Mantan Pegawai Restoran Jadi Pengusaha Emperan

Profil Pengusaha Trias Agung Wibowo

 

mantanpegawai.png
 

Jadi pengusaha emperan dia mengantongi omzet ratusan juta. Mantan pegawai restoran bernama lengkap Trias Agung Wibowo. Sempat dia menjadi pegawai restoran di sebuah restoran di DKI Jakarta. Dia yang bertekat menaklukan Jakarta memilih wirausaha.


Benar siapa sangka usahanya hasilkan ratusan juta. Padahal jadi pengusaha emperan tetapi tidak malu. Ia sempat jualan online. Pernah berjualan aneka pasta, cake dan lain- lain. Usahanya tidak berjalan lancar sampai berpikir mau lebih serius.

 

Pizza Emperan


Kepikiran buat sesuatu belum pernah ada di Kota Yogyakarta. Kan Yogya dikenal akan makanan emperan khas angkringan. Trias ingin bikin angkiran. Konsepnya Tunqu Angkiran, namun jualannya bukan nasi kucing melainkan pizza.


"Saya cari- cari konsepnya, lama itu kita cari konsepnya, akhirnya nemu itu Italian Pizza dengan konsep emperan," terangnya kepada Detik.com


Begitu ketemu konsep dijalankan tidak langsung berhasil. Usaha pertamanya menggunakan lahan kecil kurang efektif. Padahal Trias mengkonsep jualan memakai tungku pizza. Kebayang bukan besarnya tungku pembuat pizza, tidak sekecil itu.


Trias berniat menonjolkan proses pembuatan pizza tradisional. Namun dia cuma mendapatkan sedikit ruang tempat. Memang mencari ruko dengan halaman luas kesusahan. Terutama di Yogyakarta susah menemukan tempat buat berjualan begitu.


Konsepnya dirasa susah diaplikasikan. "Sekitar setengah tahunan kita merintisnya itu sangat berat, susah awal- awal itu, karena itu tadi, kita kan konsepnya emperan," lanjutnya. Tunqu Angkringan baru dapat tempat setelah ditawari pelanggan.


"...jadi kita pindah sekitar 2019 akhir ke tempat sekarang ini," lanjut Trias. Begitu pindah berjalanlah konsepnya baik. Bahkan modal besar dulu, bahkan yang sempat rugi modal, terbayar sudah setelah pindah ke tempatnya sekarang ini.


Omzetnya ratusan juta rupiah perbulan begitu menggiurkan. "Iya sempat rugi. Saat itu modal awal- awal sekitar Rp.200 jutaan, itu kerane beli tungkunya," Trias melanjutkan. Bayangannya dulu sempat berubah mau memakai mobil VW bukan gerobak.


Ia udah membeli mobil VW. "...dah sempat pesan dan bayar, minta dimodif sesuai kebutuhan, tetapi orangnya kabur itu, sampai sekarang enggak bisa dihubungi," tambah Trias.


Trias ingin menonjolkan tungku sebagai ikon. Pengusaha emperan ini ingin memperlihatkan proses pembuatannya. Bahwa mereka menyajikan aneka pizza Italia fresh from the oven. Dia pernah ditipu orang tetapi tetap lanjut.


Dia menerangkan bahwa bisnis tidak cuma unik. Produk harus berkualitas bukan setengah- setengah jadi. Ia membelikan keju berkualitas. Dulu Trias sempat memakai keju biasa namun gagal. "Kita sudah coba pakai keju biasa aja, dia enggak bisa," tuturnya.


Mereka bakar pakai oven sungguhan sepanas 500 derajat. Kalau mereka sembarangan memakai oven, maka akan pecah. "...kalau yang (keju) biasa akan pecah, berminyak gitu. Jadi kita pakai keju khas impor dari Prancis," tutur Trias.


Tidak cuma makanan utama bahkan pendamping juga berkualitas. Dia menyediakan teh berkualitas, buat menyenangkan pembeli boleh refil teh ulang. Tunqu Nangkring kerap membagikan diskon dan giveaway. Mantan pegawai restoran tersebut memasarkan melalui media Instagram.

Pengusaha Payung Merintis Usaha Unik Bertema Hujan

Profil Pengusaha Johanes Paulus

 

pengusahapayung.png
 

Kalau toko bertemakan bangunan atau elektronik sudah biasa. Bayangkan punya usaha unik yang bertema hujan. Ya inilah pengusaha payung bernama Johanes Paulus. Bukan bohongan, dia merupakan pemilik toko bernama Istana Payung, yang dirintis sejak 2008 silam.


Johanes tentu senang kalau musim hujan tiba. Terutama bulan- bulan Februari ketika curah hujan tinggi. Ia akan lebih sibuk di toko. Di sini dia menyediakan jas hujan dan payung. Tak perlu pusing mencari- cari karena namanya Istana Payung.


Isinya produk- produk khas ketika musim hujan tiba. Aneka macam ukuran dan bentuk tersedia. Johanes melayani orang tua sampai anak- anak. Musim hujan merupakan musim penghasilan berganda. Tokonya mampu menjual menjual antara 1000 sampai 10.000 perbulan.

 

Merintis Usaha Unik


Tidak bulan hujan juga menghasilkan uang. Dia tidak spesifik menjual dalam kota. Penjualan dapat dipenuhi keluar kota, sampai keluar negeri seperti Maldives dan Singapura. Banyak jenis payung dengan harga Rp.17,5 ribu sampai Rp.250 ribu perunit.


Harga jas hujan dari Rp.5 ribu sampai Rp.200 ribu terjangkau bukan. Dari usaha unik bertema hujan ini, omzetnya bukan kaleng- kaleng bukan recehan. Pengusaha payung tersebut mampu mengantongi omzet Rp.50- 100 juta perbulan.


Buat ngejalani bisnis ini maka ia mempekerjakan 10 karyawan. Paling banyak Johanes mengirim ke Maldives, dan Singapura juga lumayan. Alumni Jurusan Ekonomi Universitas Bunda Mulia, tidak kurang menjual 100 merek payung dari berbagai negara.


Pengusaha muda tersebut melanjutkan ceritanya kepada Merdeka.com. Bahwa pemula tidak perlu takut ketika musim berganti. Johanes sendiri memiliki berbagai macam bentuk dan jenis payung. Ada lipat, payung panjang, payung golf, sampai payung mobil.


Produk tidak terbatas impor juga terdapat brand lokal. Johanes telah jeli dan ahlinya mengenai dunia perpayungan. Ada merek Rosida dan Jope asal Taiwan dan Jerman yang terkenal akan kualitasnya. Ia merupakan spesialis payung, stoknya besar sampai 1000 lusin atau setara 12.000 unit payung.


Johanes menyiasati dikala bukan musim hujan. Yakni mengalihkan pemasaran ke korporasi yang butuh aksesoris atau media promosi. Ia meyakini prospek bisnis payung bagus. "Untuk payung promosi dan souvenir itu kustom, dengan minimal pemesanan sebanyak 1 lusin," ujarnya.


Harga paling murah payung kustom Rp.25 ribu. Pembeli akan mendapatkan payung lengkap gambar logo sewarna. Ia selain menggarap pasar offline juga online. Caranya dia memasarkan melalui website, sosial media, dan marketplace.


Johanes pun tak lupa memperkuat pasar offline. Sementara pemasaran online dikembangkan lewat cara payung aneka warna yang disukai masyarakat, selain kualitas barang bagus. Johanes terus meyakinkan akan kualitas produk. Masyarakat diyakinkan agar bisnis bertahan dan mereka mencintainya.


"Lantaran kami fokus di bidang ini, menjadikan lebih tahu barang yang bagus dan warna yang paling disukai konsumen," imbuh Johanes.


Johanes memilih fokus dan konsisten. Maka dia ingin tau terbaik dari produk tersebut. Johanes fokus buat membesarkan bisnis payung dan jas hujan meski musim panas. Sebelumnya ia pernah bekerja banyak profesi, pernah menjadi agen asuransi, salesman, dan pegawai bank.


Inspirasi bisnis payung ketika dirinya melihat usaha pamannya. Dia bekerja di toko paman sembari berkuliah selama empat tahun. Karakter ulet dan pekerja keras memang sudah terlihat. Walaupun dia sebenarnya bercita- cita menjadi musisi bukan pengusaha.


"Hobi saya bermain musik. Saya bikin band bersama teman- teman. Tapi setelah kuliah, ada yang kerja dan bisnis, maka bubarlah band kami," celetuknya.


Ia pun bekerja tetapi mencari fleksibel. Maka dia bekerja di tempat pamannya buat berjualan payung. Bermodal Rp.50 juta dia memberanikan diri menyewa tempat. Johanes menyewa tempat buat berjualan payung- payung. Ia meyakini bahwa bisnis payung memiliki prospek cerah.


Iklim Indonesia memang tropis dan bergantung hujan. Prospeknya bagus terutama tempatnya khusus berjualan payung. Bila toko lain, ketika masuk musim kemarau, mereka memilih usaha lain seperti jual sandal, buku, petasan, dan lain.


"Saya sih tetap konsisten menjual payung. Jika musim kemarau sepi, itu resiko," ujar pengusaha muda tersebut. Pengusaha payung Johanes konsisten menggeluti sampai tumbuh baik. Itu sekaligus menjadi branding "penjual payung yang tak kenal musim".


Keahlian pemilihan payung terbaik semakin terkenal. Namanya dikenal sampai banyak masyarakat rela datang. Mereka langsung membeli payung di Kawasan Perniagaan Timur, Jakarta Barat.

Bisnis Online Asri Tadda Pengusaha Media Blog

Profil Pengusaha Asri Tadda

 
asritadda.png
 
Bisnis online Asri Tadda bermula sebuah blog. Pengusaha media blog yang memiliki ratusan salah satu blognya, AstaMediaGroup. Dia hanya sekedar blogging, merambah jualan iklan per- klik, SEO, dan jual beli artikel. 
 
Akhirnya, dia menjalankan bisnis lain yang bersifat konvensional; seperti bisnis kafe hingga membuka sekolah. Apa yang dia lakukan tidak sekarang bukanlah hal mudah. Dia belajar banyak dari hidupnya dan internet tentunya.

Asta sendiri merupakan lulusan Universitas Hasanudin Makasar sebagai dokter umum. Tak ayal dari jurusannya, blog- blog buatannya membahas mengenai kesehatan pada umumnya. Dia mengawali blognya untuk Adsense dan mengaku mendapatkan $400 untuk awal. 
 
Bukan nilai yang besar kala itu, tapi dengan usaha keras semuanya bisa berubah. Pria kelahiran Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terus memiliki tekat yang kuat dibidang internet. Dia (29) yang mampir di warung internet, mengubah hidupnya. 
 

Bisnis Online Adsense

 
Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief hobinya pergi ke warnet cukup mengganggu. Dia yang fokus bisnis internet kuliahnya ikut tersendat. Awal 2007, Asri mengenal bisnis blogging melalui Adsense. Dia keranjingan membaca kisah- kisah sukses mereka di bisnis ini. 
 
Dimulai dari menulis, publikasi, dan akhirnya ikut menjadi blogger mumpuni. Awalnya Asri hanya memilih curhat- curhat kemudian berubah serius seperti artikel kesehatan. Dia berubah menjadi dokter online. Tak berhenti disitu. Ia mulai belajar seluk beluk bagaimana menguangkan blog itu. Dia terobsesi atas kesuksesan orang- orang dari bisnis internet. 
 
Melalui Google, Asri tau adanya Adsense, apa itu? Adsense adalah iklan online milik Google dimana para pemilik blog atau situs bisa memasangnya. Jangan main- main, tiap iklan yang diklik akan menghasilkan dollar bagi sang pemilik blog atau situs.

Melalui cara itulah ia menguangkan blognya hingga ketagihan, membuat beberapa blog baru. Dari Adsense, ia mengaku mendapatkan uang lumayan. Dari sini pula dia mengembangkan bisnis lain seperti jualan artikel dan SEO. 
 
Dari pengalaman, dia mengaku memiliki kejelian untuk menentukan bagaimana sebuah blog dikembangkan dan dibisniskan. Untuk jual beliartikel, dia mengaku membrandol perartikel untuk $5 atau Rp. 50.000 dan sedikit modal nekat. Nilainya berdasarkan jumlah minimal untuk 200 kata.

Dia mengaku mendapatkan pendapatan untuk bisnis artikel setidaknya  $3, dan $2 sebagai fee penulis. Dari bisnis artikel, ini lain ceritanya, dia menjual setiap artikel untuk para pemilik blog lain. Gunanya agar mereka bisa memasang Adsense seperti blog miliknya. 
 
Hasilnya dia gunakan untuk pembayaran hosting hingga mentraktir temannya. Berjalan waktu, ia tidak hanya memiliki 1 blog tetapi 100 blog hingga menjadi 250 blog. Ini merubahanya menjadi bisnis advertising potensial.

Setelah bisnis iklan, AstaMediaBlogNetwork, pendapatannya naik 100 juta per- bulan. Asri menggunakan pay- per click hingga iklan banner untuk bisnisnya. Angka 100 juta per- bulan ini merupakan angka yang menakjubkan baginya. 
 
Lahirlah AstaMediaGroup, perusahaan yang dikelola olehnya dan beberapa temannya. Dia mengakui kesulitannya hanya ada pada ketrampilan. Dia sama sekali tidak memiliki dasar web design. Dia juga memiliki pengetahuan sedikir tentang search engine optimization; semuanya otodidak.

"Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing." ujar pengusaha media blog ini. Itu patutlah diapresiasi bagaimana semangatnya berjuang belajar pada sesuatu yang bukan bidangnya.

Bisnis Internet


AstaMediaGroup merupakan pusat semua bisnis. Dia membuat perusahaan yang mempermudah setiap orang belajar SEO. Asri mengungkapkan malalui SEOSEMID.Inc, dia mampu memberikan layanan SEO untuk blog non- medis. Untuk non- medis, SEOMeds menganai hal lain selain blog medis. 
 
Omzet untuk bisnis SEOMeds telah mencapai $60.000. Semuanya menjadi satu tempat dibawah bendera Asta Media Group. Merambah binis online lain, dibuatnya bisnis situs IklanBarisTerkini, IklanBarisTerbaru, IklanBarisMakasar, dan PasangIklanBaris
 
Asri mengaku omzet keseluruhan dari atas dan bawah hanya 300 juta, dan dia hanya memiliki 13 karyawan.

Sejak April 2009, Asri bersama rekan- rekannya di AstaMediaGroup memiliki ide bisnis lain. Mereka membangun AstaMedia Blogging School di Maret 2009. Dan, sekolah tersebut resmi memberikan pengajaran di 16 Mei 2009. 
 
Tujuannya menghasilkan lapangan pekerjaan dan penghasilan baru. Bukan perkara mudah, mereka harus menyiapkan kurikulum. Melalui Astalog.com, Asri menjelaskan bagaimana kurikulum dibagikan kepada sekolah internetnya.

"Memang mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini merupakan tantangan kami di AstaMedia Blogging School."

Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu blogging basic untuk pemula, blogging pro untuk fokus mengoptimalkan blog dan menghasilkan uang dari sana. Dia menjamin dengan pengajar profesional. 
 
Target utamanya, dia memilih generasi muda yang sering menyalah gunakan internet. Saat ini ada sekitar 100 orang siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. Diantara mereka kini menghasilkan $250 atau 2 juta perbulan.

Kerajinan Tulang Ikan Bisnis Kreasi Seni

Profil Pengusaha Ridwan

 
kerajinantulang.png
 
Bisnis kreasi seni memang memiliki nilai lebih. Dan Erwandi mengembangkan kerajinan tulang ikan. Ia tak patah arang berbisnis. Namanya selalu tercantum dalam berbagai pameran kerajinan. Erwandi dan karyanya bisa dibilang jadi maskot di daerah asalnya. 
 
Entah nantinya pergi bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepri. Atau pun mereka dari Kabupaten Bintan. Apa yang menjadi spesial seorang Erwandi, ialah kemampuan pria tersebut dalam mengolah tulan dan kulit ikan jadi kerajinan. 
 
Merubah apa yang dianggap "sampah"  menjadi produk bernilai ekonomis. Meski bukan pengusaha besar tapi kewirausahaan -nya patut dicontoh.
 

Menjadi Pengusaha


Sudah banyak kota disambanginya. Kesemuanya tak mengurangi isi kantong dompetnya. Dia jutru semakin beruang dengan berkeliling kota. Bukanlah untuk berjalan- jalan tetapi berdagang. Erwandi memang sering jadi tamu dalam berbagai pameran. 
 
Saking seringnya kamu akan berpikir dia sedang sibuk melancong. Memang tak nampak dari sosoknya yang sederhana. Kerajinan tulang ikan buatannya pernah ditawar warga Singapura, seharga Rp.1.5 juta dan banyak lagi. 
 
Ada produk kerajinan tulang ikan yang berbentuk kapal layar. Produk laris tersebut setinggi tak kurang dari 30 sentimeter. Yang kesemua bahannya merupakan asli tulang ikan. Pengusaha Erwandi terus berkomitmen menggunakan bahan- bahan tak terpakai tersebut. 
 
Sebenarnya tak hanya tulang ikan sebenarnya. Ia juga menjelaskan berbagai bahan tulang dari lautan bisa disulapnya jadi kerajinan. Ridwan mantap mengerjakan kerajinan tulang ikan tersebut.

Erwandi rajin menyusuri pantai mencari sesuatu untuk diolah. Jika menemukan bahan yang dibutuhkan ia pun berlari pulang. Dibawanya bahan- bahan, kemudian dipotong, diperhalus, dan dilekat. Aktifitas sehari- hari inilah yang dilakukannya. 
 
Awalnya cuma kurang percaya diri untuk menjualnya, tapi hasilnya menakjubkan. Dimata kami produknya luar biasa. Jikalau tak punya jiwa seni kuat pastilah kerajinan tulang ini akan cuma masuk ke tempat sampah saja.

Dia memang jenius. Cerdas dalam membuat bentuk kapal layar atau sosok manusia berbahan tulang ikan. "Dia bilang barang saya ini bisa laku dijual. Karena belum ada yang buat," tutur Erwandi, ia mengingat bagaimana pertama kali membuat karyanya ini. 
 
Butuh beberapa kali diyakinkan oleh temannya barulah karyanya mantap dijual. Mungkin waktu pertama kali Erwandi cumalah iseng saja. Ia pun luluh dan menuruti saran temannya. Mulailah di rumahnya yang kecil, produksi kerajinan tulang diperbanyaknya.

Mantan buruh bangunan ini sebenarnya tak mematok harga mahal- mahal. Nilai 1,5 juta diatas merupakan nilai yang tertinggi produksinya kala itu. Untuk produk miniatur layar kapal dijualnya dikisaran Rp.100- 500 ribu. Tapi itu lain cerita jika orang terdekatnya yang membeli. 
 
Dia sambil bercanda menyebut asal ada uang rokok saja cukuplah. Disperindag Provinsi Kepri dan Kabupaten Bintan pun melirik hasil kerjanya. Mereka langsung menggandeng Erwandi. Suami Naziah ini lantas diminta agar memproduksi berbagai bentuk kerajinan tangan dari tulang ikan.

Semenjak mendapatkan dukungan kementria produknya semakin digandrungi. Dalam sehari di rumah ada saja pesanan yang datang baik dari instansi pemerintahan atau perorangan. Apalagi setelah ia rajin datang ke berbagai pameran. Kenapa memilih kerajinan dari bahan laut. 
 
Ya, karena ia berpikir ini sesuai dengan apa yang dimiliki Bintan dan Kepri. Sebagai kawasan maritim inilah yang bisa dilakukannya. Selain dari bahan- bahan tulang ikan, adapula kerajinan dari kulit ikan dan kulit kerang.

Terpaksa Jadi Pengusaha Usaha Kerajinan Batu Alam

Profil Pengusaha Ahmad Ngabdulloh

 
terpaksapengusaha.png
 
Terpaksa jadi pengusaha kerajinan batu alam. Dia bukanlah pengusah tulen layaknya ayah. Juga tidak mau mewarisi usaha keluarga. Namun dia "perkasa" mewarisi usaha keluarga. Ia sempat gamang apa mau kerja atau wirausaha.
 
Siapa sangka jutru berkat kerajinan batu alam dirinya menjadi pengusaha sukses. Ahmad Ngabdulloh tak pernah belajar menjadi pengusaha. Keluarganya lebih suka Ahmad kecil bersekolah dan berprestasi di bidang akademi. 
 
Ia hanya berkonsentrasi pada sekolah dan kuliahnya. Saat remaja paling banter ia hanya melayani pembeli batu alam dari ayahnya.
 
 

Usaha Kepepet


Kalaupun membantu lebih jauh, Ahmad kecil akan disuruh belajar. Begitulah, hingga masuk SMA, lalu ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil Diploma 3, selsai kuliah disana, tentu Ahmad akan bekerja menangani mesin. 
 
Cita- citanya kala itu bekerja kantoran. Namun, siapa sangka nasib berkata lain. Selesai kuliah Ahmad sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal dirinya sudah rajin menebar ijasah ke mana- mana. Dalam tahun itu ia sama sekali tak terbersit batu alam.

"Namun semua ditolak. Ternyata cari kerja itu berat," imbuhnya.

Tak lantas bekerja membuat Ahmad sempat tertekan batin. Suatu hari, sang ayah, yang penompang ekonomi keluarga jatuh sakit. Itulah titik baliknya. Meski enggan akhirnya ia mengambil alih usaha keluarga. "Cita- cita saya bekerja di perusahaan," ungkap Ahmad. 
 
Akan tetapi dia harus menopang ekonomi keluarga. Pria 32 tahun itu harus membiayai sekolah adik- adiknya.

"Kalau bukan saya siapa lagi," jelasnya. Akhirnya meski tak punya kemampuan mengolah batu alam, ia pun sigap sedia. Usahanya dimulai dengan belajar tentang batu alam. 
 
Pendidikan dibidang teknik ternyata taklah cukup membantu di usahanya. Dulu, ia pernah belajar, tapi hanya sampai dasar membuat cobek ataupun kerajinan kecil lain.

Ditengah keterpaksaan ia mulai belajar kembali. Caranya yaitu dengan belajar dari mereka pekerja- pekerja ayahnya. Melalui belajar Ahmad memastikan agar tak tergilas pesaing ayahnya. Nampaknya meski tak secara khusus menyentuh batu alam; jiwanya sudah ada disana. 
 
Dia menuruni ketrampilan ayahnya bahkan lebih pintar. Meski sempat gamang karena disekelilingnya telah banyak perajin batu alam; ia tak mau gentar. Jika berjalan- jalan ke kawasan jalan raya Muntilan, memang disana berderet- deret toko usaha batu alam.

Dari usaha pembuatan cobek, patung, batu hiasan taman yang lengkap denga air mancur. Bahkan jika kamu mau miniatur Candi Borobudur gampang disana. Semakin banyak toko disana pastilah samakinlah gampang buat pembeli. 
 
Tapi bagi Ahmad itu bisa jadi pertanda bahwa samakin banyak persaingan. Untunglah ayahnya itu punya toko di Jalan raya Muntilan, sehingga ia bisa bebas memajang karyanya. Meski begitu ia juga sadar bahwa tempat strategis tak memastikan penjualan tinggi.

Guna menggaet pelanggan dia tetap bekerja keras. Apalagi ia menarget turis asing. Untuk itulah ia mencari- cari tau apa saja yang digemari mereka. Ahmad yakin, sekian banyak turis, pastilah ada yang melirik hasil karya batu alamnya. 
 
Dia selalu membuat apa yang diminati pengunjung turis di etalase tokonya. Ia tetaplah melayani mereka dengan ramah. Meski mereka tak membali atau melihat- lihat saja, itu tak masalah baginya.

"Intinya saya ingin menghasilkan yang kreatif dan menarik," kata Ahmad.

Pengusaha tak perlu kuliah?

Tidak tepat dari berkuliah di teknik mesin justru ia menemukan banyak ide kreatif. Pengalaman menggunakan aplikasi bernama AutoCad digunakannya. Aplikasi yang pernah dipelajarinya semasa kuliah itu mampu mendukung usahanya. 
 
Nah, dengan aplikasi itulah ia membuat desain- desain baru. Kemudian lahirlah ide hiasan tanaman yang mengalirkan air mancur. Hiasan tersebut karena ada bola ditengah yang bisa berputar terbalik.

Ia pun berseloroh, "kuliah saya ternyata tak sia- sia". Tak disangka- sangka produk itulah yang jadi maskot dalam bisnisnya. Apalagi, produknya itu tak tersedia di toko lainnya yang masih membuat aneka hiasan tradisional. 
 
Untuk menambah pelanggan, Ahmad pun bekerja sama dengan para pengusaha mabel di kawasan Yogyakarta. Ahmad mulai melobi mereka agar saling berbagi pelanggan. Caranya jika ada yang cari hiasan batu alam maka diarahkan ke Ahmad. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu ia mulai memperbaiki pelayanan kepada pelanggan. Ia berperinsip ramah kepada konsumen berarti menentukan nasib bisnis. Berkat ramahnya bahkan pemandu wisata dengan senangnya mengarahkan. 
 
Meski begitu terlalu ramah juga bisa jadi apes. Dia bercerita pernah ditipu oleh pemesan kerajinannya. Kala itu, di tahun 2008, ada pembeli yang tak mengambil barang pesanannya. Belajar dari sana ia paham untuk mereka para pelanggan, meski kenal, harus tetap membayar dulu atau minimal dp.

Ahmad pun berniat membangun cabang di Jakarta. Tepatnya ia membuka cabang di Jakarta, tepatnya di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Alasannya karena banyak pelanggan asal Jakarta gagal bertransaksi karena kesulitan dalam pengiriman. 
 
Mereka pelanggan dari Jakarta ada yang takut pesanan nanti rusak di jalan, atau karena jadi mahal jatuhnya. Meski kini telah sukses apakah ia masih ingin dengan apa cita- citanya dulu. Dia "terpaksa" jadi pengusaha usaha kerajinan batu alam.

Sambil bercanda ia berkata, "Mungkin kalau ada yang menawarkan pekerjaan, saya terima."

Dibawah bendera usaha 77 Craft, kini Ahmad bisa mengekspor produknya ke beberapa negara. Kini produknya telah tersebar di kawasan Asia, Amerika, dan Australia. 
 
Negara- negara Asia yang telah rutin meminta  kiriman produknya antara lain Filipina, Singapura, dan Malaysia. Pangsa pasar yang cukup luas tersebut membuatnya mampu mengumpulkan omzet minimal Rp 100 juta per bulan. 
 
Jenis produknya berupa produk eksterior seperti air mancur, ornamen lampu, dan patung. Produk- produk tersebut dijual seharga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 1 juta per unit.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba