Sejarah Coklat Monggo Pengusaha Thierry Detournay

Profil Pengusaha Thierry Detournay

  
coklatmonggo.png
 
Yuk dengar sejarah coklat monggo. Bermula kecintaan akan Yogyakarta pengusaha Thierry Detournay. Dia bukanlah orang asli Yogya, bahkan dia bukan orang Indonesia, Thierry Detournay seorang bule asal Belgia. 
 
Ceritanya sih, waktu itu, tahun 2001 -an ketika ia berkunjung ke kota Yogya ada perasaan menggelitik dirinya. Sekian tahun sudah dirinya tinggal di Indonesia ada rasa kangen akan produk coklat khas Belgia.

Ia tak bisa menemukan cita rasa coklat asli Belgia disini. Jadilah ide membuat usaha coklat sendiri bergulir.

Sejarah Coklat Monggo


Ketika anda bertemu dengannya jangan kaget bahasa Indonesia -nya begitu fasih. Memang sudah bertahun- tahun Mr. Thierry tinggal disini. Dan untuk menghilangkan rasa kangen akan negara asal, ia sering membuat coklat sendiri. 
 
Dari hanya untuk dikosumsi pribadi, hingga teman- temannya menyukai coklat buatan Thierry. Mereka merasakan coklat miliknya berbeda dengan yang ada di pasaran.

Akhirnya ia bersama- sama memproduksi coklat sekala rumahan. Mulanya coklat- coklat buatannya dijual di sekitaran UGM saat hari Minggu, saat acara SunMor (Sunday Morning). Cara berjualannya unik agar bisa menarik perhatian mahasiswa disana. 
 
Thierry selalu berjualan menggunakan motor vespa warna pink yang mencolok. Dengan pembawaan yang kocak ia menyebut dirinya sendiri "bule gila" berjualan coklat sendirian. Karena pembawaan yang kocak justru produknya semakin diliri. 
 
Banyak orang mencari- cari keberadaan si bule gila ini. Dibawah naungan CV. Anugrah Mulia semakin moncerlah bisnis coklatnya. Pembuatannya kala itu masih konvensional di sebuah rumah kecil di Jalan Dalem KG III/978, kota Gede, Yogyakarta.

Produk coklatnya sangat eco- friendly memakai pembungkus kertas bisa daur ulang. Soal cita rasanya, produk coklatnya merupakan perpaduan rasa timur dan barat. Semakin tumbuhanya perusahaan, label CV pun ia ganti. 
 
Ditahun 2005, ia resmi membuat perusahaan besama seorang rekan, Edward. Perusahaan yang diberi nama  PT Anugrah Mulia Indobel, dan memproduksi coklat bernama "Cocomania", dan kini berganti menjadi "Monggo".

Berjalan waktu Therry membuka toko di daerah Prawirotaman Yogyakarta, namun akhirnya tidak bertahan lama karena memang kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Kemudian ada beberapa untuk pilihan tempat baru. 
 
Ia akhirnya memilih lokasi di Kotagede untuk mendirikan toko dan tempat produksi. Nama "Monggo" sendiri datang tiba- tiba. Kala itu Edo (direktur) dan Burhan (staf kreatif) tengah berkumpul mencari nama produk unik. Kala itu kata "monggo" tersirat diantara mereka.

"Monggo" sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti "silahkan". Monggo biasanya diucapkan oleh orang Jawa untuk menunjukan bentuk sopan santun mempersilahkan. Nama tersebut sangat kental Jawanya, cocoklah dengan perusahaan yang berbasis di Yogya. 
 
Sejak 2010, sudah 100 karyawan dimana usahanya tak lagi cuma di Yogya, tapi juga Jakarta. Untuk pabrik sendiri Tierry masih tetap menempatkannya di daerah khusus Yogyakarta, tepatnya di Kota Gede.

Cokla Monggo memiliki slogan "The Finest Indonesian Chocolate", mempunyai terkandung misi: misi spiritual, yaitu menciptakan kenikmatan dalam menikmati coklat untuk orang Indonesia. Misi kedua, misi bisnisnya adalah membuat racikan terbaik untuk menciptakan coklat terbaik. 
 
Tidak mau tanggung- tanggung perusahaan rela mendatangkan chocolatier atau ahli membuat coklat langsung dari Belgia untuk mewujudkan misi. Prinsip C-U-E-G-S (Care, Unique, Educate, Genuine, dan Share) menjadi landasan usahanya.

Mantan Preman Jadi Pengusaha Raja Kopi

Profil Pengusaha Gunawan Supriadi

 
mantanpreman.png
 
Predikat mantan preman hanyalah masa lalu bagi pengusaha ini. Dulu Gunawan Supriadi (41 tahun) memang pernah memiliki reputasi sangat buruk. Dikenal sebagai preman dia telah menguasai sejumlah lahan di kawasan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. 
 
Hanya semenjak mengenal binatang luwak. Gunawan tak lagi menjadi satu orang yang ditakuti oleh masyarakat. Namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha asal daerah itu.

Dia merupakan salah satu produsen kopi luwak. Khas daerah Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, yang kaitannya dengan produk Raja Luwak. Dia tinggal memelihara luwak di pekarangan rumahnya. Melalui sosok mereka lah dia bertransformasi menjadi sosok lain.
 

Jadi Pengusaha

 
Dengan merek dagang Raja Luwak, produknya bisa ada merambah kafe- kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia. Bahkan kampungnya menjadi terkenal atas komoditas produk satu ini. 
 
Kopi luwak asli bekerja sama dengan beberapa eksportir, kopi ini bisa sampai ke nagara- negara lain, seperti ke Korea, Jepang, Hongkong, dan juga Kanada. Khusus kopi asal Liwa memiliki kualitas termasyur sebagai representasi Indonesia. 
 
Harganya bisa mencapai Rp.5 juta sampai 8 juta per- kilogram. Harga ini jauh daripada produk kopi Hacienda dari Panama misalnya. Juga beda dari kopi St Helena asal Afrika, yang katanya masuk dalam jajaran kopi termahal di dunia. Harga masing- masing terjual Rp.1,5 juta dan Rp.1 juta per- kg. 
 
Jika dibanding kopi luwak Gunawan, cuma 600.000 rupiah, ini lebih murah berkali- kali lipat dari yang kamu bisa dapatkan. Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga mampu memberi nilai tambah.

Yaitu sosoknya bisa menjadi pemimpin membawa kesejahteraan bagi para petani kopi. Pada jalannya itulah mereka sebagai petani terangkat biji kopinya. Usaha macam ini membuat mereka lebih untung daripada hari- hari biasanya.

"Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat-marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini," ujar Gunawan.

Dia lah ketua para perajin kopi luwak, yang mana membina dan mengkordinasi 10 produsen kopi. Sebagian mereka merupakan pemula dalam bisnis kopi tersebut. Ia menampung kopi dari mereka. Lantas membantu menjualkannya, utamanya jika Gunawan mendapatkan pesanan besar. 
 
Setiap para perajin diharuskan untuk storan 5kg kopi luwak. Kopi luwak itu masih berupa kotoran atau brenjelan. Mereka juga dikordinasi dalam bentuk iuran- iuran. Fungsinya untuk bantuan pinjaman modal, termasuk juga untuk membeli kandang luwak baru. 
 
Gunawan justru ingin membuka peluang bagi petani lain. Konsep dari monopoli bisnis kopi luwak jauh dari cara pikirnya. Preman ini sudah insaf, ia jugalah jadi sosok pecinta binatang, dia mengatakan kopi Liwa merupakan kopi budidaya.

Dia paham betul keterancaman si luwak sendiri. Ia ingin menyelamatkan populasi luwak dari diburu dan juga dibunuh. Dulu di daerah ini luwak merupakan hama karena memakan biji kopi disini. Disini di kebun- kebun kopi, merek diburu pakai racun babi (Timex) jelasnya miris. 
 
Sejarahnya kopi luwak Raja berasal dari kira- kira tiga tahun lalu. Gunawan mengaku hobi memelihara hewan- hewan liar, salah satunya ya si luwak.

Dua luwak pertamanya ia bercerita diberinya nama Inul dan Adam. Mengambil nama dari pasangan penyanyi dangdut tersebut. Waktu itu ia mejelaskan luwaknya cuma dipelihara. Eh, suatu hari, ada teman yang datang meminjam luwaknya. 
 
Lama ke lamaan menjadi sebuah kebiasaan dan terus menerus. Merasa penasaran, ia mencari tau. Temannya itu meminta ijin merawatkan dan memberi makan kopi. Dia melihat kok kotoran dari peliharaanya itu dijual.

Mantan Preman

 
"Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?" ungkapnya. Itulah awal mula cerita pengalamannya merintis usaha kopi luwak. Menulusuri internet ia lalu menemukan fakta di China, 0,5kg bubuk kopi luwak asli bisa dijual Rp.3,5 juta. 
 
Dia melihat satu peluang usaha menjanjikan. Ketika itu Gunawan masih bekerja serabutan. Terkadang jadi petugas satpam, kadang ia mengumpulkan uang parkiran dari pasar- pasar. Kenangnya ia saat itu punya 16 anak buah. 
 
Ia lantas meminta bantuan anak buahnya untuk mencari- cari luwak. Sebanyak- banyaknya luwak itu dipeliharanya sendiri. Namun, awalnya, ia diganjal masalah pemasaran utamanya untuk menjual dari pintu kafe lalu ke hotel- hotel. Dengan lugunya ia membawa luwaknya langsung untuk bukti.

"Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet," ujarnya.

Pelahan tapi pasti usahanya berkembang. Tercatat dia kala itu memiliki 60 ekor luwak peliharaan. Tapi, saat ini, ia cuma memelihara 26 ekor karena sisany diserahkan ke petani binaannya. Ada pula yang sudah dilepas ke alam liar. 
 
Rata- rata usahanya bisa mencapai 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal berbentuk brenjelan. Kini ketika usahanya telah mapan, Gunawan tak lagi menjadi kordinator parkir di pasar. Usahanya sekarang jadi lebih menjanjikan.

Dia ternyata pernah ditahan di penjara loh. Karena perselisihan parkir inilah ia masuk ke penjara. Dia tak mau lagi menyusahkan keluarga, dan karena usaha barunya ini, keluarganya lebih terlindungi. Hasil dari usaha miliknya ialah sebuah kendaraan dan kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku. 
 
Usaha kopi sukses menjadi kemendarian bagi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya itu dilakukan mereka mandiri.

"Dulu pernah ada pengusaha kaya Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru "ditendang". Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita "dijajah" asing lagi," tutupnya.

Geplak Waluh Bu Nanik Usaha Modal Seratus Ribu

Profil Pengusaha Bu Nanik

 
bunanik.png
 
Usaha modal seratus ribu coba tiru pengusaha berikut. Geplak waluh Bu Nanik sudah melegenda tak sembarangan. Kisah bermula dari pasangan Pak Slamet (45) dan Ibu Nanik Daryanti, pesangan suami- istri yang ingin membuka usaha.
 
Jangan meremehkan kreatifitas orang. Terbukti dari kisah satu pasangan pengusaha UMKM ini. Dari buah waluh yang banyak dianggap enteng, ternyata bisa jadi usaha jutaan rupiah. Waluh bisa dijadikan sandaran kehidupan menuju kemapanan.
 

Usaha Kecil


Ketika kamu sedang melewati jalan raya di Salatiga- Kopeng pasti sering melihat buah labu teronggok di pinggiran jalan. Ketidak mampuan para petani mengolah buah labu menjadikan buah satu ini hanya dijual gelondongan, tanpa diolah lagi. 
 
Jika dijual begitu saja maka buah labu harganya tidak menentu. Akibatnya, hasil panen para petani terkadang hanya tergeletak di pinggir jalan; menanti pembeli. Miris memang melihat nasib petani labu ini.

Suatu hari, seorang pria paruh baya bernama Slamet dipercayakan untuk menjadi penyuluh lapangan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Semarang. Berbekal pengalamannya di lapangan itulah, dia memiliki pemikiran seketika untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan buah labu. 
 
Usaha apa yang bisa memanfaatkan buah yang telah dianggap remeh tersebut. Memang di Kecamatan Getasan terutama sekitar Kopeng yang terletak di Lereng Gunung Merbabu, yang berketinggian 700- 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl), sangatlah cocok untuk areal pertanian budidaya labu.

Makanya Slamet memutar otak biar labu tidak sia- sia. Dia menginginkan diversifikasi buah labu ini dapat berkembang dan terus meningkat. 

"Harga labu memang labil. Pada bulan Maret-April saat musim tanam, harganya bisa mencapai Rp 1.200 per kg. Namun harga labu bisa jatuh mencapai Rp 600 per kg sewaktu panen. Malahan saat-saat tertentu harganya sangat rendah, yakni Rp 150/kg," papar Nanik.

Awalnya memang coba- coba itulah yang diakui Bu Nanik sendiri (istri Pak Slamet). Dari usaha coba- coba tersebut justru hasilnya sangat memuaskan. Wanita paruh baya ini memulai dengan membuatnya untuk sajian lebaran saja. 
 
Rupanya, geplak waluh diminati banyak pembeli. "Kami akhirnya mulai usaha pada 2003," ujarnya. Apa yang dihasilkan oleh sepasang suami istri diakui lebih dari cukup. Bahkan penghasilannya bisa lebih dari gaji pegawai negeri sang suami!


Usaha modalnya seratus ribu buat membeli bahan baku: waluh, tepung terigu, gula pasir, dan kelapa. Waktu itu harga waluh berkisar Rp.200 per- kilo gram. Kini, harga sayur yang terkenal berkat tradisi Hallowen itu bisa mencapai harga Rp.700 ribu- 1.000 per- kilo gram -nya. 
 
Bahkan, kalau sedang mahal- mahalnya nih, atau bisa sampai Rp.2- 3 ribu. "Kalau alat produksi, saya menggunakan alat-alat rumah tangga," kata dia.

Ternyata menurut Bu Nanik, buah waluh itu bisa tahan lama disimpan. Geplak waluh Bu Nanik punya kelebihan.
 
"Kalau waluh tidak dibuka, dia bisa tahan selama setahun. Enak jadinya, bisa menyetok waluh. Kami tidak kewalahan mendapatkan bahan baku. Kami juga beli dari petani. Sekali beli, kami dapat empat ton waluh," ujar Nanik. 
 
Itulah alasan lain kenapa kedua suami- istri ini memilih bahan baku waluh. Kemudian bisnisnya ini diberinya nama "Geplak Waluh Bu Nanik" dan mempekerjakan hanya enam orang saja, termasuk dia sendiri. 
 
Selain geplak, ibu ini ternyata juga memproduksi camilan seperti pia, egg roll, dan kuaci. Ada juga dodol waluh, wingko waluh, dan sirup waluh, semua serba waluh pokoknya.

"Misalnya geplak, waluh dikupas, dibersihkan, diparut, dicampur dengan gula dan kelapa, lalu dimasak. Prosesnya bisa mencapai empat jam untuk setiap kali pengolahan 15 kilogram geplak," kata Nanik.

Harga produknya pun tak fantastis. Emping cuma harganya Rp15 ribu per 250 gram, gelek Rp20 ribu untuk kemasan 250 gram, dan pia isi sepuluh butir Rp15 ribu. Egg roll harganya Rp20 ribu, geplak Rp20 ribu, dan stik waluh harganya Rp15 ribu. Tetapi, kalau kuaci harganya Rp60 ribu per 1 kg

Meski enggan menyebut omzet per- bulannya, Bu Nanik menyebut persentase 20- 25 persen dari total biaya belanja bisa masuk kantong. Ia menyebut biaya pembelian bahan- bahan sekitar Rp.2,5 juta, jadi apabila dikalikan sebulan, ia bisa mengantongi omzet sekitaran Rp.18 juta. 
 

Prospek Bisnis

 
Nanik menambahkan, bahwa kalo ramainya karena namanya bisnis terkadang tidak menentu. Lagipula uang tersebut bercampun uang kebutuhan keluarga tandasnya. Nanik mengaku geplaknya sangat laku di luar negeri. 
 
Nanik juga mengklaim produknya sudah dibeli oleh orang- orang di luar Semarang, seperti dari Palu, Jakarta, dan Yogyakarta. Orang asing pun turut datang ke rumahnya untuk membeli produknya seperti dari Taiwan, China, Belanda, dan Filipina.

"Ada sepuluh orang dari Filipina yang datang ke rumah saya untuk magang," kata dia.

Di Filipina sendiri, waluh tidak dijadikan barang dagangan, hanya dinikmati sendiri menjadi kue kukus. Dia mengaku menjual produknya disekitaran rumah saja. Dia juga tidak mematok minimal pembelian. 
 
Bila ada pembeli luar yang ingin memesan produknya, boleh asalkan pembeli mau menanggung biaya pengiriman. Apabila mungkin anda tertarik bisa berkunjung ke rumahnya yang terletak di RT 07/RW 01, Getasan, Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah.

Atau mengontak melalui email di geplakwaluhbunanik@yahoo.co.id atau segera mengunjungi blog miliknya di alamat geplakwaluh.wordpress.com.

Ada cerita menarik ketika Slamet mengikuti satu perlombaan di Universitas Diponegoro Semarang. Dia yang dibantu istrinya menyiapkan sekitar 10 kg geplak waluh untuk presentasi saja. Takut- takut jikalau terjadi insiden di tempat penjurian. 
 
Dia belajar dari insiden sebelumnya ketika membuat makalah. Slamet yang meminta tolong temannya untuk memotret proses pembuatan. Namun, ternyata film negatif yang dipasang di kamera tersebut malah hangus semua, akhirnya harus dipotret ulang.

Total biaya lomba jadilah membengkak sampai 500 ribu, padahal uang itu bisa untung banyak jika dibikin geplak selorohnya. 
 
"Total biaya untuk lomba sekitar Rp500.000. Istri saya sempat khawatir karena uang sebanyak itu hanya digunakan untuk lomba. Kalau digunakan untuk membuat geplak, pasti untungnya lebih jelas. Saya jelaskan kepada istri,kalaupun nanti kalah,yang penting produk kami sudah dikenal orang lain," tutur Slamet.

Diruangan penjurian ada persaan grogi. Apalagi peserta lain memakai LCD untuk melakukan presentasi; Slamet hanya membacakan makalahnya di depan para juri. Setelah selesai, ia tekejut karena sampel yang dibawa dari rumah sudah ludes dimakan habis (10 kg tersebut). 
 
Ia pun menang, meski hanya juara ketiga dan mendapatkan bantuan permodalan senilai Rp.1 juta. Yah, hasilnya memang tak sebesar yang bisa kita harapkan tapi ingat efek lainnya; geplak waluh jadi populer seperti sekarang.

Selebgram Jualan Susu Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Nadia Ursulla

 
selebgramjualan.png
 
Kisah Nadya Hersa Ursulla Permana selebgram jualan susu. Bisnis menjanjikan yang dirintis sebelum dia sibuk bersosial media. Nadya merupakan pengusaha pemilik brand Klinik Susu. Dia menjual aneka hasil olahan berbasis susu.

Dia bekerja sama denga dua rekannya, Toga Christovel dan Siti Hani Kusmiati. Pada 2016 silam, merek bertiga bahkan menjajakan langsung. Tidak malu berkeliling menawarkan olahan susu. Nadya memang memiliki mimpi menjadi orang kaya.

Nadya ingin menjadi CEO perusahaan sendiri. Tanpa berleha- leha dirinya terjun memberikan informasi soal susunya. Ia rela membawa botol- botol dari satu tempat ke tempat lainnya. Usaha dan kerja keras dia dan rekan membuahkan hasil.

Produk makin banyak diminati. Kemudian mereka mendirikan perusahaan sebagai legalitas. KS Group akan mengelola lebih profesional aneka produk. Selebgram jualan susu juga jualan aneka produk olahan singkong. Nadya tak ragu menunjukan bisnis- bisnisnya.

Aneka makanan singkong dihasilkan perusahaan Nadya. Makin banyak menghasilkan penjualan, maka KS Group membuka ratusan lowongan pekerjaan. Nadya berprinsip mengerjakan sesuatu maksimal dan bekerja keras.

"Aku selalu berusaha melakukan semaksimal mungkin di kerjaan, aku usahain aku bisa jadi yang terbaik bukan untuk atasan atau perusahaan atau apapun, tapi untuk Tuhan," tulisnya di akun Instagram @nadyaursulla

Jujur dia tidak mendapatkan dukungan kedua orang tua. Namun dia terus berusaha sembari memberi keyakinan. Dia tidak menyalahkan orang tua karena tak mendukung. "Aku pun engga salahin orang tua engga biayai ini itu. Aku engga buang waktu menyalahin orang sekitar ku," ucap Nadya.

Dia banting tulang demi mimpi mandiri. Sembari bersyukur dirinya memiliki pandangan mau apa. Dia sudah menseting pola pikirnya menjadi pengusaha. Banyak hal dikorbankan Nadya demi menghasilkan uang. Dia kehilangan masa muda.

Nadya mengaku harus bekerja dari jam 7 pagi sampai 1 malam. Tidak ikutan hang out seperti teman- teman lain. Dia habiskan masa muda buat bekerja. Bahkan ketika sibuk, ia akan tidur cuma 4 jam dan 5 jam setiap hari.

Walau bisnis menjajikan tetapi banyak pengorbanan. Bayangkan dia pernah ditolak, disepelekan orang, dianggap remeh, dan diragukan akan berhasil. Nadya tidak menyerah ketika dihina. Ia berprinsip harus sukses. Maka ia menyarankan pengusaha muda baru buat bermental kuat.

Kamu harus bermental baja enggak manja. Mental pengusaha muda harus tidak gengsian. Harus punya pandangan akan sukses kelak. Nadya sendiri merupakan selebgram dengan follower 107.000.

Mie Desa Pengusaha Sederhana Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Wardani

 
miedesa.png
 
Pengusaha sederhana untung ratusan juta. Berkat mie desa dirinya mampu bangkit. Walau terbatasanya modal dan infrastruktur. Wardani, 45 tahun, warga Dusun Tulung, Srihardono, Pundong, hasilkan omzet diluar nalar orang desa. 
 
Sosok yang konsisten memperkenalkan mi desa atau mides, diperkenalkan kepada mereka warga asli Yogyakarta. Usaha yang tak berhenti membuat warga Yogyakarta, khususnya Bantul, tak asing lagi akan produk olahan satu ini. Mi desa dibuat dari tepung tapioka, yang dibuat dengan cara sederhana.

Sebagaimana hari- hari biasanya, lima orang terlihat sibuk di rumah milik Wardani, dibagian samping kanan rumahnya. Mereka satu keluarga. Lima orang tersebut itu tengah sibuk mengolah sekaligus mempersiapkan salah satu jenis makanan untuk dijual kepada para pedagang.
 

Usaha Mie Desa

 
"Saya, istri, kedua orang tua, kemudian ipar," ucap Wardani memulai pembicaraan.

Sejak 25 tahun silam keluarga Wardani telah memulai usaha pembuatan mi desa. Waktu itu ayah Wardani bernama Suparjan telah terlebih dahulu merintis. Meskipun olahan mi instan terus menggempur pasar, usaha kecil- kecilan miliknya tetap bertahan sampai sekarang. 
 
Di 2006 silam pengolahan mi desa sempat berhenti beroperasi. Rumah Wardani ambruk bersama ribuan rumah lainnya saat gempa bumi 2006 meluluhlantahkan sebagian wilayah Bantul. "Ya rumah ini bagian dari sisa-sisa gempa dulu," kenang pengusaha sederhana ini.
 
Di ruang seluas 4,5 meter kali 4,5 meter usaha pengolahan mi desa bergulir. Di ruangan sesempit itu puluhan karung berisi tepung ditumpuk. Sementara itu di bagian kanan rumah dijadikan tempat pengolahan. Mi desa kemudian dipasarkan ke ke pasar Pundong, dan pasar Imogiri ini. Pemisah kedua ruangan bukanlah tembok, melainkan hanya gedek setinggi dada manusia dewasa.

"Memang sangat sederhana tempatnya. Tapi ya tetap harus jalan," jelas Wardani.

Bapak dua anak dan suami dari wanita bernama Sugiyati, ia mengaku memang tempat pengolahannya jauh dari patokan ideal. Ia sempat berpikir untuk meminta bantuan modal. Harapannya untuk memugar rumahnya jadi lebih luas. 
 
Sayang, sebagai orang awam ia tak tahu caranya bagaimana mengajukan bantuan modal ke pemerintah setempat. "Nggak ada yang memberikan pendampingan. Yang namanya proposal (pengajuan bantuan) saja kita belum pernah lihat," tuturnya lugu.

Padahal, Wardani mengaku, ia berulangkali mendapatkan undangan menghadiri berbagai forum perlombaan pengembangan UMKM. Ketika itu dia mewakili lembaga keuangan desa (LKD) karena dinilai berhasil mengembangkan pengolahan produk mides.

"Mewakili Bantul pernah. Bahkan, mewakili Jogjakarta di tingkat nasional juga pernah," ungkapnya.

Tak hanya itu beberapa instansi pemertintah juga berkunjung ke tempat itu. Staf dan pejabat Dinas Pertanian tersebut pernah ikut melihat proses pengolahan mides dari dekat.

"Kemudian kelompok-kelompok usaha dari luar juga sering. Tetapi saya lupa mereka dari dinas pertanian atau kelompok mana," ujarnya.

Bicara soal modal, Wardani menjelaskan per- hari ia akan membeli tepung tapioka dengan harga Rp3.800, sehingga dibutuhkan modal Rp.304.000. Menurut dia, satu kilogram tepung tapioka bisa menghasilkan 8 bungkus mides dengan harga Rp8.000 per bungkus atau piringnya. 
 
Setiap hari rumah produksinya mampu mengolah tepung tapioka sebanyak 70 hingga 80 kilogram.

"Sekali jualan mampu mendapatkan pendapatan kotor Rp5,12 juta. Jika ditambah dengan bumbu dan telur serta keperluan memasak lain, keuntungan bersih Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari," ungkapnya.

Bahan baku cukup di ambil dari lingkungan sekitar saja. Daerahnya memang dikenal sebagai sentra penghasil tepung tapioka. Mi desa yang dijualnya tidak melulu dijual sendiri, beberapa pesanan pedagang lain untuk dijual kembali jelasnya. 
 
Adapun omzet perbulannya ia menyebut angka di kisaran Rp.153, 6 juta. Sajuh ini pemasaran baru ada di pasar- pasar tradisional.

"Sebenarnya, perbedaan mides dengan mi lainnya tidak banyak, hanya dari bahannya yang menggunakan tepung singkong atau tapioka. Teksturnya lebih lentur dan lembut. Karbohidrat yang dikandung mides juga lebih banyak," katanya.

Mi desa tahan 24 jam lantaran tanpa bahan pengawet. Meski demikian, mides yang sudah diproduksinya tidak pernah sisa, kecuali saat musim hujan yang mengakibatkan penurunan jumlah pembelian.

"Kalau musim hujan memang sepi, produksi mi tak terlalu banyak," tambahnya.

Pengusaha Sederhana

 
Selama menjalani usaha produksi mides, Wardani mengaku tidak menemui kendala berarti baik soal pemasaran ataupun bahan baku. Dia berharap diberikan bantuan tempat produksi oleh pemerintah lantaran sering mendapat kunjungan dari berbagai daerah.

"Kalau kondisinya begini, kan malu, jadi berharap ada bantuan tempat produksi," imbuhnya.

Awalnya coba- coba Wardani menginovasi produk mides yang sudah ada. Mides yanga ada sekarang bisa disajikan rebus atau goreng. Mides "godog" begitu populernya di Jawa Tengah, dimana mi punya kuah segar enak untuk dimakan dingin- dingin.

"Setelah dicoba, ternyata rasanya jauh lebih lezat daripada mides yang dimasak dengan cara digoreng atau digodok," kata Wardani, Selasa 25 Februari 2014.

Mides bumbu mi ayam memang berasa berbeda dari mides original. Meski menggunakan bumbu mi ayam, jangan dibayangkan mides ini berkuah, justru sebaliknya, kering dan lembut. Warnanya yang kemerahan, yang mimiliki cita rasa pedas yang meledak di lidah. Mantap.

"Memang masih terlalu pedas, karena masih coba-coba," imbuh suami Sugiyanti ini sembari tertawa.

Mides bumbu mi ayam memang hasil inovasinya yang lain.  Hasil eksperimen dari Wardani lagi dilengkapi dengan bahan tambahan seperti sayuran dan telur. 
 
Hanya saja, mides bumbu mi ayam sedikit lebih manis, dari mi deasa original yang gurih dan asin. Mides bumbu mi ayam ini patut dicoba jika anda berkunjung ke Yogya.

Meskipun dihasilkan secara instan dan coba-coba, ia tetap meneruskan produksi mides bumbu mi ayam ini. Sebab, Wardani menuturkan, dari tiga jenis mi yang disuguhkan kepada tamunya saat itu, mides bumbu mi ayam justru yang paling cepat habis dan menuai banyak pujian.

"Mau saya pasarkan juga nanti, biar jadi teman mides original," ungkapnya.

Ada pula mi pentil buatannya yang lain, pembedanya terletak pada bentuk dan warnanya saja.Kepada para pedagang Wardani menjual mi hasil olahannya dengan dua pilihan. Yakni, matang, dan mentah. 
 
"Mi pentil kami jual Rp 8 ribu per kilogramnya. Sedangkan mides Rp 10 ribu. Ini yang mentah," urainya.

Semuanya serba alami. Misalnya pewarna. Ia memilih menggunakan pewarna khusus makanan. Tetapi tak jarang Wardani memanfaatkan pewarna alami. Itu terjadi jika ada pemesan yang menginginkan mides atau pun mi pentil yang serba alami. 
 
Itu sebabnya, kedua jenis mi ini hanya mampu bertahan maksimal selama 24 jam. "Kalau kuning ya kita gunakan kunyit. Mi yang kami jual ke pasar Imogiri bungkusnya pakai daun pisang atau jati," ulasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba