Kisah Pendiri Startup SehatQ Pengusaha Linda Wijaya

Profil Pengusaha Linda Wijaya

 

lindawijaya.png
 

Pengusaha Linda Wijaya merupakan sedikit dari banyak pendiri startup Indonesia. Simak kisah pendiri startup SehatQ  membangun kesehatan bangsa. Wanita memang sudah tidak boleh dipandang sebelah mata. Telah banyak mereka mendirikan perusahaan dan atau memimpi perusahaan.


Linda merupakan lulusan Master Industrial Engineering dari University Michigan. Ia mulai kembangkan aplikasi miliknya semenjak November 2018. Dalam kurun 10 bulan, dia bersama timnya gencar untuk melakukan perkenalan.

 

Layanan Kesehatan


Mereka juga terus melakukan ekspansi layanan. Peluncuran resmi aplikasi SehatQ baru di 25 September 2019 silam. Linda merupakan ibu dua orang anak. Merasakan keresahan begitu rumit birokrasi kesehatan kita. Sempat dia kesulitan ketika hamil besar, sementara anak sulungnya demam.


Pusing Lindah diminati aneka hal sampai akhirnya mendapatkan layanan. Padahal dia tengah hamil 8 bulan. Anaknya demam tinggi 40 derajat, jadilah buru- buru berangkat ke rumah sekit. "Tapi apa yang saya alami waktu itu benar-benar menyiksa, saya harus menunggu sampai 5 jam," kenangnya.


Hamil gede kan capek tetapi masih disuruh mengurusi persyaratan. Proses birokrasi menambah lama, padahal itu malam hari, udah gak ada orang ngantri tetap lama nunggu. Ini telah menjadi rahasia umum tantangan pelayanan umum rumah sakit.


Banyak kelengkapan administrasi sebelum dilayani dokter. Ia berharap, ada tempat lebih simple, yang enggak terlalu ribet, dan punya banyak waktu mengurus keluarga kita. Dengan SehatQ diharapkan tinggal one click layanan.


SehatQ lebih menyediakan open platform. Tidak menginginkan monopoli layanan. SehatQ dihadirkan berdasarkan kebutuhan pasien. Dalam kurun waktu 10 bulan, semenjak pertama diluncurkan platform SehatQ telah memiliki 3,2 juta pengguna. Linda pun menargetkan 6 juta pengguna hingga akhir 2019.


SehatQ memiliki fitur Chat Dokter dan Booking Dokter. Juga menghadirkan layanan konten kesehatan valid. Pasien dapat berhubungan chat dengan dokter di Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Konsultasi tidak dipungut biaya. 

 

Chat akan disimpan menjadi rekam kesehatan akun SehatQ dan menjadi catatan medis digital. Nanti dapat dicetak atau dilihat rekam medisnya. Booking Dokter memberikan informasi status dokter di rumah sakit atau klinik sekitar.


Pengguna dapat menentukan jadwal periksa tanpa tunggu lama. Ia mengingatkan bahwa keberadaan SehatQ bukan menggantikan dokter. Pengusaha Linda Wijaya bahkan berharap terjadi kerja sama dari berbagai pihak.


Kan tujuannya mempermudah masyarakat mendapat layanan. Dalam benaknya ada tiga holly trinity: pasien, asuranasi dan lainnya, dan pemberi fasilitas kesehatan. Dan Linda memperhatikan sekali tiga hal ke dalam aplikasi SehatQ.


Masalah keamanan data sudah terenskripsi demi keamanan. Ia memastikan bahwa SehatQ akan selalu menjaga data pasien. Fitur chat tidak dapat diakses kecuali oleh pasien dan dokter. Uniknya dokter tak diperbolehkan mendiagnosa secara online, dilarang memberi resep online, belum ada regulasinya.


Diceritakan bahwa SehatQ merupakan aplikasi self medication. Pengguana kebanyakan bukanlah dari mereka yang memembutuhkan resep dokter. Ada 60 sampai 70 persen penggunannya, yang adalah penderita penyakit ringan saja.


Ada 12 dokter bekerja sama dan 40 dokter akan bergabung pada 2019. Untuk Booking Dokter telah terintegrasi dengan 8000 pihak seluruh Indonesia. Pengusaha Linda Wijaya sendiri merupakan putri Teguh Ganda Wijaya. Seperti namanya dia adalah cucu dari pendiri Sinarmas, Eka Tjipta Widjaja.

Pengusaha Dewi Tanjung Bisnis Waralaba Souvenir

Profil Pengusaha Dewi Tanjung Sari


bisnis waralaba souvenir

 
 
Ini kisah pengusaha Dewi Tanjung Sari, wanita 33 tahun, yang memulai bisnis waralaba souvenir pernikahan. Dewi menjadi contoh nyata kegigihan untuk mencapai cita- cita. Apa yang dia inginkan telah tercapai, walaupun bukanlah mudah. 
 
Dia ingin menjadi pengusaha tetapi belum tau mau usaha apa. Dewi ingin menjadi pewirausaha sukses. Sebagai anak yatim sejak kecil, mentalnya telah terlatih untuk hidup mandiri. Ibu Dewi bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sosoknya menginspirasi hidup Dewi agar bisa menjadi orang sukses kelak.

Merintis Bisnis Souvenir

 
Ia ingin mensejahterakan orang tua satu- satunya. Maka Dewi memulai bisnis sejak awal mengambil kuliah program diploma III di Universitas Brawijaya, Malang. Dewi telah mengembangkan bisnisnya baik dalam kendala dan hambatan, sembari kuliah hasilnya cukup untuk membantu keluarga.

Setelah mengambi Program Diploma, Dewi berkuliah Program Sarjana di IKIP Budi Utomo. Bisnis Dewi semua bermula dari keinginan untuk membantu sang ibu. Dia ikut membantu agar ibunya bisa membuka warung.

Sejak masuk kuliah di Brawijaya, tahun 2003 -an, Dewi sering sepulang sekolah mencari daun- daun kering. Entah kenapa begitu mungkin bentuk keisengan tersendiri. Namun lambat laun, muncul ide untuk membuat kerajinan, maka dikumpulkannya daun- daun lagi.

Ia ingin merubah limbah di penjuru kampus menjadi kerajinan. Daun- daun kering tersebut lalu mulai dibersihkan, kemudian dikeringkan, dan dibentuknya menjadi sesuatu. Daun- daun tersebut lantas Dewi bentuk menjadi figura foto lucu, kotak pensil, undangan, dan bentuk kerajinan lain.

Hasil penjual kerajinan tersebut tidaklah banyak di awal. Ia hanya menjual 50 ribu, dan itupun dijual kepada teman- temannya di kampus. Jika ada pameran kerajinan di kampus, pastilah produk miliknya laku keras -terjual habis. Dewai lantas bertekat untuk menekuni bisnis ini lebih lanjut.

Suatu hari di tahun 2005, dia bertemu pengusaha karajinan dari produk limbah. Sang pengusaha lalu memesan produk kerajinan berbagai jenis. Dewi senang karena mendapatkan pesanan banyak. Itu sangat banyak buat seorang Dewi yang masih merintis usaha.

Sejak itulah usahanya berkembang pesat tak terbendung. Semula semua produksi ia lakukan secara sendiri, sekarang melibatkan 16 keryawan lepas yang merupakan tetangganya sendiri. Diluar dugaan, tahun 2007 -an, pengusaha eksportir kerajinan limbah itu harus menutup bisnisnya atau bangkrut.

Ini membuat Dewi memutar otak agar mempertahankan jalannya roda bisnis. Ia bingung bagaimana agar bisa mengelola usaha secara sendiri. Dia kebingungan akan nasib produk kerajinan yang telah ia selesai produksi. Ia harus mencari cara agar produknya cepat laku terjual.

Untuk sementara proses produksi dihentikan. Itu berarti juga menghentikan para pekerja lepas. Dewi lalu menjual dan menitipkan produk- produk sisa ke teman kampusnya. Dewi juga memajang produk tersebut di warung ibunya, berharap karyawan kantor di depan warung akan membeli.

Suatu hari ada orang belanja yang di warung ibunya menanyakan. Dia tertarik salah satu produk yang Dewi ciptakan. Pembeli tersebut kemudian membeli 750 pcs atau seharga Rp.15000 /pcs, yang kemudian dijadikan merchandise perkawinan.

Bukan main senangnya Dewi mendapatkan pesanan lagi. Kesempatan itu berlanjut menjadi produk merchandise De Tanjung. Tiap produk diberi nomor telephon, alamat, dan website usaha. Selain itu ia berani menitipkan produk- produk itu ke Gramedia, serta pusat kerajinan berbentuk konsinyasi.

Menjadi Pengusaha


Hasilnya ternyata memuaskan lebih dari harapan. Ternyata cara marketing seperti itu mampu menarik pembeli. Tidak cuma membeli sekali tetapi mengingat mereknya, siap pembuatnya, dan menjadi pelanggan tetap produk De Tanjung.

Sebuah marketing dari mulut- ke mulut. Selepas itu. Dewi jadi lebih rajin mengunjungi event fashion show dan aneka wedding expo yang diadakan di berbagai kota. Tujuannya mencari tau tentang tren terbaru dalam industri, terutama yang berkaitan bisnis pernikahan.

Secara periodik, Dewi bekerja sama dengan beberapa pragawati untuk pemaran souvenir dan kartu undangan perkawinan. Ini karena pernak- pernik, souvenir, dan kartu undangan sudah masuk menjadi lifestyle bukan sekedar untuk pernikahan.

Khususnya bagi mereka kelas menengah atas sangat tertarik. Dewi pun menyediakan aneka produk berbagai harga. Dia menyiapkan dari termurah Rp.3.000 hingga Rp.50.000 per- pcs. Produk- produk itu akan disesuaikan kebutuhan pelanggan bukan sekedar membuat

Anak tunggal pasangan almarhum Adi dan Suharti, yang tak segan memperluas pangsan pasarnya melalui waralaba. Usaha ini ternyata terbukti ampuh membuka berbagai mitra pewaralaba souvenir. Produknya kini bisa ditemui di berbagai kota dari Malang, Bontang, Palu, Bekasi, Cirebon, bahkan Papua.

Berkat marketing pintar, omzet bisnisnya juga meningkat, dari yang sebelumnya cuma Rp. 650 juta di tahun 2008, meningkat menjadi Rp. 935 juta di 2009, dan di tahun 2010 lalu, omzet usahanya telah tembus mencapai Rp. 1,1 miliar, dimana keuntungan bersih Rp. 273 juta.

Dia, kini, mempekerjakan 52 orang di pusat produksinya. Sebagian mereka bekerja adalah anak- anak muda sekitar rumah. De Tanjung, bendera bisnis miliknya telah berumur 11 tahun dimana omzetnya mencapai Rp.2 miliar. Sang pemilik pun dianugrahi berbagai penghargaan atas bisnis dan usahanya kini.

"Bagi saya karyawan- karyawan inilah yang membantu usaha saya berkembang menjadi besar," ujar pengusaha muda Dewi Tanjung.

"Ini buah kesabaran, ketekunan, dan yang paling utama berani bermimpi," cetus Dewi, yang terlihat memasang raut wajah gembira. Dia salah satu pemenang Wrausahawan Mandiri di 2011 bersama 180 peserta. Yang mengejutkan ketika Dewi mengungkapkan modal usaha ini cuma Rp.50 ribu.

Kontak:

Email: de_tanjung@yahoo.com
Facebook: Dewi Tanjung
Alamat: Jl. Mondoroko tengah 19 A, Singosari – Malang

Aplikasi JajapGarut Memudahkan Warga Garut Berbisnis

Artikel Bisnis: JajapGarut Garut Berbisnis

 

aplikasigarut.png

Aplikasi JajapGarut menjadi pertanda kebangkitan UMKM lokal. Mendorong memudahkan warga Garut berbisnis. Tujuannya mengajak pelaku usaha berbisnis di dalamnya. Disisi lain, memudahkan warga Garut buat berbelanja kebutuhan sehari- hari tanpa meninggalkan rumah.

 

Wakil Bupati Helmi Budiman menyambut baik. Warga Garut juga menyambut baik kedatangan aplikasi. Ia menjelaskan kembali, "fasilitasnya sangat memahami kebutuhan saat ini, apalagi dengan motivasi untuk mengangkat UMKM di Garut dan membuka lapangan pekerjaan."


Pengelola aplikasi JajapGarut Ryan Rauf mengatakan ini merupakan aplikasi loka. Didirikan oleh anak- anak muda asli Garut. Ini diharapkan menjadi jawaban warga memenuhi kebutuhan serba instan. Ryan bercerita aplikasi tersebut berawal obrolan kopi.


Ia melihat besarnya peluang bisnis kuliner warga. Permintaan warga akan kemudahan membeli juga meningkat. Kebutuhan yang harus dipenuhi UKM dan UMKM lokal. Hingga terlintas dia ingin sebuah aplikasi pasar online lokal.


"Makanan enak di Garut itu sangat banyak hingga di gang kampung juga banyak ditemukan kuliner enak," tuturnya.

Bisnis Pakaian Militer Pengusaha Mahasiswa

Profil Pengusaha Arie Setya Yudha

 
pakaianmiliter.png
 
Pengusaha mahasiswa tersebut Arie Setya Yudha. Dia memilih mandiri. Arie bisnis pakaian militer sampai keluar negeri. Awal dia tercatat masih mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 
 
Padahal dia memiliki latar belakang pendidikan mumpuni. Dia punya peluang besar menjadi pegawai hebat sepanjang hidup. Tetapi dia memilih dikenal bukan lewat berkas nilai. Arie sukses berkat kegemarannya bermain game tempur; Arie kini sukses menembak pasar bisnis pakaian militer.
 

Bisnis Pakaian Militer

 
Dengan bendera PT. Molay Satria Indonesia yang didirkan pada 2009, Yogyakarta. Arie menyediakan  menyediakan berbagai kebutuhan "kombatan" mulai dari topi, baju, celana, tas hingga sepatu. Kecuali sepatu dan tas yang masih diimpor.

Ide bisnisnya berawal dari kesukaanya akan game perang seperti Counter Strike atau Point Blank, dari sini, muncul ide untuk membuat seragam tempur. Pria yang menggunakan nama Molay sebagai akun game online -nya akhirnya mematangkan konsep bisnisnya. 
 
Dia menarget mereka baik militer atau sipil yang memang gemar bermain permainan perangan seperti air softgun. Modalnya hanya Rp.280 ribu, ditambah koneksi internet, Arie membeli kain sepanjang 4 meter untuk dijahitkan. 

Ia membuat desain dan polanya sendiri. Sementara soal penjahitan diserahkan kepada seorang penjahit di Pasar Terban, Yogya. Awalnya ia hanya memproduksi seragam sesuai permintaan pembeli saja, tetapi kini ia mampu memproduksi lebih dari 200 set seragam militer setiap bulan. 
 
Pada 2009, sampel seragam tersebut kemudian difoto dan diunggah ke forum maya Kaskus. Ternyata ada yang merespons. Seorang kolektor tertarik memesan seragam serupa.

Dari sinilah pesanan terus mengalir, hingga akhirnya dari setiap desain yang dibuat dibanderol seharga Rp. 560 ribu hingga di atas Rp 2 juta. 

"Saya memang membanderol harga yang tinggi karena bahannya benar-benar yang dijamin bagus," ungkap kelahiran Pekanbaru 31 Maret 1990 ini, kepada Kompas.com
 
Arie mengaku bahan pilihannya adalah bahan terbaik. Ia sangat- sangat selektif ketika membeli bahan baku. Sang pengusaha mahasiswa sempatkan melakukan riset mendalam, baik itu tentang bahan baku sebelum memesannya dari produsen langsung. 
 
Tidak jarang Arie memilih mengimpor bahan- bahan baku ini. "Jadi intinya harus pintar-pintar mencari via internet," tandasnya. Untuk menjaga loyalitas pelanggan, ia tak segan- segan membeli bahan baku dari luar. 
 
Bahan seperti benang, resleting, dan kancing baju menjadi hal detail yang perlu diperhatikan seksama. Bahkan, untuk membuat lubang kancing baju dan celana, ia memesan sebuah mesin khusus yang harga bekasnya saja bisa mencapai 30 juta per- unit. 
 
"Mesin jahit yang kami gunakan semua standar mesin jahit untuk militer," ujarnya. Ia lebih memilih bahan impor dari Malaysia bukan cuma ambil dari pasar.

"Kami hanya pesan kainnya di Malaysia, untuk proses jahit tetap kami yang melakukan," tuturnya.

Tak ayal harga yang dibandrol bisa dibilang kelas premium. Ia menambahkan karena sifatnya yang juga sebagai proteksi maka perlu perlakuan spesial seperti bahan impor. Dia bahkan menolak mengirim barang yang dianggapnya gagal. 
 
Uniknya, Arie mengaku tidak memiliki latar belakang dunia konveksi. Ia belajar secara otodidak dari dunia maya. Mulai dari pengetahuan soal bahan hingga mencari pemasok, ia dapatkan dari Internet.

"Dengan para vendor kami belum pernah tatap muka, semua menggunakan jasa online," kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Sebagian besar konsumennya adalah mereka orang- orang militer, kepolisian, pekerja tambang, maupun penggemar permainan airsoft gun.

Pasaran PT. Molay Satria Indonesia telah tembus Italia, AS, Swedia, Kanada, Austria, dan Norwegia. Usahnya memanfaatkan internet melalui forum Kaskus lalu forum dan situs jual beli asing. Permintaan akan Molay Military Uniform Devision terus meningkat ditiap tahunnya. 
 
Sepanjang tahun 2014 hingga Agustus ini, pria berusia 24 tahun ini mengaku sudah meraup omzet hingga Rp 2 miliar saja dari penjualan seragam militer lewat toko online.

"Hingga akhir tahun kita targetkan mencapai angka Rp 3 miliar," ungkapnya.

Selain pemasaran melalui media internet, Arie menggunakan reseller atau distributor ke daerah- daerah. Ada dealer resmi seperti di Jakarta Utara. Secara finansial kini Arie sudah tak lagi mengandalkan kiriman kedua orang tuanya untuk melanjutkan kuliah. 
 
Selain kuliah ia kini bisa bermain air softgun dengan lebih tenang. Apa lagi yang ingin dicapai seorang Arie Setya Yudha? Perusahaannya telah memiliki sekitar 17 karyawan. Sebanyak 10 di antaranya adalah staf pemasaran dan tujuh lainnya di bagian produksi.

Pengusaha Mahasiswa


Setelah mendapatkan banyak pesanan ia membuka rumah produksi di kawasan Yogyakarta. Modal sebesar Rp 25 juta dari keuntungan usaha yang dikumpulkan selama ini, Arie membeli mesin jahit dan beberapa peralatan lainnya untuk produksi lebih banyak. 
 
"Jadi sebenarnya saya beli mesin jahit dan saya kasih ke tukang jahit. Rumah mereka saya jadikan rumah produksi kami," kata dia kepada SWA. Ia memiliki tujuh penjahit langganan untuk produksinya. ementara, jika produksi sedang banyak, ia juga menyebar pesanan jahitan ke penjahit lain.

Pria berusia 24 tahun ini terus mengembangkan usahanya dengan modal terbatas dan seadanya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang mahasiswa. Kendati tak punya latar belakang di bidang konveksi, Arie merasa hal itu tidak menjadi kendala. 
 
Ia banyak belajar secara otodidak dari internet. Karena kegemaran akan segala hal tentang kemiliteran menjadi modalnya. Yang jadi persoalan untuk bisnisnya kini, jelas Arie lanjut, ia sangat kesulitan mencari tempat produksi dan penjahit untuk berproduksi sementara pesanan mereka kian meningkat.

Sepanjang tahun 2013 saja, ia mengaku bisa mengantongi omzet sebesar Rp 1,5 miliar. Pada delapan bulan pertama di tahun ini, omzet usahanya sudah sudah mencapai Rp 2 miliar saja. Dia optimistis hingga akhir tahun 2014 bisa saja mencetak omzet hingga Rp 3 miliar. 
 
Sebagai bukti kesuksesannya membangun bisnis, Arie  pernah menjadi salah satu finalis Wirausaha Muda Mandiri pada tahun 2011 untuk kategori bisnis. Meski begitu ia bukannya tanpa hambatan. Dia yang buta konveksi selalu belajar dari internet.

Meski sudah mendapatkan barang bagus dari luar, tetap ada pemasok yang tak masuk kretiria kerjanya. Terkadang ia juga mengeluh soal tenaga penjahit. Kapasitas produksinya sudah terlalu besar untuk pasar kelas garmen kecil. Saat ini rata-rata produksinya minimal 200 seragam per bulan. 
 
Harga jual produk berkisar Rp 560.000 hingga Rp 2 juta per unit. Salah satu cara mengatasi masalah ialah menggunakan satu konsep bisnis baru yaitu sistem pemasaran business to business (B2B) untuk memperbesar pasar.

Sukses di pasar internasional kebanyakan adalah mereka para pembeli ritel, merkea yang mendapatkan informasi produknya dari internet.

Startup TheLorry Cerita Pengusaha Diko Merintis Usaha

Profil Pengusaha Alzamendi Oatryany

 
startupthelorry.png
 
Alzamendi Qatryany, atau Diko adalah pengusaha muda startup terbaru Indonesia. Kisah Dito merintis usaha startup TheLorry, bermula dari keinginan mengembangkan jasa logistik. Dito merupakan pegawai perusahaan logistik selama 5 tahun.

Pengusaha lulusan Multimedia University, Malaysia, yang benar- benar ingin mengembangkan model bisnis baru. Dito bahkan mau melanjutkan S2 jurusan Supply Chain Logistic pada 2022, di Monash University Australia.
 

Startup TheLorry

 
"Dunia logistik memang tidak asing bagi saya. Dari pengalaman itu, saya terapkan di TheLorry," lanjut Dito. Awal dia merupakan lulusan IT, namun mempertajam di jurusan logistik, Dito nampak telah paham apa akan dia kerjakan kedepan.

TheLorry sendiri berbasis di Malaysia awal. Ada 5 orang termasuk dirinya, mereka mengerjakan jasa angkut masa depan berbasis aplikasi. TheLorry tidak sekedar menjadi jasa antar barang. Melainkan spesial jasa angkut barang dengan ukuran basar.

Berbasis aplikasi TheLorry akan membantu kamu pindahan. TheLorry unggul akan pelayanan. Startup TheLorry telah memiliki roadmap jelas jasa mereka. Mulai dari mitra driver hingga kendaraan angkut disesuaikan kebutuhan pelanggan.

Kini, di Indonesia, TheLorry telah memiliki 5 cabang di Bali, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. Mitra angkut merupakan profesional. Sebelum direkrut mereka diberikan pelatihan oleh pihak TheLorry.

Dukungan termasuk mengenai kepribadian dan penggunaan aplikasi ini. Pertiga bulan mitra dibekali pelatihan baru pendukung. Sistem pembayaran berbeda menawarkan kemudahan dari kartu kredit, debit, dan lewat minimarket.

Nanti mereka juga akan memberikan opsi pembayaran lain. Dito menjelaskan mereka memberikan layanan asuransi barang diangkut. Banyak metode angkutan tengah digarap TheLorry. Jadi tidak akan terbatas mobil pickup atau mobil box, adapula engkel bak/box dan double bak/box.

"Mengenai harga, kami sangat memikirkan mitra dan konsumen. Kami ingin memiliki ekosistem lebih baik. Jadi, tidak muraha dan terlalu mahal," terangnya kepada Liputan6.com

TheLorry juga memikirkan mitra sopir. Bayangkan kalau terlalu murah, maka kasihan mitra, kualitas mereka akan ikutan menurun. Jasa angkutan barang tidak melulu mengurus orang pindahan. TheLorry juga memberikan layanan bagi UMKM, dari memindahkan sembako atau lainnya.
 
Jasa angkutan mereka menyangkup seluruh Indonesia. Biaya dihitung berdasarkan perkilo meter, mulai dari Rp.45 ribu per 5 Km pertama.  
 
"Saya tidak mau hanya dbilang seseorang No Action Talk Only, lebih baik saya memberikan contoh supaya menjadi dampak positif bagi karyawan lainnya," imbuh Diko.

Pegawai TheLorry merupakan anak- anak muda milenial. Diko mengatakan anak muda haus akan pengalaman. Dulu 5 karyawan sekarang dia memiliki 40 orang karyawan. Dalam pekerjaan dia selalu menekankan pegawai harus membuat raport.

Laporan pekerjaan berisi kinerja pegawai dalam sebulan. "Buat raport itu spele tapi sangat penting. Jadi saya bisa tau terget dan laporan karyawan," ia menjelaskan. Skema tiga bulan laporan akan lebih meningkatkan kinerja, sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama.

Dito menerapkan tim TheLorry terdiri pegawai berpengalaman dan milenial. Banyak anggapan bahwa kaum milenial susah diatur. Nah, TheLorry menjebatani, yang berpengalaman akan memberikan suatu pembelajaran, sementara milenial akan lebih terbuka memberi masukan.

Prinsip kerja Dito adalah selalu berbuat baik, dan bekerja dimanapun. Harapannya adalah TheLorry akan membuka cabang di seluruh Indonesia. Pengusaha Diko merintis usaha startup TheLorry, telah melihat peluang jasa angkutan di Indonesia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba