisah dari Kartika Yuswadi, yang merubah kesenangan menjadi bisnis. Iseng dia menjual hasil karya kerajinan tangan miliknya. Dia memang hobi membuat aneka pernak- pernik gelang sendiri.

Nama lengkap wanita 28 tahun ini, Kartika Yuswadi Soediwardojo, hobinya mengkoleksi buku. Dimana dia memilih jurusan kuliah D3, kemudian berlanjut S1 dibidang Ekonomo Manajemen di Univesitas Islam Indonesia.

Sebelum usaha gelang dia pernah usaha lain. Bisnis kecil- kecilan membuat aneka kartu ucapan. Yang dia lalu jual kepada teman- teman kuliah. Bosan, Kartika lantas mencoba sesuatu yang baru, alasannya usaha itu dirasa tidak efesien dalam waktu. Kan dia melanjutkan kuliah tentu meskipun renggang tetapi harus efektif.

Bisnis gelang


Awal dia mempunya banyak waktu kosong, karena Kartika mengambil program ekstensi, jadi materi kuliah sudah habis di awal. Waktu kosong disempatkan membuka- buka buku bukan pelajaran. Dia mempraktekan apa di buku handycraft yakni membuat kerajinan kertas -awalanya sekali tuh.

Uang Rp.50 ribu digunakan untuk modalin awal. Uang segitu menjadi aneka kartu ucapan, atau berupa juga bookmark buku. Lantas dia titipkan ke penjual Malioboro. Ternyata, eh ternyata, jualannya laku terjual loh dan membuat dia semakin bersemangat menitipkan barangnya ke toko- toko souvenir lainnya.

"Saya nekat menitipkan hasil kerajinan tangan saya ke toko- toko tersebut," ia menerangkan. Lewat para penjual Malioboro nama Karika kokoh sebagai pengusaha muda.

Waktu itu jujur tidak diperhitungkan sama sekali. Dia tidak perhitungkan biaya produksi, biaya operasional dia keluarkan. Pokoknya dibenaknya titip dan laku terjual. Padahal dia harus membayar biaya konsinyasi besar yakni senilai 50%. 

Dia santai saja karena hal terpenting laku. Apalagi produknya belum terstandarisasi, dan ada yang belum layak jual menurutnya. Pada waktu itu dia dapat untung Rp.50 ribu bulan pertama, dengan produksi yang masih kecil segitu sudah banyak.

Potongan konsinyasi tidak dipikirkan. Yang penting dia melihat prospek bisnis tersebut. Maka wanita kelahiran 8 April 1980, mulai memproduksi kerajinan lainnya, seperti clay, peperquilling, clay tepung, knitting, sulam dan sebagainya.

Bisnis berlanjut

Ia lantas menambah modalnya. Uang Rp.1 juta hasil pinjam orang tua diglontorkan. Kartika mulai fokus untuk mengerjakan bisnis sampingan ini. Alhasil dia kini tidak lagi menganggapnya bisnis sampingan. Ia tetap fokus merampungkan kuliah kok. Dasarnya rasa penasaran mencoba apa di buku tersebut lagi dan lagi.

Pelan tetapi pasti dia belajar lewat praktik. Mencoba apa di dalam buku kembali. Dua bulan dia mengawali bisnis. Bayangkan dia mengantungi untung Rp.700.000.000. Kartika senang karena bisa merangkul lebih banyak karyawan. Sekarang dia tidak bisa menjalankan bisnis sesuka hatinya lagi.

"...sudah ada tanggungan gaji karyawan dan tagihan ini itu yang perlu saya pikirkan," tandasnya.

Semula hanya sampingan sekarang menjadi bisnis utama. Kemudian dia beri nama bisnisnya itu Semoet Ketjil dan menjadi salah satu pengusaha muda kebanggaan Indonesia.

Produk andalan Semoet Ketjil lainnya. Adalah aneka gelang lucu. Berkat ketekunan, dia mampu tidak lagi berkonyasi, tetapi kerja sama saling untung dengan beberapa toko. Bahkan Semoet Ketjil sendiri yang ditawari kerja sama. Kartika sendiri tidak terobsesi dengan keuntungan bakal diraubnya nanti.

Kualitas baginya menjadi nomor satu. Hal desain berbeda membuat produknya gampang disukai. Saat ini dia berproduksi 1000- 1500 buah, seharga antara Rp.15 ribu- 500 ribu. Karena bisnis dijalankan berdasar passion jadi terlihat santai.

Dia sendiri tidak memiliki rahasia khusu sukses. Sarana promosi juga umum seperti sosial media. Tetapi dia menekankan selalu berinovasi. Bagi pemula, ingatlah untuk mengamati potensi sekitarnya dulu, jadi tidak tergesa- gesa berbisnis. Memang bisnis butuh perhitungan sebelum meluncurkan produk kamu.

Contoh, kan dia tinggal di kawasan wisata, jadi dia lihat apa yang potensi dari daerah Yogyakarta itu, maka jadilah bisnis aneka aksesoris miliknya.

Penjual Prabotan Akar Kayu Jati Nur Ali

Profil Pengusaha Nur Ali




Namanya pengusaha pasti pernah gagal. Begitu juga Nur Ali, rejeki justru datang ketika dia iseng belaka. Kok malah menjadi bisnis menjanjikan kedepan. Pria yang dulu pernah berbisnis ayam potong ini. Gagal. kemudian iseng menaruh akar jati erosi di depan rumah.

Bisnis akar jati dimulainya lima belas tahun silam. Awalnya dia menirukan mencari akar jati, tapi bukan dijadikan kayu bakar seperti tetanggnya, dia taruh di depan rumah buat hiasan. "Siapa tau ada yang berminat (iseng)," kenang Ali.

"Saya menunggu beberapa hari, tak ada yang menawar," ucapnya. Akhirnya ada orang iseng membeli kayu jati itu. Uang Rp.65.000 masuk kantong buat akar kayu jati. Dia sempat diejek tetangga. Akar kayu yang item kusam tersebut dijual- jual, ngapain?

Niatnya berbisnis bukan mencuri. Ali cuek ketika mendengar cemooh tetangga. Mantan buruh tani, itu loh orang yang disuruh mengerjakan sawah orang lain, ini memang memiliki mental pengusaha karena sudah terbiasa gagal. Lambat laun dia menemukan akar jati tersebut bisa dipoles bukan sekedar glondongan saja.

Jujur akarnya itu keras, susah dibentuk, jadi baiknya dibiarkan begitu saja. Natural memang akar kayu itu sudah terlihat indah. Cukup dibersihkan dan diperhalus saja. Bentuknya sudah bagus, kalau beruntung dia dapat yang berbentuk hewan. Harganya lumayan dibanding bentuk biasa dipajang di depan rumahnya.

Cara mendapatkan akar kayu jati erosi, Ali datang ke tengah hutang, seizin PT. Perhutani sebagai pihak yang bertanggung jawa. Ali akan berjalan masuk hutan kawasan antara Ngawi, Madiun. Jarak dari rumahnya sekitar 100km dari rumah. Tahun ke tahun, bisnis Nur Ali makin bagus, tidak lagi bentuk standar biasa.

Ali menjual buat kursi, meja, bentuk jamur, dan aneka souvenir. Tapi benda itu masih setengah jadi yang mana dijualnya dari Rp.50 ribu sampai Rp.5 juta untuk ukuran besar. Harga akar jati erosi yang besar memang harganya lumayan yakni Rp.750 ribu sampai Rp.5 juta, untuk meja besar Rp1- 1,5 juta, kursi Rp.250- 500 ribu.

Souvenir dijual terjangkau yakni Rp.50 ribu, dimana tiap bulan dia memproduksi 1.000 buah souvenir ke berbagai daerah. "Kalau bentuk bagus, karakternya bagus, ada daya seninya, saya jual Rp.5 juta," ia lalu menambahkan. Selain dia, kini, tetangga Ali ikutan berbisnis sama bahkan membentuk paguyuban akar jati.

Untuk sementara ini, orang desan Ali menjual bentuk setengah jadi, tentu kalau bentuk jadi akan jauh lebih mahal harganya. Meskipun begitu perputaran uang bisnis ini ternyata sampai miliaran.

Bisnis Sepatu Kulit Mahasiswa Keterusan Suksesnya

Profil Pengusaha Jangkar Sri Kusumo Wibowo 



Kekuatan pengusaha muda satu ini adalah keberanian. Prinsip dipegangnya usaha dulu, tidak ada kata buat keraguan. Meskipun ada masalah, Jangkar Sri Kusumo Wibowo tetap usaha meskipun kegagalan pasti membayangi langkahnya. Dia tidak pernah takut berwirausaha.

"Bagi saya, yang penting action dulu. Saya tak mau ragu- ragu," paparnya.

Bisnis dicoba Jangkar adalah memproduksi sepatu kulit. Prospek bisnis ini nampak jelas. Kita tau bahwa sepatu sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Dilihar dari segi kegunaan, fashion, serta estetika maka sepatu tengah digilai anak muda.

Bahkan pria jaman sekarang rela. Mereka rela merogoh kocek untuk mengkoleksi sepatu. Sebuah hal yang tidak kita temui ketika dulu. Inilah coba diraih oleh industri sepatu lokal. Bagaimana caranya pengusaha muda seperti Jangkar mengambil celah kebutuhan anak muda -yang tergeneralis oleh perusahaan besar.

Perubahan trend tidak diikuti oleh perusahaan sepatu besar. Sementara mereka sibuk menebak pasar yang terlalu luas. Pasar lokal menjadi perhatian khusus Jangkar. Apalagi sebagai anak muda tentu dia lebih tau kesuksaan anak muda kita sendiri.

Pengusaha lokal jaya


Prospek cukup tinggi dilihat Jangkar. Pemuda 23 tahun ini ternyata mampu meraup untung jutaan rupiah. Ia mengaku tumbuh ide karena hobi. Dia memang hobi beli sepatu tipe leather footwear atau sepatu kulit. Ia tidak peduli mereknya. Sepatu lokal banyak dimiliki Jangkar tidak pilih- pilih merek.

Pembuatan sendiri mulai digeluti April 2012 silam. Awalan dia mensurvei pasar dulu, tidak langsung saja membuat produk. Dia mensurvei jenis apa yang cocok buat anak muda. Mencari tau sepatu macam apa yang dia sukai bukan cuma mengandalkan selera pribadi.

Dia kepikiran kesukaanya akan sepatu kulit. Lalu dia langsung aksi tidak pakai pikir lama. Mahasiswa dari Universitas Airlangga ini, langsung mencari siapa bisa bikin. Uang digelontorkan Jangkar ada Rp.8 jutaan dan jadi 32 pasang.

Per- pasangnya dia jual Rp.450 ribu sampai Rp.425 ribu. Dalam waktu dua bulan habis sudah barang dia buat. Omzetnya kemudian digunakan untuk membeli bahan baku kembali. Hasil produksi dan penjualnya mencapai untung Rp.15 juta. Dia sangat senang dan bangga karena merupakan bisnis pertamanya.

Kan jarang nih, apalagi mahasiswa, menghasilkan uang sendiri murni dari berbisnis bukan jadi karyawan tengah waktu. Sudah 10 bulan dilakui diakui masalah tetap ada. Meskipun langsung untung, Jangkar akui ada saja masalah berdatangan, berwirausaha memang tidak mudah teman.

Prinsip Jangkar pasti ada celah dibalik setiap kesulitan. Dia tinggal memikirkan dimana letak celah itu. Ia memastikan kita tidak boleh berhenti mencari jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dia menyebutkan beberapa masalah dihadapi. Pokoknya tanamkan dibenak kita harus selalu semangat usaha.

Masalah seperti produksi yang molor, ngaret, dari deadline yang dia berikan ke pihak produksi. Atau yang ngaret pengiriman bahan baku ke tempatnya. "...itu saja yang bikin sebel," curhatnya.

Mengusung nama Zappier dia mencoba mereguk pasar anak muda. Modelnya mengusung modal kuno, ia menyebutkan model broques, modelnya Inggris kuno. Kan biasanya anak muda suka sporti dan kasual. Dia mencoba menawarkan gaya vintage yang berbeda.

Modelnya elegan jadi tidak keliatan jadul. Cocok buat anak muda menurutnya. Alhasil usaha yang dimulai sejak 2017 itu. Akhirnya meraup perhatian anak muda Indonesia. Pelanggan datang merupakan anak muda berbagai profesi.

Omzetnya mencapai Rp.15 Juta per- bulan dimana terjual rata- rata 32 pasang, terjual offline ataupun online. Produknya masuk toko- toko baik di Surabaya, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Dia menggunakan kulit domba asli awet 4 tahun lebih. Hingga nama Zippier diminati para artis musik indie.

Para artis tersebut bahkan membawa brandnya ke luar negeri, sebut saja Endah n Rhesa, Sore Band, Rock n Roll Mafia. Memang berbisnis ini tidak bisa langsung dihargai seperti sekarang. Pasang surut sudah dia temui. Semua masalahnya menurut Jangkar merupakan proses pendewasaan berwirausaha teman.

Bisnis Jangkar juga mulai berkembang tidak cuma pada sepatu, ada produk dompet, belt, gantungan kunci, slingbag, dan beberapa aksesoris berbahan kulit lainnya.

Mencari Kemasan Rendang Terbaik Uni Farah

Profil Pengusaha Retno Andam Sari 


 
Namanya Retno Andam Sari, sedikit dari banyak pengusaha rendang kemasan sukses. Ceritanya berbeda dan wajib kita simak bagaimana dia menangani persaingan. Semua bermula ketika, di 2004 silam, dimana dia mulai mencari ide bisnis.

Dari ide bisnis apa bisa dijadikan hantaran. Makanan apa yang khas Padang, yang bisa dijadikan hantaran buat pernikahan. Maka dia berpikir tentang rendang dalam kemasan. Dia kemudian menamai usaha rendang itu Uni Farah. Naman yang berdasarkan nama putrinya sendiri dan memulai usahanya.

Berawal rendang dikemas dalam toples. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia mencoba. Retno memang ingin menciptakan alternatif. Tujuannya agar berbedang dengan rendang lain. Lalu dia tawarkan sebagai hantaran Lebaran.

Sesuatu yang nyeleneh atau unik tidak langsung sukses. Ia bercerita bagaimana pandangan sinis orang ke dia. Beberapa melihat keunikan dan melihat rendang dalam toples masuk akal. Mereka inilah peminat rendang Uni Farah. Lambat laun orang banyak semakin meminati rendang tersebut karena memang enak.

Pengemasan produk


Sukses rendang dalam toples, Retno belum merasa nyaman dengan jualannya. Ia berpikir bagaimana agar jualannya lebih mantap. Bagaimana agar kemasan lebih aman terutama ketahanannya. Bagaimana agar juga nyaman dikirim dan dibawa ke mana- mana.

Maka dia berpikir tentang rendang divakum. Rendang kemasan vakum lebih aman, menjadi lebih bersih, jadi lebih praktis, lebih lama disimpan. Kalau kamu simpan di freezer bisa tahan sampai 6 bulan. Kalau disimpan di chiller rendang bisa tahan 3 bulan. Di suhu ruangan bertahan sampai 2- 3 minggu.

Ibu dua anak ini semakin mantap menjajakan rendang kemasannya. Seperti kata penulis sebelumnya ada saja yang nyinyir melihat rendang kemasan Retno. Mereka merasa gak penting dikemas seperti ini. Ya karena mereka bisa menemukan rendang dimana- mana.

Rendang kemasan belum dianggap penting. Butuh waktu buat mengenalkan produk rendang kemasan itu, ya kesabaran sebagai pengusaha diuji, banyaknya rumah makan padang dianggap masyarakat tidak perlu ada rendang dikemas.

Masyarakat lantas mulai menyadari keberadaan produk Retno. Mereka mulai memesan untuk keperluan traveling -seperti membeli buat dibawa oleh orang yang berangkat haji. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah atas. Mereka dianggap lebih sadar akan kepraktisan rendang dikemas vakum miliknya.

Mereka yang suka kepraktisan buat dibawa dan disimpan. Pikiran Retno mengarah ke populernya nuget dan sosis dalam kemasan. Kenapa produk lokal seperti milik kita tidak bisa. Meski kemasan sudah sangat modern ternyata dia tetap tradisional.

Pembuatan rendang buatanya masih pakai tungku kayu bakar. Agar menjaga kualitas rasa masakan Sumatra Barat katanya. Uang 3 juta dibelikan mesin vakum cuma satu, dan bahan baku daging dan bumbu. Lalu dibuat menjadi rendang aneka rasa. Ia ciptakan rendang suwir, rendang paru, rendang ayam, dan udang.

Harganya variasi mulai Rp.28 ribu sampai Rp.450 ribu. Ukuran mulai 100 gram sampai 1 kilogram. Sarjana desain grafis Universitas Trisakti ini. Juga tidak tinggal diam melihat minyak rendang yang jatuh menetes. Ia terinspirasi akan minyak zaitun dan minyak cabai yang dikenal masyarakat.

Apa guna minyak rendang tersebut. Bisa digunakan menambah cita rasa rendang. Atau bisa kamu gunakan untuk memasak nasi goreng atau bahkan pasta. Biar rasa rendang tersebut mengalir menjadi penyedap rasa ke masakan kamu. Minyak tersebut didapat dari hasil tirisan rendang yang sudah jadi.

"Minyak rendang ini menjadi penambah aroma masakan," tuturnya. Per- botol 250cc dibandrol Rp.50 ribu. Ia mengatakan hasil untunga dari keseluruhan mencapai 15- 20 persen.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba