Notaris Sambilan Pengusaha Sarung Tangan Musim Dingin

Profil Pengusaha Wing Mahareny 




Seorang notaris yang mendadak menjadi pengusaha. Apalagi dia menjadi pengusaha garmen. Uniknya ya karena dia sama sekali tidak bisa menjahit. Kesempatan itulah Wing Mahareny Yudiati lihat ketika melihat bisnis sarung tangan. Walaupun tidak bisa menjahit, dia tetap "paksakan" menjadi pengusaha dengan segala suka- duka.

Tugasnya menyuplai buat kebutuhan perusahaan lain. Dia membuat lalu dilabeli sendiri orang lain.  Dimana ada perusahaan asal Korea, batal investasi di Indonesia. Perusahaan Korea batal membangun pabrik di Magelang. Tetapi sudah terlanjur melatih 150 tenaga kerja lokal.

Semua karena Gunung Merapi meletus di 2010. Padahal mesin juga sudah berdatangan siap pakai. Disisi lain, bisnis Wing lumayan, menyetok tiga perusahaan melebeli produksi Wing sendiri. Ketika dia ditawari  kerja sama sang pengusaha asal Korea. Tinggal menyiapkan tempat buat berproduksi dan ia sanggupi itu.

Bisnis peruntungan


Bukan perkara mudah menciptakan sarung tangan. Awal bisnis usahanya gagal menembus pasar luar, juga tidak cocok di lokal. Usaha sempat mati suri tetapi tetap bertekat. Sempat berhenti produksi ketika rekan bisnis mereka berhenti berproduksi -mungkin perusahaan asal Korea tersebut ya.

Karena alasan keamanan ketika Gunung Merapi meletus. Untung kejadian bencana tidak berlangsung lama. Alhasil Wing kembali mencoba peruntungan bisnis sarung tangan. Perusahaan asal Korea tersebut juga membuka peluang berproduksi sendiri lebih banyak.

Dipikir mencoba sesuatu lebih baik. Ia mengambil alih 75 orang pekerja siap pakai -hampir semuanya perempuan. Laki- lakinya kecil jumlahnya, termasuk orang kepercayaanya, pimpinan perusahaan dibawah Wing langsung sebagai tangan kanan. Perusahaan berjalan lebih cepat, tetapi kok tidak semudah itu jualan.

Di Magelang sendiri, wanita muda lulusan SMP- SMA, lebih senang bekerja menjadi pelayan toko atau pembantu rumah tangga. Tempat kerja Wing sendiri memiliki tekanan tersendiri. Dimana ia menerapkan tempat kerja tenang, tanpa gangguan ponsel di jam tertentu, pokoknya tidak boleh mengobrol tapi kerja.

Inilah yang membuat karyawan Wing susah. Mereka merasa kurang nyaman karena ada tekanan. Terutama jika ada pesanan besar membutuhkan target waktu. Mereka belum terbiasa. Apalagi ditambah soal tempat tinggal yang jauh dari tempat produksi. Butuh waktu naik angkot, lebih banyak uang habis buat ongkos.

Ujung- ujungnya beberapa pegawai mengompori. Mereka mengajak teman buat keluar perusahaan. Ini jadi beban produksi karena butuh orang baru. Kemudian masalah pegawai lain dari orang dekat Wing yang ikut dipekerjakan. Karena merasa dekat secara pribadi, kebanyakan bermuka tetapi kerja nol.

Masalah lain umur pegawai, ya, karena pegawai kebanyakan perempuan umuran 15- 18 tahun. Kan kalau sudah saatnya ada cuti nikah, cuti hamil, kalau sudah begitu susah dipaksa bekerja lagi. Mangkanya dia banyak bongkar pasang pegawai. Susah mempekerjakan pegawai dari nol lagi, tetapi mau bagaimana lagi.

Sukses belajar mengenai manajemen otodidak. Ia menerapkan pegawai hanya bekerja satu pekerjaan. Jadi yang mengerjakan pola satu tugas, tidak dari semua pola sampai jadi dikerjakan pegawai. Pokoknya satu orang mempunya satu kerjaan yang harus diselesaikan. Ada khusus memotong, menjahit luar, variasi dan sebagainya.

Kacau, padahal belum balik modal, padahal dia beru merenovasi bangunan biar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Korea tersebut. Sampai sempat putus asa menyerah akan keadaan. Dua tahun awal bisnis itu dianggap paling emosional. Alhasil berefek hubungan dengan karyawan, manajemen, dan hasil produksi.

Setelah bongkar- pasang pegawai, akhirnya, Wing mendapatkan tim solid bekerja bersama. Ujungnya ya ia mampu memproduksi lebih banyak sarung tangan cantik. Ia menerapkan quality control ketat. Wing cari pegawai dari desa- desa, mereka perempuan yang tidak memiliki pekerjaan tetap, mereka dididik jahit.

Prinsipnya mereka mau kerja diberi pelatihan. Bahkan ia rela mengirimkan mesin jahit ke desa. Mulai lah sistem tersebut berkembang. Dimana perempuan desa dilatih, kemudian desanya dijadikan Wing tempat produksi, ada dua yaitu di Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Grabag di Kabupaten Magelang.

"...dan satu lagi tempat produksi di rumah saya," tuturnya.

Kenapa memecah pusat produksi, ternyata ada alasan tertentu, lantaran bagaimana membuat mereka bisa bekerja dekat rumah. Urusan emosi memang wanita lebih rentan. Untuk kendali Wing sudah memiliki sosok tangan kanan.Tidak ada kerja sistem kontrak, mau kerja ya kerja, kalau keluar sudah punya skill.

Bisnis harus kuat


Kenapa bisnis garmen selalu menggunakan perempuan. Dasarnya perempuan telaten, sabar, dan persaaan halus, tentu terbawa ke produk mereka ciptakan. Kalau dikerjakan tangan kasar nanti lekas rusak. Ibarat dia karakter seseorang terlihat dari sentuhan di mesin jahit.

Oleh karenanya, pegawai tidak boleh pindah mesin jahit, satu mesin hanya diperuntukan khusus buat si pemegang sejak awal.

Pasar Wing adalah perusahaan di Korea, mereka bisa meminta label dipasang disini. Lalu perusahaan itu akan ekspor ke Eropa, atau negara bermusim empat lain. Katanya sih dijual di mal- mal besar karena dia memang buat sarung tangan musim dingin.

Si perusahaan Kore akan menjual ke berbagai perusahaan besar, seperti ada Adidas, Nike, dan Sanrio yang punya hak cipta Pororo. Adapula perusahaan alat olah raga lain, Eagle, menawarkan kerja sama langsung buat konsep sarung tangan. Wing becerita konsep sangat bagus, tetapi lebih rumit bila nanti dikerjakan.

Untuk sekarang ini, Wing merasa sangat beresiko, daripada nanti terlalu banyak reject. "...lebih baik saya tolak." Ada 10 jenis sarung tangan dan dikerjakan bertema permusim. Produksi juga mengikuti musimnya, contoh dikerjakan bulan Januari, maka dikerjakan 2- 3 bulan sebelumnya agar sesuai musim dinginnya.

Setiap sarung tangan memiliki perbedaan, baik bahan, material, dan kebutuhan pasar. Apalagi sekarang dia tidak lagi cuma memproduksi sarung tangan musim dingin umum. Kan ada sarung tangan golf, ski, atau aktifitas lainnya, yang tentu bahan berbeda, ada lycra, parasut, dan sebagainya.

Mesin jahit juga disesuaikan bahan. Jika tidak, ketika pergantian kain, satu jenis mesin jahit malah bikin mesin macet, jahitan benang ruwet, lompat- lompat, dan sebagainya. Mangkanya mesin jahit harus beda juga termasuk soal jarum. Pokoknya satu mesin jahit hanya dikerjakan oleh satu pegawai ahlinya saja.

Setiap bulan dia memproduksi lebih dari 5000 pasang. Pesanan tergantung musimnya, contoh lebih detail, sarung tangan golf pada bulan Januari- April, kemudian bulan Mei- Juli ada pesanan dari perusahaan sepatu boot asal Finlandia. Harga jualnya misal sarung tangan anak Pororo harganya mencapai Rp.400 ribu.

Perusahaan sendiri memang tidak menarget produksi besar. Pasalnya melihat pengalaman lebih baik kecil tetapi tetap dan bagus kualitasnya. Sesuaikan dengan jumlah karyawan 60 orang dan 75 mesin jahit, kira- kira bisa berproduksi 5- 6 ribuan lah.

Ternyata sepanjang perjalanan tidak semulus kelihatan. Kerja sama dengan perusahaan Korea sudah tidak lagi. Lantaran makin ke sini, pengiriman bahan makin berkurang dan terlambat, eh ternyata perusahaan itu sudah punya cabang lagi di Yogyakarta. Memotong uang sebagian tidak sesuai kontrak pertama mereka.

Sempat memegang 2- 3 pesanan dari perusahaan berbeda. Kini dia lebih nyaman fokus satu perusahaan rekanan. Untung dia menemukan perusahaan yang sesuai, jadi mereka kerja sama sudah empat tahun jalan, keduanya juga fokus membuka usaha bersama di Yogyakarta.

Wing sendiri ketika ditanya mau gak bikin merek sendiri. Kepada Tabloid Nova, dia memang ingin sekali menjual langsung ke pembeli. Dia juga melihat bagaimana beberapa pegawai masih dibawah UMR. Dia ingin sekali menjual tanpa perantara. Mungkin dengan meningkatkan kualitas produksi dan menjajal pasar lokal.

Memang kalau dijual buat lokal susah. Apalagi bahan baku impor, termasuk bulu dombanya, mangkanya tidak salah jika harga jual dikisaran Rp.400 ribuan. Oleh karena itu, untuk pasar lokal, Wing tengah hitung- hitungan biar produknya bisa diminati siapa saja. Yang jelas menurut Wing sumber daya manusia utama!

Selain menjadi pengusaha, ternyata Wing masih kerja menjadi notaris sejak 2005, dan juga pernah jadi anggota DPRD. Kegiatan lain menjadi semacam pelestari manian tradisional lewat sebuah komunitas di Magelang. Mengurus pegawai sudah jadi biasa, dulu, dia pernah bekerja di Salim Group pada 1991 -an.

Jualan Sarung Pas Lebaran Untung Kodian

Artikel Bisnis Pengusaha Tanah Abang 



Bisnis sampingan paling laku di Lebaran. Mungkin jawabannya bisnis jualan aneka kue kering. Namun, ternyata ada juga bisnis lain, yakni jualan sarung. Contoh sukses gampang kok. Mereka yang berjualan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Salah satunya pengusaha kecil bernama Upi, berbisnis dua bulan sebelum Ramadhan. Kalau bulan puasa ramai, lebaran tuh lebih ramai. Puncaknya ketika lebaran telah usai. Jualannya gampang musiman cuma 2 bulan sebelum Ramadhan cukup.

Meski musiman omzet kok mencapai Rp.300 jutaan. Selama tiga bulan periode tersebut sudah sangat lah cukup. Jualan Upi beragam merek dari biasa sampai terkenal. Penjualan perkodi menguntungkan karena per- kodi dibandrol Rp.900.000/kodi, dan sarung paling mahal per- kodi sampai Rp.2 jutaan.

Sabunan Gak Pakai Air Pengusaha Muda Afrika

Profil Pengusaha Ludwick Marsishane


  
Ketika dia masih duduk di bangkus SMP. Merasakan susahnya hidup di Benua Afrika. Ludwick Marsishane berpikir kenapa sih mandi butuh air. Padahal kita tau Afrika dikenal daerah tandus kekurangan air. Maka ia kemudian kuliah jurusan Ilmu Science di University of Cape Town.

Untung dia bertemu rekan bisnis baik, Lungelo Gumede, dan ketika bisnis mereka mulai berjalan. Mampu menggaet tenaga profesional, seperti Dr. Hennie du Plessis -ahli teknik kimia dan merupakan pimpinan formulasi industri- sebagai ujung tombak. Temuan mereka simple kok tetapi membantu banyak orang.

Awal ingin menciptakan lotion buat tubuh. Itu digunakan sebagai pengganti air mandi dan sabun. Tetapi dia berasumsi sudah ada. Hingga Lud mulai meneliti sendiri apakah ada. "Produk seperti ini tidak ada di luar sana," ia paparkan. Dia lantas belajar dari bahan lition, krim, atau pembersih tangan, agar bisa buat tubuh.

Bagaimana mereka diciptakan. Bagaimana menemukan sesuatu tenpa harus menggunakan air. Bahkan dia sudah merancang tabel formula sendiri. Berlembar kertas berisi teori serta table formula, tetapi apalah daya, Lud tidak memiliki sumber daya. Sayang sekali.

Ide awal


Ide awal memang bagaimana menciptakan mandi tanpa air. Namun, ternyata dibalik ide, ada celetukan dari seorang kawan yang malas mandi. Ketika suatu hari dia dan teman hendak jalan ke pantai. Dengan santai si teman berkata, "adakah seseorang menemukan sesuatu buat badan tetapi tidak perlu mandi."

Inilah ide awal, lampu penerangan terpancar, sebuah "oh" faktor yang dikaitkan dengan populasi Afrika dan dunia yang mana 2,5 juta orangnya tidak punya akses air. Tanpa ada arahan dia langsung membuka banyak hal. Dari halaman Wikipedia dan pencarian Google menjadi rujukan Ludwick agar tercipta sesuatu.

Dia tinggal di pinggiran Kota Limpopo, dimana sumber daya terbatas. Di tempat yang begitu jelek, yah di Afrika, banyak orang sakit karena bakteri kulit bahkan dalam air tenang. Bayangkan jarang air, adapun air bisa membunuh mu.

Bakteri tersebut, melalui kulit meresap ke sistem pencernaan kamu, menyebabkan diare, atau sekedar ada di mata kamu -membuat trachoma, infeksi mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Kalau buat tempat yang sudah bersih penemuan Ludwick bisa digunakan sebagai pembersih tubuh aman, dengan atau tanpa air.

Inilah kelahiran bisnis bernama DryBath. Sebelum memasuki perkuliahan, sudah siap- siap dipatenkan, ia menciptakan formulanya sendiri. Dan akhirnya menjadikan dia orang termuda pemegang paten di Afrika. Masalah baru datang karena dia belum bisa memproduksi masal.

Formula sudah ada dua tahun sebelumnya, nah kalau masalah bisnis baru dikerjakan ketika dia masuk ke Universitas. Selepas sekolah menengah, dia dapat beasiswa nih, ke UCT dimana menjadi sumber daya dia menyempurnakan konsep awal. Hingga dia mengikuti lomba kewirausahaan sehingga uangnya jadi modal usaha.

"Itu tidak berhasil seperti saya pikirkan awal," ia melanjutkan.

Dia sudah pengalaman membuat paten -dulu tentang rokok sehat. Kini, dia ingin mengembangkan apa yang dia kembangkan dulu. Memang membuat tubuh wangi dari produk awalnya, namun meninggalkan jejak- jejak kering seperti layaknya ketombe, ketika gel yang digunakan kering.

Ketika itu dia mulai berpikir butuh tenaga ahli. Disinilah peran Dr. Hennie de Plessis ada, seorang teknisi yang sudah berpengalaman di bidang industri perawatan tubuh, hingga memperbaiki formula menjadi sempurna.

Atas sumbangsih dia, maka Lud memberikan saham kepada dia, menjadikan dia salah satu eksekutif di perusahaan bernama DryBath. Kenapa dia mau membantu? Karena Ludwick memiliki passion kuat. Dan mampu menujukan kerja nyata kepada Dr. Hennie.

Dukungan datang karena dia tidak ingin ide hilang. Tidak mau gagal mematenkan, mangkanya rela sekali memberikan data dia pernah kumpulkan. Dr. Hennie kemudian menyempurnakan. Dibantu pengacara yang juga melihat kegigihan dia. Jadilah Ludwick, umur 17 tahun, sudah memiliki paten sendiri buat produk itu.

"Tidak masalah jika Anda Apple, Google atau remaja yang mencoba untuk membuat bisnis T-shirt di perkampungan. Setiap bisnis adalah semangat. Orang tidak benar-benar menyadari bahwa kita semua pergi melalui hari di mana kita benar-benar sadar proses paket produk datang ke rumah, di malam hari, dengan pacar kita, dll ... Jadikan ini sebuah semangat (karena entrepreneurship adalah kerja keras)."

Tahun 2011, Lud menjadi salah satu finalis lomba kewirausahaan, Anzisha Prize. Dimana dia menjadi salah satu entrepreneur muda diantara 15 tahun sampai 22 tahun. Penghargaan seluruh Afrika yang bisa mengangkat namanya sebagai pengusaha di kancah Internasional.

Pengembangan produk


"Ketika kami menciptakan DryBath pada dasarnya kita hanya ingin menciptakan produk pengganti mandi yang sederhana dan tidak membutuhkan air sama sekali ...," jelas Lud, yang baru- baru ini disebut 30 orang muda dibawah 30 tahun yang merubah dunia, oleh Time.

"Jadi pertama kita harus belajar kebersihan dan apa artinya menjadi bersih," ia menambahkan. Awal pikir dia bersih berarti tidak bau. Yah kalau tidak bau berarti bersih bagi kebanyakan orang. Inilah indikator yang dia capai pertama kali.

Bagi orang kulit hitam mandi berhubungan dengan status sosial. Jika orang kulit hitam mandi air panas maka status ekonominya naik. Namun di Afrika kebanyakan mandi menjadi sukar, bukan tidak mau mandi, tetapi masalah sanitasi, kelistrikan, terutama Afrika Selatan membuat mandi bukan masalah utama.

Dari bisnis DryBath, kemudian menjelma menjadi industri kebersihan, Headboy Industries. Nama dari Ludwick menjadi sosok utama dalam perkembangan aneka bisnis. Utamanya menjadi pemain di industri yang pasarnya Afrika dan Asia pelosok.

Sayangnya perusahaan kesukaraan menciptakan produk berharga ekonomis. Tantangan utama pengusaha muda dalam berbisnis. Untuk masalah terget utama mereka mungkin belum terpenuhi. Tetapi mereka masih bisa menghasilkan uang untuk aktifiktas outdoor buat pasaran Eropa sampai Amerika.

Mulai dari camping, traveling, dan festival, maka DryBath adalah solusi, jadi 90% keuntungan perusahaan justru dari target di luar pasar mereka sebenarnya.

Pengalaman akan tinggal di komunitas yang kumuh. Tud membuat konsep paket pakai sendiri, dibanding membuat buat paket besar. Ia berpikir di Afrika, orang beli rokok sebatang, tidak sepak padahal kalau dirunut harga lebih mahal. DryBath dijual 50 cents untuk negara berkembang, dan $1,50 untuk hotel atau pesawat.

Harapan besar seorang pengusaha kepada bisnisnya. Tud berharap ekonomi membaik hingga menurunkan biaya produksi. DryBath belum dijual secara bebas. Tetapi dia tidak pungkiri akan menyebarkan produk itu ke penjuru dunia.

Masa Lalu Kelam Pengusaha Bakso Hitam

Profil Pengusaha Sigit Prihanto 


 
Jadi pengusaha apa batasnya. Hanya langit, jelas Ibu Risma, Walikota Surabaya dalam suatu kesempatan. Ia mendorong siapa saja jadi pengusaha. Menjadi pengusaha tidak boleh minder. Seperti sosok Sigi Prihanto salah satu pengusaha percontohan Surabaya, yang masa lalunya dianggap hitam di mata masyarakat. 

Mantan pemakai narkoba memilih membuka usaha bakso hitam. Aneka usaha bakso pernah dijajaki Sigit hingga ke Malaysia. Penggagas bakso Cokjudes (Coklat Keju Pedas), pernah membuat bakso berbahan daging kijang di Malaysia.

Warga Kembang Kramat II, Surabaya, meskipun dikenal hitam tetapi tidak minder. Ingin jualan yang halal, seperti bakso berwarna hitam, sehitam masa lalunya. Berawal terjebak di Sulawesi 1998, sudah tinggal luntang- lantung, dan sudah 10 tahun meninggalkan keluarga tanpa masa depan.

Ujung- ujungnya, Sigit cuma bisa meminjam uang tetapi bukan buat makan. Dia mengolah uang tersebut jadi usaha menjanjikan. Usaha pertama dijalankan pria 37 tahun ini adalah martabak.

Bisnis terus


Dalam perjalanan dia juga belajar membuat bakso. Keisengan belajar dari seorang teman lantas jadi ladang bisnis. Peruntungan dijajaki ketika ada kesempatan tinggal di Malaysia. Di sana Sigit kembali membuka usaha bakso. Tetapi bukan daging sapi malah memilih bakso daging kijang.

Tahun 2008 dia jualan bakso daging kijang. Pasalnya harga daging kijang lebih murah dibanding sapi. Lalu dia meninggalkan Malaysia. Ketidak puasaan membawa dia kembali ke Surabaya. Sigit kembali berjualan bakso. Daya tarik bakso seolah melekat dalam benak Sigit Prihanto.

Tahun 2010 dia sudah membuka usaha lagi. Selain bersyukur terbebas jerat narkoba. Dia bersyukur berkat usaha bakso bisa kembali ke Surabaya. Kerinduan akan orang tua membawa rejeki tambahan. Bisnis bakso buatan Sigit dimodifikasi ulang mengikuti jejak hitam masa lalunya.

Hidup kelam Sigit dimulai dari pergaulan di jalanan. Diracuni teman hingga memakai narkoba. Tapi juga bukan berarti kita tidak boleh berkawan. Sigit menuturkan memang dia salah karena terjerak buju rayu gratisan. Sejak SD memang Sigit dikenal sudah hidup keras bekerja sendiri.

Sejak SD dia "dipaksa" bekerja keras. "Saya sudah bosan sejak kecil menderita," paparnya. Namun masuk ke dunia narkoba hanya kebahagiaan semu. Dia membantu orang tua jualan es batu, sampai berkeliling buat jualan koran. Di jalan dia bertemu teman yang salah hingga terjebak jeratan narkoba.

Beberapa kali nyawa hampir terenggut. Agar terhindar jeratan narkoba, Sigit memilih cabut pergi ke luar pulau, yakni Sulawesi. Ke Palu tanpa memberi kabar apapun selama 10 tahunan. Sigit bekerja buat sebuah LSM untuk menjaga hutan lindung. Kala itu, tahun 1998, kemudian meminjam uang Rp.5 juta buat usaha.

Bisnis hitam


Mulanya dia membuka usaha martabak. Kemudian membuka usaha bakso setelah di jalaann lama. Belajar dari pengalaman Sigit menjadi lebih memilih dalam pergaulan. Berkenalan dengan sesama pedagang kaki lima dan tergabung dalam komunitas pedagang kaki lima di Sulawesi.

Berlanjut dia pindah ke Malaysia jualan bakso daging kijang. Untung lumayan bisa dibawa pulang kampung membuka usaha sendiri di Surabaya. Dia cuma pakai gerobak bakso biasa. Jualan bakso berkonsep coklat, keju, pedas. Di Surabaya dia ketemu teman lama sekolah, namanya Erika, yang seorang petugas Linmas.

Beruntung dia tidak ditankap. Memang Walikota Surabaya tengah gencar menanamkan kewirausahaan. Ia merangkul pedagang kaki lima lewat bazar Pahlawan Ekonomi, saat itu ada di Kecamatan Sawahan, tahun 2015 silam. Sigit dipilih lantaran cita rasa bakso buatannya beda, semua berkat inovasi tidak monoton.

Di acara tersebut Sigit bertemu Timothy Lee, pendiri desain gravis Keavi, ditantang buat membuat bakso berwarna beda. Kan lagi musim tuh makanan aneka warna mencolok. Entah dapat ide dari mana Sigi lalu membuat bakso pentol hitam.

Caranya dengan teknik pengasapan lewat berbahan aktif charcoal -atau arang bamb Jepang. Si Charcoal sendiri memiliki efek positif bagi kesehatan. Itu akan merangsang pencernaan lebih sehat. Mampu buat menetralisir racun dari pencernaan. Untuk racikan bakso hitam hanya memakai mie putih, touge, dan sawi.

Tidak pakai pangsit siomay atau gorengan. Memang khusus buat pentol hitam saja. Penggunaan coklat dan keju digunakan sebagai pengganti kecap dan saus. Nah, kalau bakso hitam, khusus dibuat dari tangan dia sendiri. Ia tidak mau menyerahkan ke istri karena nanti rasanya akan beda.

Kebanyakan pelanggan sudah tidak pakai kecap atau saus. Bakso hitam sendiri susah buat dibikin. Teknik khusus dibutuhkan untuk membuat warna hitam serta pembulatan. Bisnis bakso menghasilkan untung lumayan.

Bisa sampai Rp.200 ribu per- hari keuntungan dikantungi pengusah satu ini. Kalau bakso hitam beda, dia mampu mengantungi Rp.400 ribu per- hari. Jualannya di Kampus Unesa Lidah Kulon. Di sana dia sudah bisa jualan aman karena punya SIUP, jadi tidak usah takut diusir petugas keamanan.

Tidak mau berhenti cuma jualan bakso. Sigit membuka cakrawala lewat bisnis online. Jualan bakso online dia rambah. Pelanggan datang sudah dari Kota Batu sampai Salatiga. Dalam satu kota mengirimi 40 pack bakso aneka rasa -termasuk bakso hitam.

Pria Ganteng Pengusaha Muda Babe Bakery

Profil Pengusaha Tonny Rusli




Setiap pengusaha punya kisahnya sendiri. Situs pengusaha kami, kali ini, akan bercerita tentang pengusaha muda ganteng. Yang awalnya asisten direktur, memilih mengundurkan diri, hanya untuk membangun bisnis bakery kecil- kecilan. 

Pria bernama Tonny Rusli meskipun pesaing bisnis tepung terigu bermunculan. Tonny mengaku tidak akan gentar. Dia katanya asisten direktur sebuah lembaga pendidikan. Tempat kursus Bahasa Inggris selama 7 tahun. Ia nekat membuka jualan roti saja. Semua karena ibu yang sakit kangker butuh makanan sehat.

Tonny ingin buatkan roti sehat buat sang ibu -dan kemudian menjadi bisnis serius.

"Mama saya suka roti," jelas Tonny. Penyakit kanker payudara memang butuh perhatian serius. Mangkanya roti tanpa bahan pengawet butuh.

Usaha bernama Babe Bakery memang menjual aneka roti sehat. Memang tidak disangka justru tanpa ada "bumbu" tambahan. Justru menarik perhatian masyarakat luas. Alumni Universitas Tarumanegara tersebut memang memperhatikan kesehatan, layaknya kita adalah mamah dia sendiri.

Inilah kelebihan dari Babe Bakery. "Modal hanya sangat kecil, kami hanya membeli peralatan sederhana saja seperti oven, mixer, dan proofer," jelas dia. Tonny tidak sendirian menggarap bisnis. Ia mengajak dua adik ikutan bergabung.

Ia berani menyewa kios kecil. Selama tiga bulan mereka menyadari tempat tidak strategis. Dalam kurun waktu empat bulan mulai berkembang. Tonny tidak salah memindahkan tempat usahanya. Bisnis berslogan roti lembut,enak, sehat, dan tanpa pengawat, pelanggan pertama mereka adalah teman sekantor Tonny.

Bukan sekedar jualan roti


Empat bulan berjalan bisnis Tonny naik daun. Cepat, begitulah orang akan bilang ketika bisnis tersebut bis tumbuh. Dari satu gerai menjadi empat gerai berbeda. Gerai pertama dibuka di Puri Kembangan, lalu ia membuka satu lagi dulu di Jalan Wolter Mongsindi, Bandar Lampung, dan seterusnya sampai empat buah.

Tiga toko pertama sudah memiliki 30 karyawan. Untuk yang ke empat baru tahap pembangunan. Cuma ada 3 cabang sudah menghasilkan omzet Rp.270 juta. Rencana ke depan mau buka sampai ke Jakarta dan juga daerah lainnya.

Ingin rasanya membuat semua orang menikmati roti sehat mereka. Visi dan misi bisnis pengusaha muda berkacamata ini, adalah bagaiman merangkul mitra menyebarkan roti sehat tanpa pengawet. Banyak sudah inovasi rasa dan bentuk dia kembangkan. Kunci sukses meyakinkan pelanggan kualitas roti akan terjamin.

Memang banyak pengusaha roti di luar sana. Namun dia tidak merasa lemah karena pasar ketat. Justru ia lebih bersemangat menunjukan perbedaan. Bukan soal rasa enak ditawarkan tetapi mengedukasi pasar. Dia mau mengajarkan tentang roti sehat.

"...ketika tidak laku, kami akan tarik, setiap pagi selalu ada roti fresh," ia menambahkan.

Bagaimana agar orang tertarik. Ya melalui membagikan taster gratis di tempat- tempat ramai, seperti hal di sekolah, rumah ibadah, sampai ke bank. Inovasi dilakukan sejalan Tonny suka makanan enak. Hobi dia berburu makanan diaplikasikan: Seperti roti crunchy ovomaltine, smoke beef blanket, dan Mexico salted caramel.

Tips sukses pengusaha muda: Jangalah takut memiliki mimpi memulai usaha. Jangan takut memulai jika kamu belum tau akan berhasil atau tidak. Sukses bukan instan tetapi berani berinovasi. Contohnya adalah dia berani membagikan taster gratis yang mungkin merugikan keuangan usaha.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba